Katamasa

36 Peninggalan Kerajaan Bali (Prasasti, Candi dll) : + Gambar Lengkap

Seperti kerajaan kuno lainnya, kerajaan Bali meninggalkan banyak bukti sejarah keberadaannya. Peninggalan kerajaan Bali beraneka ragam. Ada yang berupa benda fisik atau peninggalan non fisik.

Peninggalan kerajaan Bali beraneka ragam, mulai dari prasasti, bangunan kuno seperti pura, dan lain sebagainya.

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang peninggalan kerajaan bali, baik berupa prasasti, candi/pura, dan peninggalan-peninggalan kerajaan Bali non fisik yang masih bisa disaksikan hingga kini.

Ringkasan

Di bawah ini adalah pertanyaan dan jawaban pendek untuk lebih memahami topik artikel : peninggalan kerajaan bali.

Apa saja peninggalan kerajaan Bali?

Peninggalan kerajaan bali beraneka macam, mulai dari prasasti, kitab-kitab, serta bangunan-bangunan kuno.
Berikut adalah beberapa peninggalan kerajaan Bali yang berhasil diselamatkan atau dilestarikan :
Prasasti – prasasti kerajaan Bali kuno (misalnya prasasti Blanjong Sanur, prasasti Sukawana, dll)
Candi dan bangunan suci lain (misalnya, candi gunung kawi, pura besakih, pura penataran sasih, pura tegeh kahuripan, goa gajah, dll).
Istana raja (misalnya, puri agung Pemecutan, puri agung Gianyar, puri agung Klungkung, puri ubud, dll).
Kesenian (wayang, tari-tarian, seni ukir, seni gamelan, dll).
Ribuan lontar yang tersimpan di berbagai puri / istana raja dan para pendeta.

Apa saja candi peninggalan kerajaan bali?

Candi peninggalan kerajaan Bali yaitu : Candi Gunung Kawi, Candi Tebing Tegallinggah, Candi Pegulingan, Candi Mangening, Candi Tebing Jukut Paku, Candi Tebing Kerobokan, Candi wasan, Situs Goa Gajah, Candi Kalibukbuk, Candi Jehem, dll

Apa saja prasasti peninggalan kerajaan Bali?

Prasasti peninggalan kerajaan Bali sangat banyak, misalnya prasasti Pejeng, Prasasti Sukawana AI, Prasasti Bebetin AI, Prasasti Trunyan AI, Prasasti Trunyan B, Prasasti Pura Kehen A, Prasasti Gobleg Pura Desa I, Prasasti Blanjong, Prasasti Panempahan, Prasasti Malet Gede, Prasasti Bwahan A, 31 buah prasasti Raja Anak Wungsu dll

Sekilas tentang Kerajaan Bali Kuno

Jika kita membahas sejarah kerajaan Bali, maka bisa dirujuk kepada kerajaan Bali kuno dan kerajaan bali paska invasi Majapahit atau era gelgel.

Dalam artikel ini, secara khusus kita akan membahas tentang kerajaan Bali kuno.

Namun, di bagian akhir juga akan disertakan daftar peninggalan kerajaan Bali paska invasi Majapahit.

Di literatur-literatur, nama kerajaan Bali kuno sering disebut juga sebagai kerajaan Bedahulu.

Sebenarnya, nama asli kerajaan Bali adalah Singhamandawa. Sedangkan nama Bedahulu, berasal dari bahasa Bali kuno yaitu, Badha berarti rumah/istana, dan Hulu yang berarti kepala/raja.

Dengan demikian, nama Bhadahulu adalah nama istana raja/ibu kota/pusat pemerintahan. Bukan nama kerajaan. Sedangkan nama kerajaan adalah Singhamandawa.

Namun, kebiasaan jaman dahulu, biasa menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya.

Para ahli memperkirakan letak kerajaan Bali secara persis adalah di sekitar Pejeng, di desa bedahulu/Bedulu, kabupaten Gianyar, Bali.

Kerajaan Bali didirikan oleh dinasti Warmadewa. Di beberapa periode, kerajaan dipimpin oleh Dinasti Jaya yang sebenarnya cabang dari dinasti Warmadewa sendiri.

Sumber sejarah kerajaan Bali yang terpenting adalah prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh para raja Bali.

Masa kejayaan kerajaan Bali dimulai pada masa raja Udayana dan mencapai puncaknya pada masa raja Anak Wungsu.

Penyebab runtuhnya kerajaan Bali adalah serangan dari kerajaan Majapahit.

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Bali Kuno

Peninggalan Kerajaan Bali Kuno

Seperti kerajaan kuno lainnya, kerajaan Bali juga meninggalkan banyak bukti sejarah keberadaannya.

Peninggalan kerajaan Bali beraneka ragam. Ada yang berupa benda fisik (seperti prasasti, candi, dll) atau peninggalan non fisik (kesenian).

Berikut adalah beberapa peninggalan kerajaan Bali yang berhasil diselamatkan atau dilestarikan :

Prasasti Peninggalan Kerajaan Bali Kuno

Prasasti adalah salah satu sumber sejarah kerajaan Bali yang terpenting.

Prasasti – prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno sangat banyak. Prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini berangka tahun berkisar antar 800-1000an saka.

Berikut adalah daftar prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno yang berhasil ditemukan :

Prasasti-prasasti Pejeng

Sumber sejarah tertulis peninggalan kerajaan Bali yang paling tua adalah prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta pada tablet-tablet tanah liat.

Prasasti-prasasti ini semula tersimpan di dalam stupika-stupika (stupa-stupa kecil) dari tanah liat di daerah Pejeng, Gianyar.

Isi Prasasti-prasasti itu adalah mantra-mantra agama Buddha yang dikenal dengan nama ye-te-mantra.

Prasasti-prasasti yang sejenis dengan prasasti-prasasti Pejeng ini ditemukan juga di Pura Pegulingan Basangambu, Tampaksiring dan situs Kalibukuk Buleleng.

Bunyi teks prasasti-prasasti Pejeng, sebagai berikut :


Ye dharmā hetu-prabhawā
Hetun tesān tathāgato hyawadat
Tesāñca yo nirodha
Ewamwādi mahāśramanah


Artinya :
Keadaan tentang sebab-sebab kejadian itu, sudah diterangkan oleh Tathagata (Buddha), Tuan mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu

(Goris, 1948 : 3).

Mantra sejenis itu tertulis pula di atas pintu Candi Kalasan (di Jawa Tengah) yang berasal dari abad ke-8 atau tahun 700 Śaka (778 Masehi).

Berdasarkan kesamaan tipe aksara mantra-mantra di kedua tempat itu, maka mantra-mantra agama Buddha di Pejeng diduga berasal dari abad ke-8 pula (Goris, 1949 : 3-4 ; cf. Budiastra, 1980/1981 : 36-38).

Selain prasasti yang tersimpan dalam stupika-stupika, di Pejeng juga ditemukan beberapa fragmen prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno lainnya.

Fragmen-fragmen prasasti itu menggunakan bahasa Sansekerta dengan huruf Bali Kuno.

Keadaan fragmen-fragmen ini sudah sangat tua, sebagian besar rusak dan sulit dibaca.

Beberapa bagian yang masih dapat dibaca, antara lain manuśasana… (pada fragmen d), …mantramārgga… (pada fragmen g), …śiwas (…) ddh … (pada fragmen h), yang diduga bacaan lengkapnya berbunyi … śiwasiddhanta …, dan …sakalabhuwanakrt … (pada fragmen k), yakni nama lain untuk Wiśwakarman.

Dari isi fragmen yang masih dapat dibaca ini, memberi sedikit petunjuk bahwa isi prasasti tersebut pada umumnya bersifat keagamaan, dalam hal ini agama Hindu Śiwa ; Bahkan rupanya, agama itu telah bersifat mantris atau tantris (Stutterheim, 1929 : 62).

Fragmen-fragmen yang ditemukan itu ternyata tidak ada yang berangka tahun.

Berdasarkan studi komparatif dengan huruf prasasti-prasasti di Jawa, terutama di Jawa Tengah, Stutterheim menyimpulkan bahwa fragmen-fragmen itu bisa berasal dari masa sebelum tahun 800 Saka (878 Masehi), atau sekitar awal abad-9 masehi (Stutterheiom, 1929 : 62).

Jika pendapat Stutterheim benar, hal ini berarti, pada waktu itu agama Buddha dan agama Hindu Siwa, sama-sama telah berkembang di daerah Pejeng, Gianyar.

Prasasti Sukawana AI (804 Saka)

Prasasti Sukawanan AI adalah salah satu prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno yang disebut sebagai prasasti periode Singhamandawa, karena prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Bali pada era ini dikeluarkan di Panglapuan (panglapwan) di Singhamandawa.

Pada kisaran tahun 882-914, setidaknya ada tujuh buah prasasti peninggalan kerajaan bali kuno yang ditemukan. Semua prasasti menggunakan bahasa Bali kuno.

Seluruh prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini tidak mencantumkan siapa nama raja atau pejabat yang mengeluarkannya (Goris, 1954a : 53-62).

Isi prasasti Sukawana AI pada pokoknya tentang pengembalian fungsi kesucian ulan/bangunan suci keagamaan yang ada di wilayah perkebunan bukit Citamani (sekarang Kintamani).

Sepertinya, ulan itu telah dipergunakan oleh penduduk sebagai tempat lalu-lalang setiap pulang pergi ke kebun atau sawah ladangnya.

Penguasa membuat kebijakan yang intinya memerintahkan Senapati danda, bhiksu Siwakangsita, Siwanirmala, dan Siwaparjna untuk membangun pertapaan yang dilengkapi bangunan pasanggrahan (satra) di sisi lain bukit Citamani.

Sedangkan jalan setapak yang ada di kompleks pertapaan itu tidak boleh digunakan lagi sebagai jalan lalu-lalang aktivitas penduduk.

Berdasarkan isi prasasti ini, pra peneliti mengetahui bahwa di bawah raja, setidaknya ada empat jabatan tinggi kerajaan, yakni, sarbwa, dinganga, nayakan, makarun, dan manuratang ajna.

Nama jabatan-jabatan kerajaan itu masih ada selama periode Singhamandawa. Setelah itu, jabatan-jabatan tinggi kerajaan semakin banyak jumlahnya.

Prasasti Bebetin AI (818 Saka)

Isi prasasti Bebetin AI terkait dengan kuta di banwa bharu, yang artinya adalah desa bharu yang berbenteng.

Prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini menceritakan bahwa desa itu pernah diserang perampok. Penduduk banyak yang terbunuh, sisanya mengungsi ke desa lain. Baru setelah keadaan aman, mereka semua kembali ke desanya.

Mengatasi hal ini, demi melengkapi perangkat desa, khususnya bidang keagamaan, raja memerintahkan pejabat nayakan pradhana, yaitu, kumpi ugra dan bhiksu Widya Ruwana untuk memimpin pembangunan kuil Hyang Api, dengan batas-batas yang telah ditentukan.

Prasasti ini juga mencantumkan aturan-aturan pembagian harta warisan dan ketetapan mengenai tugas atau kewajiban serta hak-hak penduduk.

Para peneliti menduga desa bharu terletak di pesisir pantai utara Pulau Bali, dan merupakan salah satu pelabuhan kerajaan.

Dugaan ini berdasarkan isi prasasti Bebetin A1 yang mencantumkan ketentuan untuk mengatur saudagar-saudagar dari luar yang berdagang di sana dan perlakuan perahu-perahu yang mengalami kerusakan.

Di bawah ini adalah bagian teks prasasti Bebetin AI pada lembaran Iib.3-4 :

… anada tua banyaga turun ditu, paniken (baca : paneken) di hyangapi, parunggahna, ana mati ya tua banyaga, perduan drbyana prakara, ana cakcak lancangna kajadyan papagerrangen kuta …

(Goris, 1954a : 55)

Artinya :

…Jika ada saudagar berlabuh (turun) di sana, barang-barang persembahannya supaya dihaturkan kepada kuil Hyang Api, (jika) ada mati (di antara) saudagar itu, segala harta miliknya agar dibagi dua, (jika) perahunya rusak, supaya dijadikan pagar untuk memperkuat benteng, …

Prasasti Trunyan AI (833 Saka) dan Trunyan B (833 Saka)

Isi prasasti Trunyan AI dan Trunyan B, khususnya pada lembaran Ib-IIa.4, pada dasarnya isinya sama.

Kedua prasasti ini memuat soal pemberian ijin dari raja kepada penduduk desa Turunan untuk mendirikan bangunan suci untuk Bhatara Da Tonta.

Prasasti itu selanjutnya menjelaskan tentang kewajiban bagi penduduk Turunan untuk membayar iuran dan melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk keperluan bangunan suci itu.

Karena kewajibannya itu, raja membebaskan mereka dari beban pajak-pajak serta kewajiban-kewajian tertentu.

Salah satu kewajiban penduduk desa Turunan dijelaskan di bagian lain prasasti Trunyan AI, yaitu, wajib memberikan makanan dan minuman jika ada utusan raja melakukan persembahyangan di sana pada bulan Asuji.

Prasasti itu mencantumkan juga kewajiban-kewajiban bagi penduduk desa Hasar, Halang Guras, Pungsu, dan Panumbahan dalam urusan upacara-upacara di kuil Sang Hyang di Turunan (Bhatara Da Tonta) dan Guha Mangurug Jalalingga.

Prasasti Trunyan B mencantumkan kewajiban bagi penduduk desa Air Rawang di sebelah timur Danau Batur untuk membayar iuran bagi keperluan upacara Sang Hyang di Turunan.

Selain kewajiban, mereka diberikan hak, yaitu, menyucikan Bhatara Da Tonta dengan air Danau Batur, kemudian dibedaki kuning, serta dihiasi dengan cincin bepermata dan anting-anting, setiap bulan Bhadrawada (Agustus-September).

Petugas yang berwenang melaksanakan hal-hal itu adalah Sahayan Padang dari desa Air Rawang.

Isi bagian akhir prasasti Trunyan B adalah kalimat kutukan yang ringkas (Goris, 1954a : 58-59).

Prasasti Bangli, Pura Kehen A (antara 804-836 saka)

Isi prasasti Pura Kehen A adalah tentang bangunan suci Hyang Karimama yang terletak di desa Simpat Bunut.

Raja memberikan tugas kepada para bhiksu Siwarudra, Anantasuksma, dan Prabhawa serta penduduk desa Simpat Bunut untuk memperbaiki serta memperluas (pamasamahyan) pertapaan di Hyang Karimama. Batas-batasnya kemudian ditetapkan.

Dalam prasasti itu, raja juga memperbolehkan pertapaan di Hyang Karimama memiliki cabang di desa lain, asalkan tidak lebih dari 20 buah (Goris, 1954a : 60-61) (sumber).

Hyang Karimana,. . . Hyang Api di Desa Simpatbunut

Goris, 1954a : 60-61

Prasasti Gobleg, Pura Desa I (836 Saka)

Prasasti Gobleg, Pura Desa I (836 Saka) berisi tentang perintah untuk memperbaiki bangunan suci di Bukittunggal yang bernama Indrapura, yang berada dalam wilayah desa Air Tabar.

Prasasti ini juga mencantumkan aturan pembagian harta warisan dan keringanan dari tugas-tugas tertentu yang didapat oleh penduduk.

Prasasti Angsri A

Tidak banyak yang bisa dibaca dari Prasasti Angsri A karena keadaannya sangat aus. Dari bagian yang masih dapat dibaca diketahui nama bangunan suci Hyang Api dan Hyang Tanda. Kedua bangunan suci itu mendapat persembahan bagian harta warisan keluarga yang putus keturunan (Goris, 1954a : 62).

Prasasti Blanjong (835 Saka)

prasasti Blanjong peninggalan kerajaan Bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Blanjong ditemukan oleh Stutterheim sekitar tahun 1930. Pada saat ditemukan, kondisi prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini kondisinya sudak agak aus bahkan ada beberapa baris hurufnya hilang.

Prasasti Blanjong terbuat dari batu padas, disebut sila prasasti.

Prasasti Blanjong berbentuk tiang batu atau berwujud bunga teratai berukuran tinggi 177 cm dan garis tengah sekitar 62 cm.

Prasasti Blanjong ditulis di kedua sisi batu. Pada sisi barat laut berisi 6 baris tulisan, menggunakan aksara Pre-Negari dan bahasa Bali Kuna. Sisi ini kemudian disebut sisi A.

Pada sisi tenggara berisi 13 baris tulisan, menggunakan huruf Bali Kuna (Kawi) dan bahasa Sansekerta. Kemudian disebut sisi B.

Isi Prasasti Blanjong sisi A :

Çaka 8bde cara wahnimurtiganitre mase tahta phalgune (ara(sara)1)….2)

…..(ra)…..(taki) naswa (ksa)…..3) radhayajihitwaro winihatyawairini… …h…. ng(s)…..

…..(hi) (ja) wampurang singhadwala pure (niki) -i….ya….ta….t….

…..// (ca)….. wulan phalguna…. Cri kesari… …

…..rah di gurun dis (u) wal duhamalahang mussuddho…..ngka…..(rna)…..(tah) di kutara…..

nnata…..(tadbhaja)….kabudhi kabudhi//4)

Artinya :

Pada tahun 835 Caka bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di keraton Singhadwala bernama Cri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.

Isi Prasasti Blanjong sisi B :

swa…..ratapratapamahi…..(ha)…..ccodayah/dhwastarati tamasccayo (buga)na

…..samarggaranggapriyah/padmobo-5)i…..(asa) serawirabudha a…../ nahkrtih walidwiba…..

…..(bhayebhirowi)…..(bhe)ri….na(bhu) pa(ca) (ci) na a(g)atwa…..

……………………………

…………………………

…………………………………

…………………………………

…..(ca)….(mancangcuta)……

…..(cepra) yatandicarssyannantarisr-u…..

…..//(wija)yarka (ndantarand) anta (pe) kabhajobhrcam//yena-

……..nbhidya (sata) langwidyayunggurubhihsarrundhyaca-trunyu (dh)i

Maha….ha(dwa)iparagrewairimahibhuja(ng)srjutarahkamp………

…..ndre)th)a-r-(amajasa)pta…..ptihsamastaamantadhipatih crikesari (warmma(dewa)….

Goris, 1954:64-65; Wiguna, 1990:28

Arti tulisan pada prasasti Blanjong sisi B kurang lebih sama dengan sisi A.

Hanya saja, di sisi B gelar raja terbaca lebih lengkap, yakni Adhipatih Cri Kesari Warmadewa.

Dari sisi B ini juga diketahui bahwa berkat kemenangannya atas Gurun dan Swal tersebut maka Cri Kesari Warmadewa dikatakan telah menguasai seluruh Walidwipa (Pulau Bali).

Dan atas alasan kemenangan itulah tugu prasasti Blanjong ini didirikan.

Prasasti Penempahan (835 saka)

prasasti panempahan peninggalan kerajaan bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Panempahan berada di Pura Puseh Panempahan, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

Prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini berbahan batu padas berbentuk silindris berukuran panjang 14,5 cm, lebar 36 cm, dan tinggi 37 cm.

Isi prasasti panempahan :

//……(w)ulan phalguna ḳr(snapaksa)…..

…..(kittān pa)rhaj(yān) śri kaisari ūli…

…(m)us(u)haǹkas da wa t(ya) ri wuci….

…kadya kadya makatka di tuǹgala

Drs. I Wayan Gede Teneya (Ketua Tim BPCB Bali)

Artinya :

Artinya:

Prasasti Malet Gede (835 Saka)

prasasti malet gede peninggalan kerajaan bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Malet Gede berada di Pura Penataran Malet Tengah.

Seperti prasasti Blanjong, prasasti Malet Gede juga mencantumkan nama raja Sri Kesari Warmadewa dan penaklukan wilayah.

Isi prasasti Malet Gede :

// Ṡaka 835 wulan phalguna kṛsṇa – pakṣa

kittan parhajyan śṛi ke – – – – – – – – – – – –

– – – – ta musuh ro – (ngi) – tas bhagu – – – – –

– – — – -kadya kadya maksa – – – – – – – – – – – –

Artinya :

  1. Pada tahun Saka 835 (913 Masehi) , bulan Phalguna
  2. (bulan ke delapan), paro gelap
  3.  – – – – – – raja Sri Kesariwarma(dewa) – – – – – – – –
  4.  – – – – – – musuh musuh – – – – – – – – – – – – –
  5.  – – – – – -selamanya dan  pernah – – – – – – – – – – – – –

Prasasti Pukuh (835 saka)

prasasti pukuh peninggalan kerajaan bali kuno (sumber : kemdikbud)

Prasasti Pukuh ditemukan di Desa Pukuh, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli.

Prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno ini terbuat dari bahan material batu padas berbentuk silindris dengan ukuran tinggi 110 cm dan diamater  silinder 43 cm.

Di bidang samping prasasti terdapat pahatan aksara berjumlah 4 baris. Prasasti Pukuh menggunakan aksara bali kuno dan bahasa Bali Kuno.

Isi Prasasti Pukuh :

i śaka 835 wulan phalguṇa  kṛsna pakṣa pu

tha(-)raska parhajyan śri khesari laḥ me la – – – 

hli musuḥ ka ingkaḥ  sda – – –  cihnan – – –

wudpakadya kadya maka tka di tunggalan.

Artinya :

Prasasti-prasasti Raja Ugrasena

Raja Sri Kesari Warmadewa kemudian digantikan oleh Sang Ratu Sri Ugrasena.

Raja Ugrasena tercatat namanya dalam prasasti-prasastinya tahun 837-864 Saka (915-942). Era pemerintahannya sejaman dengan masa Pu Sindok di Jawa Timur (Goris, 1948 : 5).

Raja Ugrasena mengeluarkan sebelas prasasti, yaitu, prasasti Banjar Kayang (837 Saka), prasasti Les, Pura Bale Agung (837 Saka), Babahan I (839 Saka), Sembiran AI(844 Saka), Pengotan AI (846 Saka), Batunya AI (855 Ska), Dausa, Pura Bukit Indrakila AI (857 Saka), Serai AI (858 Saka), Dausa, Pura Bukit Indrakila BI (864 Saka), prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg, Pura Batur A (Goris, 1954a : 8-11 ; 63-72).

Kesebelas prasasti itu menggunakan bahasa bali kuno.

Isi prasasti itu sebagian besar tentang kebijakan raja mengenai keringanan pajak dan pembangunan tempat suci.

Diantara kebijakan itu adalah sebagai berikut :

Prasasti-prasasti raja Tabanendra Warmadewa

Pengganti Raja Ugrasena adalah Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa.

Dia memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yang bernama, Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967).

Raja suami istri ini mengeluarkan beberapa prasasti, yaitu, prasasti Manik Liu AI (877 Saka), Manik Liu BI (877 Saka), Manik Liu C (877 Saka), dan Kintamani A (899 Saka).

Ketiga prasasti Manik Liu membahas masalah yang sama, yaitu, raja membebaskan Samgat Juru Mangjahit Kajang, dan anak bandut yang berdiam di desa Pakuwwan dan Talun dari kewajiban tugas gotong royong dan berbagai pajak, kecuali pajak rot (Goris, 1954a : 74-75).

Prasasti Kintamani A, menurut Goris isinya terkait dengan prasasti Kintamani B, yang telah dibahas di atas, yaitu, tentang perintah Raja Tabanendra Warmadewa untuk memugar pesanggarahan di Air Mih.

Dalam Prasasti Kintamani B dinyatakan juga bahwa pasanggrahan di Dharmarupa adalah cabang dari pasanggrahan di Air Mih (Goris, 1954a : 77).

Prasasti Manukaya (882 Saka)

Prasasti Manukaya adalah prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno yang mencantumkan nama raja Jayasingha Warmadewa (Stutterheim, 1929 : 68-69 ; Goris 1954a : 75-76 ; Damais, 1955 : 224-225).

Dalam prasasti ini, raja memerintahkan untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring).

Prasasti Sembiran AII (897 Saka)

Prasasti Sembiran AII memberikan informasi bahwa pada tahun 897 Saka, kerajaan Bali dipimpin oleh raja Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa (Brandes, 1889 : 46-48 ; Goris, 1954a : 77-79 ; Damais, 1955 : 226).

Prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka)

Prasasti Gobleg, Pura Desa II mencantumkan raja pengganti Raja Janasadhu Warmadewa yaitu Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (Goris, 1954a : 79-80 ; Damais, 1955 : 226-227).

Prasasti-prasasti raja Sri Dharmodayana Warmadewa dan Sri Gunapriyadharmapatni

Ratu Sri Wijaya Mahadewi diduga mangkat pada tahun 911 Saka (989).

Setelahnya, raja yang memerintah kerajaan Bali adalah pasangan suami istri, Sri Dharmodayana Warmadewa dan Sri Gunapriyadharmapatni.

Prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja suami istri ini adalah prasasti Bebetin AI (911 Saka), Serai AII (915 Saka), Buwahan A (916 Saka), Sading A (923 Saka) dan prasasti Tamblingan Pura Endek II (Goris, 1954a : 80-88).

Di antara semua prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno periode pemerintahan Sri Dharmodayana Warmadewa dan Sri Gunapriyadharmapatni, prasasti Buwahan A paling menarik perhatian para peneliti.

Pada intinya, isi prasasti Buwahan A adalah raja Gunapryadharmapatni dan Udayana memberikan ijin kepada desa Bwahan yang terletak di sisi Danau Batur untuk lepas dari desa induknya, yakni desa Kdisan (kini desa Kedisan Kintamani).

Setelah selalu menerbitkan prasasti secara bersama-sama, raja Udayana kemudian menerbitkan prasasti atas namanya sendiri tanpa permaisurinya, pada tahun 933 Saka, yaitu, prasasti Pura Abang A (Goris, 1954a : 88-94 ; Damais, 1955 : 185).

Kemungkinan, Sri Gunapriyadharmapatni meninggal sebelum tahun 933 Saka.

Prasasti pura Abang A diberikan untuk desa Air Hawang (sekarang desa Abang, Kintamani).

Selain prasasti-prasasti di atas, masih ada lima buah prasasti singkat (short inscription) yang terbit pada masa ini, yaitu prasasti-prasasti Besakih, Pura Batumadeg (nomor lama 908), Ujung Pura Dalem (nomor lama 357) berangka tahun 932 Saka, Gunung Penulisan A (933 Saka), Gunung Penulisan B, dan Sangsit B (nomor lama 437) berangka tahun 933 Saka (Goris, 1954a : 46, 94, 105-107 ; Damais, 1955 : 229).

Setelah mangkat, Gunapriyadharmapatni dicandikan di Burwan, dan Udayana yang diduga mangkat tidak lama setelah tahun 933 Saka dicandikan di Banu Wka.

Prasasti Sembiran AIII (938 Saka)

Prasasti Sembiran Aiii dikeluarkan oleh Ratu Sri Ajnadewi pengganti raja Udayana dan Gunapriyadharmapatni.

Prasasti-prasasti raja Marakata

Ratu Sri Ajnadewi sebenarnya bertindak sebagai wali Marakata, karena usianya yang masih muda.

Marakata tercatat mengeluarkan prasasti pertamanya, yaitu prasasti Batuan pada tahun 944 Saka (1022).

Selain prasasti Batuan, Raja Marakata juga mengeluarkan prasasti Sawan A I = Bila I (nomor lama 353) yang berangka tahun 945 Saka, Tengkulak A (945 Saka), dan Bwahan B (947 Saka).

Dalam prasasti-prasasti ini, gelar lengkap raja Marakata adalah Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.

Selain prasasti-prasasti di atas, terdapat beberapa prasasti singkat yang terbit pada masa pemerintahan raja Marakata, yaitu prasasti Kesian, Pura Sibi I (945 Saka), Kesian, Pura Sibi II (948 Saka), Kesian Pura Sibi III (948 Saka), Kesian, Pura Sibi IV dan Bangli, Pura Kehen B (nomor semula 356) tanpa angka tahun.

Prasasti-prasasti raja Anak Wungsu

Raja Anak Wungsu adalah raja kerajaan Bali Kuno yang paling lama, yaitu, selama tidak kurang dari 28 tahun. Raja Anak Wungsu mengeluarkan 31 buah prasasti.

Prasasti-prasasti raja Sri Maharaja Sri Walaprabhu

Pengganti Raja Anak Wungsu adalah Sri Maharaja Sri Walaprabhu. Raja ini memerintah tahun 1001-1010 Saka ( 1078-1088).

Nama Sri Maharaja Sri Walaprabhu tercantum dalam prasasti Babahan II (nomor lama 501).

Goris menduga Prasasti Ababi A (nomor lama 447) dan Klandis (nomor lama 448) juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu (1954a : 26 ; 1965 : 33).

Prasasti-prasasti raja Sri Sakalendukirana

Pengganti Sri Walaprabhu adalah Paduka Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotunggadewi. Nama raja ini tercantum dalam prasasti Pengotan B I (1010 Saka), dan Pengotan B II (1023 Saka).

Prasasti-prasasti raja Sri Maharaja Sri Suradhipa

Raja kerajaan Bali kuno pengganti Ratu Sakalendukirana adalah Paduka Sri Maharaja Sri Suradhipa.

Raja Paduka Sri Maharaja Sri Suradhipa mengeluarkan prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Saka), Angsari B (1041 Saka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.

Prasasti-prasasti Raja Patih Kbo Parud

Raja Suradhipa digantikan oleh raja-raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu :

Setelah masa pemerintahan raja Ekajayalancana sampai dengan akhir masa kerajaan Bali Kuno, terjadi lima kali pergantian raja.

Antara Raja Sri Wirama (1126 Saka) dan Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Saka) terdapat masa kosong tanpa raja selama kurang lebih 56 tahun. Belum diketahui kenapa hal ini bisa terjadi.

Setelah kekuasaan raja Adidewalancana, terjadi lagi masa tanpa raja selama kurang lebih 64 tahun, yaitu, tahun 1182-1246 Saka (1260-1324).

Pada periode itu hanya terbit dua buah prasasti, yaitu, prasasti Pengotan E (1218 Saka) dan Sukawana D (1222 Saka).

Prasasti Pengotan E dan Sukawana D dikeluarkan oleh Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan).

Tokoh Kbo Parud ini ternyata hanya berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja (Goris, 1948 : 11 ; 1954a : 42).

Prasasti Langgahan (1259 Saka)

Kedudukan Kbo Parud sebagai penguasa Bali digantikan oleh Bhatara Guru II (Bhatara Sri Mahaguru), yang dinobatkan sebagai raja Bali pada tahun 1256 Saka (1324).

Bhatara Guru II digantikan oleh Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat. Raja ini berkuasa dibantu oleh ibunya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru.

Pengganti Raja Walajayakrttaningrat dan ibunya adalah Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten.

Nama raja Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten terbaca dalam prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 Saka (Goris, 1954a : 44 ; Damais, 1955 : 99).

Prasasti peninggalan raja bali kuno terakhir ini menceritakan bahwa pada tahun 1259 Saka raja menetapkan pelbagai drwyahaji yang harus dibayar oleh penduduk di wilayah pertapaan Langgaran.

Prasasti Langgahan juga menetapkan batas-batas wilayah pertapaan dan menyebutkan nama-nama pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang menyaksikan penganugerahan prasasti itu.

Bagian akhir prasasti Langgahan berisi sumpah kutukan (sapatha) yang pada intinya mengharapkan agar orang-orang yang melanggar ketetapan dalam prasasti itu mendapat mala petaka setimpal.

Prasasti Pura Tegeh Koripan (di puncak Gunung Penulisan)

Di pura Tegeh Koripan terdapat sebuah arca yang bagian belakangnya terpahat prasasti.

Prasasti terdiri atas sembilan baris tulisan yang sulit dibaca karena kondisinya sangat aus.

Pada baris ke delapan terdapat bagian yang berbunyi ”…t (asu) raratnabumi…” (Stutterheim, 1929 : 79).

Belakangan, Damais membaca bagian itu sebagai berbunyi ”(–)—stasura ratnabumi banta,…”(1955 : 129).

Sementara Goris membaca astasura-ratna bumi-banten (1954a : 44).

Di atas prasasti terdapat candra sengkala berupa empat gambar, yakni paling depan tidak jelas karena sudah pecah, berikutnya gambar mata (dengan nilai 2), kapak yang bernilai 5, dan terakhir tidak jelas, mungkin gunung (bernilai 7) atau laut (bernilai 4).

Berdasarkan candra sengkala itu, angka tahun prasasti tersebut diprediksi 1254 atau 1257 Saka (Stutterheim, 1929 : 79).

Di pihak lain, Damais berpendapat prasasti itu berangka tahun 1352 Saka (1439) (1955 : 129-130).

Candi Peninggalan Kerajaan Bali Kuno

Di dalam prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno banyak diceritakan tentang pembangunan candi/tempat suci.

Beberapa candi peninggalan kerajaan Bali kuno masih bisa disaksikan hingga hari ini sebagi bagian peninggalan sejarah Bali yang sangat berharga.

Di bawah ini adalah beberapa candi peninggalan kerajaan Bali kuno :

Candi Gunung Kawi

Candi Gunung Kawi, salah satu peninggalan kerajaan Bali. Bangunan kuno ini terletak di Sungai Pakerisan, Dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, Indonesia. (sumber Wikipedia).

Candi Gunung Kawi adalah salah satu peninggalan kerajaan Bali kuno yang cukup monumental dalam sejarah Bali.

Kompleks Candi Gunung Kawi ditemukan pertama kali oleh H.T. Damste pada tahun 1920.

Penelitian untuk mengungkap salah satu peninggalan kerajaan Bali kuno ini telah dilakukan sejak tahun 1951 oleh J. C. Krygsman dan terus berlangsung hingga saat ini (Kempers 1960, 81).

Berdasarkan studi paleografi terhadap tulisan Kediri Qwadrat yang terpahat di kelompok lima candi dan candi kesepuluh, para peneliti menduga Candi Gunung Kawi didirikan pada abad 11 Masehi (sumber).

Bangunan suci ini terletak di daerah aliran sungai (DAS) pekerisan.

Berita tentang adanya bangunan suci di DAS Pakerisan tercatat dalam Prasasti Batuan (944 Saka/1022 Masehi) dan Prasasti Tengkulak A (945 Saka/1023 Masehi).

Prasasti Batuan dan prasasti Tengkulak A diterbitkan oleh raja Marakata.

Baca juga : 95 prasasti kerajaan bali kuno (isi dan gambar)

Situs candi Gunung Kawi terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok candi tebing dan kelompok ceruk pertapaan.

Candi Tebing Gunung Kawi

Kelompok candi Tebing Gunung Kawi berupa pahatan pada tebing cadas.

Candi Tebing Gunung Kawi terdiri dari 10 candi, yang dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu : kelompok lima candi, kelompok empat candi, dan sebuah candi yang disebut candi ke-sepuluh.

Kelompok lima candi berdiri berderet di sebelah timur sungai Pakerisan menghadap ke barat.

Pada candi terbesar yang terletak paling utara, terpahat tulisan menggunakan aksara Kediri Qwadrat “aji lumah ing jalu” yang berarti raja yang dicandikan di jalu.

Pada candi No 2 dari utara terpahat tulisan menggunakan aksara Kediri Qwadrat “rwa nakira” yang berarti dua anaknya.

Candi dengan tulisan “aji lumah ing jalu” adalah candi yang diperuntukan bagi raja Udayana sedangkan candi dengan tulisan ”rwa nakira” diperuntukan bagi dua anaknya yakni raja Marakata dan Anak Wungsu (Goris, 1957: 25; Kempers, 1960: 78).

Kelompok empat candi berdiri berderet di sebelah barat sungai Pakerisan menghadap ke timur, berhadap-hadapan dengan kelompok lima candi.

Sementara itu, candi kesepuluh berdiri di sebelah barat daya, berjarak sekitar 500 meter dari kelompok lima candi.

Candi kesepuluh terletak di barat sungai Pakerisan menghadap ke timur, yang disebut Bukit Gundul.

Pada candi kesepuluh terpahat tulisan menggunakan aksara Kediri Qwadrat “rakyan”.

Candi kesepuluh adalah candi yang diperuntukan bagi pejabat Rakyan/perdana menteri (Goris, 1957: 25).

Ceruk Pertapaan Gunung Kawi

Ceruk pertapaan di komplek situs Gunung Kawi dipahat pada tebing cadas. Ceruk-ceruk pertapaan ini ada yang dibuat berkelompok ada yang berderet.

Ceruk pertapaan yang berkelompok dipahat di sebelah selatan kelompok lima candi.

Ceruk pertapaan yang berderet terpahat di sebelah tenggara ceruk pertapaan yang berkelompok.

Ceruk pertapaan Gunung Kawi dinamai Amarawati. Nama Amarawati tercatat di dalam prasasti Tengkulak A (945 Caka) yang dikeluarkan oleh Raja Marakata.

Candi Pegulingan

Candi pegulingan peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini terletak di Banjar Basangambu, Desa Pekraman Basangambu, Desa Manukaya, kecamatan Tampaksiring, kabupaten Gianyar, Bali (sumber : kemdikbud).

Candi Pegulingan terletak di dalam komplek Pura pegulingan.

Menurut Lontar Usana Bali, Pura Pegulingan dibangun pada saat pemerintahan Raja Masula Masuli sekitar abad ke 11 Masehi atau tahun caka 1178.

Candi Pegulingan ditemukan pada tahun 1982, ketika masyarakat banjar berniat membangun sebuah Padmasana di dalam komplek pura.

Candi Pegulingan berbentuk stupa yang berdiri di atas lapik padmaganda.

Bagian kaki stupa berbentuk segi delapan, bagian tengah terdapat anda, dan pada bagian atas berupa yasti berbentuk silinder.

Di bagian anda yang mengarah ke barat, terdapat relief dua ekor gajah yang saling membelakangi di kanan dan kiri tangga gapura.

Para peneliti menduga relief tersebut adalah sebuah candrasengkala, yang memiliki arti, yaitu Gajah bernilai 8, gapura bernilai 9, dan gajah bernilai 8, yang menghasilkan angka tahun 898 Saka (976 Masehi).

Selain stupa, di komplek situs Pura Pegulingan ditemukan juga benda-benda peninggalan kerajaan Bali kuno lain, seperti materai tanah liat, relief Gana, arca Budha dari emas dan fragmen-fragmen bangunan, serta kotak batu padas berisi materai tanah liat.

Pada materai tanah liat terpahat Ye-Te mantra yang ditulis menggunakan huruf pranagari dengan bahasa Sanskerta.

Ye-Te Mantra ini adalah mantra Agama Buddha Mahayana tentang 3 ajaran Dharma.

Isi Ye-Te Mantra di Pura Pegulingan :

Ye dharmah hetu pra

Bhawah hetun tesan tatha

Gato hyawadat tesan ca yo ni

Rodha ewam wada mahacramanah

Om ye te swaha om krata

Rah pramblinih…..”

Artinya : Buddha (tathagata) telah berkata demikian Dharma ialah sebab atau pangkal dari segala kejadian (segala yang ada). Dan juga (Dharma itu) sebab atau pangkal dari kehancuran penderitaan. Demikianlah ajaran sang maha pertapa(Sang Budha).

Arca Budha yang ditemukan di Pura Pegulingan diperkirakan berjumlah lima buah, namun hanya empat yang sudah ditemukan.

Arca-arca Budha ini terbuat dari batu padas yang sudah dalam kondisi rusak.

  1. Arca 1, diperkirakan adalah arca Dhyani Budha dengan sikap tangan dharmacakramudra, menguasai bagian tengah.
  2. Arca 2, diperkirakan adalah arca Dhyani Budha Aksobhya dengan sikap tangan bhumisaparsamudra, menguasai arah timur.
  3. Arca 3, diperkirakan adalah arca Dhyani Budha Amoghasidhi dengan sikap tangan abhayamudra, menguasai arah utara.
  4. Arca 4 kondisinya sudah sangat rusak. Berdasarkan bentuk ketiga arca lainnya maka arca ke 4 ini diperkirakan adalah Dhyani Budha Amitabha dengan sikap tangan kiri dyanamudra, menguasai arah barat.
  5. Arca 5 (belum ditemukan) diperkirakan adalah Dhyani Budha Ratnasambhawa dengan sikap tangan waramudra, yang menguasai arah selatan.

Selain peninggalan berupa arca Budha dan Fragmen lainnya juga ditemukan panca datu serta arca yoni yang bersifat Siwaistik. Dengan demikian pada saat berdirinya Candi Pegulingan sudah terjadi sinkritisme paham Siwa Budha, itu berarti pada zaman tersebut pemujaan terhadap Siwa (Hindu) dan Budha sudah berjalan baik dan damai (Prof. Dr. Soekomo, Bali Post : 15 September 1983).

Candi Mangening

Candi mangening peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini terletak di komplek Pura Mangening di Banjar Sarasada, Desa Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali (sumber : Gianyarkab.go.id)

Candi Mangening adalah situs peninggalan kerajaan Bali kuno pada masa pemerintahan Raja Marakata tahun 1022 Masehi.

Candi Mangening pertama kali ditemukan oleh WF Sutterheim di sekitar tahun 1925 – 1927, namun tidak dijelaskan secara rinci.

Selanjutnya, pada tahun 1960 Bernet Kempers menyatakan bahwa terdapat sebuah kuil dengan sisa-sisa bangunan yang terletak di atas bukit kecil.

Candi Mangening terletak di lembah sungai Pakerisan yang yang memang kaya peninggalan arkeologis era kerajaan Bali kuno.

Candi Tebing Tegallinggah

Candi tebing tegallinggah peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini terletak di Sungai Pakerisan, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali (sumber : Kemdikbud)

Candi Tebing Tegallinggah adalah peninggalan kerajaan Bali kuno yang terletak di Daerah Aliran Sungai Pakerisan yang memang banyak ditemukan peninggalan arkeologi.

Candi Tebing Tegallinggah adalah komplek yang terdiri dari candi tebing dan ceruk-ceruk pertapaan. Mirip seperti komplek Candi Gunung Kawi namun dengan ukuran lebih kecil (Dinas Purbakala Republik Indonesia,  1958: 32-33; A. J. Bernet Kempers, 1960 : 52).

Kompleks candi dan ceruk pertapaan ini ditemukan oleh Krijgsman pada tahun 1952.

Saat awal ditemukan, seluruh bangunan candi masih tertimbun tanah.

Komplek Candi Tebing Tegallinggah diperkirakan dibangun sekitar abad ke 10-14 Masehi (Bagus, A.A.G., 1986).

Peneliti lainnya, yaitu Kastawan, I.W., & dkk, 2009 juga memperkirakan Candi Tebing Tegallinggah dibangun sekitar abad ke 13 Masehi.

Candi Tebing Jukut Paku

Candi Tebing Jukut Paku peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini terletak di desa Singakerta, Kec. Ubud, Kabupaten Gianyar Bali.

Candi Tebing Jukut Paku memiliki konsep yang sama dengan candi Gunung Kawi dan Candi Tebing Tegallinggah, yaitu pahatan candi di tebing dan ceruk pertapaan.

Belum diketahui kapan candi Tebing Jukut Paku dibangun. Berdasarkan kemiripan konsep candi, diperkirakan candi ini dibangun sejaman dengan candi Gunung Kawi atau Candi Tebing Tegallinggah.

Candi Tebing Kerobokan

candi tebing kerobokan peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini terletak di Dusun Cemadik, Desa Pejeng Kangin, Kec. Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Prov. Bali (sumber : Kemdikbud)

Candi Tebing Kerobokan sudah diketahui psejak 1927 oleh stutterheim dan Bernet Kempers.

Dinamai Candi Tebing Krobokan karena Candi ini terpahat di tebing pertemuan dua sungai yaitu Sungai Pakerisan dan Sungai Krobokan.

Karena kondisi geografis lingkungan candi yang sangat lembab, kondisi Candi Tebing Kerobokan yang dipenuhi lumut.

Meskipun beberapa bagian candi sudah aus, namun bentuk arsitekturnya secara keseluruhan masih dapat dikenali, yaitu mirip dengan komplek komplek candi peninggalan kerajaan Bali kuno lainnya di sepanjang Sungai Pakerisan.

Belum ada data kapan Candi Tebing Kerobokan dibangun. Berdasarkan analisa terhadap bentuk arsitekturnya para peneliti memperkirakan candi ini dibangun sekitar abad 12 masehi, lebih muda dibandingkan dengan Candi Gunung Kawi yang berasal dari abad 11 masehi.

Situs Candi Wasan

candi wasan peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini Dusun Belahtanah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar (sumber : kemdikbud)

Situs Candi Wasan pertama kali diteliti oleh JC Krishman, peneliti asal Belanda pada tahun 1950.

Peninggalan arkeologi di situs Candi Wasan tersebar di tiga tempat, yaitu Pura Kawitan Puseh Wasan Watunginte, Pura Ulun Suwi, dan Pura Puseh Wasan (Candi Wasan).

Candi Wasan berbentuk segi empat panjang dengan ukuran 11,10 x 9,40 meter menghadap ke arah barat.

Keunikan Candi Wasan adalah letak pintu candi yang tidak tepat di tengah seperti umumnya candi-candi di Jawa.

Selain berupa candi, di komplek situs ini terdapat berbagai peninggalan kerajaan Bali kuno seperti, arca Catur Muka, Ganesha, Lingga, Arca Binatang, dan lain-lain.

Berdasarkan langgam arca Brahma Catur Muka, perwujudan Bhatara-Bhatari dan arca Nandhi yang lapiknya berhiaskan tengkorak, kompleks Situs Candi Wasan diperkirakan dibangun pada abad 13-14Masehi.

Goa Gajah

goa gajah peninggalan kerajaan bali kuno. Situs purbakala ini terletak di terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali (sumber : kemdikbud)

Gua Gajah ditemukan berdasarkan laporan LC. Heyting pada tahun 1923 tentang penemuan arca Ganesha, Trilingga dan arca Hariti kepada pemerintah Hindia Belanda.

Laporan itu segera ditindaklanjuti dengan ddiadakannya penelitian oleh Dr. WF. Stutterheim pada tahun 1925.

Pada tahun 1931 Conrat Spies menemukan temuan yang cukup penting di komplek Tukad Pangkung berupa stupa bercabang tiga yang terpahat di dinding batu yang telah runtuh.

Pada tahun 1950 Dinas Purbakala RI, di bawah pimpinan J.L Krijgman melakukan penelitian dengan melakukan penggalian di pelataran depan mulut gua.

Dari penggalian tersebut, tim peneliti menemukan fondasi kuno berbentuk persegi panjang, di mana dinding muka gua sebagai salah satu sisi panjangnya. Itu adalah sebuah kolam pemandian dengan pancoran kuno.

Tidak ada satu pun prasasti peninggalan kerajaan Bali kuno yang secara langsung menyebut nama Gua Gajah. Penamaan Gua Gajah adalah penamaan yang baru.

Pada Prasasti Songan (1022 Masehi) yang diterbitkan Raja Marakata dan Prasasti Cempaga (1324 Masehi) yang diterbitkan oleh Raja Sri Mahaguru, tempat ini disebut dengan nama Er Gajah.

Prasasti Dawan (1053 masehi) dan Prasasti Pandak Badung (1071 masehi) menyebutkan dengan nama Antakunjarapadda (Kunjara = gajah).

Di dalam daam kitab Negarakertagama nama Lwa Gajah juga disebut-sebut.

Lwa atau Lwah/Loh berarti sungai, sehingga Lwa Gajah mengandung arti Sungai Gajah; kemungkinan pada zaman dahulu Sungai Petanu yang terletak di depan candi bernama Sungai Gajah.

Candi Kalibukbuk

Candi kalibukbuk peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini terletak di desa Kalibukbuk, Kabupaten Buleleng, Bali, Indonesia (sumber : doc BPCB Bali/Kemdikbud)

Candi Kalibukbuk terdiri dari tiga bangunan. Candi yang terbesar pondasinya berbentuk segi delapan terletak di tengah, diapit oleh dua buah candi perwara yaitu bangunan segi empat sama sisi dengan panjang satu sisi 2,70 meter.

Candi Kalibukbuk dibangun menggunakan batu bata berukuran 10 x 20 x 40 cm.

Di bagian tengah struktur bawah lantai terdapat lubang berbentuk segi empat berukuran 1,40 x 1,40 cm dan kedalaman 60 cm.

Selain berupa bangunan candi, di situs Kalibukbuk juga ditemukan berbagai artefak, seperti stupika, materai, relief, dan pecahan gerabah.

Berdasarkan bentuk dan artefak tersebut, situs Kalibukbuk diduga adalah peninggalan kerajaan Bali kuno yang dahulu digunakan sebagai tempat pemujaan agama Budha pada sekitar abad 9.

Candi Jehem

Candi jehem peninggalan kerajaan bali kuno. Candi ini terletak di Dusun/Banjar Jehem Kaja, Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali (sumber : kemdikbud).

Candi Jehem awalnya adalah sebuah candi yang terpahat di tebing Sungai Melangit. Namun, karena longsor, saat ini disimpan di ke sebelah Utara lokasi awal di lahan yang landai dan dibuatkan balai pelindung.

Fragmen candi Jehem terbuat dari batu padas berukuran tinggi 174 cm, lebar 117 cm, tebal 48 cm. Saat ini kondisi candi sudah dalam kondisi aus/tidak utuh.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan Bali kuno :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian Artikel kami tentang peninggalan kerajaan Bali kuno yang masih bisa disaksikan gingga kini. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring