Trickle-down economics : Teori, Contoh, dan kritik

Trickle-down economics adalah teori yang mengklaim bahwa memberikan kemudahan bisnis bagi orang kaya akan memberikan manfaat (menetes) ke masyarakat luas. Trickle-down economics, juga disebut trickle-down theory, yang berpendapat bahwa seharusnya pajak untuk bisnis dan orang kaya harus dikurangi sebagai sarana untuk merangsang investasi bisnis dalam jangka pendek dan bermanfaat bagi masyarakat luas dalam jangka panjang. Hal ini disebut Trickle-down effect.

Trickle-down economics mengasumsikan bahwa investor, penabung, dan pemilik perusahaan adalah pendorong nyata pertumbuhan. Teori ini menyatakan bahwa mereka akan menggunakan uang ekstra dari pemotongan pajak untuk memperluas bisnisnya. Investor akan membangun lebih banyak perusahaan atau membeli lebih banyak saham. Bank akan meningkatkan pinjaman. Semua ekspansi bisnis ini akan menetes ke masyarakat luas, misalnya, menambah lapangan kerja. Upah pekerja akan meningkat, dan mereka akan membelanjakan gaji mereka untuk mendorong permintaan dan pertumbuhan ekonomi.

Teori Trickle-down economics

Trickle Down Effect adalah Teori yang lahir dari aliran kapitalisme. Teori ini dulu sangat diagung-agungkan oleh pemerintahan orde baru. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana sebuah pertumbuhan akan berdampak pada kemakmuran sebuah negara.

Teori Trickle-down economics serupa dengan ekonomi sisi penawaran. Teori itu menyatakan bahwa semua pemotongan pajak, terlepas dari apakah pemotongan pajak itu untuk bisnis atau pekerja, akan memacu pertumbuhan ekonomi.

Tetapi, teori Trickle-down lebih spesifik. Teori ini mengatakan pemotongan pajak yang tertarget akan memberikan hasil lebih baik daripada pemotongan pajak secara umum. Teori ini mendukung pemotongan pajak untuk perusahaan, keuntungan modal, dan pajak tabungan. Intinya adalah pemotongan pajak ditujukan pada orang kaya, bukan pemotongan pajak secara luas kepada seluruh masyarakat.

Teori Trickle-down economics
Teori Trickle-down economics : Memberikan kemudahan bisnis pada orang kaya akan memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Kemudahan bisnis yang dimaksud diantaranya, pemotongan pajak. Dengan peningkatan kekayaan akibat pemotongan pajak, para pebisnis akan meningkatkan investasi sehingga menghasilkan lapangan kerja baru, upah pekerja meningkat. Dengan meningkatnya pendapatan maka pengeluaran akan meningkat sehingga permintaan akan barang konsumsi meningkat, pada akhirnya memacu pertumbuhan ekonomi.

Dari gambar di atas kita bisa menjelaskan secara gamblang mengenai apa itu teori trickle-down effect :

Jika orang kaya mendapatkan peningkatan kekayaan, maka mereka akan menggunakan sebagian dari kekayaan ekstra ini yang berguna untuk masyarakat dalam jangka panjang.

Baca Juga :  Macam-macam Sistem Ekonomi Yang Ada Di Dunia Saat Ini

Kekayaan ekstra akan menyebabkan peningkatan pada permintaan barang dan jasa. Peningkatan permintaan barang dan jasa akan menyebabkan peningkatan lapangan pekerjaan dan kenaikan upah.

Upah yang lebih tinggi juga akan menyebabkan efek lanjutan, misalnya. Jika pembantu rumah tangga mendapatkan peningkatan pendapatan, pada gilirannya, mereka akan meningkatkan pengeluaran konsumsi.

Atau, orang kaya juga bisa menginvestasikan kekayaan ekstra mereka. Jika mereka berinvestasi dengan mendirikan perusahaan baru atau melakukan ekspansi bisnis, maka akan menciptakan lapangan kerja baru sehingga mengurangi pengangguran.

Pengeluaran dan investasi yang meningkat akan merangsang aktivitas ekonomi yang mengarah pada peningkatan pendapatan pajak negara (pajak penghasilan meningkat, PPN meningkat).

Penerimaan pajak yang lebih tinggi dapat digunakan untuk membiayai program-program publik seperti perawatan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan bagi orang miskin.

Kaitan Trickle-down effect dan pemotongan pajak

Unsur penting dari Trickle down effect adalah yang berkaitan dengan pemotongan pajak penghasilan bagi orang-orang berpenghasilan tinggi. Dikatakan bahwa memotong pajak penghasilan untuk orang kaya tidak hanya akan menguntungkan orang yang berpenghasilan tinggi, tetapi juga semua orang.

Argumen teori Trickle-down economics

Jika orang-orang yang berpendapatan tinggi mengalami peningkatan pendapatan, mereka akan meningkatkan pengeluaran mereka dan hal ini mendorong peningkatan permintaan barang dan jasa dalam perekonomian. Peningkatan permintaan agregat akan menciptakan lapangan pekerjaan dan upah yang lebih tinggi untuk semua pekerja.

Selain itu, peningkatan keuntungan bagi perusahaan dapat diinvestasikan kembali ke dalam perluasan output produksi. Hal ini akan memacu pertumbuhan ekonomi, peningkatan upah pekerja, dan peningkatan pendapatan yang lebih tinggi untuk semua orang.

Pajak penghasilan yang lebih rendah adalah insentif bagi orang-orang untuk bekerja lebih keras. Hal ini akan meningkatkan produktivitas pekerja dan memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Baca Juga :  10 Contoh Negara Yang Menganut Sistem Ekonomi Pasar/Liberal

Kritik terhadap Trickle-down economics

Meskipun dalam banyak kasus, teori Trickle-down economics berhasil, banyak juga pengkritik teori ini. Mereka berpendapat, orang kaya memiliki kecenderungan marginal yang lebih tinggi untuk menabung daripada berbelanja. Bahkan dalam beberapa kasus, setelah mendapatkan keringanan pajak di dalam negeri, bukannya menggunakan kekayaannya untuk berinvestasi di dalam negeri, mereka justru menyimpan kekayaannya di luar negeri.

Juga, beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan ketimpangan pendapatan dapat menyebabkan ketidaksetaraan, terutama ketimpangan kesempatan pendidikan, akumulasi kekayaan dan pertumbuhan kekuatan monopoli /monopsoni. Lebih jauh, peningkatan ketidaksetaraan dapat menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah.

GDP yang lebih tinggi tidak mengatasi ketidaksetaraan fundamental pada masyarakat kapitalis. Bahkan jika pemotongan pajak memang memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, output yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan pendapatan riil yang lebih tinggi untuk semua orang. Pendapatan selalu berkutat pada masyarakat elit ekonomi, sedangkan pekerja berpendapatan rendah selalu tertinggal.

Pemotongan pajak juga menyebabkan peningkatan defisit anggaran negara. Meskipun hal inibisa memberikan dorongan fiskal sementara, defisit anggaran menciptakan masalah bagi ekonomi pada masa depan (kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi dan pajak yang lebih tinggi)

Para pengkritik juga berpendapat bahwa pemotongan pajak untuk orang kaya adalah kebijakan salah sasaran. Jika kita ingin mengurangi kemiskinan relatif, masuk akal untuk menargetkan pemotongan pajak penghasilan dan memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkannya. Namun, memotong pajak untuk orang kaya, dengan harapan sebagian pendapatan mereka akan menetes ke orang miskin di sekitarnya adalah cara kerja yang sangat tidak efisien.

Orang kaya juga dapat menginvestasikan kekayaan ekstra dalam bentuk aset, seperti perumahan. Namun, hal ini justru mendorong peningkatan harga rumah, sehingga sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

Baca Juga :  19 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Tradisional

Contoh Trickle-down economics

Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, pernah menerapkan Trickle-down economics. Kebijakannya dikenal dengan nama Reaganomics. Kebijakan ini berhasil membawa Amerika Serikat keluar dari resesi ekonomi pada tahun 1980.

Presiden Reagan memotong pajak secara signifikan. Pemotongan terbesar, yaitu 70%, terjadi pada masyarakat berpenghasilan tinggi. Reagan juga memangkas tarif pajak perusahaan dari 46 persen menjadi 40 persen.

Presiden selanjutnya, George W. Bush juga menggunakan kebijakan trickle-down economics. Dia memotong pajak penghasilan yang berhasil mengakhiri resesi pada tahun 2001.

Secara teori Trickle-down economics, kebijakan pemotongan pajak Reagan dan Bush seharusnya bisa membantu semua orang di semua tingkat pendapatan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ketimpangan pendapatan memburuk. Alih-alih menetes ke bawah, tampaknya kemakmuran justru mengalir deras ke atas.

Kesimpulan

Nampaknya, teori trickle down hanya berhasil di tataran konsep semata. Faktanya jauh panggang dari api. Strategi trickle down effect mengasumsikan perlunya memprioritaskan pertumbuhan ekonomi terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan pemerataan.

Menurut Presiden ke 6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, strategi trickle down effect telah gagal di Indonesia.

Dalam kenyataannya di banyak negara, termasuk di Indonesia, teori ini gagal menciptakan kemakmuran untuk semua

ujar SBY dalam pidato kenegaraan di DPD di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2009. (sumber)

 Distribusi kekayaan akan menetes dari masyarakat penghasilan atas ke masyarakat berpenghasilan rendah, jika :

  • Jika kekayaan itu diinvestasikan dan menciptakan lapangan kerja.
  • Jika kekayaan digunakan dalam sektor keuangan dan saham, maka dapat membantu stabilitas ekonomi.
  • Para orang kaya memberikan banyak kekayaannya untuk amal.

Jadi berhasil atau tidaknya Trickle Down Economics sangat tergantung oleh bagaimana kekayaan itu digunakan oleh para orang kaya.