Katamasa

4 Latar Belakang Pertempuran Surabaya (Lengkap)

Latar belakang pertempuran Surabaya adalah rentetan dari peristiwa-peristiwa mulai dari kedatangan Jepang ke Indonesia sampai kemudian menyerahnya Jepang kepada sekutu yang mengakhiri perang dunia 2.

Kekalahan Jepang pada perang dunia 2 ternyata menyebabkan terjadinya banyak peristiwa lanjutan di wilayah-wilayah yang awalnya berada di bawah pendudukan Jepang, termasuk Surabaya Indonesia.

Meskipun Soekarno-Hatta telah mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, bukan berarti negeri ini terbebas dari agresi pihak asing.

Sekutu sebagai pemenang perang datang ke Indonesia sebagai tindak lanjut dari peristiwa menyerahnya Jepang tanpa syarat kepada sekutu.

Di Indonesia sendiri, kedatangan tentara Sekutu/AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) menimbulkan banyak penolakan dari pihak republik.

Kedatangan tentara sekutu mendapat banyak tentangan karena ternyata mereka diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang ingin mengembalikan Indonesia kembali di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

Selain peristiwa menyerahnya Jepang kepada sekutu, latar belakang pertempuran Surabaya yang khusus adalah peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato dan peristiwa tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, pemimpin pasukan sekutu di Surabaya.

Dalam artikel ini kita akan membahas secara detail tentang latar belakang pertempuran Surabaya, baik terkait situasi dunia maupun sebab khusus yang terjadi di Surabaya sendiri. Selamat Membaca.

Latar Belakang Pertempuran Surabaya

Latar belakang pertempuran Surabaya erat kaitannya peristiwa-peristiwa menjelang akhir perang dunia 2 dan rentetan peristiwa di kota Surabaya sendiri.

Setelah menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat, maka Jepang secara otomatis melepaskan wilayah-wilayah pendudukannya kepada sekutu.

Sementara itu, Indonesia telah menyatakan diri sebagai negara merdeka melalui proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.

Baca juga : Pengertian NKRI

Namun ternyata, proklamasi seperti tidak dianggap oleh pihak sekutu. Mereka datang ke Indonesia sebagai pemenang perang dan berkeinginan mengembalikan wilayah Indonesia kembali menjadi wilayah jajahan Belanda.

Tentu saja niat itu ditolak oleh pihak Indonesia. Maka pertempuran-pertempuran kecil pun meletus sebagai bentuk penolakan tegas rakyat kembali jatuh ke belenggu penjajahan asing.

Setelah berbagai upaya untuk meredam situasi ternyata tidak berhasil, maka meletuslah sebuah peristiwa heroik yaitu pertempuran Surabaya yang memakan korban ribuan nyawa.

Di bawah ini adalah penjelasan detail peristiwa demi peristiwa yang menjadi latar belakang pertempuran Surabaya, baik situasi dunia maupun situasi di kota Surabaya sendiri.

Kedatangan Jepang ke Indonesia

Invasi Jepang ke wilayah kepulauan Indonesia tidak mampu dibendung Hindia Belanda, meskipun mendapatkan bantuan sekutu.

Hal itu memaksa pemimpin Hindia Belanda di Batavia untuk menuju ke meja perundingan. Perundingan ini disebut perjanjian Kalijati.

Dalam perundingan itu, pihak Hindia Belanda diwakili oleh Gubernur Jenderal Jonkheer Tjarda van Starkenborgh Stachouwer bersama Letnan Jenderal Hein ter Poorten, Panglima Tertinggi Tentara India-Belanda.

Sementara pihak Tentara Jepang dipimpin langsung oleh Letnan Jenderal Imamura.

Tentara Jepang yang berada di atas angin meminta pihak Hindia Belanda untuk menyerah tanpa syarat. Belanda pun hanya bisa menerima.

Maka, pada 9 Maret 1942, Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang melalui perjanjian Kalijati.

Pernyataan menyerah Hindia Belanda ditandatangani oleh Letnan Jenderal ter Poorten, mewakili Gubernur Jenderal.

Dengan demikian secara de facto dan de jure, sejak tanggal 9 Maret 1942 seluruh wilayah bekas Hindia Belanda di bawah pendudukan Jepang.

Jepang menyerah kepada sekutu

Selang 3 tahun, posisi Jepang berbalik 180 derajat. Mereka yang awalnya menang di berbagai front berbalik terdesak.

Setidaknya dalam kurun waktu dua tahun sampai 1945, pasukan kekaisaran Jepang sudah mengalami banyak kekalahan di berbagai front pertempuran.

Pasukan sekutu yang semakin tidak terbendung berencana menginvasi wilayah Jepang.

Pada tanggal 6 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima.

Kemudian disusul bom atom kedua di Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945.

Hal itu diperparah dengan serangan Uni Soviet pada hari yang sama, tanggal 9 Agustus 1945, yang benar-benar menghancurkan pasukan Jepang.

Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus dan secara resmi ditandatangani pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri, di teluk Tokyo.

Jepang menyerah kepada sekutu adalah akhir dari Perang Dunia 2.

Baca juga : Alasan Jepang menyerah kepada sekutu

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu secara resmi ditandatangani, sisa-sisa kekuatan Jepang di Pasifik juga diharuskan melakukan hal yang sama.

Pasukan Jepang yang ditempatkan di Asia Tenggara menyerah pada 2 September 1945, di Penang, 10 September 1945 di Labuan, 11 September 1945 di Kerajaan Sarawak dan 12 September 1945 di Singapura.

Pasukan Kuomintang mengambil alih kekuasaan Jepang di Taiwan pada 25 Oktober 1945.

Sementara itu, pasukan jepang di Indonesia akan dilucuti sendiri oleh pasukan sekutu (AFNEI) yang akan datang ke Indonesia.

Peristiwa pertempuran Surabaya bisa dikatakan adalah salah satu dampak dari menyerahnya Jepang yang ditindaklanjuti pembentukan AFNEI untuk melucuti senjata tentara Jepang di Indonesia.

Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu menandatangani Instrumen Penyerahan Jepang di atas kapal USS Missouri diawasi oleh Jendral Richard K. Sutherland, 2 September 1945 (wikimedia commons)

Proklamasi kemerdekaan Indonesia

Peristiwa Jepang menyerah kepada sekutu juga berpengaruh besar pada kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda yang mengetahui Jepang menyerah kepada sekutu menculik Sukarno Hatta ke Rengasdengklok untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945.

Namun, proklamasi kemerdekaan yang telah dikumandangkan ternyata tidak serta merta membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan.

Belanda sebagai bagian dari sekutu ternyata berkeinginan mengembalikan Indonesia sebagai wilayah koloninya, yaitu Hindia Belanda dengan cara membonceng kedatangan tentara sekutu.

Paska Proklamasi kemerdekaan, pemerintah pusat di Jakarta mengeluarkan maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang isinya menetapkan mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia.

Maklumat pemerintah untuk pengibaran bendera merah putih di seantero wilayah Indonesia, kelak akan memicu peristiwa legendaris perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (akan di bahas di bagian bawah).

Kedatangan Tentara Sekutu Yang Diboncengi NICA

Sebagai pemenang perang dunia 2, sekutu datang ke Indonesia.

Tentara sekutu yang datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies).

Tugas AFNEI adalah untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya dan menjaga ketertiban di berbagai daerah di Indonesia.

Panglima AFNEI adalah Letnan Jenderal Sir Philip Christison yang membawahi wilayah Jakarta, Surabaya, dan Sumatera.

Pasukan Sekutu mendarat di Jakarta tanggal 15 September 1945. Kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 dengan kapal perang Eliza Thompson.

Pasukan ini adalah pasukan Brigade 49 sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby.

Pada awalnya, pasukan Sekutu datang ke Surabaya dengan tujuan mengamankan tawanan perang, melucuti senjata pasukan Jepang, evakuasi dan menjaga ketertiban di wilayah Surabaya.

Namun, kedatangan tentara sekutu ternyata juga diboncengi NICA (Netherlands Indies Civil Administration).

NICA mempunyai misi untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Hindia Belanda.

Tentu saja hal itu mendapatkan tentangan seluruh rakyat. Para pejuang bersama milisi rakyat kemudian melakukan perlawanan terhadap tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

Insiden Hotel Yamato

Seperti dijelaskan di atas, paska Proklamasi kemerdekaan, pemerintah pusat di Jakarta mengeluarkan maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang isinya menetapkan mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia.

Seperti wilayah Indonesia lainnya, gerakan pengibaran bendera merah putih secara masif dilakukan oleh rakyat Surabaya.

Namun, gerakan pengibaran bendera merah putih ini seperti diremehkan oleh sekelompok orang Belanda.

Mereka justru mengibarkan bendera Belanda di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit).

Mr. W.V.Ch Ploegman memimpin sekelompok orang mengibarkan bendera Belanda pada malam hari tanggal 19 September 1945, tepatnya pukul 21.00, tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato.

Pemuda Surabaya yang melihat berkibarnya bendera Belnda menjadi marah.

Para pemuda perbuatan itu telah menghina kedaulatan Indonesia, bertujuan mengembalikan kekuasannya di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang saat itu sedang berlangsung di seluruh penjuru kota Surabaya.

Kabar adanya pengibaran bendera Belanda di Hotel Yamato menyebar sangat cepat ke seluruh rakyat Surabaya.

Maka, dalam waktu yang sangat singkat Hotel Yamato telah dibanjiri kerumunan massa yang marah.

Di bagian belakang hotel, terdapat beberapa orang tentara Jepang yang berjaga-jaga untuk mengendalikan situasi.

Mendengar berkumpulnya massa masaa besar di Hotel Yamato, Residen Sudirman, sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, segera datang.

Residen Sudirman masuk ke dalam hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono untuk berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta supaya mereka menurunkan bendera Belanda dari gedung Hotel Yamato.

Ternyata, Ploegman menolak menurunkan bendera Belanda sekaligus menolak mengakui kedaulatan Indonesia.

Perundingan tidak berjalan mulus, kedua pihak emosi. Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian di antara mereka.

Dalam perkelahian itu, Sidik berhasil menewaskan Ploegman, selanjutnya, Sidik sendiri tewas ditembak tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman.

Sedangkan residen Sudirman dan Hariyono berhasil melarikan diri ke luar gedung Hotel Yamato.

Para pemuda di luar hotel yang mengetahui kejadian tersebut, segera masuk ke Hotel Yamato, maka terjadilah perkelahian di lobi hotel antara pemuda dan sekelompok orang Belanda.

Sebagian pemuda berhasil naik ke atas gedung hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono yang tadi ikut ke luar gedung ikut terlibat memanjat tiang bendera bersama Kusno Wibowo.

Setelah berhasil menurunkan bendera Belanda, mereka merobek bagian birunya, dan mengerek kembali Bendera yang kini berwarna Merah Putih.

Peristiwa yang sangat monumental ini disambut dengan pekik ‘Merdeka’ berulang kali oleh massa di area gedung Hotel Yamato.

Suasana Insiden perobekan bendera Belanda sebelum pertempuran surabaya (sumber : wikimedia commons)

Peristiwa perobekan bendera di hotel Yamato inilah yang menjadi salah satu latar belakang pertempuran Surabaya.

Setelah insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 pertempuran Surabaya meletus untuk pertama kalinya.

Pertempuran-pertempuran awal

Perang Surabaya nampaknya sudah tidak bisa dihindari. Semakin hari, situasi semakin tidak terkendali, terutama paska peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato.

Pada tanggal 27 Oktober 1945 Tentara Sekutu menyerang penjara Republik dengan tujuan membebaskan perwira-perwira Sekutu dan Pegawai RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interness) (Kartasasmita: 1995).

Tentara sekutu juga mulai menduduki objek-objek vital di kota Surabaya, seperti lapangan terbang, kantor pos, radio Surabaya, gedung internatio, pusat kereta api, pusat oto mobil  dan lain-lain.

Selain itu, Angkatan Udara Inggris (RAF) juga menyebarkan pamflet melalui udara tanpa diketahui oleh Jenderal Mallaby.

Isi pamflet itu adalah sebuah perintah bagi rakyat Surabaya dan seluruh Jawa Timur untuk menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan perang milik Jepang dalam tempo 48  jam (Imran, dkk:2012).

Ultimatum juga dikeluarkan oleh Jenderal Hawthorn dengan ancaman hukuman seberat-beratnya bagi siapa saja yang tidak mematuhi perintah Inggris (Nasution : 1977).

Prilaku pihak sekutu membuat rakyat Surabaya marah. Bagi rakyat, tindakan-tindakan sekutu itu adalah penghinaan bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka.

Dengan persetujuan pemerintah, Komandan Divisi TKR Mayor Jenderal Yono Sewoyo mengeluarkan perintah perang terhadap seluruh badan perjuangan, polisi dan TKR untuk melawan tentara sekutu.

Masyarakat sipil kota Surabaya juga sangat menentang keberadaan tentara sekutu di Jawa Timur. Gubernur R.M.T.A Suryo dengan tegas menyatakan enggan menerima kedatangan tentara sekutu (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Pada tanggal 28 Oktober 1945 sore, dr. Mustopo memimpin para pemuda bersama dengan 20.000 kekuatan prajurit TKR dan 120.000 kelompok pemuda bersenjata melakukan penyerbuan ke kamp Belanda dan sekutu (Imran, dkk: 2012).

Pada hari yang sama, saat tengah malam, Radio Pemberontakan terhadap sekutu, mengobarkan semangat perjuangan seluruh rakyat. Bung Tomo secara berorasi dengan berapi-api semakin menguatkan semangat revolusi ke seluruh kota Surabaya (Ricklefs: 1998).

Pada akhir bulan Oktober, K.H Hasyim Asyari (pemimpin Nahdatul Ulama) bersama K.H Wahab Hasbullah dan kyai-kyai dari pesantren lain dan Masyumi mendukung perjuangan dan menyatakan bahwa perang mempertahankan tanah air Indonesia adalah Perang Sabil (Ricklefs: 1998).

Memasuki tanggal 29 Oktober, para pemuda Surabaya berhasil menduduki kembali beberapa obyek vital yang sebelumnya diduduki sekutu (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Melihat situasi yang semakin tidak menentu, Jenderal DC. Hawntorn menghubungi Presiden Soekarno, meminta bantuannya untuk menyerukan penghentian kontak senjata antara pemuda dan sekutu  (Imran, dkk: 2012).

Selanjutnya, Presiden Soekarno yang didampingi oleh Wakil Presiden Moh Hatta dan Amir Syarifuddin mengadakan perjanjian dengan sekutu tentang penghentian kontak senjata (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Berdasarkan hasil perundingan tersebut, kedua pihak sepakat membentuk Contact Committee (Kontak Penghubung) (Kartasasmita: 1995).

Saat itu, pihak sekutu menyatakan mengakui kedaulatan RI, namun setelah peperang sedikit mereda pasca perundingan, sekutu kembali melakukan penyerangan yang mengakibatkan banyak korban.

Tindakan sekutu yang tidak menghormati perjanjian kembali menyulut perang Surabaya.

Kematian Brigadir Jenderal mallaby

Tindakan sekutu yang mengabaikan perjanjian membuat situasi kembali tidak terkendali.

Pada tanggal 31 Oktober 1945, pihak pemuda Surabaya tiba-tiba menahan Brigadir Mallaby yang saat itu dikawal oleh Kapten Smith, Kapten Shaw dan Letnan Laughland.

Dalam situasi itu, salah seoarang tentara sekutu Mayor Venugopall melemparkan granat ke arah pemuda. Namun malang, Jenderal Brigadir Mallaby yang ada di lokasi terbunuh dan hangus bersama mobil (Nasution: 1977).

Selain versi di atas, ada versi lain tentang kematian Jenderal Mallaby.

Versi ini menyatakan bahwa Jenderal Mallaby tewas karena ditusuk dengan bayonet dan bambu runcing oleh pemuda (Poesponegoro  dan Nugroho: 1993).

Mobil Brigjen Mallaby meledak dan menewaskan dirinya. Tewasnya Mallaby adalah salah satu latar belakang pertempuran Surabaya 10 November 1945 (sumber : Imperial War Museum/wikimedia commons)

Ultimatum Pihak Sekutu Kepada rakyat Surabaya

Tewasnya Brigjen Mallaby menimbulkan amarah pemimpin pasukan sekutu di Indonesia, Jenderal Christison. Mereka menganggap kematian Mallaby adalah akibat serangan granat pemuda Surabaya.

Sebagai Panglima AFNEI, Christison memerintahkan rakyat Surabaya untuk menyerah, jika tidak mereka akan dihancur leburkan (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Ancaman pihak sekutu dijawab oleh Kontak Biro Indonesia yang menyatakan bahwa penyebab kematian Mallaby adalah kecelakaan, tidak dapat dipastikan apakah kematiannya karena tembakan rakyat atau tembakan tentaranya sendiri (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Paska tewasnya Brigjen Mallaby, Inggris menambah pasukan baru yang dipimpin oleh Mayor Jenderal E.C Mansergh.

Pada tanggal 7 November, Mansergh mengirim surat kepada Gubernur Soeryo bahwa sang gubernur tidak mampu menguasai keadaan, seluruh kota Surabaya sudah dikuasai para perampok (Nasution: 1977).

Kemudian tanggal 8 November, dia mengirim surat kedua yang berisi ancaman dari pihak sekutu untuk menghancur leburkan seluruh Surabaya.

Gubernur Soeryo membalas surat-surat pimpinan tentara sekutu itu pada tanggal 9 November, namun surat-surat itu tidak pernah sampai.

Merasa tidak mendapat tanggapan, pihak sekutu memberi ultimatum terkahir yang memberi perintah kepada orang-orang Indonesia untuk meletakkan bendera merah putih di atas tanah dan para pemuda harus menghadap kepada sekutu dengan “angkat tangan” dan dituntut untuk bersedia menandatangani surat menyerah tanpa syarat.

Mansergh memerintahkan supaya wanita dan anak-anak untuk pergi meninggalkan kota sebelum pukul 19.00 WIB malam itu. Bagi siapa yang masih menyimpan senjata sesudah pukul 06.00 pada tanggal 10 November 1945 diancam dengan hukuman mati (Imran, dkk:2012).

Ultimatum sekutu tersebut sangat menusuk perasaan rakyat (Kartasasmita: 1995). Bagi rakyat Surabaya, ultimatum itu adalah sebuah penghinaan terhadap martabat dan harga diri bangsa Indonesia (Poesponegoro dan Nugroho: 1993).

Dalam menghadapi ultimatum itu, terjadi perdebatan antara pemimpin dan pihak pemuda. Hasilnya bahwa para pemuda memutuskan menolak ultimatum yang sangat menghina tersebut.

Rakyat Surabaya sama sekali tidak takut terhadap ultimatum sekutu maka pecahlah Pertempuran Surabaya (Imran, dkk:2012) (Kartasasmita, 1995).

Ternyata ultimatum itu bukan isapan jempol semata. Pagi hari di tanggal 10 November, tentara Inggris mulai melancarkan serangan.

Seragan tersebut segera mendapatkan balasan dari pejuang dan rakyat Indonesia.

Perlawanan pejuang dan rakyat yang pada awalnya terjadi secara spontan dan tidak terorganisir lambat laun makin teratur.

Pertempuran Surabaya berlangsung sekitar tiga minggu.

Dalam pertempuran Surabaya, diperkirakan 6,000 – 16,000 pejuang dari pihak Indonesia gugur dan menyebabkan setidaknya 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya.

Korban dari pasukan Inggris dan India diperkirakan sekitar 600 – 2000 tentara.

Meskipun kalah dari segi jumlah korban, pertempuran Surabaya menunjukkan kepada dunia setidaknya kepada Inggris bahwa kemerdekaan Indonesia adalah keinginan seluruh rakyat.

Selama ini, pihak Belanda selalu melakukan propaganda di pihak internasional bahwa keinginan untuk merdeka tidak didukung rakyat, dan para pejuang kemerdekaan adalah kelompok ekstrimis.

Pertempuran heroik antara pejuang dan rakyat Surabaya yang mengakibatkan begitu banyak pejuang dan rakyat yang gugur diabadikan oleh pemerintah dengan menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan yang diperingati rutin setiap tahun.

Tentara sekutu asal British India berlindung di balik Tank dalam pertempuran Surabaya (sumber : IWM/wikimedia commons)

Baca selengkapnya : Peristiwa Pertempuran Surabaya

Kesimpulan

Dari uraian di atas kita bisa tarik kesimpulan bahwa latar belakang pertempuran Surabaya adalah rentetan peristiwa yang saling terkait selama dan paska perang dunia 2.

Kalau kita ingin uraikan lebih rinci maka latar belakang pertempuran Surabaya bisa dikelompokkan menjadi 3, yaitu situasi dunia selama dan paska perang dunia 2, situasi di Indonesia secara umum dan situasi lokal Surabaya.

Situasi lokal yang menjadi latar belakang pertempuran Surabaya, yaitu :

  1. Kedatangan tentara sekutu yang diboncengi NICA
  2. Peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato
  3. Tewasnya Brigadir jenderal Mallaby
  4. Ultimatum sekutu yang merupakan penghinaan kedaulatan Indonesia

Demikian artikel kami tentang latar belakang pertempuran Surabaya. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring