10 Negara yang Menganut Sistem Ekonomi Sosialis Di Dunia

negara yang menganut sistem ekonomi sosialisme
Negara yang menganut sistem ekonomi sosialis tidak selalu identik dengan negara berideologi komunis. Prinsip-prinsip sosialisme juga bisa diterapkan di negara-negara barat yang liberal

Jika ada pertanyaan ” Negara yang menganut sistem ekonomi sosialis itu, negara mana saja?” Maka biasanya jawabannya berkisar antara Uni Soviet, China, Cuba, Korea Utara, dan negara penganut komunisme lainnya. Hal ini terjadi, karena kebanyakan orang berpikir bahwa sistem ekonomi sosialis identik dengan negara-negara yang menganut ideologi komunisme. Padahal sosialisme dan komunisme adalah ideologi yang jauh berbeda, secara ekonomi politik pun penerapannya berbeda. Di negara barat yang pada umumnya menganut ideologi liberalisme pun, ciri-ciri sistem ekonomi sosialis juga nampak dalam perekonomiannya. Jadi prinsip sosialisme, bisa diterapkan seiring dengan ideologi-ideologi lainnya.

Pengertian Sistem Ekonomi Sosialis

Sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi di mana semua orang di masyarakat sama-sama memiliki faktor-faktor produksi. Kepemilikan rakyat terhadap faktor produksi diwakili melalui pemerintah yang dipilih secara demokratis. Bisa juga koperasi atau perusahaan publik di mana setiap orang memiliki saham. Empat faktor produksi adalah tenaga kerja, kewirausahaan, barang modal, dan sumber daya alam.

Ekonomi sosialis bisa dikaitkan dengan berbagai aliran pemikiran ekonomi. Karl Marx memberikan landasan bagi sosialisme berdasarkan analisis kapitalisme, sementara teori ekonomi neoklasik dan ekonomi evolusioner memperkenalkan model sosialisme yang komprehensif.

Selama abad ke-20, proposal dan model sistem ekonomi terencana dan sosialisme pasar sangat bergantung pada teori ekonomi neoklasik atau sintesis ekonomi neoklasik dengan ekonomi Marxian atau institusional.

Ada berbagai jenis sosialisme dengan ciri-ciri masing-masing. Mereka berbeda dalam beberapa aspek soal tanggapan terhadap kapitalisme. Di bawah ini adalah penjelasannya :

  • Sosialisme Demokratis : Faktor-faktor produksi dikelola oleh pemerintah yang dipilih secara demokratis. Distribusi barang-barang umum, seperti transportasi massal, perumahan, dan energi diatur oleh perencanaan pusat, sementara pasar bebas diperbolehkan untuk mendistribusikan barang-barang konsumsi.
  • Sosialisme Revolusioner : Ideologi ini berpendapat bahwa, sosialisme akan muncul hanya setelah kapitalisme dihancurkan. Faktor-faktor produksi dimiliki oleh para pekerja dan dikelola oleh pekerja melalui perencanaan pusat.
  • Sosialisme Libertarian : Libertarianisme mengasumsikan bahwa sifat dasar manusia adalah rasional, otonom, dan menentukan nasib sendiri. Begitu struktur kapitalisme telah dihapus, orang akan secara alami membentuk masyarakat sosialis. Hal itu terjadi karena mereka melihat sosialisme adalah yang terbaik untuk kepentingan diri mereka sendiri.
  • Sosialisme Pasar : Produksi dimiliki oleh para pekerja. Mereka memutuskan bagaimana mendistribusikan hasil produksi di antara mereka sendiri. Mereka akan menjual kelebihan produksi di pasar bebas. Alternatifnya, dapat diserahkan kepada masyarakat, yang akan mendistribusikannya sesuai dengan pasar bebas.
  • Sosialisme Hijau : Ekonomi sosialis jenis ini sangat menghargai pemeliharaan sumber daya alam. Sistem ini juga menekankan angkutan umum dan makanan dari sumber-sumber lokal. Produksi berfokus untuk memastikan semua orang terpenuhi kebutuhan dasarnya tidak memproduksi secara berlebihan. Ekonomi semacam ini menjamin upah layak bagi semua orang.
  • Sosialisme utopis : Hal ini lebih pada teoritis yang merupakan visi kesetaraan. Susah diterapkan secara konkrit. Muncul pada awal abad ke-19, sebelum era industrialisasi.
  • Fabian sosialisme : Sosialisme jenis ini menganjurkan perubahan bertahap menuju sosialisme melalui hukum, pemilihan yang demokratis, dan cara-cara damai lainnya.
Baca Juga :  16 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Komando

Dari berbagai jenis sosialisme yang ada kita bisa menduga bahwa banyak negara bisa dikategorikan sebagai negara yang menganut sistem ekonomi sosialis. Terlepas apakah negara itu mengusung demokrasi, teokrasi, atau penganut liberalisme atau komunisme, atau bahkan negara yang menerapkan mekanisme pasar pun memiliki aspek-aspek sosialis dalam perekonomiannya.

Ciri-ciri sistem ekonomi sosialis

Berikut adalah karakteristik/ciri-ciri sistem ekonomi sosialis yang membedakannya dengan sistem ekonomi lainnya :

  • Sistem ekonomi sosialis adalah sistem produksi, yang berarti, seluruh barang dan jasa diproduksi untuk secara langsung digunakan, berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis, di mana barang dan jasa diproduksi untuk dijual supaya menghasilkan laba (digunakan secara tidak langsung). Satu-satunya tujuan produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia.
  • Dalam teori ekonomi sosialis, kepemilikan sarana produksi bervariasi. Bisa dimiliki oleh publik melalui negara, kepemilikan langsung oleh pengguna properti produktif melalui koperasi, atau umumnya dimiliki oleh seluruh masyarakat tetapi diwakilkan kepada manajemen yang mengoperasikan / menggunakan alat produksi tersebut.
  • Pembagian hasil produksi sesuai dengan seberapa besarnya kontribusi masing-masing. Hal ini memotivasi pekerja/rakyat untuk bekerja berjam-jam untuk mendapatkan bagian lebih banyak.
  • Sebelum dibagikan secara merata, hasil ekonomi dipergunakan terlebih dahulu untuk kepentingan bersama. Contohnya, untuk membangun sarana transportasi, pertahanan, pendidikan, dan kesehatan. Di samping itu, hasil ekonomi juga diberikan kepada anggota masyarakat yang tidak bisa berkontribusi kepada proses produksi karena alasan tertentu. Misalnya, orang tua, anak-anak, penyandang disabilitas, dan pengasuh mereka.
  • Sosialisme mengasumsikan bahwa sifat dasar manusia adalah kooperatif. Oleh karena itu, prinsip dasar sistem ekonomi sosialis adalah bahwa sistem ekonomi harus mendukung sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial.
  • Kepentingan sosial yang dimaksud dalam sosialisme juga termasuk pelestarian sumber daya alam, pendidikan, atau perawatan kesehatan.

Berdasarkan karakteristik di atas, semua negara yang memilikinya bisa dikategorikan sebagai negara yang menganut sistem ekonomi sosialis.

Sejarah Negara Yang Menganut Sistem Ekonomi Sosialis

Negara pertama yang dengan jelas menggunakan kata “Sosialis” dalam nama resmi negaranya adalah Russian Socialist Federative Soviet Republic pada tahun 1918. Negara ini kemudian bergabung dengan Ukrainian Soviet Socialist Republic, Byelorussian Soviet Socialist Republic, dan Transcaucasian Soviet Federal Socialist Republic menjadi satu negara sosialis berbentuk federal pada tahun 1922.

Mereka kemudian memproklamirkan The Union of Soviet Socialist Republics dan memiliki konstitusi yang mengandung prinsip-prinsip sistem ekonomi sosialis. Uni Soviet adalah negara dengan partai tunggal, yaitu Partai Komunis Uni Soviet yang menganut sistem organisasi sentralisme yang demokratis.

Di Asia, kita mengetahui Republik Rakyat Cina yang didirikan pada tanggal 24 September 1949 oleh Mao Zedong. RRC dengan jelas menyatakan diri sebagai negara yang menganut sistem ekonomi sosialis dalam Konstitusi 1982.

Pembukaan Konstitusi Republik Sosialis Vietnam menyatakan bahwa negara itu menganut sistem ekonomi sosialis dengan sistem pemerintahan partai tunggal, yaitu, partai Komunis pada tahun 1976.

Republik Kuba menerapkan partai tunggal, yaitu, partai komunis yang menurut konstitusinya berperan untuk memandu upaya bersama menuju tujuan dan konstruksi sosialisme.

Di sisi lain, banyak negara barat yang konstitusinya dengan jelas mengandung prinsip-prinsip sosialisme. Padahal, sistem pemerintahan negara-negara ini nyaris tak ada kaitannya dengan komunisme. Jadi jelas, negara yang menganut sistem ekonomi sosialis tidak terkait sama sekali dengan komunisme. Karena, seperti dijelaskan di atas, sosialisme dan komunisme adalah dua ideologi yang jauh berbeda.

Baca Juga :  Sistem Ekonomi Pancasila/Sistem Ekonomi Indonesia

Contohnya, Konstitusi 1976 negara Portugal menyatakan bahwa salah satu tujuan negara itu adalah membuka jalan menuju masyarakat sosialis.

Jadi, istilah sosialisme bisa dimaknai bermacam-macam di negara masing-masing. Negara-negara seperti, Spanyol, Perancis, Belarusia, Kolombia, dan Rusia menggunakan istilah negara sosialis yang memiliki makna bervariasi.

Daftar Negara Yang Menganut Sistem Ekonomi Sosialis

Setelah penjelasan tentang pengertian sistem ekonomi sosialis cukup jelas, sekarang kita bisa menyusun daftar negara yang menganut sistem ekonomi sosialis, terlepas apakah negara itu demokratis atau tidak, partai tunggal atau multi partai dan lainnya.

Berikut adalah 10 negara yang menganut sistem ekonomi sosialis :

1. Cina

Paska perang Dunia II, Mao Zedong memimpin China dengan menerapkan ideologi komunisme. Dia membangun China menggunakan sistem ekonomi yang terencana secara ketat oleh kebijakan pusat. Namun, saat ini China mulai menerapkan sistem ekonomi berbasis pasar. Meski begitu, pemerintah pusat masih mengontrol perekonomian secara garis besar melalui rencana lima tahun untuk mewujudkan tujuan dan sasaran ekonomi.

2. Denmark

Denmark memberikan rakyatnya suatu sistem jaminan sosial berkelas tinggi. Sebagai akibatnya, Denmark juga mengenakan pajak tertinggi di dunia yang digunakan untuk mebiayai fasilitas publik yang berkualitas terbaik. Kesetaraan antar masuarakat dianggap sebagai nilai paling penting di negara Denmark. Usaha kecil berkembang sangat pesat, bahkan persentasenya mencapai 70 persen perusahaan dari keseluruhan perekonomian Denmark.

3. Finlandia

Finlandia adalah negara yang dianggap memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Pendidikan di sana sepenuhnya gratis, bahkan sekolah menyediakan makanan gratis kepada para siswanya. Tingkat melek huruf di Finlandia mencapai 100 persen. Standar hidup di Finlandia salah satu yang tertinggi di dunia. Seperti Denmark dan negara-negara Eropa lainnya, kesetaraan dianggap sebagai salah satu nilai terpenting dalam masyarakat.

4. Belanda

Di Belanda, kontrol pemerintah terhadap perekonomian memang minimal, tetapi sistem kesejahteraan sosialis tetap ada. Gaya hidup di Belanda sangat egaliter dan terorganisir, semua orang diperlakukan dengan setara.

5. Kanada

Kanada memperoleh skor 77.7 pada indeks kebebasan ekonomi. Artinya secara umum negara ini menganut sistem ekonomi liberal. Negara ini memiliki aturan hukum yang kuat untuk memastikan perlindungan hak milik, tingkat korupsi rendah, dan  transparansi bisnis yang diakui secara menyeluruh.

Tetapi, Kanada memiliki sistem kesejahteraan yang sangat luas yang mencakup perawatan kesehatan secara gratis. Kanada digolongkan sebagai salah satu dari lima negara terbaik untuk ditinggali.

6. Swedia

Swedia memiliki sistem kesejahteraan yang luas, tetapi karena utang nasional yang tinggi, diperlukan banyak intervensi pemerintah dalam perekonomian.

7. Norwegia

Di Norwegia, pemerintah mengontrol aspek-aspek kunci tertentu pada ekonomi nasional, dan mereka juga memiliki salah satu sistem kesejahteraan terbaik di dunia. Standar hidup di Norwegia adalah salah satu yang tertinggi di seluruh Eropa.

8. Irlandia

Irlandia mendapat skor 80.4, sehingga menempatkannya sebagai negara yang menganut sistem ekonomi pasar bebas peringkat ke 6 dunia.

Baca Juga :  8 Perbedaan Sistem Ekonomi Komando dan Sistem Ekonomi Pasar

Di negara ini memulai bisnis sangat mudah karena peraturan yang sangat sederhana. Inflasi rendah, hak milik pribadi dilindungi dengan baik oleh peradilan yang independen dan efisien.

Namun, sekitar 25 persen dari GDP Irlandia digunakan untuk membiayai sistem kesejahteraan sosial. Irlandia juga memberikan subsidi pertanian. Hal ini menempatkan Irlandia sebagai salah satu negara yang menganut sistem ekonomi sosialis terbaik di dunia.

9. Selandia Baru

Di tahun 2018, negara ini menempati posisi 3 dengan nilai 84.2 sebagai negara dengan indeks kebebasan ekonomi terbaik dunia. Di negara ini, hak kepemilikan swasta sangat kuat, pengeluaran pemerintah yang rendah, kebebasan bisnis, tenaga kerja, moneter dan aktvitas perdagangan juga tinggi. Karakteristik utama sebuah negara yang menganut sistem ekonomi pasar terbuka.

Selandia Baru memiliki sistem keuangan yang kompetitif secara global berdasarkan prinsip-prinsip pasar untuk menarik banyak bank asing. Selandia Baru dibantu oleh inflasi yang rendah dan tingkat tarif yang rendah.

Selandia Baru memiliki aturan hukum yang kuat untuk melindungi hak kepemilikan pribadi. Selandia Baru adalah negara paling bebas korupsi kedua di dunia, nilai plus utama negara ini.

Dengan demikian, Selandia Baru mungkin tidak cocok dimasukan sebagai negara yang menganut sistem ekonomi sosialis. Tapi, meski begitu, sistem kesejahteraan sosial di negara ini sangat bagus, mencakup berbagai bidang terutama kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu, Selandia Baru memiliki karakteristik sebagai negara sosialis, meski tetap menganut pasar bebas.

10. Belgium

Belgia memiliki sistem jaminan sosial yang sangat baik, termasuk pensiun dan hari tua. Sistem kesejahteraan sosial ini menyebabkan defisit anggaran negara, dan oleh karenanya dianggap oleh sebagian orang sebagai beban negara.

Perkembangan Sistem Ekonomi Sosialis Saat Ini

Di dunia terdapat bermacam-macam sistem ekonomi. Salah satunya adalah sistem ekonomi sosialis, yang merupakan sistem perekonomian yang mana kepemilikan produksi dimiliki oleh publik atau koperasi. Karakteristik yang menonjol dari sistem ekonomi sosialis adalah bahwa barang dan jasa diproduksi berdasarkan nilai gunanya. Sangat berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis, di mana barang dan jasa diproduksi untuk menghasilkan laba dan akumulasi modal, daripada berdasarkan pada nilai gunanya bagi masyarakat.

Sosialisme, sangat mirip dengan komunisme. Keduanya bercirikan bahwa alat produksi dimiliki oleh rakyat, baik secara langsung atau melalui lembaga pemerintah. Sosialisme juga percaya bahwa kekayaan dan pendapatan harus dibagi secara merata sesuai kontribusinya.

Perbedaan Sosialisme Dengan Komunisme :

  • Sosialisme tidak menganjurkan penggunaan sikap keras atau penggulingan kapitalis oleh pekerja.
  • Sosialisme tidak menganjurkan bahwa semua kepemilikan properti pribadi dihilangkan, melainkan kesenjangan harus dipersempit, mencegah akumulasi kekayaan pada segelintir orang.

Tujuan utama sosialisme adalah mengurangi kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Pemerintah, melalui lembaga dan kebijakannya, mengambil tanggung jawab untuk mendistribusikan pendapatan secara merata, untuk membuat masyarakat lebih adil dan seimbang.

Yang menarik, tidak ada negara yang menganut sistem ekonomi sosialis murni, kapitalis murni atau komunis murni di dunia saat ini. Perubahan yang terjadi sangat cepat, membuat banyak negara harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Contohnya, China yang tidak lagi sosialis-komunis semata, tetapi sudah mencampurkan aspek-aspek kapitalisme ke dalam perekonomiannya.