Katamasa

95 Prasasti Kerajaan Bali Kuno : Isi & Gambar Lengkap

Prasasti-prasasti kerajaan Bali kuno sangat banyak. Prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini berangka tahun berkisar antar 800-1000an saka.

Prasasti kerajaan Bali kuno adalah salah satu sumber sejarah kehidupan Bali era klasik yang terpenting.

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang berbagai prasasti kerajaan bali kuno, yang memberikan banyak informasi tentang kehidupan kerajaan Bali pada masa itu.

Ringkasan

Di bawah ini adalah pertanyaan dan jawaban pendek untuk lebih memahami topik artikel : prasasti kerajaan bali.

Apa saja prasasti peninggalan kerajaan Bali?

Prasasti peninggalan kerajaan Bali sangat banyak, misalnya prasasti Pejeng, Prasasti Sukawana AI, Prasasti Bebetin AI, Prasasti Trunyan AI, Prasasti Trunyan B, Prasasti Pura Kehen A, Prasasti Gobleg Pura Desa I, Prasasti Blanjong, Prasasti Panempahan, Prasasti Malet Gede, Prasasti Bwahan A, 31 buah prasasti Raja Anak Wungsu dll

Apa saja prasasti yang mencantumkan nama Raja Sri kesari Warmadewa?

Prasasti yang mencantumkan nama raja Sri Kesari Warmadewa adalah Prasasti Blanjong, Prasasti Panempahan, Prasasti malet Gede, dan Prasasti Pukuh

Sekilas tentang Kerajaan Bali Kuno

Di literatur-literatur, nama kerajaan Bali kuno sering disebut juga sebagai kerajaan Bedahulu.

Sebenarnya, nama asli kerajaan Bali adalah Singhamandawa. Sedangkan nama Bedahulu, berasal dari bahasa Bali kuno yaitu, Badha berarti rumah/istana, dan Hulu yang berarti kepala/raja.

Dengan demikian, nama Bhadahulu adalah nama istana raja/ibu kota/pusat pemerintahan. Bukan nama kerajaan. Sedangkan nama kerajaan adalah Singhamandawa.

Namun, kebiasaan jaman dahulu, biasa menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya.

Para ahli memperkirakan letak kerajaan Bali secara persis adalah di sekitar Pejeng, di desa bedahulu/Bedulu, kabupaten Gianyar, Bali.

Sumber sejarah untuk mengungkap kehidupan era klasik di Bali adalah prasasti-prasasti kerajaan Bali kuno.

Prasasti-prasasti kerajaan Bali kuno memberikan informasi tentang siapa saja raja-raja yang memerintah di kerajaan Bali kuno.

Kerajaan Bali didirikan oleh dinasti Warmadewa. Di beberapa periode, kerajaan dipimpin oleh Dinasti Jaya yang sebenarnya cabang dari dinasti Warmadewa sendiri.

Masa kejayaan kerajaan Bali dimulai pada masa raja Udayana dan mencapai puncaknya pada masa raja Anak Wungsu.

Penyebab runtuhnya kerajaan Bali adalah serangan dari kerajaan Majapahit.

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Bali Kuno

Prasasti Kerajaan Bali Kuno

Kerajaan Bali kuno adalah salah satu kerajaan kuno di Indonesia yang meninggalkan prasasti paling banyak -atau paling banyak ditemukan.

Prasasti-prasasti kerajaan Bali kuno tersebut umumnya ditemukan/tersimpan dalam sebuah pura di berbagai desa di Bali.

Isi prasasti kerajaan Bali kuno beraneka ragam, mulai dari pembangunan tempat suci, penganugrahan raja, pembebasan pajak, dan lain sebagainya.

Berikut adalah daftar prasasti kerajaan Bali kuno yang berhasil ditemukan :

Prasasti-prasasti Pejeng

Prasasti kerajaan Bali kuno yang merupakan sumber sejarah tertulis kehidupan Bali yang paling tua adalah prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta pada tablet-tablet tanah liat yang ditemukan di desa Pejeng.

Prasasti-prasasti ini semula tersimpan di dalam stupika-stupika (stupa-stupa kecil) dari tanah liat.

Isi Prasasti-prasasti itu adalah mantra-mantra agama Buddha yang dikenal dengan nama ye-te-mantra.

Prasasti-prasasti yang sejenis dengan prasasti-prasasti Pejeng ini ditemukan juga di Pura Pegulingan Basangambu, Tampaksiring dan situs Kalibukuk Buleleng.

Bunyi teks prasasti-prasasti Pejeng, sebagai berikut :


Ye dharmā hetu-prabhawā
Hetun tesān tathāgato hyawadat
Tesāñca yo nirodha
Ewamwādi mahāśramanah


Artinya :
Keadaan tentang sebab-sebab kejadian itu, sudah diterangkan oleh Tathagata (Buddha), Tuan mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu

(Goris, 1948 : 3).

Mantra sejenis itu tertulis pula di atas pintu Candi Kalasan (di Jawa Tengah) yang berasal dari abad ke-8 atau tahun 700 Śaka (778 Masehi).

Berdasarkan kesamaan tipe aksara mantra-mantra di kedua tempat itu, maka mantra-mantra agama Buddha di Pejeng diduga berasal dari abad ke-8 pula (Goris, 1949 : 3-4 ; cf. Budiastra, 1980/1981 : 36-38).

Selain prasasti yang tersimpan dalam stupika-stupika, di Pejeng juga ditemukan beberapa fragmen prasasti kerajaan Bali kuno lainnya.

Fragmen-fragmen prasasti itu menggunakan bahasa Sansekerta dengan huruf Bali Kuno.

Keadaan fragmen-fragmen ini sudah sangat tua, sebagian besar rusak dan sulit dibaca.

Beberapa bagian yang masih dapat dibaca, antara lain manuśasana… (pada fragmen d), …mantramārgga… (pada fragmen g), …śiwas (…) ddh … (pada fragmen h), yang diduga bacaan lengkapnya berbunyi … śiwasiddhanta …, dan …sakalabhuwanakrt … (pada fragmen k), yakni nama lain untuk Wiśwakarman.

Dari isi fragmen yang masih dapat dibaca ini, memberi sedikit petunjuk bahwa isi prasasti tersebut pada umumnya bersifat keagamaan, dalam hal ini agama Hindu Śiwa ; Bahkan rupanya, agama itu telah bersifat mantris atau tantris (Stutterheim, 1929 : 62).

Fragmen-fragmen yang ditemukan itu ternyata tidak ada yang berangka tahun.

Berdasarkan studi komparatif dengan huruf prasasti-prasasti di Jawa, terutama di Jawa Tengah, Stutterheim menyimpulkan bahwa fragmen-fragmen itu bisa berasal dari masa sebelum tahun 800 Saka (878 Masehi), atau sekitar awal abad-9 masehi (Stutterheiom, 1929 : 62).

Jika pendapat Stutterheim benar, hal ini berarti, pada waktu itu agama Buddha dan agama Hindu Siwa, sama-sama telah berkembang di daerah Pejeng, Gianyar.

Prasasti Sukawana AI (804 Saka)

Prasasti Sukawanan AI adalah salah satu prasasti kerajaan Bali kuno yang disebut sebagai prasasti periode Singhamandawa, karena prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Bali pada era ini dikeluarkan di Panglapuan (panglapwan) di Singhamandawa.

Pada kisaran tahun 882-914, setidaknya ada tujuh buah prasasti kerajaan bali kuno yang ditemukan. Semua prasasti menggunakan bahasa Bali kuno.

Seluruh prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini tidak mencantumkan siapa nama raja atau pejabat yang mengeluarkannya (Goris, 1954a : 53-62).

Isi prasasti Sukawana AI pada pokoknya tentang pengembalian fungsi kesucian ulan/bangunan suci keagamaan yang ada di wilayah perkebunan bukit Citamani (sekarang Kintamani).

Sepertinya, ulan itu telah dipergunakan oleh penduduk sebagai tempat lalu-lalang setiap pulang pergi ke kebun atau sawah ladangnya.

Penguasa membuat kebijakan yang intinya memerintahkan Senapati danda, bhiksu Siwakangsita, Siwanirmala, dan Siwaparjna untuk membangun pertapaan yang dilengkapi bangunan pasanggrahan (satra) di sisi lain bukit Citamani.

Sedangkan jalan setapak yang ada di kompleks pertapaan itu tidak boleh digunakan lagi sebagai jalan lalu-lalang aktivitas penduduk.

Berdasarkan isi prasasti ini, pra peneliti mengetahui bahwa di bawah raja, setidaknya ada empat jabatan tinggi kerajaan, yakni, sarbwa, dinganga, nayakan, makarun, dan manuratang ajna.

Nama jabatan-jabatan kerajaan itu masih ada selama periode Singhamandawa. Setelah itu, jabatan-jabatan tinggi kerajaan semakin banyak jumlahnya.

Prasasti Bebetin AI (818 Saka)

Isi prasasti Bebetin AI terkait dengan kuta di banwa bharu, yang artinya adalah desa bharu yang berbenteng.

Prasasti kerajaan Bali kuno ini menceritakan bahwa desa itu pernah diserang perampok. Penduduk banyak yang terbunuh, sisanya mengungsi ke desa lain. Baru setelah keadaan aman, mereka semua kembali ke desanya.

Mengatasi hal ini, demi melengkapi perangkat desa, khususnya bidang keagamaan, raja memerintahkan pejabat nayakan pradhana, yaitu, kumpi ugra dan bhiksu Widya Ruwana untuk memimpin pembangunan kuil Hyang Api, dengan batas-batas yang telah ditentukan.

Prasasti ini juga mencantumkan aturan-aturan pembagian harta warisan dan ketetapan mengenai tugas atau kewajiban serta hak-hak penduduk.

Para peneliti menduga desa bharu terletak di pesisir pantai utara Pulau Bali, dan merupakan salah satu pelabuhan kerajaan.

Dugaan ini berdasarkan isi prasasti Bebetin A1 yang mencantumkan ketentuan untuk mengatur saudagar-saudagar dari luar yang berdagang di sana dan perlakuan perahu-perahu yang mengalami kerusakan.

Di bawah ini adalah bagian teks prasasti Bebetin AI pada lembaran Iib.3-4 :

… anada tua banyaga turun ditu, paniken (baca : paneken) di hyangapi, parunggahna, ana mati ya tua banyaga, perduan drbyana prakara, ana cakcak lancangna kajadyan papagerrangen kuta …

(Goris, 1954a : 55)

Artinya :

…Jika ada saudagar berlabuh (turun) di sana, barang-barang persembahannya supaya dihaturkan kepada kuil Hyang Api, (jika) ada mati (di antara) saudagar itu, segala harta miliknya agar dibagi dua, (jika) perahunya rusak, supaya dijadikan pagar untuk memperkuat benteng, …

Prasasti Trunyan AI (833 Saka) dan Trunyan B (833 Saka)

Desa Trunyan adalah salah satu desa tua di Bali. Kesejarahan desa ini dibuktikan dengan keterangan yang tercatat dalam prasasti kerajaan bali kuno.

Isi prasasti Trunyan AI dan Trunyan B, khususnya pada lembaran Ib-IIa.4, pada dasarnya isinya sama.

Kedua prasasti ini memuat soal pemberian ijin dari raja kepada penduduk desa Turunan untuk mendirikan bangunan suci untuk Bhatara Da Tonta.

Prasasti itu selanjutnya menjelaskan tentang kewajiban bagi penduduk Turunan untuk membayar iuran dan melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk keperluan bangunan suci itu.

Karena kewajibannya itu, raja membebaskan mereka dari beban pajak-pajak serta kewajiban-kewajian tertentu.

Salah satu kewajiban penduduk desa Turunan dijelaskan di bagian lain prasasti Trunyan AI, yaitu, wajib memberikan makanan dan minuman jika ada utusan raja melakukan persembahyangan di sana pada bulan Asuji.

Prasasti itu mencantumkan juga kewajiban-kewajiban bagi penduduk desa Hasar, Halang Guras, Pungsu, dan Panumbahan dalam urusan upacara-upacara di kuil Sang Hyang di Turunan (Bhatara Da Tonta) dan Guha Mangurug Jalalingga.

Prasasti Trunyan B mencantumkan kewajiban bagi penduduk desa Air Rawang di sebelah timur Danau Batur untuk membayar iuran bagi keperluan upacara Sang Hyang di Turunan.

Selain kewajiban, mereka diberikan hak, yaitu, menyucikan Bhatara Da Tonta dengan air Danau Batur, kemudian dibedaki kuning, serta dihiasi dengan cincin bepermata dan anting-anting, setiap bulan Bhadrawada (Agustus-September).

Petugas yang berwenang melaksanakan hal-hal itu adalah Sahayan Padang dari desa Air Rawang.

Isi bagian akhir prasasti Trunyan B adalah kalimat kutukan yang ringkas (Goris, 1954a : 58-59).

Prasasti Bangli, Pura Kehen A (antara 804-836 saka)

Isi prasasti Pura Kehen A adalah tentang bangunan suci Hyang Karimama yang terletak di desa Simpat Bunut.

Raja memberikan tugas kepada para bhiksu Siwarudra, Anantasuksma, dan Prabhawa serta penduduk desa Simpat Bunut untuk memperbaiki serta memperluas (pamasamahyan) pertapaan di Hyang Karimama. Batas-batasnya kemudian ditetapkan.

Dalam prasasti itu, raja juga memperbolehkan pertapaan di Hyang Karimama memiliki cabang di desa lain, asalkan tidak lebih dari 20 buah (Goris, 1954a : 60-61) (sumber).

Hyang Karimana,. . . Hyang Api di Desa Simpatbunut

Goris, 1954a : 60-61

Prasasti Gobleg, Pura Desa I (836 Saka)

Prasasti Gobleg, Pura Desa I (836 Saka) berisi tentang perintah untuk memperbaiki bangunan suci di Bukittunggal yang bernama Indrapura, yang berada dalam wilayah desa Air Tabar.

Prasasti ini juga mencantumkan aturan pembagian harta warisan dan keringanan dari tugas-tugas tertentu yang didapat oleh penduduk.

Prasasti Angsri A

Tidak banyak yang bisa dibaca dari Prasasti Angsri A karena keadaannya sangat aus. Dari bagian yang masih dapat dibaca diketahui nama bangunan suci Hyang Api dan Hyang Tanda. Kedua bangunan suci itu mendapat persembahan bagian harta warisan keluarga yang putus keturunan (Goris, 1954a : 62).

Prasasti Blanjong (835 Saka)

prasasti Blanjong peninggalan kerajaan Bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Blanjong ditemukan oleh Stutterheim sekitar tahun 1930. Pada saat ditemukan, kondisi prasasti kerajaan Bali kuno ini kondisinya sudak agak aus bahkan ada beberapa baris hurufnya hilang.

Prasasti Blanjong terbuat dari batu padas, disebut sila prasasti.

Prasasti Blanjong berbentuk tiang batu atau berwujud bunga teratai berukuran tinggi 177 cm dan garis tengah sekitar 62 cm.

Prasasti Blanjong ditulis di kedua sisi batu. Pada sisi barat laut berisi 6 baris tulisan, menggunakan aksara Pre-Negari dan bahasa Bali Kuna. Sisi ini kemudian disebut sisi A.

Pada sisi tenggara berisi 13 baris tulisan, menggunakan huruf Bali Kuna (Kawi) dan bahasa Sansekerta. Kemudian disebut sisi B.

Isi Prasasti Blanjong sisi A :

Çaka 8bde cara wahnimurtiganitre mase tahta phalgune (ara(sara)1)….2)

…..(ra)…..(taki) naswa (ksa)…..3) radhayajihitwaro winihatyawairini… …h…. ng(s)…..

…..(hi) (ja) wampurang singhadwala pure (niki) -i….ya….ta….t….

…..// (ca)….. wulan phalguna…. Cri kesari… …

…..rah di gurun dis (u) wal duhamalahang mussuddho…..ngka…..(rna)…..(tah) di kutara…..

nnata…..(tadbhaja)….kabudhi kabudhi//4)

Artinya :

Pada tahun 835 Caka bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di keraton Singhadwala bernama Cri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.

Isi Prasasti Blanjong sisi B :

swa…..ratapratapamahi…..(ha)…..ccodayah/dhwastarati tamasccayo (buga)na

…..samarggaranggapriyah/padmobo-5)i…..(asa) serawirabudha a…../ nahkrtih walidwiba…..

…..(bhayebhirowi)…..(bhe)ri….na(bhu) pa(ca) (ci) na a(g)atwa…..

……………………………

…………………………

…………………………………

…………………………………

…..(ca)….(mancangcuta)……

…..(cepra) yatandicarssyannantarisr-u…..

…..//(wija)yarka (ndantarand) anta (pe) kabhajobhrcam//yena-

……..nbhidya (sata) langwidyayunggurubhihsarrundhyaca-trunyu (dh)i

Maha….ha(dwa)iparagrewairimahibhuja(ng)srjutarahkamp………

…..ndre)th)a-r-(amajasa)pta…..ptihsamastaamantadhipatih crikesari (warmma(dewa)….

Goris, 1954:64-65; Wiguna, 1990:28

Arti tulisan pada prasasti Blanjong sisi B kurang lebih sama dengan sisi A.

Hanya saja, di sisi B gelar raja terbaca lebih lengkap, yakni Adhipatih Cri Kesari Warmadewa.

Dari sisi B ini juga diketahui bahwa berkat kemenangannya atas Gurun dan Swal tersebut maka Cri Kesari Warmadewa dikatakan telah menguasai seluruh Walidwipa (Pulau Bali).

Dan atas alasan kemenangan itulah tugu prasasti Blanjong ini didirikan.

Prasasti Penempahan (835 saka)

prasasti panempahan peninggalan kerajaan bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Panempahan berada di Pura Puseh Panempahan, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

Prasasti kerajaan Bali kuno ini berbahan batu padas berbentuk silindris berukuran panjang 14,5 cm, lebar 36 cm, dan tinggi 37 cm.

Isi prasasti panempahan :

//……(w)ulan phalguna ḳr(snapaksa)…..

…..(kittān pa)rhaj(yān) śri kaisari ūli…

…(m)us(u)haǹkas da wa t(ya) ri wuci….

…kadya kadya makatka di tuǹgala

Drs. I Wayan Gede Teneya (Ketua Tim BPCB Bali)

Artinya :

Artinya:

Prasasti Malet Gede (835 Saka)

prasasti malet gede peninggalan kerajaan bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Malet Gede berada di Pura Penataran Malet Tengah.

Seperti prasasti Blanjong, prasasti Malet Gede juga mencantumkan nama raja Sri Kesari Warmadewa dan penaklukan wilayah.

Isi prasasti Malet Gede :

// Ṡaka 835 wulan phalguna kṛsṇa – pakṣa

kittan parhajyan śṛi ke – – – – – – – – – – – –

– – – – ta musuh ro – (ngi) – tas bhagu – – – – –

– – — – -kadya kadya maksa – – – – – – – – – – – –

Artinya :

  1. Pada tahun Saka 835 (913 Masehi) , bulan Phalguna
  2. (bulan ke delapan), paro gelap
  3.  – – – – – – raja Sri Kesariwarma(dewa) – – – – – – – –
  4.  – – – – – – musuh musuh – – – – – – – – – – – – –
  5.  – – – – – -selamanya dan  pernah – – – – – – – – – – – – –

Prasasti Pukuh (835 saka)

prasasti pukuh peninggalan kerajaan bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Pukuh ditemukan di Desa Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli.

Prasasti kerajaan Bali kuno ini terbuat dari bahan material batu padas berbentuk silindris dengan ukuran tinggi 110 cm dan diamater  silinder 43 cm.

Di bidang samping prasasti terdapat pahatan aksara berjumlah 4 baris. Prasasti Pukuh menggunakan aksara bali kuno dan bahasa Bali Kuno.

Isi Prasasti Pukuh :

i śaka 835 wulan phalguṇa  kṛsna pakṣa pu

tha(-)raska parhajyan śri khesari laḥ me la – – – 

hli musuḥ ka ingkaḥ  sda – – –  cihnan – – –

wudpakadya kadya maka tka di tunggalan.

Artinya :

Prasasti-prasasti Raja Ugrasena

Raja Sri Kesari Warmadewa kemudian digantikan oleh Sang Ratu Sri Ugrasena.

Raja Ugrasena tercatat namanya dalam prasasti-prasastinya tahun 837-864 Saka (915-942). Era pemerintahannya sejaman dengan masa Pu Sindok di Jawa Timur (Goris, 1948 : 5).

Raja Ugrasena mengeluarkan sebelas prasasti, yaitu, prasasti Banjar Kayang (837 Saka), prasasti Les, Pura Bale Agung (837 Saka), Babahan I (839 Saka), Sembiran AI(844 Saka), Pengotan AI (846 Saka), Batunya AI (855 Ska), Dausa, Pura Bukit Indrakila AI (857 Saka), Serai AI (858 Saka), Dausa, Pura Bukit Indrakila BI (864 Saka), prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg, Pura Batur A (Goris, 1954a : 8-11 ; 63-72).

Kesebelas prasasti itu menggunakan bahasa bali kuno.

Isi prasasti itu sebagian besar tentang kebijakan raja mengenai keringanan pajak dan pembangunan tempat suci.

Diantara kebijakan itu adalah sebagai berikut :

Prasasti-prasasti raja Tabanendra Warmadewa

Pengganti Raja Ugrasena adalah Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa.

Dia memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yang bernama, Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967).

Raja suami istri ini mengeluarkan beberapa prasasti, yaitu, prasasti Manik Liu AI (877 Saka), Manik Liu BI (877 Saka), Manik Liu C (877 Saka), dan Kintamani A (899 Saka).

Ketiga prasasti Manik Liu membahas masalah yang sama, yaitu, raja membebaskan Samgat Juru Mangjahit Kajang, dan anak bandut yang berdiam di desa Pakuwwan dan Talun dari kewajiban tugas gotong royong dan berbagai pajak, kecuali pajak rot (Goris, 1954a : 74-75).

Prasasti Kintamani A, menurut Goris isinya terkait dengan prasasti Kintamani B, yang telah dibahas di atas, yaitu, tentang perintah Raja Tabanendra Warmadewa untuk memugar pesanggarahan di Air Mih.

Dalam Prasasti Kintamani B dinyatakan juga bahwa pasanggrahan di Dharmarupa adalah cabang dari pasanggrahan di Air Mih (Goris, 1954a : 77).

Prasasti Manukaya (882 Saka)

Prasasti Manukaya adalah prasasti kerajaan Bali kuno yang mencantumkan nama raja Jayasingha Warmadewa (Stutterheim, 1929 : 68-69 ; Goris 1954a : 75-76 ; Damais, 1955 : 224-225).

Dalam prasasti ini, raja memerintahkan untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring).

Prasasti Sembiran AII (897 Saka)

Prasasti Sembiran AII memberikan informasi bahwa pada tahun 897 Saka, kerajaan Bali dipimpin oleh raja Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa (Brandes, 1889 : 46-48 ; Goris, 1954a : 77-79 ; Damais, 1955 : 226).

Prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka)

Prasasti Gobleg, Pura Desa II mencantumkan raja pengganti Raja Janasadhu Warmadewa yaitu Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (Goris, 1954a : 79-80 ; Damais, 1955 : 226-227).

Prasasti-prasasti Sri Dharmodayana Warmadewa dan Sri Gunapriyadharmapatni

Ratu Sri Wijaya Mahadewi diduga mangkat pada tahun 911 Saka (989).

Setelahnya, raja yang memerintah kerajaan Bali adalah pasangan suami istri, Sri Dharmodayana Warmadewa dan Sri Gunapriyadharmapatni.

Prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja suami istri ini adalah prasasti Bebetin AI (911 Saka), Serai AII (915 Saka), Buwahan A (916 Saka), Sading A (923 Saka) dan prasasti Tamblingan Pura Endek II (Goris, 1954a : 80-88).

Di antara semua prasasti kerajaan Bali kuno periode pemerintahan Sri Dharmodayana Warmadewa dan Sri Gunapriyadharmapatni, prasasti Buwahan A paling menarik perhatian para peneliti.

Pada intinya, isi prasasti Buwahan A adalah raja Gunapryadharmapatni dan Udayana memberikan ijin kepada desa Bwahan yang terletak di sisi Danau Batur untuk lepas dari desa induknya, yakni desa Kdisan (kini desa Kedisan Kintamani).

Setelah selalu menerbitkan prasasti secara bersama-sama, raja Udayana kemudian menerbitkan prasasti atas namanya sendiri tanpa permaisurinya, pada tahun 933 Saka, yaitu, prasasti Pura Abang A (Goris, 1954a : 88-94 ; Damais, 1955 : 185).

Kemungkinan, Sri Gunapriyadharmapatni meninggal sebelum tahun 933 Saka.

Prasasti pura Abang A diberikan untuk desa Air Hawang (sekarang desa Abang, Kintamani).

Selain prasasti-prasasti di atas, masih ada lima buah prasasti singkat (short inscription) yang terbit pada masa ini, yaitu prasasti-prasasti Besakih, Pura Batumadeg (nomor lama 908), Ujung Pura Dalem (nomor lama 357) berangka tahun 932 Saka, Gunung Penulisan A (933 Saka), Gunung Penulisan B, dan Sangsit B (nomor lama 437) berangka tahun 933 Saka (Goris, 1954a : 46, 94, 105-107 ; Damais, 1955 : 229).

Setelah mangkat, Gunapriyadharmapatni dicandikan di Burwan, dan Udayana yang diduga mangkat tidak lama setelah tahun 933 Saka dicandikan di Banu Wka.

Prasasti Sembiran AIII (938 Saka)

Prasasti Sembiran AIII dikeluarkan oleh Ratu Sri Ajnadewi pengganti raja Udayana dan Gunapriyadharmapatni.

Prasasti-prasasti raja Marakata

Ratu Sri Ajnadewi sebenarnya bertindak sebagai wali Marakata, karena usianya yang masih muda.

Marakata tercatat mengeluarkan prasasti pertamanya, yaitu prasasti Batuan pada tahun 944 Saka (1022).

Selain prasasti Batuan, Raja Marakata juga mengeluarkan prasasti Sawan A I = Bila I (nomor lama 353) yang berangka tahun 945 Saka, Tengkulak A (945 Saka), dan Bwahan B (947 Saka).

Dalam prasasti-prasasti ini, gelar lengkap raja Marakata adalah Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.

Selain prasasti-prasasti di atas, terdapat beberapa prasasti singkat yang terbit pada masa pemerintahan raja Marakata, yaitu prasasti Kesian, Pura Sibi I (945 Saka), Kesian, Pura Sibi II (948 Saka), Kesian Pura Sibi III (948 Saka), Kesian, Pura Sibi IV dan Bangli, Pura Kehen B (nomor semula 356) tanpa angka tahun.

Prasasti-prasasti raja Anak Wungsu

Raja Anak Wungsu adalah raja kerajaan Bali Kuno yang paling lama, yaitu, selama tidak kurang dari 28 tahun. Raja Anak Wungsu mengeluarkan 31 buah prasasti.

Karena banyaknya jumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu maka tidak mungkin diuraikan di sini satu per satu.

Oleh karena itu, di artikel ini kami akan kelompokkan prasasti kerajaan Bali era Anak Wungsu berdasarkan latar belakng dikeluarkannya saja.

Setidaknya ada 6 latar belakang dikeluarkannya prasasti kerajaan Bali kuno era Anak Wungsu, yaitu :

Prasasti-prasasti raja Sri Maharaja Sri Walaprabhu

Pengganti Raja Anak Wungsu adalah Sri Maharaja Sri Walaprabhu. Raja ini memerintah tahun 1001-1010 Saka ( 1078-1088).

Nama Sri Maharaja Sri Walaprabhu tercantum dalam prasasti Babahan II (nomor lama 501).

Goris menduga Prasasti Ababi A (nomor lama 447) dan Klandis (nomor lama 448) juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu (1954a : 26 ; 1965 : 33).

Prasasti-prasasti raja Sri Sakalendukirana

Pengganti Sri Walaprabhu adalah Paduka Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotunggadewi. Nama raja ini tercantum dalam prasasti Pengotan B I (1010 Saka), dan Pengotan B II (1023 Saka).

Prasasti-prasasti raja Sri Maharaja Sri Suradhipa

Raja kerajaan Bali kuno pengganti Ratu Sakalendukirana adalah Paduka Sri Maharaja Sri Suradhipa.

Raja Paduka Sri Maharaja Sri Suradhipa mengeluarkan prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Saka), Angsari B (1041 Saka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.

Prasasti-prasasti Raja Patih Kbo Parud

Raja Suradhipa digantikan oleh raja-raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu :

Setelah masa pemerintahan raja Ekajayalancana sampai dengan akhir masa kerajaan Bali Kuno, terjadi lima kali pergantian raja.

Antara Raja Sri Wirama (1126 Saka) dan Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Saka) terdapat masa kosong tanpa raja selama kurang lebih 56 tahun. Belum diketahui kenapa hal ini bisa terjadi.

Setelah kekuasaan raja Adidewalancana, terjadi lagi masa tanpa raja selama kurang lebih 64 tahun, yaitu, tahun 1182-1246 Saka (1260-1324).

Pada periode itu hanya terbit dua buah prasasti, yaitu, prasasti Pengotan E (1218 Saka) dan Sukawana D (1222 Saka).

Prasasti Pengotan E dan Sukawana D dikeluarkan oleh Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan).

Tokoh Kbo Parud ini ternyata hanya berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja (Goris, 1948 : 11 ; 1954a : 42).

Prasasti Langgahan (1259 Saka)

Kedudukan Kbo Parud sebagai penguasa Bali digantikan oleh Bhatara Guru II (Bhatara Sri Mahaguru), yang dinobatkan sebagai raja Bali pada tahun 1256 Saka (1324).

Bhatara Guru II digantikan oleh Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat. Raja ini berkuasa dibantu oleh ibunya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru.

Pengganti Raja Walajayakrttaningrat dan ibunya adalah Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten.

Nama raja Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten terbaca dalam prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 Saka (Goris, 1954a : 44 ; Damais, 1955 : 99).

Prasasti kerajaan Bali kuno ini menceritakan bahwa pada tahun 1259 Saka raja menetapkan pelbagai drwyahaji yang harus dibayar oleh penduduk di wilayah pertapaan Langgaran.

Prasasti Langgahan juga menetapkan batas-batas wilayah pertapaan dan menyebutkan nama-nama pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang menyaksikan penganugerahan prasasti itu.

Bagian akhir prasasti Langgahan berisi sumpah kutukan (sapatha) yang pada intinya mengharapkan agar orang-orang yang melanggar ketetapan dalam prasasti itu mendapat mala petaka setimpal.

Prasasti Pura Tegeh Koripan (di puncak Gunung Penulisan)

Di pura Tegeh Koripan terdapat sebuah arca yang bagian belakangnya terpahat prasasti.

Prasasti terdiri atas sembilan baris tulisan yang sulit dibaca karena kondisinya sangat aus.

Pada baris ke delapan terdapat bagian yang berbunyi ”…t (asu) raratnabumi…” (Stutterheim, 1929 : 79).

Belakangan, Damais membaca bagian itu sebagai berbunyi ”(–)—stasura ratnabumi banta,…”(1955 : 129).

Sementara Goris membaca astasura-ratna bumi-banten (1954a : 44).

Di atas prasasti terdapat candra sengkala berupa empat gambar, yakni paling depan tidak jelas karena sudah pecah, berikutnya gambar mata (dengan nilai 2), kapak yang bernilai 5, dan terakhir tidak jelas, mungkin gunung (bernilai 7) atau laut (bernilai 4).

Berdasarkan candra sengkala itu, angka tahun prasasti tersebut diprediksi 1254 atau 1257 Saka (Stutterheim, 1929 : 79).

Di pihak lain, Damais berpendapat prasasti itu berangka tahun 1352 Saka (1439) (1955 : 129-130).

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan Bali kuno :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang berbagai prasasti kerajaan Bali. semoga bermanfaat.

Sharing is caring