Kerajaan Kutai Kartanegara : Sejarah, Silsilah, Peninggalan : Lengkap

Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura adalah kerajaan yang terletak di wilayah Kutai Kalimantan Timur.

Awalnya Kerajaan Kutai Kartanegara adalah kerajaan bercorak Hindu yang berdiri pada abad ke 13.

Namun, namun sejak abad ke 17 berubah menjadi kerajaan bercorak Islam, sehingga disebut juga Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Kerajaan Kutai Kartanegara berakhir pada 1960, namun pada tahun 2001, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menghidupkan kembali kerajaan ini dengan alasan pelestarian budaya.

Pusat Kerajaan Kutai Kartanegara awalnya terletak di Jaitan Layar/Kutai Lama, kemudian dipindahkan ke Tepian Batu, dipindahkan lagi ke Pemarangan-Jembayan, terakhir dipindahkan ke Tepian Pandan.

Kerajaan Kutai Kartanegara adalah kerajaan yang berbeda dengan Kerajaan Kutai (dinasti Mulawarman).

Sebenarnya, kerajaan milik Mulawarman tidak diketahui dengan jelas apa nama kerajaannya. Karena dalam prasasti Yupa tidak disebutkan nama kerajaannya.

Nama Kutai disematkan kepada nama kerajaan milik raja Mulawarman itu adalah kesepakatan para ahli yang merujuk kepada lokasi penemuan prasasti Yupa, yaitu di hulu Sungai Mahakam, Muara Kaman, Kutai Kalimantan Timur.

Pada artikel ini secara khusus kita akan membahas tentang Kerajaan Kutai Kartanegara. Sementara jika Anda ingin membaca artikel tentang Kerajaan milik Raja Mulawarman, baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Kutai.

Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

Lembuswana, simbol kerajaan Kutai Kartanegara
Lembuswana, simbol kerajaan Kutai Kartanegara (sumber: antaranews)

Pada abad ke 4, di wilayah Kutai sudah berdiri sebuah kerajaan.

Berdasarkan peninggalan kerajaan tersebut, yaitu 7 buah Yupa yang ditemukan di hulu Sungai Mahakam, kerajaan ini diketahui adalah kerajaan bercorak Hindu.

Di dalam prasasti tersebut juga diketahui nama tiga orang raja, yaitu Kundungga, Aswawarman, dan Mulawarman.

Baca selengkapnya : 7 Prasasti Peninggalan Kerajaan Kutai

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang kerajaan ini, sampai akhirnya ada kitab yang bernama Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara.

Kitab tersebut menceritakan bahwa ternyata ada dua kerajaan di kawasan Sungai Mahakam, yaitu kerajaan milik dinasti Mulawarman dan Kerajaan Kutai Kartanegara.

Masa Awal Kerajaan

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri sekitar abad ke 13 di Jaitan Layar atau Kutai Lama.

Pendiri Kerajaan Kutai Kartanegara adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).

Keberadaan dua buah kerajaan di kawasan Sungai Mahakam ternyata menimbulkan konflik di antara keduanya.

Pada abad ke 16, pada masa pemerintahan raja Pangeran Sinum Panji Mendapa, Kerajaan Kutai Kartanegara berhasil menaklukan Kerajaan dinasti Mulawarman. Rajanya yang bernama Maharaja Dermasatia terbunuh dalam peristiwa itu.

Sang raja kemudian menyatukan kedua wilayah dalam satu kerajaan yang dinamakan Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Menjadi Kerajaan Islam/Kesultanan

Pada sekitar abad ke-17, agama Islam masuk ke istana Kerajaan Kutai Kartanegara, yaitu pada masa pemerintahan Raja Makota.

Namun baru seabad kemudian istilah islami digunakan dalam tata pemerintahan.

Nama kerajaan diubah menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Istilah raja juga diubah menjadi Sultan, dengan Sultan Aji Muhammad Idris (1732-1739) adalah raja pertama yang memakai gelar Sultan (Sutrisno Kutoyo [ed], Sejarah Daerah Kalimantan Timur, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1976/1977, 1978)

Pemindahan Ibu Kota

Pada tahun 1732, Sultan Aji Muhammad Idris memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dari Kutai Lama ke Pemarangan.

Pada saat itu terjadi peristiwa yang sangat memilukan di kalangan Kerajaan.

Sultan Aji Muhammad Idris adalah menantu La Madukelleng, Sultan Wajo, Sulawesi Selatan.

Ketika Kesultanan Wajo berperang melawan VOC, Sultan Aji Muhammad Idris berangkat ke Kesultanan Wajo, untuk membantu mertuanya berperang melawan VOC.

Saat Sultan berada di Wajo, tampuk pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dikendalikan oleh Dewan Perwalian untuk sementara waktu sampai Sultan kembali.

Namun, Sultan Aji Muhammad Idris tidak pernah kembali. Beliau gugur di medan laga pada tahun 1739.

Kematian Sultan Aji Muhammad Idris ternyata membuat Kesultanan Kutai Kartanegara tidak stabil.

Terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Aji Kado terhadap pewaris sah kerajaan, yaitu Aji Imbut yang saat itu masih kecil.

Beruntung Aji Imbut berhasil diselamatkan ke Wajo.

Setelah berhasil menduduki posisi Sultan Kutai Kartanegara, Aji Kado menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Namun, pemerintahannya tidaklah berlangsung lama.

Setelah menanjak dewasa, sang pewaris tahta yang sah yaitu, Aji Imbut kembali ke tanah Kutai Kartanegara.

Di tanah Kutai, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai yang sah oleh orang-orang Bugis dan kerabat istana yang masih setia kepadanya.

Setelah dinobatkan di Mangkujenang, Aji Imbut kemudian bergelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Hari penobatannya sekaligus sebagai hari dimulainya perlawanan terhadap Aji Kado.

Perjuangan untuk merebut kembali tahta dilakukan dengan strategi untuk memblokade ibu kota krejaan, yaitu Pemarangan.

Baca Juga :  8 Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri Beserta Gambar (Lengkap)

Selain menggunakan pasukan orang-orang Bugis dan rakyat yang masih setia, bantuan juga datang dari armada bajak laut Sulu yang melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap Pemarangan.

Merasa terdesak, pada tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC. Namun, permintaan itu tidak mendapat tanggapan.

Akhirnya, pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut Pemarangan dan menyatakan diri sebagai sultan Kutai Kartanegara yang sah.

Sebagai hukuman atas kudeta yang pernah dilakukannya, sultan menghukum mati Aji Kado dan dimakamkan di Pulau Jembayan.

Setelah berhasil merebut kembali tahtanya, pada tanggal 28 September 1782 Aji Imbut dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan.

Aji Imbut memindahkan ibu kota kesultanan Kutai Kartanegara dari pemarangan ke Tepian Pandan, karena ibu kota yang lama dianggap sudah kehlangan tuahnya.

Aji Imbut kemudian mengubah nama Tepian Pandan menjadi dTangga Arung yang berarti Rumah Raja.

Lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini, sebagai ibu kota bersejarah Kesultanan Kutai Kartanegara.

Aji Imbut meninggal dunia pada tahun 1838, selanjutnya tahta Kesultanan Kutai Kartanegara dipegang oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin.

Konflik dengan Inggris

Pada tahun 1844, James Erskine Murray asal Inggris memimpin ekspedisi dagang Inggris ke Kalimantan Timur dan memasuki perairan Tenggarong.

Untuk memuluskan usaha dagangnya, Murray datang ke istana Kesultanan Kutai untuk meminta tanah guna dijadikan pos dagang.

Murray juga meminta supaya armada dagang Inggris diberikan hak eksklusif untuk mengoperasikan kapal uap di perairan Sungai Mahakam.

Namun permintaan MUrray tidak dipenuhi oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin.

Sultan hanya memberikan ijin kepada Murray untuk berdagang hanya di wilayah Samarinda saja.

Penolakan ini membuat Murray tidak puas. Setelah beberapa hari berada di perairan Tenggarong, Murray menyerang istana Kesultanan dengan tembakan meriam.

Serangan ini segera mendapatkan balasan dari pihak Kesultanan Kutai. Maka pertempuran sengit di antara kedua pihak pun tidak terhindarkan.

Akhirnya, pasukan Kesultanan memenangkan pertempuran dan membuat armada pimpinan Murray melarikan diri ke laut lepas.

Dalam pertempuran itu, dari pihak armada dagang Inggris lima orang terluka dan tiga orang tewas termasuk Murray sendiri.

Mendengar armada dagangnya mendapatkan kekalahan, pihak Inggris sangat marah.

Inggris pun ingin melakukan serangan balasan terhadap Kerajaan Kutai Kartanegara.

Namun, niatan Inggris dihalangi oleh Belanda. Belanda mengaku bahwa wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara adalah salah satu bagian dari wilayah Hindia Belanda dan Belanda lah yang merasa berhak untuk menghukum mereka dengan caranya sendiri.

Ternyata ancaman Belanda bukan isapan jempol, Belanda mengirim armada perangnya di bawah komando t’Hooft dengan persenjataan lengkap.

Armada perang Belanda di bawah t’Hooft menyerang istana Sultan Kutai dengan gencar.

Kota Tenggarong dibakar yang menghanguskan lebih dari 500 rumah penduduk.

Kesultanan Kutai Kartanegara kalah dan takluk pada Belanda. Sementara Sultan Aji Muhammad Salehuddin diungsikan ke Kota Bangun.

Akibat kekalahan itu, pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan Aji Muhammad Salehuddin terpaksa menandatangani perjanjian dengan Belanda.

Dalam perjanjian itu Sultan Kutai mengakui Kerajaan Kutai Kartanegara adalah bagian pemerintahan Hindia Belanda.

Perjanjian itu juga mengatur bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara berada di bawah administrasi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan yang dipimpin seorang Residen yang berkedudukan di Banjarmasin.

Tahun 1846, pemerintah Hindia Belanda mengangkat H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda yang pertama di pantai timur Kalimantan.

Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849 menyatakan bahwa wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara berada dalam zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8.

Pada tahun 1850 tampuk pemerintahan Kerajaan Kutai Kartanegara berpindah tangan dari Sultan Aji Muhammad Salehudiin kepada Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Pada tahun 1853, pemerintah Hindia Belanda menunjuk J. Zwager sebagai Assisten Residen di Samarinda.

Meskipun begitu, kekuatan politik dan ekonomi masih berada dalam kekuasaan Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Tahun 1855, status Kesultanan Kutai Kartanegara kembali berubah. Belanda memasukan Kesultanan Kutai Kartanegara sebagai bagian dari de zuid- en oosterafdeeling van Borneo.

Pada tahun 1863, perjanjian baru kembali terjadi antara kerajaan Kutai Kartanegara dengan pemerintah Hindia Belanda.

Dalam perjanjian itu Sultan menyepakati bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara adalah bagian dari Pemerintahan Hindia Belanda.

Tambang batubara pertama

Wilayah Kalimantan sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang kaya sumber daya alam khususnya bahan tambang.

Salah satu bahan tambang yang terkenal dari wilayah Kalimantan adalah Batubara.

Salah satu yang mendapatkan manfaat ekonomi yang besar adalah Kerajaan Kutai Kartanegara.

Pertambangan batubara pertama di Kerajaan Kutai Kartanegara dibuka di Batu Panggal pada tahun 1888 oleh insinyur tambang asal Belanda, J.H. Menten.

Selain batubara, Menten adalah insinyur yang juga meletakkan dasar bagi eksploitasi minyak di wilayah Kutai.

Dengan dibukanya pertambangan batubara dan mulai dilakukannya ekspolari minyak, maka kemakmuran wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara semakin meningkat.

Kerajaan Kutai Kartanegara di bawah Sultan Sulaiman mendaptakan oyalti atas pengeksloitasian sumber daya alam tersebut.

Sultan Sulaiman wafat pada tahun 1899. Beliau digantikan putera mahkotanya yaitu Aji Mohammad dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alimuddin.

Baca Juga :  10 Nama Raja-Raja Kerajaan Kediri (Lengkap)

Pada tahun 1907, misi Katolik pertama kali didirikan di Laham, Kutai Barat. Setahun kemudian, Kerajan Kutai Kartanegara menyerahkan wilayah hulu Mahakam ini kepada Belanda dengan menerima kompensasi sebesar 12.990 Gulden per tahun.

Masa kekuasaan Sultan Alimuddin berlangsung hanya dalam kurun waktu 11 tahun saja. Beliau meninggal dunia pada tahun 1910.

Pemegang tampuk kekuasaan selanjutnya adalah putra mahkota Aji Kaget. Namun karena usia beliau saat itu masih muda, maka untuk sementara pemerintahan dikendalikan oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.

Aji Kaget akhirnya dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit pada tanggal 14 Nopember 1920.

Pergantian tampuk kekuasaan di Kerajaan Kutai Kartanegara tidak mengganggu perkembangan ekonomi.

Memasuki abad ke-20, ekonomi Kerajaan Kutai Kartanegara berkembang pesat sebagai hasil pendirian perusahaan Borneo-Sumatra Trade Co.

Pada masa itu, Kerajaan Kutai Kartanegara memperoleh pemasukan yang sangat besar dari hasil royalti tambang.

Hingga tahun 1924, Kerajaan Kutai Kartanegara memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden – jumlah yang sangat fantastis untuk ukuran saat itu.

Dengan kekayaan yang sangat besar, pada tahun 1936, Sultan Aji Muhammad Parikesit membangun istana baru.

Istana yang megah dan kokoh yang terbuat dari bahan beton tersebut berhasil diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun.

Era pendudukan Jepang

Perputaran zaman terus berubah. belanda yang menguasai wilayah nusantara selama ratusan tahun mulai terdesak oleh kekuatan baru, yaitu Jepang.

Setelah kalah dalam berbagai pertempuran, melalui perjanjian Kalijati pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada tahun 1942.

Peristiwa ini juga berpengaruh terhadap Kerajaan Kutai Kartanegara.

Sebagai bekas wilayah Hindia belanda, maka Kerajaan Kutai Kartanegara juga tunduk terhadap penguasa baru, pemerintah militer Jepang.

Pada era pendudukan Jepang, Kerajaan Kutai Kartanegara berstatus Kooti, yaitu negara vasal dari pemerintahan militer kekaisaran jepang.

Status Kooti juga diberikan kepada kerajaan-kerajaan lain masa itu, seperti kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Surakarta dll.

Sebagai penguasa Kooti yaitu Sultan disebut dengan istilah Koo.

Era Kemerdekaan dan penghapusan kesultanan

Setelah menguasai sebagian besar wilayah pasifik dari tahun 1942 sampai awal tahun 1945, Jepang mulai terdesak oleh pasukan sekutu.

Pasukan sekutu bahkan berhasil merangsek masuk ke wilayah Jepang sendiri, melalui bom atom dan serangan darat oleh Uni Soviet.

Melihat kekalahan-demi kekalahan, Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Baca juga : Alasan Sebenarnya Jepang Menyerah Kepada Sekutu

Berita menyerahnya jepang dimanfaatkan dengan baik oleh para pejuang Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus, Soekarno Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia merdeka.

Dua tahun kemudian, pemerintah pusat membentuk Daerah Swapraja yang disebut Federasi Kalimantan Timur. Untuk mengaturnya maka dibentuk Dewan Kesultanan.

Federasi Kalimantan Timur terdiri dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara bersama dengan wilayah Kesultanan Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur, dan Pasir.

Pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaultan Indonesia melalui konferensi Meja Bundar (KMB).

Sebagi konsekuensi KMB maka negara Indonesia berbentuk negara federal dengan nama Negara Indonesia Serikat (RIS).

Wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara pun masuk ke dalam wilayah Negara Indonesia Serikat.

Pada tahun 1953, pemerintah pusat mengubah status Daerah Swapraja Kutai menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.

Pada tahun 1959, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang “Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan”, pemerintah pusat memecah wilayah Daerah Istimewa Kutai menjadi 3 Daerah Tingkat II, yaitu :

  1. Daerah Tingkat II Kutai dengan ibu kota Tenggarong
  2. Kotapraja Balikpapan dengan ibu kota Balikpapan
  3. Kotapraja Samarinda dengan ibu kota Samarinda

Pada tanggal 20 Januari 1960, di Samarinda, A.P.T. Pranoto sebagai Gubernur Kalimantan Timur, atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengangkat sumpah 3 kepala daerah untuk ketiga daerah swatantra baru tersebut, yaitu :

  1. A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai
  2. Kapt. Soedjono sebagai Wali kota Kotapraja Samarinda
  3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Wali kota Kotapraja Balikpapan

Sehari kemudian, di Balairung Kedaton Putih, Tenggarong, pada tanggal 21 Januari 1960, diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai.

Pokok acara sidang ini adalah serah terima kepala pemerintahan dari Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Kapten Soedjono (Wali kota Samarinda) dan A.R. Sayid Mohammad (Wali kota Balikpapan).

Maka semenjak saat itu, pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara di bawah Sultan Aji Muhammad Parikesit berakhir, dan beliau selanjutnya hidup sebagai rakyat biasa.

Penghidupan kembali kesultanan

Setelah vakum selama puluhan tahun, pada tahun 1999, niat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara muncul dipelopori oleh Bupati Kutai Kartanegara, Syaukani Hasan Rais.

Tujuan dari penghidupan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara adalah sebagia upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Untuk mewujudkan niat tersebut, maka pada tanggal 7 Nopember 2000, Bupati Kutai Kartanegara bersama Putera Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan ide tersebut.

Baca Juga :  Kerajaan Samudra Pasai : Sejarah Lengkap

Ternyata, Presiden Abdurrahman Wahid menyambut baik ide tersebut.

Sebagai tindak lanjut, maka pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II.

Silsilah Kerajaan Kutai Kartanegara

Kerajaan Kutai Kartanegara memiliki silsilah yang panjang dari sejak berdiri sebagai Kerajaan Hindu, berubah menjadi Kesultanan dan dihidupkan kembali pada tahun 2001.

Di bawah ini adalah daftar silsilah Kerajaan Kutai Kartanegara :

  1. Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325)
  2. Aji Batara Agung Paduka Nira (1325-1360)
  3. Aji Maharaja Sultan (1360-1420)
  4. Aji Raja Mandarsyah (1420-1475)
  5. Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya (1475-1545)
  6. Aji Raja Mahkota Mulia Alam (1545-1610)
  7. Aji Dilanggar (1610-1635)
  8. Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa Ing Martapura (1635-1650)
  9. Aji Pangeran Dipati Agung Ing Martapura (1650-1665)
  10. Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martapura (1665-1686)
  11. Aji Ragi Gelar Ratu Agung (1686-1700)
  12. Aji Pangeran Dipati Tua (1700-1730)
  13. Aji Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martapura (1730-1732)
  14. Aji Muhammad Idris (1732-1778)
  15. Aji Muhammad Aliyeddin (1778-1780)
  16. Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816)
  17. Aji Muhammad Salehhuddin (1816-1845)
  18. Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899)
  19. Aji Muhammad Alimuddin (1899-1910)
  20. Aji Muhammad Parikesit (1920-1960)
  21. H. Aji Muhammad Salehuddin II (1999-2018)
  22. H. Aji Muhammad Arifin (2018-sekarang)

Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Di bawah ini adalah beberapa artefak peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang disimpan di Museum Nasional Jakarta dan Museum Mulawarman Tenggarong Kalimantan Timur.

Ketopong Sultan

Gambar peninggalan kerajaan kutai kartanegara, ketopong sultan
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Ketopong Sultan. Artefak yang terbuat dari emas dengan bobot 1.98 kg ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Sementara replikanya terdapat di Musem Mulawarman Tenggarong Kalimantan Timur

Ketopong Sultan Kutai ini ditemukan pada tahun 1890 di daerah Muara Kaman, Kutai Kartanegara.

Mahkota ini pernah dipakai oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman dari tahun 1845 sampai 1899.

Selain terbuat dari emas, mahkota ini juga dilengkapi dengan permata.

Ketopong berbentuk mahkota brunjungan dan pada bagian muka berbentuk meru bertingkat berhias motif spiral dikombinasikan dengan motif sulur.

Pada bagian belakang mahkota terdapat hiasan berbentuk garuda mungkur berhias motif bunga, burung dan kijang.

Carl Bock yang merupakan penulis dan juga penjelajah, dalam bukunya yang berjudul The Head Hunters of Borneo menulis jika Sultan Aji Muhammad Sulaiman mempunyai 6 sampai 8 orang pengukir emas yang secara khusus membuat ukiran emas serta perak untuk Sultan.

Kalung Ciwa

gambar peninggalan kerajaan kutai kartanegara, kalung ciwa
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Kalung Ciwa. Kalung Ciwa saat ini masih digunakan sebagai perhiasan kerajaan dan pernah digunakan oleh Sultan dalam pesta adat Erau dalam rangka ulang tahun penobatan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura (sumber: kesultanan.kutaikartanegara)

Kalung Ciwa ditemukan oleh penduduk sekitar Danau Lipan, Muara Kaman pada era kekuasaan Sultan Aji Muhammad Sulaiman pada tahun 1890.

Penduduk kemudian menyerahkan perhiasan yang terbuat dari emas ini kepada pihak kesultanan Kutai Kartanegara.

Kalung Uncal

Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Kalung Uncal
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Kalung Uncal. Kalung Uncal terbuat dari emas 18 karat dengan berat 170 gram yang dihiasi relief Ramayana. Saat ini Kalung Uncal disimpan di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong (sumber : kesultanan.kutaikartanegara)

Awalnya, Kalung Uncal adalah perhiasan milik Kerajaan Kutai Martapura (dinasti Warman) namun semenjak kerajaan ini ditaklukan dan dipersatukan ke dalam kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kalung Uncal menjadi atribut Kutai Kartanegara.

Kalung Uncal dalam bahasa India dinamakan Unchele. Kalung ini biasanya dibuat sepasang, satu untuk pria dan satu untuk wanita.

Saat ini, hanya ada dua Kalung Uncal, selain yang disimpan di Musem Mulawarman, satunya lagi ada di India.

Menurut keterangan duta besar India yang datang ke Kalimantan Timur pada tahun 1954, bentuk dan ukuran Kalung Uncal Kutai sama dengan Kalung Uncal yang ada di India.

Oleh karena itu ada dugaan bahwa Raja Mulawarman adalah salah seorang keturunan dari raja-raja India bagian selatan.

Kura-Kura Mas

Gambar Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Kura-Kura Mas
Gambar Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara, Kura-Kura Mas. Artefak ini berukuran setengah kepalan tangan, terbuat dari emas. Saat ini benda peninggalan sejarah ini disimpan di Musem Mulawarman (foto :detiktravel)

Kura-Kura Mas ditemukan di daerah Lonh Lalang di hulu Sungai Mahakam.

Konon kabarnya, benda ini adalah salah satu hadiah dari seorang pangeran dari negeri China yang ingin mempersunting putri raja Kutai yang bernama Aji Bidara Putih.

Pedang Sultan Kutai Kartanegara

Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Pedang Kalimantan
Gambar peninggalan Kerajaan Kutai kartanegara, Pedang Kalimantan. Pedang milik Sultan Kutai Kartanegara ini terbuat dari emas dan bertahtakan batu mulia. Pada gagangnya ada relief harimau berhiaskan berbagai jenis batu mulia khas Kalimantan. Sedangkan bagian sarungnya berhiaskan ornamen buaya. Saat ini Pedang Sultan Kutai Kartanegara ini disimpan di Museum Nasional di Jakarta (sumber : liputan6.com)

Pedang Sultan Kutai Kartanegara yang juga disebut dengan nama Pedang Kalimantan adalah peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara dari abad ke 13.

Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara Lainnya

Selain peninggalan-peninggalan di atas, bukti sejarah peninggalan kerajaan Kutai Kartanegara lainnya, misalnya Tali Juwita, Keris Bukit Kang, Kelambu Kuning, Singgasana Sultan, Meriam Sapu Jagat, Meriam Gentar Bumi, Meriam Aji Entong, Meriam Sri Gunung, Tombak Kerajaan Majapahit, Keramik Kuno Tiongkok, Gamelan Gajah Prawoto, dan masih banyak lagi peninggalan yang kini disimpan di Musem Mulawarman di Kota Tenggarong.

Kitab Peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara

Sumber sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara adalah kitab Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara.

Dalam kitab ini diketahui bahwa ada dua kerajaan, yaitu Martapura dan Kartanegara. Kerajaan Kutai Martapura runtuh setelah ibukotanya diserang oleh Kerajaan Kutai Kartanegara.

Kitab ini telah dibukukan oleh Kementrian Pendidikan (saat itu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) dengan judul Salasilah Kutai.

Gambar kitab peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara
Gambar Buku Salasilah Kutai, kitab peninggalan Kerajaan Kutai Kartanegara (D.Adham, Salasilah Kutai, 1981, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan)

Rekomendasi bacaan terkait :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara. Semoga bermanfaat.