Katamasa

11 Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai (+Gambar)

Sampai saat ini masih bisa disaksikan bukti sejarah peninggalan kerajaan Samudra Pasai.

Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai umumnya ditemukan di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara yang diperkirakan bekas pusat pemerintahan kerajaan ini.

Sebagaimana diketahui, Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan bercorak Islam pertama di Indonesia.

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai bisa diketahui dari kitab Hikayat Raja-raja Pasai.

Dalam kitab itu diketahui bahwa pendiri Kerajaan Samudra Pasai adalah Marah Silu yang kemudian bergelar Sultan Malik as-Saleh pada tahun 1267 Masehi.

Kerajaan Samudra Pasai kemudian berkembang pesat menjadi salah satu pusat perdagangan di kawasan selat Malaka.

Di samping itu, Kerajaan Samudra Pasai juga menjadi salah satu pusat dakwah Islam khususnya di wilayah Indonesia bagian barat.

Pada tahun 1521, Portugis berhasil menaklukan Kerajaan Samudra Pasai setelah sebelumnya menaklukan Malaka pada tahun 1511.

Penaklukan Portugis membuat Kerajaan Samudra Pasai runtuh pada masa pemerintahan sultan terakhirnya, yaitu Zain Al-Abidin IV (1514-1517).

Sejak tahun 1524, wilayah kekuasaan kerajaan Samudra Pasai sudah berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam yang menjadi kekuatan baru di ujung utara pulau Sumatera.

Baca selengkapnya : Sejarah Lengkap Kerajaan Samudra Pasai

Di artikel singkat ini kita akan membahas tentang bukti sejarah peninggalan kerajaan Samudra Pasai. Selamat membaca.

Peninggalan Samudra Pasai

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang terpenting adalah makam Sultan Malik as-Saleh yang bertarikh 696 H atau 1267 M.

Angka tahun pada makam sang sultan kemudian dianggap sebagai era awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-13. Meskipun, ada sejarawan yang berpendapat bahwa kemungkinan Islam telah masuk ke nusantara lebih awal dari itu.

Bukti peninggalan Samudra Pasai lainnya adalah koin emas yang menunjukan telah adanya sistem perekonomian yang relatif maju di kerajaan tersebut.

Di bawah ini adalah beberapa daftar peninggalan sejarah Kerajaan Samudra Pasai :

Koin Emas (dirham)

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, dirham (foto:samudrapost)

Mata uang dirham Kesultanan Samudra Pasai adalah berupa kepingan emas dengan diameter 10 mm dan berat sekitar 0,6 gram.

Menurut informasi catatan perjalanan laksamana Cheng Ho, yaitu Ying Yai Sheng Lan Karya dari Ma Huan, dinar emas kerajaan Samudra Pasai memiliki kadar 70 persen.

Salah satu sisi koin emas berisi tulisan Muhammad Malik Al-Zahir dan sisi sebaliknya berisi tulisan Al-Sultan al-adil yang berarti sultan harus memberi keadilan terhadap masyarakat.

Kerajaan Samudra Pasai secara resmi menggunakan mata uang dirham pada tahun 1297, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Sultan Muhammad Malik az-Zahir.

Mata uang ini tetap digunakan hingga bala tentara Nippon mendarat atau tiba di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942. Mata uang ini berukuran kecil dimana diameternya hanya 10 mm dengan berat 0,6 gram setiap koinnya.

Selain menggunakan koin emas, kerajaan Samudra Pasai juga menggunakan mata uang keueh yang terbuat dari timah.

Nilai 1 dinar emas adalah sama dengan 1600 keueh.

Makam Sultan Malik As-Saleh

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, makam sultan malik as-saleh (foto:steemit.com)

Makam Sultan Malik as-Saleh yag bertarikh 696 H atau 1267 M.

Makam ini mempunyai arti penting bagi perkembangan agama islam di Indonesia karena diperkirakan sebagai tanda awal masuknya agama Islam di kepulauan Nusantara.

Makam sultan Malik As-Saleh terletak di kec. Samudera, Aceh Utara yang berjarak sekitar 17 km sebelah timur kota Lhokseumawe.

Bentuk ornamen batu nisan Sultan Malik As-Saleh terlihat perpaduan antara arsitektur Budha dan arsitektur Islam.

Ornamen batu nisan tersebut menunjukan dengan jelas adanya pengaruh budaya Gujarat (India).

Makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, Makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir

Sultan Muhammad Malik Al-Zahir adalah putra dari dari Sultan Malik As-Saleh.

Beliau adalah Sultan kedua di Kesultanan Samudra Pasai, berkuasa sejak 1297 sampai tahun 1326 Masehi.

Batu nisan makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir berbahan batu granit yang berisi tulisan surah At-Taubah ayat 21-22.

Batu nisan ini juga berisi tulisan yang memiliki arti Kubur ini kepunyaan tuan yang mulia, yang syahid bernama Sultan Malik Al-Zahir, cahaya dunia dan sinar agama.

Makam ini terletak di Kec. Samudera, Aceh Utara atau lebih tepatnya di Desa Beuringen, tepat di sebelah makam ayahnya Sultan Malik Al-Saleh.

Lonceng Cakra Donya

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, Cakra Donya (sumber : wikipedia commons/si Gam Aceh)

Lonceng Cakra Donya adalah peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang merupakan hadiah Kaisar Yong Lee dari kekaisaran China.

Pada sekitar tahun 1414, kaisar Yong Lee mengutus laksamana Ceng Ho untuk datang memberikan lonceng Cakra Donya kepada Kerajaan Samudra Pasai sebagai tanda persahabatan.

Namun, pada saat kerajaan ini ditaklukan oleh Kesultanan Aceh Darussalam, lonceng Cakra Donya dipindahkan ke Kesultanan Aceh Darussalam.

Lonceng Cakra Donya terbuat dari besi dengan bentuk seperti stupa, berukuran tinggi 125 cm dan lebar 75 cm.

Bagian luar lonceng Cakra Donya berhiaskan simbol-simbol aksara arab dan cina.

Tulisan yang menggunakan aksara cina berbunyi Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo yang artinya Sultan Sing Fa yang sudah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5.

Sementara tulisan dengan aksara Arab sudah tidak terbaca lagi.

Naskah Surat Sultan Zain Al-Abidin

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, surat sultan Zain al abibin

Surat ini dikirimkan oleh Sultan Zain Al-Abidin kepada penguasa Portugis Kapitan Moran yang berkuasa atas nama Raja Portugis di India pada abad ke 16.

Surat ini ditulis menggunakan bahasa Arab.

Dari surat ini, diketahu situasi secara umum di wilayah Kesultanan Samudra Pasai setelah Malaka ditaklukan Portugis pada tahun 1511.

Selain itu, dari surat ini para peneliti mengetahui sebutan negara-negara tetangga Kerajaan Samudra Pasai pada masa itu, misalnya, Negeri Fariyaman (Pariyaman) dan Negeri Mulaqat (Malaka).

Stempel Kerajaan

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, stempel kerajaan (sumber :acehkita.com)

Stempel kerajaan menandakan keabsahan surat-suratnya. Begitu juga stempel peninggalan kerajaan Samudra Pasai ini.

Stempel berukuran 2 x 1 cm ini ditemukan di Desa Kuta Kreung, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Pada saat ditemukan kondisi stempel sudah rusak karena patah pada bagian pegangannya.

Menurut penelitian, stempel ini adalah milik sultan kedua Kesultanan Samudra Pasai yaitu Sultan Muhammad Malik Al-Zahir.

Ada dugaan bahwa stempel ini masih terus digunakan sampai sultan terakhir, yaitu Sultan Zain Al Abidin.

Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Makam ini bisa dianggap sebagai bukti sejarah peninggalan dinasti Abbasiyah di Irak.

Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah adalah cicit dari khalifah Al-Muntasir. Beliau pergi meninggalkan Irak karena Irak diserang oleh tentara Mongol.

Di Kerajaan Samudra Pasai, Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah menjabat sebagai menteri keuangan, sebuah jabatan yang sangat penting.

Batu nisan di makam ini terbuat dari batu marmer dengan hiasan kaligrafi berupa ayat kursi yang ditulis melingkar di pinggiran batu.

Di bagian atas nisan berhiaskan ukiran Surah At-Taubah ayat 21-22 dan kalimat Bismillah.

Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Ratu Al-Aqla adalah puteri Sultan Muhammad Malik Al-Zahir yang meninggal dunia pada tahun 1380 Masehi.

Makam sang Ratu terletak di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli, kec. Matangkuli sebelah timur kota Lhokseumawe.

Batu nisan makam ratu ini berhiaskan kaligrafi berbahasa Arab dan Kawi.

Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Makam ini adalah makam 44 orang ulama berjuluk Teungku 44 (Peuet Ploh Peuet).

Para ulama yang terkubur di tempat ini adalah 44 orang ulama yang mati dibunuh karena menentang pernikahan Sultan dengan putri kandungnya sendiri.

Makam Teungku Peuet Ploh Peuet terletak di Gamponh Beuringen, kec. Samudera, sebelah timur kota Lhokseumawe.

Batu nisan makam ini berhiaskan ukiran yang sangat indah, berupa ukiran surah Ali Imran ayat 18.

Makam Sultanah Nahrasiyah

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, Makam Sultanah Nahrasiyah (foto:acehtourism.travel)

Beliau adalah istri dari Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir yang gugur dalam pertempuran dengan kerajaan Nakir.

Sultanah Nahrasiyah memimpin kerajaan Samudera Pasai antara tahun 1416-1428 Masehi.

Sultanah Nahrasiyah adalah pemimpin yang membawa Kerajaan Samudra Pasai mencapai masa kejayaan.

Makam Sultanah Nahrasiyah berada di Gampong Kuta Krueng, kec. Samudera, sebelah timur kota Lhokseumawe.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi makam Sultan Malik As-Saleh.

Batu nisan Sultanah Nahrasiyah berhiaskan ukiran kaligrafi surah Yasin, surah Al-Baqarah ayat 285-286, surah Ali Imran ayat 18-19 serta penjelasan yang ditulis menggunakan aksara Arab yang artinya, “Inilah makam suci, ratu yang mulia Nahrasiyah yang digelar dari bangsa Chadiu bin Sultan Haidar Ibnu Said Ibnu Zainal Ibnu Sultan Ahmad Ibnu Sultan Muhammad Ibnu Sultan Malikussaleh, mangkat pada senin 17 Zulhijjah 831 H” (1428 M).

Hikayat Raja Pasai

Untuk menceritakan sejarah kerajaan Samudra Pasai tidak bisa lepas dari kitab Hikayat Raja Pasai.

Kitab ini adalah sumber sejarah utama para sejarawan untuk mengungkap sejarah Kesultanan Samudera Pasai.

Oleh karena itu, Hikayat Raja Pasai bisa dikatakan adalah salh satu peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang terpenting.

Hikayat Raja Pasai diperkirakan ditulis pada abad ke-14, yang terdiri dari tiga bagian.

Bagian pertama berisi tentang peristiwa-peristiwa sebelum Kesultanan Samudera Pasai berdiri sampai wafatnya Sultan Malik Al-Mahmud (bertahta sejak 1326).

Bagian kedua berisi tentang peristiwa-peristiwa terkait konflik antara Sultan Ahmad Malik Az-Zahir dengan putra sulungya Tun Beraim Bapa. Nantinya, diceritakan bahwa Tun Beraim Bapa tewas oleh ayahnya sendiri.

Bagian ketiga berisi tentang Raden Galuh Gemerencang, putri dari Kerajaan Majapahit yang menjalin cinta dengan Tun Abdul Jalil, putra kedua Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, hingga runtuhnya Kesultanan Samudera Pasai (sumber).

Rekomendasi bacaan terkait :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel tentang bukti sejarah peninggalan kerajaan Samudra Pasai. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring