Teori Ketenagakerjaan Klasik (Adam Smith)

Teori ketenagakerjaan klasik/Adam Smith – Terdapat berbagai macam teori ketenagakerjaan. Satu diantaranya adalah teori ketenagakerjaan klasik. Teori ini dipelopori oleh Adam Smith, yang dikenal sebagai bapak ekonomi klasik. Teori ketenagakerjaan klasik Adam Smith menyatakan bahwa pasar tenaga kerja ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran tenaga kerja, di mana para pekerja menyediakan pasokan tenaga kerja yang konstan, sementara pemberi kerja membuat permintaan.

Menurut teori ketenagakerjaan klasik, bila harga dari tenaga kerja (upah) cukup fleksibel maka permintaan akan tenaga kerja selalu seimbang dengan penawaran akan tenaga kerja. Jadi, pengangguran suka rela tidak mungkin terjadi. Artinya, pada tingkat upah (riil) yang berlaku di pasar tenaga kerja semua orang yang bersedia untuk bekerja pada tingkat upah tersebut akan memperoleh pekerjaan. Mereka yang menganggur, hanyalah mereka yang tidak bersedia bekerja pada tingkat upah tersebut.

Dengan kata lain, para ekonom klasik percaya bahwa lapangan kerja penuh berlaku dalam perekonomian melalui penyesuaian upah dan harga, dan setiap penyimpangan dari fenomena itu dianggap sebagai peristiwa abnormal. Untuk memahami teori ketenagakerjaan klasik, kita harus menganalisis dengan hukum pasar menurut Baptiste Say.

Teori ketenagakerjaan Klasik Menurut Hukum Pasar Say

Hukum ini dinamakan Hukum pasar Say, karena dicetuskan oleh Jean Baptiste Say. Hukum pasar Say adalah ide ekonomi klasik yang menyatakan bahwa penawaran menciptakan permintaannya sendiri. Hukum pasar Say memandang bahwa output agregat akan menghasilkan permintaan agregat pada tingkat yang sama, dan berpendapat bahwa harga dan upah itu fleksibel dan pasar tenaga kerja akan mengatur dirinya sendiri sehingga selalu berada dalam keadaan keseimbangan.

Asumsi dasar hukum pasar Say adalah bahwa permintaan tidak akan tercipta jika tidak ada penawaran. Ini berarti, untuk menciptakan permintaan dalam perekonomian, harus ada pasokan barang dan jasa. Hukum pasar Say menolak kemungkinan bahwa tingkat output lapangan kerja penuh yang dihasilkan oleh penawaran lapangan kerja tidak akan diserap pasar dengan asumsi bahwa selalu tercipta permintaan agregat. Untuk setiap kelebihan pasokan di pasar, akan memicu kelebihan permintaan terkait lainnya. Jadi, pada tingkat ekonomi makro, kelebihan pasokan yang melebihi permintaan pasar tidak mungkin terjadi. Dengan kata lain, menurut teori ketenagakerjaan klasik, pengangguran tidak mungkin terjadi, karena pasokan tenaga kerja akan selalu seimbang dengan permintaan tenaga kerja.

Baca Juga :  5 Instrumen Kebijakan Fiskal yang paling utama

Asumsi Hukum Pasar Say

Pandangan-pandangan hukum pasar Say berpegang pada asumsi-asumsi berikut :

Ekonomi pasar bebas

Hukum pasa Say mengasumsikan ekonomi pasar bebas di mana terjadi persaingan sempurna dalam ekonomi dan harga faktor produksi dan harga produk ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran. (Baca selengkapnya pengertian sistem ekonomi pasar bebas).

Laissez Faire

Tidak ada intervensi pemerintah dalam sistem ekonomi selain campur tangan minimum untuk memudahkan operasi pasar bebas itu sendiri.

Fleksibilitas harga

Harga produk, upah buruh dan suku bunga diasumsikan fleksibel. Harga ditentukan sendiri oleh mekanisme pasar. Ini menjaga keseimbangan di pasar tenaga kerja, pasar uang, dan pasar produk. Tidak ada yang bisa mengintervensi harga, termasuk pemerintah.

Ukuran pasar yang diperluas

Ukuran pasar dianggap fleksibel yang mudah diperluas dengan adanya peningkatan volume produk yang diproduksi dan ditawarkan untuk dijual di pasar.

Peran uang

Untuk mempermudah dan menyederhanakan transaksi barang dan jasa dalam perekonomian, uang digunakan sebagai alat tukar.

Tidak ada kebocoran dalam penggunaan uang

Uang yang mengalir dalam perekonomian digunakan tanpa kebocoran. Diasumsikan bahwa tidak ada unit-unit ekonomi yang menyimpan uang, karena seluruhnya digunakan untuk konsumsi atau investasi.

Kebutuhan jangka panjang

Ekonom klasik lebih peduli dengan keseimbangan jangka panjang dalam suatu ekonomi. Minat utama para ekonom ini terletak pada analisis dan penentuan hubungan jangka panjang antara laba, distribusi pendapatan, dan tingkat output.

Hukum Say tentang Ekonomi Barter

Hukum Say berlaku untuk sebagian besar kasus dalam sistem barter. Dalam sistem barter tradisional, barang dan komoditas dikonsumsi baik untuk konsumsi atau untuk ditukar dengan beberapa barang lainnya. Pasokan suatu komoditas hanya mungkin jika ada permintaan untuk itu. Misalnya, seseorang yang memproduksi barang secara berlebihan harus menemukan orang lain di pasar yang mencari barang tersebut. Ini berlaku untuk semua produsen dan konsumen lain dalam perekonomian. Jadi, dalam ekonomi barter, produk dipertukarkan dengan produk, dan penawaran menciptakan permintaan sendiri.

Selain itu, orang-orang dalam ekonomi barter adalah wiraswasta yang berarti bahwa pengangguran tidak ada. Produksi dilakukan dalam skala kecil dan setiap pendapatan yang dihasilkan dari penjualan barang-barang yang diproduksi diinvestasikan dalam bisnis itu sendiri.

Hukum Say dalam Ekonomi Uang

Hukum Say tetap berlaku bahkan dalam ekonomi uang karena ekonom klasik memandang uang hanya sebagai media pertukaran tanpa peran aktif dalam mempengaruhi sektor riil ekonomi.

Baca Juga :  Teori Ketenagakerjaan : Jenis, dan Pengertian Menurut Para Ahli

Dalam ekonomi uang, pembelian dan penjualan barang dan jasa dimungkinkan karena adanya uang. Orang menggunakan uang hanya sebagai sumber pertukaran yang mudah dan andal. Penghasilan yang dihasilkan setelah menjual suatu produk digunakan untuk pembelian barang-barang penting lainnya daripada untuk disimpan atau tabungan. Namun, tidak semua uang yang diperoleh dihabiskan segera setelah itu diperoleh.

Lebih jauh, para ekonom klasik tidak menganggap menabung sebagai hal yang buruk. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai cara di mana investasi dapat ditingkatkan dalam perekonomian. Mereka percaya bahwa disekuilibrium antara tabungan dan investasi akan mengarah pada penurunan suku bunga. Ini akan mencegah tabungan dan mendorong investasi. Suku bunga akan terus turun sampai tingkat di mana keseimbangan diperoleh dan tidak ada tabungan yang tidak diinvestasikan.

Validitas hukum Say tergantung pada dua kondisi, yaitu :

  1. Jumlah uang yang dihasilkan dari produksi agregat barang dan jasa, akan sama dengan biaya agregat yang dikeluarkan untuk produksi barang dan jasa tersebut. Dengan demikian, pendapatan agregat yang diperoleh sama dengan biaya agregat.
  2. Pendapatan agregat dihabiskan untuk pembelian barang dan jasa lain untuk memenuhi kebutuhan. Jadi, pendapatan agregat sama dengan pengeluaran agregat.

Hukum pasar dalam ekonomi uang dinyatakan dalam bentuk permintaan agregat dan penawaran agregat, yang diilustrasikan dalam gambar di bawah ini :

Gambar teori ketenagakerjaan klasik Adam Smith

Gambar tersebut menunjukkan bahwa permintaan agregat dan penawaran agregat di semua titik adalah sama. Misalnya, pada titik A, penawaran agregat OY1 sama dengan permintaan agregat OD1. Ketika penawaran agregat meningkat ke OY2, permintaan agregat juga pindah ke OD2. Ini menunjukkan bahwa permintaan agregat sama dengan penawaran agregat dan dengan demikian, tidak ada kemungkinan produksi berlebih umum atau pengangguran umum dalam sistem ekonomi klasik.

Kritik terhadap Hukum Say

Hukum Say telah dikritik oleh banyak ekonom, di antaranya, J.M. Keynes. Dia menolak untuk menerima hukum Say dalam bentuk apa pun, terutama karena kekurangan berikut :

Defisiensi permintaan agregat

Hukum Say didasarkan pada asumsi bahwa untuk setiap unit output yang dihasilkan, akan ada permintaan yang cukup. Keynes membantahnya dengan mengklasifikasikan permintaan menjadi dua, yaitu, permintaan konsumsi dan permintaan investasi. Dia menunjukkan faktor-faktor yang menentukan permintaan konsumsi dan permintaan investasi. Menurutnya, permintaan konsumsi dipengaruhi oleh faktor psikologis dan tingkat pendapatan, sedangkan, investasi ditentukan oleh faktor teknologi dan efisiensi modal marjinal (MEC).

Baca Juga :  Demand-Pull Inflation : Pengertian, Penyebab, Contoh

Karena konsumsi meningkat dalam proporsi yang lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan, terjadi kesenjangan antara pendapatan dan konsumsi. Proporsi pendapatan yang tidak dihabiskan akan disimpan tetapi tidak selalu mengarah pada investasi terutama selama masa-masa penurunan pertumbuhan ekonomi, bahkan ketika tingkat suku bunga tabungan rendah. Dengan demikian, terjadi kekurangan permintaan dibandingkan pasokan yang ada.

Intervensi pemerintah

Meskipun hukum Say mengklaim adanya pekerjaan penuh, faktanya selalu ada pengangguran dalam perekonomian karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan kekurangan permintaan agregat tenaga kerja di pasar. Oleh karena itu, intervensi pemerintah dalam tingkat tertentu diperlukan untuk menjaga keseimbangan perekonomian.

Kemungkinan over produksi umum

Menurut hukum Say, pendapatan yang dihasilkan dari penjualan barang-barang yang diproduksi akan selalu dihabiskan untuk konsumsi dan investasi. Pendapatan yang dihabiskan untuk konsumsi akan cukup untuk menjaga agar semua sumber daya produktif sepenuhnya digunakan dalam perekonomian dan tidak terjadi produksi berlebih secara umum. Tetapi Keynes menunjukkan bahwa tidak semua pendapatan yang diperoleh dihabiskan untuk konsumsi atau investasi. Akibatnya, terjadi kekurangan permintaan, yang mengarah ke masalah over-produksi barang dan jasa.

Peran uang

Keynes menolak gagasan bahwa uang hanyalah alat tukar. Menurutnya, uang memiliki peran yang lebih besar dalam perekonomian seperti penentuan pendapatan, output, dan lapangan kerja.

Under-employment equilibrium

Hukum Say menyiratkan bahwa selalu terjadi keseimbangan pada tingkat lapangan kerja penuh dalam perekonomian. Tetapi, Keynes percaya bahwa bahkan ketika permintaan agregat dan penawaran agregat berada dalam ekuilibrium, tingkat pekerjaan penuh tidak akan pernah tercapai. Maksudnya, pengangguran akan selalu ada.

Kurangnya penyesuaian otomatis

Keynes dan kritikus lainnya berpendapat bahwa ekonomi tidak selalu mengatur diri sendiri melalui mekanisme pasar. Hukum Say didasarkan pada keyakinan bahwa harga dan suku bunga fleksibel untuk menjaga keseimbangan dalam perekonomian. Namun, kesulitan dalam menentukan tingkat upah, harga dan tingkat suku bunga menyeret perekonomian ke dalam kondisi disekuilibrium.

Kesimpulan

Menurut teori ketenagakerjaan klasik atau teori ketenagakerjaan Adam Smith, pasar tenaga kerja mengatur dirinya sendiri melalui mekanisme pasar, di mana para pekerja menyediakan pasokan tenaga kerja yang konstan, sementara pemberi kerja membuat permintaan.

Karena upah ditentukan pasar maka upah selalu flexibel mengikuti permintaan agregat dan penawaran agregat. Artinya, jumlah pasokan tenaga kerja akan selalu sama dengan permintaan. Dengan demikian, menurut teori ketenagakerjaan klasik atau teori ketenagakerjaan Adam Smith, pengangguran tidak akan terjadi selama pekerja menerima tingkat upah yang dihasilkan mekanisme pasar tersebut.