Teori Ketenagakerjaan : Jenis, dan Pengertian Menurut Para Ahli

Teori ketenagakerjaan – Tenaga kerja adalah salah satu dari faktor produksi yang sangat penting dalam perekonomian. Terdapat berbagai macam teori tentang ketenagakerjaan, baik itu teori ketenagakerjaan klasik oleh Adam Smith yang dijelaskan oleh Hukum Say (hukum yang dicetuskan oleh Baptiste Say), teori Keyness, dan teori ketenagakerjaan menurut para ahli Indonesia, atau menurut hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam artikel ini kita akan membahas berbagai macam jenis teori ketenagakerjaan, baik yang klasik dari adam Smith, sampai menurut para ahli di Indonesia sendiri.

Macam-macam teori Ketenagakerjaan

Teori tentang ketenagakerjaan membahas bagaimana kelangsungan pasar tenaga kerja, pembentukan upah, apakah dipengaruhi oleh hukum penawaran dan permintaan, atau melalui intervensi pemerintah.

Di bawah ini adalah penjelasan beberapa teori-teori ketenagakerjaan yang ada :

Teori Ketenagakerjaan Klasik Adam Smith

Teori ketenagakerjaan klasik dipelopori oleh Adam Smith, yang dikenal sebagai bapak ekonomi klasik. Teori ketenagakerjaan klasik Adam Smith menyatakan bahwa pasar tenaga kerja ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran tenaga kerja, di mana para pekerja menyediakan pasokan tenaga kerja yang konstan, sementara pemberi kerja membuat permintaan.

Dengan kata lain, para ekonom klasik percaya bahwa lapangan kerja penuh berlaku dalam perekonomian melalui penyesuaian upah dan harga, dan setiap penyimpangan dari fenomena itu dianggap sebagai peristiwa abnormal. Untuk memahami teori ketenagakerjaan klasik, kita harus menganalisis dengan hukum pasar menurut Baptiste Say.

Gambar teori ketenagakerjaan klasik Adam Smith
Menurut hukum Say yang menjadi landasan bagi teori ketenagakerjaan klasik, bahwa akan selalu terjadi keseimbangan antara pasokan tenaga kerja dengan kebutuhan.

Menurut Mulyadi (2003), teori klasik berpandangan bahwa manusia adalah faktor produksi yang paling utama yang menentukan kemakmuran bangsa-bangsa. Sumber daya alam tidak akan memiliki arti kalau tidak ada sumber daya manusia yang mengolahnya untuk bisa memberi manfaat bagi kehidupan.

Teori klasik Adam Smith juga berpndangan bahwa alokasi sumber daya manusia yang efektif adalah tonggak terjadinya pertumbuhan ekonomi. Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal baru mulai diperlukan untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap terjadi. Dengan kata lain, efektivitas alokasi sumber daya manusia adalah prasyarat utama (necessary condition) bagi terjadinya pertumbuhan ekonomi.

Teori Malthus

Thomas Robert Malthus (1766-1834) adalah pemikir ekonomi klasik yang memiliki sumbangan besar dalam pemikiran-pemikiran ekonomi, setelah Adam Smith. Malthus menjelaskan pemikiran-pemikirannya dalam bukunya yang berjudul Principles of Population.

Menurut Mulyadi (2003), meskipun Malthus adalah pengikut Adam Smith, dari buku tersebut terlihat banyak pemikirannya tidak sejalan dengan pemikiran ekonomi klasik Adam Smith.

Disatu pihak, Adam Smith optimis bahwa pembagian kerja dan spesialisasi ketenagakerjaan akan berdampak positif terhadap kesejahteraan umat manusia.

Baca Juga :  Mixed Inflation : Pengertian Lengkap (disertai kurva)

Sebaliknya, pemikiran Malthus justru mengandung pesimisme terhadap masa depan umat manusia. Malthus mengungkap fakta bahwa sumber daya tanah tetap jumlahnya, bahkan tanah untuk pertanian semakin berkurang. Sementara itu, populasi manusia berkembang pesat. Sehingga, pertanian tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan manusia. Malthus ragu bahwa teknologi pertanian akan mampu berkembang lebih cepat dari pertambahan jumlah penduduk, sehingga menurutnya diperlukan pembatasan jumlah penduduk. Pembatasan penduduk ini oleh Malthus disebut pembatasan moral.

Teori Keynes

Menurut teori ketenagakerjaan klasik seperti yang dijelaskan oleh hukum Say, pasar termasuk pasar tenaga kerja akan selalu menuju keseimbangan (equilibrium). Saat berada dalam posisi keseimbangan, semua faktor produksi, termasuk tenaga kerja, akan didayagunakan secara penuh (full-employed). Dengan kata lain, menurut hukum say, jika tingkat upah dibiarkan flexibel menurut mekanisme pasar, tidak akan pernah ada pengangguran. Semua orang akan bekerja sepanjang bersedia menerima tingkat upah yang terbentuk sesuai hukum penawaran dan permintaan tenaga kerja.

Jhon Maynard Keynes (1883-1946) mengkritik teori ekonomi klasik dengan berpendapat bahwa ekonomi tidak selalu mengatur diri sendiri melalui mekanisme pasar. Hukum Say didasarkan pada keyakinan bahwa harga dan suku bunga fleksibel untuk menjaga keseimbangan dalam perekonomian. Namun, kesulitan dalam menentukan tingkat upah, harga dan tingkat suku bunga menyeret perekonomian ke dalam kondisi disekuilibrium.

Meskipun hukum Say mengklaim adanya pekerjaan penuh, faktanya selalu ada pengangguran dalam perekonomian karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan kekurangan permintaan agregat tenaga kerja di pasar. Oleh karena itu, intervensi pemerintah dalam tingkat tertentu diperlukan untuk menjaga keseimbangan perekonomian.

Hukum Say menyiratkan bahwa selalu terjadi keseimbangan pada tingkat lapangan kerja penuh dalam perekonomian. Tetapi, Keynes percaya bahwa bahkan ketika permintaan agregat dan penawaran agregat berada dalam ekuilibrium, tingkat pekerjaan penuh tidak akan pernah tercapai. Maksudnya, pengangguran akan selalu ada.

Teori Harrod-Domar

Teori Harrod-Domar dikenal juga dengan nama teori pertumbuhan. Menurut Mulyadi (2003), teori ini berpendapat bahwa investasi tidak hanya menciptakan naiknya permintaan, tetapi juga akan meningkatkan kapasitas produksi.

Modal fisik dalam teori model pertumbuhan memiliki peran sangat penting, namun, kapasitas produksi akan meningkat hanya jika sumber daya lain (modal fisik) membesar.

Selain itu, menurut teori model pertumbuhan, jumlah penduduk yang bertambah besar tidak akan menyebabkan turunnya pendapatan per kapita, dengan syarat modal fisiknya meningkat.

Penjelasan yang sama juga diberikan oleh model Solow. Model ini menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Dalam model ini, tenaga kerja diasumsikan tumbuh secara geometris dan full employment akan selalu tercapai. Namun, pada model ini, arti pekerja sudah dianggap sebagai salah satu faktor produksi, bukan sekedar faktor pembagi untuk memperoleh output pekerja. Dalam model ini juga dapat dijelaskan terjadinya substitusi antara modal fisik dan pekerja.

Baca Juga :  5 Contoh Negara yang Menganut Sistem Ekonomi Komando

Teori Ester Boserup

Menurut Mulayadi, (2003), teori Boserup menjelaskan bahwa pertumbuhan penduduk justru akan memicu dipergunakanya sistem pertanian yang lebih intensif. Hal ini akan menghasilkan output yang lebih tinggi pada sektor pertanian.

Teori Boserup juga berpandangan bahwa pertambahan penduduk berakibat munculnya inovasi sistem teknologi pertanian. Menurut Boserup, inovasi akan meningkatkan output pekerja, tetapi hanya terjadi jika jumlah pekerja banyak.

Teori Ketenagakerjaan Menurut Para Ahli

Sastrohadiwiryo

Menurut Sastrohadiwiryo dan Siswanto dalam (Sastrohadiwiryo, Siswanto 2005. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administratif dan Operasional, Cetakan Ketiga, Bumi Aksara, Jakarta), dalam pembangunan ketenagakerjaan, pemerintah diharapkan dapat menyusun dan menetapkan perencanaan tenaga kerja. Perencanaan tenaga kerja dimaksudkan agar dapat dijadikan dasar dan acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan implementasi program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan. Penyusunan perencanaan tenaga kerja disusun atas dasar informasi ketenagakerjaan. Informasi ketenagakerjaan yang harus disusun minimum meliputi :

  • Penduduk dan tenaga kerja
  • Kesempatan kerja
  • Pelatihan kerja
  • Produktivitas tenaga kerja
  • Hubungan industrial
  • Kondisi lingkungan kerja
  • Pengupahan dan kesejahteraan tenaga kerja
  • Jaminan sosial tenaga kerja

Sastrohadiwiryo juga berpendapat bahwa tenaga kerja merupakan istilah yang identik dengan istilah personalia, didalamnya meliputi buruh, karyawan dan pegawai. Secara deskriptif perbedaan antara buruh, karyawan dan pegawai adalah :

  • Buruh adalah mereka yang bekerja pada usaha perorangan dan diberikan imbalan kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, baik lisan maupun tertulis, yang biasanya imbalan kerja tersebut diberikan secara harian.
  • Karyawan adalah mereka yang bekerja pada suatu badan usaha atau perusahaan, baik swasta maupun pemerintah, dan diberikan imbalan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik yang bersifat harian, mingguan, maupun bulanan yang biasanya imbalan tersebut diberikan secara mingguan.
  • Pegawai (Pegawai Negeri) adalah mereka yang telah memenuhi syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas jabatan negeri atau tugas Negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Ketenagakerjaan Menurut Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003

Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Bab 1 Pasal 1 :

Ayat 1 : Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja.

Ayat 2 : Tenaga Kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita yang sedang dalam dan/atau akan melakukan pekerjaan, baik didalam maupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ayat 3 : Pekerja adalah tenaga kerja yang bekerja didalam hubungan kerja pada pengusaha dengan menerima upah.

Ayat 4  : Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang memperkerjakan tenaga kerja dengan upah/imbalan dalam bentuk lain.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Bab II Pasal 4 :

Pembangunan ketenagakerjaan bertujuan :

Memperdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal.

Menciptakan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional.

Memberikan perlindungan bagi tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan.

Meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya

Kesimpulan

Dari berbagai macam teori tenaga kerja dan teori pertumbuhan yang muncul pada era 1950-an dan 1960-an dan pada awal tahun 1980-an, muncul aliran ekonomi yang disebut “Ekonomi Sisi Penawaran” atau supply-side economics. Aliran ini memfokuskan kajiannya pada kebijakan-kebijakan yang bertujuan meningkatkan output nasional melalui akumulasi modal.

Baca Juga :  Sistem Ekonomi Kapitalis : Pengertian, Ciri-ciri, Kelebihan dan Kekurangan

Model ini menjelaskan keterkaitan antara tingkat penyediaan kesempatan kerja dengan tingkat pertumbuhan GNP. Maksudnya, memaksimalkan penyerapan tenaga kerja untuk memaksimumkan pertumbuhan GNP dan memaksimumkan kesempatan kerja dengan cara memaksimumkan tingkat tabungan dan investasi.

Teori Pasar Tenaga Kerja

Menurut Solmon (1980) dan Sinaga (2005), pasar tenaga kerja adalah tempat aktivitas dari bertemunya pelaku-pelaku, pencari kerja dan pemberi lowongan kerja. Proses bertemunya pencari kerja dan pemberi lowongan kerja bisa sebentar saja bisa juga memakan waktu lama.

Permasalahan yang bisa dihadapi oleh kedua belah pihak di pasar tenaga kerja, yaitu : Setiap perusahaan pemberi lowongan kerja menginginkan kualitas serta keahlian pekerja yang berbeda-beda. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan tingkat upah. Sementara itu, pencari kerja juga memiliki keahlian yang berbeda-beda sehingga mereka pun menginginkan tingkat upah yang berbeda-beda juga. Permasalah ini terjadi diakibatkan oleh keterbatasan informasi.

Teori penawaran dan permintaan tenaga kerja

Menurut Suparmoko dan Maria (2000) dan Sinaga (2005), pada prinsipnya teori penawaran tenaga kerja dan teori permintaan tenaga kerja merupakan fungsi dari tingkat upah. Hal ini sesuai dengan pandangan teori ekonomi klasik yang menyatakan : Semakin tinggi tingkat upah yang diminta oleh kaum pekerja, akan semakin sedikit jumlah penawaran tenaga kerja (lowongan kerja) yang dapat diberikan, begitu pula akan berlaku sebaliknya.

Untuk bisa memahami mekanisme pasar tenaga kerja harus diperhatikan bahwa terdapat perbedaan pada individu pekerja. Oleh karena itu, untuk menentukan kuva penawaran tenaga kerja pada suatu daerah, caranya adalah dengan menjumlahkan kurva-kurva penawaran dari setiap individu. Makanya, kurva penawaran tenaga kerja akan berbentuk melengkung kebelakang (backward bending curve).

Teori keseimbangan permintaan dan penawaran tenaga kerja

Tingkat upah terbentuk karena interaksi permintaan dan penawaran. Jika terjadi kesepakatan tingkat upah antara pencari kerja dan pemberi lowongan kerja, maka disebut terjadi keseimbangan permintaan dan penawaran tenaga kerja (equilibrium).

Menurut Todaro (2003), dalam pasar persaingan sempurna (perfect competition), di mana tidak ada satupun produsen dan konsumen yang mempunyai pengaruh atau kekuatan yang cukup besar untuk mendikte harga-harga input maupun output, tingkat penyerapan tenaga kerja (level of employment) dan harganya (tingkat upah) ditentukan secara bersamaan oleh segenap harga-harga output dan faktor-faktor produksi selain tenaga kerja.