Kerajaan Bali : Sejarah, Raja-raja, Bukti Peninggalan, Kehidupan Politik

Kerajaan Bali adalah salah satu kerajaan kuno yang ada di Indonesia. Kerajaan Bali terletak di Pulau Bali, di sebelah timur pulau Jawa dan di sebelah barat pulau Lombok. Kerajaan Bali didirikan oleh dinasti Warmadewa, dengan raja pertama yang diketahui bernama Sri Kesari Warmadewa. Raja terkenal dari kerajaan Bali adalah Raja Udayana yang memerintah bersama-sama permaisurinya Mahendradatta.

Sejarah Kerajaan Bali Kuno

Dalam artikel ini kita akan membahas tentang sejarah kerajaan Bali kuno, daftar raja-rajanya, bukti peninggalan, dan kehidupan politik pada era kerajaan Bali kuno.

Sejarah Bali sebelum tahun 800-an

Kerajaan Bali kuno bisa ditelusuri sampai sejauh abad ke-8 masehi. Sebelum abad ke-8 atau tahun 800-an, Bali bisa dikatakan masih berada di masa pra sejarah, karena tidak ditemukan adanya peninggalan-peninggalan sejarah. Ada pun berita tentang Bali sebelum abad ke-8 lebih banyak dari sumber-sumber di negeri China. (Baca juga : Pengertian sejarah menurut para ahli).

Dari sumber kitab-kitab di negeri China, sedikitnya ada tiga nama kerajaan yang oleh para sejarawan diidentifikasi sebagai kerajaan Bali kuno. Nama-nama kerajaan kuno itu adalah P’o-li, Dva-pa-tan, dan Mali.

Nama kerajaan P’o-li sudah dikenal pada era dinasti Liang, yang berkuasa di China pada kisaran tahun 502-556. Kerajaan P’o-li diceritakan terletak di sebuah pulau, sebelah tenggara Kanton (Groeneveldt, 1960 : 80).

Kerajaan P’o-li tercatat juga dalam kitab sejarah pada era dinasti Sui yang memerintah China pada tahun 581-617. Dalam kitab tersebut diceritakan jika seseorang berlayar dari Gau-chi (Annam Utara) menuju arah selatan, maka dia akan sampai di negeri Chih-tu, kemudian negeri Tan-tan, dan akhirnya sampai di negeri P’o-li (Groeneveldt, 1960 : 82),

Keterangan yang mirip juga terdapat dalam catatan kitab sejarah baru dinasti T’ang (618-908). Dalam kitab ini diberikan tambahan bahwa di sebelah timur negeri P’o-li terdapat negeri Lu-cha yang memiliki adat-istiadat yang sama dengan P’o-li (Groenveldt, 1960 : 83-84 ; Slamet Mulyana, 1981 : 126).

Dalam catatan kitab sejarah dinasti Tang (618-908), terdapat informasi berbeda mengenai negeri P’o-li. Dalam kitab ini dikatakan bahwa negeri P’o-li adalah batas sebelah timur kerajaan Ho-ling. Kitab ini menyatakan bahwa kerajaan Ho-ling (Ka-ling) terletak di sebuah pulau di lautan sebelah selatan. Di sebelah timur Ho-ling terletak P’o-li, di sebelah barat To-po-teng, di sebelah utara Chen-la (Kamboja), dan di sebelah selatan adalah lautan (Groenveldt, 1960 : 12 cf. Sumadio, dkk., 1990 : 281).

Sebenarnya, identifikasi identifikasi P’o-li dengan Bali sangat diragukan kebenarannya oleh kebanyakan ahli. P. Pelliot adalah salah satu ahli yang pernah mengidentifikasi P’o-li sebagai kerajaan Bali. Namun, dia menambahkan kemungkinan bahwa P’o-li identik dengan Kalimantan. E. Bretschneider dan Dato Sir Roland Braddel (Sumadio, dkk., 1990 : 281) juga berpendapat bahwa P’o-li terletak di Kalimantan, atau sama dengan Kalimantan.

Sebagian besar ahli justru berpendapat bahwa P’o-li terletak di wilayah pulau Sumatra. G. Schlegel berpendapat bahwa P’o-li adalah Asahan yang terletak di pantai timur laut Sumatra Utara. Sedangkan W.P. Groeneveldt berpendapat, P’o-li terletak di pantai utara Sumatra. Menurut Hsu Yu-ts’iao, P’o-li terletak di pantai timur laut Sumatra. Sementara itu, V. Obdeyn menyatakan P’o-li terletak di pulau Bangka.

J.L. Moens berpandangan bahwa P’o-li pada abad ke-6 sama dengan Palembang, Sedangkan pada abad-7 adalah sebuah kerajaan yang terletak di Jawa.

Sementara itu, ada pandangan dari G.E. Gerini bahwa P’o-li terletak di pantai barat Semenanjung Malaya (Sumadio, dkk., 1990 : 281).

Berdasarkan isi kitab-kitab dari negeri China, semua ahli berpendapat bahwa P’o-li adalah kerajaan besar, atau paling tidak terletak di wilayah yang luas. Pendapat ini disebabkan karena menurut catatan sejarah pada masa dinasti Sui, panjang kerajaan P’o-li dari timur ke barat adalah selama empat bulan perjalanan, dan dari utara ke selatan selama 45 hari perjalanan (Groeneveldt, 1960 : 82). Dengan demikian, mengidentifikasi P’o-li sebagai kerajaan Bali tidak sesuai, karena luas pulau Bali yang relatif kecil.

Menurut bagian lain pendapat Groeneveldt, toponim yang lebih pas diidentifikasi sebagai Bali adalah Dva-pa-tan yang tercatat dalam kitab sejarah kuno dinasti T’ang. Menurut catatan itu, Dva-pa-tan terletak di sebelah selatan Kamboja dengan jarak dua bulan pelayaran, atau di sebelah timur Ho-ling (Ka-ling). Adat istiadat Dva-pa-tan sama dengan Ho-ling. Di kerajaan ini, padi sudah dapat dituai setiap bulan. Penduduknya menulis menggunakan media daun rontal. Jika ada orang mati, mayatnya diberi perhiasan emas, ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas, lalu dibakar disertai dengan bau-bauan yang harum (Groeneveldt, 1960 : 12-58).

Menurut catatan kitab Chu-fan-chih bagian Su-chi-tan, kerajaan Bali disebut dengan nama Mali. Sedangkan dalam kitab Yao-i-chin-lue terdapat nama kerajaan P’eng-li yang mungkin dapat diidentifikasi sama dengan Pali atau Mali (Sumadio, dkk., 1990 : 282).

Sejarah Bali Tahun 800-882

Dokumen sejarah tertua yang ditemukan di Bali adalah prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta pada tablet-tablet tanah liat. Prasasti-prasasti ini semula tersimpan di dalam stupika-stupika (stupa-stupa kecil) dari tanah liat di daerah Pejeng, Gianyar. Isi Prasasti-prasasti itu adalah mantra-mantra agama Buddha yang dikenal dengan nama ye-te-mantra. Prasasti-prasasti yang sejenis dengan prasasti-prasasti Pejeng ini ditemukan juga di Pura Pegulingan Basangambu, Tampaksiring dan situs Kalibukuk Buleleng.

Bunyi teks prasasti-prasasti Pejeng, sebagai berikut :


Ye dharmā hetu-prabhawā
Hetun tesān tathāgato hyawadat
Tesāñca yo nirodha
Ewamwādi mahāśramanah


Artinya :
Keadaan tentang sebab-sebab kejadian itu, sudah diterangkan oleh Tathagata (Buddha), Tuan mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu

(Goris, 1948 : 3).

Mantra sejenis itu tertulis pula di atas pintu Candi Kalasan (di Jawa Tengah) yang berasal dari abad ke-8 atau tahun 700 Śaka (778 Masehi). Berdasarkan kesamaan tipe aksara mantra-mantra di kedua tempat itu, maka mantra-mantra agama Buddha di Pejeng diduga berasal dari abad ke-8 pula (Goris, 1949 : 3-4 ; cf. Budiastra, 1980/1981 : 36-38).

Fragmen-fragmen prasasti menggunakan bahasa Sansekerta dengan huruf Bali Kuno, juga ditemukan di desa Pejeng. Keadaan fragmen-fragmen ini sudah sangat tua, sebagian besar rusak dan sulit dibaca. Beberapa bagian yang masih dapat dibaca, antara lain manuśasana… (pada fragmen d), …mantramārgga… (pada fragmen g), …śiwas (…) ddh … (pada fragmen h), yang diduga bacaan lengkapnya berbunyi … śiwasiddhanta …, dan …sakalabhuwanakrt … (pada fragmen k), yakni nama lain untuk Wiśwakarman. Dari isi fragmen yang masih dapat dibaca ini, memberi sedikit petunjuk bahwa isi prasasti tersebut pada umumnya bersifat keagamaan, dalam hal ini agama Hindu Śiwa ; Bahkan rupanya, agama itu telah bersifat mantris atau tantris (Stutterheim, 1929 : 62).

Baca Juga :  41 Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli dan Secara Umum

Fragmen-fragmen yang ditemukan itu ternyata tidak ada yang berangka tahun. Berdasarkan studi komparatif dengan huruf prasasti-prasasti di Jawa, terutama di Jawa Tengah, Stutterheim menyimpulkan bahwa fragmen-fragmen itu bisa berasal dari masa sebelum tahun 800 Saka (878 Masehi), atau sekitar awal abad-9 (Stutterheiom, 1929 : 62).

Jika pendapat Stutterheim benar, hal ini berarti, pada waktu itu agama Buddha dan agama Hindu Siwa, sama-sama telah berkembang di daerah Pejeng, Gianyar.

Sejarah Bali Tahun 882-955

Periode ini sering disebut sebagai periode Singhamandawa, karena prasasti-prasasti yang ada pada era ini dikeluarkan di Panglapuan (panglapwan) di Singhamandawa.

Pada kisaran tahun 882-914, setidaknya ada tujuh buah prasasti berbahasa Bali kuno yang ditemukan, yaitu, prasasti Sukawana AI (804 Saka), Bebetin AI (818 Saka), Trunyan AI (833 Saka), Trunyan B (833 Saka), Bangli, Pura Kehen A, Gobleg, Pura Desa I (836 Saka), dan Angsri A. Seluruhnya tidak mencantumkan siapa nama raja atau pejabat yang mengeluarkannya (Goris, 1954a : 53-62).

Isi prasasti Sukawana AI pada pokoknya tentang pengembalian fungsi kesucian ulan/bangunan suci keagamaan yang ada di wilayah perkebunan bukit Citamani (sekarang Kintamani). Sepertinya, ulan itu telah dipergunakan oleh penduduk sebagai tempat lalu-lalang setiap pulang pergi ke kebun atau sawah ladangnya. Penguasa membuat kebijakan yang intinya memerintahkan Senapati danda, bhiksu Siwakangsita, Siwanirmala, dan Siwaparjna untuk membangun pertapaan yang dilengkapi bangunan pasanggrahan (satra) di sisi lain bukit Citamani. Sedangkan jalan setapak yang ada di kompleks pertapaan itu tidak boleh digunakan lagi sebagai jalan lalu-lalang aktivitas penduduk.

Berdasarkan prasasti ini, pra peneliti mengetahui bahwa di bawah raja, setidaknya ada empat jabatan tinggi kerajaan, yakni, sarbwa, dinganga, nayakan, makarun, dan manuratang ajna. Nama jabatan-jabatan ini masih ada selama periode Singhamandawa. Setelah itu, jabatan-jabatan tinggi kerajaan semakin banyak jumlahnya.

Isi prasasti Bebetin AI terkait dengan kuta di banwa bharu, yang artinya adalah desa bharu yang berbenteng. Prasasti ini menceritakan bahwa desa itu pernah diserang perampok. Penduduk banyak yang terbunuh, sisanya mengungsi ke desa lain. Baru setelah keadaan aman, mereka semua kembali ke desanya. Mengatasi hal ini, demi melengkapi perangkat desa, khususnya bidang keagamaan, raja memerintahkan pejabat nayakan pradhana, yaitu, kumpi ugra dan bhiksu Widya Ruwana untuk memimpin pembangunan kuil Hyang Api, dengan batas-batas yang telah ditentukan. Prasasti ini juga mencantumkan aturan-aturan pembagian harta warisan dan ketetapan mengenai tugas atau kewajiban serta hak-hak penduduk.

Para peneliti menduga desa bharu terletak di pesisir pantai utara Pulau Bali, dan merupakan salah satu pelabuhan kerajaan. Dugaan ini berdasarkan isi prasasti Bebetin A1 yang mencantumkan ketentuan untuk mengatur saudagar-saudagar dari luar yang berdagang di sana dan perlakuan perahu-perahu yang mengalami kerusakan.

Di bawah ini adalah bagian teks prasasti Bebetin AI pada lembaran Iib.3-4 :

… anada tua banyaga turun ditu, paniken (baca : paneken) di hyangapi, parunggahna, ana mati ya tua banyaga, perduan drbyana prakara, ana cakcak lancangna kajadyan papagerrangen kuta …

(Goris, 1954a : 55)

Artinya :

…Jika ada saudagar berlabuh (turun) di sana, barang-barang persembahannya supaya dihaturkan kepada kuil Hyang Api, (jika) ada mati (di antara) saudagar itu, segala harta miliknya agar dibagi dua, (jika) perahunya rusak, supaya dijadikan pagar untuk memperkuat benteng, …

Prasasti Trunyan AI dan Trunyan B, khususnya pada lembaran Ib-IIa.4, pada dasarnya isinya sama. Kedua prasasti ini memuat soal pemberian ijin dari raja kepada penduduk desa Turunan untuk mendirikan bangunan suci untuk Bhatara Da Tonta. Prasasti itu selanjutnya menjelaskan tentang kewajiban bagi penduduk untuk membayar iuran dan melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk keperluan bangunan suci itu. Karena kewajibannya itu, raja membebaskan mereka dari beban pajak-pajak serta kewajiban-kewajian tertentu.

Salah satu kewajiban penduduk desa Turunan dijelaskan di bagian lain prasasti Trunyan AI, yaitu, wajib memberikan makanan dan minuman jika ada utusan raja melakukan persembahyangan di sana pada bulan Asuji. Prasasti itu mencantumkan juga kewajiban-kewajiban bagi penduduk desa Hasar, Halang Guras, Pungsu, dan Panumbahan dalam urusan upacara-upacara di kuil Sang Hyang di Turunan (Bhatara Da Tonta) dan Guha Mangurug Jalalingga.

Prasasti Trunyan B mencantumkan kewajiban bagi penduduk desa Air Rawang di sebelah timur Danau Batur untuk membayar iuran bagi keperluan upacara Sang Hyang di Turunan. Selain kewajiban, mereka diberikan hak, yaitu, menyucikan Bhatara Da Tonta dengan air Danau Batur, kemudian dibedaki kuning, serta dihiasi dengan cincin bepermata dan anting-anting, setiap bulan Bhadrawada (Agustus-September). Petugas yang berwenang melaksanakan hal-hal itu adalah Sahayan Padang dari desa Air Rawang.

Isi bagian akhir prasasti Trunyan B adalah kalimat kutukan yang ringkas (Goris, 1954a : 58-59).

Prasasti Pura Kehen A berisi tentang bangunan suci Hyang Karimama yang terletak di desa Simpat Bunut. Raja memberikan tugas kepada para bhiksu Siwarudra, Anantasuksma, dan Prabhawa serta penduduk desa Simpat Bunut untuk memperbaiki serta memperluas (pamasamahyan) pertapaan di Hyang Karimama. Batas-batasnya kemudian ditetapkan. Dalam prasasti itu, raja juga memperbolehkan pertapaan di Hyang Karimama memiliki cabang di desa lain, asalkan tidak lebih dari 20 buah (Goris, 1954a : 60-61).

Prasasti Gobleg, Pura Desa I (836 Saka) berisi tentang perintah untuk memperbaiki bangunan suci di Bukittunggal yang bernama Indrapura, yang berada dalam wilayah desa Air Tabar. Prasasti ini juga mencantumkan aturan pembagian harta warisan dan keringanan dari tugas-tugas tertentu yang didapat oleh penduduk.

Tidak banyak yang bisa dibaca dari Prasasti Angsri A karena keadaannya sangat aus. Dari bagian yang masih dapat dibaca diketahui nama bangunan suci Hyang Api dan Hyang Tanda. Kedua bangunan suci itu mendapat persembahan bagian harta warisan keluarga yang putus keturunan (Goris, 1954a : 62).

Sri Kesari Warmadewa adalah raja pertama kerajaan Bali kuno, yang tercatat di prasasti. Nama raja ini dapat ditemukan di dalam prasasti Blanjong (835 Saka),prasasti Penempahan, dan prasasti Malet Gede (835 Saka).

Dari semua nama raja kerajaan Bali kuno, Sri Kesari Warmadewa yang pertama kali menggunakan nama dinasti warmadewa. Oleh karena itu, para peneliti menduga bahwa raja ini adalah pendiri dinasti (vamsakara) Warmadewa di Bali.

Raja-raja dari dinasti Warmadewa berkuasa di Bali sedikitnya selama satu abad, drai awal abad ke-10 sampai awal abad ke-11.

Raja Sri Kesari Warmadewa kemudian digantikan oleh Sang Ratu Sri Ugrasena. Raja Ugrasena tercatat namanya dalam prasasti-prasastinya tahun 837-864 Saka (915-942). Era pemerintahannya sejaman dengan masa Pu Sindok di Jawa Timur (Goris, 1948 : 5).

Raja Ugrasena mengeluarkan sebelas prasasti, yaitu, prasasti Banjar Kayang (837 Saka), prasasti Les, Pura Bale Agung (837 Saka), Babahan I (839 Saka), Sembiran AI(844 Saka), Pengotan AI (846 Saka), Batunya AI (855 Ska), Dausa, Pura Bukit Indrakila AI (857 Saka), Serai AI (858 Saka), Dausa, Pura Bukit Indrakila BI (864 Saka), prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg, Pura Batur A (Goris, 1954a : 8-11 ; 63-72). kesebelas prasasti ini menggunakan bahasa bali kuno.

Baca Juga :  41 Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli dan Secara Umum

Isi dari prasasti itu sebagian besar tentang kebijakan raja mengenai keringanan pajak dan pembangunan tempat suci. Diantara kebijakan itu adalah sebagai berikut :

Memberikan keringanan pajak kepada desa Sadungan dan Julah, karena desa itu belum benar-benar pulih dari kerusakan akibat diserang perampok. Raja juga memberikan kebebasan dari kewajiban gotong royong kepada desa Kundungan dan Silihan, karena alasan yang sama. Raja juga menetapakan dengan sejelas-jelasnya jenis-jenis pajak yang dipungut dari penduduk untuk menghindari perselisihan dengan petugas pajak (Goris, 1954a : 63-68 ; 70-71).

Dalam bidang keagamaan, raja mengijinkan penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api yang terletak di desanya masing-masing. Dalam prasasti Gobleg, Pura Batur A yang menceritakan tentang keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa ”sekte (?) Waisnawa”, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni (Goris, 1954a : 68-72).

Raja Ugrasena diduga dicandikan di Air Madatu. Beliau kemudian dikenal dengan sebutan sang ratu siddha dewata sang lumah di air madatu (cf. Goris, 1954b : 211). Keterangan ini tercantum dalam prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Tabanendra Warmadewa yang ditemukan di desa Kintamani. Dalam prasasti itu, raja Tabanendra memerintahkan untuk memugar atau memperluas pasanggarahan di Air Mih (Goris, 1954a : 76).

Jika keterangan dalam prasasti itu benar-benar ditujukan untuk Raja Ugrasena, maka hal ini menunjukan raja Tabanendra dan permaisurinya sangat hormat terhadap raja Ugrasena. Atas dasar ini, para peneliti menyimpulkan bahwa meskipun Sang Ratu Sri Ugrasena tidak menggunakan nama dinasti warmadewa, raja ini pun termasuk anggota dinasti Warmadewa.

Bali Tahun 955-1343

Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa adalah raja pertama pada periode ini. Dia memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yang bernama, Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967) Mereka berdua menggantikan raja Ugrasena.

Raja suami istri ini mengeluarkan beberapa prasasti, yaitu, prasasti Manik Liu AI (877 Saka), Manik Liu BI (877 Saka), Manik Liu C (877 Saka), dan Kintamani A (899 Saka).

Ketiga prasasti Manik Liu membahas masalah yang sama, yaitu, raja membebaskan Samgat Juru Mangjahit Kajang, dan anak bandut yang berdiam di desa Pakuwwan dan Talun dari kewajiban tugas gotong royong dan berbagai pajak, kecuali pajak rot (Goris, 1954a : 74-75).

Prasasti Kintamani A, menurut Goris isinya terkait dengan prasasti Kintamani B, yang telah dibahas di atas, yaitu, tentang perintah Raja Tabanendra Warmadewa untuk memugar pesanggarahan di Air Mih. Dalam Prasasti Kintamani B dinyatakan juga bahwa pasanggrahan di Dharmarupa adalah cabang dari pasanggrahan di Air Mih (Goris, 1954a : 77).

Kemudian, raja yang berkuasa adalah Jayasingha Warmadewa. Nama raja ini tercatat dalam prasasti Manukaya (882 Saka) (Stutterheim, 1929 : 68-69 ; Goris 1954a : 75-76 ; Damais, 1955 : 224-225). Dalam prasasti ini, raja memerintahkan untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring).

Pada tahun 897 Saka, kerajaan Bali dipimpin oleh raja Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa. Nama raja ini tercantum dalam prasasti Sembiran AII (897 Saka) (Brandes, 1889 : 46-48 ; Goris, 1954a : 77-79 ; Damais, 1955 : 226).

Pengganti Raja Janasadhu Warmadewa adalah Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Nama raja ini hanya tercatat di satu prasasti, yaitu, prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka) (Goris, 1954a : 79-80 ; Damais, 1955 : 226-227).

Ratu Sri Wijaya Mahadewi diduga mangkat pada tahun 911 Saka (989). Setelahnya, raja yang memerintah kerajaan Bali adalah pasangan suami istri, Sri Dharmodayana Warmadewa dan Sri Gunapriyadharmapatni.

Prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja suami istri ini adalah prasasti Bebetin AI (911 Saka), Serai AII (915 Saka), Buwahan A (916 Saka), Sading A (923 Saka) dan prasasti Tamblingan Pura Endek II (Goris, 1954a : 80-88).

Di antara semua prasasti itu, prasasti Buwahan A paling menarik perhatian para peneliti. Pada intinya, raja Gunapryadharmapatni dan Udayana memberikan ijin kepada desa Bwahan yang terletak di sisi Danau Batur untuk lepas dari desa induknya, yakni desa Kdisan (kini desa Kedisan Kintamani).

Setelah selalu menerbitkan prasasti sebagai bersama-sama, raja Udayana kemudian menerbitkan prasasti atas namanya sendiri tanpa permaisurinya, pada tahun 933 Saka, yaitu, prasasti Pura Abang A (Goris, 1954a : 88-94 ; Damais, 1955 : 185). Kemungkinan, Sri Gunapriyadharmapatni meninggal sebelum tahun 933 Saka. Prasasti ini diberikan untuk desa Air Hawang (sekarang desa Abang, Kintamani).

Selain prasasti-prasasti di atas, masih ada lima buah prasasti singkat (short inscription) yang terbit pada masa ini, yaitu prasasti-prasasti Besakih, Pura Batumadeg (nomor lama 908), Ujung Pura Dalem (nomor lama 357) berangka tahun 932 Saka, Gunung Penulisan A (933 Saka), Gunung Penulisan B, dan Sangsit B (nomor lama 437) berangka tahun 933 Saka (Goris, 1954a : 46, 94, 105-107 ; Damais, 1955 : 229).

Setelah mangkat, Gunapriyadharmapatni dicandikan di Burwan, dan Udayana yang diduga mangkat tidak lama setelah tahun 933 Saka dicandikan di Banu Wka.

Candi Gung Kawi, peninggalan kerajaan bali kuno

Raja suami istri Udayana dan Gunapriyadharmapatni digantikan oleh Ratu Sri Ajnadewi. Raja ini mengeluarkan prasasti Sembiran AIII pada tahun 938 Saka (Brandes, 1889 : 48-49 ; Damais, 1955 : 229-230).

Belum diketahui hubungan kekerabatan antara raja ini dengan raja sebelumnya. Namun, raja ini naik tahta bersamaan dengan peristiwa pralaya di istana Jawa Timur. Oleh karena itu, para peneliti menganalisis sebagai berikut :

Ketika berlangsungnya upacara pernikahan Airlangga dengan putri Dharmawangsa Teguh, Udayana sebagai ayah Airlangga, pasti hadir di keraton Jawa Timur. Ada kemungkinan raja ini ikut gugur dalam peristiwa serangan raja wora wari ke istana yang menyebabkan pralaya, dan hal itu menyebabkan taktha kerajaan Bali lowong secara tiba-tiba.

Sementara Airlangga belum diketahui nasibnya dalam pelarian, adiknya , yaitu Marakata, masih terlalu muda untuk dinobatkan sebagai raja. Pendapat ini dasarnya adalah jika Airlangga pada tahun 1016 baru berumur 16 tahun, maka adiknya Marakata, setua-tuanya baru berumur 15 tahun, bahkan kenyataannya bisa jadi lebih muda dari itu.

Untuk mencegah kosongnya kekuasaan maka keluarga istana kerajaan Bali memutuskan mengangkat seorang wali, yaitu Ratu Sri Sang Ajnadewi. Perwalian itu berlangsung sampai Marakata cukup dewasa untuk menjadi raja. Marakata tercatat mengeluarkan prasasti pertamanya, yaitu prasasti Batuan pada tahun 944 Saka (1022).

Selain prasasti Batuan, Raja Marakata juga mengeluarkan prasasti Sawan A I = Bila I (nomor lama 353) yang berangka tahun 945 Saka, Tengkulak A (945 Saka), dan Bwahan B (947 Saka). Dalam prasasti-prasasti ini, gelar lengkapnya adalah Paduka Haji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.

Selain prasasti-prasasti di atas, terdapat beberapa prasasti singkat yang terbit pada masa pemerintahan raja Marakata, yaitu prasasti Kesian, Pura Sibi I (945 Saka), Kesian, Pura Sibi II (948 Saka), Kesian Pura Sibi III (948 Saka), Kesian, Pura Sibi IV dan Bangli, Pura Kehen B (nomor semula 356) tanpa angka tahun.

Baca Juga :  41 Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli dan Secara Umum

pengganti Raja Marakata adalah adiknya, yaitu, Anak Wungsu. Raja ini memerintah antara tahun 971-999 Saka (1049-1077).

Raja Anak Wungsu adalah raja kerajaan Bali Kuno yang paling lama, yaitu, selama tidak kurang dari 28 tahun. Raja ini mengeluarkan 31 buah prasasti.

Pengganti Raja Anak Wungsu adalah Sri Maharaja Sri Walaprabhu. Raja ini memerintah tahun 1001-1010 Saka ( 1078-1088). Nama raja ini tercantum dalam prasasti Babahan II (nomor lama 501). Goris menduga Prasasti Ababi A (nomor lama 447) dan Klandis (nomor lama 448) juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu (1954a : 26 ; 1965 : 33).

Pengganti Sri Walaprabhu adalah Paduka Sri Maharaja Sri Sakalendukirana Isana Gunadharma Laksmidhara Wijayotunggadewi. nama raja ini tercantum dalam prasasti Pengotan B I (1010 Saka), dan Pengotan B II (1023 Saka).

Raja kerajaan Bali kuno pengganti Ratu Sakalendukirana adalah Paduka Sri Maharaja Sri Suradhipa. Raja ini memerintah kerjaan bali kuno antara tahun 1037 : 1041 Saka (1115-1119). Raja ini mengeluarkan prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Saka), Angsari B (1041 Saka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.

Raja Suradhipa digantikan oleh raja-raja yang menggunakan unsur jaya dalam gelarnya, yaitu :

  • Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Saka (1133-1150 Masehi)
  • Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Saka (1155 masehi)
  • Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus tahun 1099-1103 Saka (1178-1181 Masehi)
  • Paduka Sri Maharaja Haji Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Saka (1200 Masehi).

Ternyata keempat raja ini memerintah pada jaman yang sama dengan masa pemerintahan raja-raja kerajaan kediri, Jawa Timur, yaitu, Jayabhaya (1057 -1079 Saka), Sarweswara (1081 Saka), Aryeswara (1091-1093 Saka), Kroncaryadhipa atau Gandra (1103 Saka), Kameswara (1104-1107 Saka), dan Kertajaya atau Srengga (1116-1127 Saka) (cf. Damais, 1952 : 66-71 ; Sumadio dkk., 1990 : 267-272, 306).

Kesamaan era dan adanya kesamaan unsur jaya dalam nama-nama raja kedua kerajaan, patut diduga mereka memiliki hubungan kekerabatan.

Kemungkinan adanya hubungan kekerabatan di antara mereka diperkuat oleh keterangan dalam kitab Bharatayuddha. Dalam kitab ini diceritakan bahwa raja Jayabhaya pernah memperluas wilayahnya ke Indonesia bagian timur dan tidak ada satu pun pulau yang sanggup mempertahankan diri (Krom, 1956 :154-155 ; Warna dkk., 1990 : 2-3).

Setelah masa pemerintahan raja Ekajayalancana sampai dengan akhir masa kerajaan Bali Kuno, terjadi lima kali pergantian raja.

  • Sri Wirama (1126 Saka)
  • Adidewalancana (1182 Saka)
  • Sri Mahaguru (1246-1247 Saka)
  • Walajayakrrttaningrat (1250 Saka)
  • Sri Astasura Ratnabhumibanten (1259-1265 Saka).

Antara Raja Sri Wirama (1126 Saka) dan Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Saka) terdapat masa kosong tanpa raja selama kurang lebih 56 tahun. Belum diketahui kenapa hal ini bisa terjadi.

Setelah kekuasaan raja Adidewalancana, terjadi lagi masa tanpa raja selama kurang lebih 64 tahun, yaitu, tahun 1182-1246 Saka (1260-1324).

Pada periode itu hanya terbit dua buah prasasti, yaitu, prasasti Pengotan E (1218 Saka) dan Sukawana D (1222 Saka). Prasasti itu dikeluarkan oleh Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan). Tokoh ini ternyata hanya berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja (Goris, 1948 : 11 ; 1954a : 42).

Naiknya Kbo Parud sebagai rajapatih di Bali kemungkinan ada hubungannya dengan keterangan yang terdapat dalam pupuh 42 bait 1 kitab Nagarakrtagama. Dalam pupuh itu diceritakan bahwa pada tahun 1206 Saka (1284), Raja Singhasari, yaitu Krtanagara menaklukkan Bali dan menawan raja-raja Bali (Pigeaud, 1960a : 32 ; 1960b : 48 ; Slametmulyana, 1979, 294). Namun, tidak disebutkan siapa nama raja tersebut.

Kedudukan Kbo Parud sebagai penguasa Bali digantikan oleh Bhatara Guru II (Bhatara Sri Mahaguru), yang dinobatkan sebagai raja Bali pada tahun 1256 Saka (1324).

Bhatara Guru II digantikan oleh Paduka Bhatara Sri Walajayakrtaningrat. Raja ini berkuasa dibantu oleh ibunya yang bergelar Paduka Tara Sri Mahaguru.

Pengganti Raja Walajayakrttaningrat dan ibunya adalah Paduka Bhatara Sri Astasura Ratnabumibanten. Nama raja ini terbaca dalam prasasti Langgahan yang berangka tahun 1259 Saka (Goris, 1954a : 44 ; Damais, 1955 : 99).

Pada tahun 1265 Saka (1343) Majapahit menyerang kerajaan Bali dipimpin oleh Gajah Mada. Penyerangan itu berhasil menaklukkan kerajaan Bali. Goris berpendapat bahwa penaklukan ini adalah akhir era kerajaan Bali Kuno yang merdeka (1965 : 47).

Raja-Raja Kerajaan Bali

Dari data-data prasasti, dan rontal-rontal yang ada di Bali, kiranya dapat disusun daftar nama raja kerajaan bali sebagai berikut :

Raja Kerajaan bali kuno

  1. Çri Keçari Warmadēwa (Saka 835/913 M)
  2. Çri Ugrasēna (Saka 837-864/915-942 M)
  3. Agni Nripati (Saka 841-875/953-953 M)
  4. Tabanēndra Warmadēwa (Saka 877-889/955-967 M)
  5. Candrabhaya Singha Warmadēwa (Saka 878-896/956-974 M)
  6. Jana Sadhu Warmadēwa (Saka 897/975 M)
  7. Gunapryadharmapatni-Dharmodayana Warmadēwa (Saka 910-933/998-1011 M)
  8. Çri Adnya Dewi (Saka 933-938/1011-1016 M)
  9. Marakata Pangkaja Sthana Tunggadēwa (Saka 938-962/1016-1040 M)
  10. Anak Wungsu (Saka 971-999/1049-1077 M)
  11. Sakalendu Kirana (Saka 1020-1023/1088-1101 M)
  12. Suradipa (Saka 1037-1041/1115-1119 M)
  13. Jaya Çakti (Saka 1055-1072/1133-1150M)
  14. Ragajaya (Saka 1077-1092/1155-1170M)
  15. Jayapangus (Saka 1099-1103/1177-1181M)
  16. Arjaya Deng Jayaketana (Tidak diketahui tahunnya, namun dari cara penulisan prasasti dan isinya diperkirakan antara raja Jayapangus dengan Ekajayalancana)
  17. Ekajayalancana (Saka 1122-1126/1200-1204 M)
  18. Adhikuntiketana (Saka 1126/1204 M)
  19. Masula Masuli
  20. Pameswara Çri Hyangning Hyang Adhidewalancana (Saka 1182-1208/1260-1286 M)
  21. Kryan Demung Sasabungalan (Saka 1206/1284 M)
  22. Kebo Parud Makakasir (Saka 1206-1246/1284-1324 M)
  23. Bethara Çri Maha Guru (Saka 1246/1324 M)
  24. Çri Walajaya Krethaningrat (Saka 1250-1259/1328-1337 M)
  25. Asta Sura Ratna Bumi Banten (Saka 1259-1265/1337-1343 M)

Raja bali pasca Serangan Majapahit

Sebelum penunjukkan raja oleh pemerintah pusat di Majapahit, yang bertindak sebagai raja bali adalah Kyayi Gusti Pasek Gelgel (Saka 1265-1272/1343-1350 M). Beliau adalah putra asli Bali.

Selanjutnya, berikut adalah nama raja setelah ditunjuk oleh Majapahit :

  1. Çri Kresna Kepakisan / Adipati Samprangan (Saka 1272-1295/1350-1373 M)
  2. Çri Agra Samprangan (Saka 1295/1373 M)
  3. Çri Smara Kepakisan (Saka 1302-1382/1380-1460 M)
  4. Dalem Watur Enggong (Saka 1382-1472/1460-1550 M)
  5. Dalem Bekung (Saka 1472-1502/1550-1580 M)
  6. Dalem Sagening (Saka 1502-1543/1580-1621 M)
  7. Dalem Di Made (Saka 1543-1573/1621-1651 M)
  8. I Gusti Agung Maruti , bergelar Dalem Agung Dimade (Saka 1573-1599/1651-1677 M). Note : Patih Agung I Gusti Agung Maruti adalah keturunan dari Arya Kresna Kepakisan (patih agung Çri Kresna Kepakisan) yang melakukan kudeta terhadap Dalem Di Made pada tahun saka 1573 (1651 M). Tetapi, pada tahun saka 1599 (1677 M), keturunan Çri Kresna Kepakisan / Dalem berhasil merebut kekuasaan kembali dengan bantuan raja-raja bawahan.
  9. I Dewa Agung Jambe (Saka 1599-1664/1777-1742 M)
  10. I Dewa Agung Di Made (Saka 1664-1714/1742-1792 M)
  11. I Dewa Agung Gde (Saka 1714-1759/1792-1837 M)
  12. I Dewa Agung Sakti (Saka 1759/1837M)
  13. Dst… Hingga akhirnya masuk era penjajahan Belanda

Demikian paparan singkat mengenai sejarah raja-raja yang pernah memimpin kerajaan bali kuno hingga setelah ditaklukan oleh Majapahit. semoga bermanfaat.