Kerajaan Tarumanegara : Sejarah, Peninggalan & Prasasti (Lengkap)

Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan bercorak Hindu di Indonesia. Kerajaan Tarumanegara terletak di Jawa Barat.

Kerajaan Tarumanegara berdiri pada tahun 358 Masehi. Hal ini menjadikan kerajaan ini adalah salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia.

Baca selengkapnya : Daftar Kerajaan Hindu Di Indonesia

Secara etimologi, nama Tarumanegara berasal dari dua kata yaitu Taruma dan Nagara.

Kata Taruma berasal dari kata Tarum yaitu nama sungai di Jawa Barat, Sungai Citarum.

Sedangkan, kata Nagara berarti kerajaan atau negara.

Nama raja yang disebut dalam prasasti adalah Raja Purnawarman.

Pada tahun 417 Masehi, Raja Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km).

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ditemukan di Bogor (lima buah), di Jakarta (1 buah) dan di Lebak Banten (1 buah).

Daftar Isi

Ringkasan

Sebelum membahas secara mendalam tentang sejarah kerajaan Tarumanegara, di bawah ini adalah pertanyaan dan jawaban pendek untuk membantu lebih memahami artikel.

Siapa pendiri kerajaan Tarumanegara?

Sampai saat ini, belum ada sumber catatan sejarah yang dengan jelas memberikan petunjuk tentang siapa sebenarnya pendiri kerajaan Tarumanegara.
Dari tujuh prasasti yang sudah ditemukan, nama Raja yang pernah berkuasa di Kerajaan bercorak Hindu ini adalah Purnawarman.
Kalau pun ada petunjuk dari naskah Wangsakerta, naskah-naskah ini diragukan validitasnya sebagai sumber sejarah.
Menurut naskah wangsakerta yang diragukan tersebut, pendiri kerajaan Tarumanegara adalah Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 Masehi.

Kerajaan Tarumanegara terletak di mana?

Berdasarkan sebaran peninggalan yang ditemukan, kerajaan Tarumanegara terletak di wilayah Jawa bagian barat, yaitu Jawa Barat, jakarta, dan Banten.
Lokasi pusat kerajaan diduga di sekitar sungai Citarum.

Kerajaan Tarumanegara berdiri pada tahun berapa?

Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara tidak disertai angka tahun.
Hal ini menyulitkan untuk mengetahui kapan sebenarnya kerajaan ini didirikan.
Berdasarkan bentuk huruf Pallawa yang digunakan dalam prasasti, para peneliti menduga Kerajaan Tarumanegara berdiri pada tahun 450 Masehi.
Namun, naskah wangsakerta memberikan informasi lebih detail.
Naskah yang belum diverifikasi sebagai sumber sejarah ini menyebutkan Kerajaan tarumanegara berdiri pada tahun 358 Masehi.

Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh siapa?

Apabila melihat informasi dari peninggalan-peninggalan yang ada, tidak diketahui dengan jelas siapa sebenarnya pendiri kerajaan Tarumanegara.
Dari prasasti yang sudah ditemukan, hanya ditemukan nama satu orang raja, yaitu Raja Purnawarman.
Informasi yang lebih detail diberikan oleh Naskah Wangsakerta.
Menurut naskah ini, Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman.
Namun, mesti diingat bahwa validitas naskah Wangsakerta diragukan oleh banyak ahli.

Kerajaan Tarumanegara bercorak agama apa?

Berdasarkan peninggalan-peninggalan yang sudah ditemukan, baik prasasti atau pun peninggalan candi, para ahli menyatakan bahwa Kerajaan Tarumanegara bercorak agama Hindu aliran Wisnu.
Meskipun begitu, agama Budha juga berkembang di kerajaan ini. Dibuktikan dengan adanya penemuan situs percandian Batujaya yang bercorak Budha.

Apa saja prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara?

Sampai saat ini, prasasti kerajaan Tarumanegara yang sudah ditemukan berjumlah tujuh buah.
Prasasti-prasasti kerajaan Tarumanegara adalah Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi, Prasasti Tugu, dan Prasasti Cidanghyang.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang terletak di Bogor?

Prasasti kerajaan Tarumanegara yang terletak di Bogor adalah Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang menggunakan bahasa Sansekerta?

Prasasti kerajaan Tarumanegara dalam bahasa Sansekerta adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, Prasasti Cidanghiyang, Prasasti Tugu, Prasasti Kebonkopi.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang belum bisa dibaca hingga kini?

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang hingga kini belum dapat diartikan adalah Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten.

Apa saja prasasti Kerajaan Tarumanegara yang terdapat telapak kaki raja Purnawarman?

Prasasti peninggalan kerajaan tarumanegara yang terdapat telapak kaki raja purnawarman adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi.

Apa saja candi peninggalan kerajaan Tarumanegara?

Candi-candi yang diduga peninggalan kerajaan Tarumanegara ditemukan di situs Batujaya dan situs Cibuaya.
Candi peninggalan kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di situs Batujaya : Candi Jiwa, Candi Blandongan, Candi serut dll.
Candi peninggalan kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di situs Cibuaya : Candi Lemah Duhur Lanang dan Candi Lemah Duhur Wadon.

Apa saja arca peninggalan kerajaan Tarumanegara?

Arca peninggalan kerajaan Tarumanegara di antaranya ditemukan di situs Cibuaya.
Arca-arca Wisnu yang ditemukan di Desa Cibuaya dinamai Arca Wisnu 1, Arca Wisnu 2, dan Arca Wisnu 3.

Dalam artikel ini kita akan membahas Sejarah Kerajaan Tarumanegara dan Peninggalan Kerajaan Tarumanegara, termasuk prasasti dan candi-candi yang dikaitkan dengan kerajaan yang bercorak Hindu ini.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Selain prasasti, sumber sejarah kerajaan Tarumanegara adalah sumber-sumber luar negeri terutama berita dari Tiongkok, artefak-artefak kepurbakalaan, dan naskah Wangsakerta -yang diragukan keasliannya.

Di bawah ini kita akan membahas satu per satu sumber sejarah kerajaan Tarumanegara, mulai dari prasasti, sumber berita Tiongkok, dan naskah wangsakerta.

Prasasti Kerajaan Tarumanegara

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara adalah salah satu sumber sejarah yang digunakan untuk meneliti keberadaan kerajaan bercorak Hindu ini.

Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang sudah ditemukan hingga kini berjumlah tujuh buah.

Ketujuh prasasti Kerajaan Tarumanegara adalah bukti keberadaan kerajaan bercorak Hindu di Jawa bagian barat ini.

Sebagian besar prasasti kerajaan Tarumanegara menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa.

Prasasti kerajaan Tarumanegara dalam bahasa Sansekerta adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, Prasasti Cidanghiyang, Prasasti Tugu, Prasasti Kebonkopi.

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang hingga kini belum dapat diartikan adalah Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten.

Prasasti kerajaan Tarumanegara tersebut belum bisa dibaca isinya karena merupakan pahatan gambar sulur-suluran (pilin) atau ikal yang keluar dari umbi.

Oleh para ahli, goresan-goresan dalam kedua prasasti Tarumanegara itu disebut huruf ikal.

Prasasti peninggalan kerajaan tarumanegara yang terdapat telapak kaki raja purnawarman adalah Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi.

Oke langsung saja, kita bahas satu per satu Prasasti Kerajaan Tarumanegara termasuk isi dan gambarnya.

Baca Juga :  Kerajaan Kediri : Sejarah, Raja-raja, & Peninggalan (Lengkap)

Prasasti Kebon Kopi I/Prasasti Telapak Gajah

Gambar prasasti kebon kopi I, prasasti peninggalan kerajaan tarumanegara
Gambar Prasasti kebon kopi I, prasasti peninggalan kerajaan tarumanegara (sumber : Wikimedia Commons)

Prasasti Kebonkopi I sering disebut juga dengan nama Prasasti Tapak Gajah karena di dalam prasasti kerajaan Tarumanegara ini terdapat pahatan tapak kaki gajah.

Adanya ukiran telapak kaki gajah di prasasti ini, diduga menunjukkan hewan gajah adalah tunggangan sang Raja Purnawarman, yang diasosiasikan sebagai Airawata, wahana Dewa Indra.

Prasasti Kerajaan Tarumanegara ini diberi nama prasasti kebon kopi karena ditemukan di perkebunan kopi, di wilayah Kampung Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor.

Prasasti Kebon kopi terbuat dari bahan batu andesit berwarna kecokelatan dengan ukuran tinggi 69 cm, lebar 104 cm dan 164 cm.

Angka romawi I di belakang nama Prasasti Kebon Kopi I untuk membedakan dengan Prasasti kebon Kopi II yang ditemukan berdekatan.

Prasasti Kebon Kopi II bukan prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara, namun prasasti peninggalan kerajaan Sunda.

Isi Prasasti kebon Kopi I

Prasasti kebon kopi I menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Sanskerta.

Tulisan dalam prasasti berbentuk sloka dengan metrum Anustubh.

Tulisan diapit oleh pahatan sepasang telapak kaki gajah.

Isi prasasti kebon kopi I adalah sebagai berikut :

Teks :

~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ~ padadvayam

Terjemahan :

Di sini tampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan.

Prasasti Tugu

Gambar Prasasti Tugu, Prasasti Kerajaan Tarumanegara
Gambar Prasasti Tugu, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Wikimedia Commons)

Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu, tidak jauh dari tepian Kali Cakung.

Wilayah penemuan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ini, saat ini termasuk ke dalam wilayah kelurahan Tugu Selatan, kecamatan Koja, Jakarta Utara.

Prasasti Tugu ditemukan pada tahun 1879.

Saat ini, Prasasti Tugu disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.124.

Prasasti Tugu adalah prasasti Kerajaan Tarumanegara yang memiliki isi paling panjang dibandingkan dengan prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara lainnya.

Dari analisa terhadap isi prasasti Tugu, para peneliti mendapatkan beberapa hal penting, misalnya :

a. Di dalam Prasasti Tugu disebutkan nama dua sungai yang mengalir di wilayah Punjab, yaitu sungai Chandrabaga dan Gomati.

Menurut Poerbatjaraka, secara etimologi sungai Chandrabaga berarti kali Bekasi.

b. Di dalam Prasasti Tugu sudah terdapat penanggalan kapan prasasti dikeluarkan. Namun, belum begitu lengkap.

Prasasti ini menyebutkan nama bulan phalguna dan caitra yang sama dengan bulan Februari dan April.

c. Prasasti Tugu menceritakan adanya upacara selamatan yang dipimpin oleh Brahmana dengan menggunakan seribu ekor sapi hadiah dari raja.

Isi Prasasti Tugu

Prasasti Tugu ditulis menggunakan aksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

Prasasti ditulis berbentuk sloka menggunakan metrum Anustubh.

Prasasti terdiri dari lima buah baris melingkar mengikuti bentuk permukaan batu.

Kronologinya didasarkan pada analisis gaya dan bentuk aksara (analisis palaeografis).

Sebagaimana prasasti kerajaan Tarumanegara lainnya, prasasti Tugu juga tidak menuliskan secara jelas penanggalan kapan prasasti ini dikeluarkan.

Prasasti ini hanya mencantumkan nama bulan, yaitu phalguna dan caitra yang sama dengan bulan Februari dan April.

Para ahli kemudian menganalisa prasasti menggunakan bentuk huruf yang digunakan.

Dari analisa tersebut, diduga prasasti tugu berasal dari pertengahan abad ke-5 Masehi.

Berikut adalah isi prasasti tugu.

Teks :

pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau//

pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana//

prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih//

ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka//

pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

Terjemahan :

Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memiliki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur.

Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnnawarmman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) dia pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan phalguna dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan

Prasasti Cidanghiyang

Gambar Prasasti Cidanghyang, Prasasti Kerajaan Tarumanegara
Gambar Prasasti Cidanghyang, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : kemdikbud)

Prasasti Cidanghiyang adalah prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang dinamai pula dengan nama Prasasti Munjul atau Prasasti Lebak.

Prasasti Kerajaan Tarumanegara ini dinamai sesuai tempat penemuannya, yaitu di tepi sungai Cidanghiang, kampung Lebak, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang Banten.

Penemuan Prasasti Cidanghiyang dilaporkan oleh Toebagus Roesjan kepada Dinas Purbakala pada tahun 1947.

Namun, penelitian terhadap prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara ini baru dimulai pada tahun 1954.

Prasasti Cidanghiyang terbuat dari batu andesit berukuran 3,2 x 2,25 meter.

Karena bentuk aksaranya mirip dengan aksara pada Prasasti Tugu, diduga prasasti ini dikeluarkan pada periode yang sama (de Casparis dan Boechari, 1954).

Isi Prasasti Cidanghyang

Prasasti Cidanghyang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Prasasti terdiri dari 2 baris kalimat yang berbentuk sloka dengan metrum anustubh.

Pada intinya, isi prasasti mengagungkan keberanian raja Purnawarman.

Di bawah ini isi prasasti Cidanghyang.

Teks :

Vikranto ‘yam vanipateh/ prabhuh satyapara (k) ra (mah)narendraddhvajabhutena/ srimatah purnnavarmmannah.

Terjemahan :

Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja.

Prasasti Ciaruteun

Gambar Prasasti Ciaruteun, Prasasti kerajaan Tarumanegara
Gambar Prasasti Ciaruteun, Prasasti kerajaan Tarumanegara (sumber: kemdikbud)

Prasasti Ciaruteun disebut juga dengan nama prasasti Ciampea.

Prasasti kerajaan Tarumanegara ini ditemukan di tepi sungai Ciarunteun, dekat muara sungai Cisadane Bogor.

Prasasti Ciaruteun dipahatkan di permukaan batu kali atau batu alam yang memiliki bobot 8 ton dengan dimensi ukuran 200 cm x 150 cm.

Prasasti Ciaruteun ditulis dengan huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sansekerta.

Di bagian atas tulisan dihiasi dengan pahatan sepasang telapak kaki Raja Purnawarman, gambar umbi dan sulur-suluran (pilin) dan laba-laba.

Menurut para ahli, pahatan telapak kaki raja Purnawarman di prasasti Ciarunteun memiliki 2 arti, yaitu :

  1. Pahatan telapak kaki Purnawarman menegaskan bahwa wilayah itu berada di bawah kekuasaanya.
  2. Pahatan telapak kaki Purnawarman melambangkan kekuasaannya yang bagaikan dewa. Dalam hal ini, Raja Purnawarman diibaratkan bagai dewa Wisnu yang merupakan dewa pelindung rakyat.
Isi Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun terdiri dari 4 baris yang tersusun dalam bentuk Sloka menggunakan metrum Anustubh.

Di bawah ini adalah isi prasasti Ciaruteun.

Teks :

vikkrantasyavanipat eh//

srimatah purnnavarmmanah//

tarumanagarendrasya//

visnoriva padadvayam

Terjemahan :

Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarmman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia

Prasasti Jambu/Prasasti Pasir Koleangkek

Gambar Prasasti Jambu, Prasasti Kerajaan Tarumanegara
Gambar Prasasti Jambu, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Prasasti Jambu disebut juga dengan nama prasasti Pasir Koleangkek.

Prasasti kerajaan Tarumanegara ini ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor.

Prasasti Jambu terbuat dari batu dengan ukuran kurang lebih 2-3 meter.

Isi Prasasti Jambu

Prasasti Jambu ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Prasasti Jambu terdiri dari dua baris kalimat yang tersusun dalam bentuk sloka dengan metrum Sragdhara.

Pada prasasti Jambu ini juga terdapat pahatan telapak kaki yang digoreskan pada bagian atas tulisan.

Prasasti Jambu menyebutkan dengan jelas nama raja yang memerintah saat itu, yaitu raja Purnnawarmman.

seperti, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara lainnya, prasasti Jambu tidak disertai tanpa angka tahun.

Baca Juga :  5 Gambar Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Berdasarkan bentuk aksara Pallawa yang digunakan, prasasti Jambu diperkirakan dikeluarkan pada pertengahan abad ke-5 Masehi.

Di bawah ini adalah isi prasasti Jambu.

Teks :

siman=data krtajnyo narapatir=asamo yah pura tarumayam/ nama sri purnnavarmma pracura ri pusara bhedya bikhyatavarmmo/
tasyedam= pada vimbadvayam= arinagarot sadane nityadaksam/ bhaktanam yandripanam= bhavati sukhakaram salyabhutam ripunam//

Terjemahan :

Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya yang termasyhur Sri Purnawarman yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan yang baju zirahnya yang terkenal tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa menggempur kota-kota musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.

Prasasti Muara Cianten

Gambar Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kerajaan Tarumanegara
Gambar Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara berikutnya adalah Prasasti Muara Cianten atau disebut juga Prasasti Pasir Muara.

Prasasti Muara Cianten ditemukan di tepi sungai Cisadane dekat Muara Cianten wilayah kampung Pasir muara, Bogor.

Prasasti Muara Cianten ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864.

Prasasti Muara Cianten terbuat dari batu berukuran 2.70 x 1.40 x 140 m3.

Peninggalan kerajaan Tarumanegara ini dikelompokkan sebagai prasasti karena pada batu tersebut memang terdapat pahatan.

Namun, sebenarnya hanya berupa pahatan gambar sulur-suluran (pilin) atau ikal yang keluar dari umbi.

Para ahli menyebutnya dengan aksara ikal yang belum dapat dibaca.

Di samping gambar sulur atau ikal, juga terdapat lukisan telapak kaki.

Prasasti Pasir Awi

Gambar Prasasti Pasir Awi, Prasasti Kerajaan Tarumanegara
Gambar Prasasti Pasir Awi, Prasasti Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara terakhir yang akan kita bahas adalah adalah Prasasti Pasir Awi.

Prasasti ini juga disebut dengan nama Prasasti Cemperai.

Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Sukamakmur Jonggol, Bogor.

Penemu prasasti Pasir Awi adalah N.W. Hoepermans pada tahun 1864.

Isi Prasasti Pasir Awi

Seperti prasasti Muara Cianten, isi prasasti Pasir Awi juga belum bisa dibaca.

Prasasti hanya berisi pahatan telapak kaki raja yang menghadap ke arah utara dan timur.

Selain pahatan telapak kaki, juga dihiasi gambar ranting pohon dan buah.

Baca lengkap : Daftar kerajan-kerajaan di Indonesia (Hindu, Budha, Islam)

Sumber berita luar negeri

Selain informasi dari prasasti yang dikeluarkannya sendiri, bukti keberadaan kerajaan Tarumanegara juga bisa ditemukan di sumber-sumber luar negeri.

Sumber-sumber informasi yang berasal dari luar negeri semuanya berasal dari kronik berita Tiongkok.

Di bawah ini adalah diantaranya :

a. Berita dari seorang pendeta bernama Fa Hien, yang berangka tahun 414 masehi dalam bukunya dengan judul Fa Kao Chi menginformasikan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai pemeluk agama Buddha, yang banyak adalah pemeluk agama Hindu dan “beragama kotor”.

Para ahli berbeda pendapat soal apa yang disebut “agama kotor” oleh Fa Hien.

Ada yang berpendapat yang disebut “agama kotor” adalah agama Siwa Pasupata.

Pendapat lain menyatakan bahwa agama kotor adalah agama orang Parsi yang menempatkan jenazah begitu saja didalam hutan, tidak dikuburkan.

Ada yang menyebut “agam kotor” adalah animisme.

Namun, saat ini ada beberapa ahli meragukan identifikasi Ye Po Ti sebagai Jawa dwipa.

Menurut mereka, Ye Po Ti adalah Way Seputih di Lampung.

Di daerah aliran way seputih (sungai seputih) banyak ditemukan bukti-bukti peninggalan kerajaan kuno, seperti punden berundak dan lain-lain.

Baca juga : Apa itu punden berundak?

Saat ini, situs penemuan peninggalan-peninggalan itu dinamai taman purbakala Pugung Raharjo.

b. Berita dari zaman Dinasti Sui, menginformasikan bahwa pada tahun 528 dan 535 masehi telah datang ke Tiongkok seorang utusan dari To-lo-mo yang berada di sebelah selatan negeri Sui (Tiongkok).

Berdasarkan kesamaan fonetik, To-Lo-Mo diidentifikasi sebagai Taruma.

c. Berita dari zaman Dinasti Tang, juga menginformasikan bahwa tahun 666 dan 669 Masehi telah datang utusan dari negeri To-lo-Mo.

Peninggalan Purbakala

Peninggalan purbakala kerajaan Tarumanegara yang sudah ditemukan, misalnya candi dan arca.

Di samping itu, di situs-situs yang diduga adalah situs peradaban kerajaan ini, juga ditemukan gerabah dan peninggalan lainnya.

Di bawah ini kita akan bahas satu per satu.

Candi Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Candi peninggalan kerajaan Tarumanegara bisa disaksikan di situs percandian batujaya dan situs Cibuaya.

Situs Percandian Batujaya

Situs Batujaya terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Situs Batujaya terdiri dari sekumpulan candi yang tersebar di beberapa titik.

Situs Batujaya memiliki luas sekitar 5 km2.

Doduga, lokasi candi ini pada zaman dahulu adalah danau dan candi-candi itu didirikan di tepi danau.

Pada awal ditemukan, situs Batujaya hanya berupa gundukan-gundukan tanah di tengah-tengah areal persawahan.

Para penduduk sekitar menamai gundukan-gundukan itu sebagai onur atau unur.

Terhitung sejak awal penelitian sampai saat ini sudah ditemukan 31 tapak sisa-sisa bangunan.

Para peneliti kemudian memberi nama tapak-tapak situs itu berdasarkan nama desa tempat tapak itu berada diikuti nomer, misalnya Segaran 1, Segaran 2, Telagajaya 1, dan seterusnya.

Dengan menggunakan analisis radiometri karbon 14 pada artefak-artefak peninggalan di candi Blandongan (Segaran V), diketahui bahwa artefak-artefak itu berasal antara abad ke-2 Masehi sampai abad ke-12.

Candi Jiwa (Segaran I)
Gambar Candi Jiwa di situs Batujaya, diduga peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Gambar Candi Jiwa di situs Batujaya, diduga peninggalan Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Candi Jiwa diduga adalah salah satu candi peninggalan kerajaan Tarumanegara di situs Batujaya.

Candi Jiwa terbuat dari lempengan-lempengan batu bata.

Struktur bagian atas Candi Jiwa seperti bunga teratai (padma).

Bagian tengah strukturnya berbentuk area lingkaran yang diduga adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha.

Candi Jiwa tidak mempunyai tangga.

Para ahli menduga bentuk utuh Candi Jiwa adalah stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang mekar dan terapung di atas danau.

Candi Blandongan (Segaran V)
Gambar Candi Blandongan di situs Batujaya, diduga peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Gambar Candi Blandongan di situs Batujaya, diduga peninggalan Kerajaan Tarumanegara (sumber : Kemdikbud)

Struktur Candi Blandongan berbentuk bujur sangkar berukuran 25 x 25 meter.

Pada bagian kaki di keempat sisi Candi Blandongan dilengkapi tangga masuk dan pagar langkan.

Di atas dasar candi, terdapat struktur yang membentuk badan candi. Bagian badan candi ini berukuran 10 x 10 m.

Antara badan candi dan pagar langkan adalah lantai bata yang dilapisi dengan beton stuko setebal 15 cm.

sayangnya, bagian atap badan candi Blandongan sudah runtuh dan tidak diketahui bentuknya.

Para peneliti menduga bagian atap candi berbentuk stupa disusun menggunakan bata yang dilapisi dengan beton stuko.

Candi Serut (Telagajaya Ia)
Gambar candi serut di situs batujaya, diduga peninggalan kerajaan tarumanegara
Gambar candi serut di situs batujaya, diduga peninggalan kerajaan tarumanegara (sumber : kemdikbud)

Candi serut umum disebut Unur serut oleh warga sekitar.

Candi serut memiliki ukuran 22 x 10 meter.

Struktur bangunan candi sudah dalam kondisi rusak parah sehingga sulit dikenali bentuk aslinya.

Diduga di Unur ini terdapat lebih dari satu bangunan candi dengan ukuran bervariasi.

Salah satu bangunan dengan ukuran 8 meter dan ada yang berukuran 6 meter.

Unur Sumur

Unur sumur hanya berupa bangunan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 11 x 7,5 meter.

Unur Sumur berbentuk sebuah sumur, namun kedalamannya belum diketahui.

Tebal dinding sumur bagian timur sekitar 4 meter, sedangkan tebal bagian lainnya sekitar 1,7 meter.

Unur Danar (Segaran III) dan Segaran IV

Segaran III berupa bangunan dengan ukuran sekitar 20 x 15 meter.

Unur Danar diduga adalah sebuah kaki candi. Pada sisi barat ditemukan struktur tangga, namun dalam keadaan rusak.

Segaran IV ada struktur bangunan yang memiliki ukuran 6.5 x 6.5 meter. Pada sisi tenggara dilengkapi tangga yang juga sudah rusak.

Unur Asem (Telagajaya V)

Di Unur Asem ditemukan struktur bangunan berbentuk persegi.

Struktur bangunan ini berukuran 10×10 meter.

Di sisi timur laut dan tenggara bangunan dilengkapi tangga.

Pada bagian atas terdapat bangunan berbentuk lingkaran yang sudah dalam kondisi rusak.

Baca Juga :  21 Prasasti Kerajaan Kediri (isi + Gambar) : Lengkap
Telagajaya VIII

Unur Telagajaya VIII ditemukan struktur bangunan dengan ukuran 6 x 4 meter.

Bangunan dilengkapi tangga di sisi timur laut.

Di bagian tengah bangunan ditemukan sumuran dengan ukuran 1,8 x 1,7 meter.

Situs Cibuaya

Situs Percandian Cibuaya adalah kompleks situs yang terdiri dari beberapa bangunan dan tinggalan purbakala.

Situs Cibuaya terletak di Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Penemuan arca Wisnu di Desa Cibuaya pada tahun 1951 (Wisnu 1) dan 1957 (Wisnu 2), serta tahun 1977 (Wisnu 3) adalah awal penelitian di Situs Cibuaya.

dengan adanya penemuan ketiga arca Wisnu tersebut, para peneliti meyakini bahwa di sekitar lokasi itu terdapat bangunan suci dan mungkin juga sisa pemukiman.

Selain Arca Wisnu, juga ditemukan lingga.

Dengan ditemukannya arca Wisnu dan lingga dapat disimpulkan bahwa situs Cibuaya adalah bangunan suci untuk pemeluk agama Hindu.

Di situs Cibuaya ditemukan dua candi yang dinamakan Lemah Duhur Lanang dan Lemah Duhur Wadon.

Selain keduanya, terdapat bangunan-bangunan lain yang berukuran lebih kecil.

Bangunan-bangunan tersebut adalah CBY 2 yang berukuran 3,5 × 3,5 meter; CBY 5 yang berukuran 3,4 × 4,5 meter dan 4,4 × 4,8 meter.

Bangunan-bangunan lainnya sudah dalam kondisi rusak parah sehingga tidak diketahui bentuk dan ukurannya.

Candi Lemah Duhur Lanang

Candi Lemah Duhur Lanang sudah dalam kondisi rusak parah.

Saat ini, struktur candi yang tersisa hanya struktur kaki candi berbentuk persegi empat dengan ukuran 9 X 9,6 meter.

Di sisi barat laut, terdapat tangga namun sudah dalam keadaan rusak.

Di bagian puncak candi terdapat lingga dengan ukuran tinggi 1,11 meter dan diameter 40 centimeter, tertancap di atas tanah.

Bentuk lingga di candi Lemah Duhur Lanang disebut lingga semu karena hanya menampakkan bentuk bujur sangkar di bagian bawah dan bulat di bagian atas.

Bentuk lingga yang sempurna berupa bujur sangkar bagian bawah, segi delapan di bagian tengah, dan bulat di bagian atas.

Candi Lemah Duhur Wadon

Candi Lemah Duhur Wadon berbentuk bujur sangkar berukuran 3,5 x 3,5 meter.

Saat ditemukan, Candi lemah Duhur Wadon dalam kondisi runtuh. Yang tersisa hanya bagian kaki candi saja.

Arca Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

Selain prasasti dan candi, peninggalan kerajaan Tarumanegara juga berupa arca-arca.

Arca peninggalan kerajaan Tarumanegara di antaranya ditemukan di situs Cibuaya.

Arca-arca Wisnu yang ditemukan di Desa Cibuaya dinamai Arca Wisnu 1, Arca Wisnu 2, dan Arca Wisnu 3.

Gambar Arca Wisnu yang ditemukan di Situs Cibuaya, diduga arca peninggalan kerajaan Tarumanegara
Dua arca Wishnu yang ditemukan di situs Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Diperkirakan adalah arca peninggalan kerajaan tarumanagara, sekitar kurun abad ke-7 sampai ke-8 Masehi. Koleksi Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Inv. 7974 dan 8416. (sumber : Wikimedia Commons)

Naskah Wangsakerta

Penjelasan yang cukup lengkap tentang Kerajaan Tarumanagara justru ditemukan di Naskah Wangsakerta.

Di dalam Naskah Wangsakerta yang berasal dari Cirebon itu, didapatkan informasi bahwa Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 Masehi.

Jayasingawarman kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Dharmayawarman (382-395).

Pusara Raja Jayasingawarman terletak di tepi kali Gomati, sedangkan pusara putranya di tepi kali Candrabaga.

Raja ketiga Kerajaan Tarumanegara adalah Maharaja Purnawarman.

Raja Purnawarman berkuasa pada tahun 395-434 Masehi.

Raja Purnawarman membangun ibu kota kerajaan baru pada tahun 397 masehi yang terletak lebih dekat ke pantai.

Ibu kota baru itu diberi nama Sundapura. Pada tahun inilah Kata “Sunda” pertama kali digunakan.

Selanjutnya, naskah Wangsakerta menceritakan bahwa kerajaan ini memiliki setidaknya 12 orang raja, sebelum kemudian berubah nama menjadi kerajaan Sunda.

Di bawah ini adalah nama-nama raja Kerajaan Tarumanegara menururt Naskah Wangsakerta :

  1. Jayasingawarman (358-382 Masehi)
  2. Dharmayawarman (382-395 Masehi)
  3. Purnawarman (395-434 Masehi)
  4. Wisnuwarman (434-455 Masehi)
  5. Indrawarman (455-515 Masehi)
  6. Candrawarman (515-535 Masehi)
  7. Suryawarman (535-561 Masehi)
  8. Kertawarman (561-628 Masehi)
  9. Sudhawarman (628-639 Masehi)
  10. Hariwangsawarman (639-640 Masehi)
  11. Nagajayawarman (640-666 Masehi)
  12. Linggawarman (666-669 Masehi)

Terlihat informasi naskah Wangsakerta sangat runtut dan jelas.

Namun, naskah Wangsakerta diragukan kebenarannya sebagai sumber sejarah.

Ada dugaan bahwa naskah wangsakerta palsu (sumber 1), (sumber 2).

Penemuan naskah Wangsakerta pada awal tahun 1970-an, sempat membuat gembira dan kagum karena sangat lengkap dan rinci.

Namun, banyak ahli sejarah justru menjadi curiga karena naskah wangsakerta “terlalu lengkap dan terlalu rinci”.

Di bawah ini adalah beberapa alasan kecurigaan para ahli sejarah :

  • Isi naskah terlalu historis, bahkan tidak umum layaknya naskah-naskah lain yang sezaman (misalnya, babad, kidung, tambo, hikayat).
  • Isinya “terlalu cocok” dengan hasil karya sarjana Barat yang meneliti sejarah Indonesia, (misalnya hasil penelitian J. G. de Casparis, N. J. Krom, Eugene Dubois dsb.). Para ahli menduga bahwa naskah wangsakerta bukan naskah kuno, tetapi baru dibuat dengan merujuk pada karya para ahli tersebut.
  • Kondisi fisik naskah wangsakerta (kertas/daluang, tinta, bentuk aksara) menunjukkan bahwa naskah ini adalah salinan dan tulisannya kasar, tidak seperti naskah kuno pada umumnya.

Dengan demikian, informasi yang diberikan naskah wangsakerta patut diragukan kebenarannya, sampai ditemukan sumber-sumber sejarah yang valid.

Letak Kerajaan Tarumanegara

Letak kerajaan Tarumanegara diduga di sekitar aliran sungai Citarum, sesuai dengan nama kerajaan ini.

Berdasarkan sebaran peninggalan yang ditemukan, seperti prasasti dan situs-situs bangunan kuno, letak kerajaan Tarumanegara adalah di wilayah barat pulau Jawa, dengan pusat di wilayah Bogor.

Berdasarkan Pustaka Nusantara (salah satu naskah wangsakerta), parwa II sarga 3 (halaman 159 – 162) saat masa kekuasaan raja Purnawarman, Kerajaan Tarumanegara memiliki 48 raja bawahan.

Wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaan kerajaan ini membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah.

Informasi ini, cocok dengan kepercayaan tradisional bahwa Cipamali (Kali Brebes) adalah batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

Namun, sekali lagi, validitas informasi naskah wangsakerta masih diragukan.

Masa kejayaan kerajaan Tarumanegara

Prasasti-prasasti yang ditemukan hanya menyebut satu nama orang raja, yaitu Purnawarman.

Prasasti Tugu memberikan informasi bahwa raja Purnawarman memerintahkan penggalian sungai Gomati sepanjang 6122 busur.

Pembangunan ini tentu saja memberikan dampak ekonomi yang besar bagi kerajaan Tarumanegara.

Runtuhnya kerajaan Tarumanegara

Menurut naskah Wangsakerta, Kerajaan Tarumanagara hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja.

Raja terkahir adalah Linggawarman, yang berkuasa antara tahun 666-669 Masehi.

Linggawarman digantikan oleh menantunya, Tarusbawa, yang kemudian mendirikan kerajaan Sunda.

Sementara itu, wilayah Galuh memutuskan untuk berdiri sendiri, terpisah dari Sunda.

Dengan demikian berakhirlah era kerajaan Tarumanegara. Wilayah jawa bagian barat dikuasai oleh dua kerajaan, yaitu Sunda dan Galuh.

Namun, informasi tentang penyebab runtuhnya kerajaan Tarumanegara juga dikaitkan dengan ekspansi kerajaan Sriwijaya ke wilayah Jawa.

Informasi penyerbuan Sriwijaya ke Bhumi Jawa didapatkan dari prasasti Kota Kapur.

Prasasti Kota Kapur memberikan informasi adanya ekspedisi militer oleh Sri Jayanasa untuk menghukum “Bhumi Jawa” yang tidak berbakti (tidak mau tunduk) kepada Sriwijaya.

Ekspedisi militer yang disebutkan Prasasti Kota Kapur cukup dekat dengan perkiraan runtuhnya kerajaan Tarumanegara di Jawa bagian barat dan Holing (Kalingga) di Jawa bagian tengah. Ada kemungkinan runtuhnya dua kerajaan tersebut akibat serangan Sriwijaya.

Baca selengkapnya : Prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya

Karena validitas naskah wangsakerta tidak bisa dipercaya, nampaknya informasi dari prasasti Kota Kapur tentang penyerbuan Sriwijaya ke Jawa, lebih bisa diterima sebagai penyebab runtuhnya kerajaan Tarumanegara.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan Tarumanegara :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang sejarah Kerajaan Tarumanegara. Semoga bermanfaat.