Ini Lho Pantangan Curhat Di Media Sosial

curhat di media sosial
Hati-hati curhat di media sosial

Pantangan Curhat Di Media Sosial – Curhat di media sosial saat ini bukan hal yang aneh lagi. Banyak orang menggunakan media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan lainnya untuk mencurahkan isi hatinya. Mulai dari hanya sekedar menulis status biasa, sampai menumpahkan emosi kesedihan, kemarahan bahkan kebencian.

Tahukah anda media sosial yang tujuan awalnya untuk memperluas pertemanan justru berbalik menjadi ajang menebar kemarahan dan kebencian? Mungkin saja anda hanya bermaksud curhat. Namun jika curhat di media sosial ternyata menyinggung perasaan orang lain, hal ini tentu tidak baik bagi kehidupan anda di dunia nyata.

Untuk menghindarkan diri anda terjebak dalam penggunaan media sosial yang tidak sehat, berikut beberapa tips yang bisa anda terapkan :

Jangan curhat di media sosial tentang masalah keluarga atau teman anda

Hubungan keluarga dan pertemanan adalah sebuah hubungan yang teramat penting bagi semua orang. Apakah  anda ingin hubungan ini rusak hanya disebabkan oleh status anda di media sosial? Tentu saja tidak bukan?

Oleh karena itu jika anda sedang mengalami masalah keluarga atau sedang marahan dengan teman-teman anda, jangan sekali-kali berpikir untuk menuliskannya di media sosial. Mungkin saja anda berada di pihak yang benar, tetapi tetap saja tidak benar jika anda menyampaikan hal ini ke media sosial.

Masalah keluarga atau pertemanan adalah masalah pribadi. Untuk menyelesaikan tentu saja dengan membicarakannya dengan baik-baik dengan mereka secara pribadi pula. Jangan biarkan masalah ini seakan-akan menjadi masalah dunia!

Tidak ada satu orang pun yang ingin aibnya diketahui semua orang. Dengan curhat di media sosial secara tidak sadar anda sedang mengumbar aib orang-orang ini. Sebagai manusia tentu saja mereka akan marah dan jengkel. Hasilnya bukannya menyelesaikan masalah, anda baru saja sukses menambah masalah di kehidupan anda.

Anda sedang marah? Jauhkan smartphone anda! Hindari menulis status di media sosial saat anda sedang marah

Saat sedang marah banyak orang jadi tidak terkendali. Banyak orang mengatakan, menumpahkan kemarahan itu bagus untuk menghindari stres, namun caranya juga harus benar. Dengan membuat status media sosial yang berisi kemarahan, bukannya menghilangkan stres anda malah menambah kadar stres anda.

Selain itu, jika status kemarahan anda penuh dengan caci maki, anda telah menurunkan citra anda di mata teman-teman anda. Apalagi jika sampai menyebut nama seseorang, anda bisa saja terjerumus ke dalam masalah hukum. Ingat, MULUTMU HARIMAUMU!

Jangan curhat di media sosial tentang keburukan tempat anda bekerja atau rekan kerja anda

Tidak ada tempat kerja yang sempurna. Di manapun anda bekerja masalah akan selalu ada. Namun ingat satu hal, jangan bawa urusan pekerjaan ke rumah, apalagi ke media sosial!

Sejelek-jeleknya bos anda, dia tetaplah bos. Jika dia menemukan alasan untuk memecat anda, dia tidak akan pernah ragu. Ingat itu.

Jadi jika anda tidak ingin memberinya alasan memecat anda dengan tidak hormat, jangan pernah menjelekan perusahaan tempat anda bekerja di media sosial.

Rekan kerja anda juga sama. Jagalah kekompakan tim anda sebisa mungkin. Jadikan media sosial sebagai media meningkatkan kinerja bukan sebaliknya.

Teman media sosial anda lebay? Pertimbangkan delete contact

Terus-terusan membaca hal-hal negatif itu tidak baik. Kata orang energi negatif itu menular, dan itu benar. Jadi jika anda mempunyai teman di media sosial yang selalu pamer status kebencian, kemarahan, dan menjelek-jelekan orang, anda pantas untuk khawatir.

Hal pertama yang mungkin terjadi adalah anda mulai terpancing untuk berkomentar di statusnya. Awalnya mungkin anda hanya bertanya ‘Ada masalah apa?’ Dan mulailah dia menumpahkan masalahnya. Tanpa anda sadari anda sudah terjebak. Jika ini terjadi segeralah sadar. Cukup tulis komentar ‘oooo begitu ya, Yang sabar ya…’. Selanjutnya berhentilah berkomentar.

Jika orang-orang seperti ini terus melakukan hal itu, pakailah tool yang tersedia. Anda bisa berhenti mengikuti kirimannya, atau bahkan delete contact jika kebenciannya sudah tidak bisa ditoleransi. Namun anda harus ingat, berhenti berteman di media sosial bukan berarti anda harus berhenti juga berteman di dunia nyata.

Media sosial diciptakan bukan sebagai pengganti hubungan dunia nyata. Media sosial harusnya menjadi media memperkuat hubungan dunia nyata, bukan sebaliknya malah menghancurkan.

Jika anda berpikir curhat di media sosial akan banyak mendapat simpati, anda keliru besar. Yang terjadi adalah anda akan dianggap lebay, penuh drama, dan memiliki energi negatif. Maka selesaikanlah masalah anda di dunia nyata dengan cara yang baik. Secanggih-canggih media sosial, komunikasi langsung tetaplah yang terbaik.