Katamasa

Kerajaan Sriwijaya : Sejarah, Peninggalan & Prasasti (Lengkap)

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan bercorak Budha yang pernah menancapkan hegemoninya di nusantara bahkan sampai sebagian Asia Tenggara.

Kerajaan Sriwijaya diperkirakan sudah ada sejak abad ke 7. Hal ini karena prasasti tertua yang memberitakan keberadaannya, yaitu prasasti Kedukan Bukit diperkirakan berasal dari tahun 682 Masehi.

Meskipun belum ada kesepakan pasti tentang di mana pusat kerajaan ini, umumnya para ahli sepakat bahwa kerajaan sriwijaya terletak di pulau Sumatera, yaitu Palembang setidaknya pada awal pendiriannya.

Kerajaan Sriwijaya mempunyai angkatan laut yang kuat sehingga disebut kerajaan maritim.

Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim berkepentingan mengamankan jalur perdagangan di selat Malaka dan selat Sunda.

Perdagangan di Kerajaan Sriwijaya mengalami kemajuan yang pesat terutama karena mereka berhasil mengontrol dua jalur perdagangan terbesar pada masa itu, yaitu selat Malaka dan selat Sunda.

Selat Malaka mempunyai peranan penting pada masa Kerajaan Sriwijaya karena jalur ini menghubungkan dua wilayah peradaban kuat pada saat itu, yaitu antara China dengan India, Persia, Arab bahkan Eropa.

Namun, pada abad ke 11 Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran.

Dari data prasasti Tanjore, yang menyebabkan Kerajaan sriwijaya mengalami kemunduran adalah adanya serangan dari Kerajaan Chola dari India Selatan.

Bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya terdiri dari bangunan, prasasti dan arca yang tersebar di tanah Sumatera, Thailand selatan, bahkan hingga India.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar luas adalah bukti kuatnya pengaruh kerajaan bercorak Budha ini di Asia Tenggara.

Baca juga : Kerajaan-kerajaan Budha di Indonesia

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berupa bangunan biasanya disebut biaro/candi.

Sedangkan arca-arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya dikenal sebagai arca bergaya Sailendra.

Arca bergaya Sailendra bisa ditemukan di Sumatera, Jawa Tengah (era Medang), dan Thailand.

Arca bergaya Sailendra/langgam sriwijaya dipengaruhi oleh gaya/langgam Amarawati, India.

Sampai saat ini ada 11 prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang sudah ditemukan.

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya berbahasa Melayu kuno.

Umumnya juga, prasasti peninggalan Sriwijaya ditulis dengan huruf pallawa.

Dalam artikel ini kita akan membahas Sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, termasuk prasasti dan candi-candi yang dikaitkan dengan kerajaan Budha ini.

Daftar Isi

Hal Penting Terkait Kerajaan Sriwijaya

Sebelum membahas secara mendalam tentang sejarah kerajaan Sriwijaya, di bawah ini adalah pertanyaan dan jawaban pendek tentang sriwijaya yang perlu Anda ketahui.

Kerajaan Sriwijaya terletak di?

Sampai saat ini, para sejarawan belum menyepakati di mana pusat kerajaan ini.
Namun, umumnya para ahli sepakat bahwa pada awal pendiriannya, letak kerajaan sriwijaya adalah di pulau Sumatera, yaitu di Palembang

Kerajaan Sriwijaya bercorak?

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang bercorak Budha.
Pada masa keemasannya, kerajaan ini adalah pusat pendidikan agama Budha di Asia tenggara.

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada masa?

Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada abad ke-9 hingga abad ke-10 Masehi.
Saat itu, kerajaan ini menguasai wilayah Indonesia bagian barat sampai bagian selatan semenanjung Malaya.
Raja yang berkuasa saat itu adalah Dharanindra yang berjaya memperluas wilayah sriwijaya hingga Thailand dan Kamboja.
Namun, raja sriwijaya yang paling dikenal adalah Balaputradewa yang memberi sumbangan pada pembangunan asrama mahasiswa di Universitas Nalanda di India.

Perdagangan di kerajaan sriwijaya mengalami kemajuan yang pesat terutama karena?

Perdagangan di Kerajaan Sriwijaya mengalami kemajuan yang pesat terutama karena mereka berhasil mengontrol dua jalur perdagangan terbesar pada masa itu, yaitu selat Malaka dan selat Sunda.

Mengapa selat malaka mempunyai peranan penting pada masa kerajaan sriwijaya?

Selat Malaka mempunyai peranan penting pada masa Kerajaan Sriwijaya karena jalur ini menghubungkan dua wilayah peradaban kuat pada saat itu, yaitu antara China dengan India, Persia, Arab bahkan Eropa.

Apa yang menyebabkan kerajaan sriwijaya mengalami kemunduran?

Penyebab runtuhnya kerajaan Sriwijaya adalah serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, India Selatan. Pada tahun 1017 dan 1025, Rajendra Chola I mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya.
Menurut informasi yang tercatat di prasasti Tanjore bertarikh 1030 Masehi, Kerajaan Chola telah menaklukan banyak daerah-daerah koloni Sriwijaya.

Apa saja peninggalan kerajaan sriwijaya?

Peninggalan kerajaan sriwijaya berupa candi, prasasti, arca dan lain sebainya.
Candi peninggalan kerajaan sriwijaya : candi muara takus, candi muaro jambi, candi bahal dll.
Arca peninggalan kerajaan sriwijaya : arca budha bukit seguntang, arca avalokiteshwara, arca bodhisattwa padmapani dll

Sebutkan prasasti kerajaan sriwijaya

Prasasti sriwijaya : Prasasti kedukan bukit, prasasti kota kapur, Prasasti talang tuo, prasasti telaga batu, prasasti palas pasemah, dll

Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya umumnya berbahasa?

Prasasti-prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya umumnya berbahasa Melayu kuno.

Apa saja prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya yang berisi kutukan?

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan adalah Prasasti Bom Baru, Prasasti Telaga Batu, Prasasti Baturaja, Prasasti Kota Kapur, Prasasti Karang Brahi, Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung.

Selamat Membaca.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Budha di Indonesia yang memiliki pengaruh terbesar dalam sejarah kerajaan di nusantara.

Nama Sriwijaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu Sri yang artinya cahaya atau gemilang, dan Wijaya yang artinya kemenangan.

Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terkuat di pulau Sumatera.

Kerajaan Sriwijaya didirikan sekitar abad ke-7 M oleh Dapunta Hyang.

Sampai saat ini, tidak banyak peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dapat ditemukan.

Kalupun ada, misalnya Candi Muara Takus atau Candi Muaro Jambi, keterkaitannya dengan Sriwijaya masih samar.

Candi-candi itu bisa juga dikaitkan dengan kerajaan Melayu yang sezaman dengan Sriwijaya.

Bahkan, Kerajaan Sriwijaya seperti dilupakan oleh masyrakat Indonesia. Bahkan masyarakat Palembang tidak mengenal Sriwijaya sebelum kerajaan ini diungkapkan keberadaanya oleh sejarawan asing.

Sarjana asing berkebangsaan Perancis, George Cœdès adalah orang pertama yang mengungkapkan keberadaan Kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 1920-an, Cœdès mempublikasikan hasil penelitiannya École française d’Extrême-Orient di surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia.

Menurut Coedès kerajaan “San-fo-ts’i” dalam kronik-kronik China, dan kerajaan yang disebut dalam beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuno merujuk pada kerajaan yang sama, yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Sebelum diungkap Coedès, istilah Sriwijaya disangka sebagai nama seorang raja.

Sumber Sejarah

Sejarah Sriwijaya yang kita ketahui hari ini disusun berdasarkan dua macam sumber utama, yaitu catatan kronik China dan beberapa prasasti yang sudah ditemukan dan diterjemahkan.

Salah satu sumber penting adalah catatan perjalanan biksu I Tsing.

I Tsing menceritakan situasi di Kerajaan sriwijaya saat dia berkunjung ke kerajaan itu selama 6 bulan pada tahun 671.

Prasasti-prasasti Sriwijaya tentang perjalanan siddhayatra pada abad ke-7 juga merupakan sumber primer yang penting untuk mengungkap eksistensi Sriwijaya.

Prasasti Sriwijaya tentang Siddhayata ditemukan di wilayah Palembang dan Pulau Bangka.

Selain itu, cerita-cerita di kawasan regional Asia Tenggara, misalnya kisah tentang Maharaja Javaka dan Raja Khmer juga dianggap memberi sedikit informasi tentang Sriwijaya.

Namun, kisah-kisah itu lebih mendekati sebuah legenda dibandingkan sejarah.

Selain itu, informasi-informasi dari negeri lain juga dianggap memberitakan tengan keberadaan Kerajaan sriwijaya, misalnya :

Namun, baik Zabag, Yavadesh, Javadeh, atau pun Sabadeibei dikaitkan dengan Sriwijaya hanya sebagai sebuah kemungkinan. Belum dipastikan.

Bahkan secara pengucapan, Zabag, Yavadesh, Javadeh, atau pun Sabadeibei lebih mendekati Jawa dibandingkan Sriwijaya.

Masa Awal Kerajaan Sriwijaya

Berdasarkan catatan I Tsing, Kerajaan Sriwijaya telah ada pada tahun 671 Masehi.

Prasasti tertua yang mengungkap keberadaan Kerajaan Sriwijaya adalah Prasasti Kedukan Bukit.

Prasasti Kedukan Bukit adalah prasasti tertua yang menggunakan bahasa Melayu.

Berdasarkan isi Prasasti Kedukan Bukit, diketahui Raja Kerajaan Sriwijaya saat itu adalah Dapunta Hyang.

Pada Prasasti Kedukan Bukit diceritakan Dapunta Hyang melakukan perjalanan suci siddhayatra dan memimpin 20.000 tentara dan 312 orang di kapal dengan 1.312 prajurit berjalan kaki dari Minanga Tamwan menuju Jambi dan Palembang.

Namun menurut para ahli, Dapunta Hyang sesungguhnya adalah gelar, bukan nama asli.

Beruntung, nama raja tersebut bisa diketahui dari isi Prasasti Talang Tuo.

Pada Prasasti Talang Tuo, nama raja yang memerintah saat itu disebut dengan jelas, yaitu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Perluasan Wilayah

Dari isi Prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 Masehi, para ahli mendapatkan informasi bahwa Kerajaan Sriwijaya saat itu sudah berkuasa di bagian selatan Sumatra, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung.

Prasasti Kota Kapur juga memberikan informasi menarik bahwa Sri Jayanasa akan mengadakan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya.

Angka tahun dari prasasti itu ternyata hampir bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah.

Besar kemungkinan, yang dimaksud Bhumi Jawa dalam prasasti itu adalah Tarumanegara atau Kalingga.

Dari berita kronik China, pada abad ke-7, Kerajaan Malayu dan Kedah sudah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Masa Keemasan Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya mencapai puncak kejayaan pada masa abad ke-9 hingga abad ke-10 Masehi.

Saat itu, Sriwijaya dapat menguasai hampir seluruh kerajaan di Asia Tenggara.

Kerajaan Sriwijaya mempunyai angkatan laut yang kuat sehingga disebut kerajaan maritim.

Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim berkepentingan mengamankan jalur perdagangan di selat Malaka dan selat Sunda.

Perdagangan di Kerajaan Sriwijaya mengalami kemajuan yang pesat terutama karena mereka berhasil mengontrol dua jalur perdagangan terbesar pada masa itu, yaitu selat Malaka dan selat Sunda.

Selat Malaka mempunyai peranan penting pada masa Kerajaan Sriwijaya karena jalur ini menghubungkan dua wilayah peradaban kuat pada saat itu, yaitu antara China dengan India, Persia, Arab bahkan Eropa.

Selain besar secara ekonomi dan militer, Sriwijaya juga menjadi pusat perkembangan agama Budha di Asia Tenggara.

Salah satu guru agama Buddha yang terkenal di Sriwijaya adalah Sakyakirti.

Keterkaitan Kerajaan Sriwijaya dengan Wangsa Sailendra

Jika ditanya siapa nama raja Sriwijaya, kebanyakan orang akan menyebut nama Balaputradewa.

Balaputradewa adalah raja Sriwijaya yang paling terkenal bahkan sampai ke negri India karea dia membangun asrama bagi pelajar Sriwijaya di Nalanda.

Persoalan muncul karena Balaputradewa ini adalah anggota wangsa Sailendra.

Wangsa Sailendra adalah wangsa penguasa di kerajaan Medang (Mataram Kuno) di Jawa Tengah.

Bagaimana wangsa Sailendra di Jawa bisa menjadi raja di Sriwijaya?

Sejak kapan wangsa Sailendra berkuasa di Sriwijaya?

Apakah Dapunta Hyang Srijayanasa adalah wangsa Sailendra juga?

Sampai saat ini para ahli memang kesulitan untuk menyusun nama-nama raja Sriwijaya karena prasasti tak menyebut nama raja dengan jelas.

Yang pasti, saat ini kita mengetahui bahwa Wangsa Sailendra atau Syailendra (Śailendravamśa) adalah dinasti raja-raja yang berkuasa di Sriwijaya, pulau Sumatra; dan di Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno, Jawa Tengah sejak tahun 752.

Sampai saat ini, asal-usul wangsa Sailendra masih diperdebatkan. Meskipun peninggalan dan manifestasi wangsa ini kebanyakan terdapat di dataran Kedu, Jawa Tengah.

Ada ahli yang mengatakan bahwa Wangsa Sailendra berasal dari Jawa, Sumatra atau bahkan India dan Kamboja.

Di Indonesia nama Śailendravamsa disebut dalam beberapa prasasti, seperti :

Di luar Indonesia nama wangsa Sailendra disebut di dalam prasasti Ligor dari tahun 775 Masehi dan prasasti Nalanda dari tahun 860 Masehi.

Dari informasi Prasasti Nalanda, kita mengetahui bahwa raja Sriwijaya saat itu adalah Balaputradewa.

Balaputradewa adalah anak dari Raja Medang, yaitu Samaragrawira (memerintah 800-819).

Bagaimana bisa Balaputradewa menjadi Raja Sriwijaya?

Menurut Slamet Muljana, kakek Balaputradewa yang disebutkan dalam prasasti Nalanda berjuluk Wirawairimathana adalah identik dengan julukan dalam Prasasti Ligor B, Sarwwarimadawimathana yang berarti penumpas musuh-musuh perwira.

Julukan itu adalah milik Dharanindra. Ini berarti Dharanindra adalah kakek Balaputradewa.

Dalam prasasti Ligor B disebutkan bahwa Sarwwarimadawimathana atau Dharanindra adalah wangsa Sailendra.

Dengan demikian pada saat itu Kerajaan Sriwijaya sudah dikuasai oleh wangsa Sailendra.

Sedangkan Samaragrawira adalah anak dari Śrīviravairimathana (pembunuh perwira musuh), yang merujuk kepada Dharanindra.

Nama lain Samaragrawira adalah Rakai Warak dalam Prasasti Mantyasih.

Para sejarawan, seperti N. J. Krom, dan Coedes, cenderung mengatakan bahwa Rakai Warak adalah Samaratungga, anak dari Samaragrawira.

Namun, Slamet Muljana mengidentifikasi bahwa nama lain Samaratungga adalah Rakai Garung, raja kelima Mataram Kuno yang disebutkan dalam Prasasti Mantyasih.

Itu berarti Samaratungga/rakai Garung adalah penerus dari Rakai Warak atau Samaragrawira.

Kalau identifikasi Slamet Muljana benar, maka berarti, Balaputradewa adalah adik dari Samaratungga. Mereka berdua sama-sama putra dari Samaragrawira.

Sepeninggal Samaratungga, Raja Medang adalah Rakai Pikatan, suami dari Pramodhawardhani, anak Samaratungga.

Sedangkan Balaputradewa menjadi raja di Sriwijaya.

Menurut George Coedes, “pada paruh kedua abad kesembilan, Jawa dan Sumatra bersatu di bawah kekuasaan wangsa Sailendra yang memerintah di Jawa… dengan pusat perdagangan di Palembang.”

Kenapa Sriwijaya dan Medang bermusuhan?

Namun, hubungan Medang dan Sriwijaya dikemudian hari justru berubah menjadi permusuhan.

De Casparis berpendapat bahwa paska kematian Samaratungga terjadi perebutan kekuasaan antara rakai Pikatan dengan Balaputradewa.

Karena kalah, Balaputradewa menyingkir ke Sriwijaya dan menjadi Raja di sana.

Namun, sebenarnya teori itu belum dipastikan kebenarannya.

Menurut De Casparis Balaputradewa adalah anak Samaratungga, dengan kata lain saudara laki-laki Pramodawardhani.

Teori De Casparis dibantah oleh Slamet Muljana karena berdasarkan informasi dari prasasti malang, Samaratungga hanya memiliki seorang putri, yaitu Pramodawardhani.

Ditambah lagi, identifikasi terhadap prasasti Nalanda menunjukkan bahwa Balaputradewa adalah anak Samaragrawira, bukan anak Samaratungga.

Jadi jelas, Balaputradewa lebih tepat adalah adik Samaratungga. Samaratungga adalah anak sulung Samaragrawira, sedangkan Balaputradewa adalah anak bungsunya.

Teori terusirnya Balaputradewa ke Sumatera akibat kalah perang dibuat berdasarkan informasi dari prasasti Wantil.

Prasasti Wantil mengisahkan bahwa di kerajaan Medang terjadi perang antara Rakai Mamrati Sang Jatiningrat (alias Rakai Pikatan) melawan seorang musuh di sebuah benteng pertahanan berupa timbunan batu.

Dalam Prasasti Wantil disebutkan kata Walaputra. Kata Walaputra inilah yang disalahartikan sebagai Balaputradewa.

Identifikasi Walaputra identik dengan Balaputradewa populer dibantah oleh Pusponegoro dan Notosutanto.

Menurut mereka, Walaputra artinya “putra bungsu”, yaitu, putra bungsu Rakai Pikatan yang bernama Rakai Kayuwangi.

Prasasti Wantil justru menceritakan perang antara pasukan Rakai Pikatan di bawah pimpinan putra bungsunya (Rakai Kayuwangi) melawan musuhnya.

Siapa musuhnya?

Menurut prasasti-prasasti yang ditemukan di situs Ratu Boko (benteng batu musuh Rakai Pikatan), musuh yang dimaksud adalah Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni.

Berdasarkan terjemahan prasasti-prasasti itu, Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni mengaku sebagai keturunan pendiri Kerajaan Medang (yaitu Sanjaya).

Jadi, teori De Casparis yang sangat populer bahwa Balaputradewa tersingkir ke pulau Sumatra karena kalah perang melawan Rakai Pikatan adalah tidak benar.

Kemungkinan, Balaputradewa menjadi raja di Sumatera karena memang dia tidak berhak atas tahta Medang, mengingat dia bukanlah putra Maharaja Samaratungga, melainkan adiknya.

Seperti diketahui, Sriwijaya sudah berada di bawah kekuasaan wangsa Sailendra (Medang) sejak era raja Medang Dharanindra.

Jadi, ada dua kemungkinan :

Berdasarkan informasi dari Prasasti Mantyasih, raja Medang pengganti Rakai Pikatan adalah Rakai Kayuwangi.

Selanjutnya, Rakai Kayuwangi digantikan oleh Rakai Watuhumalang.

Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan (sekitar 856 – 880–an), terbit beberapa prasasti atas nama raja-raja lain, yaitu Maharaja Rakai Gurunwangi dan Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra.

Seperti diceritakan bahwa di masa Rakai Pikatan terjadi pemberontakan di kerajaan Medang.

Keberadaan prasasti di atas jelas mengindikasikan bahwa sepeninggal Rakai Pikatan terjadi kekacauan politik di Kerajaan Medang. Dan Rakai Kayuwangi bukanlah satu-satunya maharaja di Pulau Jawa.

Selanjutnya, Dyah Balitung yang diduga adalah menantu Rakai Watuhumalang berhasil mempersatukan kembali kerajaan Medang. Namun, dia jatuh karena kudeta Mpu Daksa.

Mpu Daksa dalam prasasti yang dikeluarkannya mengaku sebagai keturunan asli Sanjaya.

Mpu Daksa digantikan oleh menantunya yaitu Dyah Tulodhong.

Dan akhirnya, Dyah Tulodhong disingkirkan oleh pemberontakan Dyah Wawa yang sebelumnya menjabat sebagai pegawai pengadilan.

Dyah Wawa adalah raja Medang periode Jawa Tengah yang terakhir.

Selanjutnya, Medang berpindah ke jawa Timur dengan raja pertama, yaitu Mpu Sindok, yang pada pemerintahan Dyah Wawa menjabat sebagai Rakryan Mapatih Hino.

Jadi bisa dilihat, paska Rakai Pikatan terjadi perebutan kekuasaan Di Medang.

Dipastikan penguasa Medang saat itu tidak lagi wangsa Sailendra (Mpu Sindok pendiri wangsa Isana).

Artinya, kekuasaan wangsa Sailendra di Medang runtuh dan hal inilah pemicu permusuhan antara Medang dengan sriwijaya (saat itu masih di bawah Wangsa Sailendra).

Kemunduran Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya mengalami kemunduran akibat serangan Rajendra Chola I dari Koromandel, India Selatan.

Tahun 1017 dan 1025, Rajendra Chola I mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya.

Menurut informasi yang tercatat di prasasti Tanjore bertarikh 1030 Masehi, Kerajaan Chola telah menaklukan banyak daerah-daerah koloni Sriwijaya.

Saat itu bahkan berhasil menawan raja Sriwijaya, yaitu Sangrama Vijayottunggawarman.

Meskipun berada di bawah pengaruh Rajendra Chola I, nampaknya Sriwijaya tetap eksis.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya berita utusan San-fo-ts’i ke Tiongkok tahun 1028 Masehi.

Pada tahun 1183 kekuasaan Sriwijaya di justru telah berada di bawah kendali kerajaan Dharmasraya (Melayu).

Faktor alam adalah penyebab lain kemunduran Sriwijaya. Diantaranya adalah pendangkalan sungai Musi akibat endapan lumpur.

Hal ini menyebabkan Palembang sebagai pusat sriwijaya semakin jauh dari laut. Akibatnya semakin sedikit kapal dagang yang datang sehingga ekonomi Sriwijaya melemah.

Paska keruntuhannya, kerajaan Sriwijaya seakan terlupakan. Bahkan oleh penduduk Sumatera Selatan sendiri.

Letak Kerajaan Sriwijaya

Menurut teori yang paling populer di masyarakat, diyakini kerajaan sriwijaya terletak di Palembang, Sumatera selatan.

Meskipun begitu, para sejarawan belum menemukan kata sepakat soal di mana persisnya letak kerajaan Sriwijaya, terutama ibu kotanya.

Berdasarkan isi Prasasti Kedukan Bukit, yang berangka tahun 605 Saka (683 M), Kerajaan Sriwijaya awalnya didirikan di wilayah Palembang, tepatnya di tepian Sungai Musi.

Prasasti Kedukan Bukit juga menyebut Dapunta Hyang berasal dari Minanga Tamwan.

Dimana tepatnya lokasi yang bernama Minanga Tamwan masih belum jelas.

Teori bahwa Palembang adalah letak kerajaan Sriwijaya (setidaknya pada awal berdiri) diajukan oleh Coedes dan didukung oleh Pierre-Yves Manguin.

Selain Palembang, teori lain mengatakan bahwa letak kerajaan sriwijaya adalah di Muaro Jambi (Sungai Batanghari, Jambi) dan Muara Takus (pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kiri, Riau).

Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta jaringan kanal dengan luas areal meliputi 20 hektare.

Di kawasan ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia.

Menurut pendapat Soekmono, letak kerajaan Sriwijaya adalah di hilir Sungai Batang Hari, antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang).

Sedangkan Moens berpendapat bahwa letak kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang).

Moens mendasarkan pendapatnya pada catatan I Tsing, serta berita kronik China tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) tahun 1003 kepada kaisar Tiongkok.

Candi itu dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus).

Poerbatjaraka sependapat dengan Moens. Menurutnya, kata tamwan berasal dari kata “temu”, lalu diartikannya “daerah tempat sungai bertemu”.

Maka, Minanga Tamwan menurut Poerbatjaraka adalah di daerah pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, Riau, lokasi berdirinya Candi Muara Takus.

Namun, satu hal yang sudah pasti adalah pada saat penyerangan oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore, letak kerajaan Sriwijaya adalah di Kadaram (Kedah, Malaysia sekarang).

Ada juga teori yang menyatakan bahwa letak kerajaan Sriwijaya adalah di pantai timur Semenanjung Malaya, tepatnya Chaiya di Surat Thani, Thailand Selatan.

Menurut pendapat pengusung teori ini, nama kota Chaiya berasal dari kata “Cahaya” dalam bahasa Melayu.

Ada pula yang mempercayai bahwa kata Chaiya berasal dari kata Sri Wijaya, dan ini menegaskan bahwa letak kerajaan sriwijaya adalah di Chaiya, Thailand selatan.

Teori ini kebanyakan diajukan oleh sejarahwan Thailand. Meskipun secara umum teori ini dianggap kurang kuat, namun tetap saja diajukan karena nampaknya klaim sebagai pusat kerajaan sriwijaya sangat penting bagi kepentingan nasionalnya.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Sriwijaya sangat sedikit dibandingkan peninggalan kerajaan Medang di Jawa tengah.

Tapi jangan lupa, bahwa dinasti Sailendra penguasa Sriwijaya adalah juga penguasa Medang. Sehingga bisa dikatakan peninggalan-peninggalan kerajaan Medang adalah juga peninggalan-peninggalan Kerajaan sriwijaya.

Bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya terdiri dari bangunan, prasasti dan arca yang tersebar di tanah Sumatera, Thailand selatan, bahkan hingga India.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar luas adalah bukti kuatnya pengaruh kerajaan bercorak Budha ini di Asia Tenggara.

Baca juga : Kerajaan-kerajaan Budha di Indonesia

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berupa bangunan biasanya disebut biaro/candi.

Sedangkan arca-arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya dikenal sebagai arca bergaya Sailendra.

Arca bergaya Sailendra bisa ditemukan di Sumatera, Jawa Tengah (era Medang), dan Thailand.

Arca bergaya Sailendra/langgam sriwijaya dipengaruhi oleh gaya/langgam Amarawati, India.

Dalam artikel ini kita akan membahas bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, baik berupa bangunan/candi/biaro, prasasti atau pun arca.

Selamat membaca.

Candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang berupa bangunan biasanya disebut biaro/candi.

Bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini tersebar di Sumatera, Jawa, Thailand, hingga India.

Di bawah ini adalah bangunan-bangunan yang diduga adalah candi peninggalan Kerajaan sriwijaya atau terkait dengan Kerajaan Sriwijaya dinasti Sailendra.

Candi Muara Takus

Candi Muara Takus, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : kemdikbud)

Situs Candi Muara Takus adalah situs yang terdiri dari beberapa buah candi bercorak Buddha.

Candi Muara Takus terletak di Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia.

Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di pulau Sumatra, dan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berupa bangunan candi di wilayah Riau.

Candi Muara Takus terbuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dibandingkan bangunan candi di pulau Jawa, yang terbuat dari batu andesit dari pegunungan.

Situs Candi Muara Takus dikelilingi tembok dengan ukuran 74 x 74 meter, dan tinggi ± 80 cm. Tembok keliling ini dibuat menggunakan batu putih.

Di sisi luar areal situs ada juga dari tanah dengan ukuran 1,5 x 1,5 kilometer. Tembok tanah ini dibuat di sekeliling areal percandian sampai tepi Sungai Kampar Kanan.

Para ahli sejarah belum bisa memastikan kapan situs candi Muara Takus ini dibuat.

Ada ahli yang berpendapat Candi ini dibuat pada abad ke-4, abad ke-7, abad ke-9 bahkan abad ke-11.

Namun, sebagian besar ahli sejarah sepakat bahwa Candi Muara Takus sudah berdiri saat zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya.

Beberapa ahli selanjutnya berpendapat bahwa kawasan Candi Muara Takus adalah salah satu pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya.

Bangunan utama di situs Candi Muara Takus adalah sebuah stupa besar, berbentuk menara. Stupa ini dibuat menggunakan batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning.

Di dalam areal kompleks situs Candi Muara Takus ini setidaknya terdapat 4 bangunan candi, yaitu Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka.

Di bawah ini adalah deskripsi singkat bangunan-bangunan yang ada di situs Candi Muara Takus :

Candi Mahligai

Candi Mahligai atau Stupa Mahligai adalah bangunan candi yang paling utuh di areal situs.

Stupa Mahligai adalag bangunan yang terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap.

Fondasi Stupa Mahligai berbentuk persegi panjang dengan ukuran 9,44 m x 10,6 m.

Pintu masuk Stupa terletak di sisi sebelah Selatan.

Bagian alas Stupa Mahligai dihiasi dengan ornamen lotus ganda, dan di bagian tengah berdiri sebuah menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk kelopak bunga pada bagian bawahnya.

Menurut Snitger, aslinya pada ke-empat sudut fondasi dihiasi 4 arca singa dengan posisi duduk yang dibuat menggunakan batu andesit.

Selain itu, menurut hasil penelitian Yzerman, aslinya pada bagian puncak menara terdapat batu berhiaskan lukisan daun oval dan relief-relief di sekelilingnya.

Candi Tua/Candi Sulung

Candi Tua atau Candi Sulung adalah bangunan candi terbesar di dalam areal situs Candi Muara Takus.

Candi Tua terdiri atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap.

Bagian kaki ada dua step. Bagian kaki pertama berukuran tinggi 2,37 m sedangkan bagian kaki kedua setinggi 1,98 m.

Tangga masuk ada di sisi Barat dan sisi Timur. tangga ini berhiaskan arca singa.

Bagian atas Candi Tua berbentuk bundaran. Bagian dalam Candi Tua ini tidak memiliki ruang kosong sama sekali.

Candi Tua/Sulung dibangun menggunakan batu bata. Di bagian sudut-sudut bangunan, pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas perbingkaian bawah kaki candi dengan tubuh kaki menggunakan batu pasir.

Candi Bungsu

Secara umum bentuk Candi Bungsu tidak jauh berbeda dibandingkan bentuk Candi Sulung.

Perbedaannya hanya di bagian atas Candi Bungsu berbentuk segi empat, sedangkan bagian atas Candi Sulung berbentuk bundaran.

Candi Bungsu berukuran 13,20 x 16,20 meter.

Candi Bungsu ini terletak di sebelah barat Stupa Mahligai.

Candi Palangka

Candi Palangka berada di sebelah timur Stupa Mahligai.

Candi Palangka berukuran 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar 2 m.

Candi Palangka dibuat menggunakan batu bata.

Peneliti menduga, pada masa lalu Candi Palangka adalah sebuah altar.

Candi Muaro Jambi

Candi Kedaton di Komplek Percandian Muaro Jambi, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : Kemdikbud)

Kompleks situs Muaro Jambi terletak di tepi Sungai Batang Hari, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia.

Kompleks situs Muaro Jambi seluas 3981 hektar, menjadikannya sebagai situs purbakala percandian bercorak Hindu-Buddha yang terluas di asia tenggara.

Kompleks situs Muaro Jambi terdiri dari setidaknya 110 candi.

Namun, sebagian besar peninggalan ini masih berupa gundukan tanah (menapo) yang belum diokupasi.

Pada tahun 1824, S.C. Crooke, seorang letnan Inggris melaporkan keberadaan Kompleks percandian Muaro Jambi.

Pemerintah Indonesia sendiri baru melakukan pemugaran secara serius situs Candi Muaro Jambi pada tahun 1975.

Sampai saat ini, baru ada 9 candi yang sudah dilakukan pemugaran.

9 Candi yang telah selesai dipugar adalah Candi Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong Satu, Candi Gedong Dua, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu, dan Candi Astano.

Para ahli memperkirakan Candi Muara Jambi dibangun pada abad 7 – 12 M.

Diperkirakan Candi Muara Jambi adalah bangunan peninggalan Kerajaan Sriwijaya atau Kerajaan Melayu.

Selain bangunan candi, kompleks situs Muaro Jambi juga dilengkapi kanal kuno, kolam penampungan air, dan gundukan tanah yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno.

Candi Biaro Bahal

Candi Bahal, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :wikimedia commons)

Candi Bahal/Biaro Bahal/Candi Portibi adalah situs candi peninggalan Kerajaan sriwijaya yang bercorak Buddha aliran Vajrayana.

Situs Candi Bahal terletak di Desa Bahal, Kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara.

Bangunan ini dinamai Candi Bahal sesuai dengan nama desa tempat candi ini berdiri.

Diberi nama lain, yaitu Candi Portibi yang dalam bahasa Batak berarti ‘dunia’ atau ‘bumi’ yang merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta : Pertiwi (dewi Bumi).

Candi Bahal dibuat menggunakan batu bata merah.

Candi Bahal diduga adalah bangunan candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya, dari sekitar abad ke-11 Masehi.

Sebenarnya, lebih tepatnya Candi Bahal adalah peninggalan Kerajaan Pannai, salah satu bagian dari mandala Sriwijaya.

Candi Peninggalan Kerajaan sriwijaya ini terdiri dari 3 bangunan kuno yaitu Biaro Bahal I, II dan III.

Candi Bahal dibangun saling terkait satu sama lain dan terdiri dalam satu garis yang lurus.

Candi Bahal adalah satu bagian kecil dari kompleks candi-candi Padanglawas.

Kompleks Candi Padanglawas artinya candi-candi yang terletak di padang luas.

Candi-candi di Padanglawas, selain Candi Bahal adalah :

  1. Candi Pulo
  2. Candi Barumun
  3. Candi Singkilon
  4. Candi Sipamutung
  5. Candi Aloban
  6. Candi Rondaman Dolok
  7. Candi Bara
  8. Candi Magaledang
  9. Candi Sitopayan
  10. Candi Nagasaribu.
Candi Bahal 1

Candi/Biaro Bahal I adalah bangunan terbesar di antara yang lain.

Candi Bahal 1 berdiri areal seluas sekitar 3000 m².

Candi Bahal 1 dikelilingi pagar yang terbuat dari batu merah dengan tinggi 60 cm, ketebalan sekitar 1 m.

Bangunan utama Candi Bahal I berdiri di tengah halaman, menghadap ke arah gerbang.

Bagian kaki dihiasi ukirantokoh yaksa berkepala hewan, yang sedang menari-nari.

Peneliti akhirnya mengetahui bahwa ukiran tersebut adalah penari yang menggunakan topeng hewan, mirip dengan upacara di Tibet.

Candi Bahal 2

Candi Bahal II berdiri sekitar 300 meter dari Candi Bahal I.

Areal Candi Bahal II memiliki luas yang sama dibandingkan pelataran Candi Bahal I.

Candi Bahal 2 juga dikelilingi pagar dari batu bata.

Bangunan utama Candi Bahal II terbagi dari bagian tatakan, kaki, tubuh dan atap candi.

Di bagian tubuh Candi Bahal II terdapat ruangan kosong dengan ukuran sekitar 3 meter persegi, dengan tebal dinding sekitar 1 meter.

Di Candi Bahal II pernah ditemukan sebuah Arca Heruka.

Arca Heruka adalah Arca Demonis dari tokoh pantheon Agama Buddha aliran Mahayanan, sekte bajrayana atau tantrayana.

Digambarkan Heruka sedang menari di atas jenazah; tangan kanannya memegang tongkat.

Candi Bahal 3

Bentuk dan ukuran bangunan utama Candi Bahal 3 sangat mirip dengan bangunan utama Candi Bahal II.

Pintu masuk ke dalam ruangan dalam tubuh candi juga diletakkan di arah timur.

Bingkai pintu tidak dihiasi pahatan apa pun, namun sepanjang dinding tatakan dipahat dengan hiasan bermotif bunga.

Atap Candi Bahal III berbentuk limas dengan puncak berbentuk persegi empat.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya

Prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya umumnya berbahasa Melayu kuno.

Umumnya juga, prasasti peninggalan Sriwijaya ditulis dengan huruf pallawa.

Prasasti-prasasti kerajaan Sriwijaya berisikan beberapa informasi mengenai kerajaan ini.

Misalnya, tentang perjalanan Siddhayatra Dapunta Hyang, tentang penyerangan kerajaan lain, tentang pembangunan tempat ibadah, dan tentang kutukan.

Ada beberapa prasasti Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan adalah Prasasti Bom Baru, Prasasti Telaga Batu. Prasasti Baturaja, Prasasti Kota Kapur, Prasasti Karang Brahi, Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung.

Di bawah ini adalah prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya atau terkait dengan Kerajaan Sriwijaya dinasti Sailendra.

1. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kerajaan Sriwijaya pertama yang akan kita bahas adalah Prasasti Kedukan Bukit.

Penemu Prasasti Kedukan Bukit adalah M. Batenburg.

Batenburg menemukan prasasti ini pada tanggal 29 November 1920.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya ini kemudian dinamai Prasasti Kedukan Bukit sesuai dengan lokasi penemuannya, yaitu di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi.

Prasasti Kedukan Bukit berupa batu kecil dengan ukuran 45 × 80 cm.

Prasasti ditulis menggunakan aksara Pallawa, dengan bahasa Melayu Kuna.

Prasasti Kedukan Bukit saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor inventaris D.146.

Isi Prasasti Kedukan Bukit

Di bawah ini adalah isi Prasasti Kedukan Bukit beserta terjemahan yang telah dianalisis oleh para ahli :

  1. svasti śrī śakavaŕşātīta 605 ekādaśī śukla-
  2. klapakşa vulan vaiśākha ḍapunta hiyaṃ nāyik di
  3. sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
  4. vulan jyeşţha ḍapunta hiyaṃ maŕlapas dari minānga
  5. tāmvan mamāva yaṃ vala dua lakşa dangan kośa
  6. duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
  7. tlurātus sapulu dua vañakña dātaṃ di mata jap (mukha upaṃ)
  8. sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vulan… (āsāḍha)
  9. laghu mudita dātaṃ marvuat vanua …
  10. śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa nityakāla

Terjemahan :

  1. Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 605, pada hari ke sebelas
  2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
  3. sampan mengambil siddhayātra. pada hari ke tujuh paro-terang
  4. bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
  5. tamwan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
  6. dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
  7. tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
  8. sukacita. pada hari ke lima paro-terang bulan….(Asada)
  9. lega gembira datang membuat wanua….
  10. Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna….

Beberapa ahli berusaha menafsirkan isi prasasti Kedukan Bukit untuk mengetahui lebih detail mengenai Kerajaan Sriwijaya.

Di bawah ini adalah beberapa analisis para ahli tentang isis prasasti Kedukan Bukit :

Dapunta Hyang memimpin armada perang berangkat dari Minanga dan berhasil menundukan wilayah tempat ditemukannya prasasti ini, yaitu Sungai Musi, Sumatra Selatan.

Karena adanya kesamaan bunyi, ada ahli yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Minanga Tamwan adalah wilayah Minangkabau, yang berlokasi di pegunungan hulu sungai Batanghari.

Sementara itu, ahli sejarah bernama Soekmono berpendapat bahwa arti Minanga Tamwan adalah pertemuan dua sungai (karena tamwan berarti ‘temuan’), yaitu Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri yang terletak di wilayah Riau, sekitar Candi Muara Takus.

Kiagus Imran Mahmud dalam bukunya “Sejarah Palembang” berpendapat bahwa Minanga tidak mungkin sama dengan Minangkabau, karena istilah Minangkabau baru ada setelah era Kerajaan Sriwijaya.

Imran kemudian menafsirkan bahwa Minanga adalah Minanga yang terletak di daerah Komering, Sumatra Selatan.

Tamwan artinya adalah pertemuan dua sungai (di Minanga), yaitu Sungai Komering dan Sungai Lebong.

Gambar Prasasti Kedukan Bukit, salah satu Prasasti Kerajaan Sriwijaya (foto : Wikimedia Commons)

2. Prasasti Talang Tuo

Penemu Prasasti Talang Tuo adalah Louis Constant Westenenk (Residen Palembang).

Prasasti Talang Tuo ditemukan pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit Seguntang / Bukit Siguntang, Sumatera Selatan.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya ini berukuran 50 cm × 80 cm.

Prasasti Talang Tuo dikeluarkan pada tahun 606 Saka (684 Masehi).

Prasasti yang terdiri dari 14 baris ini ditulis menggunakan aksara Pallawa, dengan bahasa Melayu Kuno.

Van Ronkel dan Bosch adalah orang pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan prasasti Talang Tuo. Hasil pembacaan mereka kemudian dimuat dalam Acta Orientalia.

Saat ini, prasasti Kerajaan Sriwijaya ini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.145.p

Gambar Prasasti Talang Tuo, salah satu prasasti Kerajaan Sriwijaya (foto : Wikimedia Commons)
Isi Prasasti Talang Tuo

Berikut adalah isi Prasasti Talang Tuwo :

Terjemahan :

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya ketiga yang akan kita bahas adalah Prasasti Telaga Batu.

Prasasti Telaga Batu ada dua, yaitu Prasasti Telaga Batu 1 dan Prasasti Telaga Batu 2.

Prasasti Telaga Batu 1 ditemukan pada tahun 1935 di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatra Selatan.

Prasasti Telaga Batu 1 saat ini disimpan di Museum Nasional dengan No. Inventaris D.155.

Di sekitar lokasi tersebut, juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2, yang berisi memberikan informasi adanya vihara di sekitar lokasi tersebut.

Prasasti Telaga Batu berupa batu andesit berukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm.

Di bagian atas prasasti dihiasi ornamen tujuh kepala ular kobra, dan di bagian bawah tengah terdapat semacam pancuran untuk mengalirkan air pembasuh.

Tulisan dalam prasasti berjumlah 28 baris, menggunakan huruf Pallawa, dengan bahasa Melayu Kuno.

Secara garis besar isi Prasasti Telaga Batu adalah kutukan bagi siapa saja yang melakukan kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak mentaati perintah dātu.

Casparis berpendapat bahwa orang-orang yang disebutkan dalam Prasasti Telaga Batu adalah orang-orang yang dikelompokkan berbahaya dan memiliki potensi melawan kedatuan Sriwijaya sehingga mereka perlu diambil sumpah.

Prasasti ini adalah salah satu prasasti peninggalan Kerajaan sriwijaya yang paling lengkap mencantumkan nama-nama pejabat pemerintahan.

Nama-nama pejabat pemerintahan yang disebut dalam Prasasti Telaga Batu, seperti :

Lengkapnya nama pejabat yang disumpah membuat banyak sejarawan berpendapat bahwa prasasti ini adalah bukti bahwa pusat Sriwijaya adalah di Palembang, karena pejabat-pejabat yang disumpah itu sudah tentu tinggal di ibu kota kerajaan.

Namun, sejarawan Soekmono memiliki pendapat sebaliknya. Dia berpendapat dengan adanya prasasti ini justru menunjukkan bahwa tidak mungkin pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Palembang karena adanya ancaman kutukan terhadap siapa saja yang durhaka pada kedatuan.

Soekmono kemudian mengusulkan pendapat bahwa Minanga (yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus) adalah pusat Kerajaan Sriwijaya.

Gambar Prasasti Telaga Batu, salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :Wikimedia Commons)

4. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur berbentuk tiang batu, berukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar dan 19 cm pada bagian puncak.

Prasasti Kota Kapur ditulis dengan aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Kerajaan Sriwijaya ini adalah salah satu dokumen tertulis tertua yang menggunakan bahasa Melayu.

Prasasti Kota Kapur ditemukan di sebuah dusun kecil yang bernama “Kotakapur”, di pesisir barat Pulau Bangka.

Penemu Prasasti Kota Kapur adalah J.K. van der Meulen.

Prasasti Kota Kapur adalah prasasti tentang Sriwijaya pertama yang ditemukan, yaitu pada bulan Desember 1892.

Sejarawan pertama yang melakukan analisis terhadap prasasti Kota Kapur adalah H. Kern.

Kern adalah ahli epigrafi kebangsaan Belanda yang waktu itu bekerja di Bataviaasch Genootschap di Batavia.

Awalnya, Kern menganggap kata “Sriwijaya” adalah nama dari seorang raja.

Kemudian, George Coedes menemukan bahwa kata “Sriwijaya” adalah nama sebuah kerajaan yang terletak di Sumatra pada abad ke-7 Masehi.

Berdasarkan isi prasasti Kota Kapur, Sriwijaya pada waktu itu sudah berkuasa atas bagian selatan Pulau Sumatra, Pulau Bangka, dan Belitung hingga Lampung.

Prasasti Kota Kapur juga memberikan informasi adanya ekspedisi militer oleh Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum “Bhumi Jawa” yang tidak berbakti (tidak mau tunduk) kepada Sriwijaya.

Ekspedisi militer yang disebutkan Prasasti Kota Kapur cukup dekat dengan perkiraan runtuhnya kerajaan Tarumanegara di Jawa bagian barat dan Holing (Kalingga) di Jawa bagian tengah. Ada kemungkinan runtuhnya dua kerajaan tersebut akibat serangan Sriwijaya.

Penemuan Prasasti Kota Kapur, beserta penemuan peninggalan Kerajaan sriwijaya lainnya memberikan gambaran baru bagi para sejarawan tentang tentang masa-masa Hindu-Budha pada saat itu.

Isi Prasasti Kota Kapur

Di bawah ini adalah isi Prasasti Kota Kapur, sesuai dengan transkrip dan terjemahan dari Coédes :

Terjemahan :

  1. Keberhasilan ! (disertai mantra persumpahan yang tidak dipahami artinya)
  2. Wahai sekalian dewata yang berkuasa, yang sedang berkumpul dan melindungi Kedatuan Sriwijaya ini; kamu sekalian dewa-dewa yang mengawali permulaan segala sumpah !
  3. Bilamana di pedalaman semua daerah yang berada di bawah Kadatuan ini akan ada orang yang memberon­tak yang bersekongkol dengan para pemberontak, yang berbicara dengan pemberontak, yang mendengarkan kata pemberontak;
  4. yang mengenal pemberontak, yang tidak berperilaku hormat, yang tidak takluk, yang tidak setia pada saya dan pada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu; biar orang-orang yang menjadi pelaku perbuatan-perbuatan tersebut mati kena kutuk biar sebuah ekspedisi untuk melawannya seketika di bawah pimpinan datu atau beberapa datu Sriwijaya, dan biar mereka
  5. dihukum bersama marga dan keluarganya. Lagipula biar semua perbuatannya yang jahat; seperti mengganggu :ketenteraman jiwa orang, membuat orang sakit, membuat orang gila, menggunakan mantra, racun, memakai racun upas dan tuba, ganja,
  6. saramwat, pekasih, memaksakan kehendaknya pada orang lain dan sebagainya, semoga perbuatan-perbuatan itu tidak berhasil dan menghantam mereka yang bersalah melakukan perbuatan jahat itu; biar pula mereka mati kena kutuk. Tambahan pula biar mereka yang menghasut orang
  7. supaya merusak, yang merusak batu yang diletakkan di tempat ini, mati juga kena kutuk; dan dihukum langsung. Biar para pembunuh, pemberontak, mereka yang tak berbakti, yang tak setia pada saya, biar pelaku perbuatan tersebut
  8. mati kena kutuk. Akan tetapi jika orang takluk setia kepada saya dan kepada mereka yang oleh saya diangkat sebagai datu, maka moga-moga usaha mereka diberkahi, juga marga dan keluarganya
  9. dengan keberhasilan, kesentosaan, kesehatan, kebebas­an dari bencana, kelimpahan segala­nya untuk semua negeri mereka ! Tahun Saka 608, hari pertama paruh terang bulan Waisakha (28 Februari 686 Masehi), pada saat itulah
  10. kutukan ini diucapkan; pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya.
Gambar Prasasti Kota Kapur, salah satu prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya (foto : Wikimedia Commons)

5. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah adalah prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan.

Prasasti Palas Pasemah terdiri dari 13 baris, ditulis dengan aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Palas Pasemah tidak memuat angka tahun.

Berdasarkan penelitian pada bentuk aksara yang digunakan, para ahli memperkirakan Prasasti Palas Pasemah dikeluarkan pada akhir abad ke 7 masehi.

Prasasti Palas Pasemah adalah salah satu prasasti peninggalan Sriwijaya lainnya yang berisi kutukan bagi siapa saja yang tidak tunduk dan taat kepada Kerajaan Sriwijaya.

Gambar Prasasti palas Pasemah, salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : Sistem registrasi Nasional cagar Budaya)

6. Prasasti Hujung Langit/Prasasti Bawang

Prasasti Hujung Langit ditemukan di desa Hara Kuning, Lampung.

Kondisi prasasti Hujung Langit sudah sangat aus sehingga isinya tidak bisa dipahami sepenuhnya.

Namun, para ahli berhasil memperkirakan isinya yaitu tentang pemberian tanah sima.

Prasasti terdiri dari 18 baris tulisan.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh L.C Damais, NJ Krom, dan Boechari diketahui bahwa prasasti Kerajaan Sriwijaya ini ditulis dengan huruf Jawa Kuna dan menggunakan bahasa Melayu Kuna.

Damais yang berusaha membaca isi prasasti berhasil mengidentifikasi sebagian kalimat yang tertulis dalam prasasti Hujung Langit adalah sebagai berikut (Damais, 1995: 33) :

swasti sri sakalawarsatita 9– margasiramasa. tithi nawami suklaspaksa. wa– wara. Wuku kuninan……

Terjemahan :

Berdasarkan paleografinya para ahli memperkirakan bahwa prasasti tersebut berasal dari sekitar abad ke-10 M, yaitu sekitar tahun 919 saka atau 997 Masehi.

Gambar prasasti hujung langit, prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya

7. Prasasti Karang Brahi

Penemu Prasasti Karang Brahi adalah seorang Kontrolir Belanda bernama L.M. Berkhout.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1904 di tepian Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Brahi, Kecamatan Pamenang, Merangin-Jambi.

Prasasti Karang Brahi adalah satu lagi prasasti Kerajaan Sriwijaya yang berisi kutukan terhadap pembangkang kerajaan, selain prasasti Telaga Batu, Prasasti Palas Pasemah, dan Prasasti Kota Kapur.

gambar prasasti karang brahi, prasasti kerajaan sriwijaya (foto : kemdikbud)

8. Prasasti Bom Baru

Prasasti Bom Baru ditemukan di tepian Sungai Musi, Sumatera Selatan.

Prasasti Kerajaan sriwijaya ini diperkirakan berasal dari abad ke-7.

Prasasti Bom Baru adalah salah satu prasasti Sriwijaya yang berisi kutukan yang mengancam para pemberontak dan warga yang tak setia pada Sriwijaya.

9. Prasasti Jabung

Prasasti Jabung ditemukan di Lampung.

Prasasti ini sulit diketahui isinya karena tulisan sudah sangat aus dan tak terbaca.

10. Prasasti Baturaja

Prasasti Baturaja adalah prasasti kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada September 2018, di Baturaja, Sumatera selatan.

Prasasti ini hanya tersisa patahan bagian atasnya saja.

Seperti banyak prasasti kerajaan Sriwijaya lainnya, Prasasti Baturaja juga memuat kutukan bagi pengkhianat dan pemberontak.

Berdasarkan paleografinya Prasasti Baturaja sama dengan aksara yang digunakan dalam Prasasti Talang Tuo (684).

Prasasti Baturaja ditulis menggunakan huruf Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno.

11. Prasasti Ligor

Prasasti Ligor adalah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Ligor (saat ini Nakhon Si Thammarat) di wilayah Thailand Selatan.

Prasasti Ligor berupa batu yang dipahat di kedua sisinya.

Pada bagian pertama disebut prasasti Ligor A atau manuskrip Viang Sa.

Sedangkan bagian kedua disebut Prasasti Ligor B.

Isi Prasasti Ligor A adalah pujian bagi raja Sriwijaya, yang disebut raja dari segala raja di dunia, raja dikatakan adalah pendiri bangunan yang bernama Trisamaya caitya untuk Kajara.

Prasasti Ligor B ditulis menggunakan aksara Kawi, memuat angka tahun 775 masehi.

Isi Prasasti Ligor B adalah tentang raja bernama Visnu dengan gelar Maharaja.

Raja Visnu adalah bagian dari dinasti Sailendravamsa, yang dijuluki sebagai Sesavvarimandavimathana, artinya adalah pembunuh bagi musuh-musuh yang sombong tidak bersisa.

Menurut para ahli, prasasti ligor B dikeluarkan oleh Maharaja Dyah Pancapana kariyana Panamkarana, salah satu raja dari wangsa Sailendra.

gambar prasasti ligor, prasasti peninggalan kerajaan sriwijaya

Arca Peninggalan Kerajaan sriwijaya

Arca-arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya umumnya disebut arca langgam Sriwijaya/langgam Sailendra.

Arca-arca bergaya Sailendra ini dikatakan dipengaruhi oleh langgam Amarawati dari India.

Di bawah ini adalah arca-arcapeninggalan Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di berbagai wilayah.

Arca Budha Bukit Seguntang
Arca Budha Bukit Siguntang, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :Wikimedia Commons)

Arca Budha peninggalan Kerajaan sriwijaya ini berukuran tinggi 277 cm.

Para ahli memperkirakan arca Budha ini berasal dari abad 7 sampai 8 Masehi.

Arca Budha ini dibuat menggunakan batu granit.

Arca Budha ini ditemukan di situs Bukit Seguntang, Palembang, pada tahun 1920-an.

Penemua arca ini tidak sekaligus, namun bertahap berupa beberapa bagian.

Bagian pertama yang berhasil ditemukan adalah bagian kepala.

Beberapa bulan kemudian bagian tubuh arca ditemukan. Namun, bagian kaki hingga kini belum ditemukan.

Arca Budha peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini terpengaruh langgam Amarawati dari India Selatan, yang berkembang pada abad 2 sampai abad 5 Masehi.

Arca Avalokiteshwara
Arca Avalokiteshwara, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto : wikimedia commons)

Arca batu Avalokiteshwara, boddhisatwa dalam agama Buddha mahayana.

Arca Avalokiteshwara ini ditemukan di Situs Bingin Jungut, Kecamatan Muara Kelingi, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan.

Arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini mirip dengan arca-arca gaya Medang, di Jawa Tengah.

Tentu saja, karena keduanya diperintah oleh dinasti yang sama, yaitu dinasti Sailendra.

Oleh karena itu, langgam arca ini disebut menggunakan langgam Sailendra.

Arca Avalokiteshwara ini diperkirakan berasal dari abad ke-8 dan ke-9 masehi.

Arca Avalokiteshwara peninggalan kerajaan sriwijaya ini adalah koleksi Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Arca Budha Maitreya
Arca Budha Maitreya, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto :wikimedia commons)

Arca perunggu Boddhisatwa Maitreya dengan ciri khas adanya stupa di mahkotanya.

Arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini ditemukan di Komering, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.

Para ahli memperkirakan arca Budha Maitreya ini berasal dari abad ke-9 sampai ke-10 Masehi.

Arca ini saat ini menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan Nomer inventaris. 6025.

Arca Torso Bodhisattwa Padmapani
Arca bodhisattwa padmapani, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (foto: wikimedia commons)

Gambar di atas adalah Arca torso perunggu Boddhisattwa Padmapani (Avalokiteshwara).

Arca ini dikelompokkan sebagai Seni Sriwijaya (Srivijayan Art), peninggalan abad ke-9 M.

Arca ini ditemukan di Chaiya, Surat Thani, Thailand Selatan.

Arca ini sangat kental menunjukkan adanya pengaruh seni Jawa Tengah (seni Sailendra).

Awalnya, arca ini disimpan di Wat Wiang, Chaiya, Surat Thani,

Kemudian, Pangeran Damrong Rajanubhab memindahkannya ke Museum Nasional Bangkok, Thailand pada tahun 1905.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan Sriwijaya :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang sejarah kerajaan Sriwijaya, termasuk apa saja peninggalan kerajaan sriwijaya baik yang berupa candi maupun berupa prasasti atau pun Arca. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring