Katamasa

10 Kerajaan Hindu Di Indonesia & Peninggalan (lengkap)

Sejarah kerajaan Hindu di Indonesia bisa dirunut setidak-tidaknya sejak abad ke 4 Masehi. Yaitu, sejak zaman kerajaan kutai, yang merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia (menurut sumber sejarah resmi).

Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia sangat erat kaitannya dengan pengaruh dari India, baik India utara maupun India Selatan.

Pengaruh India terhadap Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia tidak hanya terjadi pada bidang agama tetapi juga terhadap bidang arsitektur, bahasa, huruf, tari-tarian dan lain-lainnya.

Pengaruh-pengaruh dari luar terhadap kerajaan-kerajaan di Indonesia bisa terjadi karena kepulauan nusantara ini merupakan jalur perdagangan yang sangat strategis, terutama selat Malaka yang menghubungkan antara China dengan India, Arab dan Persia.

Dalam artikel ini kita akan membahas nama kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, termasuk apa saja peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia yang masih bisa dilihat sampai hari ini.

Kerajaan Hindu Di Indonesia

Kerajaan-kerajaan hindu di Indonesia pada umumnya berdiri di Jawa, Sumatera, kalimantan, dan Bali.

Kerajaan Hindu di Indonesia tidaklah bisa disebut semata-mata kerajaan Hindu karena dalam kerajaan-kerajaan itu juga hidup komunitas Budha.

Oleh karena itu, pada umumnya kerajaan-kerajaan ini akan disebut sebagai kerajaan yang bercorak hindu budha.

Baca juga : Kerajaan Budha di Indonesia

Kerajaan Hindu di Indonesia yang pertama kali adalah kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Namun, ada yang mengatakan bahwa kerajaan bercorak hindu yang tertua di Indonesia adalah kerajaan Salakanegara.

Kerajaan hindu di jawa dimulai oleh kerajaan Tarumanegara dan mencapai puncaknya pada masa kerajaan Majapahit.

Pada era kerajaan Majapahit, agama Hindu dan Budha hidup secara bersama-sama dalam masyarakat. Sehingga kerajaan Majapahit bisa disebut kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu Budha.

Kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu Budha sebenarnya sudah dimulai sejak era kerajaan Medang yang lebih dikenal dengan nama Mataram Kuno.

Peninggalan-peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia misalnya candi, prasasti, seni sastra, dan pengaruh yang kuat terhadap arsitektur, bahasa, dan budaya secara umum.

Di bawah ini adalah beberapa nama kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia :

Kerajaan Salakanegara

Kerajaan Salakanegara dipercaya beberapa kalangan sebagai kerajaan Hindu di Indonesia yang paling awal. Sekaligus sebagai kerajaan tertua di Indonesia.

Sumber yang menjadi rujukan keberadaan kerajaan Salakanegara adalah naskah Wangsekerta – Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara.

Pendiri Salakanegara adalah Dewawarman pada tahun 130 Masehi.

Dewawarman adalah seorang duta bangsawan dari Calankanaya yang datang pada tahun 128 Masehi.

Selanjutnya, Dewawarman menikah dengan Dewi Pwahaci Larasati.

Dewi Pwahaci Larasati adalah putri dari Datu Tirem, sang penguasa Teluk Lada di Jawa Barat.

Paska meninggalnya Datu Tirem pada tahun 130 Masehi, Dewawarman menjadi penguasa Teluk Lada.

Dewawarman kemudian mendirikan kerajaan Salakanegara dan sekaligus menjadi raja pertamanya.

Gelar Dewarman selaku raja Salakanegara adalah Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapuran.

Namun, naskah Wangsakerta diragukan kebenarannya sebagai sumber sejarah.

Ada dugaan bahwa naskah wangsakerta palsu (sumber 1), (sumber 2).

Penemuan naskah Wangsakerta pada awal tahun 1970-an, sempat membuat gembira dan kagum karena sangat lengkap dan rinci.

Namun, banyak ahli sejarah justru menjadi curiga karena naskah wangsakerta “terlalu lengkap dan terlalu rinci”.

Di bawah ini adalah beberapa alasan kecurigaan para ahli sejarah :

Dengan demikian, klaim bahwa kerajaan tertua di Indonesia adalah Salakanegara patut diragukan kebenarannya, sampai ditemukan sumber-sumber sejarah yang valid.

Kerajaan Kutai

Kerajaan Hindu di Indonesia yang pertama kali adalah Kerajaan Kutai.

Hal ini berdasarkan bukti sejarah yang menunjukan penanggalan paling tua yang pernah ditemukan di Indonesia.

Kerajaan Kutai didirikan sekitar tahun 400 Masehi di tepi sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Dengan demikian, sampai saat ini kerajaan Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia.

Nama Kutai sebenarnya diberikan oleh para ahli berdasarkan nama tempat penemuan prasasti Yupa yang menunjukkan keberadaan sebuah kerajaan di tempat itu.

Nama kerajaan yang sebenarnya belum diketahui karena sampai saat ini belum ditemukan prasasti atau sumber sejarah lain yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan tersebut.

Sumber sejarah kerajaan Kutai adalah 7 buah Yupa yang ditemukan di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Yupa adalah tugu yang terbuat dari batu yang fungsinya adalah sebagai tugu peringatan peristiwa tertentu.

Dari salah satu yupa yang ditemukan itu, para peneliti mengetahui bahwa yang menjadi raja di kerajaan Kutai saat itu bernama Mulawarman.

Dalam Yupa diberitakan tentang sikap Mulawarman yang dermawan menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana.

Isi prasasti juga memberitakan bahwa Mulawarman adalah putra dari raja Aswawarman dan cucu dari Maharaja Kundungga.

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Kutai

Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu di Indonesia yang terletak di Jawa Barat.

Tarumanegara didirikan pada tahun 450 Masehi. Hal ini menjadikan Tarumanegara adalah salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia.

Secara etimologi, nama Tarumanegara berasal dari dua kata yaitu Taruma dan Nagara.

Kata Taruma berasal dari kata Tarum yaitu nama sungai di Jawa Barat, Sungai Citarum.

Sedangkan, kata Nagara berarti kerajaan atau negara.

Nama raja Tarumanegara yang disebut dalam prasasti adalah Raja Purnawarman.

Pada tahun 417 Masehi, Raja Purnawarman memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km).

Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara ditemukan di Bogor (lima buah), di Jakarta (1 buah) dan di Lebak Banten (1 buah).

Di bawah ini adalah prasasti-prasasti bukti keberadaan kerajaan Tarumanegara :

  1. Prasasti Kebon Kopi.
  2. Prasasti Tugu.
  3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul.
  4. Prasasti Ciaruteun.
  5. Prasasti Muara Cianten.
  6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
  7. Prasasti pasir Muara

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh)

Kerajaan Pajajaran adalah kerajaan hindu di Indonesia yang terletak di Jawa Barat.

Pajajaran berdiri pada tahun 1030-1579 Masehi.

Pajajaran atau Pakuan Pajajaran sebenarnya adalah nama ibu kota Kerajaan Sunda Galuh.

Pada masa lalu, di wilayah Asia Tenggara sudah menjadi kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya. Akibatnya, Kerajaan Sunda Galuh lebih dikenal dengan nama Kerajaan Pajajaraan.

Lokasi persis kerajaan Pajajaran pada abad ke-15 dan abad ke-16 adalah di daerah Bogor. Hal ini dapat dilihat pada peta yang dibuat penjelajah Portugis.

Sumber sejarah penting yang berisi informasi tentang Pajajaran pada abad ke 15 sampai awal abad ke 16 adalah naskah kuno Bujangga Manik.

Kerajaan Pajajaran runtuh disebabkan oleh serangan pasukan Kesultanan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf pada tahun 1579.

Kesultanan Banten merampas Palangka Sriman Sriwacana (batu penobatan calon raja) dari Pakuan Pajajaran dan membawanya ke Keraton Surosowan di Banten.

Di bawah ini adalah daftar nama raja yang berkuasa di Pakuan Pajajaran :

  1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521)
  2. Surawisesa (1521 – 1535)
  3. Ratu Dewata (1535 – 1543)
  4. Ratu Sakti (1543 – 1551)
  5. Ratu Nilakendra (1551-1567), pergi dari Pakuan akibat serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
  6. Raga Mulya/Prabu Surya kencana (1567 – 1579), memerintah dari Pandeglang

Kerajaan Medang (Mataram Kuno)

Kerajaan Medang adalah salah kerajaan Hindu di Indonesia yang mempunyai sejarah dan peninggalan budaya yang besar.

Bukti sejarah peninggalan Kerajaan Medang sangat banyak. Baik berupa prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Jawa Tengah atau pun Jawa Timur.

Kerajaan Medang juga meninggalkan banyak bangunan candi yang bercorak Hindu maupun bercorak Buddha.

Di Bawah ini adalah beberapa nama candi peninggalan Kerajaan Medang yang bercorak hindu :

Kerajaan Medang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8 Masehi. Diduga karena bencana kemudian pindah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi.

Menurut Prasasti Mantyasih tahun 907 Masehi yang dikeluarkan oleh raja Dyah Balitung, raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Raja Sanjaya pernah mengeluarkan prasasti atas namanya sendiri, yaitu prasasti Canggal tahun 732 Masehi. Namun Sanjaya tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya.

Kerajaan Medang runtuh pada awal abad ke-11 (pada periode Jawa Timur) akibat serangan kerajaan wurawari yang diduga sekutu Sriwijaya.

Istilah Kerajaan Medang, lazimnya digunakan untuk periode Jawa Timur saja, padahal menurut isi prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama “Medang” sudah digunakan sejak periode Jawa Tengah.

Untuk Periode Jawa Tengah, kebanyakan orang menyebut kerajaan ini bernama Kerajaan Mataram Kuno.

Kebanyakan ahli mengatakan bahwa ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di kerajaan Medang.

Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra berkuasa di Medang periode Jawa Tengah, sedangkan Wangsa Isyana berkuasa pada saat Medang berpindah ke Jawa Timur.

Medang Periode Jawa Tengah

Seperti dijelaskan di atas, nama Medang lebih sering digunakan untuk menyebut periode Jawa Timur.

Sedangkan untuk periode Jawa Tengah digunakan istilah Kerajaan Mataram.

Untuk membedakan dengan Kerajaan Mataram Islam (yang muncul beberapa abad kemudian), para ahli menggunakan nama Kerajaan Mataram Hindu atau Mataram Kuno.

Kenapa digunakan nama Mataram?

Mataram sebenarnya adalah nama ibu kota kerajaan Medang. Kebiasaan waktu itu lazim menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya.

Kalimat Rajya Medang i Bhumi Mataram (Raja Medang di daerah Mataram) ditemukan dalam beberapa prasasti, seperti prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang.

Nama Mataram selalu digunakan oleh para ahli, meskipun ibu kota kerajaan Medang periode Jawa Tengah tidak selalu beribukota di Mataram.

Berdasarkan isi dari beberapa prasasti, Medang beberapa kali memindahkan ibu kotanya.

Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang periode Jawa Tengah, antara lain,

Para ahli memperkirakan, Mataram terletak di sekitar Yogyakarta sekarang. Sedangkan, Mamrati dan Poh Pitu terletak di daerah Kedu.

Pada periode Jawa Tengah, raja-raja kerajaan Medang berasal dari dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya dan dinasti Sailendra.

Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa hanya ada satu dinasti, yaitu dinasti Sailendra.

Semua raja Medang periode Jawa tengah, termasuk Sanjaya sendiri adalah anggota keluarga Sailendra.

Alasannya adalah isi prasasti Kalasan tahun 778 memuji Rakai Panangkaran sebagai “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka). Padahal, Rakai Panangkaran diduga adalah anak dari Sanjaya.

Di bawah ini adalah nama-nama raja Medang periode Jawa tengah :

  1. Sanjaya
  2. Rakai Panangkaran
  3. Rakai Panunggalan alias Dharanindra
  4. Rakai Warak alias Samaragrawira
  5. Rakai Garung alias Samaratungga
  6. Rakai Pikatan
  7. Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
  8. Rakai Watuhumalang
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung
  10. Mpu Daksa
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa

Medang Periode Jawa Timur

Menurut teori van Bammelen, pindahnya kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur karena adanya bencana letusan Gunung Merapi.

Bencana itu diperkirakan memporakporandakan istana Medang. Namun, tidak diketahui apakah raja Medang pada waktu itu, Dyah wawa selamat atau tidak.

Yang pasti, raja Medang pertama pada periode Jawa Timur adalah Mpu Sindok.

Dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, Mpu Sindok dengan tegas menyebut bahwa kerajaannya adalah kelanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram.

Mpu Sindok membangun ibukota baru di Tamwlang sekitar tahun 929 Masehi.

Mpu Sindok kemudian mendirikan dinasti baru yaitu dinasti Isana.

Dinasti Isana merujuk gelar abhiseka Mpu Sindok, yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.

Raja Medang terakhir adalah Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok.

Dharmawangsa Teguh gugur dalam serangan Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya.

Peristiwa itu disebut Mahapralaya.

Peristiwa Mahapralaya tercatat dalam prasasti Pucangan (colcata Stone).

Karena usia prasasti, tahun terjadinya Mahapralaya tidak dapat dibaca dengan jelas. Akibatnya muncul dua versi pendapat.

Beberapa sejarawan menyatakan Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1006, sedangkan beberapa yang lain menyatakan tahun 1016.

Di bawah ini adalah nama raja Kerajaan Medang periode Jawa Timur :

  1. Mpu Sindok
  2. Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
  3. Makuthawangsawardhana
  4. Dharmawangsa Teguh

Kerajaan Kahuripan/Panjalu

Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan Hindu di Indonesia yang terletak di Jawa Timur.

Kerajaan Kahuripan didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009.

Airlangga adalah menantu Raja Darmawangsa Teguh. Airlangga selamat dari peristiwa Mahapralaya yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Medang.

Kerajaan Kahuripan adalah kelanjutan Kerajaan Medang yang runtuh tahun 1006.

Seperti kerajaan di Indonesia lainnya, Kahuripan sebenarnya adalah nama ibu kota. Sedangkan nama kerajaan yang didirkan Airlangga bernama Kerajaan Panjalu/Pangjalu.

Pada saat didirikan, Airlangga membangun ibu kota dengan nama Watan Mas yang terletak di dekat Gunung Penanggungan.

Setelah berhasil menyatukan wilayah bekas kerajaan Medang dahulu, Airlangga kemudian membangun ibu kota baru bernama Kahuripan di daerah Sidoarjo sekarang.

Pusat kerajaan Panjalu dipindahkan lagi ke Daha, berdasarkan isi prasasti Pamwatan, 1042 Masehi dan Serat Calon Arang.

Pada akhir pemerintahannya, Airlangga harus membagi kerajaan Panjalu menjadi dua, yaitu :

Airlangga harus membagi kerajaan karena dua orang putranya saling berebut menjadi raja. Sementara putri mahkota yang sebenarnya berhak menjadi raja, yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi, justru memilih menjadi pertapa.

Kerajaan Kediri

Kerajaan kediri adalah salah satu kerajaan Hindu di Indonesia yang memiliki sejarah sangat panjang.

Kerajaan Kadiri atau Kediri terletak di Jawa Timur.

Kerajaan Kediri berlangsung antara tahun 1042 Masehi-1222 Masehi.

Ibu kota kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri saat ini.

Daha adalah singkatan dari Dahanapura, yang artinya kota api.

Seperti dijelaskan di atas, kerajaan Kediri berdiri akibat terpecahnya Panjalu menjadi dua kerajaan, yaitu Kediri dan jenggala.

Namun, melalui informasi dari prasasti-prasasti, bisa dikatakan kerajaan Kediri adalah kelanjutan dari kerajaan Panjalu. Sedangkan kerajaan Janggala dianggap pecahan dari kerajaan Panjalu.

Hal ini bisa dilihat pada prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Kediri awal yang lebih sering menggunakan nama Panjalu atau Pangjalu daripada nama Kadiri.

Baca selengkapnya : Daftar Prasasti-prasasti Kerajaan Kediri

Bahkan, kronik Cina yang berjudul Ling wai tai ta (1178) juga menggunakan nama Panjalu atau Pu-chia-lung. Padahal pada tahun itu, Panjalu sudah terpecah menjadi dua kerajaan.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya, Kerajaan Kediri berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala.

Dengan demikian, Kerajaan Panjalu dapat disatukan kembali. Hal ini tercatat dalam prasasti Ngantang (1135), melalui kalimat/semboyan Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mencapai puncak kejayaannya.

Baca selengkapnya : Daftar nama-nama raja Kerajaan Kediri

Wilayah kekuasaan kerajaan ini mencakup seluruh pulau Jawa dan beberapa pulau di Nusantara.

Bahkan pengaruhnya melebihi pengaruh Sriwijaya.

Bukti ini terdapat dalam berita yang dicatat oleh kronik Cina Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri termakmur selain Tiongkok secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra.

Pada masa itu, penguasa wilayah Arab adalah Bani Abbasiyah, penguasa Jawa adalah Kerajaan Panjalu, sedangkan penguasa Sumatra adalah Kerajaan Sriwijaya.

Bukti lain masa kejayaan Kediri/Panjalu adalah terciptanya karya-karya sastra bermutu tinggi, misalnya :

Baca selengkapnya : Daftar kitab-kitab peninggalan Kerajaan Kediri

Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya akibat serangan Ken Arok akuwu Tumapel, saat itu bawahan Kediri.

Selanjutnya, Ken Arok mendirikan kerajaan Tumapel/Singhasari dan menjadikan Kediri sebagai wilayah bawahan.

Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya menjabat bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yaitu Sastrajaya.

Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Karena dendam masa lalu di mana leluhurnya dikalahkan Ken Arok, Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang saat itu dipimpin Raja Kertanegara.

Pemberontakan Jayakatwang berhasil, namun kekuasaannya hanya bertahan satu tahun.

Raden Wijaya, menantu Kertanegara berhasil membalas dendam memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang.

Baca selengkapnya : sejarah Kerajaan Kediri

Kerajaan Singasari

Kerajaan Singasari/Singhasari/Tumapel adalah kerajaan Hindu di Indonesia yang terletak di Jawa Timur.

Singasari didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 Masehi.

Berdasarkan informasi dari prasasti Kudadu, nama sebenarnya Kerajaan Singhasari adalah Kerajaan Tumapel.

Menurut catatan kitab Nagarakretagama, saat kerajaan ini didirikan, nama ibu kota Kerajaan Tumapel adalah Kutaraja.

Nama ibukota berganti menjadi Singhasari pada tahun 1253 Masehi, yaitu saat Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya Kertanagara sebagai yuwaraja.

Seperti dijelaskan di atas, sudah menjadi kebiasaan kerajaan-kerajaan di Indonesia disebut menggunakan nama ibu kotanya saja.

Maka, Kerajaan Tumapel lebih sering disebut dengan nama Kerajaan Singhasari.

Dalam kronik Cina dinasti Yuan, nama kerajaan Tumapel disebut dengan ejaan Tu-ma-pan.

Kerajaan Tumapel berdiri setelah Ken Arok berhasil mengalahkan Raja Kertajaya penguasa Kerajaan Kadiri.

Gelar Abhiseka Ken Arok adalah Sri Rajasa Sang Amurwabhumi.

Nama Ken Arok hanya ada dalam Pararaton. Dalam kitab Nagarakretagama tidak ada nama Ken Arok.

Dalam naskah Nagarakretagama, pendiri kerajaan Tumapel bernama Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra.

Selain soal nama Ken Arok, juga ada perbedaan antara Pararaton dan Nagarakretagama dalam daftar urutan raja-raja Singhasari.

Raja-raja Singhasari versi Pararaton

  1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 – 1247)
  2. Anusapati (1247 – 1249)
  3. Tohjaya (1249 – 1250)
  4. Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250 – 1272)
  5. Kertanagara (1272 – 1292)

Raja-raja Singhasari versi Nagarakretagama

  1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222 – 1227)
  2. Anusapati (1227 – 1248)
  3. Wisnuwardhana (1248 – 1254)
  4. Kertanagara (1254 – 1292)

Kertanagara adalah raja terbesar dalam sejarah Singhasari (1272 – 1292).

Raja ini adalah raja pertama yang berekspansi ke luar Jawa. Pada tahun 1275 Masehi Kertanegara mengirim pasukan Ekspedisi Pamalayu ke Sumatra.

Penguasa Sumatra saat itu adalah Kerajaan Dharmasraya (kelanjutan Kerajaan Malayu).

Kertanagara juga mengadakan ekspedisi menaklukkan Bali pada tahun 1284 Masehi.

Pada tahun 1289 Masehi, Kaisar Mongol Kubilai Khan mengirim utusan ke Singhasari meminta agar mengakui kekuasaan Mongol atas Jawa. Namun, Kertanagara menolak permintaan itu dengan tegas.

Karena Kertanegara lebih sibuk mengirimkan angkatan perangnya ke luar Jawa, pertahanan dalam negerinya menjadi rapuh.

Akibatnya, pada tahun 1292 terjadi pemberontakan Jayakatwang bupati Gelanggelang. Dalam serangan itu Kertanagara mati terbunuh.

Pemberontakan Jayakatwang berhasil, namun kekuasaannya hanya bertahan satu tahun.

Raden Wijaya, menantu Kertanegara berhasil membalas dendam memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang.

Raden Wijaya Kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan di Indonesia yang berpusat di Jawa Timur.

Majapahit berdiri sekitar tahun 1293 sampai 1500.

Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaan raja Hayam Wuruk, yang memerintah dari tahun 1350 hingga 1389.

Di kerajaan Majapahit, selain agama Hindu (Siwa), agama Budha juga mendapatkan perhatian yang baik dari kerajaan dan masyarakat.

Kedua agama ini memberikan pengaruh yang sama besar terhadap kebudayaan Majapahit. Oleh karena itu, kerajaan Majapahit bisa disebut sebagai kerajaan yang bercorak Hindu Budha.

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan di Indonesia yang bercorak Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara.

Majapahit dianggap sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah kerajaan di Indonesia.

Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, wilayah kekuasaan Majapahit mencakup Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina.

Namun, luas wilayah Majapahit ini masih jadi perdebatan para ahli sejarah.

Namun, besarnya pengaruh Majapahit bisa dilihat dari banyaknya tradisi lokal di berbagai daerah di Indonesia tentang Majapahit.

Kemungkinan, pada masa itu pemerintahan langsung secara terpusat oleh kerajaan Majapahit hanya mencakup wilayah Jawa Timur dan Bali.

Di luar wilayah itu hanya diwajibkan membayar upeti berkala sebagai tanda pengakuan kedaulatan Majapahit atas wilayah mereka.

Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya.

Para ahli menggunakan hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 November 1293 sebagai hari pendirian kerajaan Majapahit.

Gelar abhiseka Raden Wijaya adalah Sanggrama Wijaya Kertarajasa Jayawardhana.

Raden Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309 Masehi. Kekuasaan kemudian dilanjutkan putranya, yaitu Jayanegara.

Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Tribhuwana Wijayatunggadewi kemudian menggantikannya untuk menjadi ratu Majapahit.

Masa pemerintahan ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah awal masa keemasan Majapahit.

Pada tahun 1336, Tribhuwana menjadikan Gajah Mada sebagai Mahapatih.

Saat dilantik, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa yang berisi keinginannya untuk memperluas kekuasaan Majapahit dan menguasai nusantara.

Kekuasaan Tribhuwana berakhir pada tahun 1350. Kekuasaan dilanjutkan oleh putranya, Hayam Wuruk.

Hayam Wuruk atau Rajasanagara berkuasa dari tahun 1350 sampai 1389.

Pada masa kekuasan Hayam Wuruk dan mahapatih Gajah Mada ini lah Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389. Hal ini menjadi awal kemunduran kerajaan akibat konflik perebutan tahta.

Pewaris tahta Majapahit adalah putri mahkota Kusumawardhani, yang menikah dengan sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana.

Tapi, putra Hayam Wuruk dari selirnya, yaitu Wirabhumi tidak menyetujui hal itu, karena merasa kekuasaan Majapahit sesungguhnya akan dipegang oleh Wikramawardhana.

Perang saudara yang dikenal sebagai Perang Paregreg pun terjadi.

Perang paregreg antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana terjadi pada tahun 1405-1406.

Perang paregreg akhirnya dimenangkan oleh Wikramawardhana, semetara Wirabhumi ditangkap dan kemudian dihukum mati.

Lemahnya Majapahit mengakibatkan kontrol atas wilayahnya menjadi lemah.

Satu per satu wilayah bawahan menyatakan kemerdekaan.

Majapahit akhirnya runtuh seiring dengan munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Islam di pesisir utara Jawa.

Kerajaan Bali

Istilah kerajaan Bali digunakan untuk menyebut serangkaian kerajaan dari berbagai masa sejarah Bali.

Mulai dari era Kerajaan Singhawandawa sampai Kerajaan gelgel.

Pada artikel ini kita akan membahas secara khusus kerajaan Bali kuno (Singhamandawa).

Kerajaan Bali adalah salah satu kerajaan Hindu di Indonesia. Sejarah kerajaan Bali bisa dirunut setidaknya sejauh abad ke 8 masehi.

Para ahli memperkirakan letak kerajaan Bali secara persis adalah di sekitar Pejeng, di desa bedahulu/Bedulu, kabupaten Gianyar, Bali.

Kebanyakan orang menyebut nama kerajaan Bali adalah kerajaan badhahulu.

Namun, nama asli kerajaan Bali adalah Singhamandawa. Sedangkan nama Badhahulu, berasal dari bahasa Bali kuno yaitu, Badha berarti rumah/istana, dan Hulu yang berarti kepala/raja.

Dengan demikian, nama Bhadahulu adalah nama istana raja/ibu kota/pusat pemerintahan. Bukan nama kerajaan. Sedangkan nama kerajaan adalah Singhamandawa.

Namun, kebiasaan jaman dahulu, biasa menyebut nama kerajaan di Indonesia dengan nama ibu kotanya.

Kerajaan Bali didirikan oleh dinasti Warmadewa, dengan raja pertama yang diketahui bernama Sri Kesari Warmadewa.

Raja terkenal dari kerajaan Bali adalah Raja Udayana yang memerintah bersama-sama permaisurinya Mahendradatta.

Di bawah ini adalah daftar raja-raja kerajaan Bali kuno :

  1. Çri Keçari Warmadēwa (Saka 835/913 M)
  2. Çri Ugrasēna (Saka 837-864/915-942 M)
  3. Agni Nripati (Saka 841-875/953-953 M)
  4. Tabanēndra Warmadēwa (Saka 877-889/955-967 M)
  5. Candrabhaya Singha Warmadēwa (Saka 878-896/956-974 M)
  6. Jana Sadhu Warmadēwa (Saka 897/975 M)
  7. Gunapryadharmapatni-Dharmodayana Warmadēwa (Saka 910-933/998-1011 M)
  8. Çri Adnya Dewi (Saka 933-938/1011-1016 M)
  9. Marakata Pangkaja Sthana Tunggadēwa (Saka 938-962/1016-1040 M)
  10. Anak Wungsu (Saka 971-999/1049-1077 M)
  11. Sakalendu Kirana (Saka 1020-1023/1088-1101 M)
  12. Suradipa (Saka 1037-1041/1115-1119 M)
  13. Jaya Çakti (Saka 1055-1072/1133-1150M)
  14. Ragajaya (Saka 1077-1092/1155-1170M)
  15. Jayapangus (Saka 1099-1103/1177-1181M)
  16. Arjaya Deng Jayaketana (Tidak diketahui tahunnya, namun dari cara penulisan prasasti dan isinya diperkirakan antara raja Jayapangus dengan Ekajayalancana)
  17. Ekajayalancana (Saka 1122-1126/1200-1204 M)
  18. Adhikuntiketana (Saka 1126/1204 M)
  19. Masula Masuli
  20. Pameswara Çri Hyangning Hyang Adhidewalancana (Saka 1182-1208/1260-1286 M)
  21. Kryan Demung Sasabungalan (Saka 1206/1284 M)
  22. Kebo Parud Makakasir (Saka 1206-1246/1284-1324 M)
  23. Bethara Çri Maha Guru (Saka 1246/1324 M)
  24. Çri Walajaya Krethaningrat (Saka 1250-1259/1328-1337 M)
  25. Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten (Saka 1259-1265/1337-1343 M)

Baca selengkapnya : Sejarah Kerajaan Bali

Peninggalan Kerajaan Hindu Di Indonesia

Lamanya rentang waktu hegemoni kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia, memberikan banyak pengaruh terhadap kebudayaan Indonesia.

Pengaruh Hindu tidak hanya agama semata-mata namun bisa dilihat pada bidang arsitektur, bahasa, sastra, seni tari dan lain sebagainya.

Di bawah ini adalah peninggalan-peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia :

Candi Peninggalan Kerajaan Hindu Di Indonesia

candi prambanan peninggalan kerajaan hindu di indonesia

Di bawah ini adalah beberapa nama candi peninggalan kerajaan Hindu di Indonesa :

Prasasti Kerajaan Hindu di Indonesia

Di bawah ini adalah prasasti peninggalan kerajaan Hindu di Indonesia :

Prasasti Kerajaan Kutai

Prasasti Kerajaan Tarumanegara

Prasasti Kerajaan Pajajaran (Sunda Galuh)

Prasasti Kerajaan Medang (Mataram Hindu)

Prasasti Kerajaan Kahuripan (Panjalu)

Prasasti Kerajaan Kediri

Prasasti Kerajaan Singhasari

Prasasti Kerajaan Majapahit

Prasasti Kerajaan Bali

Demikian artikel kami tentang nama kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia.

Nama kerajaan Hindu di Indonesia yang tercantum dalam artikel ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kerajaan bercorak hindu yang ada di kepulauan nusantara. Untuk mendapatkan informasi tentang kerajaan-kerajaan di nusantara secara lengkap, bisa baca di sumber ini.

Sharing is caring