Sistem Ekonomi Sosialis : Pengertian, Ciri-ciri, Contoh, Kelebihan dan Kekurangan

gambar sistem ekonomi sosialisme
Sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi di mana faktor-faktor produksi dimiliki bersama dan hasil produksi dibagi menurut kontribusi masing-masing

Terdapat macam-macam sistem ekonomi yang ada di dunia. Sistem ekonomi yang diterapkan masing-masing negara sangat tergantung situasi dan kondisi negara bersangkutan, termasuk ideologi. Negara yang menganut kapitalisme umumnya menerapkan sistem ekonomi pasar, sedangkan negara yang menganut ideologi komunisme atau sosialisme, menerapkan sistem ekonomi komando. Sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi yang menerapkan prinsip-prinsip sosialisme, yaitu, tiap orang memperoleh bagian sesuai dengan sebesar apa kontribusinya.

Pengertian

Sebagi sebuah ideologi, sosialisme adalah rasa perhatian, simpati dan empati dari individu kepada individu lainnya tanpa memandang status sosialnya. Menurut Friedrich Engels, model dan gagasan sosialis dapat dirunut hingga ke awal sejarah manusia dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial.

Sebagai sebuah sistem ekonomi, sosialisme berdasarkan pada premis :

Setiap individu tidak hidup atau bekerja sendiri-sendiri tetapi bekerja sama satu dengan yang lainnya. Semua yang dihasilkan individu adalah produk sosial, dan setiap orang dihargai sesuai dengan kontribusi yang diberikannya. Hak milik terhadap aset-aset ekonomi berada di tangan masyarakat melalui pemerintah untuk kepentingan seluruh rakyat.

Sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi di mana semua orang di masyarakat sama-sama memiliki faktor-faktor produksi. Kepemilikan rakyat terhadap faktor produksi diwakili melalui pemerintah yang dipilih secara demokratis. Bisa juga koperasi atau perusahaan publik di mana setiap orang memiliki saham. Empat faktor produksi adalah tenaga kerja, kewirausahaan, barang modal, dan sumber daya alam.

Sejarah Sosialisme

Sejarah sistem ekonomi sosialis selalu beriringan dengan ideologi sosialisme. Ketika sosialisme berkembang, maka sistem ekonomi sosialis juga berkembang. Ada empat periode perkembangan sosialisme, yaitu :

  • Periode visi utopis (1780-an 1850-an)
  • Kebangkitan gerakan sosialis dan Komunis revolusioner sebagai oposisi utama terhadap kebangkitan korporasi dan industrialisasi (1830–1916)
  • Polarisasi sosialisme masa Uni Soviet, dan adopsi kebijakan sosialis atau sosial demokratik (1916-1989)
  • Sosialisme pada era neo-liberal (1990–)

Sosialisme pada periode utopis berpusat pada keprihatinan atas eksploitasi kelas pekerja oleh tuan-tuan tanah/pemilik modal. Kesengsaraan dan kemiskinan kelas pekerja di bawah pemilik modal memberi inspirasi bagi serangkaian aliran pemikiran yang berpendapat bahwa kehidupan di bawah kelas para tuan, atau para kapitalis akan mengakibatkan kelas pekerja hanya hidup dari upah yang tidak layak.

Ide-ide sosialis menemukan jalannya dalam berbagai gerakan utopis, yang sering membentuk komune pertanian yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan diri sendiri di atas tanah milik sendiri. Terbentuk juga banyak gerakan sosialisme keagamaan, seperti sosialisme Kristen di Amerika, serta Kibbutz dan komune Zionis.

Baca Juga :  10 Contoh Negara Yang Menganut Sistem Ekonomi Pasar/Liberal

Pengertian sistem ekonomi sosialis menurut para ahli selalu berkembang menurut periode di atas. Ekonomi sosialis bisa dikaitkan dengan berbagai aliran pemikiran ekonomi. Karl Marx memberikan landasan bagi sosialisme berdasarkan analisis kapitalisme, sementara teori ekonomi neoklasik dan ekonomi evolusioner memperkenalkan model sosialisme yang komprehensif.

Selama abad ke-20, proposal dan model sistem ekonomi terencana dan sosialisme pasar sangat bergantung pada teori ekonomi neoklasik atau sintesis ekonomi neoklasik dengan ekonomi Marxian atau institusional.

Tokoh ekonomi sosialis yang penting dalam kancah ekonomi politik diantaranya adalah Pierre-Joseph Proudhon. Tokoh lainnya, misalnya, Henri de Saint-Simon, Thomas Spence, William Ogilvie, William Cobbett, Thomas Hodgskin, Robert Owen, William Thompson, Charles Fourier, John Gray, dan John Francis Bray.

Ciri-ciri sistem ekonomi sosialis

Berikut adalah karakteristik/ciri-ciri sistem ekonomi sosialis yang membedakannya dengan sistem ekonomi lainnya :

  • Sistem ekonomi sosialis adalah sistem produksi, yang berarti, seluruh barang dan jasa diproduksi untuk secara langsung digunakan, berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis, di mana barang dan jasa diproduksi untuk dijual supaya menghasilkan laba (digunakan secara tidak langsung). Satu-satunya tujuan produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia.
  • Dalam teori ekonomi sosialis, kepemilikan sarana produksi bervariasi. Bisa dimiliki oleh publik melalui negara, kepemilikan langsung oleh pengguna properti produktif melalui koperasi, atau umumnya dimiliki oleh seluruh masyarakat tetapi diwakilkan kepada manajemen yang mengoperasikan / menggunakan alat produksi tersebut.
  • Pembagian hasil produksi sesuai dengan seberapa besarnya kontribusi masing-masing. Hal ini memotivasi pekerja/rakyat untuk bekerja berjam-jam untuk mendapatkan bagian lebih banyak.
  • Sebelum dibagikan secara merata, hasil ekonomi dipergunakan terlebih dahulu untuk kepentingan bersama. Contohnya, untuk membangun sarana transportasi, pertahanan, pendidikan, dan kesehatan. Di samping itu, hasil ekonomi juga diberikan kepada anggota masyarakat yang tidak bisa berkontribusi kepada proses produksi karena alasan tertentu. Misalnya, orang tua, anak-anak, penyandang disabilitas, dan pengasuh mereka.
  • Sosialisme mengasumsikan bahwa sifat dasar manusia adalah kooperatif. Oleh karena itu, prinsip dasar sistem ekonomi sosialis adalah bahwa sistem ekonomi harus mendukung sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial.
  • Kepentingan sosial yang dimaksud dalam sosialisme juga termasuk pelestarian sumber daya alam, pendidikan, atau perawatan kesehatan.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Sosialis

Dari berbagai macam sistem ekonomi yang ada di dunia, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Termasuk sistem ekonomi sosialis. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan sistem ekonomi sosialis secara umum :

Baca Juga :  Sistem Ekonomi : Pengertian, Jenis, Fungsi, Ciri-Ciri dan Contoh

Kelebihan Sistem Ekonomi Sosialis

  • Sistem ekonomi sosialis menentang eksploitasi pekerja. Para pekerja adalah pemilik alat produksi. Semua keuntungan tersebar secara merata di antara semua pekerja, sesuai dengan kontribusinya.
  • Sistem ini bertujuan menghilangkan kemiskinan. Setiap orang memiliki akses yang sama terhadap perawatan kesehatan dan pendidikan. Tidak ada yang didiskriminasi.
  • Semua orang bekerja pada apa yang terbaik dan apa yang disukainya.
  • Lingkungan/sumber daya alam dilestarikan untuk ekonomi berkelanjutan.
  • Perekonomian bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok setiap warga negara, seperti, makanan dan minuman, pakaian, rumah, kemudahan fasilitas kesehatan, serta pendidikan.
  • Orang yang lemah secara fisik atau penyandang disabilitas baik mental atau fisik berada dalam pengawasan negara.
  • Perekonomian dijalankan berdasarkan perencanaan negara yang terpusat. Dengan cara ini, masalah kelebihan dan kekurangan dalam produksi seperti yang terjadi dalam sistem ekonomi kapitalis tidak akan terjadi.
  • Semua bentuk produksi dimiliki dan dikelola oleh negara, sedangkan keuntungan yang diperoleh akan digunakan untuk kepentingan-kepentingan seluruh rakyat.

Kekurangan Sistem ekonomi Sosialis

  • Sosialisme sangat percaya bahwa sifat dasar manusia adalah bekerja sama. Padahal pada kenyataannya banyak manusia selalu berkompetisi dalam berbagai hal. Hal ini adalah kekurangan terbesar sistem ekonomi sosialis. Di negara-negara yang menganut sistem ekonomi sosialis, orang yang kompetitif cenderung mencari cara untuk menggulingkan dan mengacaukan masyarakat demi keuntungan mereka sendiri. Hal ini menyebabkan negara tidak stabil secara politik.
  • Sistem ekonomi ini tidak mendukung kepemilikan swasta, akibatnya sama sekali tidak mendorong kewirausahaan.
  • Inovasi dalam masyarakat sosialis sangat rendah.
  • Sering terjadi, pemerintah yang diberi wewenang untuk mengelola perekonomian malah menyalahgunakan kekuasaan. Pemimpin negara sosialis banyak yang kaya raya sementara rakyatnya miskin.
  • Aktivitas jual beli sangat terbatas, masalah harga barang juga ditentukan oleh pemerintah, oleh karena itu stabilitas perekonomian lebih ditentukan oleh negara, bukan ditentukan oleh mekanisme pasar.
  • Kebebasan individu sangat dibatasi. Tujuan awalnya menjadikan pekerja sebagai pemilik faktor produksi, malah menjerumuskan pekerja sebagai budak negara yang bekerja seperti mesin.

Contoh Sistem Ekonomi Sosialis

Hampir semua negara saat ini menerapkan sistem ekonomi campuran. Sistem ekonomi campuran menggabungkan sosialisme dengan kapitalisme, komunisme, atau keduanya.

Di bawah ini adalah beberapa negara yang memiliki sistem sosialis yang kuat (meskipun bercampur dengan sistem yang lain) :

  • Norwegia, Swedia, dan Denmark : Negara-negara ini memberikan rakyatnya sistem perawatan kesehatan, pendidikan, dan pensiun yang sangat bagus.
  • Kuba, Cina, Vietnam, Rusia, dan Korea Utara : Negara-negara ini menggabungkan karakteristik sosialisme dan komunisme.
  • Aljazair, Angola, Bangladesh, Guyana, India, Mozambik, Portugal, Sri Lanka, dan Tanzania : Negara-negara ini memiliki konstitusi yang mengamanatkan sistem ekonomi sosialis. Artinya, perekonomian dikontrol pemerintah yang dipilih secara demokratis.
  • Belarus, Laos, Suriah, Turkmenistan, Venezuela, dan Zambia : Layanan kesehatan, media, atau program sosial di negara ini dijalankan oleh pemerintah.
  • Banyak negara lain, seperti Irlandia, Perancis, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Belgia, memiliki partai sosialis yang kuat dan pemerintahnya memiliki sistem jaminan sosial yang sangat bagus.
Baca Juga :  Sistem Ekonomi Pancasila/Sistem Ekonomi Indonesia

Pada dasarnya negara-negara barat menerapkan sistem kapitalis, dimana kepemilikan individu/swasta sangat dihargai. Namun, negara-negara itu ternyata juga menerapkan banyak aspek-aspek sosialisme dalam perekonomiannya.

Jenis Sosialisme

Ada berbagai jenis sosialisme. Mereka berbeda dalam beberapa aspek soal tanggapan terhadap kapitalisme. Di bawah ini adalah penjelasannya :

  • Sosialisme Demokratis : Faktor-faktor produksi dikelola oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis. Distribusi barang-barang umum, seperti transportasi massal, perumahan, dan energi diatur oleh perencanaan pusat, sementara pasar bebas diperbolehkan untuk mendistribusikan barang-barang konsumsi.
  • Sosialisme Revolusioner : Ideologi ini berpendapat bahwa, sosialisme akan muncul hanya setelah kapitalisme dihancurkan. Faktor-faktor produksi dimiliki oleh para pekerja dan dikelola oleh pekerja melalui perencanaan pusat.
  • Sosialisme Libertarian : Libertarianisme mengasumsikan bahwa sifat dasar manusia adalah rasional, otonom, dan menentukan nasib sendiri. Begitu struktur kapitalisme telah dihapus, orang akan secara alami membentuk masyarakat sosialis. Hal itu terjadi karena mereka melihat sosialisme adalah yang terbaik untuk kepentingan diri mereka sendiri.
  • Sosialisme Pasar : Produksi dimiliki oleh para pekerja. Mereka memutuskan bagaimana mendistribusikan hasil produksi di antara mereka sendiri. Mereka akan menjual kelebihan produksi di pasar bebas. Alternatifnya, dapat diserahkan kepada masyarakat, yang akan mendistribusikannya sesuai dengan pasar bebas.
  • Sosialisme Hijau : Ekonomi sosialis jenis ini sangat menghargai pemeliharaan sumber daya alam. Sistem ini juga menekankan angkutan umum dan makanan dari sumber-sumber lokal. Produksi berfokus untuk memastikan semua orang terpenuhi kebutuhan dasarnya tidak memproduksi secara berlebihan. Ekonomi semacam ini menjamin upah layak bagi semua orang.
  • Sosialisme utopis : Hal ini lebih pada teoritis yang merupakan visi kesetaraan. Susah diterapkan secara konkrit. Muncul pada awal abad ke-19, sebelum era industrialisasi.
  • Fabian sosialisme : Sosialisme jenis ini menganjurkan perubahan bertahap menuju sosialisme melalui hukum, pemilihan yang demokratis, dan cara-cara damai lainnya.