23 Peninggalan Kerajaan Kutai : Prasasti, Artefak, Kitab : Gambar Lengkap

Peninggalan Kerajaan Kutai sebagian besar ditemukan di wilayah sekitar Sungai Mahakam Kalimantan Timur.

Peninggalan sejarah Kerajaan Kutai ini adalah bukti adanya sebuah peradaban kerajaan di Kalimantan Timur setidaknya sejak abad ke 4 Masehi.

Jika kita menyebut nama Kerajaan Kutai, maka kita bisa merujuk kepada dua kerajaan, yaitu Kutai Martapura (dinasti Mulawarman) dan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Baca Selengkapnya : Sejarah Kerajaan Kutai Dinasti Mulawarman

Baca Selengkapnya : Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang peninggalan Kerajaan Kutai Martapura dan peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara ing Martadipura. Selamat membaca.

Peninggalan Kerajaan Kutai

Peninggalan Kerajaan Kutai sebagai bukti sejarah keberadaan kerajaan Hindu tertua di Indonesia ini disimpan di Musem Nasional Indonesia di jakarta dan di Museum Mulawarman di Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Baca juga : Daftar Kerajaan Hindu di Indonesia

Di museum Mulawarman dapat dilihat berbagai artefak peninggalan sejarah kerajaan Kutai.

Namun, artefak-artefak itu lebih banyak adalah peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura bukan Kutai dinasti Mulawarman.

Artefak-artefak peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara itu, misalnya Ketopong Sultan, Kalung Uncal, Kalung Ciwa, Pedang Sultan Kutai, Kura-Kura Emas, Keris Bukit, Kelambu kuning, dan lain-lain.

Berikut ini adalah penjelasan tentang benda-benda yang merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Kutai.

Prasasti Kerajaan Kutai

Gambar prasasti kerajaan Kutai yang terpahat di tugu Yupa, peninggalan kerajaan Kutai
Prasasti kerajaan Kutai yang terpahat di tugu Yupa. Saat ini tersimpan di musem Nasional Jakarta (sumber :Wikimedia Commons)

Sumber sejarah yang paling bisa dijadikan sebagai sumber sejarah keberadaan kerajaan ini adalah 7 buah prasasti peninggalan Kerajaan Kutai, yang disebut Yupa.

Pada tahun 1949, J.G. de Casparis mengkaji 7 prasasti peninggalan Kerajaan Kutai yang terpahat di tugu Yupa yang ditemukan di Muara Kaman itu.

Hasil dari kajian itu, dia menyimpulkan bahwa Yupa tersebut diduga kuat adalah peninggalan sejarah Kerajaan Kutai yang ditemukan berturut-turut pada tahun 1879 dan 1940.

Oleh karena terpahat dalam Yupa, Prasasti peninggalan Kerajaan Kutai kemudian juga dinamakan Prasasti Yupa.

7 prasasti peninggalan Kerajaan Kutai yang terpahat di tugu Yupa menggunakan aksara pallawa dan berbahasa Sansekerta.

Dari 7 prasasti peninggalan Kerajaan Kutai hanya 4 buah prasasti yang sudah bisa dibaca dan diterjemahkan.

Di bawah ini adalah alih aksara 4 prasasti peninggalan Kerajaan Kutai yang terpahat di tugu Yupa yang ditemukan di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Baca Juga :  Kerajaan Tarumanegara : Sejarah, Peninggalan & Prasasti (Lengkap)

Prasasti Kutai I

Alih aksara :

śrīmatah śrī-narendrasya; kuṇḍuṅgasya mahātmanaḥ; putro śvavarmmo vikhyātah; vaṅśakarttā yathāṅśumān; tasya putrā mahātmānaḥ; trayas traya ivāgnayaḥ; teṣān trayāṇām pravaraḥ; tapo-bala-damānvitaḥ; śrī mūlavarmmā rājendro; yaṣṭvā bahusuvarṇnakam; tasya yajñasya yūpo ‘yam; dvijendrais samprakalpitaḥ.

Terjemahan :

Sang Maharaja Kundunga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.

R.M Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia, I, 1952, hal.9

Dari terjemahan isi Prasasti Kutai I ini, kita mengetahui adanya tiga orang raja Kerajaan Kutai, yaitu Kundungga, Aswawarman, dan Mulawarman.

Para peneliti menduga bahwa Kundungga adalah nama asli Indonesia yang belum terpengaruh kebudayaan Hindu.

Oleh karena itu, sebagian ahli berpendapat bahwa Kundungga bukanlah pendiri Kerajaan Kutai.

Namun, di dalam prasasti dengan jelas disebutkan bahwa Kundungga adalah Srimat Srinarendra yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang maharaja Kutai.

Sementara itu, putra Kundungga, yaitu Aswawarman dianggap sebagai wangsakerta (pendiri dinasti/keluarga) Kerajaan Kutai karena dirinya adalah raja pertama yang menyematkan kata Warman dalam namanya.

Aswawarman mempunyai tiga orang putra, dengan Mulawarman adalah putranya yang paling terkemuka.

Raja Mulawarman mengadakan sebuah upacara yadnya (kenduri) dengan menggunakan emas yang sangat banyak.

Prasasti Kutai II

Alih aksara :

srimad-viraja-kirtteh
rajnah sri-mulavarmmanah punyam
srnvantu vipramukhyah
ye canye sadhavah purusah
bahudana-jivadanam
sakalpavrksam sabhumidanan ca
tesam punyagananam
yupo ‘yan stahapito vipraih

Terjemahan :

Dengarkanlah oleh kamu sekalian, Brahmana yang terkemuka, dan sekalian orang baik lain-lainnya, tentang kebaikan budi Sang Mulawarman, raja besar yang sangat mulia. Kebaikan budi ini ialah berwujud sedekah banyak sekali, seolah-olah sedekah kehidupan atau semata-mata pohon kalpa (yang memberi segala keinginan), dengan sedekah tanah (yang dihadiahkan). Berhubung dengan kebaikan itulah maka tugu ini didirikan oleh para Brahmana (buat peringatan).

R.M Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia, I, 1952, hal.10

Terjemahan isi Prasasti Kutai II adalah sebuah pengumuman atau peringatan atas kebaikan budi sang Raja Mulawarman.

Sang Raja memberikan sedekah berupa taah yang memberi kehidupan bagi para brahmana.

Untuk memperingati kejadian itu maka tugu Yupa itu didirikan oleh para brahmana.

Baca Juga :  36 Peninggalan Kerajaan Bali (Prasasti, Candi dll) : + Gambar Lengkap

Prasasti Kutai III

Alih aksara :

sri-mulavarmmano rajnah
yad dattan tilla-parvvatam
sadipa-malaya sarddham
yupo ‘yam likhitas tayoh

Terjemahan :

Tugu ini ditulis buat (peringatan) dua (perkara) yang telah disedekahkan oleh Sang Raja Mulawarman, yakni segunung minyak (kental), dengan lampu serta malai bunga.

R.M. Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia, I, 1952, hal.10

Isi Prasasti Kutai III lagi-lagi menceritakan sedekah raja Mulawarman berupa minyak, lampu, serta bunga-bungaan.

Prasasti Kutai IV

Alih aksara :

srimato nrpamukhyasya
rajnah sri-mulawarmmanah
danam punyatame ksetre
yad dattam vaprakesvare
dvijatibhyo’ gnikalpebhyah.
vinsatir ggosahasrikam
tansya punyasya yupo ‘yam
krto viprair ihagataih.

Terjemahan :

Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang suci (bernama) Waprakeswara. Buat (peringatan) akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibuat oleh para Brahmana yang datang ke tempat ini.

R. M. Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia, I, 1952, hal.11

Prasasti Kutai IV berisi informasi bahwa sang Raja Mulawarman memberikan 20. 000 ekor sapi kepada para brahmana di suatu tempat yang disebut sebagai Waprakeswara.

Untuk memperingati kebaikan sang raja, maka para Brahmana mendirikan tugu Yupa ini.

Artefak Peninggalan Kerajaan Kutai

Di bawah ini adalah beberapa artefak peninggalan sejarah Kerajaan Kutai Martapura dan peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang disimpan di Museum Nasional Jakarta dan Museum Mulawarman Tenggarong Kalimantan Timur.

Ketopong Sultan

Gambar peninggalan kerajaan kutai kartanegara, ketopong sultan
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Ketopong Sultan. Artefak yang terbuat dari emas dengan bobot 1.98 kg ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Sementara replikanya terdapat di Musem Mulawarman Tenggarong Kalimantan Timur

Ketopong Sultan Kutai ini ditemukan pada tahun 1890 di daerah Muara Kaman, Kutai Kartanegara.

Mahkota ini pernah dipakai oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman dari tahun 1845 sampai 1899.

Selain terbuat dari emas, mahkota ini juga dilengkapi dengan permata.

Ketopong berbentuk mahkota brunjungan dan pada bagian muka berbentuk meru bertingkat berhias motif spiral dikombinasikan dengan motif sulur.

Pada bagian belakang mahkota terdapat hiasan berbentuk garuda mungkur berhias motif bunga, burung dan kijang.

Carl Bock yang merupakan penulis dan juga penjelajah, dalam bukunya yang berjudul The Head Hunters of Borneo menulis jika Sultan Aji Muhammad Sulaiman mempunyai 6 sampai 8 orang pengukir emas yang secara khusus membuat ukiran emas serta perak untuk Sultan.

Kalung Ciwa

gambar peninggalan kerajaan kutai kartanegara, kalung ciwa
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Kalung Ciwa. Kalung Ciwa saat ini masih digunakan sebagai perhiasan kerajaan dan pernah digunakan oleh Sultan dalam pesta adat Erau dalam rangka ulang tahun penobatan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura (sumber: kesultanan.kutaikartanegara)

Kalung Ciwa ditemukan oleh penduduk sekitar Danau Lipan, Muara Kaman pada era kekuasaan Sultan Aji Muhammad Sulaiman pada tahun 1890.

Penduduk kemudian menyerahkan perhiasan yang terbuat dari emas ini kepada pihak kesultanan Kutai.

Baca Juga :  35+ Peninggalan Kerajaan Kediri (Lengkap)

Kalung Uncal

Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Kalung Uncal
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Kalung Uncal. Kalung Uncal terbuat dari emas 18 karat dengan berat 170 gram yang dihiasi relief Ramayana. Saat ini Kalung Uncal disimpan di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong (sumber : kesultanan.kutaikartanegara)

Awalnya, Kalung Uncal adalah perhiasan milik Kerajaan Kutai Martapura (dinasti Warman) namun semenjak kerajaan ini ditaklukan dan dipersatukan ke dalam kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kalung Uncal menjadi atribut Kutai Kartanegara.

Kalung Uncal dalam bahasa India dinamakan Unchele. Kalung ini biasanya dibuat sepasang, satu untuk pria dan satu untuk wanita.

Saat ini, hanya ada dua Kalung Uncal, selain yang disimpan di Musem Mulawarman, satunya lagi ada di India.

Menurut keterangan duta besar India yang datang ke Kalimantan Timur pada tahun 1954, bentuk dan ukuran Kalung Uncal Kutai sama dengan Kalung Uncal yang ada di India.

Oleh karena itu ada dugaan bahwa Raja Mulawarman adalah salah seorang keturunan dari raja-raja India bagian selatan.

Kura-Kura Mas

Gambar Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Kura-Kura Mas
Gambar Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Kura-Kura Mas. Artefak ini berukuran setengah kepalan tangan, terbuat dari emas. Saat ini benda peninggalan sejarah ini disimpan di Musem Mulawarman (foto :detiktravel)

Kura-Kura Mas ditemukan di daerah Lonh Lalang di hulu Sungai Mahakam.

Konon kabarnya, benda ini adalah salah satu hadiah dari seorang pangeran dari negeri China yang ingin mempersunting putri raja Kutai yang bernama Aji Bidara Putih.

Pedang Sultan Kutai

Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Pedang Kalimantan
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Pedang Kalimantan. Pedang milik Sultan Kutai Kartanegara ini terbuat dari emas dan bertahtakan batu mulia. Pada gagangnya ada relief harimau berhiaskan berbagai jenis batu mulia khas Kalimantan. Sedangkan bagian sarungnya berhiaskan ornamen buaya. Saat ini Pedang Sultan Kutai Kertanegara ini disimpan di Museum Nasional di Jakarta (sumber : liputan6.com)

Pedang Sultan Kutai Kartanegara yang juga disebut dengan nama Pedang Kalimantan adalah peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara dari abad ke 13.

Peninggalan Kerajaan Kutai Lainnya

Selain peninggalan-peninggalan di atas, bukti sejarah peninggalan kerajaan Kutai, misalnya Tali Juwita, Keris Bukit Kang, Kelambu Kuning, Singgasana Sultan, Meriam Sapu Jagat, Meriam Gentar Bumi, Meriam Aji Entong, Meriam Sri Gunung, Tombak Kerajaan Majapahit, Keramik Kuno Tiongkok, Gamelan Gajah Prawoto, dan masih banyak lagi peninggalan yang kini disimpan di Musem Mulawarman di Kota Tenggarong.

Kitab Peninggalan Kerajaan Kutai

Sumber sejarah Kerajaan Kutai lainnya adalah kitab Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara.

Dalam kitab ini diketahui bahwa ada dua kerajaan, yaitu Martapura dan Kartanegara. Kutai Martapura runtuh setelah ibukotanya diserang oleh Kutai Kartanegara.

Kitab ini telah dibukukan oleh Kementrian Pendidikan (saat itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) dengan judul Salasilah Kutai.

Gambar kitab peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara
Gambar Buku Salasilah Kutai, kitab peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara (D.Adham, Salasilah Kutai, 1981, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan)

Rekomendasi bacaan terkait :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang peninggalan Kerajaan Kutai Martapura (dinasti Mulawarman) dan peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara. Semoga bermanfaat.