Sistem Ekonomi Komunis : Pengertian, Ciri-ciri, Kelebihan dan Kekurangan

sistem ekonomi komunis
Sistem ekonomi komunis adalah sistem ekonomi di mana faktor-faktor produksi dimiliki secara kolektif. Empat faktor produksi adalah tenaga kerja, kewirausahaan, barang modal, dan sumber daya alam. Dalam sistem ekonomi komunis, perbedaan kelas dihapuslan

Terdapat berbagai macam sistem ekonomi yang dianut oleh berbagai negara. Sistem ekonomi yang dianut sebuah negara, biasanya disesuaikan dengan ideologi yang dianut negara tersebut. Negara yang menganut ideologi komunisme, maka akan menganut sistem ekonomi komunis. Sistem ekonomi komunis adalah sistem ekonomi di mana semua faktor-faktor produksi dimiliki secara kolektif. Terdapat empat faktor produksi, yaitu, tenaga kerja, kewirausahaan, barang modal, dan sumber daya alam. (Baca juga : macam-macam sistem ekonomi yang ada di dunia).

Pengertian Sistem Ekonomi Komunis

Sistem ekonomi komunis adalah sistem ekonomi di mana seluruh keputusan ekonomi dibuat oleh masyarakat secara bersama-sama. Di dalam sistem ekonomi komunis, perbedaan kelas dalam masyarakat dihilangkan dan masyarakat secara keseluruhan memiliki faktor-faktor produksi.

Istilah-istilah yang terkait dengan komunisme adalah proletar dan borjuis. Proletar adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi kelas sosial yang lebih rendah, biasanya kelas pekerja. Sedangkan, borjuis adalah kelas sosial yang dicirikan oleh kepemilikan modal. Dalam teori akademis kontemporer, istilah borjuis biasanya mengacu pada kelas penguasa dalam masyarakat kapitalis. Dalam teori Marxis, karakteristik dari kelas ini adalah kepemilikan mereka atas alat-alat produksi.

Dalam sistem ekonomi komunis, perekonomian diselenggarakan secara terpusat terencana atau disebut juga sistem ekonomi komando. Sebagian besar ekonomi direncanakan oleh otoritas pemerintah pusat. Ciri-ciri sistem ekonomi komando adalah kepemilikan faktor produksi secara kolektif, properti dimiliki oleh Negara, tingkat produksi ditentukan oleh Negara melalui mekanisme perencanaan, dan harga diatur dan dikendalikan oleh pemerintah.

Sistem ekonomi komunis sebenarnya bisa dilakukan secara teoritis semata. Dalam teori, semua keputusan ekonomi diambil secara bersama-sama. Faktanya, keputusan-keputusan ekonomi diwakilkan oleh pemerintah. Seringkali, negara yang menganut komunisme jatuh menjadi negara-negara otoriter yang dikendalikan oleh sekelompok elit politik yang tidak akuntabel, yang semakin menjauhkan dari cita-cita masyarakat komunal.

Sejarah Sistem Ekonomi Komunis

Tokoh sistem ekonomi komunis adalah Karl Marx dan Freidrich Engels. Karl Marx mengembangkan teori komunis pada tahun 1800-an. Dia berpikir bahwa satu-satunya cara untuk membentuk masyarakat yang harmonis adalah dengan memberikan para pekerja kendali pada sistem perekonomian. Pemikiran komunis ini muncul saat terjadinya revolusi industri ketika banyak pekerja diperlakukan tidak adil di Prancis, Jerman, dan Inggris.

Baca Juga :  5 Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Campuran serta Kelebihan dan Kekurangannya

Karl Marx dan Freidrich Engels menulis Manifesto Komunis pada tahun 1848, sebagai reaksi terhadap kondisi kerja yang buruk yang menimpa kaum pekerja di seluruh Eropa. Tujuan komunisme adalah untuk membangun sistem di mana perbedaan kelas dihapuskan dan sarana produksi dimiliki bersama oleh masyarakat. Palu dan arit adalah lambang komunisme sebagi simbol persekutuan petani dan buruh.

Karl Marx tidak ingin ada perbedaan kelas ekonomi dan dia memperjuangkan supaya perbedaan kelas dihilangkan. Tujuan utamanya adalah untuk menghapus kapitalisme, sistem ekonomi yang dikendalikan oleh pemilik modal. Karl Marx membenci kapitalisme karena kaum proletar dieksploitasi dan diperlakukan secara tidak adil dalam kancah politik, sehingga memungkinkan kaum borjuis mengontrol kekuasaan secara tidak proporsional. Oleh karena itu, dia berpikir bahwa jika semuanya didistribusikan dan dimiliki oleh semua orang, surga kaum pekerja atau Utopia dapat dicapai.

Ciri-ciri Sistem Ekonomi Komunis

Dalam tulisannya Manifesto Komunis, Karl Marx menjelaskan karakteristik atau ciri-ciri sistem ekonomi komunis yang mencakup 10 poin. Poin-poin karakteristik komunisme itu adalah

  • Menghapus hak kepemilikan ribadi atas tanah dan penghapusan sewa lahan untuk kepentingan publik.
  • Pengenaan pajak penghasilan progresif atau tinggi.
  • Menghapus semua hak waris.
  • Menyita semua hak milik para emigran dan pemberontak.
  • Semua pekerja memiliki kewajiban yang setara. Negara membentuk “pasukan industri” terutama untuk pertanian.
  • Pertanian dibangun selaras dengan industri manufaktur. Penghapusan secara bertahap kesenjangan antara kota dan pedesaan. Hal ini akan tercapai dengan cara distribusi penduduk yang merata di seluruh negeri.
  • Pendidikan gratis untuk semua anak di sekolah umum. Melarang pekerja anak-anak. Pendidikan selaras dengan kebutuhan industri.
  • Sentralisasi kredit di tangan negara. Negara akan membentuk Bank nasional dengan modal negara dan monopoli eksklusif.
  • Negara mengontrol komunikasi dan transportasi.
  • Pabrik-pabrik dan instrumen produksi dimiliki oleh negara.

Tiga poin terakhir dari 10 karakteristik dalam Manifesto komunis menyebutkan kepemilikan negara. Hal ini menunjukkan bahwa visi komunisme sangat mirip sosialisme. Namun, Karl Marx berpendapat bahwa kepemilikan negara adalah tahap transisi menuju komunisme.

Dalam sistem ekonomi komunis sejati, masyarakat adalah pengambil keputusan. Namun, faktanya di sebagian besar negara komunis, pemerintah membuat keputusan ekonomi atas nama rakyat. Sistem ini disebut sistem ekonomi komando. Para pemimpin politik membuat perencanaan ekonomi yang menguraikan jalannya perekonomian dari pusat ke daerah.

Tujuan dari perencanaan ekonomi komunis adalah memberi kepada masing-masing sesuai dengan kebutuhannya. Negara-negara komunis memberikan perawatan kesehatan, pendidikan, dan layanan lainnya secara gratis kepada rakyatnya. Perencanaan ekonomi itu juga bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa. Terutama menyangkut pertahanan nasional dan pembangunan infrastruktur.

Baca Juga :  19 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Tradisional

Perbedaan Antara Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, dan Fasisme

Komunisme paling mirip dengan sosialisme. Dalam sistem komunisme dan sosialisme, faktor-faktor produksi dimiliki secara bersama oleh masyarakat. Perbedaan komunisme dengan sosialisme adalah di dalam komunisme, output produksi didistribusikan sesuai dengan kebutuhan, sedangkan dalam sosialisme output produksi didistribusikan sesuai kontribusi/kemampuan.

Komunisme sangat berbeda dengan kapitalisme. Dalam sistem kapitalisme, faktor produksi dimiliki oleh individu/swasta. Distribusi hasil produksi juga dinikmati sebagian besar oleh pemilik modal terbesar.

Komunisme juga mirip dengan fasisme karena kedua sistem ini menggunakan perencanaan ekonomi terpusat. Namun, dalam fasisme kepemilikan individu pada faktor-faktor produksi masih dimungkinkan.

Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Komunis

Dari berbagai macam sistem ekonomi yang ada di dunia, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Termasuk sistem ekonomi komunis. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan sistem ekonomi komunis secara umum :

Kelebihan Sistem Ekonomi Komunis

  • Sistem ekonomi komunisme diselenggarakan secara terencana terpusat. Hal ini memungkinkan untuk memobilisasi sumber daya ekonomi dalam skala besar secara cepat. Negara komunis mampu membangun proyek-proyek besar dan menciptakan kekuatan industri secara terkoordinasi.
  • Komunisme dapat bergerak sangat efektif karena mengesampingkan kepentingan pribadi.
  • Masyarakat yang terkomando oleh pusat dapat berubah sepenuhnya sesuai dengan visi perencana ekonomi.
  • Ketimpangan ekonomi tidak terjadi karena kepemilikan pribadi tidak diijinkan.

Kekurangan Sistem Ekonomi Komunis

  • Kerugian komunisme yang paling signifikan berasal dari penghapusan pasar bebas. Hukum penawaran dan permintaan tidak menetapkan harga, pemerintah melakukannya. Para perencana kehilangan umpan balik yang berharga yang diberikan harga-harga ini tentang apa yang diinginkan orang-orang. Mereka tidak bisa mendapatkan informasi terkini tentang kebutuhan konsumen. Akibatnya, sering terjadi kelebihan satu hal dan kekurangan orang lain.
  • Karena harga dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah, bukan oleh hukum penawaran dan permintaan, para perencana ekonomi tidak mendapatkan feedback mengenai seberapa besar kebutuhan masyarakat terhadap barang tertentu. Akibatnya, sering terjadi kelebihan produksi barang yang satu dan kekurang pada barang yang lain.
  • Sering muncul pasar gelap, karena banyak barang kebutuhan masyarakat justru tidak tersedia di pasar karena tidak diijinkan pemerintah.

Contoh Negara Yang Menganut Sistem Ekonomi Komunisme

Seperti dikatakan di atas, bahwa sistem ekonomi komunis hanyalah sistem ekonomi teoritis semata. Dalam aplikasinya, keputusan-keputusan ekonomi tidak mungkin diambil oleh seluruh rakyat secara bersama. Mereka diwakili oleh negara. Hal ini membuatnya lebih mirip ciri-ciri sistem ekonomi sosialis. Menurut Karl Marx, hal ini adalah tahap transisi menuju ekonomi komunis yang murni.

Baca Juga :  Sistem Ekonomi Pasar (Liberal) : Pengertian, Ciri-ciri, Kelebihan dan Kekurangan

Berikut adalah contoh negara yang menganut sistem ekonomi komunisme :

  • Bekas negara Uni Soviet adalah contoh negara yang menganut sistem ekonomi komunisme. Perekonomiannya dijalankan secara terpusat. Dibentuk pada tahun 1922 oleh partai Bolshevik pada bekas Kekaisaran Rusia. Pada tahun 1928, Joseph Stalin memimpin partai dan memperkenalkan Rencana Ekonomi Lima Tahun untuk pertama kalinya. Dia menghapus sistem sisa-sisa kapitalisme terbatas yang masih ada. Pada tahun 1991, di bawah Presiden Mikhael Gorbachev, Uni Soviet dibubarkan.
  • China, khususnya pada tahun 70-an, 80-an dan 90-an adalah negara yang menganut sistem ekonomi komunis. Hari ini, China dipandang lebih sebagai kapitalis otoriter daripada ekonomi komando komunis. Pada bulan Oktober 1949, Mao Tse Tung mendirikan partai Komunis China. Pada akhir 1970-an, China mulai bergerak menuju sistem ekonomi campuran. China mulai memberikan ruang tumbuhnya bisnis swasta, tetapi masih ketat mengikuti rencana ekonomi lima tahun.
  • Kuba adalah salah satu negara komunis yang masih bertahan paska runtuhnya Uni Soviet. Pada bulan April 1960, Fidel Castro memproklamirkan Partido Communista de Cuba sebagai partai yang berkuasa. Uni Soviet memberi dukungan ekonomi ke negara Kuba. Sebagai imbalannya, Kuba mendukung Uni Soviet dalam Perang Dingin melawan Amerika Serikat. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Kuba menderita kehancuran ekonomi. Pada April 2011, negara ini mulai menjalankan reformasi ekonomi. Orang Kuba sekarang dapat membeli telepon seluler, rumah pribadi, dan mobil. Bisnis swasta mulai tumbuh.
  • Laos adalah negara yang menganut sistem ekonomi komunisme. Namun, pada tahun 1986, negara ini mulai mendesentralisasikan kendali ekonomi ke daerah-daerah dan mendorong tumbuhnya bisnis swasta. Laos memberikan insentif pajak untuk mendorong investasi asing.
  • Selain Laos, Vietnam adalah salah satu negara yang menganut sistem ekonomi komunis di Asia Tenggara. Namun, pada tahun 1986, Vietnam mulai bertransisi menuju sistem ekonomi berbasis pasar. Vietnam gencar mereformasi badan usaha milik negara, mengurangi birokrasi, dan meningkatkan transparansi sektor keuangan.
  • Korea Utara. Negara ini menerapkan perekonomian dengan perencanaan pusat yang ketat, dengan sistem pertanian komunal. Rakyatnya menderita kelaparan dan kondisi hidup yang buruk pada 1990-an dan 2000-an. Pada tahun 2002, Korea Utara mengizinkan berdirinya pasar semi-swasta yang menjual beberapa jenis barang tertentu.

Demikian artikel singkat tentang sistem ekonomi komunis, termasuk apa pengertian, ciri-ciri, kelebihan dan kekurangan serta contoh negara yang menganut sistem ekonomi komunisme. Semoga bermanfaat.