Kebijakan Moneter Ekspansif : Pengertian & Contoh (Disertai Kurva)

Kebijakan moneter ekspansif adalah kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral menggunakan instrumen yang dimilikinya untuk merangsang perekonomian. Kebijakan moneter ekspansif akan meningkatkan jumlah uang beredar, menurunkan suku bunga, dan meningkatkan permintaan agregat. Kebijakan ini mendorong pertumbuhan yang diukur dengan produk domestik bruto. Kebijakan ini juga akan menurunkan nilai mata uang, sehingga mengurangi nilai tukar. Kebijakan moneter ekspansif adalah kebalikan dari kebijakan moneter kontraktif. (Baca juga : pengertian kebijakan moneter kontraktif).

Kebijakan moneter ekspansif yang dilakukan bank sentral bertujuan untuk mengatasi fase kontraksi siklus bisnis. Tetapi sulit bagi pembuat kebijakan untuk mengeluarkan kebijakan di waktu yang tepat (sebelum resesi terjadi). Sehingga, kebijakan ini biasanya digunakan setelah resesi dimulai. (Baca juga : Kebijakan Moneter Bank Indonesia).

Pengertian Kebijakan Moneter Ekspansif

Kebijakan moneter ekspansif adalah bentuk kebijakan moneter yang berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi dengan memperluas pasokan uang lebih cepat dari biasanya atau menurunkan suku bunga jangka pendek. Kebijakan moneter ekspansif yang dilakukan bank sentral umumnya melalui operasi pasar terbuka, persyaratan cadangan bank dan penetapan suku bunga. Pelonggaran kuantitatif, atau QE, adalah bentuk lain dari kebijakan bank sentral ini.

Meskipun sama-sama bertujuan memacu pertumbuhan ekonomi, kebijakan moneter ekspansif berbeda dari kebijakan fiskal ekspansif, yang mencakup pemotongan pajak, subsidi, potongan harga dan peningkatan pengeluaran pemerintah untuk proyek-proyek seperti perbaikan infrastruktur. (Baca juga : Perbedaan Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter).

Di bawah ini adalah tiga hal pokok tentang kebijakan ini :

  • Kebijakan moneter ekspansif bertujuan untuk meningkatkan permintaan agregat dan pertumbuhan ekonomi dalam perekonomian.
  • Kebijakan ini mencakup pemotongan suku bunga atau peningkatan jumlah uang beredar untuk mendorong kegiatan ekonomi.
  • Kebijakan ini juga bisa disebut ‘pelonggaran kebijakan moneter’. Ini adalah kebalikan dari kebijakan moneter ‘ketat’.

Dalam mengeluarkan kebijakan moneter ekspansif, bank sentral akan memperhatikan banyak faktor baik internal maupun eksternal. Beberapa hal yang diperhatikan misalnya, tingkat inflasi, situasi ekonomi global, kinerja ekspor dll.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juli 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%. Kebijakan tersebut ditempuh sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas eksternal yang terkendali.

sumber : BI 7 day Reverse Repo Rate turun karena terjaganya stabilitas ekonomi dan untuk mendorong momentum pertumbuhan

Cara Kerja Kebijakan Moneter Ekspansif

Bank sentral memiliki banyak instrumen moneter yang bisa dipergunakannya dalam berbagai situasi ekonomi. (Baca juga : Instrumen Kebijakan Moneter Yang Dimiliki Bank Indonesia).

Baca Juga :  Teori Ketenagakerjaan : Jenis, dan Pengertian Menurut Para Ahli

Kebijakan moneter ekspansif dapat dilakukan dengan cara menurunkan tingkat legal reserve requirement / persyaratan cadangan / rasio cadangan kas.

Reserve requirement adalah peraturan bank sentral yang menetapkan jumlah minimum cadangan yang harus dipegang oleh bank umum.

Jika persyaratan cadangan diturunkan, maka uang yang tersedia untuk disalurkan melalui kredit akan meningkat.

Kebijakan ekspansif penting lainnya adalah menurunkan suku bunga acuan. Jika Bank sentral memotong suku bunga acuan, hal ini akan cenderung meningkatkan permintaan secara keseluruhan dalam perekonomian.

Suku bunga yang lebih rendah membuat biaya kredit lebih murah. Hal ini mendorong perusahaan untuk berinvestasi dan konsumen untuk konsumtif.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya pembayaran bunga hipotek. Hal ini memberi rumah tangga pendapatan yang lebih besar dan mendorong pengeluaran.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi insentif untuk menabung. Sehingga, orang-orang lebih suka menggunakan uangnya untuk berinvestasi.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi nilai tukar rupiah, membuat ekspor lebih murah dan meningkatkan permintaan ekspor.

Selain memotong suku bunga, kebijakan moneter ekspansif dapat dilakukan dengan cara pelonggaran kuantitatif untuk meningkatkan jumlah uang beredar dan mengurangi suku bunga jangka panjang. Dengan pelonggaran kuantitatif, bank sentral menambah peredaran uang.

Kurva Peningkatan Permintaan Agregat akibat Kebijakan Moneter Ekspansif

Pengaruh kebijakan moneter ekspansif terhadap kurva permintaan agregat dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini :

Kurva Efek kebijakan moneter ekspansif terhadap permintaan agregat

Penerapan kebijakan moneter ekspansif akan menggeser kurva permintaan agregat ke kanan dari AD1 menjadi AD2. Hal ini juga akan menyebabkan peningkatan tingkat harga dari P1 menjadi P2.

Tujuan Kebijakan Moneter Ekspansif

Semua kebijakan bertujuan untuk menjaga perekonomian berada pada tingkat yang sehat. Di bawah ini adalah beberapa tujuan kebijakan moneter ekspansif yang dikeluarkan oleh bank sentral :

  • Kebijakan moneter ekspansif yang dilakukan bank sentral akan dikeluarkan selama masa resesi untuk mendorong pertumbuhan. Kebijakan ini dilakukan dengan, di antaranya menurunkan suku bunga dan meningkatkan jumlah uang beredar. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan peningkatan permintaan agregat. Konsumen dan dunia usaha dapat meminjam uang dengan mudah/murah sehingga membantu mereka pada akhirnya menghabiskan lebih banyak uang.
  • Ketika konsumen membelanjakan lebih banyak uang, maka bisnis memiliki mengalami peningkatan pendapatan dan laba. Hal ini membantu dunia usaha untuk memperbarui aset-aset mereka serta merekrut karyawan baru. Karena lebih mudah bagi perusahaan untuk meminjam uang, mereka memperluas operasi mereka sehingga mengurangi pengangguran. Karena semakin banyak orang yang dipekerjakan, daya beli masyarakat meningkat yang meningkatkan pendapatan dunia usaha sehingga menghasilkan lebih banyak pekerjaan. Demikian seterusnya.
  • Kebijakan moneter ekspansif akan mengakibatkan inflasi. Hal ini terjadi karena kelebihan pasokan uang dalam perekonomian, maka uang turun nilainya. Hasil dari ini adalah harga tinggi untuk produk terbatas karena ada persaingan di antara pembeli dan harga yang dibayar tertinggi adalah pemenangnya. (Baca juga : Faktor Penyebab Inflasi).
  • Kebijakan ekspansif juga membatasi deflasi yang terjadi selama resesi. Saat resesi ekonomi, daya beli sangat rendah, biasanya produsen akan menurunkan harga barang dan jasa untuk bertahan dalam bisnis.
Baca Juga :  Kebijakan Fiskal Ekspansif : Pengertian, Tujuan, Contoh, Dampak

Mengapa kebijakan moneter ekspansif tidak selalu efektif?

Penurunan suku bunga tidak menjamin terjadinya pemulihan ekonomi yang kuat. Kebijakan moneter ekspansif mungkin tidak akan memberi hasil dalam kondisi tertentu. Berikut ini adalah beberapa kekurangan kebijakan moneter ekspansif :

  • Jika kepercayaan konsumen sangat rendah, maka orang mungkin tidak ingin berinvestasi atau konsumsi, meskipun suku bunga lebih rendah.
  • Dalam krisis kredit, bank mungkin tidak memiliki dana untuk dipinjamkan, oleh karena itu meskipun Bank Sentral memangkas suku bunga, masih sulit untuk mendapatkan pinjaman dari bank.
  • Bank-bank komersial mungkin tidak mengikuti pemotongan suku bunga acuan. Akibatnya suku bunga kredit tetap tinggi.
  • Kebijakan moneter ekspansif dapat mendorong belanja konsumen, namun jika kita berada dalam resesi ekonomi global, maka mungkin terjadi penurunan besar dalam kinerja ekspor. Maka, peningkatan daya beli dalam negeri tidak akan banyak membantu.
  • Dampak kebijakan moneter tidak instan. Diperlukan waktu untuk melihat pengaruh pemotongan suku bunga terhadap peningkatan konsumsi.
  • Konsumsi dan investasi tidak hanya tergantung pada suku bunga.
  • Jika suku bunga sudah sangat rendah maka tidak dapat dikurangi lebih banyak lagi sehingga membuat instrumen ini tidak efektif.
  • Jika berlaku nilai tukar tetap maka perubahan suku bunga akan membuat tekanan pada nilai tukar.

Contoh Kebijakan Moneter Ekspansif

Contoh di dalam situasi apa kebijakan moneter ekspansif dilakukan oleh bank sentral adalah ketika terjadi penurunan harga minyak dari 2014 hingga kuartal kedua 2016.

Penurunan harga minyak menyebabkan perekonomian dunia melambat, terutama negara-negara yang perekonomiannya sangat tergantung pada minyak.

Untuk mengatasi situasi ini, bank-bank sentral negara-negara tersebut mengeluarkan kebijakan moneter ekspansif dengan mengurangi suku bunga acuan. Kebijakan ini ditargetkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Namun, kebijakan itu juga bisa berarti penurunan margin bunga bersih untuk bank-bank dalam negeri, sehingga menekan keuntungan bank.

Baca Juga :  7 Perbedaan Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter, Beserta Contoh

Contoh lain adalah kebijakan setelah krisis keuangan 2008, di mana bank sentral di seluruh dunia menurunkan suku bunga mendekati nol, dan melakukan langkah-langkah lain seperti pelonggaran kuantitatif. Kebijakan ini membantu mencegah resesi ekonomi berkembang menjadi depresi ekonomi.

Di bawah ini adalah studi kasus contoh penerapan kebijakan moneter ekspansif untuk menghadapi situasi ekonomi tertentu :

Negara A memiliki tingkat pengangguran 7% dibandingkan dengan tingkat pengangguran alami 3%, tingkat inflasi -1% dan tingkat pertumbuhan 0,5% dibandingkan dengan rata-rata 4%. Negara B memiliki tingkat pengangguran 1% dibandingkan dengan tingkat pengangguran alami 3%, tingkat inflasi 9% dibandingkan dengan rata-rata 4% dan tingkat pertumbuhan 7% dibandingkan dengan rata-rata 3,5%. Bank sentral negara manakah yang akan menerapkan kebijakan moneter ekspansif?

Kebijakan moneter ekspansif adalah instrumen untuk mengatasi tingkat pengangguran yang tinggi, tingkat inflasi yang sangat rendah, dan tingkat pertumbuhan yang rendah. Karena Negara A memiliki tingkat pengangguran 7% dibandingkan dengan tingkat alami 3%, tingkat inflasi -1% dan tingkat pertumbuhan 0,5% dibandingkan dengan rata-rata historis 4%, maka bank sentral negara A kemungkinan besar akan menerapkan kebijakan moneter ekspansif. (Baca juga : Perbedaan kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif).