Katamasa

Sejarah Pertempuran Surabaya : Latar Belakang, Tokoh, dan Akhir Perang (Lengkap)

Pertempuran Surabaya 10 November 1945 adalah puncak peristiwa perang Surabaya antara tentara dan rakyat Surabaya menghadapi tentara sekutu pimpinan Inggris.

Pertempuran Surabaya adalah perang pertama pasukan Indonesia melawan agresi pasukan asing paska Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Latar belakang peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah kedatangan tentara Sekutu/AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) sebagai pemenang perang dunia 2 untuk melucuti tentara Jepang.

Namun ternyata, kedatangan tentara sekutu ini diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang ingin mengembalikan Indonesia kembali di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

Perang Surabaya adalah salah satu peristiwa terbesar yang terjadi dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pertempuran di Surabaya mempunyai arti penting bagi kemerdekaan Indonesia.

Paska peristiwa pertempuran Surabaya ini, dunia internasional mulai menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia adalah keinginan seluruh rakyat, bukan tindakan gerombolan pengacau keamanan seperti tuduhan Balanda.

Untuk mengenang perang Surabaya 10 November 1945 yang sangat heroik, pemerintah Indonesia menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan, diperingati rutin setiap tahun.

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang sejarah pertempuran Surabaya, apa latar belakang, siapa saja tokoh-tokoh yang terlibat, dan bagaimana akhir perang yang sangat bersejarah ini. Selamat Membaca.

Ringkasan

Sebelum membahas secara detail peristiwa perang Surabaya 10 November 1945, berikut ini adalah pertanyaan dan jawaban singkat untuk lebih memahami peristiwa bersejarah tersebut.

Apa penyebab terjadinya pertempuran Surabaya?

Penyebab pertempuran Surabaya adalah :
1. Kedatangan tentara sekutu (AFNEI) yang diboncengi oleh NICA dengan tujuan mengembalikan wilayah Indonesia kembali sebagai koloni Belanda (Hindia Belanda).
2. Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
3. Ultimatum Sekutu kepada rakyat Surabaya

Siapa pemenang pertempuran Surabaya?

Dalam perang Surabaya, jumlah korban di pihak Indonesia baik tentara maupun milisi rakyat jauh lebih banyak dibandingkan korban di pihak sekutu.

Namun, secara moral pemenang pertempuran Surabaya adalah pihak Indonesia. Karena paska perang Surabaya ini, dukungan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi semakin kuat.

Apa arti penting pertempuran 10 November 1945 di Surabaya?

Arti penting perang di Surabaya ini adalah memberikan bukti kepada dunia internasional bahwa keinginan untuk merdeka adalah keinginan seluruh rakyat bukan sebuah gerakan pengacau keamanan.

Siapa tokoh-tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945?

Tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa perang Surabaya adalah Bung Tomo, Hariyono, Koesno Wibowo, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, Letnan Jenderal Sir Philip Christison, Brigadir Jenderal Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh.

Latar Belakang Pertempuran Surabaya

Latar belakang pertempuran Surabaya erat kaitannya dengan berakhirnya perang dunia 2 paska Jepang menyerah kepada sekutu.

Sebagaimana kita ketahui, paska mendesak Belanda, Jepang menduduki wilayah Indonesia.

Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945.

Namun, kekalahan demi kekalahan di berbagai front memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945.

Baca juga : Alasan Jepang menyerah kepada sekutu

Berita menyerahnya Jepang memberikan peluang bagi proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Namun, proklamasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan ternyata tidak serta merta membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan.

Belanda sebagai bagian dari sekutu ternyata berkeinginan mengembalikan Indonesia sebagai wilayah koloninya, yaitu Hindia Belanda dengan cara membonceng kedatangan tentara sekutu.

Di bawah ini adalah kronologis peristiwa yang menjadi penyebab pertempuran Surabaya :

Kedatangan Tentara Sekutu Yang Diboncengi NICA

Sebagai pemenang perang dunia 2, sekutu datang ke Indonesia.

Tentara sekutu yang datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies).

Tugas AFNEI adalah untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya dan menjaga ketertiban di berbagai daerah di Indonesia.

Panglima AFNEI adalah Letnan Jenderal Sir Philip Christison yang membawahi wilayah Jakarta, Surabaya, dan Sumatera.

Pasukan Sekutu mendarat di Jakarta tanggal 15 September 1945. Kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 dengan kapal perang Eliza Thompson.

Pasukan ini adalah pasukan Brigade 49 sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby.

Pada awalnya, pasukan Sekutu datang ke Surabaya dengan tujuan mengamankan tawanan perang, melucuti senjata pasukan Jepang, evakuasi dan menjaga ketertiban di wilayah Surabaya.

Namun, kedatangan tentara sekutu ternyata juga diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

NICA mempunyai misi untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Hindia Belanda.

Tentu saja hal itu mendapatkan tentangan seluruh rakyat. Para pejuang bersama milisi rakyat kemudian melakukan perlawanan terhadap tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Insiden Hotel Yamato

Paska Proklamasi kemerdekaan, pemerintah pusat di Jakarta mengeluarkan maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang isinya menetapkan mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia.

Seperti wilayah Indonesia lainnya, gerakan pengibaran bendera merah putih secara masif dilakukan oleh rakyat Surabaya.

Namun, gerakan pengibaran bendera merah putih ini seperti diremehkan oleh sekelompok orang Belanda.

Mereka justru mengibarkan bendera Belanda di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit).

Mr. W.V.Ch Ploegman memimpin sekelompok orang mengibarkan bendera Belanda pada malam hari tanggal 19 September 1945, tepatnya pukul 21.00, tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato.

Pemuda Surabaya yang melihat berkibarnya bendera Belnda menjadi marah.

Para pemuda perbuatan itu telah menghina kedaulatan Indonesia, bertujuan mengembalikan kekuasannya di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang saat itu sedang berlangsung di seluruh penjuru kota Surabaya.

Kabar adanya pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato menyebar sangat cepat ke seluruh rakyat Surabaya.

Maka, dalam waktu yang sangat singkat Hotel Yamato telah dibanjiri kerumunan massa yang marah.

Di bagian belakang hotel, terdapat beberapa orang tentara Jepang yang berjaga-jaga untuk mengendalikan situasi.

Mendengar berkumpulnya massa masaa besar di Hotel Yamato, Residen Sudirman, sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, segera datang.

Residen Sudirman masuk ke dalam hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono untuk berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta supaya mereka menurunkan bendera Belanda dari gedung Hotel Yamato.

Ternyata, Ploegman menolak menurunkan bendera Belanda sekaligus menolak mengakui kedaulatan Indonesia.

Perundingan tidak berjalan mulus, kedua pihak emosi. Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian di antara mereka.

Dalam perkelahian itu, Sidik berhasil menewaskan Ploegman, selanjutnya, Sidik sendiri tewas ditembak tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman.

Sedangkan residen Sudirman dan Hariyono berhasil melarikan diri ke luar gedung Hotel Yamato.

Para pemuda di luar hotel yang mengetahui kejadian tersebut, segera masuk ke Hotel Yamato, maka terjadilah perkelahian di lobi hotel antara pemuda dan sekelompok orang Belanda.

Sebagian pemuda berhasil naik ke atas gedung hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono yang tadi ikut ke luar gedung ikut terlibat memanjat tiang bendera bersama Kusno Wibowo.

Setelah berhasil menurunkan bendera Belanda, mereka merobek bagian birunya, dan mengerek kembali Bendera yang kini berwarna Merah Putih.

Peristiwa yang sangat monumental ini disambut dengan pekik ‘Merdeka’ berulang kali oleh massa di area gedung Hotel Yamato.

Suasana Insiden perobekan bendera Belanda sebelum pertempuran surabaya (sumber : wikimedia commons)

Setelah insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 pertempuran Surabaya meletus untuk pertama kalinya.

Pertempuran-pertempuran awal

Perang Surabaya nampaknya sudah tidak bisa dihindari. Semakin hari, situasi semakin tidak terkendali, terutama paska peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato.

Pada tanggal 27 Oktober 1945 Tentara Sekutu menyerang penjara Republik dengan tujuan membebaskan perwira-perwira Sekutu dan Pegawai RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interness) (Kartasasmita: 1995).

Tentara sekutu juga mulai menduduki objek-objek vital di kota Surabaya, seperti lapangan terbang, kantor pos, radio Surabaya, gedung internatio, pusat kereta api, pusat oto mobil  dan lain-lain.

Selain itu, Angkatan Udara Inggris (RAF) juga menyebarkan pamflet melalui udara tanpa diketahui oleh Jenderal Mallaby.

Isi pamflet itu adalah sebuah perintah bagi rakyat Surabaya dan seluruh Jawa Timur untuk menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan perang milik Jepang dalam tempo 48  jam (Imran, dkk:2012).

Ultimatum juga dikeluarkan oleh Jenderal Hawthorn dengan ancaman hukuman seberat-beratnya bagi siapa saja yang tidak mematuhi perintah Inggris (Nasution : 1977).

Prilaku pihak sekutu membuat rakyat Surabaya marah. Bagi rakyat, tindakan-tindakan sekutu itu adalah penghinaan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka.

Dengan persetujuan pemerintah, Komandan Divisi TKR Mayor Jenderal Yono Sewoyo mengeluarkan perintah perang terhadap seluruh badan perjuangan, polisi dan TKR untuk melawan tentara sekutu.

Masyarakat sipil kota Surabaya juga sangat menentang keberadaan tentara sekutu di Jawa Timur. Gubernur R.M.T.A Suryo dengan tegas menyatakan enggan menerima kedatangan tentara sekutu (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Pada tanggal 28 Oktober 1945 sore, dr. Mustopo memimpin para pemuda bersama dengan 20.000 kekuatan prajurit TKR dan 120.000 kelompok pemuda bersenjata melakukan penyerbuan ke kamp Belanda dan sekutu (Imran, dkk: 2012).

Pada hari yang sama, saat tengah malam, Radio Pemberontakan terhadap sekutu, mengobarkan semangat perjuangan seluruh rakyat. Bung Tomo secara berorasi dengan berapi-api semakin menguatkan semangat revolusi ke seluruh kota Surabaya (Ricklefs: 1998).

Pada akhir bulan Oktober, K.H Hasyim Asyari (pemimpin Nahdatul Ulama) bersama K.H Wahab Hasbullah dan kyai-kyai dari pesantren lain dan Masyumi mendukung perjuangan dan menyatakan bahwa perang mempertahankan tanah air Indonesia adalah Perang Sabil (Ricklefs: 1998).

Memasuki tanggal 29 Oktober, para pemuda Surabaya berhasil menduduki kembali beberapa obyek vital yang sebelumnya diduduki sekutu (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Melihat situasi yang semakin tidak menentu, Jenderal DC. Hawntorn menghubungi Presiden Soekarno, meminta bantuannya untuk menyerukan penghentian kontak senjata antara pemuda dan sekutu  (Imran, dkk: 2012).

Selanjutnya, Presiden Soekarno yang didampingi oleh Wakil Presiden Moh Hatta dan Amir Syarifuddin mengadakan perjanjian dengan sekutu tentang penghentian kontak senjata (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Berdasarkan hasil perundingan tersebut, kedua pihak sepakat membentuk Contact Committee (Kontak Penghubung) (Kartasasmita: 1995).

Saat itu, pihak sekutu menyatakan mengakui kedaulatan RI, namun setelah peperang sedikit mereda pasca perundingan, sekutu kembali melakukan penyerangan yang mengakibatkan banyak korban.

Tindakan sekutu yang tidak menghormati perjanjian kembali menyulut perang Surabaya.

Kematian Brigadir Jenderal mallaby

Tindakan sekutu yang mengabaikan perjanjian membuat situasi kembali tidak terkendali.

Pada tanggal 31 Oktober 1945, pihak pemuda Surabaya tiba-tiba menahan Brigadir Mallaby yang saat itu dikawal oleh Kapten Smith, Kapten Shaw dan Letnan Laughland.

Dalam situasi itu, salah seoarang tentara sekutu Mayor Venugopall melemparkan granat ke arah pemuda. Namun malang, Jenderal Brigadir Mallaby yang ada di lokasi terbunuh dan hangus bersama mobil (Nasution: 1977).

Selain versi di atas, ada versi lain tentang kematian Jenderal Mallaby.

Versi ini menyatakan bahwa Jenderal Mallaby tewas karena ditusuk dengan bayonet dan bambu runcing oleh pemuda (Poesponegoro  dan Nugroho: 1993).

Mobil Brigjen Mallaby meledak dan menewaskan dirinya. Tewasnya Mallaby adalah salah satu latar belakang pertempuran Surabaya 10 November 1945 (sumber : Imperial War Museum/wikimedia commons)

Ultimatum Pihak Sekutu Kepada rakyat Surabaya

Tewasnya Brigjen Mallaby menimbulkan amarah pemimpin pasukan sekutu di Indonesia, Jenderal Christison. Mereka menganggap kematian Mallaby adalah akibat serangan granat pemuda Surabaya.

Sebagai Panglima AFNEI, Christison memerintahkan rakyat Surabaya untuk menyerah, jika tidak mereka akan dihancur leburkan (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Ancaman pihak sekutu dijawab oleh Kontak Biro Indonesia yang menyatakan bahwa penyebab kematian Mallaby adalah kecelakaan, tidak dapat dipastikan apakah kematiannya karena tembakan rakyat atau tembakan tentaranya sendiri (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Paska tewasnya Brigjen Mallaby, Inggris menambah pasukan baru yang dipimpin oleh Mayor Jenderal E.C Mansergh.

Pada tanggal 7 November, Mansergh mengirim surat kepada Gubernur Soeryo bahwa sang gubernur tidak mampu menguasai keadaan, seluruh kota Surabaya sudah dikuasai para perampok (Nasution: 1977).

Kemudian tanggal 8 November, dia mengirim surat kedua yang berisi ancaman dari pihak sekutu untuk menghancur leburkan seluruh Surabaya.

Gubernur Soeryo membalas surat-surat pimpinan tentara sekutu itu pada tanggal 9 November, namun surat-surat itu tidak pernah sampai.

Merasa tidak mendapat tanggapan, pihak sekutu memberi ultimatum terkahir yang memberi perintah kepada orang-orang Indonesia untuk meletakkan bendera merah putih di atas tanah dan para pemuda harus menghadap kepada sekutu dengan “angkat tangan” dan dituntut untuk bersedia menandatangani surat menyerah tanpa syarat.

Mansergh memerintahkan supaya wanita dan anak-anak untuk pergi meninggalkan kota sebelum pukul 19.00 WIB malam itu. Bagi siapa yang masih menyimpan senjata sesudah pukul 06.00 pada tanggal 10 November 1945 diancam dengan hukuman mati (Imran, dkk:2012).

Ultimatum sekutu tersebut sangat menusuk perasaan rakyat (Kartasasmita: 1995). Bagi rakyat Surabaya, ultimatum itu adalah sebuah penghinaan terhadap martabat dan harga diri bangsa Indonesia (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Dalam menghadapi ultimatum itu, terjadi perdebatan antara pemimpin dan pihak pemuda. Hasilnya bahwa para pemuda memutuskan menolak ultimatum yang sangat menghina tersebut.

Rakyat Surabaya sama sekali tidak takut terhadap ultimatum sekutu maka pecahlah Pertempuran Surabaya (Imran, dkk:2012) (Kartasasmita, 1995).

Gubernur Soerjo mengumumkan reaksi Arek-arek Surabaya itu melalui radio pada pukul 23.00 malam.

Puncak Pertempuran Surabaya

Ternyata ultimatum itu bukanlah isapan jempol belaka.

Tanggal 10 November 1945 tepat pukul 06.00 WIB, Inggris mulai melakukan serangan terhadap kota Surabaya.

Serangan diawali dengan serangan udara yang menyasar gedung-gedung pemerintahan Surabaya.

Gempuran juga dilakukan oleh sejumlah kapal perang dari arah laut yang mengempur kota Surabaya tiada henti.

Selanjutnya Inggris mengerahkan sekitar 30.000 infanteri dan tank menyusuri kota Surabaya untuk menghabisi tentara republik dan pemuda Surabaya.

Namun serangan itu tidak membuat gentar nyali pejuang dan rakyat Surabaya.

Di bawah pimpinan Soengkono sebagai Komandan pertahanan dan Soerachman sebagai Komanda Pertempuran mereka bahu membahu tiada takut menghadapi serbuan sekutu (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Dengan semboyan “Merdeka Atau Mati” setiap pemuda merangsek maju ke depan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ada yang hanya bersenjatakan belati dan batu menyerang Tank Sherman.

Namun ada juga pasukan yang lebih terlatih menyerang tentara sekutu menurut metode militer Jepang.

Perang Surabaya berkobar di segala penjuru kota. Ke mana pun pasukan sekutu bergerak, mereka menghadapi perlawanan rakyat yang menggelora.

Di balik jiwa-jiwa pemberani Arek-arek Surabaya terdapat pidato pidato Bung Tomo yang mengobarkan semangat rakyat perlawanan terhadap penyerbuan sekutu (Imran, dkk:2012).

peristiwa pertempuran surabaya 10 november 1945 (sumber : IWM)

Baca Juga : Biografi Bung Tomo Orator Penyemangat Perang Surabaya

Akhir Pertempuran Surabaya

Frank Palmos menulis dalam Surabaya 1945: Sakral Tanahku bahwa keterlibatan Inggris di Indonesia pasca menyerahnya Jepang adalah sebuah “kecelakaan”.

Hal tersebut terjadi karena mereka meremehkan daya juang orang-orang Indonesia.

Inggris awalnya menyangka bisa menaklukan kota Surabaya dalam 3 hari.

Namun perkiraan itu hanya sikap jumawa Inggris. Sebagai pemenang perang dunia 2, mereka berfikir akan dengan mudah memenangkan pertempuran Surabaya.

Sikap meremehkan itu ada karena informasi yang keliru dari pihak intelijen Belanda soal kondisi di Indonesia pasca berakhirnya Perang Dunia II.

Letnan Kolonel A.J.F. Doulton dalam buku The Fighting Cock, Being the Story of the 23rd Indian Division 1942-1947 menggambarkan bahwa sesungguhnya tentara Inggris sudah lelah berperang namun dipaksa harus menghadapi orang-orang Indonesia dengan semangat juang yang mematikan.

“Kami seolah harus memasuki sebuah gudang mesiu yang siap meledak,” ujar Doulton.

Sejak hari Minggu, 2 Desember 1945 militer Inggris menghentikan aksi bombardir dan penembakan artileri.

Namun, perang Surabaya belum sepenuhnya usai.

Meskipun sebagian besar pejuang Indonesia sudah mundur ke area-area di sekitar Surabaya, namun kondisi keamanan di kota Surabaya belum benar-benar pulih.

Para pejuang masih sering ke luar masuk kota Surabaya untuk melakukan serangan sporadis kepada tentara Ingggris.

Dari atas gedung-gedung, banyak para pejuang Indonesia menembaki konvoi pasukan tentara Inggris.

Selain itu, para pemuda dari kesatuan-kesatuan PRI (Pemoeda Republik Indonesia) melakukan gerilya kota secara sporadis meskipun nyaris tidak disertai koordinasi dengan pasukan Indonesia lainnya.

Paska pertempuran Surabaya, sedikitnya 6000 orang rakyat Surabaya yang gugur dan sisanya mengungsi (Imran, dkk:2012).

Menurut pendapat Frank Palmos bahwa sekitar 15 ribu orang Indonesia meninggal akibat aksi militer tentara Inggris tersebut.

Dari pihak Inggris sendiri diperkirakan 1200 prajurit gugur (termasuk dua jenderal) dan ratusan lainnya hilang atau membelot ke kubu Indonesia.

Dalam catatan pihak Inggris sendiri, Pertempuran Surabaya dianggap sebagai pertempuran terberat pasca Perang Dunia II.

Surat kabar New York Times edisi 15 November 1945 memberitakan, para tentara Inggris menjuluki “The Battle of Soerabaja” sebagai inferno atau neraka di timur Jawa.

Pihak Inggris tidak ingin berlama lama terjebak dalam situasi perang yang tidak menguntungkan.

Pada 15 November 1946, Lord Killearn, Komisioner Istimewa di Asia Tenggara (1946-1948) dengan tugas khusus menangani persoalan-persoalan Inggris di Indonesia, menulis di buku hariannya bahwa membiarkan tentara Inggris berada lebih lama di Indonesia adalah sebuah tindakan bunuh diri.

“Jalan bijak yang harus kita ambil adalah meninggalkan tempat itu secepat mungkin,” tulis Killearn seperti dikutip Palmos.

Tentara sekutu asal British India berlindung di balik Tank dalam pertempuran Surabaya (sumber : IWM/wikimedia commons)

Tokoh Pertempuran Surabaya

Pertempuran Surabaya adalah perang yang melibatkan seluruh rakyat dari segala lapisan dan kalangan.

Tokoh yang terlibat dalam pertempuran Surabaya berasal dari berbagai kalangan mulai kalangan militer, kalangan agama, wartawan, sampai rakyat jelata.

Di bawah ini adalah beberapa tokoh-tokoh pertempuran Surabaya 10 November 1945. Di Luar mereka ada ribuan rakyat Surabaya yang gugur di pertempuran yang heroik itu.

Mayor Jenderal Yono Sewoyo

Mayor Jenderal Yono Sewoyo adalah Komandan Divisi TKR Jawa Timur yang saat itu mengeluarkan perintah perang kepada seluruh badan perjuangan, polisi dan TKR untuk melawan tentara sekutu.

Muhammad Mangoendiprodjo

Pada tanggal 29 Oktober 1945, pimpinan Sekutu berunding dengan Bung Hatta untuk membicarakan gencatan senjata.

Di perundingan itu, Jenderal Oerip Soemohardjo mengangkat Muhammad Mangundiprojo menjadi pimpinan TKR Divisi Jawa Timur dan bertugas melakukan kontak biro dengan pasukan Sekutu.

Di hari yang sama, pada sore harinya, beliau dan Brigadir Mallaby berpatroli bersama untuk memantau kemajuan gencatan senjata.

Sementara itu di dalam Gedung Internatio di Jembatan Merah, tentara Inggris dari kesatuan Gurkha sedang dikepung oleh pemuda-pemuda Indonesia untuk diminta menyerah.

Mengetahui hal itu, rombongan patroli pun berhenti untuk menyelesaikan persoalan.

Muhammad Mangundiprojo masuk ke dalam gedung untuk melakukan negosiasi dengan pasukan Inggris tersebut.

Namun, pasukan Gurkha itu malah menyandera Muhammad Mangundiprojo.

Maka melestuslah pertempuran antara tentara Gurkha dan pemuda Surabaya. Mallaby tewas dalam mobilnya yang meledak dan terbakar.

Paska selesainya pertempuran Surabaya, Presiden Soekarno mempromosikan Muhammad Mangundiprojo menjadi Mayor Jenderal.

Mayor Jenderal TKR Mustopo

Mayor Jenderal TKR Mustopo sebagai komandan sektor perlawanan Surabaya adalah pemimpin pemuda bersama 20.000 kekuatan prajurit TKR dan 120.000 kelompok pemuda bersenjata bersatu dalam melakukan penyerangan kamp Belanda dan sekutu pada sore hari di tanggal 28 Oktober 1945 (Imran, dkk: 2012).

Soengkono

Soengkono adalah Komandan Pertahanan dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Soerachman

Soerachman adalah Komandan Pertempuran dalam perang Surabaya 10 November 1945. Beliau adalah tokok pertempuran Surabaya yang berjuang di garis depan peperangan.

Hariyono dan Koesno Wibowo

Hariyono dan Kusno Wibowo adalah tokoh pemuda yang berhasil menurunkan bendera Belanda, mereka merobek bagian birunya, dan mengerek kembali Bendera yang kini berwarna Merah Putih.

Bung Tomo

Bung Tomo adalah tokoh pertempuran Surabaya yang paling dikenal publik.

Orasinya melalui Radio Pemberontak mengobarkan semangat arek-arek Surabaya dalam perang Surabaya yang sangat dahsyat.

Baca selengkapnya : Biografi Bung Tomo

KH. Hasyim Asy’ari

Selain dari kalangan militer, tokoh pertempuran Surabaya juga berasal dari kalangan Islam. Diantaranya datang dari Nahdlatul Ulama (NU).

Peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam pertempuran Surabaya sangat besar.

Setelah menerima utusan dari Presiden Soekarno, Rais Akbar K.H. Hasyim Asy’ari setelah berunding dengan berbagai ulama di Jawa dan Madura mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 (sumber).

Resolusi jihad menjadi salah satu faktor pemicu semangat kebangsaan membela negara. Dalam hal ini terjadi hubungan agama dengan nasionalisme. Peran kiai dan santri amat besar.

R.M.T.A Suryo

R.M.T.A Suryo adalah gubernur Jawa Timur yang dengan tegas menyatakan enggan menerima kedatangan tentara sekutu (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Gubernur Soerjo adalah tokoh yang mengumumkan reaksi Arek-arek Surabaya menolak ultimatum tentara Inggris melalui radio pada pukul 23.00 malam, 9 November 1945.

Jenderal DC. Hawntorn

Jenderal DC Hawthorn adalah komandan tentara sekutu divisi India ke-2 pada waktu perang dunia 2.

Saat tentara sekutu memasuki Indonesia, Mayjen DC Hawthorn adalah Panglima tentara Inggris yang membawahi wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok.

Saat terjadi ketegangan antara pasukan Inggris dan rakyat Surabaya, Jenderal DC. Hawntorn meminta Presiden Soekarno untuk menyerukan penghentian  pertentangan antara pemuda dan sekutu  (Imran, dkk: 2012).

Letnan Jenderal Sir Philip Christison

Letnan Jenderal Sir Philip Christison adalah Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) yang membawahi wilayah Jakarta, Surabaya, dan Sumatera.

Brigadir Jenderal Mallaby

Brigadir Jenderal Mallaby adalah komandan brigade 49 tentara sekutu yang mendarat di Surabaya.

Pada tanggal 31 Oktober 1945, Brigadir Mallaby tewas dalam suatu kontak dengan pemuda Surabaya.

Tewasnya Mallaby adalah salah satu penyebab utama pertempuran Surabaya.

Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh

Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh adalah komandan tentara Inggris di Surabaya pengganti Brigjen Mallaby.

Mansergh adalah Jenderal yang mengeluarkan ultimatum bagi seluruh rakyat Surabaya untuk menyerah.

Namun, ultimatum ini dianggap sebagai sebuah penghinaan bagi kedaulatan Indonesia.

Dengan ditolaknya ultimatum ini, meletuslah pertempuran Surabaya.

Arti Penting Pertempuran Surabaya

Arti penting perang di Surabaya ini adalah memberikan bukti kepada dunia internasional bahwa keinginan untuk merdeka adalah keinginan seluruh rakyat bukan sebuah gerakan pengacau keamanan.

Perang Surabaya juga memberikan inspirasi bagi para pejuang di berbagai wilayah Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap sekutu.

Demikian artikel kami tentang sejarah peristiwa pertempuran Surabaya. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring