Zaman Megalitikum : Pengertian, Ciri-ciri, & Peninggalan

Zaman megalitikum adalah periode praaksara yang ditandai dengan peninggalan-peninggalan batu besar. Itu sebabnya, zaman megalitikum sering disebut dengan zaman batu besar.

Baca juga : Pengertian Zaman Batu

Zaman megalitikum mulai timbul pada zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu.

Baca juga : Pengertian zaman neolitikum

Pada zaman megalitikum, manusia mulai mengenal tradisi religius. Monumen-monumen zaman batu besar dibangun untuk tujuan religius, misalnya memuja roh nenek moyang.

Di artikel ini kita akan membahas apa pengertian zaman megalitikum, ciri-ciri zaman megalitikum, dan apa saja hasil kebudayaan peninggalan zaman megalitikum terutama di Indonesia.

Pengertian Zaman Megalitikum

Zaman megalitikum adalah salah satu periodisasi zaman batu – selain paleotikum, mesolitikum, dan juga zaman neolitikum.

Baca juga : Pengertian zaman mesolitikum (zaman batu madya)

Secara harfiah, megalitik terbentuk dari dua kata, yaitu, mega (besar) dan lithos (batu). Dengan demikian, salah satu ciri-ciri zaman megalitikum adalah peninggalan artefak batu besar, seperti dolmen dan menhir.

Baca juga : apa yang dimaksud dengan dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak

Zaman Megalitikum sering disebut dengan zaman batu besar. Tidak salah, karena zaman megalitikum adalah zaman yang ditandai dengan ditemukannya hasil kebudayaan yang terbuat dari batu besar.

Namun, menurut Fritz A. Wagner, megalitik bukan saja peradaban batu besar.

Wagner berpendapat artefak batu kecil pun bisa dikelompokkan ke dalam peninggalan megalitik, apabila artefak-artefak itu dibuat dengan tujuan sakral, misalnya pemujaaan arwah nenek moyang.

Dengan kata lain, menurut Wagner budaya megalitik selalu terkait erat dengan aspek religi atau kepercayaan.

Hasil kebudayaan peninggalan zaman megalitikum yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah sarkofagus, waruga, punden berundak, dolmen dan menhir.

Sebagian besar hasil kebudayaan zaman megalitikum (batu besar) itu dibuat untuk tujuan religius, yaitu, pemujaan leluhur atau tradisi penguburan mayat.

Ciri-ciri Zaman Megalitikum

Para sejarawan mengelompokkan periode zaman batu menjadi beberapa periode, yaitu : zaman paleolitikum, zaman mesolitikum, zaman megalitikum, dan zaman neolitikum.

Baca juga : pengertian zaman paleolitikum

Masing-masing periode zaman batu ini mempunyai ciri kehidupan masing-masing. Di bawah ini adalah beberapa ciri-ciri zaman megalitikum :

  • Manusia sudah mempunyai kemampuan untuk membuat peralatan dari batu dan monumen kebudayaan yang terbuat dari batu-batu besar.
  • Zaman ini mulai berkembang dari zaman neolitikum sampai zaman perunggu.
  • Pada zaman batu besar ini, manusia sudah mulai mengenal kepercayaan, utamanya animisme.

Sejarah Zaman Megalitikum Di Indonesia

Kepulauan Indonesia adalah tempat ditemukannya hasil kebudayaan megalitikum Austronesia, bahkan masih hidup sampai sekarang.

Kebudayaan megalitikum yang masih hidup dapat dilihat di Nias, sebuah pulau kecil di lepas pantai barat Sumatera Utara, di pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur dan di Toraja Sulawesi Selatan.

Banyak situs dan struktur hasil kebudayaan megalitikum telah ditemukan di wilayah Indonesia.

Hasil kebudayaan megalitikum, seperti, menhir, dolmen, dan arca/patung batu leluhur ditemukan di berbagai situs di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil.

Di Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di provinsi Sulawesi Tengah terdapat situs megalit kuno seperti patung batu leluhur, sebagian besar dari artefak-artefak hasil kebudayaan megalitikum ini terletak di lembah Bada, Besoa, dan Napu.

Menurut pendapat Heine Geldern, kebudayaan megalitik di Indonesia datang dari India dan Malaka.

Heine Geldern juga membagi penyebaran tradisi megalitik itu menjadi dua gelombang berdasarkan tinggalan arkeologisnya, yaitu: zaman megalitikum tua dan zaman megalitikum muda.

  • Zaman Megalitikum Tua berlangsung ± 2500-1500 SM. Periode ini adalah bagian zaman neolitikum yang ditandai oleh peninggalan dolmen, menhir, punden berundak, jalan batu, beliung persegi serta bangunan lain yang bersifat monumental.
  • Zaman Megalitikum Muda berlangsung ± 1000 SM-1000 M. Periode ini adalah bagian zaman perundagian yang ditandai oleh peninggalan kubur batu, dolmen, sarkofagus, bangunan batu yang ornamental, dan mulai mengenal logam.
Baca Juga :  Zaman Neolitikum : Pengertian, Ciri-ciri, & Peninggalan

Hal yang sama disampaikan juga oleh Haris Sukendar. Menurutnya, kebudayaan megalitikum yang datang ke Indonesia dibagi dalam dua gelombang, yakni megalitik tua dan megalitik muda.

Megalitik tua ditandai oleh artefak seperti dolmen, menhir, dan punden berundak. Sedangkan, megalitik muda ditandai oleh peti kubur, arca megalitik, dan bejana batu.

Hasil kebudayaan megalitikum yang berupa dolmen dan menhir merupakan petunjuk bahwa masyarakat di zaman tersebut sudah mengenal aspek religi atau kepercayaan, misalnya pemujaan arwah nenek moyang.

Peninggalan Zaman Megalitikum

Di bawah ini kami akan menjelaskan beberapa hasil kebudayaan peninggalan zaman megalitikum yang telah ditemukan oleh para arkeolog.

1. Dolmen

Dolmen adalah hasil kebudayaan peninggalan zaman megalitikum yang berbentuk seperti seperti meja yang terbuat dari batu besar.

Dolmen terbuat dari dua atau lebih batu tegak dengan satu batu tergeletak di atasnya.

Dolmen terbuat dari dua atau lebih batu tegak dengan satu batu tergeletak di atasnya.

Dolmen sering dipergunakan sebagai tempat sesajen atau hidangan peruntukan bagi para arwah nenek moyang.

Di sebagian besar dolmen terdapat kubur batu. Nampaknya, fungsi dolmen selain sebagai tempat pemujaan juga untuk melindungi jenazah dari gangguan binatang buas.

Dolmen, sudah ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia. Mulai dari wilayah Eropa, Afrika dan Asia.

Korea adalah lokasi penemuan dolmen terbanyak. Lebih dari 30.000 dolmen telah ditemukan, yang merupakan sekitar dua perlima dari total dunia.

Pada tahun 2000 tiga situs dolmen Korea — di Koch’ang (Gochang), Hwasun, dan Kanghwa (Ganghwa) di Korea Selatan, ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

Gambar dolmen di Gochang, Hwasun, dan Ganghwa Korea (peninggalan zaman megalitikum)
Kuburan peninggalan zaman megalitikum di Gochang, Hwasun, dan Ganghwa berisi ratusan dolmen dari milenium pertama SM yang dibangun dari lempengan batu besar. (sumber : https://whc.unesco.org/en/list/977/)

Di Indonesia, juga banyak ditemukan dolmen.

Dolmen yang diduga dipergunakan sebagai tempat pemujaan, ditemukan seperti di Telaga mukmin, Sumberjaya, dan di daerah Lampung bagian Barat.

Dolmen di Indonesia umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan dolmen di belahan dunia lainnya.

Dimana-dolmen ini umumnya berukuran panjang sekitar 325 cm, serta lebar 145 cm, dan tinggi 115 cm.

Para peneliti menduga, masyarakat di Indonesia mulai mengenal dolmen pada masa bercocok tanam.

2. Kubur Batu

Kubur batu adalah peti batu untuk menyimpan jenazah. Kubur Batu dibentuk dari enam papan batu, dua sisi panjang, dua sisi lebar, dan sebuah batu sebagai lantai.

Daerah di Indonesia yang paling banyak terdapat kubur batu, adalah Sumba NTT dan Minahasa Sulawesi Utara. Selain itu, kubur batu juga ditemukan di Bali, Pasemah Sumatera Selatan, Wonosari Yogyakarta, Cepu Jawa Tengah dan Cirebon Jawa Barat.

Bangunan megalitikum di Sumba biasanya berupa kubur batu yang terhias arca dan relief-relief yang menarik.

Kubur Batu di Sumba Barat dibedakan menjadi enam jenis berdasarkan bentuknya yang berbeda, yaitu :

  1. Watu pawa’i : Kubur batu yang berbentuk meja batu (dolmen) yang ditopang beberapa batu bulat yang digunakan sebagai kaki atau penyangga. Umumnya digunakan untuk kuburan raja-raja dan golongan bangsawan. Sebenarnya, watu pawa’i tidak selalu digunakan sebagai kuburan, ada yang dibangun hanya sebagai monumen agung. Watu pawa’i yang digunakan sebagai kuburan umumnya dilengkapi batu kubur berukuran lebih kecil yang diletakkan persis di bawah watu pawa’i.
  2. Watu Kuoba : Berbetuk batu utuh yang dipahat menjadi peti dilengkapi lempengan batu lebar sebagai penutup. Batu kubur jenis ini ada yang dilengkapi hiasan ada yang tidak. Pola hiasnya lebih sederhana dan terletak pada bagian peti batu. Biasanya digunakan sebagai kuburan golongan menengah dan keluarganya.
  3. Koro Watu : Jenis ini terbuat dari 6 lempengan batu yang disusun menjadi peti batu. 1 sebagai dasar, 1 sebagai penutup dan 4 lainnya diletakkan di masing-masing sisi. Umumnya langsung ditempatkan di atas tanah tanpa perlengkapan lainnya.
  4. Kurukata : varian dari Koro Watu terdiri dari dua lempeng penutup bagian atas yang ditumpuk jadi satu.
  5. Watumanyoba : Bentuknya sangat sederhana, terdiri dari lempengan batu tanpa kaki yang ditempatkan di tanah. Ada berbagai model Watumanyoba : lempengan segi empat, persegi panjang, bulat telur dan lainnya. Biasanya digunakan untuk kuburan para hamba raja, oleh karena itu sering ditemukan bersebelahan dengan kuburan para raja.
  6. Kaduwatu : Batu tegak lurus (penji) dilengkapi hiasan ukiran. Umumnya adalah pasangan batu kubur lain, terutama dari jenis Watu Pawa’i. Batu jenis ini digunakan sebagai penanda arah kepala atau kaki jenazah sekaligus sebagai simbol bangsawan.
Baca Juga :  Jenis-Jenis Manusia Purba Di Indonesia dan Dunia (Lengkap)

3. Menhir

Menhir adalah hasil kebudayaan megalitikum yang berupa batu tegak seperti tiang atau tugu yang dipergunakan sebagai sarana pemujaan.

Ciri-ciri menhir adalah terbuat dari batu, posisi tegak di atas tanah.

Menhir dapat ditemukan semata-mata sebagai monolit, atau sebagai sekelompok batu yang serupa.

Ukuran menhir sangat bervariasi, ada yang besar atau kecil, berbeda di tiap wilayah di dunia..

Daerah penemuan menhir Menhir sangat luas. Monumen megalitikum ini bisa ditemukan di Eropa, Afrika, dan Asia, tetapi paling banyak di Eropa Barat; khususnya di Irlandia, Inggris Raya, Brittany dan Prancis, di mana terdapat sekitar 50.000 buah menhir.

Menhir adalah batu tunggal yang berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM-2000 SM).

Pada awalnya, Menhir dikelompokkan ke dalam produk tradisi megalitik tua yang telah muncul semenjak awal tradisi itu, meskipun demikian tradisi pendirian menhir masih berlanjut sampai sekarang ini.

Pembangunan menhir terkait erat dengan penghormatan arwah nenek moyang, dan sering dikaitkan dengan kesakralan dan kesaktian lelu­hur.

Daerah penemuan menhir di Indonesia adalah Pasemah Sumatra Selatan, Ngada Flores, Rembang Jawa Tengah, Lahat Sumatra Selatan, Sumatera barat, dan banyak lokasi lainnya.

gambar menhir di Lima Puluh Kota sumatera barat (peninggalan zaman megalitikum)
gambar menhir di Lima Puluh Kota sumatera barat (sumber : kemdikbud)

Masyarakat Minangkabau menyebut menhir dengan istilah batu tagakIstilah batu tagak tidak jauh berbeda artinya dengan pengertian menhir yang umum dipergunakan dalam dunia ilmiah, terutama bagi arkeolog di Indonesia. Berdasarkan pe­nelitian terdahulu kata menhir yang berasal dari bahasa Breton -Inggris Utara, berarti batu berdiri. Sedangkan kata batu tagak jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia juga berarti batu berdiri, (Herwandi: 1993: 1).

4. Sarkofagus

Sarkofagus adalah hasil kebudayaan megalitikum berupa peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal).

Sarkofagus batu yang paling tua digunakan oleh firaun Mesir dari dinasti ke-3, yang memerintah dari sekitar 2686 hingga 2613 SM.

Orang Mesir kuno percaya adanya kehidupan paska kematian, dan sarkofagus itu akan menjadi tempat tinggal abadi orang-orang di dalamnya.

Sarkofagus para fir’aun dan orang-orang kaya dihiasi dengan ukiran dan lukisan.

Sarkofagus adalah bagian penting dari proses penguburan Mesir kuno yang rumit.

Orang Mesir kuno menyiapkan orang mati untuk kehidupan setelah kematian dengan membalsem tubuh dan membungkusnya dalam linen. Proses ini dikenal sebagai mumifikasi.

Tubuh yang telah dimumifikasi selanjutnya diletakkan ke dalam wadah mumi. Peti mati itu selanjutnya akan ditempatkan di dalam sarkofagus. Terkadang, sarkofagus sendiri digunakan sebagai pengganti peti mati.

Selain Mesir kuno, Romawi kuno dan Yunani kuno juga dikenal menggunakan sarkofagus.

Daerah penemuan sarkofagus di Indonesia yang terkenal adalah Basuki (Jawa Timur) dan beberapa situs di Bali.

Temuan sarkopagus di Bali, tepatnya di situs Gilimanuk membantah dugaan para ahli sebelumnya bahwa masyarakat pesisir tidak mengenal sistem penguburan dengan sarkofagus, alasannya batu padas sebagai bahan baku sarkofagus tidak bisa didapatkan di daerah pesisir. (Soejono, 1977)

gambar sarkofagus di bali (peninggalan zaman megalitikum)
gambar sarkofagus di bali (sumber :kemendikbud)

Selain di Gilimanuk, sarkofagus di Bali juga ditemukan di Munduk Tumpeng di Kecamatan Negara, Jembrana, Bali.

Sarkofagus di kedua situs tersebut memiliki bentuk atau tipe yang sama.

Ditemukannya sarkofagus di daerah pesisir (situs Gilimanuk) dan daerah pedalaman (Munduk Tumpeng) menunjukkan adanya hubungan atau kontak antara daerah pesisir dengan daerah pedalaman pada masa awal logam di Bali.

Tidak hanya itu, ditemukannya bekal kubur di dalam sarkofagus di Pangkung liplip (Kabupaten Jembrana) dan Marga tengah (Kabupaten Gianyar) yang berbentuk lempengan emas penutup mata menunjukkan kesamaan dengan temuan bekal kubur di situs Gilimanuk. (Soejono, 1977)

Temuan lempengan daun emas sebagai penutup mata di dalam sarkofagus di Bali memiliki kesamaan dengan temuan pada situs megalitik Adhichanallur (Tamilnadu, India), Santugong (Serawak) dan Oton di pulau Panay (Filipina). (O’Connor and Harrisson, 1971)

Baca juga : Kerajaan Bali : Sejarah, Raja-raja, dan Peninggalan

Selain di Bali, penemuan sarkofagus juga ada di wilayah Tomok Samosir Sumatera Utara.

Morfologi sarkofagus yang ditemukan di wilayah Tomok berbentuk persegi panjang dan pada bagian atasnya melebar, berbentuk menyerupai kapal (solu Bolon) sebagai perlambang wahana si mati yang digunakan menuju alam arwah.

Baca Juga :  Pengertian Zaman Batu : Pengertian, Ciri-ciri, & Peninggalan

5. Waruga

Waruga adalah sejenis sarkofagus atau makam di atas tanah yang terbuat dari batu dan bagian atas biasanya bergerigi dan bagian bawah berbentuk kotak.

Di Indonesia, waruga banyak ditemukan di Minahasa di Sulawesi Utara.

Waruga di Tonsea dibuat dengan ukiran dan relief. Ukiran dan relief ini menunjukkan bagaimana jenazah disimpan di waruga masing-masing dan menggambarkan mata pencaharian.

Terdapat sekitar 370 Waruga. Ada waruga di Rap-Rap sebanyak 15 buah, Airmadidi Down sebanyak 211 dan waruga Sawangan sebanyak 144.

gambar waruga sawangan (peninggalan zaman megalitikum)
gambar waruga sawangan (sumber : wikipedia)

Waruga-waruga ini telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995 di taman arkeologi waruga Sawangan.

Bagi masyarakat Minahasa, waruga memiliki arti sangat penting. Waruga adalah warisan leluhur Minahasa, memiliki makna religius, dan sakral.

C.T. Bertling dalam artikelnya berjudul “De Minahasische ‘Waroega’ en ‘Hockerbestatuung’” di majalah Nederlansch-Indie, Oud and Nieuw tahun 1931 menjelaskan, nama “waruga” terbentuk dari kata wa sebagai singkatan dari wawa, yang berarti ‘sepenuhnya, secara menyeluruh’ dan kata ruga, yang berarti ‘pakaian usang’ atau ‘dirusak dari tubuh’. Dari pengertian literal dua kata tersebut, “waruga” berarti  ‘tempat di mana tubuh larut untuk seluruhnya’.

6. Punden Berundak

Punden berundak adalah struktur bangunan berteras-teras tempat pemujaan roh nenek moyang.

Sesuai namanya, punden berundak undak adalah tempat suci untuk pemujaan pada roh nenek moyang yang bentuknya bertingkat-tingkat atau berundak-undak.

Para peneliti berpendapat bahwa punden berundak adalah bentuk awal candi di Indonesia.

Struktur bangunan punden berundak banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama Sumatera, jawa, dan Bali.

Punden berundak banyak ditemukan di daerah Lebak Si Bedug, Banten Selatan, Leles Garut dan Kuningan Jawa Barat.

Salah satu struktur punden berundak yang terkenal dan monumental di Indonesia adalah situs Gunung Padang di Cianjur.

Punden berundak merupakan salah satu arsitektur zaman pra sejarah, mulai berkembang pada masa bercocok tanam, dan mencapai puncaknya pada masa megalitik.

Punden berundak undak menggambarkan sebuah gunung suci tempat bersemayam roh leluhur.

gambar punden berundak di bali (peninggalan zaman megalitikum)
gambar punden berundak di bali (sumber ; kemdikbud/bpcbbali)

Salah satu struktur punden berundak yang masih terawat terdapat di Pura Mehu Desa Selulung, Bangli, Provinsi Bali.

Punden Berundak ini terletak di dalam areal Pura Mehu.

Monumen purbakal ini memiliki no.inventaris 4/14-06/STR/5 dan telah didokumentasikan oleh tim BPCB Bali yang dilaksanakan oleh ketua tim Dra Ni Komang Aniek Purniti, M.Si.

7. Arca atau Patung

Arca atau patung megalitik adalah batu yang dipahat berbentuk manusia atau binatang, seperti gajah, kerbau, harimau dan moyet.

Arca/patung megalitik adalah lambang nenek moyang serta digunakan sebagai tempat pemujaan.

Arca atau patung megalitik banyak ditemukan di Pasemah Sumatra Selatan dan lembah Bada Lahat Sulawesi Selatan.

Manusia Pendukung Zaman Megalitikum

Manusia pendukung zaman megalitikum adalah Homo Sapiens. Homo sapiens adalah ras manusia satu-satunya yang masih ada di dunia.

Jadi, manusia pendukung zaman megalitikum adalah ras manusia yang sama seperti manusia modern saat ini. Bukan manusia purba, seperti Pithecanthropus erectus, dan manusia purba lainnya.

Zaman megalitikum terdiri dari dua era, yaitu zaman megalitikum tua dan zaman megalitikum muda.

Zaman megalitikum tua berlangsung diperkirakan tahun ± 2500-1500 SM, sementara zaman megalitikum muda sekitar tahun ± 1000 SM-1000 M.

Pada era ini, di berbagai belahan dunia sudah berkembang peradaban, seperti peradaban mesir kuno, sumeria, India kuno dll.

Mesir kuno sendiri terkenal dengan peninggalan zaman megalitikum yang monumental yaitu, piramida.

Jadi, masyarakat pendukung zaman megalitikum adalah manusia yang sudah mulai berkembang peradabannya. Mereka bukan manusia purba.

Baca juga : Jenis-jenis Manusia Purba

Kehidupan Sosial Zaman Megalitikum

Zaman megalitikum mulai timbul pada zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu.

Pada zaman megalitikum, manusia sudah mulai menetap dan beraktifitas seperti berburu dan mengumpulkan makanan, serta bercocok tanam.

Masyarakat pendukung zaman megalitikum sudah mengenal tradisi religius, dibuktikan dengan adanya menhir dan dolmen yang berfungsi sebagai tempat pemujaan arwah leluhur.

Demikian artikel kami tentang zaman megalitikum (batu besar), semoga bermanfaat.