13 Jenis Inflasi : Berdasarkan Sifat, Penyebab, dan Tingkat keparahannya

Jenis Inflasi Berdasarkan tingkat keparahannya, penyebabnya, sifatnya,
Inflasi digolongkan berdasarkan berbagai kategori, yaitu, jenis inflasi berdasarkan tingkat keparahannya atau intensitasnya, berdasarkan penyebabnya, berdasarkan sifatnya

Inflasi adalah situasi ketika harga barang dan jasa umum meningkat. Terdapat berbagai jenis inflasi. Mereka digolongkan berdasarkan berbagai kategori, yaitu, jenis inflasi berdasarkan sifatnya, berdasarkan penyebabnya, berdasarkan tingkat keparahannya atau intensitasnya.

Pengertian Inflasi

Inflasi adalah peningkatan harga barang dan jasa dari waktu ke waktu. Inflasi mengurangi daya beli mata uang terhadap barang dan jasa secara umum. Ketika harga naik, jumlah uang yang sama hanya mampu membeli barang atau jasa lebih sedikit dari sebelumnya.

Inflasi biasanya diukur dengan “salah satu dari Deflator Produk Domestik Bruto (Deflator PDB) atau indikator dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Deflator PDB adalah indeks inflasi yang luas dalam perekonomian, sementara itu Indeks IHK mengukur perubahan tingkat harga berbagai produk konsumen.

Jenis Inflasi

Tingkat inflasi adalah kenaikan harga dalam persen selama periode tertentu. Biasanya lebih dari sebulan atau setahun. Persentase ini adalah gambaran seberapa cepat harga naik selama periode tersebut. Sebagai contoh, jika tingkat inflasi adalah 2 persen per tahun, maka harga-harga secara umum akan menjadi 2 persen lebih tinggi tahun depan.

Jika tingkat inflasi lebih dari 50 persen seminggu, bisa disebut hiperinflasi. Jika inflasi terjadi pada saat resesi, disebut sebagai stagflasi. Jika terjadi kenaikan harga aset seperti perumahan, emas atau saham disebut inflasi aset.

Sifat inflasi berbeda-beda sepanjang waktu, misalnya, inflasi bulan januari memiliki karakteristik yang berbeda dengan bulan februari dan bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, inflasi dibedakan menjadi beberapa jenis. Mengetahui jenis-jenis inflasi, berguna untuk mempelajari dampak inflasi serta untuk membuat kebijakan menghadapi inflasi.

Faktor penyebab inflasi beraneka ragam. Tingkat keparahannya juga berbeda pada waktu yang berbeda. Inflasi juga dapat diklasifikasikan sesuai dengan reaksi pemerintah dalam menghadapi inflasi.

Berikut adalah beberapa jenis inflasi yang diklasifikan ke dalam 2 golongan umum yaitu, jenis inflasi berdasarkan penyebabnya dan jenis inflasi berdasarkan tingkat keparahannya/intensitasnya. Namun ada jenis inflasi berdasarkan sifatnya atau inflasi spesifik, yaitu, inflasi aset, inflasi upah, dan stagflasi.

Baca Juga :  4 Perbedaan Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro

Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Penyebab inflasi bermacam-macam, mulai dari kelebihan uang beredar sampai ekspansi kredit yang besar. Berikut adalah jenis inflasi berdasarkan penyebabnya :

1. Inflasi mata uang

Inflasi disebabkan oleh peningkatan pasokan uang yang menyebabkan peningkatan permintaan agregat. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan jumlah nominal uang, semakin tinggi tingkat inflasi. Para ahli teori kuantitas modern tidak percaya bahwa inflasi dimulai setelah terjadinya tingkat pekerjaan penuh (tiada pengangguran). Pandangan ini realistis karena semua negara maju dihadapkan pada tingkat pengangguran yang tinggi dan tingkat inflasi yang tinggi.

2. Inflasi kredit

Kebijakan ekspansi kredit juga mengarah pada peningkatan jumlah uang beredar. Hal ini akan meningkatkan permintaan barang dan jasa dalam perekonomian. Ketika terjadi pertumbuhan penyaluran kredit, maka akan menyebabkan peningkatan jumlah uang beredar, pada gilirannya, meningkatkan permintaan agregat relatif terhadap pasokan, sehingga mengarah ke inflasi. Ini juga dikenal sebagai inflasi yang disebabkan oleh kredit.

3. Inflasi yang disebabkan oleh defisit anggaran

Untuk memenuhi biaya pembangunan yang meningkat, pemerintah menyusun anggaran pembiayaan defisit yang ditutup dengan meminjam uang dari publik dan bahkan dengan mencetak lebih banyak surat utang negara (SUN). Hal ini meningkatkan permintaan agregat dalam kaitannya dengan penawaran agregat, sehingga menyebabkan kenaikan inflasi. Ini juga dikenal sebagai inflasi yang disebabkan oleh defisit.

4. Demand-pull inflation

Permintaan barang dan jasa meningkat ketika belanja konsumen meningkat. Konsumen dapat membelanjakan uang lebih banyak untuk konsumsi barang-barang mewah untuk kepentingan prestise. Mereka juga dapat membelanjakan uang lebih banyak ketika mereka diberi fasilitas kredit untuk membeli barang dengan sistem sewa-beli dan cicilan.

Peningkatan permintaan agregat atas output yang tersedia menyebabkan kenaikan harga. Inflasi seperti ini disebut Demand-pull inflation (DPI). Apa penyebab permintaan agregat meningkat? Ekonom klasik mengaitkan kenaikan permintaan agregat ini dengan jumlah uang beredar. Jika pasokan uang melebihi barang dan jasa yang tersedia, maka akan terjadi Demand-pull inflation.

Penganut ekonomi Keynesian memiliki argumen yang berbeda soal Demand-pull inflation. Mereka berpendapat bahwa peningkatan permintaan atau pengeluaran agregat bisa terjadi secara otonom, seperti peningkatan permintaan konsumsi atau investasi atau pengeluaran pemerintah atau pemotongan pajak atau peningkatan ekspor bersih yang tanpa disertai oleh peningkatan jumlah uang beredar. Hal ini akan mendorong penyesuaian harga ke atas. Dengan demikian, Demand-pull inflation disebabkan oleh faktor moneter (penyesuaian klasik) dan faktor non-moneter (argumen Keynesian).

Baca Juga :  Pengertian Deflasi, Faktor Penyebab, Dan Cara Mengatasi

5. Cost-push inflation

Inflasi dapat terjadi karena disebabkan oleh peningkatan keseluruhan dalam biaya produksi. Jenis inflasi ini dikenal sebagai Cost-push inflation (CPI). Biaya produksi meningkat bisa disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku, upah, dan lain-lain. Upah yang tinggi menyebabkan biaya produksi yang tinggi. Harga bahan baku tinggi maka biaya produksi akan naik. Hasilnya harga produk-produk akan naik.

6. Inflasi Inti

Tingkat inflasi inti mengukur kenaikan harga dalam segala hal kecuali makanan dan energi.

Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Inflasi bisa sangat ringan atau bisa juga sangat berat. Kejadiannya pun berbeda-beda, bisa lambat bisa sangat cepat. Berikut adalah jenis-jenis inflasi berdasarkan tingkat keparahannya :

1. Inflasi Merayap atau Inflasi Ringan

Jika kecepatan kenaikan harga terjadi dengan lambat dan kecil maka disebut inflasi merayap (Creeping Inflation). inflasi merayap atau ringan adalah kenaikan harga tahunan antara 2 persen sampai 3 persen.

Menurut Federal Reserve, kenaikan harga 2 persen atau kurang itu menguntungkan pertumbuhan ekonomi. Inflasi ringan semacam ini bisa meningkatkan permintaan. Konsumen membeli sekarang untuk menghindari harga naik di masa depan. Dengan demikian inflasi ringan mendorong ekspansi ekonomi. Jadi, tingkat inflasi 2 persen atau kurang adalah jenis inflasi yang secara ekonomis tergolong menguntungkan.

2. Inflasi Berjalan

Jika tingkat kenaikan harga tahunan berada di antara 3 persen sampai 10 persen, maka disebut inflasi berjalan. Ini berbahaya bagi ekonomi karena menyebabkan pertumbuhan ekonomi terlalu cepat. Orang mulai membeli lebih dari yang mereka butuhkan, hanya untuk menghindari harga masa depan yang jauh lebih tinggi. Hal ini mendorong peningkatan permintaan lebih jauh sehingga produsen tidak dapat memenuhinya. Di sisi lain, tidak ada kenaikan penghasilan. Akibatnya, harga barang dan jasa umum berada di luar jangkauan kebanyakan orang.

3. Inflasi yang berderap (Galloping inflation)

Jika tingkat inflasi berada di angka 10 persen atau lebih, akan menimbulkan kekacauan mutlak pada perekonomian. Uang kehilangan nilai begitu cepat sehingga penghasilan masyarakat tidak dapat menjangkau harga barang dan jasa. Ekonomi menjadi tidak stabil, dan para pemimpin pemerintah kehilangan kredibilitas. Inflasi yang berderap harus dicegah dengan segala cara.

Baca Juga :  Inflasi : Pengertian, Jenis, Faktor Penyebab, Contoh, dan Dampak

4. Hiperinflasi

Hiperinflasi adalah ketika harga meroket lebih dari 50 persen dalam sebulan. Hiferinflasi sangat jarang. Bahkan, sebagian besar contoh hiperinflasi hanya terjadi ketika pemerintah mencetak uang untuk membiayai perang. Contoh hiperinflasi : terjadi di Jerman pada 1920-an, Zimbabwe pada tahun 2000-an, dan hiperinflasi di Venezuela pada tahun 2010-an dan berlanjut hingga kini, mencapai tingkat 1 juta persen.

Jenis Inflasi Berdasarkan Sifatnya yang spesifik

  • Inflasi Aset

Inflasi aset, terjadi dalam satu jenis aset tertentu. Misalnya, sektor perumahan, minyak dan emas. Suatu aset disebut mengalami inflasi bila kenaikan harganya tidak mencerminkan nilai pasar yang sesungguhnya, atau terjadi gelembung ekonomi.

  • Inflasi Upah

Inflasi upah adalah kondisi ketika upah pekerja naik lebih cepat daripada biaya hidup. Hal ini terjadi bisa disebabkan oleh 3 hal. Pertama, adalah ketika ada kekurangan pekerja di sektor tertentu. Kedua, adalah ketika serikat pekerja menuntut upah yang lebih tinggi. Ketiga adalah ketika pekerja secara efektif mengendalikan gaji mereka sendiri.

Tentu saja, semua orang ingin upah mereka naik. Tetapi upah yang terlalu tinggi adalah salah satu elemen dari Cost-push inflation. Kenaikan upah pekerja bisa menaikkan harga barang dan jasa, pada akhirnya kenaikan upah itu sama saja tidak bernilai.

  • Stagflasi

Stagflasi adalah situasi ketika pertumbuhan ekonomi stagnan namun masih terjadi kenaikan harga. Hal seperti ini sepertinya bertentangan, bahkan sedikit tidak mungkin terjadi menurut teori ekonomi. Bagaimana bisa harga naik padahal tidak ada cukup permintaan untuk memicu pertumbuhan ekonomi?

Namun stagflasi pernah terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1970-an. Saat itu, Dollar Amerika Serikat tidak lagi menggunakan standar emas. Begitu nilai dollar tidak lagi terikat dengan nilai emas, nilainya jatuh. Pada saat yang sama, harga emas justru meroket.

Demikian artikel tentang berbagai jenis inflasi berdasarkan tingkat keparahannya atau intensitasnya, berdasarkan penyebabnya, dan berdasarkan sifatnya yang spesifik. Semoga bermanfaat.