Katamasa

Zaman Neolitikum : Pengertian, Ciri-ciri, & Peninggalan

Zaman neolitikum adalah periode zaman batu yang ditandai dengan mulai berkembangnya tingkat kebudayaan dengan ciri-ciri, seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar.

Baca juga : Pengertian Zaman Batu

Zaman neolitikum disebut juga zaman batu muda.

Zaman neolitikum merupakan kelanjutan dari zaman mesolitikum (zaman batu madya).

Zaman neolitikum disebut sebagai revolusi kebudayaan manusia karena pada zaman batu muda ini manusia mulai hidup secara berkelompok dan hidup secara menetap dalam suatu pemukiman.

Zaman neolitikum ditandai dengan manusia sudah mulai hidup menetap, dan bercocok tanam, dan bisa menghasilkan peralatan-peralatan yang lebih halus, seperti tembikar.

Bisa dikatakan, zaman neolitikum adalah masa di mana dasar-dasar perkembangan peradaban manusia mulai muncul.

Di artikel ini kita akan membahas apa pengertian zaman neolitikum, ciri-ciri zaman neolitikum, manusia pendukung zaman neolitikum, dan apa saja hasil kebudayaan peninggalan zaman neolitikum terutama di Indonesia.

Pengertian Zaman Neolitikum

Zaman neolitikum atau Zaman Batu muda adalah salah satu periode zaman batu, setelah zaman mesolitikum.

Baca juga : Pengertian Zaman Mesolitikum

Istilah zaman neolitikum mengacu pada tahap terakhir Zaman Batu. Istilah ini diciptakan pada akhir abad ke-19 oleh para sarjana, untuk melengkapi periodisasi zaman batu, yang dibagi menjadi 3 periode, yaitu : zaman palaeolitik (zaman batu tua), zaman mesolitik (zaman batu madya), dan zaman neolitik (zaman batu muda).

Baca juga : Pengertian Zaman Paleolitikum

Zaman neolitikum disebut sebagai revolusi kebudayaan manusia karena pada zaman batu muda ini manusia mulai hidup secara berkelompok dan hidup secara menetap dalam suatu pemukiman.

Kemampuan untuk bercocok tanam dan membuat peralatan tembikar adalah lompatan besar dalam peradaban manusia.

Hal terpenting dari zaman neolitikum adalah pada zaman ini mulai berkembang pembuatan arsitektur megalitik, penyebaran teknik pertanian, dan penggunaan alat-alat batu yang sudah dikerjakan lebih halus/dipoles.

Baca juga : Pengertian Zaman Megalitikum

Istilah zaman neolitik atau zaman batu muda biasanya digunakan dalam kaitannya dengan perkembangan teknik pertanian dan peternakan, yang merupakan masa ketika manusia sudah mengenal cara bercocok tanam dan domestikasi hewan liar menjadi ternak.

Karena sistem pertanian berkembang pada waktu yang berbeda di berbagai belahan dunia, maka tidak ada waktu tunggal kapan zaman neolitik dimulai.

Di wilayah Timur Dekat, pertanian mulai berkemabng sekitar 9.000 SM, di Eropa Tenggara sekitar 7.000 SM, di Eropa Tengah sekitar 5.500 SM, dan Eropa Utara sekitar 4.000 SM. Sedangkan di Asia Timur, berlangsung dari 6000 hingga 2000 SM.

Hasil kebudayaan peninggalan zaman neolitikum yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah arsitektur megalitik dan peralatan-peralatan dari batu yang sudah dipoles seperti kapak lonjong dan kapak persegi.

Arsitektur megalitik yang mulai dibuat pada zaman neoliti, seperti, dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak.

Baca juga : apa yang dimaksud dengan dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak

Manusia pendukung zaman neolitikum adalah Malayan mongoloid atau disebut juga Melayu austronesia.

Akhir zaman neolitik ditandai dengan munculnya teknik mengolah tembaga, yang disebut periode transisi ke zaman perunggu, kadang-kadang disebut sebagai Zaman Chalcolithic atau Eneolithic.

Dengan kemampuan manusia mengolah logam seperti perunggu, membuat peralatan dari batu menjadi usang.

Belakangan, perunggu menjadi bahan utama untuk membuat peralatan dan senjata.

Inilah akhir periode zaman batu.

Ciri-ciri Zaman Neolitikum

Para sejarawan mengelompokkan periode zaman batu menjadi beberapa periode, yaitu : zaman paleolitikum, zaman mesolitikum, zaman megalitikum, dan zaman neolitikum.

Masing-masing periode zaman batu ini mempunyai ciri kehidupan masing-masing. Di bawah ini adalah beberapa ciri-ciri zaman neolitikum :

Sejarah Zaman Neolitikum Di Indonesia

Seperti belahan dunia lainnya, kepulauan Indonesia adalah tempat ditemukannya hasil kebudayaan neolitikum.

Hasil kebudayaan zaman neolitikum banyak ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, bali, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT dan wilayah lainnya.

Hasil kebudayaan peninggalan zaman neolitikum yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah bangunan-bangunan megalitik seperti dolmen, menhir, sarkofagus, waruga, dan punden berundak.

Juga termasuk alat-alat peninggalan hasil kebudayaan zaman neolitikum, seperti kapak lonjong dan kapak persegi.

Manusia pendukung zaman neolitikum di Indonesia adalah Malayan mongoloid atau disebut juga Melayu austronesia.

Revolusi kebudayaan yang terjadi pada zaman neolitikum di Indonesia adalah mulai muncul pemukiman tetap, mulai dikembangkan teknik bercocok tanam dan mengolah makanan, mulai mampu membuat tembikar, dan lain-lain.

Pada zaman ini juga mulai muncul sistem sosial kemasyarakatan di mana ada seseoarang yang muncul sebagai pemimpin kelompok yang disebut kepala suku/datu/ratu dan istilah lokal lainnya.

Pada zaman neolitikum juga sudah berkembang tradisi religius yang dibuktikan dengan ditemukannya bangunan-bangunan yang dibuat untuk tujuan religius, seperti dolmen dan menhir.

Kebudayaan Zaman Neolitikum

Zaman neolitikum adalah kelanjutan dari zaman mesolitikum (zaman batu madya).

Manusia pendukung zaman mesolitikum di Indonesia adalah ras melanesoid, misalnya nenek moyang bangsa Papua.

Kira-kira pada tahun 1500 SM, terjadi migrasi besar ras Malayan mongoloid atau disebut juga Melayu austronesia ke wilayah kepulauan Indonesia.

Ras Melayu austronesia berasal dari daerah Yunan (Cina Selatan).

Kedatangan ras Melayu austronesia mendesak ras Melanesoid ke arah timur. Kemudian, ras Melayu austronesia mendominasi wilayah Indonesia bagian barat.

Para sejarawan mengatakan, migrasi ras Melayu austronesia ke kepulauan Indonesia melalui dua jalur, yaitu :

Revolusi kebudayaan yang terjadi pada zaman neolitikum di Indonesia adalah munculnya kemampuan bercocok tanam dan peternakan.

Pada zaman batu baru ini, manusia menanam keladi, labu air, ubi rambat, padi gaga, sukun, pisang, dan kelapa.

Revolosi kebudayaan lain adalah mulai terbentuknya masyarakat komunal dalam pemukiman-pemukiman. Mulai tumbuh kesadaran untuk bekerjasama.

Muncul juga tradisi religius yang ditandai dengan dibuatnya bangunan-bangunan megalitik seperti dolmen, menhir, punden berundak dan lain-lain.

Manusia pendukung zaman neolitikum juga sudah mampu membuat alat-alat seperti kapak lonjong, kapak persegi, tembikar, perhiasan, pakaian, anyaman, dan lain-lain.

Peninggalan Zaman Neolitikum

Alat-alat pada zaman neolitikum sudah lebih halus dibandingkan zaman batu periode sebelumnya.

Beberapa alat-alat hasil kebudayaan peninggalan zaman neolitikum, misalnya, kapak lonjong, kapak persegi, gerabah/tembikar, perhiasan, senjata seperti anak panah, dll.

Peninggalan zaman neolitikum, kapak persegi dan kapak lonjong

Selain itu, pada zaman batu muda ini juga mulai dibangun monumen-monumen megalitik (batu besar), seperti dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak.

Di bawah ini kami akan menjelaskan beberapa hasil kebudayaan peninggalan zaman neolitikum yang telah ditemukan oleh para arkeolog. Dibedakan jadi dua kategori, yaitu alat-alat pada zaman neolitikum dan bangunan megalitik zaman neolitikum.

A. Alat-alat zaman neolitikum

Di bawah ini adalah beberapa alat-alat yang digunakan pada zaman neolitikum :

Pahat Segi Panjang

kapak segi panjang banyak ditemukan di Tiongkok Tengah dan Selatan, daerah Hindia Belakang hingga daerah sungai gangga di India.

Ditemukan juga di kepulauan Indonesia, Philipina, Formosa, kepulauan Kuril dan Jepang.

Kapak Persegi

Van Heine Heldern adalah peneliti yang menamai artefak ini kapak persegi, karena penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau trapesium.

Kapak persegi ada yang besar dan ada yang kecil.

Kapak persegi ukuran besar disebut beliung, yang digunakan sebagai cangkul. Sedangkan kapak persegi ukuran kecil disebut Tarah/Tatah, digunakan sebagai alat pahat.

Kapak persegi dibuat dari batu biasa atau batu api chalcedon.

Para peneliti menduga kapak yang terbuat dari calsedon hanya digunakan sebagai alat upacara keagamaan, jimat atau tanda kebesaran. Kapak jenis ini ditemukan di wilayah Sumatera, Jawa, bali, Nusa tenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

Kapak Lonjong

Umumnya kapak lonjong dibuat dari batu kali berwarna kehitam-hitaman.

Kapak lonjong berbentuk bulat seerti telur dengan salah satu ujungnya dibuat lancip untuk tempat tangkainya, sedangkan ujung lainnya yang lebih lebar diasah hingga tajam.

Kapak lonjong ukuran besar disebut Walzenbeil, sedangkan kapak lonjong ukuran kecil disebut Kleinbeil.

Fungsi kapak lonjong sama dengan kapak persegi.

Kapak lonjong ditemukan di wilayah Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian.

Dari Irian kapak lonjong tersebar meluas hingga Kepulauan Melanesia. Karena hal ini, para arkeolog menyebutkan kapak lonjong dengan istilah neolitikum Papua.

Kapak Bahu

Kapak bahu bentuknya hampir sama seperti kapak persegi, namun kapak bahu di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher.

Alat-alat zaman neolitikum ini ditemukan mulai dari Jepang, Formosa, Filipina terus ke wilayah barat sampai sungai Gangga di India.

Perhiasan dari batu

Perhiasan gelang dibuat dengan cara melobangi bahan dengan gurdi kayu dan dikikis menggunakan pasir.

Selain gelang, perhiasan zaman neolitikum yang ditemukan adalah kalung yang terbuat dari batu.

Perhiasan seperti ini banyak di temukan di wilayah jawa.

Pakaian dari kulit kayu

Penemuan alat pemukul kulit kayu di wilayah Kalimantan dan Sulawesi Selatan membuat para peneliti menduga manusia zaman ini sudah mampu membuat pakaian dari kulit kayu.

Tembikar/Gerabah

Gerabah yang ditemukan pada zaman ini, misalnya, periuk, cawan, piring, dan pedupaan.

Gerabah hasil kebudayaan zaman neolitikum banyak ditemukan di wilayah Kendenglembu, Banyuwangi (Jawa Timur), Kalumpang dan Minanga, Sippaka (Sulawesi Tengah), Danau Poso (Sulawesi Tengah), dan Minahasa (Sulawesi Utara).

Mata Panah dan Tombak

Mata panah dan tombak peninggalan zaman batu muda telah ditemukan di wilayah Jawa Timur dan Sulawesi.

Alat-alat ini rupanya digunakan untuk berburu atau mungkin berperang.

B. Bangunan megalitik zaman Neolitikum

Zaman neolitik adalah awal dimulainya pembuatan-pembuatan bangunan megalitik (batu besar).

Secara harfiah, megalitik terbentuk dari dua kata, yaitu, mega (besar) dan lithos (batu). Dengan demikian, salah satu ciri bangunan megalitik adalah dibuat dari batu besar.

Namun, menurut Fritz A. Wagner, megalitik bukan saja peradaban batu besar.

Wagner berpendapat artefak batu kecil pun bisa dikelompokkan ke dalam peninggalan megalitik, apabila artefak-artefak itu dibuat dengan tujuan sakral, misalnya pemujaaan arwah nenek moyang.

Dengan kata lain, menurut Wagner budaya megalitik selalu terkait erat dengan aspek religi atau kepercayaan.

Menurut pendapat Heine Geldern, kebudayaan megalitik di Indonesia datang dari India dan Malaka.

monumen megalitik yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah sarkofagus, waruga, punden berundak, dolmen dan menhir.

Dolmen

Dolmen adalah bangunan megalitik yang berbentuk seperti seperti meja yang terbuat dari batu besar.

Dolmen terbuat dari dua atau lebih batu tegak dengan satu batu tergeletak di atasnya.

Dolmen sering dipergunakan sebagai tempat sesajen atau hidangan peruntukan bagi para arwah nenek moyang.

Di sebagian besar dolmen terdapat kubur batu. Nampaknya, fungsi dolmen selain sebagai tempat pemujaan juga untuk melindungi jenazah dari gangguan binatang buas.

Kuburan peninggalan zaman megalitikum di Gochang, Hwasun, dan Ganghwa berisi ratusan dolmen dari milenium pertama SM yang dibangun dari lempengan batu besar. (sumber : https://whc.unesco.org/en/list/977/)

Di Indonesia, juga banyak ditemukan dolmen.

Dolmen yang diduga dipergunakan sebagai tempat pemujaan, ditemukan seperti di Telaga mukmin, Sumberjaya, dan di daerah Lampung bagian Barat.

Dolmen di Indonesia umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan dolmen di belahan dunia lainnya.

Dimana-dolmen ini umumnya berukuran panjang sekitar 325 cm, serta lebar 145 cm, dan tinggi 115 cm.

Para peneliti menduga, masyarakat di Indonesia mulai mengenal dolmen pada masa bercocok tanam.

Menhir

Menhir adalah monumen batu tegak seperti tiang atau tugu yang dipergunakan sebagai sarana pemujaan.

Ciri-ciri menhir adalah terbuat dari batu, posisi tegak di atas tanah.

Menhir dapat ditemukan semata-mata sebagai monolit, atau sebagai sekelompok batu yang serupa.

Ukuran menhir sangat bervariasi, ada yang besar atau kecil, berbeda di tiap wilayah di dunia..

Daerah penemuan menhir Menhir sangat luas. Monumen megalitikum ini bisa ditemukan di Eropa, Afrika, dan Asia, tetapi paling banyak di Eropa Barat; khususnya di Irlandia, Inggris Raya, Brittany dan Prancis, di mana terdapat sekitar 50.000 buah menhir.

Daerah penemuan menhir di Indonesia adalah Pasemah Sumatra Selatan, Ngada Flores, Rembang Jawa Tengah, Lahat Sumatra Selatan, Sumatera barat, dan banyak lokasi lainnya.

gambar menhir di Lima Puluh Kota sumatera barat (sumber : kemdikbud)

Masyarakat Minangkabau menyebut menhir dengan istilah batu tagakIstilah batu tagak tidak jauh berbeda artinya dengan pengertian menhir yang umum dipergunakan dalam dunia ilmiah, terutama bagi arkeolog di Indonesia. Berdasarkan pe­nelitian terdahulu kata menhir yang berasal dari bahasa Breton -Inggris Utara, berarti batu berdiri. Sedangkan kata batu tagak jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia juga berarti batu berdiri, (Herwandi: 1993: 1).

Sarkofagus

Sarkofagus adalah peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal).

Sarkofagus batu yang paling tua digunakan oleh firaun Mesir dari dinasti ke-3, yang memerintah dari sekitar 2686 hingga 2613 SM.

Selain Mesir kuno, Romawi kuno dan Yunani kuno juga dikenal menggunakan sarkofagus.

Daerah penemuan sarkofagus di Indonesia yang terkenal adalah Basuki (Jawa Timur) dan beberapa situs di Bali.

Temuan sarkopagus di Bali, tepatnya di situs Gilimanuk membantah dugaan para ahli sebelumnya bahwa masyarakat pesisir tidak mengenal sistem penguburan dengan sarkofagus, alasannya batu padas sebagai bahan baku sarkofagus tidak bisa didapatkan di daerah pesisir. (Soejono, 1977)

gambar sarkofagus di bali (sumber :kemendikbud)

Selain di Gilimanuk, sarkofagus di Bali juga ditemukan di Munduk Tumpeng di Kecamatan Negara, Jembrana, Bali.

Selain di Bali, penemuan sarkofagus juga ada di wilayah Tomok Samosir Sumatera Utara.

Morfologi sarkofagus yang ditemukan di wilayah Tomok berbentuk persegi panjang dan pada bagian atasnya melebar, berbentuk menyerupai kapal (solu Bolon) sebagai perlambang wahana si mati yang digunakan menuju alam arwah.

Waruga

Waruga adalah sejenis sarkofagus atau makam di atas tanah yang terbuat dari batu dan bagian atas biasanya bergerigi dan bagian bawah berbentuk kotak.

Di Indonesia, waruga banyak ditemukan di Minahasa di Sulawesi Utara.

Waruga di Tonsea dibuat dengan ukiran dan relief. Ukiran dan relief ini menunjukkan bagaimana jenazah disimpan di waruga masing-masing dan menggambarkan mata pencaharian.

Terdapat sekitar 370 Waruga. Ada waruga di Rap-Rap sebanyak 15 buah, Airmadidi Down sebanyak 211 dan waruga Sawangan sebanyak 144.

gambar waruga sawangan (sumber : wikipedia)

Waruga-waruga ini telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995 di taman arkeologi waruga Sawangan.

Bagi masyarakat Minahasa, waruga memiliki arti sangat penting. Waruga adalah warisan leluhur Minahasa, memiliki makna religius, dan sakral.

Punden Berundak

Punden berundak adalah struktur bangunan berteras-teras tempat pemujaan roh nenek moyang.

Sesuai namanya, punden berundak undak adalah tempat suci untuk pemujaan pada roh nenek moyang yang bentuknya bertingkat-tingkat atau berundak-undak.

Para peneliti berpendapat bahwa punden berundak adalah bentuk awal candi di Indonesia.

Struktur bangunan punden berundak banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama Sumatera, jawa, dan Bali.

Punden berundak banyak ditemukan di daerah Lebak Si Bedug, Banten Selatan, Leles Garut dan Kuningan Jawa Barat.

Salah satu struktur punden berundak yang terkenal dan monumental di Indonesia adalah situs Gunung Padang di Cianjur.

Punden berundak merupakan salah satu arsitektur zaman pra sejarah, mulai berkembang pada masa bercocok tanam, dan mencapai puncaknya pada masa megalitik.

Punden berundak undak menggambarkan sebuah gunung suci tempat bersemayam roh leluhur.

gambar punden berundak di bali (sumber ; kemdikbud/bpcbbali)

Salah satu struktur punden berundak yang masih terawat terdapat di Pura Mehu Desa Selulung, Bangli, Provinsi Bali.

Punden Berundak ini terletak di dalam areal Pura Mehu.

Monumen purbakal ini memiliki no.inventaris 4/14-06/STR/5 dan telah didokumentasikan oleh tim BPCB Bali yang dilaksanakan oleh ketua tim Dra Ni Komang Aniek Purniti, M.Si.

Manusia Pendukung Zaman Neolitikum

Manusia pendukung zaman neolitikum di Indonesia adalah ras Melayu austronesia.

Kira-kira pada tahun 1500 SM, terjadi migrasi besar ras Malayan mongoloid atau disebut juga Melayu austronesia ke wilayah kepulauan Indonesia.

Ras Melayu austronesia berasal dari daerah Yunan (Cina Selatan).

Kedatangan ras Melayu austronesia mendesak ras Melanesoid ke arah timur. Kemudian, ras Melayu austronesia mendominasi wilayah Indonesia bagian barat.

Baca juga : Jenis-jenis Manusia Purba

Para sejarawan mengatakan, migrasi ras Melayu austronesia ke kepulauan Indonesia melalui dua jalur, yaitu :

Corak Kehidupan Zaman Neolitikum

Manusia pendukung zaman neolitikum sudah mempunyai peradaban yang lebih tinggi dibandingkan manusia zaman mesolitikum.

Mereka tidak lagi hidup secara nomaden namun sudah mulai hidup menetap.

Mereka sudah mengenal cara bercocok tanam dan berternak serta mengolah makanan dengan peralatan dari gerabah.

Kepercayaan Zaman Neolitikum

Temuan kebudayaan megalitik yang berupa dolmen dan menhir merupakan petunjuk bahwa manusia pendukung zaman neolitikum sudah mengenal aspek religi atau kepercayaan, misalnya pemujaan arwah nenek moyang.

Mereka juga telah mengenal cara penguburan jenazah yang baik.

Dikenal ada dua cara penguburan pada zaman neolitikum, yaitu:

1. Penguburan Langsung

Dalam cara ini, jenazah hanya dikuburkan sekali saja, baik menggunakan sebuah wadah (misal sarkofagus) atau langsung ke dalam tanah tanpa wadah.

Jenazah diletakkan dengan dua cara, yaitu membujur dan terlipat atau meringkuk. Jenazah diletakkan dengan kepala mengarah ke tempat yang dianggap suci (contohnya di puncak gunung).

Jenazah diberi bekal kubur berupa seekor anjing, unggas, serta manik-manik.

Cara penguburan seperti ini dapat ditemukan di wilayah Anyer Jawa Barat dan di wilayah Plawangan, Rembang Jawa Tengah.

2. Penguburan Tidak Langsung

Awalnya, jenazah dikubur sevara langsung ke dalam tanah. setelah menjadi tulang belulang diangkat kembali. Setelah dibersihkan serta diberi hematit pada persendian, jenazah diletakkan di dalam tempayan atau sarkofagus untuk dikubur kembali.

Puncak dari ritual penguburan jenazah ditandai dengan pendirian bangunan batu besar (megalit), misalnya dolmen.

Penguburan cara tidak langsung umumnya ditemui di wilayah Melolo Sumba, Gilimanuk Bali, Lesung Batu Sumatra Selatan, dan Lomblen Flores NTT.

Demikian artikel kami tentang zaman neolitikum (zaman batu muda), semoga bermanfaat.

Sharing is caring