Tips Membuat Perencanaan Keuangan Keluarga

Gambaran perencanaan keuangan keluarga

Anggaran yang dialokasikan pada pos-pos pengeluaran secara ideal dan realistis adalah fondasi dari sebuah Perencanaan keuangan keluarga yang baik

Tips Membuat Perencanaan Keuangan Keluarga – Mengatur keuangan keluarga adalah sesuatu hal yang wajib. Jika tidak dilakukan dengan baik bisa menjadi biang masalah-masalah keluarga kedepannya. Bukan rahasia lagi, banyak keluarga hancur dipicu amburadulnya kondisi keuangan keluarganya. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap keluarga untuk menerapkan cara mengatur keuangan keluarga yang terencana sejak awal.

Keuangan rumah tangga yang baik tidak boleh “lebih besar pasak daripada tiang”. Oleh karena itu baik suami maupun istri harus sama-sama memiliki komitmen yang sama untuk mengusahakan keluarganya memiliki keuangan yang baik. Mereka harus komit dan disiplin terhadap perencanaan keuangan keluarga yang sudah disepakati bersama.

Di Artikel ini kami akan uraikan secara rinci bagaimana menyusun perencanaan keuangan keluarga supaya bisa diterapkan secara mudah. Artikel dibuat dengan penyesuaian-penyesuaian dari sumber yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa keuangan republik Indonesia.

A. Mengenal Perencanaan Keuangan Keluarga

Perencanaan keuangan yang tersusun secara baik adalah kunci sukses mengatur keuangan keluarga. Sebuah keluarga tidak bisa serampangan mengelola keuangan rumah tangganya. Bagaimana mengatur gaji supaya cukup hingga akhir bulan? Bagaimana merencanakan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer atau sekunder? Dan bagaimana menyusun anggaran untuk kebutuhan-kebutuhan di masa depan? Semuanya harus disusun secara baik, mulai dari sumber dananya, kapan ingin dicapai, sampai solusi-solusi apa yang dibutuhkan untuk mencapainya.

A.1 Mengapa Kita Perlu Perencanaan keuangan Keluarga?

Untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan, kita perlu membuat perencanaan. Tanpa disadari, setiap orang pasti pernah berencana untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Misalnya, anak pertama Anda sudah menginjak masa sekolah. Sebagai orang tua, Anda pasti akan mencari sekolah mana yang cocok untuk anak Anda. Di tahap ini, akan muncul biaya-biaya yang dibutuhkan misalnya biaya pendaftaran, biaya seragam sekolah, biaya buku pelajaran dan lain-lain.

Tanpa perencanaan keuangan yang telah tersusun sebelumnya, Anda bisa-bisa kaget dengan banyaknya biaya-biaya yang harus dikeluarkan. Di sisi lain, pendidikan anak adalah sebuah kebutuhan mendasar yang harus terpenuhi. Pada situasi ini, Anda mungkin akan terjebak untuk mengambil hutang.

Dengan perencanaan keuangan keluarga yang sudah tersusun sebelumnya, kejadian-kejadian seperti ini diharapkan tidak terjadi. Kebutuhan-kebutuhan di masa depan yang sudah terprediksi harus dimasukkan ke dalam anggaran keuangan keluarga. Bahkan kebutuhan-kebutuhan masa depan yang tidak bisa diprediksi pun wajib dimasukan saat menyusun anggaran keuangan. kebutuhan seperti ini bisa dimasukkan ke dalam pos anggaran darurat.

A.2 Apa itu Perencanaan Keuangan Keluarga?

Perencanaan keuangan adalah suatu seni pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh individu atau keluarga untuk mencapai tujuan finansial yang diinginkan. Perencanaan keuangan keluarga harus disusun secara efektif, efisien, dan bermanfaat, sehingga keluarga tersebut bisa mencapai tujuannya yaitu menjadi keluarga yang sejahtera.

Secara umum, aktivitas yang dilakukan dalam merencanakan keuangan sebuah keluarga adalah mengelola penghasilan/pendapatan disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan jangka pendek, jangka menengah, atau jangka penjang. (baca juga : Tips mengelola gaji untuk memenuhi kebutuhan keluarga).

Pendapatan/penghasilan bisa berupa gaji atau bagian laba dari usaha-usaha rumah tangga yang dikelola. Misalnya, Anda mengelola sebuah rumah kost, maka ada suatu bagian tertentu yang disisihkan sebagai insentif jerih payah Anda mengelolanya. Sebagian besar sisanya, dibiarkan sebagai neraca keuangan yang terpisah dari keuangan keluarga.

Kebutuhan jangka pendek terdiri atas pengeluaran- pengeluaran yang dikeluarkan secara rutin. kebutuhan ini adalah kebutuhan primer/pokok. Contoh kebutuhan jangka pendek antara lain biaya dapur, biaya cicilan motor, biaya pulsa telepon genggam, uang saku anak, dan lain-lain. Sedangkan kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang terdiri atas pengeluaran-pengeluaran yang sengaja dialokasikan untuk keperluan di masa depan. Contoh kebutuhan di masa depan antara lain biaya pendidikan anak hingga tamat sekolah, biaya pernikahan anak, dan biaya pensiun.

Kebutuhan-kebutuhan atau biaya hidup di masa depan hampir bisa dipastikan akan ada namun penghasilan di masa depan tidak dapat dipastikan. Setiap manusia memiliki risiko tertimpa musibah seperti sakit berkepanjangan, kecelakaan, dipecat dari pekerjaan, kebangkrutan dan kematian. Risiko-risiko tersebut dapat mengganggu perolehan penghasilan di masa depan.

Baca Juga :  12 Tips Atur Keuangan Rumah Tangga bagi Pengantin Baru

Kita tidak dapat memastikan kapan waktunya risiko-risiko tersebut akan datang. Oleh karena itu perencanaan keuangan keluarga perlu disusun secepatnya bahkan sejak pengantin baru. Dengan demikian tidak akan ada rasa kaget saat risiko buruk menimpa. (Baca juga : Tips mengatur keuangan keluarga untuk pengantin baru).

A.3 Bagaimana cara Merencanakan Keuangan Keluarga?

Dalam artikel ini kami akan menjelaskan bagaimana cara menyusun perencanaan keuangan keluarga secara sederhana namun terperinci. Berikut langkah- langkah yang diperlukan untuk menyusun perencanaan keuangan keluarga :

A. 3.1. Kenali Kondisi Keuangan

Pertama-tama Anda harus mendata apa-apa saja yang dimiliki oleh keluarga Anda. Ada harus memasukan semua harta Anda ke dalam tabel secara terperinci. Misalnya : rumah tinggal, tabungan, toko, perhiasan, dan lainnya. Namun, tidak semua barang berharga dicatat ke dalam tabel, hanya barang berharga yang memiliki potensi nilai besar untuk dijual di masa depan. Sebagai contoh: HP, radio dan televisi tidak perlu dimasukkan ke dalam tabel. barang-barang seperti ini nilainya di masa depan tidak akan besar lagi.

Hutang adalah semua kewajiban yang harus dibayar. Hutang bisa berupa pinjaman uang ataupun kredit pembelian barang, seperti : hutang cicilan motor, mobil, cicilan rumah dan lain-lain.

Setelah data kekayaan tersusun, Anda bisa melakukan penilaian terhadap kondisi keuangan keluarga Anda terkini. Apabila total harta yang dimiliki lebih besar dibandingkan total hutang, maka kondisi keuangan keluarga adalah baik. Namun jika total harta lebih kecil dibandingkan total hutang, maka kondisi keuangan keluarga buruk.

Dari sini Anda akan memiliki gambaran awal bagaimana menyusun perencanaan keuangan. Misalnya, apabila total kekayaan keluarga bernilai negatif, maka Anda perlu memikirkan solusi untuk mengatasinya. Dan masukkan solusi mengatasi hutang keluarga dalam tujuan keuangan keluarga.

A.3.2 Tentukan Keinginan

Buat data seluruh keinginan atau mimpi yang ingin Anda capai untuk keluarga Anda. Mulai dari jangka pendek sampai jangka panjang. Apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan semua impaian itu? DANA. Maka, untuk setiap impian, Anda harus mencantumkan kemungkinan kebutuhan biaya disertai target jangka waktu yang diperlukan untuk mewujudkannya.

A.3.3 tentukan Skala Prioritas Pengeluaran

Dalam menyusun daftar pengeluaran, Anda harus memiliki skala prioritas. Misalnya kebutuhan dapur, pembayaran cicilan rutin, biaya sekolah anak, membeli mobil, membangun rumah dan lain-lain memiliki skala prioritas berbeda dan priode pengeluaran berbeda. (Baca juga cara mengelola keuangan rumah tangga agar stabil untuk jangka panjang).

B. Evaluasi Kesehatan Keuangan Keluarga

Sebelum menyusun perencanaan keuangan keluarga, satu hal yang paling penting adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kesehatan keuangan terkini. Dengan data-data hasil evaluasi, maka Anda bisa menyusun perencanaan yang masuk akal disesuaikan dengan situasi dan kondisi keuangan yang ada.

B.1 Sangat Penting Memiliki Keuangan Rumah Tangga yang Sehat

Keuangan keluarga harus dijaga selalu sehat. Karena dengan kondisi keuangan yang sehat akan lebih mudah untuk mencapai tujuan-tujuan keluarga ke depannya.

Untuk mengetahui sehat atau tidaknya keuangan keluarga maka seharusnya dilakukan pemeriksaan/audit secara rutin. Tujuannya, mendapatkan informasi menyeluruh mengenai kondisi keuangan; apakah terdapat masalah keuangan yang diam-diam tidak disadari, mendeteksi adanya potensi masalah atau sekadar memastikan kualitas kesehatan keuangan.

Intinya, dari pemeriksaan ini, bisa diambil tindakan lebih lanjut guna memperbaiki kondisi yang ada serta meningkatkan kualitasnya di masa depan.

Mungkin Anda pernah mendengar teman, saudara atau bahkan Anda sendiri mengalami kondisi-kondisi berikut :

  • Pengeluaran lebih besar dari pendapatan atau “besar pasak daripada tiang”
  • Penghasilan selalu habis untuk bayar hutang
  • Bekerja bertahun-tahun namun tidak mempunyai tabungan
  • Mengambil hutang baru untuk menutup utang lama atau “gali lubang tutup lubang”
  • Sering terpaksa mengambil hutang ketika ada kebutuhan mendadak

Jika Anda pernah mengalami salah satu kondisi di atas, maka ada kemungkinan keuangan Anda saat ini tergolong kurang sehat.

B.2 Lakukan Audit Kondisi Keuangan keluarga

Melakukan pemeriksaan kondisi keuangan atau audit menyeluruh ini sangat penting dilakukan antara lain untuk :

  • Mencari apakah ada masalah keuangan yang tanpa disadari.
  • Memastikan kondisi keuangan tetap aman meskipun terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak terduga.
  • Mencari tahu apakah keuangan keluarga sudah terlindungi atau belum jika terjadi musibah mendadak.
  • Mengukur apakah tujuan-tujuan keluarga bisa diwujudkan dengan kondisi keuangan saat ini.

Berikut ini adalah beberapa ukuran yang dapat memastikan apakah kondisi keuangan Anda tergolong sehat atau tidak sehat.

IndikatorSehatTidak Sehat
Jumlah Uang TunaiJumlahnya 4 x pengeluaran
rutin bulanan
atau bahkan
lebih.
kurang
dari 4 x pengeluaran
rutin
Jumlah Cicilan Hutang per bulanmaksimal 30% dari
penghasilan
bulanan.
Lebih besar
dari 30% dari penghasilan
setiap bulan
Kebiasaan menabungSetidaknya
10% dari
penghasilan
bulanan.
Kurang dari
10% atas
penghasilan
bulanan atau
bahkan tidak
punya sisa
setiap akhir
bulan.

B.3 Cara Memeriksa Kesehatan Keuangan Keluarga

Memeriksa kesehatan keuangan keluarga sebaiknya dilakukan secara rutin, minimal satu tahun sekali atau jika terjadi perubahan besar dalam kehidupan, seperti meninggalnya pencari penghasilan, kelahiran anak, pernikahan atau perceraian, atau sekedar terjadinya kenaikan penghasilan dalam rumah tangga.

Supaya pemeriksaan keuangan ini mendapatkan hasil yang baik, berikut langkah-langkah yang harus dilakukan :

Baca Juga :  Lakukan 4 Langkah Ini Untuk Memiliki Keuangan Sehat

1.Buat catatan harta dan hutang

Lakukan hal ini bersama pasangan, selalu diskusi dan komunikasi. Catatan harta dan hutang akan memberikan gambaran tentang kondisi keuangan saat ini dan membantu mengukur perkembangan keuangan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai di masa depan.

2.Buat catatan penghasilan dan pengeluaran

Catat secara terperinci berapa penghasilan keluarga dan berapa pengeluaran keluarga setiap bulan. Berapa gaji suami, gaji istri, penghasilan lain-lain semuanya harus dicatat. Berapa uang yang dipakai untuk belanja harian, berapa uang yang dipakai untuk bayar listrik setiap bulan, membeli susu anak dan popok, serta membayar uang sekolah, juga dicatat terperinci. Oleh sebab itu, pastikan baik suami mau pun isteri sama-sama mengisi catatan penghasilan dan pengeluaran setiap bulan.

3. Cara menghitung kapastitas keuangan keluarga

Pada bagian ini, Anda akan mulai menghitung dan mencari tahu bagaimana kemampuan keuangan keluarga Anda dalam menopang kebutuhan-kebutuhan yang ada. Pada umumnya, ada 3 kondisi yang dihitung, yaitu :

a. Perbandingan Jumlah Uang Tunai dengan Pengeluaran Rutin

idealnya, setiap keluarga mempunyai ukuran uang tunai sebanyak minimal 3 kali jumlah pengeluaran rutinnya. Sehingga, jika tiba-tiba mengalami kehilangan pemasukan uang, misalnya, tiba-tiba terkena pemutusan hubungan kerja, atau sakit, maka tagihan-tagihan yang harus dibayar masih bisa dilunasi.

Ukuran uang tunai adalah (jumlah uang tunai ditambah tabungan yang dimiliki) dibagi dengan (Total pengeluaran dikurangi uang yang ditabung setiap bulannya).

Ukuran Uang Tunai = (Uang tunai +Tabungan)/(Total Pengeluaran Rutin – pengeluaran tabungan tiap bulan)

Angka ukuran uang tunai menggambarkan kapasitas keuangan sebuah keluarga untuk membiayai pengeluaran bulanan. Misalnya, angka ukuran tunai sebesar 2 berarti uang tunai yang dimiliki mampu membiayai 2 bulan pengeluaran. Ukuran uang tunai sebesar 4, berarti uang tunai yang dimiliki dapat memenuhi pengeluaran selama 4 bulan.

Ukuran uang tunai sehat adalah 4. Jika nilai ukuran uang tunai dibawah 4, maka dapat dikatakan tidak sehat.

b. Perbandingan Jumlah Cicilan Hutang dengan Penghasilan

Maksimal Anda bisa mengunakan 30 % atau 1/3 dari penghasilan untuk membayar hutang. Jika Anda menggunakan lebih dari itu, maka kondisi keuangan keluarga Anda bisa dikatakan buruk.

Persentase Cicilan =(Jumlah Cicilan Hutang per bulan)/Penghasilan Rutin per bulan =…%

c. Bandingkan Jumlah Uang yang Ditabung dengan Penghasilan

Menabung sangat penting baik sebagai investasi atau sekedar dana cadangan di masa depan. Berapa pun jumlah penghasilan Anda, menabung harus dilakukan. Meskipun jumlahnya tentu disesuaikan.

persentase Menabung =(Jumlah Uang yang Ditabung per bulan)/Penghasilan Rutin per bulan =…%

Dari angka ukuran menabung dapat diketahui berapa persen penghasilan yang digunakan untuk menabung. Misalnya, angka ukuran menabung 8% berarti uang yang disisihkan untuk menabung setiap bulannya adalah sebesar 8% dari penghasilan.

Angka ukuran menabung yang sehat adalah 10%, hal tersebut berarti paling sedikit kita menabung sebesar 10% dari penghasilan rutin per bulan.

4.Evaluasi kesehatan keuangan keluarga

Setelah mengetahui angka-angka yang menggambarkan kapasitas/kemampuan keuangan keluarga Anda, maka tahap selanjutnya adalah melakukan evaluasi. Jika kondisi keuangan keluarga Anda tidak sehat, segeralah mengambil tindakan untuk menyehatkan dompet Anda. (baca juga : Lakukan hal-hal berikut untuk memiliki keuangan keluarga yang sehat).

Berikut adalah beberapa solusi untuk mengatasi keuangan keluarga yang tidak sehat.

b.5 Solusi Untuk Mengatasi Keuangan Keluarga Yang Tidak Sehat

Masalah yang umum adalah kurangnya atau tidak adanya uang tunai siap pakai, cicilan hutang yang terlalu besar dibandingkan penghasilan, serta tidak memiliki kebiasaan untuk menyisihkan penghasilan untuk ditabung. Berikut ini solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

1. Solusi Tidak Punya Uang Tunai dan Susah Menabung

Penyebab utama tidak tersedianya uang tunai adalah karena tidak memiliki kebiasaan menyisihkan pendapatan yang diterima. Seharusnya, tabungan untuk dana cadangan harus selalu dialokasikan dalam anggaran keuangan keluarga bulanan tiap keluarga.

Solusi untuk mengatasi tidak tersedianya uang tunai adalah :

  • Bangun kebiasaan untuk mengalokasikan dana cadangan dalam bentuk uang tunai.
  • Simpan dana cadangan dalam rekening terpisah, tanpa ATM supaya tidak selalu diambil sewaktu-waktu.

2. Solusi mengatasi Utang

Jika suatu keluarga tidak mempunyai anggaran keuangan yang terencana, sering terjadi pengeluaran yang tidak terkontrol. Terkadang, ada pengeluaran terhadap barang-barang yang tidak diperlukan bahkan dengan harga yang melebihi kemampuan. Akhirnya, membeli dengan cara berhutang.

Hutang sebenarnya tidaklah selalu buruk. Namun usahakan untuk mengambil opsi ini sebagai pilihan terkahir, atau hanya berhutang untuk hal-hal yang produktif. Jika berutang akhirnya terpaksa dilakukan, maka berikut ini adalah cara pengelolaan utang yang baik.

Solusi :

  • Hanya berhutang untuk kebutuhan yang penting atau produktif, misalnya membeli rumah tinggal atau modal usaha.
  • Jangan berhutang pada rentenir atau koperasi berkedok rentenir. Pinjamlah uang di Bank atau lembaga pembiayaan seperti leasing untuk mendapatkan kredit murah.
  • Jika penghasilan Anda kurang dari Rp. 3 juta per bulan jangan menggunakan kartu kredit untuk memenuhi pengeluaran Anda.
  • Jika Anda menggunakan kartu kredit, selalu bayar tagihan kartu kredit setiap bulan dengan cara langsung lunas. (Baca juga : Kelebihan transaksi dengan kartu kredit dibandingkan dengan uang tunai)
  • Jika terlilit hutang, jual segera barang yang Anda beli dengan berhutang dan lunasi utang tersebut.

C. Anggaran Adalah Kunci Sukses Perencanaan Keuangan Keluarga

Tahapan penting dalam perencanaan keuangan keluarga adalah penyusunan anggaran rumah tangga. Penyusunan anggaran keuangan rumah tangga adalah inti dari cara mengelola keuangan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan saat ini dan kebutuhan di masa depan. (baca juga kunci sukses mengelola keuangan keluarga).

Baca Juga :  7 Cara mengatur Keuangan Rumah Tangga untuk Jangka Panjang

Anggaran keuangan keluarga harus disusun sehat dan masuk akal. Pos-pos anggaran pemasukan harus sama bila perlu lebih besar dari pada pos pengeluaran. Jangan sampai menyusun anggaran keuangan keluarga yang defisit, lebih besar pengeluaran dari pada pemasukan.

C.1 Apa itu Anggaran Keuangan keluarga?

Anggaran keuangan keluarga adalah suatu susunan rencana yang berisi rincian pemasukan-pemasukan keluarga dan pos-pos pengeluaran di masa depan. Anggaran keuangan keluarga biasanya dibuat bulanan.

Contoh anggaran keuangan keluarga sederhana adalah susunan rencana pos-pos pengeluaran yang membagi penghasilan keluarga dalam 1 bulan.

Ada dua bagian besar dalam anggaran keuangan keluarga, yaitu pemasukan dan pengeluaran. contohnya :

 pemasukanpengeluaran
rutinGaji, Penghasilan bunga tabungan, dllbiaya hidup bulanan, biaya sekolah anak, biaya listrik dll
tidak rutinPendapatan usaha, THR, Bonus, Komisipajak, biaya uang pangkal sekolah, dll

Pemasukan ada 2 jenis, yaitu pemasukan rutin dan pemasukan tidak rutin. Pemasukan rutin, misalnya gaji, hasil sewa dan lain-lain. Sedangkan pemasukan tidak rutin, misalnya bonus, pendapatan usaha, THR, hasil keuntungan usaha dan lain-lain.

Pengeluaran juga ada 2 jenis, yaitu pengeluaran rutin dan tidak rutin. Pengeluaran rutin adalah biaya yang pasti dikeluarkan setiap bulannya dan umumnya bersifat tetap. Sedangkan pengeluaran tidak rutin adalah dana kas yang hanya dikeluarkan dalam periode tertentu.

C.2 Manfaat Membuat Anggaran

Berikut adalah manfaat membuat anggaran keuangan keluarga :

  • Kita bisa mengetahui secara rinci arus keluar masuk keuangan keluarga, sehingga bisa melakukan evaluasi di bulan berikutnya untuk menyusun pos pengeluaran yang ideal.
  • Pengeluaran akan terkontrol karena sudah dipandu oleh alokasi keuangan yang sudah terencana sebelumnya, sehingga akan semakin mudah menuju keuangan keluarga yang sehat.

Ada beberapa hal yang penting yang harus diperhatikan saat penyusunan anggaran keuangan rumah tangga :

  • Anda harus memiliki impian yang mempunyai target pencapaian yang jelas. Dengan begini Anda akan termotivasi untuk disiplin dalam menerapkan anggaran yang telah dibuat.
  • Mimpi-mimpi seperti membeli rumah, membeli kendaraan, atau menyekolahkan anak setingi-tingginya, harus diwujudkan dengan cara mengalokasikan pos anggaran untuk tabungan atau investasi jangka panjang.
  • Prioritaskan anggaran yang sifatnya wajib, seperti membayar utang, biaya sekolah anak, menabung, investasi, dana darurat, dan lain-lain yang bersifat wajib, baru kebutuhan lainnya.
  • Jangan disetir oleh keinginan saat menyusun anggaran keuangan keluarga. Bedakan mana yang benar-benar kebutuhan mana yang keinginan.
  • Sesuaikan gaya hidup dengan pendapatan. Jangan menganggarkan dana terlalu besar untuk keperluan hiburan atau rekreasi.
  • Gunakan data dari realisasi anggaran bulan lalu. Buatlah anggaran keuangan keluarga secara sederhana, mudah dimengerti dan masuk akal. Artinya sesuaikan pendapatan dengan pengeluaran yang dianggarkan.
  • Jangan menyusun anggaran keuangan keluarga sendiri-sendiri. Komunikasi dengan pasangan atau anggota keluarga lain supaya mereka semua dapat memahami tujuan keuangan apa yang ingin dicapai melalui penerapan anggaran keuang secara disiplin.

C.3 Seperti Apa Anggaran yang Ideal?

Perencanaan keuangan keluarga yang tersusun baik tercermin dari alokasi dana yang ideal pada masing-masing pos. Anggaran keuangan keluarga harus disusun tepat guna, selalu prioritaskan kebutuhan yang lebih penting. Untuk menyusun anggaran keuangan keluarga yang tepat guna itu, Anda bisa mencoba formula 50/20/30 budget.

Berikut adalah contoh implementasinya :

  • 50% pemasukan dialokasikan untuk pengeluaran yang tidak bisa ditunda misalnya cicilan rumah, cicilan mobil atau pembayaran kredit lainnya. Biaya listrik, air dan lain-lain juga termasuk pos yang masuk kategori ini. Kebutuhan pokok keluarga seperti makan dan minum juga masuk di sini. Intinya 50% penghasilan dialokasikan untuk pos kebutuhan pokok sehari-hari.
  • 20% dialokasikan untuk tabungan dan investasi.
  • 30% untuk pemenuhan kebutuhan lain misalnya rekreasi, biaya pulsa smartphone, dan lain-lain. Ada baiknya jika anda juga menganggarkan dana darurat di kategori ini. Misalnya 10 persen dari keseluruhan anggaran anda masukan ke pos dana darurat.

C.4 Cara Membuat Anggaran Keuangan Keluarga

Contoh kasus bagaimana membuat anggaran keuangan keluarga adalah sebagai berikut :

Penghasilan keluarga dalam sebulan Rp. 3.5 juta dari gaji suami, dan Rp. 500 ribu dari keuntungan usaha rumahan istri. Sehingga, total penghasilan setiap bulan adalah Rp. 4 juta secara rata-rata. Maka, contoh anggaran keuangan rumah tangga bulanan yang baik menjadi seperti berikut ini.

Pos PengeluaranAlokasiAnggaran
Dana sosial (sedekah dll)5%200.000
Tabungan dan dana darurat10%400.000
Premi asuransi5%200.000
Cicilan pinjaman20%800.000
Investasi jangka panjang5%200.000
Biaya rumah tangga40%1.600.000
Kebutuhan anak dan Pendidikan anak10%400.000
Hiburan5%200.000

Dalam menyusun anggaran keuangan keluarga, pemasukan tidak boleh hanya dialokasikan untuk konsumsi semata. Anda harus mengalokasikan untuk pos tabungan, investasi, dan dana darurat. Hal ini penting karena Anda juga harus memperhitungkan kehidupan di masa depan. (baca juga begini cara alokasi gaji pada pos pengeluaran agar cukup sampai akhir bulan).

Penutup

Kunci sukses Perencanaan keuangan keluarga adalah komunikasi yang jujur dan terbuka, anggaran keuangan keluarga yang rapi, dan disiplin serta komitmen untuk menjalankannya.