13 Tokoh Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Tokoh pertempuran Surabaya berasal dari berbagai kalangan mulai kalangan militer, kalangan agama, wartawan, sampai rakyat jelata.

Para tokoh ini bahu membahu bersama rakyat dalam perang Surabaya dalam rangka mempertahankan kedaulatan negara.

Dalam artikel ini kita akan mengenal beberapa tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945 baik secara langsung atu tidak langsung. Selamat membaca.

Baca Selengkapnya : Sejarah Peristiwa Pertempuran Surabaya

Tokoh Pertempuran Surabaya

Di bawah ini adalah beberapa tokoh-tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945 dan peran mereka masing-masing. Di Luar mereka ada ribuan rakyat Surabaya yang gugur di pertempuran yang heroik itu.

Mayor Jenderal Yono Sewoyo

Mayor Jenderal Yono Sewoyo adalah Komandan Divisi TKR Surabaya yang saat itu mengeluarkan perintah perang kepada seluruh badan perjuangan, polisi dan TKR untuk melawan tentara sekutu.

Muhammad Mangoendiprodjo

Raden Muhammad Mangoendiprodjo lahir di Sragen, pada tanggal 5 Januari 1905 – meninggal di Bandar Lampung, pada tanggal 13 Desember 1988 pada umur 83 tahun).

Beliau adalah salah seorang tokoh yang terlibat dalam pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945.

Muhammad Mangoendiprodjo adalah tokoh pertempuran Surabaya yang menjadi pelaku sejarah peristiwa terbunuhnya Brigadir Mallaby.

Pada tanggal 29 Oktober 1945, pimpinan Sekutu berunding dengan Bung Hatta untuk membicarakan gencatan senjata.

Di perundingan itu, Jenderal Oerip Soemohardjo mengangkat Muhammad Mangundiprojo menjadi pimpinan TKR Divisi Jawa Timur dan bertugas melakukan kontak biro dengan pasukan Sekutu.

Di hari yang sama, pada sore harinya, beliau dan Brigadir Mallaby berpatroli bersama untuk memantau kemajuan gencatan senjata.

Sementara itu di dalam Gedung Internatio di Jembatan Merah, tentara Inggris dari kesatuan Gurkha sedang dikepung oleh pemuda-pemuda Indonesia untuk diminta menyerah.

Baca Juga :  Biografi Wage Rudolf Supratman, Sang Pencipta Indonesia Raya

Mengetahui hal itu, rombongan patroli pun berhenti untuk menyelesaikan persoalan.

Muhammad Mangundiprojo masuk ke dalam gedung untuk melakukan negosiasi dengan pasukan Inggris tersebut.

Namun, pasukan Gurkha itu malah menyandera Muhammad Mangundiprojo.

Maka meletuslah pertempuran antara tentara Gurkha dan pemuda Surabaya. Mallaby tewas dalam mobilnya yang meledak dan terbakar.

Paska selesainya pertempuran Surabaya, Presiden Soekarno mempromosikan Muhammad Mangundiprojo menjadi Mayor Jenderal.

Berkat jasa-jasanya ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 7 November 2014.

Mayor Jenderal TKR Mustopo

Moestopo lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 13 Juni 1913 dan meninggal dunia tanggal 29 September 1986.

Moestopo adalah seorang dokter gigi yang menjadi tentara. Beliau dikenal karena sikapnya yang nyentrik dan sering melakukan tindakan tidak lazim.

Mayor Jenderal TKR Mustopo sebagai komandan sektor perlawanan Surabaya adalah pemimpin pemuda bersama 20.000 kekuatan prajurit TKR dan 120.000 kelompok pemuda bersenjata bersatu dalam melakukan penyerangan kamp Belanda dan sekutu pada sore hari di tanggal 28 Oktober 1945 (Imran, dkk: 2012).

Dalam puncak pertempuran Surabaya, Jenderal Mustopo sebenarnya tidak terlibat langsung.

Karena berbeda pemikiran dengan Bung Hatta dalam bagaimana menghadapi Inggris, Bung Karno terpaksa menariknya dari medan tempur dan memindahtugaskan Mustopo menjadi penasihat presiden (sumber).

Mustopo yang kecewa akhirnya pulang ke rumahnya di Gresik sehingga melewatkan peristiwa perang Surabaya yang bersejarah itu.

Namun, naluri pejuang membuat dirinya tidak betah menjadi staf istana. Beliau pun memohon kepada Presiden Soekarno untuk kembali ke kesatuan tempur.

Akhirnya presiden menginjinkan. Moestopo pun ditugaskan di Yogyakarta untuk memimpin unit tempur yang diberi nama “Ayam Jago”.

Pada 1946, Moestopo dikirim ke Subang, Jawa Barat. Beliau menjabat sebagai Komandan Resimen Siliwangi Bandung Utara.

Baca Juga :  Sejarah Pembentukan BPUPKI & Lahirnya Pancasila (Info Lengkap)

Di Subang, Moestopo memimpin Pasukan Teratai untuk menahan pergerakan tentara Sekutu yang diboncengi Belanda.

Berkat jasa-jasa Jenderal Mustopo, pada tahun 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas nama pemerintah RI menganugerahi Moestopo dengan gelar Pahlawan Nasional.

Soengkono

Soengkono lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 11 Januari 1911 – meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 12 September 1977.

Soengkono adalah salah satu tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Ketika itu, beliau adalah komandan BKR (Badan Keamanan Rakyat). Soengkono adalah Komandan Pertahanan dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Surachman

Surachman adalah Komandan Pertempuran dalam perang Surabaya 10 November 1945. Beliau adalah tokok pertempuran Surabaya yang berjuang di garis depan peperangan.

Hariyono dan Koesno Wibowo

Hariyono dan Kusno Wibowo adalah tokoh pemuda yang berhasil menurunkan bendera Belanda, mereka merobek bagian birunya, dan mengerek kembali Bendera yang kini berwarna Merah Putih.

Bung Tomo

bung tomo adalah salah satu tokoh pertempuran surabaya 10 november 1945

Bung Tomo adalah tokoh pertempuran Surabaya yang paling dikenal publik.

Orasinya melalui Radio Pemberontak mengobarkan semangat arek-arek Surabaya dalam perang Surabaya yang sangat dahsyat.

Baca selengkapnya : Biografi Bung Tomo

KH. Hasyim Asy’ari

Selain dari kalangan militer, tokoh pertempuran Surabaya juga berasal dari kalangan Islam. Diantaranya datang dari Nahdlatul Ulama (NU).

Peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam pertempuran Surabaya sangat besar.

Setelah menerima utusan dari Presiden Soekarno, Rais Akbar K.H. Hasyim Asy’ari setelah berunding dengan berbagai ulama di Jawa dan Madura mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 (sumber).

Resolusi jihad menjadi salah satu faktor pemicu semangat kebangsaan membela negara. Dalam hal ini terjadi hubungan agama dengan nasionalisme. Peran kiai dan santri amat besar.

R.M.T.A Suryo

R.M.T.A Suryo adalah gubernur Jawa Timur yang dengan tegas menyatakan enggan menerima kedatangan tentara sekutu (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Baca Juga :  5 Alasan Jepang Menyerah kepada Sekutu Pada Perang Dunia 2

Gubernur Soerjo adalah tokoh yang mengumumkan reaksi Arek-arek Surabaya menolak ultimatum tentara Inggris melalui radio pada pukul 23.00 malam, 9 November 1945.

Jenderal DC. Hawntorn

Jenderal DC Hawthorn adalah komandan tentara sekutu divisi India ke-2 pada waktu perang dunia 2.

Saat tentara sekutu memasuki Indonesia, Mayjen DC Hawthorn adalah Panglima tentara Inggris yang membawahi wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok.

Saat terjadi ketegangan antara pasukan Inggris dan rakyat Surabaya, Jenderal DC. Hawntorn meminta Presiden Soekarno untuk menyerukan penghentian  pertentangan antara pemuda dan sekutu  (Imran, dkk: 2012).

Letnan Jenderal Sir Philip Christison

Letnan Jenderal Sir Philip Christison adalah Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) yang membawahi wilayah Jakarta, Surabaya, dan Sumatera.

Brigadir Jenderal Mallaby

Kalau di pihak Indonesia ada Bung Tomo, Brigadir Jenderal Mallaby adalah tokoh pertempuran Surabaya yang paling dikenal dari pihak Inggris.

Brigadir Jenderal Mallaby adalah komandan brigade 49 tentara sekutu yang mendarat di Surabaya.

Pada tanggal 31 Oktober 1945, Brigadir Mallaby tewas dalam suatu kontak dengan pemuda Surabaya.

Tewasnya Mallaby adalah salah satu penyebab utama pertempuran Surabaya.

Mobil Brigjen Mallaby meledak dan menewaskan dirinya dalam pertempuran Surabaya
Mobil Brigjen Mallaby meledak dan menewaskan dirinya. Tewasnya Mallaby adalah salah satu latar belakang pertempuran Surabaya 10 November 1945 (sumber : Imperial War Museum/wikimedia commons)

Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh

tokoh pertempuran surabaya Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh
Maj. Gen. E.g Mansergh, panglima tentara Inggris di Pertempuran Surabaya, 10 November 1945

Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh adalah komandan tentara Inggris di Surabaya pengganti Brigjen Mallaby.

Mansergh adalah Jenderal yang mengeluarkan ultimatum bagi seluruh rakyat Surabaya untuk menyerah.

Namun, ultimatum ini dianggap sebagai sebuah penghinaan bagi kedaulatan Indonesia.

Dengan ditolaknya ultimatum ini, meletuslah pertempuran Surabaya.

Dengan perannya sebagai komandan pasukan sekutu wilayah Surabaya, Jenderal Mansergh lah tokoh pertempuran Surabaya yang paling berperan dominan di pihak sekutu.

Demikian artikel singkat kami tentang tokoh-tokoh pertempuran Surabaya. Semoga bermanfaat.