Katamasa

7 Prasasti Kerajaan Tarumanegara, isi + Gambar Lengkap

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara adalah salah satu sumber sejarah yang digunakan untuk meneliti keberadaan kerajaan bercorak Hindu ini.

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang sudah ditemukan hingga kini berjumlah tujuh buah.

Seluruh prasasti kerajaan Tarumanegara ditemukan di pulau Jawa bagian barat, yaitu Jawa Barat, banten, dan jakarta.

Lima prasasti ditemukan di Bogor, satu di Jakarta dan satu ditemukan di Banten.

Prasasti kerajaan Tarumanegara yang terletak di Bogor adalah Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi.

Prasasti kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di Jakarta adalah Prasasti Tugu.

Prasasti kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di daerah Banten adalah Prasasti Cidanghyang.

Frequently Asked Questions

Di bawah ini adalah pertanyaan dan jawaban singkat terkait artikel prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara.

Apa saja prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara?

Sampai saat ini, prasasti kerajaan Tarumanegara yang sudah ditemukan berjumlah tujuh buah.
Prasasti-prasasti kerajaan Tarumanegara adalah Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi, Prasasti Tugu, dan Prasasti Cidanghyang.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang terletak di Bogor?

Prasasti kerajaan Tarumanegara yang terletak di Bogor adalah Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang menggunakan bahasa Sansekerta?

Prasasti kerajaan Tarumanegara dalam bahasa Sansekerta adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, Prasasti Cidanghiyang, Prasasti Tugu, Prasasti Kebonkopi.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang belum bisa dibaca hingga kini?

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang hingga kini belum dapat diartikan adalah Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang terdapat telapak kaki raja Purnawarman?

Prasasti peninggalan kerajaan tarumanegara yang terdapat telapak kaki raja purnawarman adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi.

Baca lengkap : Daftar kerajan-kerajaan di Indonesia (Hindu, Budha, Islam)

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang 7 buah prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara.

Untuk lebih menambah kedalaman artikel, kami juga menampilkan gambar prasasti kerajaan Tarumanegara.

Selamat membaca.

7 Prasasti Kerajaan Tarumanegara Disertai Isi dan Gambar

Ketujuh prasasti Kerajaan Tarumanegara adalah bukti keberadaan kerajaan bercorak Hindu di Jawa bagian barat ini.

Baca juga : daftar kerajaan Hindu di Indonesia

Selain prasasti, keberadaan kerajaan ini diketahui dari sumber-sumber luar negeri, seperti kronik Tiongkok.

Sebagian besar prasasti kerajaan Tarumanegara menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.

Prasasti kerajaan Tarumanegara dalam bahasa Sansekerta adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, Prasasti Cidanghiyang, Prasasti Tugu, Prasasti Kebonkopi.

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang hingga kini belum dapat diartikan adalah Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten.

Prasasti kerajaan Tarumanegara tersebut belum bisa dibaca isinya karena merupakan pahatan gambar sulur-suluran (pilin) atau ikal yang keluar dari umbi.

Oleh para ahli, goresan-goresan dalam kedua prasasti Tarumanegara itu disebut huruf ikal.

Prasasti peninggalan kerajaan tarumanegara yang terdapat telapak kaki raja purnawarman adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi.

Oke langsung saja, kita bahas satu per satu Prasasti Kerajaan Tarumanegara termasuk isi dan gambarnya.

Prasasti Kebon Kopi I/Prasasti Telapak Gajah

Gambar Prasasti kebon kopi I, prasasti peninggalan kerajaan tarumanegara (sumber : Wikimedia Commons)

Prasasti Kebonkopi I sering disebut juga dengan nama Prasasti Tapak Gajah karena di dalam prasasti kerajaan Tarumanegara ini terdapat pahatan tapak kaki gajah.

Adanya ukiran telapak kaki gajah di prasasti ini, diduga menunjukkan hewan gajah adalah tunggangan sang Raja Purnawarman, yang diasosiasikan sebagai Airawata, wahana Dewa Indra.

Prasasti Kerajaan Tarumanegara ini diberi nama prasasti kebon kopi karena ditemukan di perkebunan kopi, di wilayah Kampung Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor.

Prasasti Kebon kopi terbuat dari bahan batu andesit berwarna kecokelatan dengan ukuran tinggi 69 cm, lebar 104 cm dan 164 cm.

Angka romawi I di belakang nama Prasasti Kebon Kopi I untuk membedakan dengan Prasasti kebon Kopi II yang ditemukan berdekatan.

Prasasti Kebon Kopi II bukan prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara, namun prasasti peninggalan kerajaan Sunda.

Isi Prasasti kebon Kopi I

Prasasti kebon kopi I menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Sanskerta.

Tulisan dalam prasasti berbentuk sloka dengan metrum Anustubh.

Tulisan diapit oleh pahatan sepasang telapak kaki gajah.

Isi prasasti kebon kopi I adalah sebagai berikut :

Teks :

~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ~ padadvayam

Terjemahan :

Di sini tampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan.

Prasasti Tugu

Gambar Prasasti Tugu, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Wikimedia Commons)

Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu, tidak jauh dari tepian Kali Cakung.

Wilayah penemuan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ini, saat ini termasuk ke dalam wilayah kelurahan Tugu Selatan, kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Prasasti Tugu ditemukan pada tahun 1879.

Saat ini, Prasasti Tugu disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.124.

Prasasti Tugu adalah prasasti Kerajaan Tarumanegara yang memiliki isi paling panjang dibandingkan dengan prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara lainnya.

Dari analisa terhadap isi prasasti Tugu, para peneliti mendapatkan beberapa hal penting, misalnya :

a. Di dalam Prasasti Tugu disebutkan nama dua sungai yang mengalir di wilayah Punjab, yaitu sungai Chandrabaga dan Gomati.

Menurut Poerbatjaraka, secara etimologi sungai Chandrabaga berarti kali Bekasi.

b. Di dalam Prasasti Tugu sudah terdapat penanggalan kapan prasasti dikeluarkan. Namun, belum begitu lengkap.

Prasasti ini menyebutkan nama bulan phalguna dan caitra yang sama dengan bulan Februari dan April.

c. Prasasti Tugu menceritakan adanya upacara selamatan yang dipimpin oleh Brahmana dengan menggunakan seribu ekor sapi hadiah dari raja.

Isi Prasasti Tugu

Prasasti Tugu ditulis menggunakan aksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

Prasasti ditulis berbentuk sloka menggunakan metrum Anustubh.

Prasasti terdiri dari lima buah baris melingkar mengikuti bentuk permukaan batu.

Kronologinya didasarkan pada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis).

Sebagaimana prasasti kerajaan Tarumanegara lainnya, prasasti Tugu juga tidak menuliskan secara jelas penanggalan kapan prasasti ini dikeluarkan.

Prasasti ini hanya mencantumkan nama bulan, yaitu phalguna dan caitra yang sama dengan bulan Februari dan April.

Para ahli kemudian menganalisa prasasti menggunakan bentuk huruf yang digunakan.

Dari analisa tersebut, diduga prasasti tugu berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi.

Berikut adalah isi prasasti tugu.

Teks :

pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau//

pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana//

prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih//

ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka//

pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

Terjemahan :

Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memiliki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur.

Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) dia pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan phalguna dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan

Prasasti Cidanghiyang

Gambar Prasasti Cidanghyang, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : kemdikbud)

Prasasti Cidanghiyang adalah prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang dinamai pula dengan nama Prasasti Munjul atau Prasasti Lebak.

Prasasti Kerajaan Tarumanegara ini dinamai sesuai tempat penemuannya, yaitu di tepi sungai Cidanghiang, kampung Lebak, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten.

Penemuan Prasasti Cidanghiyang dilaporkan oleh Toebagus Roesjan kepada Dinas Purbakala pada tahun 1947.

Namun, penelitian terhadap prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara ini baru dimulai pada tahun 1954.

Prasasti Cidanghiyang terbuat dari batu andesit berukuran 3,2 x 2,25 meter.

Karena bentuk aksaranya mirip dengan aksara pada Prasasti Tugu, diduga prasasti ini dikeluarkan pada periode yang sama (de Casparis dan Boechari, 1954).

Isi Prasasti Cidanghyang

Prasasti Cidanghyang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Prasasti terdiri dari 2 baris kalimat yang berbentuk sloka dengan metrum anustubh.

Pada intinya, isi prasasti mengagungkan keberanian raja Purnawarman.

Di bawah ini isi prasasti Cidanghyang.

Teks :

Vikranto ‘yam vanipateh/ prabhuh satyapara (k) ra (mah)narendraddhvajabhutena/ srimatah purnnavarmmannah.

Terjemahan :

Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja.

Prasasti Ciaruteun

Gambar Prasasti Ciaruteun, Prasasti kerajaan Tarumanegara (sumber: kemdikbud)

Prasasti Ciaruteun disebut juga dengan nama prasasti Ciampea.

Prasasti kerajaan Tarumanegara ini ditemukan di tepi sungai Ciarunteun, dekat muara sungai Cisadane Bogor.

Prasasti Ciaruteun dipahatkan di permukaan batu kali atau batu alam yang memiliki bobot 8 ton dengan dimensi ukuran 200 cm x 150 cm.

Prasasti Ciaruteun ditulis dengan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sansekerta.

Di bagian atas tulisan dihiasi dengan pahatan sepasang telapak kaki Raja Purnawarman, gambar umbi dan sulur-suluran (pilin) dan laba-laba.

Menurut para ahli, pahatan telapak kaki raja Purnawarman di prasasti Ciarunteun memiliki 2 arti, yaitu :

  1. Pahatan telapak kaki Purnawarman menegaskan bahwa wilayah itu berada di bawah kekuasaanya.
  2. Pahatan telapak kaki Purnawarman melambangkan kekuasaannya yang bagaikan dewa. Dalam hal ini, Raja Purnawarman diibaratkan bagai dewa Wisnu yang merupakan dewa pelindung rakyat.

Isi Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun terdiri dari 4 baris yang tersusun dalam bentuk Sloka menggunakan metrum Anustubh.

Di bawah ini adalah isi prasasti Ciaruteun.

Teks :

vikkrantasyavanipat eh//

srimatah purnnavarmmanah//

tarumanagarendrasya//

visnoriva padadvayam

Terjemahan :

Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarmman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia

Prasasti Jambu/Prasasti Pasir Koleangkek

Gambar Prasasti Jambu, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Prasasti Jambu disebut juga dengan nama prasasti Pasir Koleangkek.

Prasasti kerajaan Tarumanegara ini ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor.

Prasasti Jambu terbuat dari batu dengan ukuran kurang lebih 2-3 meter.

Isi Prasasti Jambu

Prasasti Jambu ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Prasasti Jambu terdiri dari dua baris kalimat yang tersusun dalam bentuk sloka dengan metrum Sragdhara.

Pada prasasti Jambu ini juga terdapat pahatan telapak kaki yang digoreskan pada bagian atas tulisan.

Prasasti Jambu menyebutkan dengan jelas nama raja yang memerintah saat itu, yaitu raja Purnnawarmman.

seperti, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara lainnya, prasasti Jambu tidak disertai tanpa angka tahun.

Berdasarkan bentuk aksara Pallawa yang digunakan, prasasti Jambu diperkirakan dikeluarkan pada pertengahan abad ke-5 Masehi.

Di bawah ini adalah isi prasasti Jambu.

Teks :

siman=data krtajnyo narapatir=asamo yah pura tarumayam/ nama sri purnnavarmma pracura ri pusara bhedya bikhyatavarmmo/
tasyedam= pada vimbadvayam= arinagarot sadane nityadaksam/ bhaktanam yandripanam= bhavati sukhakaram salyabhutam ripunam//

Terjemahan :

Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termasyhur Sri Purnawarman yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan yang baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.

Prasasti Muara Cianten

Gambar Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara berikutnya adalah Prasasti Muara Cianten atau disebut juga Prasasti Pasir Muara.

Prasasti Muara Cianten ditemukan di tepi sungai Cisadane dekat Muara Cianten wilayah kampung Pasir muara, Bogor.

Prasasti Muara Cianten ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864.

Prasasti Muara Cianten terbuat dari batu berukuran 2.70 x 1.40 x 140 m3.

Peninggalan kerajaan Tarumanegara ini dikelompokkan sebagai prasasti karena pada batu tersebut memang terdapat pahatan.

Namun, sebenarnya hanya berupa pahatan gambar sulur-suluran (pilin) atau ikal yang keluar dari umbi.

Para ahli menyebutnya dengan aksara ikal yang belum dapat dibaca.

Di samping gambar sulur atau ikal, juga terdapat lukisan telapak kaki.

Prasasti Pasir Awi

Gambar Prasasti Pasir Awi, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara terakhir yang akan kita bahas adalah adalah Prasasti Pasir Awi.

Prasasti ini juga disebut dengan nama Prasasti Cemperai.

Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Sukamakmur Jonggol, Bogor.

Penemu prasasti Pasir Awi adalah N.W. Hoepermans pada tahun 1864.

Isi Prasasti Pasir Awi

Seperti prasasti Muara Cianten, isi prasasti Pasir Awi juga belum bisa dibaca.

Prasasti hanya berisi pahatan telapak kaki raja yang menghadap ke arah utara dan timur.

Selain pahatan telapak kaki, juga dihiasi gambar ranting pohon dan buah.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan Tarumanegara :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel singkat kami tentang prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara disertai dengan isi dan gambar. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring