Katamasa

Jenis-Jenis Manusia Purba Di Indonesia dan Dunia (Lengkap)

Manusia purba adalah manusia yang hidup pada masa pra sejarah. Periode kehidupan manusia pra sejarah ini meliputi rentang waktu yang sangat panjang, sampai jutaan tahun.

Terdapat berbagai jenis manusia purba yang telah ditemukan, sehingga penelitian tentangnya semakin banyak.

Penelitian manusia purba di Indonesia sudah mulai marak setidaknya sejak abad ke 18 M.

Penelitian manusia purba di Indonesia dirintis oleh seorang dokter Belanda yang bernama Eugene Dubois.

Selain di Indonesia, juga ditemukan fosil manusia purba di Afrika, Eropa, dan berbagai belahan dunia lainnya.

Di artikel ini kita akan membahas secara lengkap apa pengertian manusia purba, ciri-ciri, serta apa saja jenis-jenis manusia purba di Indonesia dan di dunia secara keseluruhan. Selamat membaca.

Pengertian Manusia Purba

Manusia purba adalah manusia yang hidup pada masa pra sejarah. Ras manusia pra sejarah yang dimasukkan sebagai manusia purba, misalnya, Homo habilis, Homo heidelbergensisHomo rhodesiensisHomo neanderthalensis, Homo antecessor, Homo erectus, Homo neanderthalensis, dan lain sebagainya.

Namun sebenarnya, sampai saat ini belum tercapai kesepakatan antara para sejarawan tentang definisi manusia purba.

Beberapa ahli mengatakan bahwa Homo sapiens adalah spesies tunggal yang terdiri dari beberapa subspesies yang mencakup manusia purba dan sekaligus manusia modern.

Jika mengikuti definisi ini, maka manusia modern akan dinamai Homo sapiens sapiens sedangkan nama jenis manusia purba juga akan mengandung prefiks “Homo sapiens“.

Contohnya, Neanderthal akan dinamai Homo sapiens neanderthalensis, Homo heidelbergensis dinamai Homo sapiens heidelbergensis.

Tapi definisi seperti itu tidak disukai kebanyakan ahli. Para ahli taksonomi lebih banyak yang menganggap bahwa manusia purba dan manusia modern bukan spesies tunggal melainkan beberapa spesies berbeda.

Dengan definisi ini, nama masing-masing ras manusia purba dinamai menggunakan taksonomi standar, misalnya Homo rhodesiensis, atau Homo neanderthalensis.

Manusia purba diperkirakan mulai muncul pada periode 500.000 tahun lalu. Namun, berbagai temuan baru menunjukan manusia purba sudah hidup jutaan tahun yang lalu.

Manusia modern (Homo sapiens), secara teori dikatakan berevolusi dari manusia purba, utamanya dari Homo erectus.

Homo erectus adalah jenis manusia purba yang dikategorikan di bawah nama binomial “Homo sapiens” karena ukuran otak Homo erectus sangat mirip dengan Homo sapiens (manusia modern).

Ciri-Ciri Manusia Purba

Pada umumnya, ciri-ciri manusia purba yang menjadi perbedaan dengan manusia modern anatomis adalah :

Namun, seperti dijelaskan di atas, belum ada kesepakatan tentang apa definisi untuk mengetahui perbedaan manusia purba dan manusia modern.

Akibatnya, perbedaan manusia modern dengan Homo sapiens purba dan manusia purba dengan Homo erectus menjadi sangat kabur.

Contohnya, temuan fosil terbaru Omo remains yang diduga berasal dari masa 195.000 tahun lalu dikategorikan sebagai manusia modern.

Namun, fosil manusia modern awal itu ternyata juga memiliki ciri-ciri manusia purba, seperti bubung alis yang sedang, tetapi tidak menonjol.

Kehidupan Manusia Purba

Manusia purba hidup secara nomaden. Pola kehidupan nomaden manusia purba disebabkan karena mereka belum memiliki kemampuan untuk bercocok tanam.

Kehidupan manusia purba ditopang oleh kemampuan berburu dan meramu. Itulah sebabnya mengapa manusia purba itu banyak yang tinggal di tepi sungai. Karena di tepi sungai mereka lebih mudah mendapatkan makanan, seperti ikan. Dan juga lebih mudah mendapatkan sumber kehidupan terpenting, yaitu air.

Pada zaman paleolitikum, manusia purba hidup secara nomaden dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempermudah pergerakan ke tempat baru dan keamanan diri mereka.

Manusia pendukung zaman paleolitikum adalah Pithecantropus Erectus, Homo Wajakensis, Meganthropus Paleojavanicus dan Homo Soloensis.

Baca juga : Pengertian Zaman Paleolitikum

Pada zaman mesolitikum, manusia sudah mempunyai peradaban yang lebih tinggi dibandingkan pada zaman paleolitikum.

Mereka tidak lagi hidup secara nomaden namun sudah mulai hidup menetap di goa-goa pegunungan atau di pesisir pantai.

Mereka sudah mengenal cara bercocok tanam secara sederhana.

Jadi, pola hunian manusia purba berkembang seiring waktu. Pada zaman paleolitikum (zaman batu tua), mereka hidup secara nomaden, sedangkan pada zaman mesolitikum (zaman batu madya), mereka mulai hidup menetap dan bercocok tanam.

Temuan tumpukan fosil sampah dapur menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki kemampuan untuk mengolah makanan secara sederhana.

Mereka telah hidup menetap di dalam gua. Dan pantai serta telah memahami cara bercocok tanam meski teknik yang digunakan masih sangat sederhana.

Selain itu, mereka juga sudah mampu membuat gerabah sederhana dari tanah liat.

Baca juga : Pengertian zaman mesolitikum

Manusia purba membuat peralatan dari bebatuan, kayu dan tulang. Beberapa alat-alat manusia purba pada zaman batu, misalnya kapak genggam, kapak perimbas, alat penusuk dari tulang binatang, dan lain-lain.

Jenis-Jenis Manusia Purba

Terdapat macam-macam manusia purba yang fosilnya telah ditemukan para peneliti di berbagai belahan dunia. Sampai saat ini, manusia purba tertua yang fosilnya telah ditemukan adalah dari jenis Australopithecus.

Untuk memudahkan pembahasan, di artikel ini kita akan membahas jenis-jenis manusia purba di Indonesia, di Afrika, dan di dunia secara umum.

Manusia Purba Di Indonesia

Kepulauan Indonesia khususnya pulau Jawa adalah tempat di mana fosil manusia purba banyak ditemukan, diantaranya yang terkenal adalah Sangiran, Jawa Tengah.

Di Sangiran sangat banyak temuan-temuan peradaban purba, baik itu fosil maupun alat-alat dari batu. Itulah sebabnya mengapa Sangiran disebut sebagai laboratorium manusia purba.

Secara umum, fosil jenis-jenis manusia purba di Indonesia dikelompokan menjadi tiga. Yaitu :

  1. Meganthropus ( Manusia Besar).
  2. Pithecanthropus (Manusia Kera yang Berjalan Tegak).
  3. Homo

Meganthropus palaeojavanicus

Manusia purba tertua di Indonesia adalah Meganthropus palaeojavanicus. Ciri-ciri fosil ini menunjukan bahwa manusia ini masih sangat primitif.

Meganthropus adalah sebutan untuk koleksi fosil manusia purba. Fosil-fosil ini ditemukan di wilayah Indonesia.

Fosil Meganthropus pertama kali ditemukan oleh G.H.R von Koenigswald pada tahun 1936 dan berakhir 1941 di Situs Sangiran, Jawa Tengah. Bagian tubuh yang ditemukan adalah rahang bawah dan rahang atas.

Saat pertama ditemukan, von Koenigswald menamai fosil temuannya ini Meganthropus palaeojavanicus yang berarti manusia raksasa dari jawa.

Fosil-fosil temuan von Koenigswald ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda dari fosil Pithecanthropus erectus (Homo erectus) yang ditemukan lebih dulu di Sangiran.

Selanjutnya, Marks tahun 1952 juga menemukan fosil Meganthropus palaeojavanicus berupa rahang bawah.

Para ahli memperkirakan Meganthropus hidup 2 juta sampai 1 juta tahun yang lalu, yaitu pada zaman paleolitikum (zaman batu tua).

Ciri-ciri manusia purba Meganthropus paleojavanicus

Dari fosil yang ditemukan para ahli dapat memperkirakan bentuk tubuh Meganthropus paleojavanicus.

Jenis manusia purba ini memiliki tubuh yang lebih besar daripada jenis manusia purba lainnya.

Secara umum, ciri ciri manusia purba Meganthropus paleojavanicus adalah :

Di bawah ini adalah beberapa temuan fosil di Sangiran yang diidentifikasi sebagai Meganthropus paleojavanicus, meskipun ada beberapa temuan fosil yang lebih mirip Homo erectus sehingga keterkaitannya dengan Meganthropus paleojavanicus dikatakan lemah.

Meganthropus A / Sangiran 6

Fosil Meganthropus A / Sangiran 6 adalah fragmen rahang yang mempunyai ukuran sangat besar.

Fosil fragmen rahang ini ditemukan pada tahun 1942 oleh Von Koenigswald.

Pada saat Indonesia dikuasai jepang, Koenigswald ditangkap oleh tentara Jepang. Beruntung, dia masih sempat mengirim cast rahang untuk peneliti lain yang bernama Franz Weidenreich.

Penelitian terhadap spesimen fosil tersebut kemudian dilanjutkan oleh Weidenreich dan menamai spesimen tersebut pada tahun 1945.

Menurut Weidenreich, spesimen fosil tersebut adalah rahang terbesar yang pernah ia lihat. Fosil rahang itu menurutnya berukuran ama besar dengan gorila tetapi memiliki bentuk berbeda.

Selanjutnya, dilakukan rekonstruksi dan penelitian, yang menyimpulkan bahwa ada kemungkinan Meganthropus paleojavanicus memiliki ukuran tubuh lebih besar dibandingkan gorila manapun.

Meganthropus B / Sangiran 8

Pada tahun 1953, fosil berupa potongan tulang rahang juga ditemukan oleh Marks.

Ciri-ciri fosil temuan Marks ini bentuknya hampir sama dengan fosil rahang bawah yang ditemukan sebelumnya.

Diduga, fosil ini adalah tulang rahang dewasa. Dari segi ukuran, fosil rahang bawah ini lebih kecil daripada Homo erectus.

Namun, yang membingungkan para peneliti adalah fosil itu memiliki ciri unik yang hanya dimiliki Meganthropus paleojavanicus yang tidak ada pada Homo erectus.

Meganthropus C / Sangiran 33 / BK 7905

Spesimen fosil ini ditemukan pada 1979. Bagian tubuh yang ditemukan adalah tulang rahang.

Meskipun fosil ini memiliki ciri-ciri umum Meganthropus paleojavanicus, namun para peneliti mengatakan fosil ini memiliki keterkaitan yang lemah dengan Meganthropus Paleojavanicus.

Meganthropus D

Spesimen fosil ini ditemukan oleh Sartono pada 1993. Bagian tubuh yang ditemukan berupa tulang rahang dan ramus.

Para peneliti memperkirakan umur fosil tersebut sekitar 1,4 hingga 0,9 juta tahun lalu.

Ukuran fosil ini sedikit lebih kecil tetapi bentuknya sangat mirip dengan spesimen Meganthropus A.

Bagian ramusnya telah rusak, namun bagian tulang rahang bawah relatif baik meskipun detail giginya telah hilang.

Para peneliti, seperti Sartono, Tyler dan Krantz sepakat bahwa Meganthropus A dan D adalah contoh dari spesies yang sama, apapun itu.

Meganthropus I / Sangiran 27

Spesimen fosil temuan Tyler ini dideskripsikan sebagai tengkorak yang hampir lengkap, namun hancur.

Fosil ini memiliki ciri-ciri yang disebut “dalam batas ukuran Meganthropus dan di luar batas (diasumsikan) Homo.”

Spesimen ini tidak mempunyai jendolan ganda yang hampir bertemu di atas tempurung kepala serta memiliki punggung nuchal sangat tebal.

Meganthropus II / Sangiran 31

Meganthropus II adalah fragmen tengkorak yang untuk pertama kali dijelaskan oleh Sartono pada 1982.

Berdasarkan analisis Tyler disimpulkan bahwa ukuran “berada di luar batas normal Homo Erectus.”

Ciri-ciri fosil ini tengkorak lebih dalam, berkubah lebih rendah dan jauh lebih lebar dari spesimen manapun yang pernah ditemukan.

Bagian sagittal crest dobel dengan kapasitas tengkorak sekitar 800 – 1000 cc.

Sampai saat ini belum ada Homo erectus lain yang memiliki ciri – ciri ini.

Meganthropus III

Meganthropus III adalah spesimen fosil lain yang kaitannya dengan Meganthropus Paleojavanicus sangat lemah.

Fosil ini diperkirakan berupa bagian posterior tengkorak hominid, yang memiliki ukuran 7 sampai 10 cm.

Pada 1996, Tyler mendeskripsikan penemuan sudut oksipital dari keseluruhan tengkorak yang diperkirakan sejauh 120 derajat.

Menurut Tyler, hasil itu adalah rentang ukuran yang merupakan ciri-ciri Homo erectus. Namun, pendapat Tyler masih belum diterima oleh para pihak berwenang yang masih ragu terhadap keterkaitan itu.

Pithecanthrophus

Manusia kera adalah sebutan manusia purba jenis Pithecanthropus. Tepatnya manusia kera berjalan tegak.

Fosil Pithecantrophus adalah jenis manusia purba yang temuannya paling banyak di Indonesia.

Fosil Pithecanthrophus yang ditemukan di Indonesia diperkirakan berasal dari 30.000 sampai 1 juta tahun yang lalu.

Peneliti dapat memperkirakan umur fosil dengan menggunakan data hasil pengukuran umur lapisan tanah.

Para peneliti menduga, Pithecanthrophus sudah menggunakan alat-alat dari batu atau kayu yang sederhana.

Tidak ditemukan tanda-tanda pengolahan terhadap makanan.

Contoh alat-alat yang terbuat dari batu yang digunakan Pithecanthrophus, misalnya kapak genggam, kapak penetak, pahat, genggam, kapak perimbas, dan alat – alat serpih.

Alat-alat manusia purba semacam itu banyak ditemukan di daerah Pacitan, Jawa Timur.

Ciri-ciri manusia purba Pithecanthropus

Di bawah ini adalah ciri-ciri manusia purba Pithecantrophus secara umum, berdasarkan fosil yang telah ditemukan :

Sejauh ini, manusia purba di Indonesia jenis Pithecanthrophus ada tiga yaitu : Pithecanthrophus Erectus, Pithecanthrophus Mojokertensis, dan Pithecanthropus Soloensis.

Pithecanthrophus Erectus
Gambar fosil manusia purba Sangiran 17 (= Pithecanthropus VIII); replica, Museum Tautavel, France (sumber wikipedia)

Fosil Pithecanthrophus Erectus ditemukan oleh seorang dokter Belanda yang bernama Eugene Dubois.

Pada awalnya, Dubois melakukan penelitian di daerah Sumatera Barat namun ia tidak menemukan apa-apa, selanjutnya dia pindah ke pulau Jawa.

Di Jawa, Dunois berhasil menemukan fosil Pithecanthrophus Erectus di desa Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pada tahun 1891.

Nam Pithecantrophus Erectus memiliki arti manusia kera yang berjalan tegak.

Fosil Pithecanthropus Erectus yang ditemukan Dubois berupa tulang rahang atas, tulang kaki, dan tengkorak.

Menurut penelitian lapisan tanah tempat fosil ditemukan, diperkirakan Pithecanthrophus Erectus hidup pada masa Pleistosen tengah.

Peneliti juga mengatakan Pithecanthropus erectus hidup secara nomaden.

Mereka hidup berpindah-pindah untuk mendekati sumber makanan dan air. Biasanya di tepi-tepi sungai.

Pithecanthrophus Mojokertensis

Peneliti lain yang bernama Von Koenigswald menemukan fosil berupa tulang tengkorak anak–anak, di Jetis dekat Mojokerto, Jawa Timur.

Fosil temuan Von Koenigswald ini kemudian diberi nama Pithecanthrophus Mojokertensis.

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1936, Weidenrich juga menemukan fosil tengkorak anak.

Fosil ini kemudian dinamakan Pithecantropus Robustus.

Fosil temuan Koenigswald dan Weidenrich mempunyai ciri-ciri yang mirip sehingga Pithecanthrophus Mojokertensis disebut juga sebagai Pithecantrophus Robustus.

Pithecanthrophus Soloensis

Penemu Pithecanthrophus Soloensis adalah Von Koenigswald, Ter Harr dan Oppernoorth. Mereka menemukan fosil ini di tempat yang berbeda.

Fosil Pithecanthrophus Soloensis ditemukan di daerah Ngandong dan Sangiran sekitar tahun 1931 – 1933.

Bagian tubuh yang ditemukan berupa tengkorang dan tulang kering.

Homo

Fosil jenis Homo adalah jenis fosil manusia purba yang termuda dibandingkan jenis manusia purba di Indnesia lainnya.

Manusia purba jenis Homo diperkirakan hidup antara 15.000 – 40.000 SM.

Manusia purba jenis Homo bukan manusia kera (Pithecanthrophus ) namun sudah termasuk jenis manusia modern (Homo). Karena ukuran volume otak manusia purba jenis Homo sudah mendekati ukuran volumen otak manusia modern.

Manusia purba di Indonesia yang digolongkan jenis Homo ada tiga jenis, yaitu, Homo Soloensis, Homo Wajakensis, dan Homo Floresiensis.

Homo Soloensis
Gambar manusia purba Homo erectus Taken at the David H. Koch Hall of Human Origins at the Smithsonian Natural History Museum. (sumber wikipedia)

Fosil Homo Soloensis ditemukan di daerah Ngandong, Lembah Sungai Bengawan Solo oleh Von Koeningswald dan Weidenrich antara tahun 1931-1934.

Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak.

Para peneliti memperkirakan Homo Soloensis hidup antara 900.000 sampai 300.000 tahun yang lalu.

Menurut pendapat Von Koegniswald, Homo Soloensis sudah lebih maju dibandingkan dengan Pithecanthrophus Erectus.

Kehidupan Homo Soloensis sudah lebih maju dibandingkan Meganthropus dan Pithecanthropus, dibuktikan dengan temuan alat-alat yang sudah lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Sebagian ahli mengatakan bahwa Homo Soloensis jenis yang segolongan dengan Homo Neanderthalensis.

Homo Neanderthalensis adalah jenis manusia purba yang ditemukan di Asia, Eropa dan Afrika. Homo Neanderthalensis berasal dari lapisan Pleistosen atas.

Ciri-ciri manusia purba Homo Soloensis

Di bawah ini adalah ciri-ciri manusia purba Homo Soloensis berdasarkan fosil yang ditemukan :

Alat-alat hasil kebudayaan manusia purba Homo Soloensis yang sudah ditemukan, misalnya, kapak genggam atau kapak perimbas, alat-alat serpih, peralatan yang terbuat dari tulang, dan peralatan zaman batu lainnya.

Baca juga : Pengertian zaman batu

Homo Wajakensis

Fosil Homo Wajakensis ditemukan oleh Eugene Dubois di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur pada tahun 1889.

Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak, rahang bawah dan beberapa ruas tulang leher.

Para peneliti memperkirakan Homo Wajakensis adalah nenek moyang ras Australoid, yaitu penduduk asli Australia (Aborigin).

Ciri-ciri manusia purba Homo Wajakensis

Di bawah ini adalah ciri-ciri Homo Wajakensis berdasarkan fosil yang ditemukan :

Homo Floresiensis

Fosil Homo Floresiensis ditemukan oleh tim arkeologi gabungan dari Puslitbang Arkeologi Nasional, Indonesia dan University Of New England, Australia pada tahun 2003.

Fosil Homo Floresiensis ditemukan tim peneliti gabungan saat melakukan penggalian di Liang Bua, Flores, NTT.

KTim peneliti menemukan kerangka mirip manusia yang belum menjadi fosil dengan ukuran yang sangat kerdil. Fosil ini ditemukan setelah melakukan penggalian di kedalaman 5 meter.

Para peneliti memperkirakan Homo Floresiensis hidup antara 94.000-13.000 tahun SM.

Ciri-ciri manusia purba Homo Floresiensis

Di bawah ini adalah ciri-ciri Homo Floresiensis berdasarkan fosil yang ditemukan :

Manuisa purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis kemudian berkembang menjadi Homo Sapiens.

Homo sapiens berarti manusia bijak (cerdas).

Homo Sapiens diperkirakan hidup sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Ciri-ciri fisik Homo Sapiens sama seperti manusia zaman sekarang.

Manusia Purba Di Dunia

Selain di Indonesia, di belahan dunia lain juga banyak ditemukan fosil manusia purba.

Para peneliti mengatakan asal-usul manusia purba berasal dari Afrika kemudian menyebar ke seluruh Dunia. Teori ini disebut out of Afrika.

Di bawah ini adalah beberapa fosil manusia purba di dunia yang telah ditemukan, terutama di Afrika.

Australopithecus

Australopithecus adalah serangkaian fosil yang ditemukan di berbagai situs di Afrika timur, Afrika utara-tengah, dan Afrika selatan.

Berbagai spesies manusia purba jenis Australopithecus hidup 4,4 juta hingga 1,4 juta tahun yang lalu, selama zaman Pliosen dan Pleistosen (yang berlangsung dari 5,3 juta hingga 11.700 tahun yang lalu).

Nama Australopithecus, berarti “kera selatan,” mengacu pada fosil pertama yang ditemukan di Afrika Selatan. Spesimen fosil Australopithecus yang paling terkenal adalah “Lucy,” kerangka fosil yang diawetkan dari Ethiopia yang berasal dari 3,2 juta tahun lalu.

Ciri-ciri manusia purba Australopithecus adalah kombinasi sifat mirip manusia dan mirip kera.

Dikatakan mirip dengan manusia karena Australopithecus berjalan dengan dua kaki.

Sekaligus mirip kera, karena Australopithecus memiliki ukuran volume otak yang kecil.

Gigi taring mereka lebih kecil daripada gigi taring kera, dan gigi geraham mereka lebih besar daripada gigi geraham manusia modern.

Di bawah ini adalah jenis-jenis manusia purba yang termasuk Australopithecus

Australopithecus anamensis

Australopithecus anamensis ditemukan di Kenya utara dekat Danau Turkana di Kanapoi dan Teluk Allia.

Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1995 setelah analisis gigi yang terisolasi, rahang atas dan bawah, fragmen tengkorak, dan tibia yang digali di lokasi penemuan.

Fosil-fosil berasal dari 4,2–3,9 juta tahun yang lalu.

Australopithecus afarensis dan Australopithecus garhi

Anggota genus Australopithecus yang paling terkenal adalah Australopithecus afarensis.

Fosil spesies ini yang telah ditemukan lebih dari 400 spesimen fosil dari berbagai wilayah Afrika.

Spesies ini diperkirakan hidup pada kurun waktu antara 3,8 dan 2,9 juta tahun yang lalu.

90 persen fosil Australopithecus afarensis ditemukan di Hadar, sebuah situs di Segitiga Afar Ethiopia, Afrika.

Fosil Australopithecus afarensis juga ditemukan di wilayah Afrika lainnya, seperti Chad, Kenya, dan Tanzania.

Australopithecus africanus

Australopithecus africanus adalah anggota genus Australopithecus pertama yang ditemukan.

Jadi nama genus Australopithecus awalnya merujuk pada spesies ini.

Fosil manusia purba ini ditemukan pada tahun 1925 oleh antropolog Afrika Selatan Raymond Dart.

Dia menemukan spesimen fosil berupa tengkorak anak wilayah pertambangan di Taung, Afrika Selatan.

Australopithecus sediba

Fosil Australopithecus sediba ditemukan pada tahun 2008 berupa tulang rahang dan tulang selangka.

Spesimen fosil manusia purba ini ditemukan di luar Gua Malapa di daerah Transvaal di Afrika Selatan.

Usia kedua spesimen diperkirakan antara 1,8 juta dan 2,0 juta tahun.

Australopithecus aethiopicus

Fosil manusia purba Australopithecus aethiopicus berasal dari 2,7-2,3 juta tahun yang lalu.

Sebelumnya fosil ini dikenal sebagai Paranthropus aethopicus.

Australopithecus robustus dan Australopithecus boisei

Australopithecus robustus dan Australopithecus boisei memiliki tengkorak yang berkembang baik untuk perlekatan otot temporalis (atau otot temporal, yang digunakan dalam mengunyah), spesialisasi lain untuk mengunyah yang kuat termasuk gigi geraham besar, rahang masif, dan tulang pipi yang kuat yang menonjol ke depan.

Homo habilis

Homo habilis ditemukan pada tahun 1960.

Jenis manusia purba ini hidup di Afrika sekitar 2 juta-1,5 juta tahun yang lalu.

Homo habilis lebih maju daripada Australopithecus.

Berdasarkan fosil yang ditemukan, Homo habilis memiliki ukuran volume otak yang jauh lebih besar daripada Australopithecus dan lebih mirip dengan spesies manusia selanjutnya.

Homo erectus

Homo erectus ditemukan pada tahun 1891, secara resmi dinamai tahun berikutnya.

Para peneliti menduga Homo erectus mungkin berkembang di Afrika sekitar 2 juta tahun yang lalu, kemudian menyebar ke seluruh Eurasia.

Diperkirakan punah sekitar 143.000 tahun yang lalu.

Homo erectus adalah jenis manusia purba yang sangat penting. Tidak seperti Homo habilis, tidak ada keraguan bahwa fisik Homo erectus dan perilakunya seperti manusia modern.

Homo erectus diperkirakan adalah spesies manusia paling awal yang diketahui telah melakukan migrasi jarak jauh.

Homo neanderthalensis

Homo Neanderthalensis ditemukan pada tahun 1829, dinamai secara resmi tahun 1865.

Hidup di Eurasia sekitar 200.000 tahun yang lalu dan punah di sana sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Homo Neanderthal adalah jenis manusia purba yang paling terkenal.

Keterkenalan Homo neanderthalensis karena jenis manusia prasejarah ini ditemukan oleh para ilmuwan hanya beberapa dekade sebelum Darwin mengajukan teorinya tentang evolusi melalui seleksi alam.

Fosil Homo neanderthalensis telah ditemukan di negara-negara di seluruh Eropa, Asia Barat dan Asia Tengah.

Para peneliti mengatakan bahwa Homo neanderthalensis adalah “sepupu” spesies manusia modern, Homo sapiens.

Kedua jenis manusia purba ini tampaknya memiliki spesies “induk” yang sama – oleh beberapa peneliti disebut Homo heidelbergensis.

Homo heidelbergensis sendiri diperkirakan keturunan Homo erectus.

Homo naledi

Homo naledi ditemukan tahun 2013, secara resmi dinamai pada tahun 2015.

Ditemukan di Afrika Selatan. Tidak ada data resmi yang dipublikasikan tentang usia spesies, tetapi laporan tidak resmi menunjukkan bahwa spesies itu hidup antara 300.000 dan 200.000 tahun yang lalu.

Satu dekade setelah para ilmuwan menemukan Homo floresiensis, Homo naledi ditemukan.

Homo sapiens

Homo sapiens adalah ras manusia modern. Jadi Homo sapiens tidak dikategorikan sebagai manusia purba.

Homo sapiens berarti manusia cerdas.

Para ilmuwan menamai spesies ini pada tahun 1758.

Spesies ini pertama kali muncul di Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu – mulai pindah dari Afrika setidaknya 100.000 tahun yang lalu dan menyebar ke seluruh dunia.

Secara fisik, Homo sapiens tidak terlalu berbeda dari spesies manusia purba seperti Homo Neanderthal – kedua spesies tersebut bahkan kawin silang.

Tetapi perbedaan besar terletak pada emosional dan intelektual.

Inilah yang menyebabkan Homo sapiens menjadi satu-satunya ras manusia yang bertahan hingga kini.

Sharing is caring