Katamasa

8 Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri Beserta Gambar (Lengkap)

Kita beruntung sampai hari ini masih mewarisi kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri.

Kerajaan Kediri atau yang disebut juga kerajaan Panjalu adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang meninggalkan begitu banyak kitab-kitab sastra.

Kitab-kitab peninggalan kerajaan Kediri umumnya adalah sebuah karya sastra yang terkait keagamaan, khususnya agama Hindu.

Pada masa kerajaan Panjalu atau Kerajaan Kediri, hidup para Mpu yang termasyur.

Diantaranya adalah lima bersaudara yang disebut Panca Pandhita, yaitu :

  1. Mpu Gnijaya
  2. Mpu Semeru
  3. Mpu Ghana
  4. Mpu Kuturan
  5. Mpu Bharadah

Seperti telah banyak diketahui, paska raja Airlangga memutuskan meletakan tahta kerajaan Panjalu, terjadi perebutan kekuasaan di antara dua orang putranya.

Untuk menghindari pertumpahan darah, Airlangga terpaksa membagi kerajaan Panjalu menjadi dua bagian, yaitu Kerajaan Kediri, yang beribukota di Daha dana kerajaan Janggala, yang beribukota di Kahuripan.

Sosok penting yang sangat berperan dalam pemisahan ini adalah Mpu Bharadah.

Para Mpu penggubah kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri adalah para keturunan Panca Pandhita ini.

Baca Selengkapnya : daftar raja-raja kerajaan Kediri sepeninggal Airlangga

Di artikel ini kita akan membahas tentang kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri yang merupakan karya adiluhung, bukti tingginya kebudayaan bangsa kita. Selamat membaca.

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

Di bawah ini adalah kitab-kitab peninggalan kerajaan Kediri yang ditulis oleh para pujangga pada masa pemerintahan raja-raja kerajaan Kediri.

Kitab Kakawin Arjuna Wiwaha

Kakawin Arjunawiwaha, Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri atau Kerajaan panjalu. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yang berkuasa di Kerajaan Panjalau antara tahun 1019-1042 Masehi. Para peneliti memperkirakan Kakawin Arjunawiwaha digubah sekitar tahun 1030 Masehi. (Foto : Wikimedia Commons)

Kakawin Arjunawiwaha bercerita tentang kisah Arjuna yang bertapa di gunung Mahameru, untuk memohon senjata dalam rangka persiapan perang Bharatayuda.

Dalam pertapaannya, arjuna diuji oleh para Dewa, yang mengirim bidadari yang bernama Dewi Supraba dan Tilottama.

Namun, pertapaan Arjuna sangat khusuk sehingga para bidadari gagal untuk menggodanya.

Kegagalan para bidadari sesungguhnya membuat hati para dewa senang, karena itu berarti menunjukan keteguhan hati sang Arjuna.

Namun, para dewa masih menyangsikan apakah tujuan pertapaan Arjuna hanya untuk kesaktian dirinya sendiri atau untuk kesejahteraan masyarakat.

Maka, Batara Indra datang sendiri ke pertapaan Arjuna dengan cara menyamar menjadi seorang brahmana tua. Tujuannya untuk mengetahui maksud pertapaan Arjuna.

Sang Arjuna dan Sang Brahmana kemudian berdiskusi tentang agama. Puas dengan pengetahuan dan keteguhan Arjuna, Batara Indra menunjukkan jati dirinya yang asli kemudian pergi.

Sebelum pergi Batara Indra berkata kepada Arjuna bahwa Batara Siwa akan berkenan dengan keteguhan pertapaanya.

Selanjutnya, muncul seekor babi hutan yang datang mengamuk. Babi hutan ini sebenarnya adalah penjelmaan raksasa yang bernama Kirata.

Sang Arjuna kemudian memanahnya. Namun, secara bersamaan babi hutan itu juga dipanah oleh seorang pemburu tua. Anak panah mereka berdua mengenai tubuh babi secara bersamaan.

Terjadilah perselisihan di antara keduanya soal anak panah siapa yang sebenarnya telah membunuh babi tersebut.

Perselisihan yang awalnya hanya perdebatan berubah menjadi pertarungan sengit.

Awalnya Arjuna berhasil menahan semua anak panah yang dilepaskan pemburu tua itu, bahkan berhasil menghancurkan busurnya.

Namun, ketika pertarungan berubah menjadi pergulatan, Arjuna yang hampir kalah memegangi kaki sang pemburu tua.

Tiba-tiba saja, pemburu tua itu lenyap dan muncul lah Batara Siwa di hadapan Arjuna.

Arjuna segera memuja Sang Batara Siwa. Siwa yang senang dengan keteguhan hati Arjuna kemudian menganugerahkan senjata panah yang kesaktiannya tidak tertandingi oleh apa pun, yang bernama Pasupati.

Setelah itu, muncul kembali kedua bidadari yang datang membawa kabar bahwa Batara Indra berkeinginan supaya Arjuna membantu para Dewa untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raja raksasa yang telah mengganggu kahyangan.

Singkat cerita, Arjuna berhasil menjalankan tugasnya dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari.

Para ahli yang meneliti kitab peninggalan kerajaan Kediri (Panjalu) ini mengatakan bahwa Kakawin Arjunawiwaha digubah berdasarkan Wanaparwa, kitab ketiga Mahābharata.

Kitab Kakawin Bharatayuddha 

Kakawin Bharatayuddha, Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri atau Kerajaan panjalu. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa. (foto: wikimedia commons)

Kakawin Bharatayuddha adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang merupakan adaptasi dari epos Mahabharata, karya Rsi Wyasa.

Perang Bharatayuddha adalah perang saudara antara Pandawa dan Korawa yang sama-sama keturunan wangsa Bharata. Bahkan kedua pihak sebenarnya juga keturunan Rsi Vyasa sendiri.

Kakawin bharatayuddha, kitab peninggalan kerajaan Kediri ini sebenarnya adalah kiasan tentang perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala yang sama sama keturunan Raja Erlangga.

Kitab Kakawin Smaradahana

Kakawin Smaradahana, Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri atau Kerajaan panjalu. Kakawin Smaradahana adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang digubah oleh Mpu Dharmaja pada masa pemerintahan Sri Kamesywara. (foto : sampul buku Kakawin Smaradahana, Dinas Pendidikan Provinsi Bali)

Kakawin Smaradahana menceritakan kisah kelahiran Ganesha, yaitu dewa berkepala gajah yang digunakan sebagai lambang Kerajaan Kediri seperti yang digunakan pada prasasti-prasastinya.

Kakawin Smaradahana juga menceritakan bahwa menjelang kelahiran Ganesha, Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih terbakar oleh Mata Ketiga Dewa Siwa.

Pasangan dewa-dewi cinta tersebut lalu menitis dalam diri raja kerajaan Kediri Sri Kamesywara dan permaisurinya Sri Kirana, putri Jenggala.

Seperti sudah diceritakan di atas, paska dipecah menjadi dua kerajan pada tahun 1042, Kerajaan Panjalu (Kediri) dan Janggala terus menerus terlibat perang saudara.

Sampai akhirnya, pada tahun 1135 Kerajaan Jenggala berhasil ditaklukan oleh Sri Jayabhaya raja Kediri sehingga kerajaan Panjalu (kediri) bersatu lagi.

Ditambah lagi dengan pernikahan Raja kediri Sri Kamesywara dengan Sri Kirana putri Jenggala, maka persatuan kedua Negara lebih erat lagi.

Kakawin Smaradahana adalah cikal bakal kisah-kisah Panji yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa.

Kitab Kakawin Kresnayana

Kakawin Kresnayana adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang digubah oleh Mpu Triguna pada masa pemerintahan prabu Warsajaya (Sri Jayawarsa) sekitar tahun 1104 Masehi.

Kresnayana secara harfiah memiliki arti perjalanan Kresna.

Kakawin Kresnayana adalah karya sastra berbahasa Jawa Kuno yang menceritakan kisah pernikahan prabu kresna dengan Rukmini.

Pada awalnya, Dewi Rukmini telah dijodohkan dengan Suniti, Raja Negeri Cedi.

Namun ternyata, ibunda Dewi Rukmini menginginkan supaya Dewi Rukmini menikah dengan Kresna.

Maka, dalam ibu Dewi Rukmini meminta Kresna untuk datang dan membawa lari Dewi Rukmini sebelum upacara pernikahannya berlangsung.

Mengetahui Dewi Rumini dibawa lari oleh Kresna, maka Suniti, dibantu oleh Raja Jarasanda dan Rukma (Adik Rukmini) beserta bala tentaranya mengejar.

Namun, Kresna berhasil mengalahkan mereka dan membunuh Suniti.

Atas permintaaan Dewi Rukmini, Rukma yang hampir dibunuh oleh Kresna diampuni.

Kresna dan Dew Rukmini pun akhirnya tiba di Dwarawati untuk melangsungkan pernikahan.

Kitab Kakawin Hariwangsa

Kakawin Hariwangsa adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang ditulis oleh Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Raja Sri Jayabaya yang berkuasa di Kediri antara tahun 1135 sampai 1157 Masehi.

Isi Kakawin Hariwangsa mirip dengan Kakawin Kresnayana, yaitu tentang pernikahan Kresna dengan Dewi Rukmini setelah melarikannya.

Menurut penilaian para pakar sastra Jawa Kuno, Kakawin Hariwangsa lebih berhasil menggarap tema yang sama ini, dibandingkan Kakawin Kresnayana.

Kakawin Hariwangsa ditulis belakangan dibandingkan Kakawin Kresnâyana.

Ada kemungkinan Mpu Panuluh menulis ulang kisah ini dengan alasan tertentu, kemungkinan atas perintah raja atau atas inisiatifnya sendiri.

Kakawin Hariwangsa memiliki kejanggalan sekaligus keunikan dibandingkan kitab-kitab berbasis Mahabharata lainnya.

Dalam Kakawin Hariwangsa diceritakan suatu kisah bahwa pandawa ikut memerangi Kresna, yang dalam kisah-kisah lain adalah penasehat dan sekutu Pandawa yang paling utama.

Namun, meskipun diceritakan terjadi konflik di antara mereka, semuanya berakhir baik untuk segala pihak.

Keunikan ini menunjukan Kakawin ini memiliki sifat Indonesiawi yang tidak mungkin ditemukan di India.

Pakar sastra Jawa Kuno menduga, Kakawin ini ditulis sebagai naskah lakon untuk pertunjukan wayang.

Kitab Kakawin Gatotkacasraya

Kakawin Gatotkacasraya adalah satu lagi karya Mpu Panuluh yang merupakan kitab peninggalan kerajaan Kediri.

Kakawin Gathotkacasraya ditulis pada abad ke-12 M pada masa pemerintahan Sri Jayabaya.

Kakawin ini menceritakan tentang perkawinan Abimanyu, putra dari Arjuna dengan Siti Sundhari dengan bantuan Gatutkaca, putra Bima.

Kitab Kakawin Bhomantaka

Kakawin Bhomantaka adalah salah satu karya sastra yang terpanjang dalam Sastra Jawa Kuno.

Kakawin Bhomantaka disusun sepanjang 1.492 bait.

Kakawin Bhomantaka bercerita tentang perang antara Prabu Kresna dan sang raksasa Bhoma.

Tidak diketahui kapan dan siapa penulis Kakawin Bhomantaka.

Namun P.J. Zoetmulder (1974) berpendapat bahwa kakawin Bhomantaka digubah sejaman dengan Kakawin Arjunawiwāha.

Bila dugaannya benar, maka Kakawin Bhomantaka bisa dikatakan sebagai salah satu kitab peninggalan kerajaan Kediri/Panjalu.

Pada saat diterbitkan pertama kali oleh Friedrich, seorang pakar sastra Jawa Kuno dari Prusia pada tahun 1852, kakawin ini disebut dengan nama kakawin Bhomakāwya.

Sebutan kakawin Bhomakāwya memang disebut pada bait ketiga pupuh pertama kakawin ini.

Namun, pada kolofon-kolofon manuskrip nama yang disebutkan adalah Bhomantaka.

Di samping itu, dalam tradisi di Jawa dan Bali nama Bhomantaka lebih sering digunakan daripada nama Bhomakawya.

Oleh karena itu, para pakar seperti Teeuw (1946, 2005), Zoetmulder (1974), dan Robson (2005) lebih memilih menggunakan nama kakawin Bhomântaka juga.

Kitab Kakawin Sumanasantaka

Kitab Kakawin Samanasantaka digubah oleh Empu Monaguna.

Kakawin ini menceritakan tentang Bidadari Harini yang terkenal untuk Begawan Trenawindu.

Kitab Lain Yang dikaitkan Dengan Kerajaan Kediri

Jika Anda mencari informasi tentang kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri, banyak web yang mencantumkan kitab-kitab karya Mpu Tanakung sebagai juga termasuk ke dalamnya.

Padahal, Mpu Tanakung adalah seorang pujangga yang hidup pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, raja Majapahit ke-4 yang berkuasa pada tahun 1350-1389 Masehi.

Karya-karya Mpu Tanakung yang sering dimasukan sebagai kitab-kitab peninggalan kerajaan Kediri adalah Kakawin Banawa Sekar, Kakawin Lubdhaka (Siwaratri Kalpa) dan Kakawin Wrttasancaya.

Bahkan, ada website yang memasukan kitab-kitab negeri Tiongkok ke dalam daftar kitab peninggalan kerajaan Kediri.

Contohnya, Kitab Ling Way Taita dan kitab Chu Fan Chi.

Padahal, kitab Ling Wai Tai Ta adalah kitab peninggalan kekaisaranTiongkok pada masa Dinasti Song.

Kitab Ling Wai Taita berisi gambaran negara-negara di selatan China, termasuk kerajaan-kerajaan yang saat itu berada di Indonesia, salah satunya Kediri/Panjalu.

Kitab ini menceritakan tentang budaya, kegiatan keagamaan, ekonomi dan pakaian yang dipakai oleh penduduk kerajaan Kediri saat itu.

Kitab Ling Wai Taita ditulis oleh Zhou Qufei, seorang birokrat di kota Guilin, provinsi Guanxi, pada abad ke 12 Masehi.

Sementara itu, Kitab Chu Fan Chi juga merupakan kitab peninggalan Dinasi Song.

Kitab ini ditulis pada abad ke-13 oleh Zhao Rugua.

Kitab Chu Fan Chi adalah sebuah kitab yang menjelaskan tentang negara-negara dan berbagai produk dari luar Tiongkok.

Salah satu yang dibahas adalah kerajaan Panjalu atau kerajaan Kediri.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan kediri :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang daftar kitab-kitab peninggalan kerajaan Kediri. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring