Katamasa

Sejarah Pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan (Kahar Muzakkar) : Lengkap

Pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan adalah pemberontakan milisi Islam di wilayah Sulawesi Selatan yang menyatakan gerakannya adalah bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) di bawah pimpinan Imam Kartosuwiryo.

Gerakan pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan terjadi sejak 1951, namun baru pada tanggal 7 Agustus 1953 menyatakan diri sebagai bagian dari NII pimpinan Kartosuwiryo.

Gerakan pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan dipimpin oleh Kahar Muzakkar.

Latar belakang pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan adalah karena kekecewaan Kahar Muzakkar atas pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia serikat (APRIS) yang menurutnya tidak adil.

Gerakan pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan ditumpas melalui operasi militer TNI/Polri.

Baca Juga : Sejarah Pemberontakan DI/TII di Beberapa Provinsi

Dalam artikel ini kita akan membahas sejarah pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan, apa latar belakang, dan apa tujuan pemberontakan ini. Selamat membaca.

Latar Belakang DI/TII Sulawesi Selatan

Dari sebuah penelitian untuk mengungkap apa sebenarnya latar belakang pemberontakan DI/TII di Sulawesi selatan menunjukkan bahwa penyebab dari pergerakan DI / TII di Sulawesi Selatan adalah akumulasi dari berbagai faktor yang menyebabkan kekecewaan Abdul Kahar Muzakkar.

Namun, latar belakang pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan adalah kekecewaan Kahar Muzakkar terhadap proses pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) yang tidak mengakomodasi pasukan gerilya yang berada di bawah komandonya.

Seperti diketahui, paska perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB), negara Indonesia berubah bentuk menjadi Republik Indonesia serikat.

Sebagai salah satu konsekuensinya adalah pembentukan APRIS.

APRIS dibentuk dari gabungan mantan KNIL dan TNI.

Kahar Muzakkar adalah pemimpin Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGGS) pada masa perang kemerdekaan.

Ternyata, pembentukan APRIS tidak mengakomodasi para laskar gerilyawan untuk bergabung dengan APRIS.

Karena kecewa, Kahar Muzakkar mengirim surat kepada pemerintah pusat pada tanggal 30 April 1950.

Dalam surat itu, Kahar Muzakkar meminta kepada pemerintah pusat agar semua anggota dari KGGS (Komando Gerilya Sulawesi Selatan) dimasukkan dalam APRIS.

Dia juga mengusulkan para mantan aggota KGGS itu dimasukan dalam sebuah berigade yang diberinya nama Brigade Hasanudin, dengan dia sebagai komandannya.

Permintaan itu ternyata ditolak dengan alasan banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer.

Pemerintah pusat bersama dengan pimpinan APRIS malah mengeluarkan kebijakan dengan memasukkan semua anggota KGSS ke dalam Corps Tjadangan Nasional (CTN) dan Kahar Muzakkar sendiri ditunjuk sebagai komandannya dengan pangkat letnan kolonel.

Awalnya, Kahar Muzakkar seperti menerima keputusan itu bahkan bersedia untuk dilantik.

Namun, saat dirinya akan dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya justru melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan menyatakan perlawanan.

Tujuan Pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan

Negara Islam Indonesia (NII) yang selanjutnya lebih dikenal sebagai darul Islam diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Tujuan gerakan pemberontakan DI/TII adalah untuk membentuk sebuah negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara, yang mereka sebut Negara islam Indonesia (NII).

Proklamasi Negara Islam Indonesia menyatakan bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”.

Selanjutnya, dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Sunnah”.

Mereka juga membentuk organisasi tentara yang disebut Tentara Islam Indonesia (TII).

Sehingga pemberontakan mereka kemudian lazim disebut pemberontakan DI/TII.

Selain berlangsung di Jawa Barat, pemberontakan DI/TII menyebar hingga di beberapa wilayah di luar Jawa Barat, salah satunya ke wilayah Sulawesi Selatan.

Tujuan pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan adalah untuk menjadikan wilayah Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia.

Siapa Kahar Muzakkar?

Siapa sebenarnya Kahar Muzakkar, sang pemimpin pemberontakan DI/TII di Sulawesi selatan?

Kahar Muzakkar adalah tokoh yang memproklamasikan lahirnya DI/TII Sulawesi Selatan.

Semula Kahar Muzakkar adalah seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Abdul Kahar Muzakkar adalah komandan dari Komando Grup Seberang (KGS) dengan pangkat Letnan Kolonel.

Dia kemudian membentuk Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang terdiri dari laskar-laskar gerilyawan di Sulawesi Selatan.

Kahar Muzakkar membentuk KGSS pada Agustus 1949 di Maros.

Kahar Muzakkar berharap KGGS yang berkekuatan 10 batalion akan menjadi cikal bakal dari Divisi Hasanuddin dengan dirinya sebagai pemimpinnya.

Kahar Muzakkar ingin mengubah banyak hal wilayah Sulawesi Selatan.

Salah satu operasi yang pernah dilakukan oleh Kahar Muzakkar adalah Operasi Toba (Operasi Taubat).

Operasi ini bertujuan untuk menghilangkan secara keras hal-hal yang dilarang menurut ajaran Islam.

Operasi Toba setidaknya telah memporak-porandakan para Bissu (golongan pendeta tradisional Bugis).

Negara Islam bentukan Kahar Muzakkar sulit untuk berkembang di daerah sekeliling kota Makassar.

Negara Islam bentukan Kahar Muzakkar ini hanya eksis di hutan-hutan di sekitar Gunung Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan.

Kronologis Pemberontakan DI/TII Sulawesi selatan

Seperti diketahui, paska perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB), negara Indonesia berubah bentuk menjadi Republik Indonesia serikat.

Sebagai salah satu konsekuensinya adalah pembentukan APRIS.

APRIS dibentuk dari gabungan mantan KNIL dan TNI.

Kahar Muzakkar adalah pemimpin Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGGS).

Ternyata, pembentukan APRIS tidak mengakomodasi para laskar gerilyawan untuk bergabung dengan APRIS.

Karena kecewa, Kahar Muzakkar mengirim surat kepada pemerintah pusat pada tanggal 30 April 1950.

Dalam surat itu, Kahar Muzakkar meminta kepada pemerintah pusat agar semua anggota dari KGGS (Komando Gerilya Sulawesi Selatan) dimasukkan dalam APRIS.

Dia juga mengusulkan para mantan aggota KGGS itu dimasukan dalam sebuah berigade yang diberinya nama Brigade Hasanudin, dengan dia sebagai komandannya.

Permintaan itu ternyata ditolak dengan alasan banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer.

Pemerintah pusat bersama dengan pimpinan APRIS malah mengeluarkan kebijakan dengan memasukkan semua anggota KGSS ke dalam Corps Tjadangan Nasional (CTN) dan Kahar Muzakkar sendiri ditunjuk sebagai komandannya dengan pangkat letnan kolonel.

Pada tanggal 1 Juli 1950,Kahar Muzakkar menemui Kolonel Kawilarang selaku Panglima TT VII/Wirabuana.

Dalam pertemuan itu, Kahar Muzakkar menyampaikan permohonan supaya APRIS menerima 15.000 gerilyawan Sulawesi Selatan menjadi anggota.

Namun ternyata Panglima TT VII/Wirabuana menolak.

Kahar Muzakkar yang emosi menyatakan bahwa pasukannya tidak ada hubungan lagi dengan TNI.

Kemudian pada tanggal 5 Juli, Kahar Muzakkar lari kedalam hutan dan membangkang.

Atas pembangkangan ini, Panglima mengeluarkan suatu dekrit pembubaran KGSS sebagai organisasi kelaskaran gerilya.

Abdul Kahar Muzakkar yang mendengar dekrit pembubaran KGSS marah dan memberi reaksi sangat keras dengan mencabut tanda pangkatnya lalu mencampakkannya dihadapan panglima TT VII.

Sejak peristiwa itu Kahar Muzakkar membawa pasukannya lari ke dalam hutan untuk melakukan pemberontakan.

Sesudah itu, datang sebuah surat dari pemimpin DI/TII Jawa Barat, Kartosuwiryo melalui Bahar Mattalui pada Agustus 1951 yang mengajak bergabung dengan Negara islam Indonesia (NII) bentukannya.

Kahar Muzakkar akhirnya menerima tawaran Kartosuwirjo untuk bergabung dengan NII pada tanggal 20 Januari 1952.

Kahar Muzakkar memproklamasikan DI/TII Sulawesi Selatan pada tanggal 7 Agustus 1953 di Buntu Susu (Baraka), Kabupaten Enrekang.

Kahar Muzakkar menyatakan bahwa DI/TII Sulawesi selatan adalah bagian dari Negara Islam Indonesia.

Baca juga : Pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo

Pasukan gerilya Kahar Muzakkar hanya eksis di hutan-hutan sekitar Gunung Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan.

Karena ketatnya pengawasa pasukan TNI di perkotaan maka sulit baginya untuk bergerak di daerah sekeliling kota Makassar.

Meskipun telah menyatakan sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia (NII), di dalam hutan Enrekang, Kahar Muzakar mendeklarasikan pendirian negara berasaskan Islam yang dia sebut Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) pada tanggal 14 Mei 1962.

Kahar Muzakkar diangkat menjadi Pejabat Khalifah. Sementara Kartosuwiryo kemudian “hanya” dianggap sebagai imam dari NII.

Sebelum membentuk RPII, Kahar Muzakkar bersekutu dengan pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara dan PRRI di Sumatra, dalam apa yang mereka namakan Republik Persatuan Indonesia (RPI). Namun persekutuan ini tidak berlangsung lama.

Pasukan pemberontak DI/TII Sulawesi selatan di bawah Abdul Kahar Muzakkar berjumlah paling sedikit 7.000 orang yang merupakan bekas pasukan KGSS.

Pasukan DI/TII Sulawesi selatan terdiri dari lima Batalyon yang ditempatkan di Pinrang, Luwu, Enrekang, dan Bonthain.

Sejarah DI/TII Sulawesi selatan tidak bisa dilepaskan dari Baraka sebagai lokasi proklamasinya.

Baraka adalah basis utama pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan.

Baraka terletak di Kabupaten Enrekang yang mempunyai kondisi geografis pegunungan dan sangat sulit untuk dijangkau.

Hal ini nampaknya menjadi pertimbangan Kahar Muzakkar untuk memilih Baraka sebagai markas DI/TII Sulawesi Selatan.

Selaian dari itu, wilayah Baraka dulunya adalah wilayah operasi Kahar Muzakkar pada masa perjuangan.

Maka, dengan bantuan pasukan bawahan Abdul Kahar Muzakkar di Baraka, keinginannya untuk mendirikan negara Islam akan mudah diwujudkan.

Penumpasan DI/TII Sulawesi selatan

Permasalah pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan berlangsung cukup lama.

Terdapat begitu banyak perbedaan pendapat antara pemerintah dengan para pemberontak yang menyebabkan sangat sulit untuk menyelesaikan konflik secara damai.

Karena penyelesaian konflik secara damai sangat sulit, Panglima TT VII Koloneal Kawilarang mengeluarkan perintah penumpasan pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan pada 17 Agustus 1951.

Namun, sulitnya medan hutan Sulawesi membuat penumpasan pemberontakan DI/TII Sulawesi selatan berlangsung lama.

Sebenarnya, sebelum mendirikan RPII, pihak Kahar Muzakkar pernah berunding dengan pihak tentara pemerintah dalam Perundingan Bonepute pada 21 Oktober 1961.

Bahkan, pada 12 November 1961, Kahar Muzakkar sempat menyerahkan komando pasukannya kepada Panglima Kodam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf. Bahkan beberapa bawahan Kahar Muzakkar pun terlihat di area kota Makassar.

Namun, perundingan ternyata menemu jalan buntu. Kahar Muzakkar menolak menyerah.

Meskipun kekuatan DI/TII Sulawesi Selatan semakin melemah pada tahun 1960-an, pemberontakan Kahar Muzakkar baru berhasil dihentikan setelah pasukan Siliwangi berhasil menembak mati dirinya pada tanggal 3 Februari 1965.

Demikian artikel singkat kami tentang sejarah gerakan pemberontakan DI/TII Sulawesi selatan di bawah pimpinan Kahar Muzakkar. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring