Katamasa

Kerajaan Samudra Pasai : Sejarah Lengkap

Kerajaan Samudra Pasai adalah kerajaan bercorak Islam di Indonesia. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Aceh.

Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 1267. Hal ini menjadikan kerajaan ini adalah salah satu kerajaan Islam tertua di Indonesia.

Pendiri Samudra Pasai adalah Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh.

Bukti peninggalan Samudra Pasai belum begitu banyak ditemukan, sehingga para ahli sejarah belum bisa mengungkap sejarah kerajaan ini secara tuntas.

Salah satu sumber sejarah kerajaan Samudra Pasai yang terpenting adalah Hikayat Raja-raja Pasai.

Keberadaan kerajaan Samudera Pasai juga dikaitkan dengan penemuan beberapa makam raja serta koin berbahan emas dan perak yang mencantumkan nama raja.

Sumber sejarah kerajaan Samudra Pasai yang lainnya adalah kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368).

Ringkasan

Sebelum membahas secara mendalam tentang sejarah kerajaan Samudera Pasai, di bawah ini adalah pertanyaan dan jawaban pendek untuk membantu lebih memahami artikel.

Siapa pendiri kerajaan Samudra Pasai?

Pendiri Kerajaan Samudra Pasai adalah Marah Silu yang bergelar Sultan Malik as-Saleh pada tahun 1267 Masehi.

Di mana letak kerajaan Samudra Pasai?

Letak geografis Kerajaan Samudra Pasai adalah di pesisir pantai utara Sumatera, dekat Lhokseumawe.

Masa kejayaan kerajaan Samudra Pasai terjadi pada masa pemerintahan raja siapa?

Masa kejayaan Kerajaan Samudra Pasai terjadi pada masa pemerintahan Sultanah (Ratu) Nahrasiyah sejak 1406 Masehi (ada sumber lain yang menyebut tahun 1400 Masehi) sampai 1428.

Dalam artikel ini kita akan membahas Sejarah Kerajaan Samudra Pasai, siapa pendiri, siapa raja-raja, dan apa saja peninggalan kerajaan yang bercorak Islam ini.

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai bisa diketahui dari kitab Hikayat Raja-raja Pasai.

Dalam kitab itu diketahui bahwa pendiri Kerajaan Samudra Pasai adalah Marah Silu yang kemudian bergelar Sultan Malik as-Saleh pada tahun 1267 Masehi.

Kerajaan Samudera Pasai kemudian berkembang pesat menjadi salah satu pusat perdagangan di kawasan selat Malaka.

Di samping itu, Kerajaan Samudera Pasai juga menjadi salah satu pusat dakwah Islam khususnya di wilayah Indonesia bagian barat.

Di bawah ini adalah kronologis sejarah Kerajaan Samudra Pasai dari awal pendiriannya sampai runtuhnya kerajaan ini.

Berdirinya Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada tahun 1267. Kerajaan Islam pertama di Nusantara ini didirikan oleh Marah Silu, yang selanjutnya bergelar Sultan Malik Al-Salih (Rusdi Sufi & Agus Budi Wibowo, Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh. 2006:50).

Marah Suli menjadi Sultan setelah menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser (Hill, A. H., (1960), Hikayat Raja-raja Pasai, Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland, London. Library, MBRAS).

Sementara itu, Slamet Mulyana menulis dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Budha dan Timbulnya Negara-Negara islam di Nusantara” bahwa pendiri Kerajaan Pasai adalah Nazimuddin Al Kamil, seorang laksamana laut dari dinasti Fathimiah di Mesir.

Nazimuddin Al Kamil berhasil mendirikan kerajaan setelah berhasil menaklukan kerajaan-kerajaan Hindu atau kerajaan Budha yang ada di wilayah Pasai.

Setelah berhasil menguasai wilayah itu sepenuhnya, Nazimuddin Al Kamil kemudian mendirikan kerajaan yang diberi nama Kerajaan Pasai pada tahun 1128 Masehi.

Dinasti Fathimiah menaklukan wilayah Aceh dan mendirikan Kerajaan Pasai karena ingin menguasai jalur perdagangan di selat Malaka yang ramai.

Hikayat Raja-raja Pasai mengisahkan bahwa Kerajaan Pasai dan Kerajaan Samudra adalah entitas yang berbeda.

Menurut kitab ini, mula-mula Marah Silu mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Samudra. Sedangkan, Kerajaan Pasai muncul belakangan mengiringi eksistensi Kerajaan Samudra.

Hal yang sama juga diceritakan oleh kitab Sulalatus Salatin yang menceritakan bahwa Pasai dan Samudera merujuk pada dua kawasan yang berbeda.

Sementara itu, Marcopolo dalam kunjunganya di pantai timur Sumatera mencatat nama-nama kerajaan di sana adalah Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).

Masa Kejayaan Kerajaan Samudra Pasai

Masa kejayaan Samudra Pasai terjadi pada beberapa periode kepemimpinan kesultanan.

Sultan Malik Al Saleh, pendiri kerajaan Samudra Pasai menikah dengan putri dari Kerajaan Perlak yang kemudian menurunkan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, yang kelak menggantikan ayahnya menjadi Sultan Pasai.

Sultan Muhammad Malik az-Zahir memerintah pada tahun 1297-1326 Masehi.

Pada era kekuasaan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Samudera Pasai sudah mengenal penggunaan uang berupa koin emas.

Hal ini menunjukkan bahwa kerajaan di ujung utara pulau Sumatera ini telah mengenal sistem perdagangan yang kompleks.

Pada saat itu Samudera Pasai telah tumbuh menjadi salah satu kawasan pusat perdagangan.

Hal ini terjadi karena letak geografis Kerajaan Samudra Pasai yang strategis di kawasan selat Malaka yang ramai.

Pada era ini, kerajaan juga telah berkembang menjadi pusat dakwah agama Islam.

Pada tahun 1326 Sultan Muhammad Malik az-Zahir meninggal dunia dan selanjutnya tampuk kekuasaan dipegang oleh anaknya, yaitu Sultan Malik al-Mahmud.

Pada era pemerintahan Sultan Malik al-Mahmud, kerajaan Samudera Pasai mengadakan penyerangan ke kerajaan Karang Baru dan Tamiang.

Sultan Malik al-Mahmud berkuasa sampai tahun 1349 Masehi.

Sepeninggal Sultan Malik al-Mahmud, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Ahmad Malik Az-Zahir.

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir, Kerajaan Samudera Pasai semakin berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan di kawasan selat Malaka.

Kerajaan ini mampu menarik para saudagar dari India, Arab, China dan India untuk datang dan berdagang di Pasai.

Ibn Batuthah, seorang musafir dari Maroko pernah datang ke Pasai pada tahun dan menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambut dirinya dengan sangat ramah.

Meskipun memimpin sebuah kerajaan yang berjaya di bidang perekonomian, namun ternyata Sultan Ahmad Malik Az-Zahir berperangai buruk. Hal ini diceritakan oleh kitab Hikayat Raja-raja Pasai.

Hikayat Raja-raja Pasai menceritakan bahwa Sultan Ahmad Malik Az-Zahir jatuh cinta pada calon menantunya sendiri, yaitu seorang putri dari Kerajaan Majapahit.

Putri dari Majapahit ini sedianya akan menjadi istri putranya, yaitu Tun Abdul Jalil.

Karena ingin merebut sang putri dari anaknya, Sultan Ahmad Malik Az-Zahir membunuh anaknya sendiri.

Tak pelak peristiwa ini membuat sedih sang calon istri yang kemudian memutuskan bunuh diri.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan oleh pengawal sang putri yang kembali ke Majapahit.

Mendengar hal ini, kerajaan Majapahit pun mengirimkan armada perang untuk menggempur Kerajaan Samudera Pasai.

Serangan kerajaan Majapahit terhadap kerajaan Samudera Pasai terjadi pada tahun 1350 Masehi (sumber).

Serangan Majapahit itu hampir menghancurkan kerajaan Samudera Pasai, namun Sultan Ahmad Malik Az-Zahir berhasil kabur menyelamatkan diri.

Setelah hampir mengalami kehancuran, Kerajaan Samudera Pasai bangkit kembali pada tahun 1383 di bawah pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir.

Namun, Kerajaan Samudera Pasai kembali berkonflik dengan kerajaan lain, yaitu Kerajaan Nakur.

Dalam peperangan dengan kerajaan Nakur, Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tewas pada tahun 1405.

Sepeninggal sultan, kekuasaan Kerajaan dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah.

Pada masa pemerintahan Sultanah Nahrasiyah, kerajaan Samudera Pasai kembali mencapai masa kejayaan.

Pada masa kejayaan ini, kerajaan Samudera Pasai berkali-kali dikunjungi oleh ekspedisi Laksamana Ceng Ho, yaitu pada tahun 1405, 1408 dan 1412.

Runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai

Setelah hidup sekitar 3 abad, Kerajaan Samudera pasai akhirnya mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh.

Penyebab runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai adalah faktor eksternal dan internal.

Seperti dijelaskan di atas, salah satu faktor eksternal penyebab runtuhnya kerajaan Samudera Pasai adalah serangan oleh Kerajaan Majapahit.

Namun, serangan itu tidak benar-benar menghapus kerajaan di ujung utara pulau Sumatera ini.

Faktor eksternal lain yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Samudera Pasai adalah munculnya Kesultanan Malaka pada 1405.

Munculnya Kesultanan Malaka mengikis dominasi ekonomi Samudera Pasai di zona perdagangan selat Malaka (Muhammad Gade Ismail, Pasai dalam Perjalanan Sejarah, 1997:24).

Sebenarnya, hubungan antara Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka cukup baik.

Kitab Sulalatus Salatin menceritakan bahwa Sultan Pasai pernah meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan-pemberontakan yang merongrong kekuasaan Sultan.

Pada tahun 1496, di wilayah Aceh sendiri telah muncul kerajaan baru, yaitu Kesultanan Aceh Darussalam.

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam kian memudarkan dominasi Samudera Pasai di wilayah itu.

Pada tahun 1521, Portugis berhasil menaklukan Kerajaan Samudera Pasai setelah sebelumnya menaklukan Malaka pada tahun 1511.

Kerajaan Samudera Pasai akhirnya benar-benar runtuh pada masa pemerintahan sultan terakhirnya, yaitu Zain Al-Abidin IV (1514-1517).

Sejak tahun 1524, wilayah kekuasaan kerajaan Samudera Pasai sudah berada di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam yang menjadi kekuatan baru di ujung utara pulau Sumatera.

Sumber Sejarah Kerajaan Samudra Pasai

Kalau kita ingin ceritakan sejarah berdirinya kerajaan Samudra Pasai maka sumber sejarah terpenting adalah kitab Hikayat Raja-raja Pasai.

Kitab Hikayat Raja-raja Pasai adalah karya sastra berbahasa Melayu yang bercerita tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara, Samudera Pasai, sekarang terletak di Aceh, Indonesia.

Dalam Hikayat ini Merah Silu bermimpi bertemu Nabi Muhammad yang kemudian mengislamkannya.

Merah Silu kemudian menjadi Sultan Pasai pertama dengan nama Malik al-Saleh.

Menurut perkiraan Dr. Russel Jones hikayat ini ditulis pada abad ke-14.

Sumber sejarah Kerajaan Samudra Pasai lainnya adalah Kitab Sulalatus Salatin.

Kitab Sulalatus Salatin adalah karya sastra berbahasa Melayu dan menggunakan Abjad Jawi.

Keberadaan kerajaan Samudera Pasai juga dikaitkan dengan penemuan beberapa makam raja serta koin berbahan emas dan perak yang mencantumkan nama raja.

Sumber sejarah kerajaan Samudra Pasai yang lainnya adalah kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368).

Abu Abdullah ibn Batuthah adalah musafir Maroko yang singgah di Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1345.

Raja-Raja Samudra Pasai

Pendiri Samudra Pasai adalah Marah Silu yang kemudian bergelar Sultan Malik Al-Salih pada tahun 1267.

Selanjutnya, Sultan Malik Al-Salih menurunkan keturunan yang selanjutnya menjadi penguasa kerajaan islam pertama di Nusantara ini.

Di bawah ini adalah daftar nama-nama raja Samudra Pasai :

Peninggalan Samudra Pasai

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Samudra Pasai yang terpenting adalah makam Sultan Malik as-Saleh yang bertarikh 696 H atau 1267 M.

Angka tahun pada makam sang sultan kemudian dianggap sebagai era awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-13. Meskipun, ada sejarawan yang berpendapat bahwa kemungkinan Islam telah masuk ke nusantara lebih awal dari itu.

Bukti peninggalan Samudera Pasai lainnya adalah koin emas yang menunjukan telah adanya sistem perekonomian yang relatif maju di kerajaan tersebut.

Di bawah ini adalah beberapa daftar peninggalan sejarah Kerajaan Samudra Pasai :

Koin Emas (dirham)

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, dirham (foto:samudrapost)

Kerajaan Samudera Pasai secara resmi menggunakan mata uang dirham pada tahun 1297, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Sultan Muhammad Malik az-Zahir.

Mata uang dirham Kesultanan Samudera Pasai adalah berupa kepingan emas dengan diameter 10 mm dan berat sekitar 0,6 gram.

Salah satu sisi koin emas berisi tulisan Muhammad Malik Al-Zahir dan sisi sebaliknya berisi tulisan Al-Sultan al-adil yang berarti sultan harus memberi keadilan terhadap masyarakat.

Makam Sultan Malik As-Saleh

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, makam sultan malik as-saleh (foto:steemit.com)

Makam Sultan Malik as-Saleh yag bertarikh 696 H atau 1267 M.

Makam ini mempunyai arti penting bagi perkembangan agama islam di Indonesia karena diperkirakan sebagai tanda awal masuknya agama Islam di kepulauan Nusantara.

Lonceng Cakra Donya

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, Cakra Donya (sumber : wikipedia commons/si Gam Aceh)

Lonceng Cakra Donya adalah peninggalan Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan hadiah Kaisar Yong Lee dari kekaisaran China.

Pada sekitar tahun 1414, kaisar Yong Lee mengutus laksamana Ceng Ho untuk datang memberikan lonceng Cakra Donya kepada Kerajaan Samudra Pasai sebagai tanda persahabatan.

Namun, pada saat kerajaan ini ditaklukan oleh Kesultanan Aceh Darussalam, lonceng Cakra Donya dipindahkan ke Kesultanan Aceh Darussalam.

Naskah Surat Sultan Zain Al-Abidin

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, surat sultan Zain al abibin

Surat ini dikirimkan oleh Sultan Zain Al-Abidin kepada penguasa Portugis di Malaka pada abad ke 16.

Dari surat ini, diketahu situasi secara umum di wilayah Kesultanan Samudera Pasai setelah Malaka ditaklukan Portugis.

Stempel Kerajaan

Gambar peninggalan kerajaan Samudra Pasai, stempel kerajaan (sumber :acehkita.com)

Stempel kerajaan menandakan keabsahan surat-suratnya. Begitu juga stempel peninggalan kerajaan Samudra Pasai ini.

Stempel berukuran 2 x 1 cm ini ditemukan di Desa Kuta Kreung, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Menurut penelitian, stempel ini adalah milik sultan kedua Kesultanan Samudra Pasai yaitu Sultan Muhammad Malik Al-Zahir.

Baca selengkapnya : 11 Peninggalan Kesultana Samudera Pasai

Struktur Pemerintahan Samudra Pasai

Ibu kota Kesultanan Samudera Pasai berada di antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara.

Di pusat pemerintahan Kesultanan Samudra Pasai terdapat masjid, pasar serta dilalui oleh sungai yang bermuara ke laut.

Menurut catatan Ibn Batuthah benteng kota Kesultanan Samudra Pasai tidak terbuat dari batu, namun terbuat dari kayu yang memagari sekeliling kotanya, pagar kota berjarak beberapa kilometer dari pelabuhan.

Kesultanan Samudra Pasai berkuasa atas beberapa kerajaan bawahan. Para penguasa kerajaan bawahan juga menggunakan sultan.

Pada masa kekuasaan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak sudah berada dalam kekuasaan Pasai. Beliau juga menempatkan salah satu putranya, yaitu Sultan Mansur di Samudera.

Pada masa kekuasaan Sultan Ahmad Malik az-Zahir ini wilayah Samudera telah menjadi satu kesatuan dengan Pasai dengan menggunakan nama Samudera Pasai, dengan pusat pemerintahan di Pasai.

Pada masa kekuasaan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir) adalah salah satu kerajaan bawahan Pasai.

Namun, Kesultanan Pasai dikatakan berkonflik dengan kerajaan Nakur. Pada puncak konflik, kerajaan Nakur menyerang Kesultanan Samudra Pasai yang menyebabkan terbunuhnya Sultan Pasai.

Penguasa tertinggi di Kesultanan adalah seorang Sultan yang diwarisi secara turun-temurun.

Putta-putri Sultan menggunakan gelar Tun. Gelar ini juga digunakan oleh beberapa petinggi kerajaan yang lain.

Dalam struktur pemerintahan Kesultanan Samudra Pasai terdapat jabatan-jabatan seperti, menterisyahbandar dan kadi.

Kehidupan Politik Samudra Pasai

Pendiri Kesultanan Samudra Pasai adalah Marah Silu. Beliau selanjutnya menggunakan gelar Sultan Malik As- Saleh.

Pada masa pemerintahannya, yaitu pada sekitar tahun 1292, Marcopolo, seorang musafir dari Venetia (Italia) datang berkunjung ke Kesultanan Samudra pasai.

Dari catatan perjalanan Marcopolo ini lah para peneliti mendapatkan informasi bahwa penguasa Pasai bergelar Sultan.

Pengganti Sultan Malik Al Saleh adalah Sultan Muhammad Malik az-Zahir, yang berkuasa pada tahun 1297-1326 Masehi.

Setelah wafatnya Sultan Muhammad Malik az-Zahir, penguasa Kesultanan Samudra Pasai adalah Sultan Malik al-Mahmud.

Pada era pemerintahan Sultan Malik al-Mahmud, kerajaan Samudra Pasai memperluas wilayah kekuasaan dengan mengadakan penyerbuan ke kerajaan Karang Baru dan Tamiang.

Sultan Malik al-Mahmud berkuasa sampai tahun 1349 Masehi.

Sepeninggal Sultan Malik al-Mahmud, Kerajaan Samudra Pasai dipimpin oleh Sultan Ahmad Malik Az-Zahir.

Dengan demikian sangat jelas bahwa kehidupan politik di Kesultanan Samudra Pasai dipegang secara mutlak oleh keluarga Kesultanan.

Sultan dipegang secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Meskipun begitu, bukan berarti konflik politik untuk memperebutkan kekuasaan tidak pernah terjadi.

Menurut catatan Kita Sulalatus Salatin, menjelang keruntuhannya, Sultan Pasai pernah meminta bantuan Kesultanan Malaka untuk membantu memadamkan pemberotakan.

Konflik juga terjadi antara Sultan dengan pihak Ulama yang menentang kehendak Sultan.

Hal ini diceritakan dalam kita Hikayat Raja-raja Pasai bahwa salah seorang Sultan Pasai, yaitu Sultan Ahmad Malik Az-Zahir berperangai buruk.Sang Sultan menaruh birahi kepada putri-putrinya sendiri.

Akibat menentang kehendak Sultan, para ulama tersebut akhirnya dibunuh.

Selain itu, Sultan juga membunuh putra pertamanya yang juga menentang perbuatan itu.

Puncaknya, tabiat Sultan yang ingin merebut calon istri putra keduanya berujung pada serangan oleh Kerajaan Majapahit. Serangan Majapahit hampir memusnahkan kerajaan ini, namun Sultan berhasil kabur menyelamatkan diri.

Kehidupan Perekonomian Samudra Pasai

Kehidupan perekonomian Kerajaan Samudra Pasai sangat dipengaruhi oleh letak geografis kerajaan ini yang berada di selat Malaka, kawasan perdagangan paling ramai pada saat itu.

Dengan posisinya yang menguntungkan itu, Kesultanan Samudra Pasai tumbuh menjadi kerajaan Maritim dan bandar transito.

Kesultanan Samudra Pasai berhasil menarik para saudagar dari India, Arab, China dan India untuk datang dan berdagang di Pasai.

Dengan demikian Kesultanan Samudra Pasai seperti menjadi pengganti peran Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.

Pada saat itu, Sultan Pasai juga berkuasa atas pelabuhan-pelabuhan penting di ujung utara Sumatera seperti pelabuhan-pelabuhan penting di Pidie, Perlak, dan lain-lain.

Komoditas perdagangan yang jadi andalan Kesultanan Samudra Pasai adalah lada, kapurbarus dan emas.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kesultanan Samudra Pasai sudah mengenal penggunaan uang berupa koin emas (dirham).

Hal ini menunjukkan bahwa kerajaan di ujung utara pulau Sumatera ini telah mengenal sistem perdagangan yang kompleks.

Pada saat itu Kesultanan Samudra Pasai telah tumbuh menjadi salah satu kawasan pusat perdagangan.

Pada era kekuasaan Sultan Ahmad Malik az-Zahir, Kesultanan Samudra Pasai semakin berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan di kawasan selat Malaka.

Ibn Batuthah, seorang musafir dari Maroko pernah datang ke Pasai pada tahun dan menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambut dirinya dengan sangat ramah.

Setelah hampir mengalami kehancuran akibat serangan Majapahit, Kesultanan Samudra Pasai kembali bangkit dan mulai menapaki kembali masa kejayaanya.

Pada masa pemerintahan Sultanah Nahrasiyah, Kesultanan Samudra Pasai benar-benar berada pada masa kejayaan.

Pada masa kekuasaan raja wanita ini, Kesultanan Samudra Pasai dkunjungi beberapa kali oleh ekspedisi dagang Laksamana Ceng Ho, yaitu pada tahun 1405, 1408 dan 1412.

Jadi, secara umum kota Pasai mengandalkan perekonomiannya pada sektor perdagangan.

Di kota ini para pedagang dari India, Arab, China dan Persia dapat memperoleh lada.

Menurut catatan Ma Huan, 100 kati lada memiliki harga jual sebesar i tahil perak.

Kehidupan Agama, Sosial, dan Budaya Samudra Pasai

Letak Kesultanan Samudra Pasai yang strategis tidak hanya menguntungkan kerajaan ini secara ekonomi, namun juga secara agama, sosial, dan budaya.

Banyak para musafir, pelancong, dan pendakwah yang mengunjungi Kesultanan Samudra Pasai.

Hal ini menyebabkan adanya banyak pengaruh budaya luar yang berakulturasi degan budaya lokal Aceh.

Pada nisan sultan pertama pasai, terlihat adanya perpaduan arsitektur India dan arsitektur Islam.

Adanya pengaruh Islam yang kuat, juga membuat berkembangnya karya sastra yang menggunakan aksara Arab di kerajaan samudra pasai.

Ini lah yang melahirkan sebuah huruf yang disebut sebagai huruf Arab Jawi.

Karya tulis menggunakan aksara Arab Jawi yang terkenal adalah Hikayat raja-raja Pasai.

Sebagai sebuah kesultanan, masyarakat Kesultanan Samudra Pasai adalah penganut agama Islam.

Meskipun, pada saat itu pengaruh Hindu dan Buddha juga masih mewarnai masyarakatnya.

Dalam bidang agama islam, di kesultanan ini juga berkembang ilmu tasawuf. Di antara buku tasawuf yang banyak dipelajari di sana adalah Durru al-Manzum, karya Maulana Abu Ishak.

Kitab Durru al-Manzum selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Makhdum Patakan, atas permintaan dari Sultan Malaka.

Menurut catatan yang dibuat oleh Ma Huan dan Tomé Pires, kehidupan sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian.

Adanya kemiripan ini memudahkan penyebaran agama Islam di Malaka.

Hubungan erat antara Pasai dan Malaka diperkuat melalui perkawinan antara putri Pasai dengan raja Malaka seperti yang diceritakan dalam kitab Sulalatus Salatin.

Rekomendasi bacaan terkait :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang sejarah lengkap Kerajaan Samudra Pasai. Semoga Bermanfaat.

Sharing is caring