Zaman Mesolitikum Pengertian, Ciri-ciri, & Peninggalan

Zaman mesolitikum adalah periode zaman batu antara zaman paleolitik (zaman batu tua) dan zaman Neolitik (zaman batu muda).

Baca juga : Pengertian Zaman Batu

Zaman mesolitikum disebut juga zaman batu madya atau zaman batu tengah.

Zaman mesolitikum disebut juga dengan zaman peralihan karena pada zaman ini adalah masa di antara zaman batu tua dan zaman batu muda.

Zaman mesolitikum ditandai dengan manusia sudah mulai mencoba untuk hidup menetap, seperti di goa-goa.

Kehidupannya sudah lebih maju dibandingkan dengan zaman paleolitikum (zaman batu tua) namun belum semaju zaman neolitikum (batu muda).

Di artikel ini kita akan membahas apa pengertian, ciri-ciri, manusia pendukung zaman mesolitikum, dan apa saja hasil kebudayaan peninggalan zaman mesolitikum terutama di Indonesia.

Pengertian Zaman Mesolitikum

Zaman mesolitikum atau Zaman Batu Madya adalah salah satu periode zaman batu, antara Zaman Paleolitik atau Zaman Batu Tua dan Zaman Neolitik atau Zaman Batu Muda.

Baca juga : Pengertian Zaman Megalitikum

Istilah Zaman mesolitikum pertama kali digunakan oleh John Lubbock dalam makalahnya yang berjudul Pre-historic Times, yang diterbitkan pada tahun 1865.

Baca juga : Pengertian Zaman Paleolitikum

Namun, istilah zaman mesolitikum belum terlalu sering digunakan sampai akhirnya V. Gordon Childe mempopulerkannya dalam bukunya yang berjudul The Dawn of Europe (1947).

Awal Periode mesolitik berlangsung pada masa holosen kira-kira 10.000 tahun yang lalu.

Zaman mesolitikum ditandai dengan manusia sudah mulai mencoba untuk hidup menetap, seperti di goa-goa.

Hasil kebudayaan zaman batu madya masih sangat sederhana namun sudah lebih maju dibandingkan alat-alat peninggalan zaman paleolitikum.

Baca juga : apa yang dimaksud dengan dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak

Hasil kebudayaan peninggalan zaman batu madya yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah kapak genggam sumatra, kapak pendek, batu penggiling beserta dengan landasannya, alat dari bahan tulang, dan lain-lain.

Manusia pendukung zaman batu madya adalah melanesoid. Bangsa melanesoid, misalnya, nenek moyang orang Sakai, Aeta, Aborigin serta Papua.

Manusia zaman ini sudah tidak lagi nomaden, namun sudah mulai hidup menetap.

Manusia pendukung zaman batu madya hidup dengan cara bercocok tanam secara sederhana.

Ciri-ciri Zaman Mesolitikum

Para sejarawan mengelompokkan periode zaman batu menjadi beberapa periode, yaitu : zaman paleolitikum, zaman mesolitikum, zaman megalitikum, dan zaman neolitikum.

Baca juga : Pengertian zaman neolitikum

Masing-masing periode zaman batu ini mempunyai ciri kehidupan masing-masing. Di bawah ini adalah beberapa ciri-ciri zaman mesolitikum :

  • Zaman batu madya ditandai dengan manusia sudah mulai mencoba untuk hidup menetap, seperti di goa-goa, tidak lagi nomaden.
  • Mereka sudah mengenal teknik bercocok tanam meskipun secara sederhana.
  • Alat-alat hasil kebudayaan peninggalan zaman batu madya masih mirip dengan zaman paleolitikum namun sudah lebih halus.
  • Manusia yang hidup pada era ini sudah mampu membuat kerajinan dari gerabah.
  • Meskipun sudah mempunyai kemampuan bercocok tanam, mereka juga masih menerapkan hidup berburu untuk mengumpulkan makanan.
  • Ditemukannya sampah dapur yang disebut kjoken mondinger, menunjukan bahwa manusia pendukung zaman mesolitikum sudah mengetahui cara mengolah makanan.
Baca Juga :  Zaman Neolitikum : Pengertian, Ciri-ciri, & Peninggalan

Sejarah Zaman Mesolitikum Di Indonesia

Seperti belahan dunia lainnya, kepulauan Indonesia adalah tempat ditemukannya hasil kebudayaan mesolitikum.

Hasil kebudayaan zaman mesolitikum banyak ditemukan di sampung bone di gua lawa dekat sampung ponorogo Jawa Timur, di lamoncong Sulawesi Selatan, pulau muna Sulawesio Tenggara, danau sentani Papua, daerah pantai timur Sumatra antara Langsa sampai Medan, dan lain-lain.

Hasil kebudayaan peninggalan zaman mesolitikum yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah kapak genggam sumatra, kapak pendek, batu penggiling beserta dengan landasannya, alat dari bahan tulang, dan lain-lain.

Manusia pendukung zaman paleolitikum adalah ras melanesoid, misalnya, nenek moyang bangsa Papua.

Kebudayaan Zaman Mesolitikum

Berdasarkan temuan-temuan arkeologis, para sejarawan kemudian mengelompokkan zaman batu madya menjadi beberapa kebudayaan, yaitu :

Abis sous roche

Secara harfiah, Abris = Tinggal, Sous = Dalam, Roche = Gua. Jadi, Abis sous roche berarti tinggal dalam goa.

Seperti dijelaskan di atas, zaman mesolitikum ditandai dengan manusia mulai tinggal menetap di goa-goa.

Abris sous roche adalah goa yang mirip ceruk batu karang yang dipergunakan oleh manusia prasejarah sebagai tempat tinggal.

Van Stein Callenfels adalah orang yang memulai penelitian mengenai kebudayaan Abris sous roche ini pada tahun 1928-1931 di Goa Lawa dekat Sampung, Ponorogo.

Artefak-artefak prasejarah yang ditemukan sebagian besar terbuat dari tulang sehingga kebudayaan ini disebut dengan Sampung Bone Culture.

Di daerah Besuki (Jawa Timur), peneliti lain, yaitu Van Heekeren menemukan kapak Sumatra (sumatralith) dan kapak pendek.

Peneliti yang bernama Alfred Buhler juga menemukan Abris sous roche di daerah Timor dan Rote.

Di situs Timor dan rote, dia menemukan flakes culture dari batu kalsedon bertangkai dan artefak-artefak ini diduga adalah peninggalan bangsa Papua Melanesoid.

Abris sous roche juga terdapat di Goa Leang Pattae di daerah Lamancong (Sulawesi Selatan). Kebudayaan prasejarah ini kemudian disebut dengan kebudayaan Toala.

Inti dari kebudayaan Toala adalah flakes dan pebble.

Kebanyakan penemuan kebudayaan Toala terdiri dari alat-alat dari batu berbentuk seperti batu api dari eropa. Contoh : kaleson, jaspis, obsidian dan kapur.

Di kebudayaan Toala, orang meninggal dikuburkan dala goa dan ketika tulang-tulang mayat telah mengering akan diambil kembali. Tulang-tulang ini kemudian diberikan kepada keluarganya sebagai kenang-kenangan.

Baca Juga :  Jenis-Jenis Manusia Purba Di Indonesia dan Penemunya

Para peneliti juga telah menemukan kebudayaan Bacson-Hoabinh dan kebudayaan Bandung di Indonesia.

Kebudayaan Bacson-Hoabinh diduga muncul sekitar tahun 10.000 SM-4000 SM.

Pusat kebudayaan Bacson-Hoabinh adalah di di lembah sungai Mekong. Bacson berada di daerah pegunungan, sedangkan Haobinh berada di daerah dataran rendah. Keduanya terletak di area teluk Tonkin.

Arkeolog Prancis, Madeleine Colani adalah orang pertama yang menggunakan istilah kebudayaan Bacson Hoabinh pada tahun 1920-an.

Nama Bacson-Hoabinh digunakan untuk menunjukkan lokasi penemuan alat-alat batu berbentuk khas dengan ciri-ciri dipangkas pada satu atau dua sisi permukaannya.

Kebudayaan Bacson-Hoabinh masuk ke kepulauan Indonesia bersamaan dengan migrasi ras Papua Melanesoid ke Kepulauan Indonesia melalui jalur barat dan jalur timur (utara).

Ras melanesoid datang dengan perahu bercadik. Mereka kemudian sampai di pantai timur Sumatra dan Jawa. selanjutnya, kedatangan ras Melayu membuat Ras melanesoid terdesak ke Indonesia timur (Papua) dan Australia.

Kebudayaan Bacson-Hoabinh diduga adalah pusat kebudayaan mesolitikum Indonesia.

Kebudayaan Bacson-Hoabinh beruap dua macam kebudayaan, yaitu kebudayaan pebble (alat-alat tulang yang datang dari jalan barat) dan kebudayaan flakes (datang melalui jalan timur).

Kebudayaan ini manrik perhatian sejarawan. Di kebudayaan ini, jenazah orang meninggal diposisikan dengan kondisi berjongkok serta mencatnya dengan warna merah.

Kebudayaan Bandung, ditemukan oleh Van Koenigswald di daerah Padalarang, Bandung Utara, Cicalengka, Banjaran Soreang, dan sebelah barat Cililin.

Di situs kebudayaan Bandung ditemukan artefak prasejarah berupa flakes yang disebut microlith (batu kecil), pecahan tembikar, dan benda-benda perunggu.

Kjokkenmoddinger (sampah dapur)

Kjokkenmoddinger adalah istilah arkeologis yang berasal dari bahasa Denmark.

Secara harfiah, kjokken = dapur, sedangkan modding = sampah.

Kjokkenmoddinger adalah tumpukan fosil kulit kerang dan siput yang tingginya kira-kira 7 meter.

Sebagian besar fosil sampah dapur ini ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatera, antara Medan sampai Langsa.

Penemuan ini adalah bukti bahwa manusia pendukung zaman mesolitikum sudah hidup menetap.

Peneliti yang bernama Dr. P.V. Van Stein Callenfels meneliti kjokkenmoddinger pada tahun 1925.

Di situs-situs itu, Dr. P.V. Van Stein Callenfels menemukan kapak genggam yang berbeda dengan zaman paleolitikum.

Peninggalan Zaman Mesolitikum

Alat-alat peninggalan zaman mesolitikum masih sangat sederhana dan kasar. Namun, lebih baik dibandingkan peninggalan zaman paleolitikum.

Beberapa artefak hasil kebudayaan peninggalan zaman mesolitikum, misalnya, kapak genggam sumatra (sumatralith), kapak pendek, batu penggiling beserta dengan landasannya, alat dari bahan tulang, dan lain-lain.

Alat-alat peninggalan zaman mesolitikum ini ditemukan di sampung bone di gua lawa dekat sampung ponorogo Jawa Timur, di lamoncong Sulawesi Selatan, pulau muna Sulawesio Tenggara, danau sentani Papua, daerah pantai timur Sumatra antara Langsa sampai Medan, dan lain-lain.

Baca Juga :  Apa Itu Dolmen, Menhir, Sarkofagus, Waruga Dan Punden Berundak?

Di bawah ini kami akan menjelaskan beberapa alat-alat hasil kebudayaan peninggalan zaman mesolitikum yang telah ditemukan oleh para arkeolog.

1. Pebble Sumatra (kapak genggam sumatra)

peninggalan zaman mesolitikum, kapak sumatera
peninggalan zaman mesolitikum, kapak sumatera

Peneliti yang bernama Dr. P.V. Van Stein Callenfels menemukan kapak genggam sumatera saat beliau meneliti kjokkenmoddinger pada tahun 1925.

Kapak genggam ini disebut sumatralith karena banyak ditemukan di pulau Sumatera. Ditemukan di Situs Bukit Kerang, Desa Suka Jadi, Kabupaten Langkat, di dalam tumpukan kulit kerang yang merupakan sisa–sisa makanan manusia prasejarah pada masa mesolitik.

Kapak genggam sumatera terbuat dari batu kali yang dipecah pecah.

2. Hachecourt (kapak pendek)

Selain kapak genggam, di situs tersebut Dr. P.V. Van Stein Callenfels juga menemukan kapak pendek (hachecourt).

3. Pipisan

Artefak zaman mesolitikum lainnya adalah pipisan, yaitu batu batu penggiling beserta landasannya.

Selain digunakan untuk menggiling makanan, pipisan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat yang berasal dari tanah merah.

Manusia Pendukung Zaman Mesolitikum

Manusia pendukung zaman mesolitikum di Indonesia adalah ras melanesoid, nenek moyang bangsa Papua dan Aborigin di benua Australia.

Awalnya mereka hidup di kebudayaan Bacson-Hoabinh yang berpusat di lembah sungai Mekong. Bacson berada di daerah pegunungan, sedangkan Haobinh berada di daerah dataran rendah. Keduanya terletak di area teluk Tonkin.

Mereka kemudian bermigrasi ke Kepulauan Indonesia melalui jalur barat dan jalur timur (utara).

Ras melanesoid datang dengan perahu bercadik. Mereka kemudian sampai di pantai timur Sumatra dan Jawa. Selanjutnya, kedatangan ras Melayu membuat Ras melanesoid terdesak ke Indonesia timur (Papua) dan Australia.

Baca juga : Jenis-jenis Manusia Purba

Kehidupan Sosial Ekonomi Zaman Mesolitikum

Manusia pendukung zaman mesolitikum sudah mempunyai peradaban yang lebih tinggi dibandingkan manusia zaman paleolitikum.

Mereka tidak lagi hidup secara nomaden namun sudah mulai hidup menetap di goa-goa pegunungan atau di pesisir pantai.

Mereka sudah mengenal cara bercocok tanam secara sederhana.

Temuan tumpukan fosis sampah dapur menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki kemampuan untuk mengolah makanan secara sederhana.

Mereka telah hidup menetap di dalam gua. Dan pantai serta telah memahami cara bercocok tanam meski teknik yang digunakan masih sangat sederhana.

Selain itu, mereka juga sudah mampu membuat gerabah sederhana dari tanah liat.

Kepercayaan Zaman Mesolitikum

Kepercayaan pada zaman mesolitikum adalah animisme dan dinamisme.

Salah satu bukti bahwa manusia zaman ini memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme adalah temuan lukisan di Goa Leang-Leang, Sulawesi, berupa gambar telapak tangan wanita dan gambar hewan yang diyakini bisa mengusir roh jahat.

Demikian artikel kami tentang zaman mesolitikum (batu madya), semoga bermanfaat.