Katamasa

Kerajaan Kediri : Sejarah, Raja-raja, & Peninggalan (Lengkap)

Arca Wisnu, peninggalan raja-raja kerajaan Kediri (sumber : wikimedia commons/Gunawan kartapranata)

Kerajaan Kediri adalah kerajaan bercorak Hindu yang terletak di wilayah Jawa Timur.

Kerajaan Kediri berlangsung antara tahun 1042 Masehi-1222 Masehi.

Ibu kota kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri saat ini.

Daha adalah singkatan dari Dahanapura, yang artinya kota api.

Kerajaan Kediri berdiri akibat terpecahnya Panjalu menjadi dua kerajaan, yaitu Kediri dan Jenggala.

Namun, melalui informasi dari prasasti-prasasti yang telah ditemukan, bisa dikatakan kerajaan Kediri adalah kelanjutan dari kerajaan Panjalu. Sedangkan kerajaan Janggala dianggap pecahan dari kerajaan Panjalu.

Hal ini bisa dilihat pada prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Kediri awal yang lebih sering menggunakan nama Panjalu atau Pangjalu daripada nama Kadiri.

Bahkan, kronik Cina yang berjudul Ling wai tai ta (1178) juga menggunakan nama Panjalu atau Pu-chia-lung. Padahal pada tahun itu, Panjalu sudah terpecah menjadi dua kerajaan.

Bukti sejarah peninggalan Kerajaan Kediri terdiri dari candi, prasasti dan arca yang tersebar di wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk, dan Tulungagung.

Baca juga : Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Kediri umumnya berbahasa Jawa kuno dan ditulis dengan huruf Jawa Kuno/Kawi.

Daftar Isi

Hal Penting Terkait Kerajaan Kediri

Sebelum membahas secara mendalam tentang sejarah kerajaan Kediri, di bawah ini adalah pertanyaan dan jawaban pendek yang perlu Anda ketahui untuk lebih memahami isi artikel.

Kerajaan Kediri merupakan warisan dari kerajaan apa?

Kerajaan Kediri merupakan warisan dari kerajaan Panjalu/Kahuripan.
Kerajaan Kediri berdiri setelah Airlangga membagi Kerajaan Panjalu menjadi dua, yaitu Kediri dan Jenggala.
Namun, menurut data dari prasasti-prasasti Kerajaan Kediri maupun informasi dari kronik-kronik China, Kerajaan Kediri adalah kelanjutan Kerajaan Panjalu, sementara Jenggal dianggap sebagai pecahan Panjalu.

Kerajaan Kediri bercorak apa?

Kerajaan Kediri bercorak Hindu.
Hal ini bisa dibuktikan dari peninggalan-peninggalan Kerajaan Kediri seperti Candi dan kitab-kitab sastra keagamaan.
Candi-candi peninggalan Kediri menunjukan ciri-ciri sebagai bangunan pemujaan agama Hindu.
Kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri sebagian besar digubah berdasarkan kitab-kitab Hindu, seperti kitab Bhratayudha yang digubah berdasarkan kitab Mahabharata.

Kerajaan kediri berdiri pada tahun berapa?

Kerajaan Kediri berdiri pada tahun 1042 Masehi, saat Raja Airlangga membagi kerajaan Panjalu menjadi dua, yaitu Kediri dan Jenggala.

Siapa pendiri Kerajaan Kediri?

Kerajaan Kediri berdiri sebagai hasil pembagian kerajaan Panjalu menjadi dua, yaitu Kediri dan jenggala.
Dengan demikian tidak ada yang namanya pendiri kerajaan kediri.
Kalaupun ada, maka yang pantas disebut sebagai pendiri Kerajaan kediri adalah Airlangga, karena dia lah yang membagi kerajaan Panjalu.
Sementara raja pertama kerajaan kediri adalah Sri Samarawijaya.

Kerajaan Kediri terletak di daerah mana?

Pusat kerajaan Kediri terletak di kota Daha, kota Kediri sekarang.
Sementara wilayah kekuasaan kerajaan Kediri adalah bagian barat dari wilayah kerajaan Panjalu.

Apa penyebab keruntuhan Kerajaan kediri?

Penyebab runtuhnya kerajaan Kediri adalah adanya serangan dari ken Arok yang selanjutnya mendirikan kerajaan Singhasari/Tumapel.

Dalam artikel ini kita akan membahas Sejarah Kerajaan Kediri, termasuk apa saja peninggalan-peninggalan purbakala yang dikaitkan dengan kerajaan bercorak Hindu ini.

Sejarah Kerajaan Kediri

Sejarah Kerajaan Kediri tidak bisa dilepaskan dari nama raja Airlangga.

Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh lagi, silsilah Kerajaan Kediri bisa ditelusuri sampai Kerajaan Medang (Mataram Kuno periode Jawa Timur).

Airlangga adalah putra dari Ratu Mahendradatta yang menjadi permaisuri Kerajaan Badhahulu (Kerajaan Bali Kuno).

Mahendradatta adalah puteri raja Sri Makutawangsawardhana, putra dari pasangan Sri Lokapala dan Sri Isana Tunggawijaya, putri dari Mpu Sindok sang pendiri wangsa Isyana penguasa Medang.

Pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh, istana Kerajaan Medang tiba-tiba diserang pasukan Wurawari dari Lwaram dengan bantuan pasukan Sriwijaya.

Saat itu adalah hari pernikahan putri Dharmawangsa Teguh dengan Airlangga yang merupakan keponakannya sendiri.

Airlangga yang lolos dari peristiwa yang disebut sebagai mahapralaya Medang itu kemudian mendirikan kerajaan baru sebagai penerus Kerajaan Medang, yaitu Kerajaan Panjalu (Kahuripan).

Namun, ketika Airlangga turun tahta, putri mahkota yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi tidak bersedia menjadi raja, namun memilih menjadi pertapa yang bernama Dewi Kilisuci.

Kemudian terjadilah perebutan tahta antara kedua putranya yang masing-masing merasa berhak atas tahta Kerajaan Panjalu (kahuripan).

Untuk meredakan perselisihan antara kedunya, Airlangga terpaksa membagi kerajaannya menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada November 1042 Masehi.

Maka terbentuklah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut sebagai Kerajaan Kediri dengan ibu kota di Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya.

Sementara kerajaan timur disebut Kerajaan Janggala dengan ibu kota di Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Masa Kejayaan Kerajaan Kediri

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang periode awal Kerajaan Kediri, setelah dipecahnya kerajaan Panjalu oleh Airlangga.

Prasasti Turun Hyang II (1044) yang dikeluarkan oleh Raja Kerajaan Jenggala hanya menginformasikan bahwa terjadi perang saudara antara kedua kerajaan paska wafatnya Airlangga.

Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa.

Raja-raja Kediri sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah bisa diidentifikasi, sedangkan urutan nama-nama raja setelah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui berdasarkan informasi dari prasasti-prasasti yang telah ditemukan.

Salah satu raja kerajaan kediri adalah Sri Jayabhaya yang mengeluarkan prasasti Hantang/Ngantang (1135) dengan pahatan semboyan yang terkenal, yaitu Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya, Kerajaan Kediri berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala.

Dengan demikian, Kerajaan Panjalu dapat disatukan kembali.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mencapai puncak kejayaannya.

Wilayah kekuasaan kerajaan ini mencakup seluruh pulau Jawa dan beberapa pulau di Nusantara. Bahkan pengaruhnya melebihi pengaruh Sriwijaya.

Bukti ini terdapat dalam berita yang dicatat oleh kronik Cina Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri termakmur selain Tiongkok secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra.

Pada masa itu, penguasa wilayah Arab adalah Bani Abbasiyah, penguasa Jawa adalah Kerajaan Panjalu, sedangkan penguasa Sumatra adalah Kerajaan Sriwijaya.

Buku Chu-fan-chi menginformasikan bahwa negeri Jawa/Panjalu dipimpin oleh seorang maharaja yang berkuasa atas wilayah bawahan, seperti : Pai-hua-yuan (Pacitan), Ma-tung (Medang), Ta-pen (Tumapel, Malang), Hi-ning (Dieng), Jung-ya-lu (Hujung Galuh, sekarang Surabaya), Tung-ki (Jenggi, Papua Barat), Ta-kang (Sumba), Huang-ma-chu (Papua), Ma-li (Bali), Kulun (Gurun, mungkin Gorong atau Sorong di Papua Barat atau Nusa Tenggara), Tan-jung-wu-lo (Tanjungpura di Borneo), Ti-wu (Timor), Pingya-i (Banggai di Sulawesi), dan Wu-nu-ku (Maluku).

Bukti lain masa kejayaan Kediri/Panjalu adalah terciptanya karya-karya sastra bermutu tinggi, misalnya :

Runtuhnya Kerajaan Kediri

Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya akibat serangan Ken Arok akuwu Tumapel, saat itu bawahan Kediri.

Selanjutnya, Ken Arok mendirikan kerajaan Tumapel/Singhasari dan menjadikan Kediri sebagai wilayah bawahan.

Sumber Sejarah Kerajaan Kediri

Prasasti adalah sumber sejarah kerajaan Kediri yang paling bisa diandalkan untuk mengungkap keberadaan kerajaan bercorak Hindu ini.

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Kediri tidak hanya ditemukan di wilayah yang saat ini masuk wilayah administrasi kabupaten Kediri dan Kota kediri.

Prasasti-prasasti Kediri juga ada yang ditemukan di wilayah lainnya, seperti Blitar, Nganjuk dan Tulungagung.

Selain prasasti, sumber sejarah yang bisa digunakan untuk mengungkap keberadaan kerajaan ini adalah prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh kerajaan setelahnya, seperti prasasti dari kerajaan Singhasari dan Majapahit.

Selain itu, informasi juga dipeoleh dari kitab Desawarnana atau Negarakertagama yang ditulis pada masa Majapahit.

Sumber sejarah yang diperoleh dari luar negeri, misalnya adalah kronik-kronik China yang menceritakan tentang negeri-negeri di laut selatan.

Letak Kerajaan Kediri

Lokasi kerajaan Kediri adalah di wilayah Jawa Timur dengan pusatnya di kota Daha atau Kota Kediri sekarang.

Pada masa kejayaannya, wilayahnya meluas sampai ke luar wilayah Pulau Jawa.

Raja-Raja Kerajaan Kediri

Silsilah Kerajaan Kediri bisa dirujuk kepada Raja Airlangga, pendiri kerajaan Panjalu/Kahuripan.

Minimnya informasi yang bisa diperoleh dari peninggalan-peninggalan purbakala yang telah ditemukan membuat masa-masa awal kerajaan ini sulit diketahui.

Bahkan, banyak di antara peninggalan kerajaan ini yang sudah rusak sehingga sangat sulit diidentifikasi.

Namun, penemuan prasasti Sirah Keting yang berangka tahun 1104 mulai membuka sedikit informasi sejarah Kerajaan ini.

Prasasti ini menyebutkan nama satu orang raja Kerajaan Kediri, yaitu Sri Jayawarsa.

Sayangnya sampai saat ini, nama raja-raja sebelum Sri Jayawarsa, hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui secara pasti.

Sementara nama raja-raja yang berkuasa setelah Sri Jayawarsa sudah bisa diketahui berdasarkan informasi dari prasasti-prasasti yang sudah ditemukan.

Di bawah ini adalah daftar nama raja-raja Kerajaan Kediri yang telah diketahui berdasarkan informasi dari prasasti.

Sri Samarawijaya

Seperti dijelaskan di atas, Kerajaan Kediri terbentuk sebagai hasil pemecahan Kerajaan Panjalu menjadi dua bagian.

Sri Samarawijaya adalah raja Kerajaan Kediri yang pertama dengan gelar abhiseka, yaitu Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttunggadewa.

Sri Samarawijaya menjadi raja sejak tahun 1042 Masehi.

Dalam gelar abhiseka Sri Samarawijaya terdapat unsur Teguh. Hal ini mengindikasikan bahwa dirinya adalah putra Airlangga dari istri yang merupakan putri dari Raja Dharmawangsa Teguh.

Tidak banyak yang diketahui dari masa pemerintahan Sri Samarawijaya. Karena sampai saat ini belum ditemukan satu pun prasasti atas namanya.

Satu-satunya informasi yang diketahu tentang dirinya adalah saat penobatannya, yaitu pada tahun 1042 Masehi.

Informasi ini diketahui dari prasasti Pamwatan dan prasasti Gandhakuti yang menceritakan bahwa pada tahun 1042 Masehi Raja Airlangga turun takhta untuk menjadi pendeta.

Kapan berakhirnya Sri Samarawijaya menjadi raja tidak diketahui dengan jelas.

Penemuan prasasti Sirah Keting yang berangka tahun 1104 Masehi, sudah menyebutkan nama raja yang lain, yaitu Sri Jayawarsa.

Tidak diketahui dengan pasti apakah Sri Jayawarsa menjadi raja menggantikan Sri Samarawijaya, ataukah terdapat raja yang lain yang berada di antara keduanya.

Jitendrakara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta

Terdapat nama seorang raja bernama Jitendrakara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta, yang menyebut dirinya adalah Raja kerajaan Panjalu.

Raja ini tercatat dalam Prasasti Mataji yang terbit pada tahun 973 Saka atau 1051 Masehi. Lebih tua dibandingkan prasasti Sirah Keting (1104 Masehi) yang menyebutkan nama Raja Sri Jayawarsa.

Prasasti Mataji menceritakan bahwa di wilayah Desa Mataji yang adalah wilayah Kerajaan Panjalu, sering terjadi pertempuran. Warga desa Mataji terlibat dengan membantu kerajaan untuk mengusir musuh.

Dari angka tahun prasasti Mataji yang lebih tua dibandingkan prasasti Sirah Keting, maka Jitendrakara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta menjadi raja Kerajaan Kediri lebih dulu dibandingkan Sri Jayawarsa.

Pertanyaanya, siapakah Raja Jitendra?

Apakah raja ini adalah raja kediri pengganti Sri Samarawijaya atau kah nama lain Sri Samarawijaya? Belum bisa dipastikan kebenarannya.

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang raja ini.

Namanya tercatat dalam prasasti Mataji seperti yang sudah diceritakan di atas.

Dari prasasti itu diketahui bahwa Raja Jitendrakara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta menjadi raja sekitar tahun 973 Saka atau 1051 Masehi.

Jarak terbitnya prasasti Mataji yaitu tahun 1051 Masehi dengan penobatan Sri Samarawijaya pada 1042 Masehi hanya berjarak 9 tahun.

Waktu yang cukup dekat. Maka patut diduga bahwa Sri Samarawijaya menjadi raja paling lama sekitar 9 tahun.

Selanjutnya, raja yang kedua sebagai pengganti Sri Samarawijaya adalah Raja Jitendrakara Wuryyawiryya Parakrama Bhakta.

Atau, kedua nama ini (Sri Samarawijaya dan Jitendra) adalah raja Kediri yang sama.

Sri Jayawarsa

Informasi tentang Sri Jayawarsa sebagai raja kerajaan Kediri diperoleh dari Prasasti Sirah Keting yang berangka tahun 1126 Saka (1204 Masehi).

Informasi tentang Sri Jayawarsa juga didapatkan dari Prasasti Mrwak berangka tahun 1108 Masehi.

Sri Jayawarsa menjadi raja dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu.

Tidak diketahui dengan jelas kapan Sri Jayawarsa naik takhta dan kapan turun tahta.

Pada Prasasti Panumbangan (1120 Masehi) hanya didapatkan informasi tentang di mana raja ini dicandikan, yaitu di tempat yang disebut Gajapada.

Setelah Sri Jayawarsa, raja selanjutnya adalah Sri Bameswara. Informasi ini diperoleh dari Prasasti Pikatan berangka tahun 1117 Masehi.

Sri Bameswara

Belum diketahui dengan jelas kapan sebenarnya Sri Bameswara dinobatkan sebagai raja Kerajaan Kediri.

Prasasti tertua yang menyebutkan namanya adalah Prasasti Pikatan atau Padlegan I, berangka tahun 1117 Masehi.

Sri Bameswara menjadi raja dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Bameswara Sakalabhuwana Tustikarana Sarwaniwariwirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa.

Pada tanggal tahun 1120 Masehi, Sri Bameswara menerbitkan prasasti Panumbangan.

Prasasti lainnya yang mencantumkan nama Sri Bameswara adalah prasasti Tangkilan, berangka tahun 1130 Masehi.

Selain tidak diketahui kapan raja ini naik tahta, juga tidak diketahui dengan jelas kapan pemerintahannya berakhir.

Yang pasti, berdasarkan Prasasti Ngantang (1135 Masehi) Raja Kerajaan Kediri yang memerintah pada tahun tersebut adalah Sri Jayabhaya.

Sri Jayabaya

Maharaja Sri Jayabhaya adalah Raja yang berkuasa antara tahun 1135-1157 Masehi.

Gelar abhiseka Sri Jayabaya sebagai raja adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Peninggalan sejarah Kerajaan Kediri masa pemerintahan Sri Jayabaya diantaranya adalah prasasti Ngantang/Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Para peneliti banyak yang berpendapat bahwa pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya, Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan.

Pada prasasti Hantang/prasasti Ngantang terdapat semboyan Sri Jayabaya yang terkenal, yaitu Panjalu Jayati, yang artinya Kediri menang.

Prasasti ini memberikan informasi penting bahwa Sri Jayabaya berhasil mempersatukan kembali Kerajaan Panjalu, setelah mengalahkan Jenggala.

Sri Sarwaswera

Raja pengganti Sri Jayabaya adalah Sri Sarweswara. Diperkirakan masa pemerintahan Sri Sarweswara adalah sekitar tahun 1159-1161.

Gelar abhiseka Sri Sarweswara selaku raja Kerajaan Kediri adalah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardanawatara Wijaya Agrajasama Singhadani Waryawirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa.

Belum diketahui secara jelas kapan Sri Sarweswara naik takhta. Apakah dirinya menjadi raja setelah Sri Jayabaya atau ada raja lain di antara keduanya, tidak diketahui.

Peninggalan sejarah Kerajaan kediri masa pemerintahan Sri Sarweswara prasasti Padelegan II, berangka tahun 1159 dan prasasti Kahyunan, berangka tahun 1161.

Tidak diketahui pula kapan Sri Sarweswara turun takhta. Yang pasti, prasasti Angin yang berangka tahun 1171 Masehi sudah memberitakan nama raja yang lain, yaitu Sri Aryeswara.

Sri Aryeswara

Nama raja Sri Aryeswara tercatat dalam prasasti Waleri dan prasasti Angin berangka tahun 1171.

Sri Aryeswara menjadi raja dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka.

Sama seperti raja sebelumnya, tidak diketahui juga kapan masa pemerintahannya berakhir.

Yang pasti, berdasarkan prasasti Jaring yang berangka tahun 1181 raja Kerajaan Kediri selanjutnya adalah Sri Gandra.

Sri Gandra

Nama Sri Gandra tercatat sebagai raja kerajaan Kediri pada prasasti Jaring, berangka tahun 1181.

Nama gelar abhisekanya adalah Sri Maharaja Koncaryadipa Handabhuwanapadalaka Parakrama Anindita Digjaya Uttunggadewa Sri Gandra.

Tidak diketahui secara pasti kapan pemerintahan Sri Gandra berakhir. Berdasarkan prasasti Semanding tahun 1182, raja selanjutnya adalah Sri Kamesywara.

Sri Kamesywara

Sri Kamesywara adalah raja Kerajaan Kediri yang berkuasa antara tahun 1180-1190-an.

Sri Kamesywara menjadi raja dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Sri Kamesywara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa.

Nama Sri Kamesywara tercatat dalam prasasti Semanding, berangka tahun 1182 dan prasasti Ceker, berangka tahun 1185.

Belum diketahui sampai kapan masa pemerintahan Sri Kamesywara.

Prasasti Kamulan (1194) memberitakan bahwa raja Kerajaan Kediri pada saat itu adalah Sri Kertajaya.

Sri Kertajaya

Nama Sri Kertajaya terdapat dalam prasasti Galunggung (1194), prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), dan prasasti Wates Kulon (1205).

Dalam prasasti-prasasti itu bisa diketahui gelar abhisekanya adalah Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

Sri Maharaja Kertajaya adalah raja kerajaan Kediri yang terakhir.

Masa pemerintahannya sekitar tahun 1194-1222.

Pada akhir pemerintahan Sri Kertajaya, Kerajaan Kediri dihancurkan oleh Ken Arok dari Tumapel atau Singhasari, yang menjadi akhir riwayat kerajaan kediri.

Lencana Raja-raja Kediri

Dalam setiap prasasti yang diterbitkannya, raja-raja Kediri menggunakan lencana yang berbeda untuk tiap-tiap raja.

Setidaknya, sampai saat ini diketahui terdapat 7 lencana raja Kediri yang sudah diketahui.

Garudmukhalancana

Garudmukhalancana adalah cap kerajaan yang berbentuk manusia bersayap berkepala burung garuda.

Lencana ini dipergunakan oleh Raja Airlangga, leluhur raja-raja kediri.

Bamecwaralancana

Bamecwaralancana adalh cap kerajaan yang berbentuk tengkorak yang mengigit bulan sabit.

Lencana Bamecwaralancana ditemukan dalam prasasti-prasasti yag diterbitkan oleh Cri Maharaja Cri Bamecwara Sakalabuanatustijarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayotunggadewa.

Jayabhayalancana

Jayabhayalancana berbentuk Narasinghavatara (salah satu awatara Wisnu) yang berwujud manusia berkepala singa yang sedang mencabik perut raja raksasa Hiranyakasipu. Di dalam lencana tersebut terpahat tulisan Panjalu Jayati.

Sarwwecwaralancana

Sarwwecwaralancana berwujud 9 buah sayap dan pada bagian ujung terdapat lingkaran berjambul dan dikelilingi 3 lingkaran bergaris.

Sarwwecwaralancana terdapat dalam prasastiprasasti yang diterbitkan oleh Cri Maharaja Rakai Sirikan Cri Sarwwecwara Janarddhanawatara Wijayagrajasama Singhanadaniwaryyawiryya Parakrama Digjayatungga-dewanama.

Aryyecwaralancana

Aryyecwaralancana adalah cap kerajaan berwujud Ganesha.

Aryyecwaralancana terpahat dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh Cri Maharaja Rakai Hino Cri Aryyecwara Madhusudanawatarijaya Mukha, Sakalanhuana tustikarana niwaryya Parakramotunggadewanama.

Kamecwaralancana

Kamecwaralancana berupa gambar kerang bersayap.

Lencana ini terpahat dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan atas perintah raja Cri Maharaja Cri Kamecwara Triwikramawatara Aniwaryyawirya Parakrama Digjayotunggadewanama.

Crnggalancana

Crnggalancana adalah capa raja kediri berupa

Lencana ini ditemukan dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh Cri Maharaja Cri Carwwecwara Triwikamawatara Nindita Cringgalancana Digjayotunggadewa atau Kertajaya.

Crnggalancana terdapat dua versi.

Pada masa awal pemerintahannya, Kertajaya menggunakan lencana berupa cangka diapit dua tanduk dan bersambung dengan tulisan “Krtajaya” di atasnya.

Lencana ini bisa dilihat di Prasasti Sapu Angin (1112 Caka / 1190 Masehi).

Dalam prasasti-prasasti selanjutnya, Kertajaya menggunakan lencana kerajaan yang berbeda, yaitu berupa benda kotak miring berlipat-lipat yang diapit oleh tanduk serta dikelilingi sayap.

Peninggalan Kerajaan Kediri

Peninggalan Kerajaan Kediri terdiri dari prasasti, candi, arca dan berbagai kitab-kitab sastra.

Peninggalan sejarah kerajaan ini tidak hanya ditemukan di wilayah Kabupaten Kediri dan Kota Kediri, namun juga di wilayah Blitar, Nganjuk, dan Tulungagung.

Di bawah ini adalah daftar peninggalan kerajaan Kediri yang sudah ditemukan sampai saat ini.

Prasasti Kerajaan Kediri

Di antara semua peninggalan kerajaan Kediri, informasi tentang kerajaan ini paling banyak didapatkan dari prasasti-prasasti.

Hal ini wajar saja, karena prasasti-prasasti Kediri mencantumkan dengan jelas nama raja yang mengeluarkannya dan juga tahun kapan prasasti itu diterbitkan.

Informasi tentang kerajaan Kediri paska peristiwa pembagian wilayah datang dari Prasasti Turun Hyang yang diterbitkan oleh Mapanj Garasakan, Raja jenggala.

Prasasti Turun Hyang menceritakan bahwa terjadi peperangan antara jenggala melawan kediri, namun tidak disebutkan dengan jelas siapa raja Kediri tersebut.

Kemungkinan raja kediri yang disebut sebagai Haji Panjalu dalam prasasti Turun Hyang (1044) adalah Sri Samarawijaya.

Sampai saat ini, belum ditemukan ada prasasti yang terbit atas nama Sri Samarawijaya.

Prasasti Kerajaan Kediri tertua yang saat ini sudah ditemukan adalah Prasasti Mataji, yang menyebut nama Raja Jitendra.

Mengingat tahun terbitnya prasasti Mataji (1051) dan peristiwa pecahnya Kerajaan Panjalu (1042) hanya berjarak 9 tahun dan 7 tahun dengan tahun terbitnya prasasti Turun Hyang (1044), maka bisa dibuat beberapa analisa.

  1. Raja yang disebut dalam prasasti Turun Hyang dan Prasasti Mataji adalah orang yang sama. Dalam prasasti Mataji disebut dengan jelas nama raja itu adalah Jitendra. Kalau analisa ini benar, maka Sri Samarawijaya sama dengan Raja Jitendra.
  2. Raja yang disebut dalam prasasti Turun Hyang dan Prasasti Mataji adalah orang yang berbeda. Jika ini yang benar, maka Raja Jitendra adalah pengganti raja Sri Samarawijaya.

Baca selengkapnya : Daftar Nama raja-raja kerajaan Kediri

Prasasti peninggalan kerajaan Kediri yang sudah ditemukan sampai saat ini berjumlah 22 buah.

Tidak menutup kemungkinan di masa mendatang akan lebih banyak lagi prasasti-prasasti yang akan ditemukan.

Di bawah ini adalah penjelasan tentang 22 prasasti kerajaan Kediri yang sudah ditemukan.

Prasasti Mataji

Prasasti Mataji adalah prasasti kerajaan Kediri yang ditemukan di Desa Bangle, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur (sumber : Kemdikbud)

Prasasti Mataji terbit tahun 973 Çaka atau 1051 M dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno.

Prasasti Mataji adalah prasasti yang diterbitkan raja yang bergelar Śrī Mahārajyetêndrakara Wuryyawīryya Parakramā Bhakta dan Śrī Mahārajyetêndra Paladewa.

Prasasti Mataji berisi tentang pemberian anugerah kepada desa Mataji sebagai sīma gaňjaran.

Prasasti Mataji adalah prasasti kerajaan Kediri pertama yang memberikan informasi tentang situasi kerajaan paska peristiwa pembagian Panajalu oleh raja Airlangga (sumber pustaka : Shalihah Sri Prabarani, 2009, Prasasti Mātaji: Sebuah Kajian Data Sejarah, dalam Skripsi Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia)

Prasasti Sirah Keting

Prasasti Sirah Keting adalah prasasti peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di daerah Ponorogo, Jawa Timur. Prasasti Sirah Keting sekarang disimpan di Museum Nasional dengan Nomor Inventaris D33 dan D172. Prasasti ini patah menjadi dua bagian, yang bagian atas bernomor inventaris D33 dan bagian bawah bernomor D172.

Prasasti Sirah Keting adalah prasasti Kerajaan Kediri yang diterbitkan oleh Sri Jayawarsa.

Prasasti Sirah Keting terbit pada tahun 1126 Saka (1204 Masehi).

Prasasti Sirah Keting berisi tentang pengesahan Desa Marjaya sebagai tanah perdikan atau sima swatantra oleh Sri Jayawarsa.

Prasasti Mrwak

Prasasti Mrwak berbahan batuan andesit, berbentuk balok dengan variasi puncak setengah lingkaran. Prasasti kerajaan Kediri ini berukuran tinggi 84 cm, lebar 60 cm (atas) dan 45 cm (bawah), bagian bawahnya berbentuk bunga padma (foto :satriotomo-gombal.blogspot.com)

Berdasarkan penelitian Churmatin Nasoichah, Balai Arkeologi Medan, Prasasti Mrwak (1108 Śaka/1186 M) adalah berisi penetapan Desa Mruwak menjadi sīma.

Prasasti Mrwak beraksara dan berbahasa Jawa Kuna yang dipahatkan di semua sisinya. Bentuk hurufnya kasar, tidak teratur serta pada beberapa bagian sudah aus. Sisi lainnya ditumbuhi lumut dan jamur yang menyebabkan prasasti tersebut rusak (Nasoichah,2007:23–24).

Prasasti Pikatan/Padlegan I

Gambar Prasasti Kerajaan Kediri, Prasasti Padlegan 1. Prasasti peninggalan Kerajaan kediri ini ditemukan di Desa Pikatan, Blitar. Prasasti Padlegan 1 selanjutnya dipindahkan ke Pendopo Kabupaten Blitar (sekarang jadi Museum Penataran Kabupaten Blitar). Prasasti Padlegan 1 berbentuk stella, dengan puncak kurawal. Prasasti Padlegan 1 berukuran tinggi : 145 Cm, lebar atas 81 cm, lebar bawah : 70 cm, tebal : 18 cm (foto : Andrikryawarman).

Prasasti tertua yang menyebutkan nama Raja Bameswara adalah Prasasti Pikatan atau Padlegan I, berangka tahun 1117 Masehi.

Pada prasasti ini dia menyebutkan dirinya sebagai Sang Juru Panjalu atau sang penguasa Panjalu.

Prasasti Pikatan/Padelegan I menceritakan tentang penetapan desa Padelegan sebagai sima swatantra oleh Sri Bameswara karena penduduknya setia membantu raja dalam pertempuran.

Prasasti Panumbangan

Prasasti Panumbangan I terletak di area situs Cagar Budaya Gapura Plumbangan, Di Desa Plumbangan, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Prasasti Panumbangan 1 berbahan batu Andesit dan berbentuk kurawal. Prasasti peninggalan Kerajaan Kediri ini berukuran Tinggi : 78 cm, Lebar atas : 120 cm, Lebar bawah : 90 cm, Tebal 26. Pada bagian bawah prasasti berhiaskan ornament Padmasana berukuran Tingi 35 cm dan Panjang : 90 cm (foto: Andrikyawarman)

Pada tanggal tahun 1120 Masehi, Sri Bameswara menerbitkan prasasti Panumbangan.

Prasasti Panumbangan menceritakan tentang permohonan penduduk desa Panumbangan agar piagam penetapan desa mereka menjadi sima swatantra yang awalnya ditulis menggunakan daun lontar agar ditulis ulang di atas batu.

Prasasti Tangkilan

Gambar Prasasti Kerajaan Kediri, Prasasti Tangkilan. Prasasti peninggalan Kerajaan kediri ini terletak di dusun Tangkilan, Desa Padangan, Kecamatan kayen Kidul, kediri. Bagian bawah prasasti Tangkilan berhiaskan padma.

Prasasti Tangkilan diterbitkan oleh Raja Bameswara dengan ciri adanya lencana Candra kapala, yaitu pada tahun 1052 Saka (1130 masehi).

Prasasti Ngantang

Gambar Prasasti Kerajaan Kediri, Prasasti Ngantang. Prasasti Ngantang berbahan batu andesit. Bagian tengah prasasti berukuran tinggia 159 cm, sedangkan tepiannya memiliki tinggi 145 cm. Lebar prasasti bagian atas 89 cm, sedangkan bagian bawah 68 cm. Aksara yang terpahat di batu prasasti tersebut adalah aksara Jawa kuno dan berbahasa Jawa Kuno pula. Di bagian depan sampai sisi kanan terdiri dari 26 baris dan di bagian belakang sampai sisi kiri terdiri dari 29 baris. Sementara itu, di bagian alasnya terdapat lanjutan kalimat, namun kalimatnya sangat sulit terbaca. Salah satu prasasti peninggalan kerajaan kediri ini saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomer inventaris D.9

Prasasti Ngantang diterbitkan sebagai anugerah untuk warga desa Ngantang karena setia membantu raja dalam perang melawan Kerajaan Jenggala.

Pada prasasti Hantang/prasasti Ngantang terdapat semboyan Sri Jayabaya yang terkenal, yaitu Panjalu Jayati, yang artinya Kediri menang.

Prasasti Talan/Munggut

Gambar Prasasti Kerajaan Kediri, Prasasti Talan/prasasti Munggut. Prasasti Talan ditemukan di Desa Gurit, Kelurahan Wlingi, Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Prasasti peninggalan kerajaan Kediri ini berukuran tinggi 1, 30 meter, lebar atas 0,97 meter dan lebar bawah 0,75 meter (foto : Andrikyawarman)

Isi prasasti Talan adalah tentang anugrah Raja Jayabhaya kepada desa Talan sebagai sima karena telah menyimpan prasasti ripta (lontar) dari Raja Airlangga.

Prasasti lontar tersebut kemudian disalin oleh Raja Jayabahaya ke prasasti batu dan diberi tambahan anugerah lain karena warga Talan telah berbakti kepada Paduka Mpungku yang memiliki cap kerajaan Garuda Mukha (Suhadi & Richadiana : 1997 : 56-57).

Prasasti Jepun

Prasasti Jepun merupakan peninggalan Kerajaan Kediri, masa pemerintahan Raja Jayabhaya, yaitu pada tahun 1144 Masehi.

Prasasti jepun berisi anugerah sima kepada desa Jepun oleh Raja Jayabhaya.

Prasasti Padlegan II

Gambar Prasasti Kerajaan Kediri, Prasasti Padlegan II. Museum Wajakensis Tulungagung (foto : Siwi Sang)

Prasasti Padlegan II adalah peninggalan sejarah Kerajaan kediri masa pemerintahan Sri Sarweswara, berangka tahun 1159 Masehi.

Prasasti Padlegan II adalah prasasti yang diterbitkan untuk tujuan pemberian anugerah pamuwuh (anugerah tambahan). Hal itu ditunjukkan dengan adanya prasasti lain dari masa pemerintahan raja Bameswara yaitu prasasti Padlegan I (1038 Saka). Dalam prasasti Padlegan I menyebutkan nama-nama tempat yang sama dengan prasasti Padlegan II (1081 Saka) (sumber).

Prasasti Kahyunan

Prasasti Kahyunan adalah prasasti Raja Sarweswara yang paling muda, yang ditemukan sampai saat ini.

Prasasti Kahyunan adalah prasasti yang diterbitkan pada tahun 1082 Saka atau 1160 Masehi.

Prasasti Waleri

Prasasti Weleri adalah prasasti pada masa pemerintahan Sri Aryeswara.

Prasasti ini ditemukan di desa Mlerti, Kecamatan Srengat, Blitar, Jawa Timur.

Prasasti Weleri berangka tahun 1091 Saka atau 1169 Masehi.

Prasasti Angin

Prasasti Angin juga diterbitkan oleh Raja Sri Aryeswara, pada tahun 1093 Saka atau 1171 Masehi.

Prasasti Angin ditemukan di desa Jemekan, kecamatan Ringinharjo, Kediri, Jawa Timur, kini menjadi koleksi museum Airlangga di Kota Kediri.

Prasasti Jaring

Prasasti Jaring adalah prasasti pada masa raja Sri Gandra.

Prasasti Jaring terbit pada tahun 1181 Masehi.

Prasasti Jaring menceritakan bahwa Sri Gandra mengabulkan permohonan penduduk desa Jaring melalui Senapati Sarwajala terkait anugerah raja sebelumnya yang belum terwujud.

Prasasti Semanding

Prasasti Semanding diterbitkan oleh Raja Sri Kameswara pada tahun 1104 Saka / 1182 Masehi.

Prasasti Semanding ditemukan di Desa Bangle Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar.

Prasasti ini sekarang menjadi salah satu koleksi Museum Airlangga Kota Kediri.

Prasasti Ceker

Prasasti Ceker diterbitkan pada tahun 1107 Saka / 1185 Masehi oleh raja Sri Kameswara.

Prasasti Ceker ditemukan di Dukuh Ceker Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri.

Prasasti ini sekarang berada di Museum Airlangga Kota Kediri.

Prasasti Sapu Angin

Prasasti Sapu Angin adalah prasasti peninggalan raja terkahir Kediri, yaitu Cri Maharaja Cri Carwwecwara Triwikamawatara Nindita Cringgalancana Digjayotunggadewa atau yang lebih dikenal dengan Sri Kertajaya.

Prasasti Sapu Angin terbit pada tahun 1112 Saka / 1190 Masehi.

Dalam prasasti ini, raja Sri Kertajaya menggunakan Lancana bergambar cangka diapit dua tanduk dan bersambung dengan tulisan “Krtajaya” di atas.

Prasasti Kamulan

Prasasti Kamulan ditemukan di Desa Kamulan, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur.

Dalam prasasti ini dipahatkan tahun terbitnya prasasti, yaitu tahun 1116 Saka/31 Agustus 1194 Masehi.

Prasasti Kamulan diterbitkan oleh Raja Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawantara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa atau biasa dikenal dengan nama Kertajaya.

Prasasti Galunggung

Prasasti Galunggung adalah prasasti peninggalan Kerajaan Kediri yang ditemukan di Rejotangan Tulungagung.

Prasasti Galunggung ditulis menggunakan huruf Jawa kuno yang berderet rapi.

Dari bagian yang masih bisa dibaca, prasasti ini diduga terbit pada tahun 1123 Saka/1201 Masehi, pada masa pemerintahan Sri Kertajaya.

Prasasti Palah

Prasasti Palah ditemukan di kompleks Candi Penataran, di Kabupaten Blitar, jawa Timur. Prasasti Palah ditulis dengan huruf Jawa Kuno.

Prasasti Palah terbit pada tahun 1119 Saka/1197 Masehi, oleh Raja Srengga/Kertajaya.

Isi Prasasti Palah adalah tentang peresmian tanah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Palah.

Hal ini membuat para peneliti menduga bahwa yang dimaksud dengan Palah tidak lain adalah Candi Penataran.

Prasasti Lawadan

Prasasti Lawadan berbahan batu andesit yang berbentuk lempeng, berukuran panjang = 121 cm, lebar bagian atas = 91 cm dan bawah 78 cm, tebal = 30 cm.

Prasasti Lawadan terbit pada hari Jumat (Sukra), hari Pahing, tanggal ke-6 (sasthi) paro terang (suklapaksa) bulan Nopember (Marggasirsamasa). Sayangnya, angka tahun sudah aus.

Namun kemudian, L.C. Damais (1955:50) memberikan angka 1127 Saka.

Sehingga jika dikonversi ke Masehi, Prasasti Kerajaan Kediri ini terbit pada tanggal 18 Nopember 1205.

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Belum banyak ditemukan peninggalan kerajaan Kediri yang berupa bangunan candi atau pahatan arca.

Sayangnya, dari sedikit bangunan candi peninggalan kerajaan Kediri yang sudah ditemukan, kondisinya sebagian besar sangat memprihatinkan.

Candi-candi peninggalan kerajaan kediri ini dirusak, selanjutnya batu-batunya dipergunakan sebagai pondasi rumah penduduk.

Bahkan ada yang sangat menyedihkan, bekas lokasi candi kerajaan Kediri yang diatasnya sudah menjadi kandang kambing.

Peninggalan kerajaan Kediri berupa candi tersebar di beberapa wilayah seperti Kabupaten Keidir, Kota kediri, Blitar, dan Tulungagung.

Candi-candi peninggalan kerajaan Kediri ini diketahui masih digunakan pada era kerajaan Majapahit akhir.

Di bawah ini adalah beberapa candi peninggalan kerajaan Kediri yang sudah ditemukan.

Candi Penataran

Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Bangunan utama candi peninggalan kerajaan Kediri ini berbentuk Piramida Berundak (foto : Wikimedia commons/EScapade)

Candi Penataran adalah candi peninggalan kerajaan Kediri yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Srengga/Sri Kertajaya sekitar tahun 1200 Masehi.

Meskipun kemudian Kerajaan Kediri runtuh, pembangunan candi ini masih tetap dilanjutkan pada era Singhasari dan Majapahit.

Candi ini tercatat masih terus dipergunakan sampai era kerajaan Majapahit masa pemerintahan Wikramawardhana, sekitar tahun 1415.

Nama asli candi ini adalah Bangunan Suci Palah. Nama ini disebut dalam kitab Desawarnana atau Nagarakretagama yang ditulis pada tahun 1365 Masehi, yang menceritakan kunjungan Raja Hayam Wuruk ke candi ini dalam perjalanannya berkeliling Jawa Timur.

Nama Candi Palah juga diidentifikasi dalam pahatan pada Prasasti Palah yang ditemukan di areal utama Candi Penataran ini.

Dari informasi Prasasti Palah diketahui bahwa Candi Palah/Candi Penataran dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa.

Raja Srengga atau lebih dikenal sebagai Kertajaya berkuasa di kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200.

Candi Penataran adalah sebuah situs percandian yang luas dan cukup megah. Termegah di Jawa Timur.

Situs Candi penataran terdiri dari beberapa buah bangunan candi. Bangunan utama di situs ini berupa Punden Berundak.

Baca selengkapnya : Apa itu Punden Berundak?

Di depan bangunan utama Candi penataran terdapat beberapa Candi perwara dan pendopo.

Candi Tondowongso

Candi Tondowongso terletak di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Situs percandian ini diyakini sebagai salah satu candi peninggalan kerajaan Kediri.

Situs Candi Tondowongso ditemukan pada awal tahun 2007.

Penemuan situs Candi Tondowongso diawali penemuan sejumlah arca secara tidak sengaja oleh perajin batu bata setempat.

Pada tahun 1957 di lokasi yang sama, Prof.Soekmono pernah menemukan satu arca yang sama.

Berdasarkan bentuk dan gaya tatahan arca pada situs Candi Tondowongso, para peneliti meyakini bahwa situs ini adalah candi peninggalan Kerajaan Kediri, masa-masa awal perpindahan pusat politik dari kawasan Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke 11.

Candi Gurah

Gambar reruntuhan Candi Gurah yang terletak di dusun Sentul, Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah, Kediri, Jawa Timur. Di sekitar candi peninggalan kerajaan Kediri ini banyak ditemukan arca, seperti arca Brahma, Nandi, Surya dan lain-lain (foto : bumikediri.blogspot .com)

Candi Gurah terdiri dari sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara yang terletak di depannya. Juga terdapat berbagai macam arca di dalam bilik candi perwara. Arca-arca tersebut berupa dewa Brahma, Candra, Surya, Nandi dan Yoni.

Soekmono juga menemukan bahwa Candi induk di situs Candi Gurah memiliki ukuran 9,50 x 9,50 m2.

Berdasarkan gaya arsitektur di situs Candi Gurah, Soekmono menduga bahwa Candi Gurah adalah gaya peralihan antara candi bergaya Jawa Tengah dan gaya Jawa Timur (Soekmono. 1969. Gurah the link between the central and the East Javanese arts. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia).

Candi Mirigambar

Candi Mirigambar terletak di Dukuh Gambar, Desa Miri Gambar, Kecamatan Sumber Gempol, Kabupaten Tulungagung. Beberapa ahli purbakala pernah melakukan penelitian terhadap candi ini misalnya J. Knebel pada tahun 1908, N.W. Hoepermans pada tahun 1913, N.J. Krom pada tahun 1915 dan 1923, dan J.L.A. Brandes pada tahun 1913 (sumber : kemdikbud)

Di beberapa batu reruntuhan Candi Mirigambar terpahat beberapa tulisan angka tahun, tiga diantaranya dapat dikenali yaitu 1214 Saka, 1310 Saka, dan 1321 Saka.

Berdasarkan data itu, para peneliti menduga Candi Mirigambar dibangun dan digunakan pada masa 3 kerajaan, yaitu kerajaan kediri, Singhasari dan Majapahit.

Candi Tuban

Foto dokumenter Oudhkundige Diest (OD) no.2481 tahun 1926, dimana terpampang Candi Tuban sebelum dieskavasi dan direstorasi. Namun, sayang kini salah satu candi peninggalan kerajaan Kediri ini sudah tidak ada lagi akibat aksi perusakan warisan budaya yang marak paska tahun 1965.

Candi Tuban terletak di Dukuh Tuban, Desa Domasan, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, sekitar 500 meter dari Candi Mirigambar.

Candi Tuban sudah rusak parah. Bagian yang tersisa hanya bagian kaki candinya.

Pembangunan Candi Tuban diduga sudah dimulai sejak era kerajaan Kediri. Karena di sisi utara Desa Domasan ditemukan Prasasti Candi Tuban berangka tahun 17 Mei 1129 Masehi, masa kekuasaan Raja Bameswara.

Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri

Kita beruntung sampai hari ini masih mewarisi kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri.

Kerajaan Kediri atau yang disebut juga kerajaan Panjalu adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang meninggalkan begitu banyak kitab-kitab sastra.

Kitab-kitab peninggalan kerajaan Kediri umumnya adalah sebuah karya sastra yang terkait keagamaan, khususnya agama Hindu.

Pada masa kerajaan Panjalu atau Kerajaan Kediri, hidup para Mpu yang termasyur.

Diantaranya adalah lima bersaudara yang disebut Panca Pandhita, yaitu :

  1. Mpu Gnijaya
  2. Mpu Semeru
  3. Mpu Ghana
  4. Mpu Kuturan
  5. Mpu Bharadah

Di bawah ini adalah kitab-kitab peninggalan kerajaan Kediri yang ditulis oleh para pujangga pada masa pemerintahan raja-raja kerajaan Kediri.

Kitab Kakawin Arjuna Wiwaha

Kakawin Arjunawiwaha, Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri atau Kerajaan panjalu. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yang berkuasa di Kerajaan Panjalau antara tahun 1019-1042 Masehi. Para peneliti memperkirakan Kakawin Arjunawiwaha digubah sekitar tahun 1030 Masehi. (Foto : Wikimedia Commons)

Kakawin Arjunawiwaha bercerita tentang kisah Arjuna yang bertapa di gunung Mahameru, untuk memohon senjata dalam rangka persiapan perang Bharatayuda.

Para ahli yang meneliti kitab peninggalan kerajaan Kediri (Panjalu) ini mengatakan bahwa Kakawin Arjunawiwaha digubah berdasarkan Wanaparwa, kitab ketiga Mahābharata.

Kitab Kakawin Bharatayuddha 

Kakawin Bharatayuddha, Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri atau Kerajaan panjalu. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa. (foto: wikimedia commons)

Kakawin Bharatayuddha adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang merupakan adaptasi dari epos Mahabharata, karya Rsi Wyasa.

Kakawin bharatayuddha, kitab peninggalan kerajaan Kediri ini sebenarnya adalah kiasan tentang perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala yang sama sama keturunan Raja Erlangga.

Kitab Kakawin Smaradahana

Kakawin Smaradahana, Kitab Peninggalan Kerajaan Kediri atau Kerajaan panjalu. Kakawin Smaradahana adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang digubah oleh Mpu Dharmaja pada masa pemerintahan Sri Kamesywara. (foto : sampul buku Kakawin Smaradahana, Dinas Pendidikan Provinsi Bali)

Kakawin Smaradahana menceritakan bahwa menjelang kelahiran Ganesha, Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih terbakar oleh Mata Ketiga Dewa Siwa.

Pasangan dewa-dewi cinta tersebut lalu menitis dalam diri raja kerajaan Kediri Sri Kamesywara dan permaisurinya Sri Kirana, putri Jenggala.

Seperti sudah diceritakan di atas, paska dipecah menjadi dua kerajan pada tahun 1042, Kerajaan Panjalu (Kediri) dan Janggala terus menerus terlibat perang saudara.

Sampai akhirnya, pada tahun 1135 Kerajaan Jenggala berhasil ditaklukan oleh Sri Jayabhaya raja Kediri sehingga kerajaan Panjalu (kediri) bersatu lagi.

Ditambah lagi dengan pernikahan Raja kediri Sri Kamesywara dengan Sri Kirana putri Jenggala, maka persatuan kedua Negara lebih erat lagi.

Kakawin Smaradahana adalah cikal bakal kisah-kisah Panji yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa.

Kitab Kakawin Kresnayana

Kakawin Kresnayana adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang digubah oleh Mpu Triguna pada masa pemerintahan prabu Warsajaya (Sri Jayawarsa) sekitar tahun 1104 Masehi.

Kresnayana secara harfiah memiliki arti perjalanan Kresna.

Kakawin Kresnayana adalah karya sastra berbahasa Jawa Kuno yang menceritakan kisah pernikahan prabu kresna dengan Rukmini.

Kitab Kakawin Hariwangsa

Kakawin Hariwangsa adalah kitab peninggalan kerajaan Kediri yang ditulis oleh Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Raja Sri Jayabaya yang berkuasa di Kediri antara tahun 1135 sampai 1157 Masehi.

Isi Kakawin Hariwangsa mirip dengan Kakawin Kresnayana, yaitu tentang pernikahan Kresna dengan Dewi Rukmini setelah melarikannya.

Menurut penilaian para pakar sastra Jawa Kuno, Kakawin Hariwangsa lebih berhasil menggarap tema yang sama ini, dibandingkan Kakawin Kresnayana.

Kitab Kakawin Gatotkacasraya

Kakawin Gatotkacasraya adalah satu lagi karya Mpu Panuluh yang merupakan kitab peninggalan kerajaan Kediri.

Kakawin Gathotkacasraya ditulis pada abad ke-12 M pada masa pemerintahan Sri Jayabaya.

Kakawin ini menceritakan tentang perkawinan Abimanyu, putra dari Arjuna dengan Siti Sundhari dengan bantuan Gatutkaca, putra Bima.

Kitab Kakawin Bhomantaka

Kakawin Bhomantaka adalah salah satu karya sastra yang terpanjang dalam Sastra Jawa Kuno.

Kakawin Bhomantaka disusun sepanjang 1.492 bait.

Kakawin Bhomantaka bercerita tentang perang antara Prabu Kresna dan sang raksasa Bhoma.

Tidak diketahui kapan dan siapa penulis Kakawin Bhomantaka.

Namun P.J. Zoetmulder (1974) berpendapat bahwa kakawin Bhomantaka digubah sejaman dengan Kakawin Arjunawiwāha.

Bila dugaannya benar, maka Kakawin Bhomantaka bisa dikatakan sebagai salah satu kitab peninggalan kerajaan Kediri/Panjalu.

Kitab Kakawin Sumanasantaka

Kitab Kakawin Samanasantaka digubah oleh Empu Monaguna.

Kakawin ini menceritakan tentang Bidadari Harini yang terkenal untuk Begawan Trenawindu.

Arca Peninggalan Kerajaan Kediri

Arca Buddha Vajrasattva : Arca Buddha Vajrasattva peninggalan Kerajaan Kediri (abad X/XI) yang saat ini tersimpan di Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

Arca-arca Dwarapala : Arca Dwarapala adalah arca yang dipergunakan sebagai penjaga di pintu masuk candi. Sebagian besar Arca Dwarapala peninggalan Kediri memiliki perbedaan dengan arca dwarapala gaya Jawa tengah.

Arca Brahma, Surya, Nandi dll di Candi Gurah : Di areal candi Gurah ditemukan berbagai macam arca dewa-dewi. Hal ini menunjukkan bahwa candi-candi tersebut dipergunakan sebagai tempat pemujaan.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan kediri :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang sejarah kerajaan Kediri dari mulai pembagian kerajaan Panjalu/Kahuripan sampai runtuhnya akibat serangan Ken Arok dari Tumapel. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring