Katamasa

Biografi Wage Rudolf Supratman, Sang Pencipta Indonesia Raya

Wage Rudolf Supratman adalah pahlawan nasional, pencipta lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya”.

Wage Rudolf Supratman atau dalam ejaan lama ditulis Wage Rudolf Soepratman lebih dikenal dengan nama singkat WR Supratman.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, Wage Rudolf Supratman adalah seorang wartawan Surat kabar “Sin Po”.

Karena profesinya itu, WR Supratman sering mengunjungi rapat-rapat pergerakan Nasional di gedung Pertemuan Gang Kenari Jakarta.

Hal ini membuat rasa nasionalismenya tumbuh dan mencipta lagu Indonesia Raya.

Lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman kemudian diperdengarkan menggunakan biola pada saat Kongres Pemuda-pemuda Indonesia ke II di Jakarta pada tanggal 27-28 Oktober 1928.

Kongres Pemuda-pemuda Indonesia ke II menghasilkan Sumpah Pemuda, yang salah satunya mengakui lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Di artikel ini kita akan membahas biografi pencipta lagu kebangsaan Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Tentang bagaimana kehidupan beliau sampai meninggal setelah ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Biografi Wage Rudolf Supratman

Hari lahir Wage Rudolf Soepratman adalah tanggal 9 Maret 1903. Hari kelahiran pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya ini berdasarkan ketetapan pemerintah era Presiden Megawati Soekarnoputri tentang hari musik nasional.

Tempat lahir Wage Rudolf Soepratman di banyak sumber sejarah adalah di Jakarta. Namun, ada juga yang menyebut WR Supratman lahir di Surabaya berdasarkan pengakuan Roekijem, kakak W.R Supratman kepada penulis biografi beliau.

Namun, baik tanggal lahir atau tempat lahir WR Supratman menjadi kontroversi. Sampai akhirnya pengadilan Negeri Purworejo mengeluarkan surat keputusan terkait tempat dan tanggal lahir sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya ini.

Menurut surat keputusan Pengadilan Negeri Purworejo, tanggal kelahiran Wage (nama sebutan W.R Supratman) yang benar sesuai fakta adalah tanggal 19 Maret 1903.

Sedangkan, tempat kelahiran W.R Supratman adalah di dukuh Trembelang, desa Somongari, kecamatan Kaligesing, kota Purworejo.

Wage Rudolf Soepratman adalah anak dari pasangan suami istri Djoemeno Senen dan Siti Senen. Djoemeno Senen pernah bergabung dengan tentara KNIL.

Wage Rudolf Supratman adalah anak laki-laki satu-satunya dari Siti Senen dan suaminya, Djumeno Senen Sastrosoehardjo.

Kehidupan Wage Rudolf Soepratman di Makassar

Sejak kecil, kehidupan Wage Rudolf Soepratman sangat keras. Ia sudah kehilangan ibu di usia 6 tahun.

Paska kepergian ibunya, ayahnya yang hanya Sersan KNIL mengalami kesulitan menanggung kehidupan seluruh anaknya sendirian.

Ketika kakaknya Roekiyem Soepratiyah dipersunting oleh Willem Van Eldik. WR Supratman pindah ke Makasaar ikut bersama kakaknya itu yang mengikuti tempat tugas suaminya.

Kakak ipar Wage Rudolf Supratpan, Willem Van Eldik tergabung ke dalam korps musik di kantor tempatnya bertugas. Ia dan istrinya, begitu menyukai musik. Dari mereka berdua lah WR Supratman belajar dan akhirnya menyenangi musik.

Selain belajar musik khususnya biola dan gitar, WR Supratman juga bersekolah. Ia beruntung bisa bersekolah di sekolah Belanda, ELS (Europe Large School) yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang pribumi tertentu saja.

Wage Rudolf Soepratman bisa bersekolah di sana karena kakak iparnya mengakuinya sebagai anak.

Untuk itu, Willem Van Eldik menambahkan nama ‘Rudolf’ di tengah nama asli Wage Supratman.

Namun, hal itu akhirnya diketahui oleh pihak sekolah yang kemudian mengeluarkannya.

Setelah dikeluarkan dari ELS, Wage Rudolf Soepratman melanjutkan sekolah di sekolah anak Melayu di Makassar dan memperoleh ijazah resmi pada tahun 1917.

Selain itu, WR Supratman juga mengambil kursus bahasa Belanda.

WR Supratman mampu menyelesaikan kursus bahasa Belanda dalam waktu 2 tahun dan memperoleh gelar KAE (Klein Amtenaar Examen).

Pada tahun 1920 Wage Rudolf Soepratman melanjutkan sekolah di Normaal School, sekolah keguruan untuk menyiapkan tenaga pendidikan dan kependidikan.

Pada tahun yang sama, Wage Rudolf Soepratman mendirikan grup musik beraliran jazz yang diberi nama Black and White.

Band jazz ini sangat populer bahkan mampu tampil menghibur kalangan militer di Makassar.

Dalam karirnya menjadi guru, WR Supratman sempat ditugaskan di kota Singkang.

Namun, karena kondisi keamanan di kota Singkang tidak terjamin, kehidupannya pun amat berbeda, Wage Rudolf Supratman meminta untuk kembali ke Makassar.

Kembali hidup di Makassar, beliau tidak lagi menjadi guru. Beliau bekerja di Firma Nedem dan menduduki posisi klerk.

Namun, di tempat kerja baru ini beliau juga tidak bertahan lama. Beliau kemudian pindah kerja lagi menjadi pegawai advokat di kantor advokat kepunyaan rekan kakak iparnya.

WR Supratman kembali Ke Jakarta

Lama hidup di Makassar membuat WR Supratman merindukan keluarga besarnya. Beliau pun akhirnya meninggalkan Makassar kembali ke Jawa.

Wage Rudolf Supratman mengunjungi kakaknya yang kedua yang tinggal di Surabaya, Jawa Timur.

Kakaknya, Roekinah Soepratirah adalah istri dari R.Koesnendar Kartodiredjo yang bekerja di kantor pelayaran.

Selanjutnya, Wage Rudolf Supratman pergi ke Jawa barat untuk menemui ayah kandungnya.

Di Jawa, Wage Rudolf Supratman bekerja menjadi wartawan surat kabar ‘Kaum Muda’ yang berkantor di Bandung, Jawa Barat.

Di perjalanan karirnya menjadi wartawan, ia bertemu dan mengenal banyak orang.

Selepas dari surat kabar ‘Kaum Muda’, Wage Rudolf Supratman bekerja dengan seorang rekan baru bernama Harun Harahap yang membuka kantor berita baru di Jakarta. kantor berita itu bernama ‘Alpena.’

Saat itu di Jakarta sedang bangkit semangat kepemudaan dan kebangkitan, hal itu ikut menumbuhkan jiwa nasionalisme Wage Rudolf Supratman.

Wage Rudolf Supratman berkenalan dengan banyak tokoh pergerakan nasional dan akhirnya mulai ikut berkontribusi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Setelah surat kabar Alpena ditutup, Wage Rudolf Supratman bekerja di surat kabar Sin Po.

Sebagai wartawan Sin Po Wage Rudolf Supratman sering mendapatkan tugas meliput perkembangan dalam setiap rapat pemuda pergerakan nasional.

Kegiatannya ini semakin menebalkan rasa nasionalismenya sehingga beliau mulai aktif terlibat dalam pergerakan nasional.

Tulisan-tulisannya di surat kabar Sin Po semakin lama semakin terang-terangan menyudutkan pemerintahan Hindia Belanda. Karena hal ini, belia mulai mendapatkan perhatian polisi Belanda.

Keterlibatannya dalam dunia politik dan pergerakan nasional semakin aktif. Wage Rudolf Supratman tidak hanya sekedar meliput kegiatan sebagai wartawan, namun juga memberi sumbangan pemikiran dan pendapat untuk kemerdekaan Indonesia.

WR Supratman Pencipta Lagu Indonesia Raya

Wage Rudolf Supratman berjuang secara unik melalui bakatnya di bidang musik.

Beliau menciptakan banyak lagu bernuansa perjuangan dan persatuan.

Lagu perjuangan pertama yang diciptakannya berjudul ‘Dari Barat Sampai ke Timur.’ Lagu kebangsaan ini kita kenal berjudul ‘Dari Sabang Sampai Merauke.’

Lagu terakhir yang diciptakannya diberinya judul ‘Matahari Terbit.’

Tetapi dari sekian banyak lagu perjuangan yang diciptakan Wage Rudolf Supratman, lagu ‘Indonesia Raya’ adalah yang paling dahsyat. Lagu Indonesia Raya benar-benar berhasil menyatukan rakyat Indonesia.

Lagu Indonesia Raya sebenarnya sudah selesai pada tahun 1926. Lagu Indonesia hampir saja dibawakan oleh Wage Rudolf Supratman pada Kongres Pemuda I yang berlangsung dari tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926.

Namun, saat itu beliau masih muda dan masih belum percaya diri.

Akhirnya, Kongres Pemuda II dilaksanakan pada bulan oktober 1928 di Jakarta. Kongres Pemuda II ini kemudian melahirkan Sumpah Pemuda.

Pada malam penutupan Kongres Pemuda II, tanggal 28 Oktober 1928, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu ciptaannya.

Wage Rudolf Supratman memainkan lagu Indonesia raya secara instrumental dengan biola atas saran Soegondo terkait situasi dan kondisi pada waktu itu.

Itulah pertama kalinya lagu Indonesia Raya diperdengarkan di depan umum. Semua peserta konggres yang hadir terpukau mendengarnya.

Setelah itu, lagu Indonesia Raya mulai terkenal di kalangan pergerakan nasional. Lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan jika partai-partai politik mengadakan kongres.

Lagu Indonesia Raya adalah perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Mengetahui hal ini, Belanda semakin khawatir dan melarang rakyat menyanyikan lagu Indonesia Raya di luar ruangan dan menuntut kata ‘merdeka’ dihapus dari lirik lagu itu. Namun, rakyat tidak pernah menghiraukan perintah Belanda.

Wage Rudolf Supratman Meninggal Dunia

Penciptaan lagu Indonesia Raya membuat Wage Rudolf menjadi incaran polisi Belanda.

Kejaran polisi Belanda membuat beliau harus hidup berpindah-pindah.

Walaupun hidup menderita, Wage Rudolf Supratman tetap bertahan dalam perjuangan.

Beliau terus bertahan karena Ir. Soekarno pernah berpesan kepadanya untuk terus memperjuangkan kemerdekaan dalam pertemuan di pengadilan Bandung. Selepas itu Ir. Soekarno mendekam di penjara sesuai dengan keputusan hakim.

Selain Ir. Soekarno, perkenalannya dengan dr. Soetomo juga ikut mengobarkan semangat perjuangannya.

Tahun 1930-1937 Wage Rudolf Supratman terus hidup berpindah pindah. Pada tahun 1937 beliau dibawa oleh saudaranya ke Surabaya dalam keadaan sakit.

Wage Rudolf Supratman ditangkap pada tanggal 7 Agustus 1938 ketika sedang menyiarkan lagu, Matahari Terbit “ di NIROM” Jalan Embong Malang Surabaya bersama pandu-pandu KBI.

Setelah ditangkap, Wage Rudolf Supratman ditahan di penjara Kalisosok.

Hidup di penjara membuat kesehatannya semakin memburuk. Beliau dipulangkan dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1938.

Pesan Terakhir W.R. Supratman sebelum meninggal “ Nasibkoe soedah begini. Inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal saja ikhlas. Saja toch soedah beramal, berdjoeang dengan carakoe, dengan biolakoe, saja jakin Indonesia pasti Merdeka”.

Wage Rudolf Supratman ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional

Pada 17 Agustus 1960 pemerintah RI menganugrahkan Bintang Mahaputra Anumerta III kepada Wage Rudolf Supratman.

Pemerintah juga menetapkan Wage Rudolf Supratman sebagai pahlawan nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.16/SK/1971 tanggal 20 Mei 1971.

Selanjutnya, melalui Surat Keputusan Presiden RI No.017/TK/Tahun 1974 tanggal 19 Juni 1974 Presiden RI memberikan anugerah Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama kepada W.R Supratman.

Makam W.R. Supratman berada di Jalan Kenjeran, Desa Rangkah, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Atas jasa-jasanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, makam Wage Rudolf Supratman dipindahkan dan diperbaiki.

Makam ini adalah pindahan dari makam W.R. Supratman sebelumnya yang berada di Makam umum Rangkah yang terletak di depan lokasi makam sekarang. Makam Wage Rudolf Supratman diresmikan oleh Presiden Megawati pada tahun 2003.

Rumah tempat meninggal Wage Rudolf Supratman di Jalan Mangga 21 Surabaya dijadikan museum W.R. Supratman. Museum ini menyimpan duplikat biola legendarisnya.

Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah Indonesia mengabadikan gambar WR Supratman dalam uang rupiah pecahan lima puluh ribu rupiah (Rp. 50.000).

Gambar WR Supratman dalam uang pecahan Rp. 50.000

Lagu-lagu Ciptaan WR Supratman

Selain menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang fenomenal, Wage Rudolf Supratman juga menciptakan banyak lagu perjuangan.

Berikut adalah Lagu-lagu ciptaannya :

Buku Karya WR Supratman

Selain menciptakan lagu-lagu kebangsaan, Wage Rudolf Supratman juga menulis buku dengan tema perjuangan.

Di bawah ini buku karya W.R. Supratman :

Buku Perawan Desa disita dan dilarang beredar oleh Polisi Hindia Belanda.

Fakta-fakta Menarik WR Supratman

Selain tempat dan tanggal lahirnya yang sempat menjadi kontroversi, sosok WR supratman memiliki banyak fakta menarik.

Berikut diantaranya :

Demikian artikel singkat kami tentang biografi Wage Rudolf Supratman, pahlawan nasional pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. semoga bermanfaat.

Sharing is caring