Katamasa

Pengertian Zaman Batu : Pengertian, Ciri-ciri, & Peninggalan

Pengertian zaman batu adalah periode zaman prasejarah yang ditandai dengan penggunaan alat-alat atau struktur bangunan yang terbuat dari batu.

Sebenarnya, pada zaman batu manusia juga menggunakan tulang dan tanduk binatang untuk membuat peralatan dan senjata, namun sebagin besar terbuat dari batu.

Ada tiga pembagian zaman batu, yaitu zaman batu tua (zaman paleolitikum), zaman batu madya/tengah (zaman mesolitikum), dan zaman batu muda (zaman neolitikum).

Selain itu, ada juga zaman batu besar (zaman megalitikum). Namun, zaman batu besar bukan merupakan pembagian zaman batu, karena kebudayaan batu besar berkembang dalam rentang zaman neolitikum sampai zaman perunggu.

Stonehenge adalah salah satu monumen peninggalan zaman batu besar (zaman megalitikum)

Di artikel ini kita akan membahas apa pengertian zaman batu, ciri-ciri zaman batu, pembagian zaman batu, dan perkembangan zaman batu terutama di Indonesia.

Pengertian Zaman Batu

Pengertian zaman batu adalah zaman prasejarah saat manusia sebagian besar menggunakan peralatan yang terbuat dari batu.

Zaman batu adalah periode paling awal dari perkembangan peradaban manusia di muka bumi.

Zaman batu sudah mulai berlangsung kira-kira 2,58 juta tahun yang lalu. Bahkan bisa jadi lebih awal lagi, seiring makin banyaknya penemuan alat-alat yang dibuat jauh sebelum rentang waktu tersebut.

Ada tiga macam macam zaman batu, yaitu zaman batu tua, zaman batu madya, dan zaman batu muda. Ditambah lagi zaman batu besar yang ditandai dengan peninggalan bangunan-bangunan yang terbuat dari batu besar.

Dengan demikian, ciri-ciri zaman batu berbeda-beda untuk masing-masing periode. Periode masa perkembangannya pun berbeda-beda karena tiap belahan dunia mengalami periode zaman batu tua, madya, atau muda secara berbeda-beda waktu.

Pembagian Zaman Batu

Perkembangan zaman batu dibagi menjadi 3 periode, yaitu, paleolitikum, mesolitikum, dan neolitikum. Ditambah megalitikum aatu kebudayaan batu besar.

Di bawah ini kita akan membahas masing-masing periode zaman batu beserta ciri-ciri masing-masing.

A. Zaman Batu Tua (zaman paleolitikum)

Pengertian zaman batu tua/zaman paleolitikum adalah salah periode paling awal dari zaman batu.

Awal Periode Paleolitik biasanya disebutkan bertepatan dengan penemuan bukti pertama alat-alat dari batu sekitar 2,58 juta tahun yang lalu, dekat awal zaman Pleistosen (2,58 juta hingga 11.700 tahun yang lalu).

Namun, pada 2015, para peneliti yang menggali dasar sungai kering di dekat Danau Turkana di Kenya menemukan alat-alat batu primitif yang tertanam dalam batuan yang berasal dari 3,3 juta tahun yang lalu — pertengahan Zaman Pliosen (sekitar 5,3 juta hingga 2,58 juta tahun lalu). (sumber).

Alat-alat itu lebih tua dari spesimen paling tua sebelumnya yang dikonfirmasi berusia hampir 1 juta tahun.

Hal ini membuat ilmuwan membuka kemungkinan bahwa pembuatan alat-alat dari batu telah dilakukan oleh manusia jenis Australopithecus atau manusia jenis lain sezamannya.

Jika dugaan ini benar maka waktu dimulainya tahap budaya paleolitikum ini harus dievaluasi kembali.

Manusia pendukung zaman batu tua adalah Pithecantropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Soloensis.

Baca juga : Jenis-jenis Manusia Purba

Fosil-fosil manusia purba zaman batu tua banyak ditemukan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo.

Peninggalan-peninggalan ini, oleh sejarawan disebut kebudayaan Pacitan dan Ngandong.

Manusia pendukung zaman batu tua hidup dengan cara berburu dan meramu makanan tingkat sederhana.

Ciri-ciri zaman batu tua (zaman paleolitikum)

Di bawah ini adalah beberapa ciri-ciri zaman paleolitikum :

Peninggalan zaman batu tua

Alat-alat peninggalan zaman paleolitikum masih sangat sederhana dan kasar. Bahkan, tidak jarang yang hanya berupa pecahan batu.

Beberapa artefak hasil kebudayaan peninggalan zaman paleolitikum, misalnya, kapak genggam, kapak perimbas, monofacial, alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah ditatah kedua sisinya.

Alat-alat peninggalan zaman paleolitikum ini ditemukan di Lapisan Trinil. Selain di Pacitan, alat-alat dari zaman Paleplithikum ini temukan di daerah Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Lahat (Sumatera Selatan).

Peninggalan zaman paleolitikum, kapak genggam (sumber :kemdikbud.go.id)

Baca selengkapnya : Pengertian Zaman Batu Tua (Zaman Paleolitikum)

B. Zaman Batu Madya (zaman mesolitikum)

Pengertian zaman batu tengah/zaman mesolitikum atau Zaman Batu Madya adalah periode zaman peralihan karena pada zaman ini adalah masa di antara zaman batu tua dan zaman batu muda.

Awal Periode mesolitik berlangsung pada masa holosen kira-kira 10.000 tahun yang lalu.

Zaman mesolitikum ditandai dengan manusia sudah mulai mencoba untuk hidup menetap, seperti di goa-goa.

Hasil kebudayaan zaman batu madya masih sangat sederhana namun sudah lebih maju dibandingkan alat-alat peninggalan zaman paleolitikum.

Ciri-ciri zaman batu madya (zaman mesolitikum)

Di bawah ini adalah beberapa ciri-ciri zaman mesolitikum :

Peninggalan zaman batu madya

Alat-alat peninggalan zaman mesolitikum masih sangat sederhana dan kasar. Namun, lebih baik dibandingkan peninggalan zaman paleolitikum.

Beberapa artefak hasil kebudayaan peninggalan zaman mesolitikum, misalnya, kapak genggam sumatra (sumatralith), kapak pendek, batu penggiling beserta dengan landasannya, alat dari bahan tulang, dan lain-lain.

peninggalan zaman mesolitikum, kapak sumatera (gambar : disbudpar.sumutprov.go.id/)

Baca Selengkapnya : Pengertian Zaman Batu Tengah (Zaman Mesolitikum)

C. Zaman Batu Muda (zaman neolitikum)

Pengertian zaman batu muda/zaman neolitikum adalah periode zaman batu yang ditandai dengan mulai berkembangnya tingkat kebudayaan dengan ciri-ciri, seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternakan, dan pembuatan tembikar.

Zaman neolitikum disebut sebagai revolusi kebudayaan manusia karena pada zaman batu muda ini manusia mulai hidup secara berkelompok dan hidup secara menetap dalam suatu pemukiman.

Kemampuan untuk bercocok tanam dan membuat peralatan tembikar adalah lompatan besar dalam peradaban manusia.

Hal terpenting dari zaman neolitikum adalah pada zaman ini mulai berkembang pembuatan arsitektur megalitik, penyebaran teknik pertanian, dan penggunaan alat-alat batu yang sudah dikerjakan lebih halus/dipoles.

Ciri-ciri zaman batu muda (zaman neolitikum)

Di bawah ini adalah beberapa ciri-ciri zaman neolitikum :

Peninggalan zaman batu muda

Alat-alat pada zaman neolitikum sudah lebih halus dibandingkan zaman batu periode sebelumnya.

Beberapa alat-alat hasil kebudayaan peninggalan zaman neolitikum, misalnya, kapak lonjong, kapak persegi, gerabah/tembikar, perhiasan, senjata seperti anak panah, dll.

Peninggalan zaman neolitikum, kapak persegi dan kapak lonjong

Selain itu, pada zaman batu muda ini juga mulai dibangun monumen-monumen megalitik (batu besar), seperti dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak.

Di atas sudah dijelaskan bahwa zaman neolitikum ada periode awal berkembangnya kebudayaan batu besar (megalitik). Oleh karena itu, penjelasan-penjelasan mengenai bangunan-bangunan batu besar, seperti dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak akan dijelaskan di bagian zaman megalitikum di bawah ini.

Baca selengkapnya : Pengertian Zaman Batu Muda (Zaman Neolitikum)

Zaman Batu Besar (zaman megalitikum)

Pengertian zaman batu besar/zaman megalitikum adalah periode praaksara yang ditandai dengan peninggalan-peninggalan batu besar. Itu sebabnya, zaman megalitikum sering disebut dengan zaman batu besar.

Zaman Megalitikum sering disebut dengan zaman batu besar. Tidak salah, karena zaman megalitikum adalah zaman yang ditandai dengan ditemukannya hasil kebudayaan yang terbuat dari batu besar.

Namun, menurut Fritz A. Wagner, megalitik bukan saja peradaban batu besar.

Wagner berpendapat artefak batu kecil pun bisa dikelompokkan ke dalam peninggalan megalitik, apabila artefak-artefak itu dibuat dengan tujuan sakral, misalnya pemujaaan arwah nenek moyang.

Dengan kata lain, menurut Wagner budaya megalitik selalu terkait erat dengan aspek religi atau kepercayaan.

Baca selengkapnya : Pengertian Zaman Batu Besar (Zaman Megalitikum)

Ciri-ciri zaman batu besar (zaman megalitikum)

Di bawah ini adalah beberapa ciri-ciri zaman megalitikum :

Peninggalan zaman batu besar

Hasil kebudayaan peninggalan zaman megalitikum yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah sarkofagus, waruga, punden berundak, dolmen dan menhir.

1. Dolmen

Dolmen adalah hasil kebudayaan peninggalan zaman megalitikum yang berbentuk seperti seperti meja yang terbuat dari batu besar.

Dolmen terbuat dari dua atau lebih batu tegak dengan satu batu tergeletak di atasnya.

Dolmen terbuat dari dua atau lebih batu tegak dengan satu batu tergeletak di atasnya.

Dolmen sering dipergunakan sebagai tempat sesajen atau hidangan peruntukan bagi para arwah nenek moyang.

Di sebagian besar dolmen terdapat kubur batu. Nampaknya, fungsi dolmen selain sebagai tempat pemujaan juga untuk melindungi jenazah dari gangguan binatang buas.

Kuburan peninggalan zaman megalitikum di Gochang, Hwasun, dan Ganghwa berisi ratusan dolmen dari milenium pertama SM yang dibangun dari lempengan batu besar. (sumber : https://whc.unesco.org/en/list/977/)

Di Indonesia, juga banyak ditemukan dolmen.

Dolmen yang diduga dipergunakan sebagai tempat pemujaan, ditemukan seperti di Telaga mukmin, Sumberjaya, dan di daerah Lampung bagian Barat.

Dolmen di Indonesia umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan dolmen di belahan dunia lainnya.

Dimana-dolmen ini umumnya berukuran panjang sekitar 325 cm, serta lebar 145 cm, dan tinggi 115 cm.

Para peneliti menduga, masyarakat di Indonesia mulai mengenal dolmen pada masa bercocok tanam.

2. Kubur Batu

Kubur batu adalah peti batu untuk menyimpan jenazah. Kubur Batu dibentuk dari enam papan batu, dua sisi panjang, dua sisi lebar, dan sebuah batu sebagai lantai.

Daerah di Indonesia yang paling banyak terdapat kubur batu, adalah Sumba NTT dan Minahasa Sulawesi Utara. Selain itu, kubur batu juga ditemukan di Bali, Pasemah Sumatera Selatan, Wonosari Yogyakarta, Cepu Jawa Tengah dan Cirebon Jawa Barat.

Bangunan megalitikum di Sumba biasanya berupa kubur batu yang terhias arca dan relief-relief yang menarik.

Kubur Batu di Sumba Barat dibedakan menjadi enam jenis berdasarkan bentuknya yang berbeda, yaitu :

  1. Watu pawa’i : Kubur batu yang berbentuk meja batu (dolmen) yang ditopang beberapa batu bulat yang digunakan sebagai kaki atau penyangga. Umumnya digunakan untuk kuburan raja-raja dan golongan bangsawan. Sebenarnya, watu pawa’i tidak selalu digunakan sebagai kuburan, ada yang dibangun hanya sebagai monumen agung. Watu pawa’i yang digunakan sebagai kuburan umumnya dilengkapi batu kubur berukuran lebih kecil yang diletakkan persis di bawah watu pawa’i.
  2. Watu Kuoba : Berbetuk batu utuh yang dipahat menjadi peti dilengkapi lempengan batu lebar sebagai penutup. Batu kubur jenis ini ada yang dilengkapi hiasan ada yang tidak. Pola hiasnya lebih sederhana dan terletak pada bagian peti batu. Biasanya digunakan sebagai kuburan golongan menengah dan keluarganya.
  3. Koro Watu : Jenis ini terbuat dari 6 lempengan batu yang disusun menjadi peti batu. 1 sebagai dasar, 1 sebagai penutup dan 4 lainnya diletakkan di masing-masing sisi. Umumnya langsung ditempatkan di atas tanah tanpa perlengkapan lainnya.
  4. Kurukata : varian dari Koro Watu terdiri dari dua lempeng penutup bagian atas yang ditumpuk jadi satu.
  5. Watumanyoba : Bentuknya sangat sederhana, terdiri dari lempengan batu tanpa kaki yang ditempatkan di tanah. Ada berbagai model Watumanyoba : lempengan segi empat, persegi panjang, bulat telur dan lainnya. Biasanya digunakan untuk kuburan para hamba raja, oleh karena itu sering ditemukan bersebelahan dengan kuburan para raja.
  6. Kaduwatu : Batu tegak lurus (penji) dilengkapi hiasan ukiran. Umumnya adalah pasangan batu kubur lain, terutama dari jenis Watu Pawa’i. Batu jenis ini digunakan sebagai penanda arah kepala atau kaki jenazah sekaligus sebagai simbol bangsawan.
3. Menhir

Menhir adalah hasil kebudayaan megalitikum yang berupa batu tegak seperti tiang atau tugu yang dipergunakan sebagai sarana pemujaan.

Ciri-ciri menhir adalah terbuat dari batu, posisi tegak di atas tanah.

Menhir dapat ditemukan semata-mata sebagai monolit, atau sebagai sekelompok batu yang serupa.

Ukuran menhir sangat bervariasi, ada yang besar atau kecil, berbeda di tiap wilayah di dunia..

Daerah penemuan menhir Menhir sangat luas. Monumen megalitikum ini bisa ditemukan di Eropa, Afrika, dan Asia, tetapi paling banyak di Eropa Barat; khususnya di Irlandia, Inggris Raya, Brittany dan Prancis, di mana terdapat sekitar 50.000 buah menhir.

Menhir adalah batu tunggal yang berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM-2000 SM).

Pada awalnya, Menhir dikelompokkan ke dalam produk tradisi megalitik tua yang telah muncul semenjak awal tradisi itu, meskipun demikian tradisi pendirian menhir masih berlanjut sampai sekarang ini.

Pembangunan menhir terkait erat dengan penghormatan arwah nenek moyang, dan sering dikaitkan dengan kesakralan dan kesaktian lelu­hur.

Daerah penemuan menhir di Indonesia adalah Pasemah Sumatra Selatan, Ngada Flores, Rembang Jawa Tengah, Lahat Sumatra Selatan, Sumatera barat, dan banyak lokasi lainnya.

gambar menhir di Lima Puluh Kota sumatera barat (sumber : kemdikbud)

Masyarakat Minangkabau menyebut menhir dengan istilah batu tagakIstilah batu tagak tidak jauh berbeda artinya dengan pengertian menhir yang umum dipergunakan dalam dunia ilmiah, terutama bagi arkeolog di Indonesia. Berdasarkan pe­nelitian terdahulu kata menhir yang berasal dari bahasa Breton -Inggris Utara, berarti batu berdiri. Sedangkan kata batu tagak jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia juga berarti batu berdiri, (Herwandi: 1993: 1).

4. Sarkofagus

Sarkofagus adalah hasil kebudayaan megalitikum berupa peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal).

Sarkofagus batu yang paling tua digunakan oleh firaun Mesir dari dinasti ke-3, yang memerintah dari sekitar 2686 hingga 2613 SM.

Orang Mesir kuno percaya adanya kehidupan paska kematian, dan sarkofagus itu akan menjadi tempat tinggal abadi orang-orang di dalamnya.

Sarkofagus para fir’aun dan orang-orang kaya dihiasi dengan ukiran dan lukisan.

Sarkofagus adalah bagian penting dari proses penguburan Mesir kuno yang rumit.

Orang Mesir kuno menyiapkan orang mati untuk kehidupan setelah kematian dengan membalsem tubuh dan membungkusnya dalam linen. Proses ini dikenal sebagai mumifikasi.

Tubuh yang telah dimumifikasi selanjutnya diletakkan ke dalam wadah mumi. Peti mati itu selanjutnya akan ditempatkan di dalam sarkofagus. Terkadang, sarkofagus sendiri digunakan sebagai pengganti peti mati.

Selain Mesir kuno, Romawi kuno dan Yunani kuno juga dikenal menggunakan sarkofagus.

Daerah penemuan sarkofagus di Indonesia yang terkenal adalah Basuki (Jawa Timur) dan beberapa situs di Bali.

Temuan sarkopagus di Bali, tepatnya di situs Gilimanuk membantah dugaan para ahli sebelumnya bahwa masyarakat pesisir tidak mengenal sistem penguburan dengan sarkofagus, alasannya batu padas sebagai bahan baku sarkofagus tidak bisa didapatkan di daerah pesisir. (Soejono, 1977)

gambar sarkofagus di bali (sumber :kemendikbud)

Selain di Gilimanuk, sarkofagus di Bali juga ditemukan di Munduk Tumpeng di Kecamatan Negara, Jembrana, Bali.

Sarkofagus di kedua situs tersebut memiliki bentuk atau tipe yang sama.

Ditemukannya sarkofagus di daerah pesisir (situs Gilimanuk) dan daerah pedalaman (Munduk Tumpeng) menunjukkan adanya hubungan atau kontak antara daerah pesisir dengan daerah pedalaman pada masa awal logam di Bali.

Tidak hanya itu, ditemukannya bekal kubur di dalam sarkofagus di Pangkung liplip (Kabupaten Jembrana) dan Marga tengah (Kabupaten Gianyar) yang berbentuk lempengan emas penutup mata menunjukkan kesamaan dengan temuan bekal kubur di situs Gilimanuk. (Soejono, 1977)

Temuan lempengan daun emas sebagai penutup mata di dalam sarkofagus di Bali memiliki kesamaan dengan temuan pada situs megalitik Adhichanallur (Tamilnadu, India), Santugong (Serawak) dan Oton di pulau Panay (Filipina). (O’Connor and Harrisson, 1971)

Baca juga : Kerajaan Bali : Sejarah, Raja-raja, dan Peninggalan

Selain di Bali, penemuan sarkofagus juga ada di wilayah Tomok Samosir Sumatera Utara.

Morfologi sarkofagus yang ditemukan di wilayah Tomok berbentuk persegi panjang dan pada bagian atasnya melebar, berbentuk menyerupai kapal (solu Bolon) sebagai perlambang wahana si mati yang digunakan menuju alam arwah.

5. Waruga

Waruga adalah sejenis sarkofagus atau makam di atas tanah yang terbuat dari batu dan bagian atas biasanya bergerigi dan bagian bawah berbentuk kotak.

Di Indonesia, waruga banyak ditemukan di Minahasa di Sulawesi Utara.

Waruga di Tonsea dibuat dengan ukiran dan relief. Ukiran dan relief ini menunjukkan bagaimana jenazah disimpan di waruga masing-masing dan menggambarkan mata pencaharian.

Terdapat sekitar 370 Waruga. Ada waruga di Rap-Rap sebanyak 15 buah, Airmadidi Down sebanyak 211 dan waruga Sawangan sebanyak 144.

gambar waruga sawangan (sumber : wikipedia)

Waruga-waruga ini telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995 di taman arkeologi waruga Sawangan.

Bagi masyarakat Minahasa, waruga memiliki arti sangat penting. Waruga adalah warisan leluhur Minahasa, memiliki makna religius, dan sakral.

C.T. Bertling dalam artikelnya berjudul “De Minahasische ‘Waroega’ en ‘Hockerbestatuung’” di majalah Nederlansch-Indie, Oud and Nieuw tahun 1931 menjelaskan, nama “waruga” terbentuk dari kata wa sebagai singkatan dari wawa, yang berarti ‘sepenuhnya, secara menyeluruh’ dan kata ruga, yang berarti ‘pakaian usang’ atau ‘dirusak dari tubuh’. Dari pengertian literal dua kata tersebut, “waruga” berarti  ‘tempat di mana tubuh larut untuk seluruhnya’.

6. Punden Berundak

Punden berundak adalah struktur bangunan berteras-teras tempat pemujaan roh nenek moyang.

Sesuai namanya, punden berundak undak adalah tempat suci untuk pemujaan pada roh nenek moyang yang bentuknya bertingkat-tingkat atau berundak-undak.

Para peneliti berpendapat bahwa punden berundak adalah bentuk awal candi di Indonesia.

Struktur bangunan punden berundak banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama Sumatera, jawa, dan Bali.

Punden berundak banyak ditemukan di daerah Lebak Si Bedug, Banten Selatan, Leles Garut dan Kuningan Jawa Barat.

Salah satu struktur punden berundak yang terkenal dan monumental di Indonesia adalah situs Gunung Padang di Cianjur.

Punden berundak merupakan salah satu arsitektur zaman pra sejarah, mulai berkembang pada masa bercocok tanam, dan mencapai puncaknya pada masa megalitik.

Punden berundak undak menggambarkan sebuah gunung suci tempat bersemayam roh leluhur.

gambar punden berundak di bali (sumber ; kemdikbud/bpcbbali)

Salah satu struktur punden berundak yang masih terawat terdapat di Pura Mehu Desa Selulung, Bangli, Provinsi Bali.

Punden Berundak ini terletak di dalam areal Pura Mehu.

Monumen purbakal ini memiliki no.inventaris 4/14-06/STR/5 dan telah didokumentasikan oleh tim BPCB Bali yang dilaksanakan oleh ketua tim Dra Ni Komang Aniek Purniti, M.Si.

7. Arca atau Patung

Arca atau patung megalitik adalah batu yang dipahat berbentuk manusia atau binatang, seperti gajah, kerbau, harimau dan moyet.

Arca/patung megalitik adalah lambang nenek moyang serta digunakan sebagai tempat pemujaan.

Arca atau patung megalitik banyak ditemukan di Pasemah Sumatra Selatan dan lembah Bada Lahat Sulawesi Selatan.

Perkembangan Zaman Batu Di Indonesia

Sama seperti belahan dunia lainnya, perkembangan zaman batu di Indonesia dibagi menjadi zaman batu tua, madya, dan muda. Dari zaman batu muda (nelolitikum) sampai zaman perunggu berkembang zaman batu besar (zaman megalitikum).

Hasil kebudayaan zaman paleolitikum banyak ditemukan di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo.

Peninggalan-peninggalan ini, oleh sejarawan disebut kebudayaan Pacitan dan Ngandong.

Hasil kebudayaan peninggalan zaman paleolitikum yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah kapak genggam, kapak perimbas, alat-alat dari tulang atau tanduk binatang, flakes, dan lain-lain.

Manusia pendukung zaman paleolitikum adalah Pithecantropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Soloensis.

Hasil kebudayaan zaman mesolitikum banyak ditemukan di sampung bone di gua lawa dekat sampung ponorogo Jawa Timur, di lamoncong Sulawesi Selatan, pulau muna Sulawesio Tenggara, danau sentani Papua, daerah pantai timur Sumatra antara Langsa sampai Medan, dan lain-lain.

Hasil kebudayaan zaman neolitikum banyak ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, bali, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT dan wilayah lainnya.

Manusia pendukung zaman neolitikum di Indonesia adalah Malayan mongoloid atau disebut juga Melayu austronesia.

Revolusi kebudayaan yang terjadi pada zaman neolitikum di Indonesia adalah mulai muncul pemukiman tetap, mulai dikembangkan teknik bercocok tanam dan mengolah makanan, mulai mampu membuat tembikar, dan lain-lain.

Pada zaman ini juga mulai muncul sistem sosial kemasyarakatan di mana ada seseoarang yang muncul sebagai pemimpin kelompok yang disebut kepala suku/datu/ratu dan istilah lokal lainnya.

Pada zaman neolitikum juga sudah berkembang tradisi religius yang dibuktikan dengan ditemukannya bangunan-bangunan yang dibuat untuk tujuan religius, seperti dolmen dan menhir.

Akhir zaman neolitik ditandai dengan munculnya teknik mengolah tembaga, yang disebut periode transisi ke zaman perunggu, kadang-kadang disebut sebagai Zaman Chalcolithic atau Eneolithic.

Dengan kemampuan manusia mengolah logam seperti perunggu, membuat peralatan dari batu menjadi usang.

Belakangan, perunggu menjadi bahan utama untuk membuat peralatan dan senjata.

Inilah akhir periode zaman batu.

Sharing is caring