Katamasa

30 Nama Kerajaan-Kerajaan Di Indonesia (Hindu Budha & Islam)

Sejarah kerajaan di Indonesia dimulai setidaknya sejak abad ke 4 Masehi. Yaitu, sejak zaman kerajaan kutai, yang merupakan kerajaan tertua di Indonesia (menurut sumber sejarah resmi).

Kerajaan-kerajaan di Indonesia ada yang bercorak Hindu, bercorak Budha, Hindu Budha, maupun yang bercorak Islam.

Kerajaan-kerajaan di Indonesia bercorak Hindu, Budha atau pun Islam karena mendapatkan pengaruh dari India, China, Arab, bahkan Persia.

Pengaruh-pengaruh dari luar terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia bisa terjadi karena kepulauan nusantara ini merupakan jalur perdagangan yang sangat strategis, terutama selat Malaka yang menghubungkan antara China dengan India, Arab dan Persia.

Dalam artikel ini kita akan membahas nama kerajaan-kerajaan di Indonesia baik yang bercorak Hindu, Budha maupun Islam. selamat membaca.

Kerajaan Hindu Di Indonesia

Kerajaan Hindu di indonesia mewarnai sejarah awal kebudayaan nusantara.

Kerajaan-kerajaan hindu di Indonesia pada umumnya berdiri di Jawa, Sumatera, kalimantan, dan Bali.

Kerajaan hindu di jawa dimulai oleh kerajaan Tarumanegara dan mencapai puncaknya pada masa kerajaan Majapahit.

Pada era kerajaan Majapahit, agama Hindu dan Budha hidup secara bersama-sama dalam masyarakat. Sehingga kerajaan Majapahit bisa disebut kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu Budha.

Kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu Budha sebenarnya sudah dimulai sejak era kerajaan Medang yang lebih dikenal dengan nama Mataram Kuno.

Di bawah ini adalah beberapa nama kerajaan-kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu :

Kerajaan Salakanegara

Kerajaan Salakanegara dipercaya beberapa kalangan sebagai kerajaan pertama di Indonesia.

Sumber yang menjadi rujukan keberadaan kerajaan Salakanegara adalah naskah Wangsekerta – Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara.

Pendiri Salakanegara adalah Dewawarman pada tahun 130 Masehi.

Dewawarman adalah seorang duta bangsawan dari Calankanaya yang datang pada tahun 128 Masehi.

Selanjutnya, Dewawarman menikah dengan Dewi Pwahaci Larasati.

Dewi Pwahaci Larasati adalah putri dari Datu Tirem, sang penguasa Teluk Lada di Jawa Barat.

Paska meninggalnya Datu Tirem pada tahun 130 Masehi, Dewawarman menjadi penguasa Teluk Lada.

Dewawarman kemudian mendirikan kerajaan Salakanegara dan sekaligus menjadi raja pertamanya.

Gelar Dewarman selaku raja Salakanegara adalah Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapuran.

Namun, naskah Wangsakerta diragukan kebenarannya sebagai sumber sejarah.

Ada dugaan bahwa naskah wangsakerta palsu (sumber 1), (sumber 2).

Penemuan naskah Wangsakerta pada awal tahun 1970-an, sempat membuat gembira dan kagum karena sangat lengkap dan rinci.

Namun, banyak ahli sejarah justru menjadi curiga karena naskah wangsakerta “terlalu lengkap dan terlalu rinci”.

Di bawah ini adalah beberapa alasan kecurigaan para ahli sejarah :

Dengan demikian, klaim bahwa kerajaan tertua di Indonesia adalah Salakanegara patut diragukan kebenarannya, sampai ditemukan sumber-sumber sejarah yang valid.

Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai adalah kerajaan di Indonesia yang paling tua (atau sampai saat ini memiliki bukti sejarah tertua).

Kerajaan Kutai didirikan sekitar tahun 400 Masehi di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Nama Kutai sebenarnya diberikan oleh para ahli berdasarkan nama tempat penemuan prasasti Yupa yang menunjukkan keberadaan sebuah kerajaan di tempat itu.

Nama kerajaan yang sebenarnya belum diketahui karena sampai saat ini belum ditemukan prasasti atau sumber sejarah lain yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan tersebut.

Sumber sejarah kerajaan Kutai adalah 7 buah Yupa yang ditemukan di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Yupa adalah tugu yang terbuat dari batu yang fungsinya adalah sebagai tugu peringatan peristiwa tertentu.

Dari salah satu yupa yang ditemukan itu, para peneliti mengetahui bahwa yang menjadi raja di kerajaan Kutai saat itu bernama Mulawarman.

Dalam Yupa diberitakan tentang sikap Mulawarman yang dermawan menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.

Isi parasasti juga memberitakan bahwa Mulawarman adalah putra dari raja Aswawarman dan cucu dari Maharaja Kundungga.

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Kutai

Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu.

Tarumanegara adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia.

Tarumanegara didirikan pada tahun 450 Masehi di Jawa Barat, di sekitar sungai Citarum.

Secara etimologi, nama Tarumanegara berasal dari dua kata yaitu Taruma dan Nagara.

Kata Taruma berasal dari kata Tarum yaitu nama sungai di Jawa Barat, Sungai Citarum.

Sedangkan, kata Nagara berarti kerajaan atau negara.

Nama raja Tarumanegara yang disebut dalam prasasti adalah Raja Purnawarman.

Pada tahun 417 Masehi, Raja Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km).

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ditemukan di Bogor (lima buah), di Jakarta (1 buah) dan di Lebak Banten (1 buah).

Di bawah ini adalah prasasti-prasasti bukti keberadaan kerajaan Tarumanegara :

  1. Prasasti Kebon Kopi.
  2. Prasasti Tugu.
  3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul.
  4. Prasasti Ciaruteun.
  5. Prasasti Muara Cianten.
  6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
  7. Prasasti pasir Muara

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh)

Kerajaan Pajajaran adalah kerajaan bercorak hindu yang terletak di Jawa Barat.

Pajajaran berdiri pada tahun 1030-1579 Masehi.

Pajajaran atau Pakuan Pajajaran sebenarnya adalah nama ibu kota Kerajaan Sunda Galuh.

Pada masa lalu, di wilayah Asia Tenggara sudah menjadi kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Akibatnya, Kerajaan Sunda Galuh lebih dikenal dengan nama Kerajaan Pajajaraan.

Lokasi persis kerajaan Pajajaran pada abad ke-15 dan abad ke-16 adalah di daerah Bogor. Hal ini dapat dilihat pada peta yang dibuat penjelajah Portugis.

Sumber sejarah penting yang berisi informasi tentang Pajajaran pada abad ke 15 sampai awal abad ke 16 adalah naskah kuno Bujangga Manik.

Kerajaan Pajajaran runtuh disebabkan oleh serangan pasukan Kesultanan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf pada tahun 1579.

Kesultanan Banten merampas Palangka Sriman Sriwacana (batu penobatan calon raja) dari Pakuan Pajajaran dan membawanya ke Keraton Surosowan di Banten.

Di bawah ini adalah daftar nama raja yang berkuasa di Pakuan Pajajaran :

  1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521)
  2. Surawisesa (1521 – 1535)
  3. Ratu Dewata (1535 – 1543)
  4. Ratu Sakti (1543 – 1551)
  5. Ratu Nilakendra (1551-1567), pergi dari Pakuan akibat serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  6. Raga Mulya/Prabu Surya kencana (1567 – 1579), memerintah dari Pandeglang

Kerajaan Medang (Mataram Kuno)

Kerajaan Medang adalah salah kerajaan di Indonesia yang mempunyai sejarah dan peninggalan budaya yang besar.

Bukti sejarah peninggalan Kerajaan Medang sangat banyak. Baik berupa prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Jawa Tengah atau pun Jawa Timur.

Kerajaan Medang juga meninggalkan banyak bangunan candi yang bercorak Hindu maupun bercorak Buddha.

Peninggalan kerajaan di Indonesia salah satunya adalah candi borobudur. Dinasti Sailendra membangun peninggalan Budha terbesar di dunia ini antara 780-840 Masehi. Peninggalan ini ditemukan oleh Pasukan Inggris pada tahun 1814 dibawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles. Area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835. (sumber: http://borobudurpark.com/)

Di Bawah ini adalah beberapa nama candi peninggalan Kerajaan Medang :

Kerajaan Medang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8. Masehi Diduga karena bencana kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi.

Menurut Prasasti Mantyasih tahun 907 Masehi yang dikeluarkan oleh raja Dyah Balitung, raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Raja Sanjaya pernah mengeluarkan prasasti atas namanya sendiri, yaitu prasasti Canggal tahun 732 Masehi. Namun Sanjaya tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya.

Kerajaan Medang runtuh pada awal abad ke-11 (pada periode Jawa Timur) akibat serangan kerajaan wurawari yang diduga sekutu Sriwijaya.

Istilah Kerajaan Medang, lazimnya digunakan untuk periode Jawa Timur saja, padahal menurut isi prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama “Medang” sudah digunakan sejak periode Jawa Tengah.

Untuk Periode Jawa Tengah, kebanyakan orang menyebut kerajaan ini bernama Kerajaan Mataram Kuno.

Kebanyakan ahli mengatakan bahwa ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di kerajaan Medang.

Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra berkuasa di Medang periode Jawa Tengah, sedangkan Wangsa Isyana berkuasa pada saat Medang berpindah ke Jawa Timur.

Medang Periode Jawa Tengah

Seperti dijelaskan di atas, nama Medang lebih sering digunakan untuk menyebut periode Jawa Timur.

Sedangkan untuk periode Jawa Tengah digunakan istilah Kerajaan Mataram.

Untuk membedakan dengan Kerajaan Mataram Islam (yang muncul beberapa abad kemudian), para ahli menggunakan nama Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno.

Kenapa digunakan nama Mataram?

Mataram sebenarnya adalah nama ibu kota kerajaan Medang. Kebiasaan waktu itu lazim menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya.

Kalimat Rajya Medang i Bhumi Mataram (Raja Medang di daerah Mataram) ditemukan dalam beberapa prasasti, seperti prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang.

Nama Mataram selalu digunakan oleh para ahli, meskipun ibu kota kerajaan Medang periode Jawa Tengah tidak selalu beribukota di Mataram.

Berdasarkan isi dari beberapa prasasti, Medang beberapa kali memindahkan ibu kotanya.

Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang periode Jawa Tengah, antara lain,

Para ahli memperkirakan, Mataram terletak di sekitar Yogyakarta sekarang. Sedangkan, Mamrati dan Poh Pitu terletak di daerah Kedu.

Pada periode Jawa Tengah, raja-raja kerajaan Medang berasal dari dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya dan dinasti Sailendra.

Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa hanya ada satu dinasti, yaitu dinasti Sailendra.

Semua raja Medang periode Jawa tengah, termasuk Sanjaya sendiri adalah anggota keluarga Sailendra.

Alasannya adalah isi prasasti Kalasan tahun 778 memuji Rakai Panangkaran sebagai “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka). Padahal, Rakai Panangkaran diduga adalah anak dari Sanjaya.

Di bawah ini adalah nama-nama raja Medang periode Jawa tengah :

  1. Sanjaya
  2. Rakai Panangkaran
  3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  4. Rakai Warak alias Samaragrawira
  5. Rakai Garung alias Samaratungga
  6. Rakai Pikatan
  7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
  8. Rakai Watuhumalang
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung
  10. Mpu Daksa
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa

Medang Periode Jawa Timur

Menurut teori van Bammelen, pindahnya kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur karena adanya bencana letusan Gunung Merapi.

Bencana itu diperkirakan memporakporandakan istana Medang. Namun, tidak diketahui apakah raja Medang pada waktu itu, Dyah wawa selamat atau tidak.

Yang pasti, raja Medang pertama pada periode Jawa Timur adalah Mpu Sindok.

Dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, Mpu Sindok dengan tegas menyebut bahwa kerajaannya adalah kelanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram.

Mpu Sindok membangun ibukota baru di Tamwlang sekitar tahun 929 Masehi.

Mpu Sindok kemudian mendirikan dinasti baru yaitu dinasti Isana.

Dinasti Isana merujuk gelar abhiseka Mpu Sindok, yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.

Raja Medang terakhir adalah Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok.

Dharmawangsa Teguh gugur dalam serangan Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya.

Peristiwa itu disebut Mahapralaya.

Peristiwa Mahapralaya tercatat dalam prasasti Pucangan (colcata Stone).

Karena usia prasasti, tahun terjadinya Mahapralaya tidak dapat dibaca dengan jelas. Akibatnya muncul dua versi pendapat.

Beberapa sejarawan menyatakan Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1006, sedangkan beberapa yang lain menyatakan tahun 1016.

Di bawah ini adalah nama raja Kerajaan Medang periode Jawa Timur :

  1. Mpu Sindok
  2. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
  3. Makuthawangsawardhana
  4. Dharmawangsa Teguh

Kerajaan Kahuripan/Panjalu

Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan bercorak Hindu di Indonesia yang terletak di Jawa Timur.

Kerajaan Kahuripan didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009.

Airlangga adalah menantu Raja Darmawangsa Teguh. Airlangga selamat dari peristiwa Mahapralaya yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Medang.

Kerajaan Kahuripan adalah kelanjutan Kerajaan Medang yang runtuh tahun 1006.

Seperti kerajaan di Indonesia lainnya, Kahuripan sebenarnya adalah nama ibu kota. Sedangkan nama kerajaan yang didirkan Airlangga bernama Kerajaan Panjalu/Pangjalu.

Pada saat didirikan, Airlangga membangun ibu kota dengan nama Watan Mas yang terletak di dekat Gunung Penanggungan.

Setelah berhasil menyatukan wilayah bekas kerajaan Medang dahulu, Airlangga kemudian membangun ibu kota baru bernama Kahuripan di daerah Sidoarjo sekarang.

Pusat kerajaan Panjalu dipindahkan lagi ke Daha, berdasarkan isi prasasti Pamwatan, 1042 Masehi dan Serat Calon Arang.

Pada akhir pemerintahannya, Airlangga harus membagi kerajaan Panjalu menjadi dua, yaitu :

Airlangga harus membagi kerajaan karena dua orang putranya saling berebut menjadi raja. Sementara putri mahkota yang sebenarnya berhak menjadi raja, yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi, justru memilih menjadi pertapa.

Kerajaan Kediri

Kerajaan kediri adalah salah satu kerajaan di Indonesia yang memiliki sejarah sangat panjang.

Kerajaan Kediri adalah salah satu kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu.

Kerajaan Kadiri atau Kediri terletak di Jawa Timur.

Kerajaan Kediri berlangsung antara tahun 1042 Masehi-1222 Masehi.

Ibu kota kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri saat ini.

Daha adalah singkatan dari Dahanapura, yang artinya kota api.

Seperti dijelaskan di atas, kerajaan Kediri berdiri akibat terpecahnya Panjalu menjadi dua kerajaan, yaitu Kediri dan jenggala.

Namun, melalui informasi dari prasasti-prasasti, bisa dikatakan kerajaan Kediri adalah kelanjutan dari kerajaan Panjalu. Sedangkan kerajaan Janggala dianggap pecahan dari kerajaan Panjalu.

Hal ini bisa dilihat pada prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Kediri awal yang lebih sering menggunakan nama Panjalu atau Pangjalu daripada nama Kadiri.

Baca selengkapnya : Daftar prasasti-prasasti Kerajaan Kediri

Bahkan, kronik Cina yang berjudul Ling wai tai ta (1178) juga menggunakan nama Panjalu atau Pu-chia-lung. Padahal pada tahun itu, Panjalu sudah terpecah menjadi dua kerajaan.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya, Kerajaan Kediri berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala.

Dengan demikian, Kerajaan Panajalu dapat disatukan kembali. Hal ini tercatat dalam prasasti Ngantang (1135), melalui kalimat/semboyan Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mencapai puncak kejayaannya.

Baca selengkapnya : Daftar nama raja-raja Kerajaan Kediri

Wilayah kekuasaan kerajaan ini mencakup seluruh pulau Jawa dan beberapa pulau di Nusantara.

Bahkan pengaruhnya melebihi pengaruh Sriwijaya.

Bukti ini terdapat dalam berita yang dicatat oleh kronik Cina Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri termakmur selain Tiongkok secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra.

Pada masa itu, penguasa wilayah Arab adalah Bani Abbasiyah, penguasa Jawa adalah Kerajaan Panjalu, sedangkan penguasa Sumatra adalah Kerajaan Sriwijaya.

Bukti lain masa kejayaan Kediri/Panjalu adalah terciptanya karya-karya sastra bermutu tinggi, misalnya :

Baca selengkapnya : Daftar kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri

Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya akibat serangan Ken Arok akuwu Tumapel, saat itu bawahan Kediri.

Selanjutnya, Ken Arok mendirikan kerajaan Tumapel/Singhasari dan menjadikan Kediri sebagai wilayah bawahan.

Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya menjabat bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yaitu Sastrajaya.

Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Karena dendam masa lalu di mana leluhurnya dikalahkan Ken Arok, Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang saat itu dipimpin Raja Kertanegara.

Pemberontakan Jayakatwang berhasil, namun kekuasaannya hanya bertahan satu tahun.

Raden Wijaya, menantu Kertanegara berhasil membalas dendam memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang.

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Kediri

Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari/Singhasari/Tumapel adalah sebuah kerajaan yang terletak di Jawa Timur.

Singasari didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 Masehi.

Berdasarkan informasi dari prasasti Kudadu, nama sebenarnya Kerajaan Singhasari adalah Kerajaan Tumapel.

Menurut catatan kitab Nagarakretagama, saat kerajaan ini didirikan, nama ibu kota Kerajaan Tumapel adalah Kutaraja.

Nama ibukota berganti menjadi Singhasari pada tahun 1253 Masehi, yaitu saat Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya Kertanagara sebagai yuwaraja.

Seperti dijelaskan di atas, sudah menjadi kebiasaan kerajaan-kerajaan di Indonesia disebut menggunakan nama ibu kotanya saja.

Maka, Kerajaan Tumapel lebih sering disebut dengan nama Kerajaan Singhasari.

Dalam kronik Cina dinasti Yuan, nama kerajaan Tumapel disebut dengan ejaan Tu-ma-pan.

Kerajaan Tumapel berdiri setelah Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kertajaya penguasa Kerajaan Kadiri.

Gelar Abhiseka Ken Arok adalah Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

Nama Ken Arok hanya ada dalam Pararaton. Dalam kitab Nagarakretagama tidak ada nama Ken Arok.

Dalam naskah Nagarakretagama, pendiri kerajaan Tumapel bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra.

Selain soal nama Ken Arok, juga ada perbedaan antara Pararaton dan Nagarakretagama dalam daftar urutan raja-raja Singhasari.

Raja-raja Singhasari versi Pararaton

  1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 – 1247)
  2. Anusapati (1247 – 1249)
  3. Tohjaya (1249 – 1250)
  4. Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250 – 1272)
  5. Kertanagara (1272 – 1292)

Raja-raja Singhasari versi Nagarakretagama

  1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222 – 1227)
  2. Anusapati (1227 – 1248)
  3. Wisnuwardhana (1248 – 1254)
  4. Kertanagara (1254 – 1292)

Kertanagara adalah raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1272 – 1292).

Raja ini adalah raja pertama yang berekspansi ke luar Jawa. Pada tahun 1275 Masehi Kertanegara mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu ke Sumatra.

Penguasa Sumatra saat itu adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan Kerajaan Malayu).

Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali pada tahun 1284 Masehi.

Pada tahun 1289 Masehi, Kaisar Mongol Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar mengakui kekuasaan Mongol atas Jawa. Namun, Kertanagara menolak permintaan itu dengan tegas.

Karena Kertanegara lebih sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa, pertahanan dalam negerinya menjadi rapuh.

Akibatnya, pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelanggelang. Dalam serangan itu Kertanagara mati terbunuh.

Pemberontakan Jayakatwang berhasil, namun kekuasaannya hanya bertahan satu tahun.

Raden Wijaya, menantu Kertanegara berhasil membalas dendam memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang.

Raden Wijaya Kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan di Indonesia yang berpusat di Jawa Timur.

Majapahit berdiri sekitar tahun 1293 sampai 1500.

Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan raja Hayam Wuruk, yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara.

Majapahit dianggap sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah kerajaan di Indonesia.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, wilayah kekuasaan Majapahit mencakup Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina.

Namun, luas wilayah Majapahit ini masih jadi perdebatan para ahli sejarah.

Namun, besarnya pengaruh Majapahit bisa dilihat dari banyaknya tradisi lokal di berbagai daerah di Indonesia tentang Majapahit.

Kemungkinan, pada masa itu pemerintahan langsung secara terpusat oleh kerajaan Majapahit hanya mencakup wilayah Jawa Timur dan Bali.

Di luar wilayah itu hanya diwajibkan membayar upeti berkala sebagai tanda pengakuan kedaulatan Majapahit atas wilayah mereka.

Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya.

Para ahli menggunakan hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293 sebagai hari pendirian kerajaan Majapahit.

Gelar abhiseka Raden Wijaya adalah Sanggrama Wijaya Kertarajasa Jayawardhana.

Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 Masehi. Kekuasaan kemudian dilanjutkan putranya, yaitu Jayanegara.

Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Tribhuwana Wijayatunggadewi kemudian menggantikannya untuk menjadi ratu Majapahit.

Masa pemerintahan ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah awal masa keemasan Majapahit.

Pada tahun 1336, Tribhuwana menjadikan Gajah Mada sebagai Mahapatih.

Saat dilantik, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang berisi keinginannya untuk memperluas kekuasaan Majapahit dan menguasai nusantara.

Kekuasaan Tribhuwana berakhir pada tahun 1350. Kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk atau Rajasanagara berkuasa dari tahun 1350 sampai 1389.

Pada masa kekuasan Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada ini lah Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389. Hal ini menjadi awal kemunduran kerajaan akibat konflik perebutan tahta.

Pewaris tahta Majapahit adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikah dengan sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana.

Tapi, putra Hayam Wuruk dari selirnya, yaitu Wirabhumi tidak menyetujui hal itu, karena merasa kekuasaan Majapahit sesungguhnya akan dipegang oleh Wikramawardhana.

Perang saudara yang dikenal sebagai Perang Paregreg pun terjadi.

Perang paregreg antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana terjadi pada tahun 1405-1406.

Perang paregreg akhirnya dimenangkan oleh Wikramawardhana, semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dihukum mati.

Perang paregreg yang berkepanjangan membuat kerajaan Majapahit menjadi lemah.

Lemahnya Majapahit mengakibatkan kontrol atas wilayahnya menjadi lemah.

Satu per satu wilayah bawahan menyatakan kemerdekaan.

Majapahit akhirnya runtuh seiring dengan munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Islam di pesisir utara Jawa.

Kerajaan Bali

Istilah kerajaan Bali digunakan untuk menyebut serangkaian kerajaan dari berbagai masa sejarah Bali.

Mulai dari era Kerajaan Singhawandawa sampai Kerajaan gelgel.

Pada artikel ini kita akan membahas secara khusus kerajaan Bali kuno (Singhamandawa).

Kerajaan Bali adalah salah satu kerajaan kuno yang ada di Indonesia. Sejarah kerajaan Bali bisa dirunut setidaknya sejauh abad ke 8 masehi.

Para ahli memperkirakan letak kerajaan Bali secara persis adalah di sekitar Pejeng, di desa bedahulu/Bedulu, kabupaten Gianyar, Bali.

Kebanyakan orang menyebut nama kerajaan Bali adalah kerajaan badhahulu.

Namun, nama asli kerajaan Bali adalah Singhamandawa. Sedangkan nama Badhahulu, berasal dari bahasa Bali kuno yaitu, Badha berarti rumah/istana, dan Hulu yang berarti kepala/raja.

Dengan demikian, nama Bhadahulu adalah nama istana raja/ibu kota/pusat pemerintahan. Bukan nama kerajaan. Sedangkan nama kerajaan adalah Singhamandawa.

Namun, kebiasaan jaman dahulu, biasa menyebut nama kerajaan di Indonesia dengan nama ibu kotanya.

Kerajaan Bali didirikan oleh dinasti Warmadewa, dengan raja pertama yang diketahui bernama Sri Kesari Warmadewa.

Raja terkenal dari kerajaan Bali adalah Raja Udayana yang memerintah bersama-sama permaisurinya Mahendradatta.

Di bawah ini adalah daftar raja-raja kerajaan Bali kuno :

  1. Çri Keçari Warmadēwa (Saka 835/913 M)
  2. Çri Ugrasēna (Saka 837-864/915-942 M)
  3. Agni Nripati (Saka 841-875/953-953 M)
  4. Tabanēndra Warmadēwa (Saka 877-889/955-967 M)
  5. Candrabhaya Singha Warmadēwa (Saka 878-896/956-974 M)
  6. Jana Sadhu Warmadēwa (Saka 897/975 M)
  7. Gunapryadharmapatni-Dharmodayana Warmadēwa (Saka 910-933/998-1011 M)
  8. Çri Adnya Dewi (Saka 933-938/1011-1016 M)
  9. Marakata Pangkaja Sthana Tunggadēwa (Saka 938-962/1016-1040 M)
  10. Anak Wungsu (Saka 971-999/1049-1077 M)
  11. Sakalendu Kirana (Saka 1020-1023/1088-1101 M)
  12. Suradipa (Saka 1037-1041/1115-1119 M)
  13. Jaya Çakti (Saka 1055-1072/1133-1150M)
  14. Ragajaya (Saka 1077-1092/1155-1170M)
  15. Jayapangus (Saka 1099-1103/1177-1181M)
  16. Arjaya Deng Jayaketana (Tidak diketahui tahunnya, namun dari cara penulisan prasasti dan isinya diperkirakan antara raja Jayapangus dengan Ekajayalancana)
  17. Ekajayalancana (Saka 1122-1126/1200-1204 M)
  18. Adhikuntiketana (Saka 1126/1204 M)
  19. Masula Masuli
  20. Pameswara Çri Hyangning Hyang Adhidewalancana (Saka 1182-1208/1260-1286 M)
  21. Kryan Demung Sasabungalan (Saka 1206/1284 M)
  22. Kebo Parud Makakasir (Saka 1206-1246/1284-1324 M)
  23. Bethara Çri Maha Guru (Saka 1246/1324 M)
  24. Çri Walajaya Krethaningrat (Saka 1250-1259/1328-1337 M)
  25. Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten (Saka 1259-1265/1337-1343 M)

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Bali

Kerajaan Budha di Indonesia

Selain Kerajaan yang bercorak Hindu, kerajaan di indonesia juga diwarnai oleh keberadaan kerajaan-kerajaan yang bercorak Budha.

Kerajaan bercorak budha terbesar di indonesia adalah Sriwijaya. Selain besar secara militer dan ekonomi, Sriwijaya juga menjadi salah satu pusat perkembangan agama Budha di Asia Tenggara.

Pada era kerajaan Majapahit, agama Hindu dan Budha hidup secara bersama-sama dalam masyarakat. Sehingga kerajaan Majapahit bisa disebut kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu Budha.

Kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu Budha sebenarnya sudah dimulai sejak era kerajaan Medang yang lebih dikenal dengan nama Mataram Kuno.

Di bawah ini adalah beberapa nama kerajaan-kerajaan di Indonesia yang bercorak Budha :

Kerajaan Kalingga

Kerajaan Kalingga sebuah kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu Budha.

Letak pasti Kerajaan Kalingga atau Holing belum begitu jelas. Diperkirakan di sekitar Pekalongan atau di Jepara, Jawa Tengah.

Kalingga berdiri sekitar tahun 674 Masehi.

Sumber sejarah kerajaan Kalingga sangat terbatas.

Sumber catatan Tiongkok hanya menyebutkan bahwa Kalingga/Holing sudah ada pada abad ke 6 Masehi. Yang berkuasa saat itu adalah seorang ratu bernama Ratu Shima.

Ratu Shima adalah seorang pemimpin yang taat hukum, memiliki peraturan potong tangan bagi pencuri.

Tokoh lain yang disebutkan dalam catatan itu adalah seorang pendeta yang bernama Jhanabhadara.

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan bercorak Budha yang terbesar dalam sejarah kerajaan di Indonesia.

Nama Sriwijaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu Sri yang artinya cahaya atau gemilang, dan Wijaya yang artinya kemenangan.

Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terkuat di pulau Sumatera.

Kerajaan Sriwijaya didirikan sekitar abad ke-7 M oleh Dapunta Hyang.

Sriwijaya mencapai masa keemasan pada abad ke-9 hingga abad ke-10 Masehi.

Saat itu, Sriwijaya dapat menguasai hampir seluruh kerajaan di Asia Tenggara.

Sriwijaya besar karena menguasai jalur perdagangan penting yaitu selat Malaka yang menghubungkan China dengan India, Arab, dan Persia.

Selain besar secara ekonomi dan militer, Sriwijaya juga menjadi pusat perkembangan agama Budha di Asia Tenggara.

Salah satu guru agama Buddha yang terkenal di Sriwijaya adalah Sakyakirti.

Bukti keberadaan kerajaan sriwijaya salah satunya adalah tulisan seorang pendeta tiongkok I Tsing yang hidup pada abad ke 7 Masehi.

Dalam tulisannya, I Tsing mengatakan bahwa dirinya berkunjung ke Sriwijaya pada tahun 671 dan menetap disana selama 6 bulan.

Sriwijaya mengalami kemunduran akibat serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, India Selatan.

Tahun 1017 dan 1025, Rajendra Chola I mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya.

Menurut informasi yang tercatat di prasasti Tanjore bertarikh 1030 Masehi, Kerajaan Chola telah menaklukan banyak daerah-daerah koloni Sriwijaya.

Saat itu bahkan berhasil menawan raja Sriwijaya, yaitu Sangrama Vijayottunggawarman.

Meskipun berada di bawah pengaruh Rajendra Chola I, nampaknya Sriwijaya tetap eksis.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya berita utusan San-fo-ts’i ke Tiongkok tahun 1028 Masehi.

Pada tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di justru telah berada di bawah kendali kerajaan Dharmasraya (Melayu).

Faktor alam adalah penyebab lain kemunduran Sriwijaya. Diantaranya adalah pendangkalan sungai Musi akibat endapan lumpur.

Hal ini menyebabkan Palembang sebagai pusat sriwijaya semakin jauh dari laut. Akibatnya semakin sedikit kapal dagang yang datang sehingga ekonomi Sriwijaya melemah.

Paska keruntuhannya, kerajaan Sriwijaya seakan terlupakan. Bahkan oleh penduduk Sumatera Selatan sendiri.

Keberadaan Kerajaan Sriwijaya baru diketahui lagi setelah seorang sejarawan Perancis bernama George Coedès mempublikasikan karyanya tentang Sriwijaya pada tahun 1918.

Baca selengkapnya : sejarah Kerajaan sriwijaya

Di bawah ini adalah beberapa prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya :

Baca Selengkapnya : Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya

Di bawah ini adalah beberapa nama raja yang pernah berkuasa di Sriwijaya :

Baca juga : Kerajaan-kerajaan Budha di Indonesia

Kerajaan Melayu

Kerajaan Melayu adalah sebuah kerajaan di Indonesia yang diperkirakan terletak di daerah Jambi, Pulau Sumatra.

Dari peninggalan-peninggalan yang telah ditemukan, keberadaan kerajaan Melayu dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.

Awalnya kerajaan Melayu adalah kerajaan yang cukup kuat dan mampu mengontrol jalur perdagangan selat malaka. Namun akhirnya dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya pada tahun 682.

Salah satu bukti keberadaan kerajaan Melayu adalah dua buah buku karya Pendeta I Tsing atau I Ching (634-713), yang berjudul Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan serta Ta-T’ang Hsi-yu Ch’iu-fa Kao-seng Chuan.

Dari catatan I-tsing diketahui bahwa letak Kerajaan Melayu di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah.

Dari bukti ini, sebagian besar sejarawan setuju bahwa Melayu terletak di hulu sungai Batang Hari.

Di bawah ini adalah beberapa prasasti peninggalan kerajaan Melayu :

Di bawah ini adalah nama beberapa raja Kerajaan Melayu :

Kerajaan Islam di Indonesia

Selain Kerajaan yang bercorak Hindu Budha, kerajaan di indonesia juga diwarnai oleh keberadaan kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam.

Di bawah ini adalah beberapa nama kerajaan-kerajaan di Indonesia yang bercorak Budha :

Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak adalah Kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini terletak di Aceh.

Kerajaan Perlak berdiri pada tahun 840 Masehi.

Raja Pertama Kerajaan Perlak adalah Syed Maulana Abdul Azis Syah.

Kerajaan Perlak mencapai masa kejayaan pada saat kekuasaan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah II Jouhan Berdaulat tahun 1225 sampai 1262 M.

Keruntuhan kerjaan perlak diakibatkan oleh perang saudara yang mencapai puncak pada tahun 1292 M.

Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam kedua di Indonesia.

Pendiri Kerajaan Samudera pasai adalah Sutan Malik Al Saleh pada tahun 1267 Maseh.

Kerajaan Samudera pasai terletak di Lhouksmawe, Aceh.

Kerajaan Samudera Pasai mencapai masa keemasan pada masa kekuasaan Sutan Malik Tahir dan berhasil menjadi pusat perdagangan di selat malaka.

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Samudra pasai

Kerajaan Malaka

Kerajaan Malaka bukan kerajaan di Indonesia. Namun kerajaan ini mempunyai kaitan erat dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Kerajaan Malaka terletak di Malaka, Semenanjung Malaya.

Pendiri kerajaan Malak adalah Sultan Iskandar Syah.

Di bawah ini adalah beberapa nama raja malaka :

Pada tahun 1511 Masehi Malaka jatuh ke tangan Portugis.

Kerajaan Aceh

Pada awal abad 16, Kerajaan Aceh adalah kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pedir

Selanjutnya, Aceh berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir.

Kerajaan aceh didirikan pada abad ke-16 oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan berkembang pesat setelah kesultanan Malaka jatuh ke tangan Portugis.

Jatuhnya Kesultanan Malaka ke tangan Portugis membuat pedagang-pedagang Arab dan india memindahkan jalur perniagaan ke Aceh.

Hal ini membuat perekonomian Aceh berkembang pesat.

Puncak kejayaan Kerajaan Aceh terjadi pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda.

Di bawah Sultan Iskandar Muda, Aceh berhasil menguasai bekas wilayah Malaka dari tangan Portugis.

Sultan Iskandar Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Thani.

Dibawah kekuasaan Sultan Iskandar Thani, kerajaanAceh mengalami kemuduran.

Kesultanan Demak

Kerajaan Demak adalah kerajaan di Indonesia yang bercorak islam.

Demak adalah kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

pendiri kerajaan Demak adalah Raden Patah pada awal tahun 1500.

Awalnya, Demak adalah wilayah bagian dari kerajaan Majapahit.

Pengganti Raden Patah, adalah Pati Unus, yang pada tahun 1513 memimpin armada Demak menyerang Portugis yang menduduki Malaka.

Namun usaha Pati Unus untuk merebut Malaka dari Portugis gagal.

Karena pernah menyerang Portugis di Malaka, Pati Unus (1518 – l 521) terkenal dengan sebutan pangeran sabrang Lor.

Pati Unus hanya menjadi raja selama tiga tahun.

Dia digantikan oleh menantunya yaitu Sultan Trenggana (1521 – 1546).

Pada tahun 1522, Sultan Trenggana dibantu seorang ulama dari Pasai (Faletehan) merebut Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon dari kerajaan Pajajaran.

Namun, pada tahun 1546 Sultan Trenggana tewas dalam peperangan untuk menaklukan Pasuruan.

Setelah kematiannya, muncul perebutan kekuasaan antara Sunan Prawata (putra sulung Sultan Trenggana) dengan Pangeran Sekar (adik Sultan Trenggana).

Sunan Prawata berhasil mengalahkan Pangeran sekar kemudian naik tahta.

Namun, tak berlangsung lama Sunan Prawata dibunuh oleh Arya Penangsang (anak Pangeran Sekar).

Kerajaan Pajang

Kerajaan panjang berdiri paska runtuhnya Kesultanan Demak.

Pendiri kerajaan Pajang adalah Jaka Tingkir (Hadiwijaya), pada abad ke-14 Masehi.

Jaka Tingkir adalah menantu dari Sultan Trenggana. Dia berhasil membunuh Arya Penangsang dengan bantuan Kyai Ageng Pemanahan.

Setelah naik tahta, Jaka tingkir memindahkan pusat kerajaan ke Pajang.

Namun, kerajaan Pajang tidak berumur panjang. Setelah Sultan Hadi Wijaya meninggal, panjang mengalami kemerosotan akibat adanya perebutan kekuasaan antara anak dan menantu dari Sultan Hadi Wijaya yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri.

Arya Pangiri (anak Sunan Prawata) mencoba merebut kekuasaan namun berhasil digagalkan Pangeran Benawa (anak Sultan Adiwijaya) dibantu oleh Sutawijaya (anak Kyai Ageng Pemanahan).

Karena Pangeran Benawa merasa tidak sanggup memimpin kerajaan, kekuasaan diserahkan kepada Sutawijaya.

Sutawijaya kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram.

Kerajaan Mataram Islam

Pendiri kerajaan Mataram islam adalah Sutawijaya atau lebih dikenal dengan nama Panambahan Senapati.

Panembahan Senapati wafat tahun 1601.

Masa kejayaan kerajaan Mataram Islam terjadi pada masa Sultan Agung.

Sultan Agung bercita-cita menaklukan seluruh Jawa di bawah kekuasaan Mataram islam. Namun sampai kematiannya belum berhasil.

Mataram Islam pernah menyerang VOC di Batavia untuk mencegah semakin besarnya hegemoni firma dagang itu di nusantara.

Namun ironisnya, kerajaan Mataram Islam adalah salah satu kerajaan yang paling banyak terpengaruh dan bekerjasama dengan VOC.

Pengganti Sultan Agung adalah Amangkurat I. Raja ini memindahkan lokasi keraton ke Plered (1647), tidak jauh dari Karta.

Sunan Amangkurat 1 bekerjasama dengan VOC untuk memadamkan pemberontakan Trunajaya. Ia mati dalam pelarian ke Tegalarum (1677)sehingga dijuluki Sunan Tegalarum.

Penggantinya adalah Amangkurat II.

Pada Masa pemerintahan Amangkurat II, keraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680).

Pengganti Amangkurat II selanjutnya berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749).

Hamangkurat III tidak disukai oleh VOC karena membangkang VOC akibatnya VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja.

Tindakan VOC itu membuat Matarm memiliki dua raja. Amangkurat III melawan, namun tertangkap hingga diasingkan Sri Lanka.

Kekacauan politik terus berlanjut sampi akhirnya bisa diselesaikan pada masa Pakubuwana III.

Pada saat itu, Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Kesepakatan pembagian wilayah ini disebut perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755.

Kesultanan Yogyakarta

Kesultanan Yogyakarta terbentuk paska ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur-Jendral Jacob Mossel.

Pangeran Mangkubumi ditunjuk sebagai Sultan bergelar Sultan Hamengkubuwana I dengan wilayah kekuasaan meliputi setengah Kerajaan Mataram.

Sedangkan, Sunan Pakubuwana III tetap sebagai penguasa setengah daerah lainnya yang diberi nama baru Kasunanan Surakarta.

Sementara itu, daerah pesisir dikuasai VOC.

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat adalah wilayah dependen di bawah kekuasaan Belanda. Jadi, kesultanan Yogyakarta bukan kerajaan yang berdaulat penuh.

Pada masa kekuasaan Belanda ini, Kesultanan Yogyakarta disebut Zelfbestuurende Lanschappen (selanjutnya pada masa pendudukan Jepang disebut dengan Koti/Kooti).

Sebagai negara dependen/bawahan, pemerintahan negara diatur dan dilaksanakan di bawah perjanjian/kontrak politik antara negara induknya, yaitu Kerajaan Belanda dengan Kesultanan Ngayogyakarta sebagai kerajaan vasal.

Perjanjian Politik 1940 (Staatsblad 1941, No. 47) adalah kontrak politik terakhir antara Belanda dengan kesultanan Yogyakarta. Kontrak ini menasbihkan Sultan Hamengkubuwono IX sebagai raja Yogyakarta.

Paska kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1950 Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat (bersama-sama dengan Kadipaten Pakualaman) dibentuk menjadi daerah istimewa setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kasunanan Surakarta

Seperti dijelaskan di atas, penandatanganan perjanjian Giyanti membuat Mataram terpecah dua.

Salah satu hasilnya adalah terbentuknya Kasunanan Surakarta, dibawah kekuasaan Sunan Pakubuwana III.

Akibat Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757, wilayah Kasunanan Surakarta semakin berkurang. Berdasarkan perjanjian itu, Raden Mas Said diakui sebagai seorang pangeran merdeka.

Konsekuensinya, Dia berkuasa atas wilayah berstatus kadipaten, yang disebut Mangkunegaran. Sebagai penguasa, gelar Raden Mas Said adalah Adipati Mangkunegara.

Pakubuwana III digantikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana IV (1788–1820).

Berbeda dengan pendahulunya, raja ini tidak mau tunduk kepada VOC.

Pada November 1790, Keraton Surakarta dikepung oleh persekutuan VOC, Hamengkubuwana I, dan Mangkunegara I.

Pada masa kekuasaan Pakubuwana IV juga terjadi kesepakatan bahwa kedudukan dan kedaulatan Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, dan Praja Mangkunegaran adalah setara sehingga tidak diperbolehkan saling menyerang satu sama lain.

Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon/kesultanan Cirebon adalah kerajaan di Indonesia yang kerajaan bercorak Islam.

Pendiri Kerajaan Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang pada abad ke 15 Masehi.

Kesultanan Cirebon terletak di pantai Utara Jawa yang merupakan perbatasan antara wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Oleh karena itu, kebudayaan di Kesultanan Cirebon adalah perpaduan antara budaya Jawa dan budaya Sunda.

Kerajaan Banten

Banten adalah kerajaan di Indonesia yang bercorak Islam. Kerajaan atau kesultanan ini terletak di sisi barat pulau Jawa.

Seperti diceritakan di atas, Demak melalui Faletehan berhasil merebut Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon, dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Karena kondisi politik di Demak kacau akibat adanya perebutan kekuasaan, pada tahun 1522 Faletehan menyerahkan Banten kepada putranya Maulanan Hasanuddin sebagai raja pertama kesultanan Banten.

Selama hampir 3 abad Kesultanan Banten mampu bertahan bahkan mencapai kejayaan yang luar biasa, yang diwaktu bersamaan penjajah dari Eropa telah berdatangan dan menanamkan pengaruhnya.

Kesultanan Banten runtuh pada tahun 1813. Dan pada akhir eksistensinya, status para Sultan Banten hanyalah raja bawahan dari pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.

Di bawah ini adalah beberapa nama rja-raja yang lain :

Kerajaan Gowa-Tallo

Kerajaan Gowa-Tallo adalah kerajaan di Indonesia timur yang bercorak islam.

Kerajaan Gowa-Talo merupakan salah satu kerajaan terbesar di Sulawesi.

Kerajaan Gowa-Tallo didirikan pada tahun 1605 hasil penggabungan dari dua kerajaan yaitu kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.

Raja pertama kerajaan Gowa-Tallo adalah Sultan Alaudin.

Paska kematian Sultan Alaudin, kekuasaan dipegang oleh putranya, yaitu Sultan Muhammad Said.

Pada saat inilah mulai terjadi perseteruan dengan VOC.

Tahun 1653 kekuasaan kerajaan digantikan oleh putranya, yaitu Sultan Hasanudin.

Pada masa kekuasaan Sultan Hasanudin perseteruan Gowa-Tallo dengan VOC semakin memanas.

VOC menyerang Makassar pada tahun 1660, namun tidak berhasil menghancurkan Kerajaan Gowa.

Pada tahun 1667, VOC di bawah pimpinan Cornelis Speelman menyerang kembali.

Serangan kali ini berhasil mendesak kerajaan Gowa hingga memaksa Sultan Hasanudin menandatangani Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya.

Karena merasa dirugikan oleh isi perjanjian, Gowa kembali melakukan perlawanan. Pertempuran terjadi pada Tahun 1669.

VOC berhasil merebut Benteng Sombaopu pada tanggal 24 Juni 1669.

Sultan Hasanuddin akhirnya wafat pada tanggal 12 Juni 1670.

Kesultanan Ternate

Kesultanan Ternate adalah salah satu kerajaan di Indonesia timur yang bercorak Islam.

Kesultanan Ternate adalah salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara.

Kerajaan ini didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257.

Kesultanan ternate mencapai masa keemasan pada masa kekuasaan Sultan Baabullah.

Kesultanan Tidore

Kesultanan Tidore adalah kerajaan di Indonesia timur yang bercorak Islam terletak Maluku Utara.

Pada tahun 1521, raja Tidore yaitu Sultan Mansur menjadikan Spanyol sebagai sekutu dengan maksud mengimbangi Kesultanan Ternate yang bersekutu dengan Portugis.

Setelah Spanyol mundur dari wilayah Tidore pada tahun 1663 akibat protes dari Portugis karena dianggap melanggar Perjanjian Tordesillas 1494, Tidore menjadi salah satu kerajaan paling merdeka di wilayah Maluku.

Pada masa pemerintahan Sultan Saifuddin, Tidore berhasil mencegah dominasi VOC di wilayahnya dan berhasil tetap menjadi wilayah merdeka sampai akhir abad 18.

Raja Ternate yang terkenal adalah Sultan Nuku.

Kesultanan Banjar

Kesultanan Banjar adalah kerajaan di Indonesia yang bercorak Islam di wilayah Banjarmasin, Kalimantan selatan.

Kesultanan Banjar didirikan pada tahun 1520 oleh Raden Samudera yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah.

Tokoh terkenal dari kesultanan Banjar adalah Pangeran Antasari.

Kesultanan Pontianak

Kesultanan Pontianak adalah kerajaan islam yang berdiri pada tahun 1771.

Kesultanan Pontianak didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Ibni Alhabib Husein bin Ahmad Alkadrie.

Sultan terkenal dari Pntianak adalah Sultan Hamid II.

Kesultanan Siak Sri Inderapura

Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah kerajaan di Indonesia tepatnya di Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Pendiri Kesultanan Siak adalah Raja Kecil dari Pagaruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil.

Kesultanan Siak didirikan pada tahun 1723.

Kesultanan Siak mengalami pasang surut yang dipengaruhi oleh adanya persaingan untuk memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka.

Paska Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, yaitu Sultan Syarif Kasim II menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia.

Demikian artikel kami tentang nama kerajaan-kerajaan di Indonesia, baik yang bercorak Hindu, Budha, Hindu Budha maupun yang bercorak Islam.

Nama kerajaan di Indonesia yang tercantum dalam artikel ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kerajaan yang ada di kepulauan nusantara. Untuk mendapatkan informasi tentang kerajaan-kerajaan di nusantara secara lengkap, bisa baca di sumber ini.

Sharing is caring