Katamasa

Sejarah Pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan (Ibnu Hadjar) : Lengkap

Pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan adalah pemberontakan milisi Islam di wilayah Kalimantan Selatan yang menyatakan gerakannya adalah bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) di bawah pimpinan Imam Kartosuwiryo.

Gerakan pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan terjadi sejak Oktober 1950, namun baru pada akhir tahun 1954 menyatakan diri sebagai bagian dari NII pimpinan Kartosuwiryo.

Pemimpin pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan adalah Ibnu Hadjar.

Latar belakang pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan adalah karena kekecewaan Ibnu hadjar karena banyak pasukan gerilya Kalimantan selatan yang tidak diterima masuk Angkatan Perang Republik Indonesia serikat (APRIS) dengan alasan tidak bisa baca tulis, termasuk Ibnu Hadjar sendiri.

Awalnya, pemerintah berkeinginan menyelesaikan pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan dengan cara damai. Tapi tidak berhasil.

Akhirnya, gerakan pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan ditumpas melalui operasi militer TNI. Ibnu Hadjar berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Baca Juga : Sejarah Pemberontakan DI/TII di Beberapa Provinsi

Dalam artikel ini kita akan membahas sejarah pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan, apa latar belakang, dan apa tujuan pemberontakan ini. Selamat membaca.

Latar Belakang DI/TII Kalimantan Selatan

Konferensi Meja Bundar di Den Haag (1949) membuat Indonesia harus berbentuk republik Indonesia serikat.

Salah satu konsekuensinya adalah pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) yang merupakan gabungan dari mantan KNIL dan TNI.

Sayangnya, pembentukan APRIS banyak memunculkan kekecewaan dari kalangan laskar rakyat yang ditolak bergabung dengan alasan tidak memenuhi syarat militer.

Kebanyakan mantan gerilyawan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ini ditolak masuk APRIS karena tidak bisa baca tulis, termasuk Ibnu Hadjar sendiri (sumber).

Sementara itu, bekas tentara KNIL (Tentara Hindia Belanda) yang dulunya musuh republik justru banyak terpilih menjadi anggota APRIS.

Sementara itu, para pejuang yang berasal dari desa di belantara Kalimatan Selatan yang dulunya adalah anggota Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV itu, hanya sedikit yang diterima sebagai anggota APRIS.

Kedatangan anggota TNI dari Jawa untuk membentuk APRIS di wilayah Kalimantan selatan juga menambah kekecewaan mereka.

Mereka merasa diabaikan dan tidak mendapatkan cukup kepercayaan untuk mengisi posisi-posisi di pemerintahan sipil dan militer.

Karena sangat kecewa, Ibnu Hadjar membentuk Kesatuan Rakjat Jang Tertindas (KRJT) pada tanggal 10 Oktober 1950.

Dengan cepat, Ibnu Hadjar berhasil menghimpun pengikut terutama di kalangan bekas anggota ALRI Divisi IV yang kecewa terhadap pemerintah

Gerombolan pemberontak ini kemudian sering menyerang pos-pos tentara di Kalimantan Selatan pada bulan Oktober 1950.

Meskipun sudah melakukan gerakan pemberontakan sejak Oktober 1950, Ibnu Hadjar baru mendeklarasikan bahwa DI/TII Kalimantan Selatan adalah bagian NII pimpinan Kartosuwiryo pada akhir tahun 1954.

Selanjutnya, Ibnu Hadjar ditunjuk menjadi Tentara Islam Indonesia wilayah Kalimantan.

Tujuan Pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan

Negara Islam Indonesia (NII) yang selanjutnya lebih dikenal sebagai darul Islam diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Tujuan gerakan pemberontakan DI/TII adalah untuk membentuk sebuah negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara, yang mereka sebut Negara islam Indonesia (NII).

Proklamasi Negara Islam Indonesia menyatakan bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”.

Selanjutnya, dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Sunnah”.

Mereka juga membentuk organisasi tentara yang disebut Tentara Islam Indonesia (TII).

Sehingga pemberontakan mereka kemudian lazim disebut pemberontakan DI/TII.

Selain berlangsung di Jawa Barat, pemberontakan DI/TII menyebar hingga di beberapa wilayah di luar Jawa Barat, salah satunya ke wilayah Kalimantan Selatan.

Pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan yang awalnya hanyalah bentuk kekecewaan para gerilyawan Kalimantan Selatan yang ditolak masuk APRIS, kemudian berkembang menjadi bagian dari NII.

Tujuan pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan adalah untuk menjadikan wilayah Kalimantan Selatan sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia.

Siapa Ibnu Hadjar?

Pemberontakan Di/TII Kalimantan Selatan dipimpin oleh Ibnu Hadjar.

Siapa sebenarnya Ibnu Hadjar, sang pemimpin pemberontakan DI/TII di Kalimantan selatan?

Ibnu Hadjar adalah tokoh yang menyatakan bahwa DI/TII Kalimantan Selatan adalah bagian dari Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo.

Ibnu Hadjar lahir di Desa Ambutun Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan sekitar April 1920.

Nama asli Ibnu Hadjar adalah Angli atau Haderi bin Umar.

Sejak kecil, Ibnu Hadjar adalah sosok yang pemberani. Beliau dikenal mempunyai watak yang keras dan disiplin.

Ibnu Hadjar dikenal sebagai pejuang yang sangat menguasai taktik perang gerilya dan penguasaan medan hutan.

Keahlian itu dimilikinya karena sebelum terlibat peperangan, beliau sehari-hari bekerja sebagai petani dan pencari madu yang handal.

Sebagai seorang pencari madu, tentu dirinya terbiasa keluar masuk hutan. Jadi, ketika hidup bergerilya di hutan bukan masalah besar baginya.

Sebelum memutuskan untuk berbalik memberontak melawan pemerintah, Ibnu Hadjar adalah seorang anggota TNI dengan pangkat Letnan Dua.

Ibnu Hadjar tergabung dalam Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV yang merupakan kekuatan utama Indonesia dalam menghadapi Belanda di Kalimantan Selatan.

Seperti kebanyakan bekas pejuang gerilya, Ibnu Hadjar adalah anak desa yang tidak menhenyam bangku sekolah. Ibnu Hadjar buta huruf—tidak bisa baca-tulis huruf latin.

Meski buta huruf, Ibnu Hadjar berhasil menjadi komandan satuan-satuan gerilya di Kandangan, Hulu Sungai, Kalimantan Selatan.

Kronologis Pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan

Seperti diketahui, paska perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB), negara Indonesia berubah bentuk menjadi Republik Indonesia serikat.

Sebagai salah satu konsekuensinya adalah pembentukan APRIS.

APRIS dibentuk dari gabungan mantan KNIL dan TNI.

Ternyata, pembentukan APRIS tidak mengakomodasi para laskar gerilyawan untuk bergabung dengan APRIS. Alasannya karena para bekas pejuang itu tidak bisa baca tulis. Termasuk Ibnu Hadjar sendiri.

Sementara itu, bekas tentara KNIL (Tentara Hindia Belanda) yang dulunya musuh republik justru banyak terpilih menjadi anggota APRIS.

Sementara itu, para pejuang yang berasal dari desa di belantara Kalimatan Selatan yang dulunya adalah anggota Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Divisi IV itu, hanya sedikit yang diterima sebagai anggota APRIS.

Kedatangan anggota TNI dari Jawa untuk membentuk APRIS di wilayah Kalimantan selatan juga menambah kekecewaan mereka.

Mereka merasa diabaikan dan tidak mendapatkan cukup kepercayaan untuk mengisi posisi-posisi di pemerintahan sipil dan militer.

Karena sangat kecewa, Ibnu Hadjar membentuk Kesatuan Rakjat Jang Tertindas (KRJT) pada 10 Oktober 1950.

Dengan cepat, Ibnu Hadjar berhasil mengumpulkan pengikut terutama gerilyawan bekas anggota ALRI Divisi IV yang kecewa terhadap pemerintah.

Gerombolan pemberontak ini kemudian sering menyerang pos-pos tentara di Kalimantan Selatan pada bulan Oktober 1950.

Awalnya pasukan Ibnu Hadjar hanya berjumlah sekitar 60 orang saja saat masih berdiam diri di awal tahun.

Namun, paska serangan ke pos TNI, pengikutnya bertambah sekitar 250 orang, dengan senjata hanya 50 pucuk bedil.

Pada akhir tahun 1954, Ibnu Hadjar kemudian menyatakan bahwa DI/TII Kalimantan selatan adalah bagian dari Negara Islam Indonesia di bawah imam Kartosuwiryo.

Selanjutnya, Ibnu Hadjar ditunjuk sebagai Panglima TII wilayah Kalimantan.

Baca juga : Pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo

Basis kekuatan pemberontan DI/TII Kalimantan Selatan ada di daerah Paramasan ( daerah di pegunungan meratus).

Paramasan daah wilayah yang strategis karena terletak di jantung pegunungan meratus yang dikelilingi gunung-gunung yang tinggi dan terjal, disertai jurang jurang yang dalam.

Kondisi basis kekuatan DI/TII Kalimantan selatan yang seperti itu dan pemahaman medan hutan yang lebih baik membuat pemberontakan ini susah dihentikan.

Penumpasan DI/TII Kalimantan Selatan

Awalnya, Pemerintah Indonesia menempuh cara damai untuk menyelesaikan pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan. Karena bagaimana pun Ibnu Hadjar sebenarnya adalah seorang pejuang.

Pemerintah pusat meminta bantuan tokoh-tokoh kharismatik lokal seperti Hasan Basery (mantan komandannya Ibnu Khajar) dan Idham Khalid seorang politikus dari Nahdiatul Ulama (NU).

Keluarga dan kerabat Ibnu Hadjar sendiri juga dimintai bantuan untuk membujuk Ibnu hadjar menghentikan pemeberontakan.

Namun, upaya menyelesaikan pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan secara damai tidak berhasil.

Ketika pasukan pemerintah berhasil menangkap Ibnu Hadjar, dia dilepaskan untuk membujuk pemberontak lain menyerah.

Namun, Ibnu Hadjar malah kabur dan kembali memimpin pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan.

Sejak bulan Mei 1963, situasi di Kalimantan Selatan berangsur terkendali. Satu demi satu, para pengikut Ibnu Hadjar memilih menyerah.

Komisaris Besar Polisi Tengku Abdul Aziz yang menjabat sebagai Kepala Polisi Komisariat (Kapekom) Kalsel pun berusaha keras membujuk Ibnu Hadjar agar dia dan pasukannya segera menyerahkan diri. Bujukan itu diiringi isu bahwa pemerintah akan mengampuni melalui amnesti.

Akhirnya, Ibnu Hadjar dan pasukannya menerima bujukan itu dan menyerah pada bulan Juli 1963.

Tengku Abdul Aziz berupaya untuk membantu supaya Ibnu Hadjar diberi amnesti oleh Presiden Sukarno. Namun, hal itu tak pernah terwujud.

Pada tanggal 11 Maret 1965, Ibnu Hadjar diajukan ke Mahkamah Militer dan dijatuhi hukuman mati.

Tengku Abdul Aziz yang merasa bersalah karena gagal membantu memperjuangkan amnesti untuk Ibnu Hadjar kemudian mundur dari jabatannya.

Demikian artikel singkat kami tentang sejarah gerakan pemberontakan DI/TII Kalimantan Selatan di bawah pimpinan Ibnu Hadjar. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring