Katamasa

18 Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Candi, Prasasti, Arca) + Gambar

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya sangat sedikit dibandingkan peninggalan kerajaan Medang di Jawa tengah.

Tapi jangan lupa, bahwa dinasti Sailendra penguasa Sriwijaya adalah juga penguasa Medang. Sehingga bisa dikatakan peninggalan-peninggalan kerajaan Medang adalah juga peninggalan-peninggalan Kerajaan sriwijaya.

Bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya terdiri dari bangunan, prasasti dan arca yang tersebar di tanah Sumatera, Thailand selatan, bahkan hingga India.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar luas adalah bukti kuatnya pengaruh kerajaan bercorak Budha ini di Asia Tenggara.

Baca juga : Kerajaan-kerajaan Budha di Indonesia

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berupa bangunan biasanya disebut biaro/candi.

Sedangkan arca-arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya dikenal sebagai arca bergaya Sailendra.

Arca bergaya Sailendra bisa ditemukan di Sumatera, Jawa Tengah (era Medang), dan Thailand.

Arca bergaya Sailendra/langgam sriwijaya dipengaruhi oleh gaya/langgam Amarawati, India.

Sampai saat ini ada 11 prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang sudah ditemukan.

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya berbahasa Melayu kuno.

Umumnya juga, prasasti peninggalan Sriwijaya ditulis dengan huruf pallawa.

Dalam artikel ini kita akan membahas bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, baik berupa bangunan/candi/biaro, prasasti atau pun arca.

Ringkasan Artikel

Sebelum membahas secara mendalam tentang apa saja peninggalan kerajaan Sriwijaya, di bawah ini adalah ringkasan artikel secara singkat.

Apa saja candi peninggalan kerajaan sriwijaya?

Candi peninggalan kerajaan sriwijaya yaitu candi Muara Takus, candi Muaro Jambi, dan candi Biaro Bahal

Apa saja prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya?

Prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya adalah prasasti kedukan bukit, prasasti talang tuo, prasasti kota kapur, prasasti telaga batu, prasasti palas pasemah, prasasti karang brahi, prasasti jabung, prasasti baturaja dll

Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya umumnya berbahasa?

Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya umumnya berbahasa Melayu kuno.

Apa saja prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya yang berisi kutukan?

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan adalah Prasasti Bom Baru, Prasasti Telaga Batu, Prasasti Baturaja, Prasasti Kota Kapur, Prasasti Karang Brahi, Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung.

Prasasti peninggalan Sriwijaya ditulis dengan huruf apa?

Umumnya prasasti peninggalan Sriwijaya ditulis dengan huruf pallawa.

Apa saja arca peninggalan kerajaan sriwijaya?

Arca peninggalan kerajaan sriwijaya misalnya arca budha bukit seguntang, arca avalokiteshwara, arca budha maitreya, arca torso bodhisattwa padmapani dll

Selamat membaca.

Candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berupa bangunan biasanya disebut biaro/candi.

Bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini tersebar di Sumatera, Jawa, Thailand, hingga India.

Di bawah ini adalah bangunan-bangunan yang diduga adalah candi peninggalan Kerajaan sriwijaya atau terkait dengan Kerajaan Sriwijaya dinasti Sailendra.

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : kemdikbud)

Situs Candi Muara Takus adalah situs yang terdiri dari beberapa buah candi bercorak Buddha.

Candi Muara Takus terletak di Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia.

Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di pulau Sumatra, dan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berupa bangunan candi di wilayah Riau.

Candi Muara Takus terbuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dibandingkan bangunan candi di pulau Jawa, yang terbuat dari batu andesit dari pegunungan.

Situs Candi Muara Takus dikelilingi tembok dengan ukuran 74 x 74 meter, dan tinggi ± 80 cm. Tembok keliling ini dibuat menggunakan batu putih.

Di sisi luar areal situs ada juga dari tanah dengan ukuran 1,5 x 1,5 kilometer. Tembok tanah ini dibuat di sekeliling areal percandian sampai tepi Sungai Kampar Kanan.

Para ahli sejarah belum bisa memastikan kapan situs candi Muara Takus ini dibuat.

Ada ahli yang berpendapat Candi ini dibuat pada abad ke-4, abad ke-7, abad ke-9 bahkan abad ke-11.

Namun, sebagian besar ahli sejarah sepakat bahwa Candi Muara Takus sudah berdiri saat zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya.

Beberapa ahli selanjutnya berpendapat bahwa kawasan Candi Muara Takus adalah salah satu pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya.

Bangunan utama di situs Candi Muara Takus adalah sebuah stupa besar, berbentuk menara. Stupa ini dibuat menggunakan batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning.

Di dalam areal kompleks situs Candi Muara Takus ini setidaknya terdapat 4 bangunan candi, yaitu Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka.

Di bawah ini adalah deskripsi singkat bangunan-bangunan yang ada di situs Candi Muara Takus :

Candi Mahligai

Candi Mahligai atau Stupa Mahligai adalah bangunan candi yang paling utuh di areal situs.

Stupa Mahligai adalag bangunan yang terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap.

Fondasi Stupa Mahligai berbentuk persegi panjang dengan ukuran 9,44 m x 10,6 m.

Pintu masuk Stupa terletak di sisi sebelah Selatan.

Bagian alas Stupa Mahligai dihiasi dengan ornamen lotus ganda, dan di bagian tengah berdiri sebuah menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk kelopak bunga pada bagian bawahnya.

Menurut Snitger, aslinya pada ke-empat sudut fondasi dihiasi 4 arca singa dengan posisi duduk yang dibuat menggunakan batu andesit.

Selain itu, menurut hasil penelitian Yzerman, aslinya pada bagian puncak menara terdapat batu berhiaskan lukisan daun oval dan relief-relief di sekelilingnya.

Candi Tua/Candi Sulung

Candi Tua atau Candi Sulung adalah bangunan candi terbesar di dalam areal situs Candi Muara Takus.

Candi Tua terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap.

Bagian kaki ada dua step. Bagian kaki pertama berukuran tinggi 2,37 m sedangkan bagian kaki kedua setinggi 1,98 m.

Tangga masuk ada di sisi Barat dan sisi Timur. tangga ini berhiaskan arca singa.

Bagian atas Candi Tua berbentuk bundaran. Bagian dalam Candi Tua ini tidak memiliki ruang kosong sama sekali.

Candi Tua/Sulung dibangun menggunakan batu bata. Di bagian sudut-sudut bangunan, pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas perbingkaian bawah kaki candi dengan tubuh kaki menggunakan batu pasir.

Candi Bungsu

Secara umum bentuk Candi Bungsu tidak jauh berbeda dibandingkan bentuk Candi Sulung.

Perbedaannya hanya di bagian atas Candi Bungsu berbentuk segi empat, sedangkan bagian atas Candi Sulung berbentuk bundaran.

Candi Bungsu berukuran 13,20 x 16,20 meter.

Candi Bungsu ini terletak di sebelah barat Stupa Mahligai.

Candi Palangka

Candi Palangka berada di sebelah timur Stupa Mahligai.

Candi Palangka berukuran 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar 2 m.

Candi Palangka dibuat menggunakan batu bata.

Peneliti menduga, pada masa lalu Candi Palangka adalah sebuah altar.

Candi Muaro Jambi

Candi Kedaton di Komplek Percandian Muaro Jambi, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : Kemdikbud)

Kompleks situs Muaro Jambi terletak di tepi Sungai Batang Hari, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia.

Kompleks situs Muaro Jambi seluas 3981 hektar, menjadikannya sebagai situs purbakala percandian bercorak Hindu-Buddha yang terluas di asia tenggara.

Kompleks situs Muaro Jambi terdiri dari setidaknya 110 candi.

Namun, sebagian besar peninggalan ini masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum diokupasi.

Pada tahun 1824, S.C. Crooke, seorang letnan Inggris melaporkan keberadaan Kompleks percandian Muaro Jambi.

Pemerintah Indonesia sendiri baru melakukan pemugaran secara serius situs Candi Muaro Jambi pada tahun 1975.

Sampai saat ini, baru ada 9 candi yang sudah dilakukan pemugaran.

9 Candi yang telah selesai dipugar adalah Candi Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong Satu, Candi Gedong Dua, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu, dan Candi Astano.

Para ahli memperkirakan Candi Muara Jambi dibangun pada abad 7 – 12 M.

Diperkirakan Candi Muara Jambi adalah bangunan peninggalan Kerajaan Sriwijaya atau Kerajaan Melayu.

Selain bangunan candi, kompleks situs Muaro Jambi juga dilengkapi kanal kuno, kolam penampungan air, dan gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno.

Candi Biaro Bahal

Candi Bahal, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :wikimedia commons)

Candi Bahal/Biaro Bahal/Candi Portibi adalah situs candi peninggalan Kerajaan sriwijaya yang bercorak Buddha aliran Vajrayana.

Situs Candi Bahal terletak di Desa Bahal, Kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara.

Bangunan ini dinamai Candi Bahal sesuai dengan nama desa tempat candi ini berdiri.

Diberi nama lain, yaitu Candi Portibi yang dalam bahasa Batak berarti ‘dunia’ atau ‘bumi’ yang merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta : Pertiwi (dewi Bumi).

Candi Bahal dibuat menggunakan batu bata merah.

Candi Bahal diduga adalah bangunan candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya, dari sekitar abad ke-11 Masehi.

Sebenarnya, lebih tepatnya Candi Bahal adalah peninggalan Kerajaan Pannai, salah satu bagian dari mandala Sriwijaya.

Candi Peninggalan Kerajaan sriwijaya ini terdiri dari 3 bangunan kuno yaitu Biaro Bahal I, II dan III.

Candi Bahal dibangun saling terkait satu sama lain dan terdiri dalam satu garis yang lurus.

Candi Bahal adalah satu bagian kecil dari kompleks candi-candi Padanglawas.

Kompleks Candi Padanglawas artinya candi-candi yang terletak di padang luas.

Candi-candi di Padanglawas, selain Candi Bahal adalah :

  1. Candi Pulo
  2. Candi Barumun
  3. Candi Singkilon
  4. Candi Sipamutung
  5. Candi Aloban
  6. Candi Rondaman Dolok
  7. Candi Bara
  8. Candi Magaledang
  9. Candi Sitopayan
  10. Candi Nagasaribu.

Candi Bahal 1

Candi/Biaro Bahal I adalah bangunan terbesar di antara yang lain.

Candi Bahal 1 berdiri areal seluas sekitar 3000 m².

Candi Bahal 1 dikelilingi pagar yang terbuat dari batu merah dengan tinggi 60 cm, ketebalan sekitar 1 m.

Bangunan utama Candi Bahal I berdiri di tengah halaman, menghadap ke arah gerbang.

Bagian kaki dihiasi ukirantokoh yaksa berkepala hewan, yang sedang menari-nari.

Peneliti akhirnya mengetahui bahwa ukiran tersebut adalah penari yang menggunakan topeng hewan, mirip dengan upacara di Tibet.

Candi Bahal 2

Candi Bahal II berdiri sekitar 300 meter dari Candi Bahal I.

Areal Candi Bahal II memiliki luas yang sama dibandingkan pelataran Candi Bahal I.

Candi Bahal 2 juga dikelilingi pagar dari batu bata.

Bangunan utama Candi Bahal II terbagi dari bagian tatakan, kaki, tubuh dan atap candi.

Di bagian tubuh Candi Bahal II terdapat ruangan kosong dengan ukuran sekitar 3 meter persegi, dengan tebal dinding sekitar 1 meter.

Di Candi Bahal II pernah ditemukan sebuah Arca Heruka.

Arca Heruka adalah Arca Demonis dari tokoh pantheon Agama Buddha aliran Mahayanan, sekte bajrayana atau tantrayana.

Digambarkan Heruka sedang menari di atas jenazah; tangan kanannya memegang tongkat.

Candi Bahal 3

Bentuk dan ukuran bangunan utama Candi Bahal 3 sangat mirip dengan bangunan utama Candi Bahal II.

Pintu masuk ke dalam ruangan dalam tubuh candi juga diletakkan di arah timur.

Bingkai pintu tidak dihiasi pahatan apa pun, namun sepanjang dinding tatakan dipahat dengan hiasan bermotif bunga.

Atap Candi Bahal III berbentuk limas dengan puncak berbentuk persegi empat.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya berbahasa Melayu kuno.

Umumnya juga, prasasti peninggalan Sriwijaya ditulis dengan huruf pallawa.

Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya berisikan beberapa informasi mengenai kerajaan ini.

Misalnya, tentang perjalanan Siddhayatra Dapunta Hyang, tentang penyerangan kerajaan lain, tentang pembangunan tempat ibadah, dan tentang kutukan.

Ada beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan.

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan adalah Prasasti Bom Baru, Prasasti Telaga Batu. Prasasti Baturaja, Prasasti Kota Kapur, Prasasti Karang Brahi, Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung.

Di bawah ini adalah prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya atau terkait dengan Kerajaan Sriwijaya dinasti Sailendra.

1. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya pertama yang akan kita bahas adalah Prasasti Kedukan Bukit.

Penemu Prasasti Kedukan Bukit adalah M. Batenburg.

Batenburg menemukan prasasti ini pada tanggal 29 November 1920.

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini kemudian dinamai Prasasti Kedukan Bukit sesuai dengan lokasi penemuannya, yaitu di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi.

Prasasti Kedukan Bukit berupa batu kecil dengan ukuran 45 × 80 cm.

Prasasti ditulis menggunakan aksara Pallawa, dengan bahasa Melayu Kuna.

Prasasti Kedukan Bukit saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor inventaris D.146.

Isi Prasasti Kedukan Bukit

Di bawah ini adalah isi Prasasti Kedukan Bukit beserta terjemahan yang telah dianalisis oleh para ahli :

  1. svasti śrī śakavaŕşātīta 605 ekādaśī śukla-
  2. klapakşa vulan vaiśākha ḍapunta hiyaṃ nāyik di
  3. sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
  4. vulan jyeşţha ḍapunta hiyaṃ maŕlapas dari minānga
  5. tāmvan mamāva yaṃ vala dua lakşa dangan kośa
  6. duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
  7. tlurātus sapulu dua vañakña dātaṃ di mata jap (mukha upaṃ)
  8. sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vulan… (āsāḍha)
  9. laghu mudita dātaṃ marvuat vanua …
  10. śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa nityakāla

Terjemahan :

  1. Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 605, pada hari ke sebelas
  2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
  3. sampan mengambil siddhayātra. pada hari ke tujuh paro-terang
  4. bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
  5. tamwan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
  6. dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
  7. tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
  8. sukacita. pada hari ke lima paro-terang bulan….(Asada)
  9. lega gembira datang membuat wanua….
  10. Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna….

Beberapa ahli berusaha menafsirkan isi prasasti Kedukan Bukit untuk mengetahui lebih detail mengenai Kerajaan Sriwijaya.

Di bawah ini adalah beberapa analisis para ahli tentang isis prasasti Kedukan Bukit :

Dapunta Hyang memimpin armada perang berangkat dari Minanga dan berhasil menundukan wilayah tempat ditemukannya prasasti ini, yaitu Sungai Musi, Sumatra Selatan.

Karena adanya kesamaan bunyi, ada ahli yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Minanga Tamwan adalah wilayah Minangkabau, yang berlokasi di pegunungan hulu sungai Batanghari.

Sementara itu, ahli sejarah bernama Soekmono berpendapat bahwa arti Minanga Tamwan adalah pertemuan dua sungai (karena tamwan berarti ‘temuan’), yaitu Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri yang terletak di wilayah Riau, sekitar Candi Muara Takus.

Kiagus Imran Mahmud dalam bukunya “Sejarah Palembang” berpendapat bahwa Minanga tidak mungkin sama dengan Minangkabau, karena istilah Minangkabau baru ada setelah era Kerajaan Sriwijaya.

Imran kemudian menafsirkan bahwa Minanga adalah Minanga yang terletak di daerah Komering, Sumatra Selatan.

Tamwan artinya adalah pertemuan dua sungai (di Minanga), yaitu Sungai Komering dan Sungai Lebong.

Gambar Prasasti Kedukan Bukit, salah satu Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : Wikimedia Commons)

2. Prasasti Talang Tuo

Penemu Prasasti Talang Tuo adalah Louis Constant Westenenk (Residen Palembang).

Prasasti Talang Tuo ditemukan pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang / Bukit Siguntang, Sumatera Selatan.

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini berukuran 50 cm × 80 cm.

Prasasti Talang Tuo dikeluarkan pada tahun 606 Saka (684 Masehi).

Prasasti yang terdiri dari 14 baris ini ditulis menggunakan aksara Pallawa, dengan bahasa Melayu Kuno.

Van Ronkel dan Bosch adalah orang pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti Talang Tuo. Hasil pembacaan mereka kemudian dimuat dalam Acta Orientalia.

Saat ini, prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.145.p

Gambar Prasasti Talang Tuo, salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : Wikimedia Commons)

Isi Prasasti Talang Tuo

Berikut adalah isi Prasasti Talang Tuwo :

Terjemahan :

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ketiga yang akan kita bahas adalah Prasasti Telaga Batu.

Prasasti Telaga Batu ada dua, yaitu Prasasti Telaga Batu 1 dan Prasasti Telaga Batu 2.

Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan pada tahun 1935 di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatra Selatan.

Prasasti Telaga Batu 1 saat ini disimpan di Museum Nasional dengan No. Inventaris D.155.

Di sekitar lokasi tersebut, juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi memberikan informasi adanya vihara di sekitar lokasi tersebut.

Prasasti Telaga Batu berupa batu andesit berukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm.

Di bagian atas prasasti dihiasi ornamen tujuh kepala ular kobra, dan di bagian bawah tengah terdapat semacam pancuran untuk mengalirkan air pembasuh.

Tulisan dalam prasasti berjumlah 28 baris, menggunakan huruf Pallawa, dengan bahasa Melayu Kuno.

Secara garis besar isi Prasasti Telaga Batu adalah kutukan bagi siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak mentaati perintah dātu.

Casparis berpendapat bahwa orang-orang yang disebutkan dalam Prasasti Telaga Batu adalah orang-orang yang dikelompokkan berbahaya dan memiliki potensi melawan kedatuan Sriwijaya sehingga mereka perlu diambil sumpah.

Prasasti ini adalah salah satu prasasti peninggalan Kerajaan sriwijaya yang paling lengkap mencantumkan nama-nama pejabat pemerintahan.

Nama-nama pejabat pemerintahan yang disebut dalam Prasasti Telaga Batu, seperti :

Lengkapnya nama pejabat yang disumpah membuat banyak sejarawan berpendapat bahwa prasasti ini adalah bukti bahwa pusat Sriwijaya adalah di Palembang, karena pejabat-pejabat yang disumpah itu sudah tentu tinggal di ibu kota kerajaan.

Namun, sejarawan Soekmono memiliki pendapat sebaliknya. Dia berpendapat dengan adanya prasasti ini justru menunjukkan bahwa tidak mungkin pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Palembang karena adanya ancaman kutukan terhadap siapa saja yang durhaka pada kedatuan.

Soekmono kemudian mengusulkan pendapat bahwa Minanga (yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus) adalah pusat Kerajaan Sriwijaya.

Gambar Prasasti Telaga Batu, salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :Wikimedia Commons)

4. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur berbentuk tiang batu, berukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar dan 19 cm pada bagian puncak.

Prasasti Kota Kapur ditulis dengan aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini adalah salah satu dokumen tertulis tertua yang menggunakan bahasa Melayu.

Prasasti Kota Kapur ditemukan di sebuah dusun kecil yang bernama “Kotakapur”, di pesisir barat Pulau Bangka.

Penemu Prasasti Kota Kapur adalah J.K. van der Meulen.

Prasasti Kota Kapur adalah prasasti tentang Sriwijaya pertama yang ditemukan, yaitu pada bulan Desember 1892.

Sejarawan pertama yang melakukan analisis terhadap prasasti Kota Kapur adalah H. Kern.

Kern adalah ahli epigrafi kebangsaan Belanda yang waktu itu bekerja di Bataviaasch Genootschap di Batavia.

Awalnya, Kern menganggap kata “Sriwijaya” adalah nama dari seorang raja.

Kemudian, George Coedes menemukan bahwa kata “Sriwijaya” adalah nama sebuah kerajaan yang terletak di Sumatra pada abad ke-7 Masehi.

Berdasarkan isi prasasti Kota Kapur, Sriwijaya pada waktu itu sudah berkuasa atas bagian selatan Pulau Sumatra, Pulau Bangka, dan Belitung hingga Lampung.

Prasasti Kota Kapur juga memberikan informasi adanya ekspedisi militer oleh Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum “Bhumi Jawa” yang tidak berbakti (tidak mau tunduk) kepada Sriwijaya.

Ekspedisi militer yang disebutkan Prasasti Kota Kapur cukup dekat dengan perkiraan runtuhnya kerajaan Tarumanegara di Jawa bagian barat dan Holing (Kalingga) di Jawa bagian tengah. Ada kemungkinan runtuhnya dua kerajaan tersebut akibat serangan Sriwijaya.

Penemuan Prasasti Kota Kapur, beserta penemuan peninggalan Kerajaan sriwijaya lainnya memberikan gambaran baru bagi para sejarawan tentang tentang masa-masa Hindu-Budha pada saat itu.

Isi Prasasti Kota Kapur

Di bawah ini adalah isi Prasasti Kota Kapur, sesuai dengan transkrip dan terjemahan dari Coédes :

Terjemahan :

  1. Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)
  2. Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kedatuan Sriwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !
  3. Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadatuan ini akan ada orang yang memberon­tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;
  4. yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Sriwijaya, dan biar mereka
  5. dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti mengganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,
  6. saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang
  7. supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut
  8. mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya
  9. dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas­an dari bencana, kelimpahan segala­nya untuk semua negeri mereka ! Tahun Saka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah
  10. kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya.
Gambar Prasasti Kota Kapur, salah satu prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya (foto : Wikimedia Commons)

5. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah adalah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.

Prasasti Palas Pasemah terdiri dari 13 baris, ditulis dengan aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Palas Pasemah tidak memuat angka tahun.

Berdasarkan penelitian pada bentuk aksara yang digunakan, para ahli memperkirakan Prasasti Palas Pasemah dikeluarkan pada akhir abad ke 7 masehi.

Prasasti Palas Pasemah adalah salah satu prasasti peninggalan Sriwijaya lainnya yang berisi kutukan bagi siapa saja yang tidak tunduk dan taat kepada Kerajaan Sriwijaya.

Gambar Prasasti palas Pasemah, salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : Sistem registrasi Nasional cagar Budaya)

6. Prasasti Hujung Langit/Prasasti Bawang

Prasasti Hujung Langit ditemukan di desa Hara Kuning, Lampung.

Kondisi prasasti Hujung Langit sudah sangat aus sehingga isinya tidak bisa dipahami sepenuhnya.

Namun, para ahli berhasil memperkirakan isinya yaitu tentang pemberian tanah sima.

Prasasti terdiri dari 18 baris tulisan.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh L.C Damais, NJ Krom, dan Boechari diketahui bahwa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini ditulis dengan huruf Jawa Kuna dan menggunakan bahasa Melayu Kuna.

Damais yang berusaha membaca isi prasasti berhasil mengidentifikasi sebagian kalimat yang tertulis dalam prasasti Hujung Langit adalah sebagai berikut (Damais, 1995: 33) :

swasti sri sakalawarsatita 9– margasiramasa. tithi nawami suklaspaksa. wa– wara. Wuku kuninan……

Terjemahan :

Berdasarkan paleografinya para ahli memperkirakan bahwa prasasti tersebut berasal dari sekitar abad ke-10 M, yaitu sekitar tahun 919 saka atau 997 Masehi.

Gambar prasasti hujung langit, prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya

7. Prasasti Karang Brahi

Penemu Prasasti Karang Brahi adalah seorang Kontrolir Belanda bernama L.M. Berkhout.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1904 di tepian Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Brahi, Kecamatan Pamenang, Merangin-Jambi.

Prasasti Karang Brahi adalah satu lagi prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan terhadap pembangkang kerajaan, selain prasasti Telaga Batu, Prasasti Palas Pasemah, dan Prasasti Kota Kapur.

gambar prasasti karang brahi, prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya (foto : kemdikbud)

8. Prasasti Bom Baru

Prasasti Bom Baru ditemukan di tepian Sungai Musi, Sumatera Selatan.

Prasasti peninggalan Kerajaan sriwijaya ini diperkirakan berasal dari abad ke-7.

Prasasti Bom Baru adalah salah satu prasasti Sriwijaya yang berisi kutukan yang mengancam para pemberontak dan warga yang tak setia pada Sriwijaya.

9. Prasasti Jabung

Prasasti Jabung ditemukan di Lampung.

Prasasti ini sulit diketahui isinya karena tulisan sudah sangat aus dan tak terbaca.

10. Prasasti Baturaja

Prasasti Baturaja adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada September 2018, di Baturaja, Sumatera selatan.

Prasasti ini hanya tersisa patahan bagian atasnya saja.

Seperti banyak prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya lainnya, Prasasti Baturaja juga memuat kutukan bagi pengkhianat dan pemberontak.

Berdasarkan paleografinya Prasasti Baturaja sama dengan aksara yang digunakan dalam Prasasti Talang Tuo (684).

Prasasti Baturaja ditulis menggunakan huruf Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno.

11. Prasasti Ligor

Prasasti Ligor adalah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Ligor (saat ini Nakhon Si Thammarat) di wilayah Thailand Selatan.

Prasasti Ligor berupa batu yang dipahat di kedua sisinya.

Pada bagian pertama disebut prasasti Ligor A atau manuskrip Viang Sa.

Sedangkan bagian kedua disebut Prasasti Ligor B.

Isi Prasasti Ligor A adalah pujian bagi raja Sriwijaya, yang disebut raja dari segala raja di dunia, raja dikatakan adalah pendiri bangunan yang bernama Trisamaya caitya untuk Kajara.

Prasasti Ligor B ditulis menggunakan aksara Kawi, memuat angka tahun 775 masehi.

Isi Prasasti Ligor B adalah tentang raja bernama Visnu dengan gelar Maharaja.

Raja Visnu adalah bagian dari dinasti Sailendravamsa, yang dijuluki sebagai Sesavvarimandavimathana, artinya adalah pembunuh bagi musuh-musuh yang sombong tidak bersisa.

Menurut para ahli, prasasti ligor B dikeluarkan oleh Maharaja Dyah Pancapana kariyana Panamkarana, salah satu raja dari wangsa Sailendra.

gambar prasasti ligor, prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya

Arca Peninggalan Kerajaan sriwijaya

Arca-arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya disebut arca langgam Sriwijaya/langgam Sailendra.

Arca-arca bergaya Sailendra ini dikatakan dipengaruhi oleh langgam Amarawati dari India.

Di bawah ini adalah arca-arcapeninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di berbagai wilayah.

Arca Budha Bukit Seguntang

Arca Budha Bukit Siguntang, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :Wikimedia Commons)

Arca Budha peninggalan Kerajaan sriwijaya ini berukuran tinggi 277 cm.

Para ahli memperkirakan arca Budha ini berasal dari abad 7 sampai 8 Masehi.

Arca Budha ini dibuat menggunakan batu granit.

Arca Budha ini ditemukan di situs Bukit Seguntang, Palembang, pada tahun 1920-an.

Penemua arca ini tidak sekaligus, namun bertahap berupa beberapa bagian.

Bagian pertama yang berhasil ditemukan adalah bagian kepala.

Beberapa bulan kemudian bagian tubuh arca ditemukan. Namun, bagian kaki hingga kini belum ditemukan.

Arca Budha peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini terpengaruh langgam Amarawati dari India Selatan, yang berkembang pada abad 2 sampai abad 5 Masehi.

Arca Avalokiteshwara

Arca Avalokiteshwara, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : wikimedia commons)

Arca batu Avalokiteshwara, boddhisatwa dalam agama Buddha mahayana.

Arca Avalokiteshwara ini ditemukan di Situs Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini mirip dengan arca-arca gaya Medang, di Jawa Tengah.

Tentu saja, karena keduanya diperintah oleh dinasti yang sama, yaitu dinasti Sailendra.

Oleh karena itu, langgam arca ini disebut menggunakan langgam Sailendra.

Arca Avalokiteshwara ini diperkirakan berasal dari abad ke-8 dan ke-9 masehi.

Arca Avalokiteshwara peninggalan kerajaan sriwijaya ini adalah koleksi Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Arca Budha Maitreya

Arca Budha Maitreya, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :wikimedia commons)

Arca perunggu Boddhisatwa Maitreya dengan ciri khas adanya stupa di mahkotanya.

Arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di Komering, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.

Para ahli memperkirakan arca Budha Maitreya ini berasal dari abad ke-9 sampai ke-10 Masehi.

Arca ini saat ini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan Nomer inventaris. 6025.

Arca Torso Bodhisattwa Padmapani

Arca bodhisattwa padmapani, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto: wikimedia commons)

Gambar di atas adalah Arca torso perunggu Boddhisattwa Padmapani (Avalokiteshwara).

Arca ini dikelompokkan sebagai Seni Sriwijaya (Srivijayan Art), peninggalan abad ke-9 M.

Arca ini ditemukan di Chaiya, Surat Thani, Thailand Selatan.

Arca ini sangat kental menunjukkan adanya pengaruh seni Jawa Tengah (seni Sailendra).

Awalnya, arca ini disimpan di Wat Wiang, Chaiya, Surat Thani,

Kemudian, Pangeran Damrong Rajanubhab memindahkannya ke Museum Nasional Bangkok, Thailand pada tahun 1905.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan Sriwijaya :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel singkat kami tentang peninggalan kerajaan Sriwijaya baik yang berupa candi maupun berupa prasasti atau pun Arca. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring