Katamasa

Sejarah Pemberontakan DI/TII Jawa Tengah (Amir Fatah) : Lengkap

Pemberontakan DI/TII Jawa Tengah adalah pemberontakan milisi Islam di wilayah Jawa Tengah yang menyatakan gerakannya adalah bagian dari Negara Islam Indonesia (NII) di bawah pimpinan Imam Kartosuwiryo.

Gerakan pemberontakan DI/TII Jawa Tengah diproklamasikan pada tanggal 23 Agustus 1949.

Gerakan pemberontakan DI/TII Jawa Tengah diproklamasikan oleh Amir Fatah.

Gerakan pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah awalnya meletus di Tegal-Brebes namun kemudian meluas ke wilayah Kebumen di bawah pimpinan Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman.

Gerakan DI/TII Jawa Tengah sempat terdesak oleh operasi militer TNI/Polri namun kuat kembali karena didukung oleh eks Batalyon 426 yang memberontak di wilayah Kudus dan Magelang pada bulan Desember 1951.

Gerakan pemberontakan DI/TII Jawa Tengah ditumpas melalui operasi militer yang diberi nama Operasi Gerakan Banteng Nasional (GBN).

Baca Juga : Sejarah Pemberontakan DI/TII di Beberapa Provinsi

Dalam artikel ini kita akan membahas sejarah pemberontakan DI/TII Jawa Tengah, apa latar belakang, dan apa tujuan pemberontakan ini. Selamat membaca.

Latar Belakang Pemberontakan DI/TII Jawa Tengah

Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah terjadi setelah Agresi Militer Belanda II.

Keadaan pemerintah di Jawa Tengah yang belum stabil dan fanatisme agama adalah latar belakang pemberontakan DI/TII Jawa Tengah.

Seperti yang tercatat dalam sejarah, gerakan pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah adalah berkat pengaruh Amir Fatah.

Kondisi militer di wilayah Jawa Tengah yang masih belum stabil dan anggotanya mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, dimanfaatkan oleh Amir Fatah untuk menghimpun kekuatan politik dan militer berbasis Islam.

Awalnya, gerakan pemberontakan DI/TII Amir Fatah berpusat di Jawa Tengah bagian barat.

Kemudian, dengan cepat gerakan pemberontakan ini menyebar keseluruh wilayah Jawa Tengah, termasuk wilayah Klaten yang merupakan basis militer wilayah komando Batalyon 426.

Menurut beberapa kalangan latar belakang pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah setidak-tidaknya ada empat alasan, yaitu :

Tujuan Pemberontakan DI/TII Jawa Tengah

Negara Islam Indonesia (NII) yang selanjutnya lebih dikenal sebagai darul Islam diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Tujuan gerakan pemberontakan DI/TII adalah untuk membentuk sebuah negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara, yang mereka sebut Negara islam Indonesia (NII).

Proklamasi Negara Islam Indonesia menyatakan bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”.

Selanjutnya, dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Sunnah”.

Mereka juga membentuk organisasi tentara yang disebut Tentara Islam Indonesia (TII).

Sehingga pemberontakan mereka kemudian lazim disebut pemberontakan DI/TII.

Selain berlangsung di Jawa Barat, pemberontakan DI/TII menyebar hingga di beberapa wilayah di luar Jawa Barat, salah satunya ke wilayah Jawa Tengah.

Tujuan pemberontakan DI/TII Jawa Tengah adalah untuk menjadikan wilayah Jawa Tengah sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia.

Untuk mewujudkan tujuan itu, Amir Fatah menyusun kekuatan di bagian barat wilayah Jawa Tengah yang memberi kemudahan dirinya untuk berkoordinasi dengan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Siapa Amir Fatah?

Siapa sebenarnya Amir Fatah, sang pemimpin pemberontakan DI/TII di Jawa tengah?

Amir Fatah adalah tokoh yang memproklamasikan lahirnya DI/TII Jawa Tengah.

Semula Amir Fatah adalah seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Amir Fatah adalah komandan Laskar Hizbullah di daerah Tulangan, Sidoarjo dan Mojokerto Jawa Timur saat terjadinya pertempuran 10 November 1945.

Sesuai hasil perjanjian Renville, seluruh kekuatan pasukan Republik harus meninggalkan wilayah-wilayah pendudukan belanda (termasuk Jawa Timur) ke wilayah Republik di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Amir Fatah pergi meninggalkan wilayah Jawa Timur dan bergabung dengan pasukan TNI di Tegal Jawa Tengah.

Amir Fatah masuk ke wilayah Tegal dan Brebes pada bulan Agustus 1948 dengan membawa 3 kompi Hizbullah.

Namun setibanya di wilayah Jawa Tengah, sikapnya berubah menjadi pendukung Gerakan pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo.

Baca Juga : Sejarah Pemberontakan DI/TII Jawa Barat (kartosuwiryo)

Salah satu alasan penting berubahnya Amir Fatah menjadi pendukung pemberontakan DI/TII adalah tuduhannya bahwa pasukan TNI di Jawa Tengah lebih banyak berhaluan kiri.

Di samping itu, sejak awal memang dirinya mempunyai ideologi yang sehaluan dengan imam Darul Islam S.M Kartosuwiryo.

Untuk mendukung aksi-aksi pemberontakannya, Amir Fatah berhasil mengggalang dukungan.

Di samping Laskar Hisbullah dan Majelis Islam (MI), sebagai kekuatan inti, Amir Fatah juga mendapat dukungan dari masyarakat wilayah itu yang memang mempunyai haluan ideologi yang sama.

Bahkan Amir Fatah berhasil mempengaruhi Angkatan Oemat Islam (AOI) yang memberontak di wilayah Kebumen.

Pengaruhnya juga besar di beberapa kantong-kantong militer TNI. Amir Fatah berhasil mempengaruhi Batalyon 426 untuk melakukan pemberontakan di wilayah Kudus dan Magelang (sumber).

Sedangkan Batalyon 423 yang juga sempat berhasil dipengaruhinya tidak sempat memunculkan pemberontakan karena berhasil dicegah oleh Panglima Divisi Diponegoro.

Namun, tentangan juga banyak dihadapinya dari kelompok-kelompok gerilyawan lainnya.

Tentangan terhadap kelompok Amir Fatah misalnya datang dari kelompok gerilyawan Gerakan Antareja Republik Indonesia (GARI), dan Gerilya Republik Indonesia (GRI), serta dari “Orang-orang Kiri”, terutama kaum Komunis.

Untuk menumpas pemberontakan DI/TII pimpinan Amir Fatah, pemerintah melakukan dua cara, yaitu operasi militer dan jalur politik.

Operasi penumpasan yang gencar dari pemerintah berhasil mendesak pasukan Amir Fatah, yang akhirnya menyerah.

Namun, faktor kekecewaannya terhadap internal DI/TII juga mempengaruhi keputusannya untuk menyerah.

Amir Fatah kecewa terhadap pimpinan DI/TII karena dalam struktur organisasi Tentara Islam Indonesia Divisi IV Syarif Hidayat yang baru terbentuk, posisinya berada di bawah Satibi Mughny, yang sebenarnya merupakan anak buahnya.

Dalam struktur Tentara Islam Indonesia yang baru itu Amir Fatah hanya menjabat sebagai Komandan Brigade, sedangkan Satibi Mughny menduduki jabatan Kepala Staf Divisi.

Dibawah kepemimpinan Amir Fatah, sampai dengan tahun akhir tahun 1950, Gerakan DI/TII mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Gambar Amir Fatah (paling kanan) pemimpin pemberontakan DI/TII Jawa Tengah. sumber : 30 Tahun Indonesia Merdeka 2 hal. 62 gb.13.6

Kronologis Pemberontakan DI/TII Jawa Tengah

Pemberontakan DI/TII Jawa Tengah dimulai dengan proklamasi NII di desa Pengarasan, tanggal 23 Agustus 1949.

DI/TII Jawa Tengah dipimpin oleh Amir Fatah dan Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman.

Amir Fatah adalah komandan Laskar Hizbullah di daerah Tulangan, Sidoarjo dan Mojokerto Jawa Timur saat terjadinya pertempuran 10 November 1945.

Paska perang kemerdekaan Amir Fatah pergi meninggalkan wilayah Jawa Timur dan bergabung dengan pasukan TNI di Tegal Jawa Tengah.

Amir Fatah masuk ke wilayah Tegal dan Brebes pada bulan Agustus 1948 dengan membawa 3 kompi Hizbullah.

Saat itu, di wilayah itu pasukan TNI berada di bawah komando Mayor Wongsoatmojo.

Pasukan Amir Fatah bisa masuk ke wilayah itu dengan kedok untuk ikut melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Dia juga mengaku mengemban tugas istimewa dari Panglima Besar Sudirman untuk menyadarkan Kartosuwiryo.

Namun, setibanya di wilayah Pekalongan dan Brebes, Amir Fatah menunjukan niat sebenarnya untuk ikut bergabung ke dalam Darul Islam tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Amir Fatah kemudian membentuk organisasi perlawanan yang diberinya nama Majelis Islam (MI).

Selain itu, dia juga membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) Jawa Tengah dan Barisan Keamanan serta Pahlawan Darul Islam (PADI).

Kedatangan Kamran Cakrabuana, utusan DI/TlI Jawa Barat untuk menjalin kontak dengan DI/TII pimpinan Amir Fatah di Jawa Tengah membuat usaha untuk menegakkan kekuasaan Darul Islam di Jawa Tengah semakin nyata.

Amir Fatah selanjutnya dipercaya menjabat sebagai Komandan Pertempuran Jawa Tengah dengan pangkat Mayor Jenderal TII.

Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah digalang oleh Laskar Hisbullah dan Majelis Islam (MI), sebagai kekuatan inti.

Untuk mewujudkan cita-citanya mendirikan Darul Islam di wilayah Jawa Tengah, DI/TII melancarkan serangkaian teror terhadap pasukan TNI/Polri dan rakyat.

Pasukan Tentara Islam Indonesia juga melakukan pembunuhan massal terhadap satu Regu Brimob yang dipimpin oleh Komisaris Bambang Suprapto.

Akibat pengaruh dari Amir Fatah, pemberontakan yang awalnya berpusat di tegal-Brebes meluas ke wilayah lain di Jawa Tengah.

Angkatan Umat Islam (AUI) di bawah pimpinan Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman yang dikenal sebagai “Romo Pusat” atau Kyai Somalangu kemudian memimpin pemberontakan DI/TII di wilayah Kebumen.

Untuk menumpas pemberontakan DI/TII di wilayah Kebumen ini, TNI/Polri memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan.

Sementara itu, Batalyon 426 melakukan pemberontakan di daerah Kudus dan Magelang pada bulan Desember 1951.

Gerakan ini dengan cepat dapat dipadamkan oleh pasukan Banteng raiders.

Penumpasan DI/TII Jawa Tengah

Untuk mengatasi pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dan mencegah pengaruh DI meluas semakin ke timur, pemerintah melakukan tindakan penumpasan.

Panglima Divisi III TNI Kolonel Gatot Subroto mengeluarkan siasat dengan untuk memisahkan DI/TII Amir Fatah di Jawa Tengah dengan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Timur.

Panglima juga menginstrusikan untuk menghancurkan kekuatan bersenjatanya (Tentara Islam Indonesia) dan membersihkan sel sel DI serta pimpinannya.

Untuk melaksanakan instruksi siasat itu, maka dibentuk Komando Operasi Gerakan Banteng Nasional (GBN), pada bulan Januari 1950. Daerah operasinya disebut daerah GBN.

Operasi GBN pertama kali dipimpin oleh Letkol Sarbini, selanjutnya beliau digantikan oleh Letkkol M. Bachrun dan terakhir Letkol Ahmad Yani.

Saat mempimpin operasi, Letkol Ahmad Yani membentuk pasukan dengan satuan kecil dengan tugas menyerang langsung untuk memukul dengan jitu dan menentukan dalam pertempuran menghadapi DI/TII, serta mengiringi gerak pasukan lain dalam operasi.

Pasukan ini kemudian menjadi cikal bakal pasukan elit infanteri di bawah Kodam Diponegoro yang terkenal dengan nama Banteng Raiders.

Operasi Gerakan Banteng Nasional (GBN) tersebut berhasil membendung dan menghancurkan pasukan DI/TII dan mencegahnya meluas ke arah timur.

Sementara itu, Amir Fatah sebelumnya telah berhasil mempengaruhi Angkatan Oemat Islam (AOI), dan Batalyon 426 untuk bergabung dengan DI/TII.

Angkatan Umat Islam (AUI) di bawah pimpinan Kyai Moh. Mahfudz Abdulrachman yang dikenal sebagai “Romo Pusat” atau Kyai Somalangu kemudian memimpin pemberontakan DI/TII di wilayah Kebumen.

Pasukan TNI/Polri pun bergerak untuk menumpas gerakan ini. Untuk menumpas pemberontakan DI/TII di wilayah Kebumen ini, TNI/Polri memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan.

Sementara itu, Batalyon 426 melakukan pemberontakan di daerah Kudus dan Magelang pada bulan Desember 1951.

Untuk menumpas pemberontakan ini, pasukan pemerintah menggelar operasi militer dengan nama Operasi Merdeka Timur.

Operasi Merdeka Timur dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade Pragolo.

Pada awal tahun 1952, Operasi Merdeka Timur berhasil menghancurkan kekuatan Batalyon pemberontak ini dan sisa- sisanya melarikan diri ke Jawa Barat dan ke daerah GBN.

Amir Fatah juga berhasil mempengaruhi Batalyon 423, namun batalyon ini tidak sempat bergabung dalam pemberontakan karena adanya tindakan pencegahan dari Panglima Divisi Diponegoro.

Demikian artikel singkat kami tentang sejarah pemberontakan DI/TII Jawa Tengah yang dipimpin Amir Fatah. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring