Sistem Ekonomi Tradisional : Apa Pengertian, Ciri-Ciri, Kelebihan dan Kekurangan

Sistem Ekonomi Tradisional – Peradaban dunia semakin berkembang, demikian pula dalam hal sistem ekonomi yang diterapkan. Dahulu, fokus kehidupan manusia hanya untuk memenuhi kehidupan dasarnya saja. Transaksi ekonomi pun sangat sederhana, tidak menggunakan uang sebagai alat tukar, tetapi menggunakan cara barter. Sistem ekonomi dengan karakteristik seperti ini, disebut sebagai sistem ekonomi tradisional. Dibandingkan dengan sistem ekonomi modern seperti saat ini, sistem ekonomi tradisional tentu memiliki cici-ciri tertentu serta kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Pengertian Sistem Ekonomi Tradisional

Pengertian sistem ekonomi tradisional adalah sistem yang sangat terkait dengan adat istiadat, sejarah, dan kepercayaan yang dihormati masyarakat setempat. Tradisi menjadi panduan dalam pengambilan keputusan ekonomi seperti produksi dan distribusi. Aktivitas ekonomi tradisional selalu berhubungan dengan pertanian, memancing, berburu, mengumpulkan, atau beberapa kombinasi aktivitas di atas. Dalam bertransaksi, mereka tidak menggunakan alat tukar berupa uang, namun menggunakan sistem barter.

sistem ekonomi tradisional

Pada sistem ekonomi tradisional transaksi belum menggunakan alat tukar uang. Jika menginginkan barang yang tidak dimiliki seseorang akan melakukan barter dengan orang yang memilikinya (sumber gambar : https://www.amazine.co)

Saat ini, bisa dikatakan tidak ada lagi negara yang menganut sistem ekonomi tradisional. Kalaupun ada, biasanya diterapkan di komunitas masyarakat adat terpencil atau di wilayah-wilayah yang termasuk dunia ke 3, seperti di banyak negara Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Para peneliti (ekonom dan antropolog) memiliki keyakinan bahwa semua sistem ekonomi yang ada pada awalnya berkembang dari sistem ekonomi tradisional. Mereka pun yakin, bahwa masyarakat-masyarakat yang masih menerapkan sistem ekonomi ini pada akhirnya akan berkembang menjadi sistem ekonomi pasar, sistem ekonomi komando, atau sistem ekonomi ekonomi campuran.

Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Tradisional

Setiap sistem ekonomi memiliki karakteristik tertentu, begitu pula sistem ekonomi tradisional. Adapun ciri-ciri sistem ekonomi tradisional bisa dipilah menjadi lima, yaitu :

  • Ekonomi tradisional berpusat di sekitar keluarga atau suku. Mereka menggunakan tradisi yang diwarisi dari pengalaman para tetua sebagai panduan kehidupan sehari-hari dan dalam mengambil keputusan ekonomi.
  • Ekonomi tradisional ada di masyarakat pemburu-pengumpul dan nomaden. Masyarakat ini membutuhkan wilayah yang luas untuk menemukan makanan yang cukup untuk mendukung kehidupan mereka. Mereka mengikuti kawanan hewan yang bermigrasi dengan musim. Para pemburu-pengumpul nomaden ini bersaing dengan kelompok lain untuk menguasai sumber daya yang tersedia. Aktivitas perdagangan nyaris tidak ada karena mereka semua mengkonsumsi dan menghasilkan komoditas yang sama.
  • Sebagian besar ekonomi tradisional hanya menghasilkan apa yang mereka butuhkan. Mereka tidak mengambil yang tidak dibutuhkan sehingga jarang terjadi kelebihan atau sisa makanan. Hal ini membuatnya tidak perlu berdagang atau menghasilkan uang.
  • Ketika mereka membutuhkan barang yang tidak dimilikinya, mereka melakukan tukar menukar barang atau barter. Namun, barter hanya bisa terjadi antar kelompok yang tidak memiliki persaingan. Misalnya, suku yang bergantung pada perburuan menukar makanan dengan suku yang bergantung pada memancing. Mereka menukar daging untuk mendapatkan ikan, tidak ada kebutuhan terhadap alat tukar seperti mata uang.
  • Ekonomi tradisional mulai berkembang setelah mereka mulai bertani dan menetap. Saat ini terjadi, mereka bisa saja memiliki surplus barang tertentu, seperti hasil pertanian.
Baca Juga :  19 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Tradisional

Pergeseran Sistem Ekonomi Tradisional menjadi Tradisional Campuran

Saat ekonomi tradisional berinteraksi dengan ekonomi pasar atau ekonomi komando, maka mereka akan menyerap beberapa pengaruh. Kebutuhan akan uang sebagai alat tukar mungkin mulai ada. Hal ini memungkinkan mereka untuk membeli peralatan ekonomi yang lebih baik, sehingga membuat pertanian, berburu, atau memancing menjadi lebih menguntungkan. Ketika hal ini terjadi, masyarakat disebut telah berkembang dari sistem ekonomi tradisional menjadi ekonomi tradisional campuran

Masyarakat ekonomi tradisional dapat memiliki elemen kapitalisme, sosialisme, dan komunisme. Hal ini tergantung pada sistem kemasyarakatannya. Misalnya, masyarakat pertanian yang memungkinkan kepemilikan pribadi atas lahan pertanian bisa disebut menerapkan kapitalisme. Masyarakat nomaden bisa disebut mempraktekkan sosialisme jika hasil dibagi untuk semua sesuai dengan kontribusinya masing-masing. Jika mereka memberi makan anak-anak, orang tua, atau orang sakit lebih dulu, mereka bisa disebut menerapkan komunisme.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Tradisional

Tidak ada sistem ekonomi yang sempurna, bahkan sistem ekonomi modern sekali pun. begitu pula ekonomi tradisional pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan sistem ekonomi tradisional :

Kelebihan Sistem Ekonomi Tradisional

  • Karena ruang lingkup aktivitas ekonominya relatif sempit, maka potensi terjadinya konflik ekonomi pun kecil. Adat dan tradisi mendikte distribusi sumber daya. Semua orang mengerti kontribusi mereka terhadap produksi, apakah itu sebagai petani, pemburu, atau penenun. Anggota juga memahami apa yang seharusnya mereka terima. Bahkan jika terjadi ketidakpuasan, mereka tidak memberontak.
  • Karena kegiatan ekonomi hanya ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan dasar, maka mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan saja, mereka tidak merusak lingkungan seperti ekonomi maju. Hal ini membuat sistem ekonomi tradisional lebih berkelanjutan daripada ekonomi berbasis teknologi.
  • Hubungan antar individu di komunitasnya masih sangat kuat dan saling tolong-menolong.
  • Kesenjangan ekonomi tidak terjadi karena pendapatannya cenderung merata.
  • Di dalam sistem ekonomi tradisional tidak akan pernah terjadi inflasi, pengangguran, dan masalah-masalah ekonomi lain yang terjadi pada sistem ekonomi lainnya. (Baca juga : Faktor-faktor Penyebab Inflasi Di Sebuah Negara).
Baca Juga :  7 Negara yang Menganut Sistem Ekonomi Campuran

Kelemahan Sistem Ekonomi Tradisional

  • Ekonomi tradisional rentan terhadap gangguan dari faktor alam, terutama cuaca. Ketika kekeringan dan terjadi gagal panen atau cuaca buruk sehingga susah melaut, orang-orang kelaparan.
  • Mereka juga rentan terhadap pengaruh komunitas lain yang menganut sistem pasar atau ekonomi komando. Sebagai contoh, eksplorasi minyak Rusia di kawasan Siberia telah merusak ekosistem. Hal itu berpengaruh terhadap kuantitas penangkapan ikan tradisional dan ekonomi tradisional secara keseluruhan di daerah-daerah tersebut.
  • Nyaris tidak menggunakan penerapan teknologi, kalau pun ada sangat sederhana. Hal ini menyebabkan produktivitasnya rendah. Kualitas barang yang dihasilkan juga sangat rendah.
  • Masyarakat hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan primer, sehingga inovasi barang-barang sekunder dan tersier tidak berkembang.
  • Karena dipandu oleh adat yang ketat, beberapa komunitasnya menganggap tabu sebuah perubahan. hal ini membuat mereka sulit berkembang.
  • Aktivitas ekonominya tidak memperhatikan efisiensi dalam mengolah sumber daya ekonomi.
  • Tujuan kegiatan ekonomi hanya untuk pemenuhan kebutuhan dasar tidak untuk meningkatkan taraf hidup.

Contoh Sistem Ekonomi Tradisional

Sebelum era kolonialisme, sebagian besar belahan bumi masih mempraktekkan sistem ekonomi tradisional. Ekonomi penduduk asli Amerika sebelum kedatangan bangsa eropa masih sangat terkait dengan perburuan dan pengumpulan sumber daya. Bahkan sebelum kejadian great depression melanda Amerika Serikat tahun 30’an, 60 persen perekonomian bertumpu pada pertanian.

Hampir 70 persen penduduk Haiti bergantung pada pertanian sebagi mata pencaharian mereka. Ketergantungan mereka pada kayu sebagai sumber utama bahan bakar telah menghancurkan hutan. Hal ini membuat mereka rentan terhadap bencana alam, seperti banjir.

Suku-suku asli di Arktik, Amerika Utara, dan Rusia bagian timur mengandalkan memancing dan berburu untuk memenuhi kebutuhan makanan. Suku Sami di Skandinavia mengelola kawanan rusa sebagai sumber ekonominya. Terdapat tradisi yang mengatur bagaimana peran setiap individu dalam pengelolaan itu.

Baca Juga :  5 Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Campuran serta Kelebihan dan Kekurangannya

Di Indonesia sendiri masih banyak suku-suku pedalaman yang masih menerapkan sistem ekonomi tradisional. Sebut saja suku-suku pedalaman Papua, Kalimantan, Sumatera, bahkan di Jawa sendiri. Suku-suku yang mendiami kawasan hutan, hidup dari hasil hutan. Beberapa suku pedalaman itu mulai mengenal pertanian, namun sistemnya ladang berpindah. Mereka sangat rentan kondisi iklim, contoh : masyarakat salah satu suku pedalaman Papua pernah mengalami kelaparan yang disebabkan oleh gagal panen ubi.

Negara yang Menganut Sistem Ekonomi Tradisional

Pada umumnya, sistem perekonomian tradisional ini berlaku di negara-negara yang dikategorikan negara ketiga. Namun pelan namun pasti sistem ekonomi tradisional mulai ditinggalkan dan sudah tidak ada lagi negara yang menganut sistem ekonomi tradisional ini.

Namun, seperti dijelaskan di atas, komunitas-komunitas tertentu masih mempertahankannya. Umumnya terkait adat dan tradisi di samping karena faktor kurangnya sentuhan pembangunan dari pemerintahnya.

Dahulu di suatu desa di Bali, ada tradisi di mana masyarakatnya akan ke kota membawa bawang merah. mereka akan mencoba menukarnya dengan beras pada penduduk kota. Mereka melakukannya bukanlah karena tidak mampu membeli beras, tetapi karena sudah tradisi turun temurun. Namun saat ini sudah sangat susah menemukan kejadian ini lagi.

Baca juga : Mengenal apa itu teori ekonomi mikro.

Demikian artikel tentang sistem ekonomi tradisional yang menjelaskan secara singkat tentang pengertian, ciri-ciri, kelebihan dan kekurangan, contoh serta negara-negara yang menganut sistem ini.