Katamasa

Apa Itu Dolmen, Menhir, Sarkofagus, Waruga Dan Punden Berundak?

Selain candi, monumen masa lalu yang banyak menarik perhatian sejarawan adalah sarkofagus, waruga, punden berundak, dolmen dan menhir.

Sarkofagus, waruga, punden berundak, dolmen dan menhir merupakan peninggalan kebudayaan dari zaman megalitikum atau zaman batu besar.

Baca juga : Pengertian zaman megalitikum

Zaman megalitikum adalah zaman yang mulai timbul pada zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu.

Baca juga : Pengertian zaman neolitikum

Secara harfiah, megalitik terbentuk dari dua kata, yaitu, mega (besar) dan lithos (batu). Dengan demikian, salah satu ciri Zaman megalitikum adalah peninggalan artefak batu besar.

Namun, menurut Fritz A. Wagner, megalitik bukan saja peradaban batu besar.

Baca juga : Pengertian Sejarah Menurut Para Ahli

Wagner berpendapat artefak batu kecil pun bisa dikelompokkan ke dalam peninggalan megalitik, apabila artefak-artefak itu dibuat dengan tujuan sakral, misalnya pemujaaan arwah nenek moyang.

Dengan kata lain, menurut Wagner budaya megalitik selalu terkait erat dengan aspek religi atau kepercayaan.

Menurut pendapat Heine Geldern, kebudayaan megalitik di Indonesia datang dari India dan Malaka.

Heine Geldern juga membagi penyebaran tradisi megalitik itu menjadi dua gelombang berdasarkan tinggalan arkeologisnya, yaitu: Zaman megalitik tua dan Zaman megalitik muda.

Zaman Megalitik Tua berlangsung ± 2500-1500 SM. Periode ini adalah bagian Zaman neolitik yang ditandai oleh peninggalan dolmen, menhir, punden berundak, jalan batu, beliung persegi serta bangunan lain yang bersifat monumental.

Zaman Megalitik Muda berlangsung ± 1000 SM-1000 M. Periode ini adalah bagian Zaman perundagian yang ditandai oleh peninggalan kubur batu, dolmen, sarkofagus, bangunan batu yang ornamental, dan mulai mengenal logam.

Hal yang sama disampaikan juga oleh Haris Sukendar. Menurutnya, budaya megalitik yang datang ke Indonesia dibagi dalam dua gelombang, yakni megalitik tua dan megalitik muda.

Megalitik tua ditandai oleh artefak seperti dolmen, menhir, dan punden berundak. Sedangkan, megalitik muda ditandai oleh peti kubur, arca megalitik, dan bejana batu.

Kebudayaan megalitik yang berupa dolmen dan menhir merupakan petunjuk bahwa masyarakat di zaman tersebut sudah mengenal aspek religi atau kepercayaan, misalnya pemujaan arwah nenek moyang.

Di artikel ini, kita secara khusus akan membahas peninggalan zaman megalitikum ini, yaitu dolmen, menhir, sarkofagus, waruga, dan punden berundak.

Pengertian Dolmen

Apa yang dimaksud dengan dolmen? Dolmen adalah peninggalan zaman megalitikum yang berbentuk seperti seperti meja yang terbuat dari batu besar.

Dolmen terbuat dari dua atau lebih batu tegak dengan satu batu tergeletak di atasnya.

Dolmen sering dipergunakan sebagai tempat sesajen atau hidangan peruntukan bagi para arwah nenek moyang.

Di sebagian besar dolmen terdapat kubur batu. Nampaknya, fungsi dolmen selain sebagai tempat pemujaan juga untuk melindungi jenazah dari gangguan binatang buas.

Dolmen, sudah ditemukan di berbagai tempat di seluruh dunia. Mulai dari wilayah Eropa, Afrika dan Asia.

Korea adalah lokasi penemuan dolmen terbanyak. Lebih dari 30.000 dolmen telah ditemukan, yang merupakan sekitar dua perlima dari total dunia.

Pada tahun 2000 tiga situs dolmen Korea — di Koch’ang (Gochang), Hwasun, dan Kanghwa (Ganghwa) di Korea Selatan, ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

Kuburan peninggalan zaman megalitikum di Gochang, Hwasun, dan Ganghwa berisi ratusan dolmen dari milenium pertama SM yang dibangun dari lempengan batu besar. (sumber : https://whc.unesco.org/en/list/977/)

Dolmens di Eropa barat laut dibangun pada Periode Neolitikum awal (zaman batu baru), yang dimulai di Brittany sekitar 5000 SM dan di Inggris, Irlandia dan Skandinavia selatan sekitar 4000 SM.

Situs-situs di Eropa tengah dan selatan dibangun pada periode yang sama, tetapi itu dikelompokkan berada di periode Neolitikum tengah atau akhir.

Di luar Eropa, dolmen dibangun pada rentang waktu yang luas, dan masih terus dibangun di beberapa bagian dunia — seperti pulau Sumba, Indonesia — hingga hari ini.

Karena situs dolmen sangat bervariasi menurut wilayah dan sejarah, para arkeolog di banyak daerah menggunakan istilah dolmen hanya dalam arti yang sangat umum.

Banyak yang lebih suka menggunakan nama deskriptif yang lebih spesifik.

Di Inggris, misalnya, disebut portal dolmen karena dolmen berbentuk sebuah monumen sepasang batu yang khas, seperti portal.

Salah satu aspek yang paling khas dan luar biasa dari monumen-monumen dolmen adalah ukuran batu yang sangat besar — khususnya batu penjuru atau batu kapur — yang digunakan sebagai konstruksinya.

Batu penjuru di Brownshill, Irlandia, misalnya, memiliki berat sekitar 150 ton dan merupakan batu penjuru terbesar di Irlandia.

Batu sebesar itu pasti akan memberikan prestise yang besar bagi masyarakat pembangunnya.

Dolmen di Indonesia

Di Indonesia, juga banyak ditemukan dolmen.

Dolmen yang diduga dipergunakan sebagai tempat pemujaan, ditemukan seperti di Telaga mukmin, Sumberjaya, dan di daerah Lampung bagian Barat.

Dolmen di Indonesia umumnya berukuran lebih kecil dibandingkan dolmen di belahan dunia lainnya.

Dimana-dolmen ini umumnya berukuran panjang sekitar 325 cm, serta lebar 145 cm, dan tinggi 115 cm.

Para peneliti menduga, masyarakat di Indonesia mulai mengenal dolmen pada masa bercocok tanam.

Fungsi Dolmen

Fungsi dolmen adalah sebagai tempat meletakkan sesajen untuk pemujaan. Seringkali di bagian bawah dolmen dipergunakan untuk meletakkan mayat. Tujuannya supaya mayat tidak diganggu binatang buas.

Kebudayaan megalitik yang berupa dolmen dan menhir merupakan petunjuk bahwa masyarakat pada masa itu sudah mengenal tradisi religius.

Mereka percaya bahwa masih ada hubungan yang kuat antara yang hidup dan leluhur yang sudah mati. Sehingga, meskipun leluhur mereka sudah mati, mereka tetap menjaga komunikasi melalui pemujaan arwah.

Pengertian Menhir

Apa yang dimaksud dengan menhir? Menhir adalah monumen batu tegak seperti tiang atau tugu yang dipergunakan sebagai sarana pemujaan.

Ciri-ciri menhir adalah terbuat dari batu, posisi tegak di atas tanah.

Menhir dapat ditemukan semata-mata sebagai monolit, atau sebagai sekelompok batu yang serupa.

Ukuran menhir sangat bervariasi, ada yang besar atau kecil, berbeda di tiap wilayah di dunia..

Daerah penemuan menhir Menhir sangat luas. Monumen megalitikum ini bisa ditemukan di Eropa, Afrika, dan Asia, tetapi paling banyak di Eropa Barat; khususnya di Irlandia, Inggris Raya, Brittany dan Prancis, di mana terdapat sekitar 50.000 buah menhir.

Menhir adalah batu tunggal yang berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM-2000 SM).

Pada awalnya, Menhir dikelompokkan ke dalam produk tradisi megalitik tua yang telah muncul semenjak awal tradisi itu, meskipun demikian tradisi pendirian menhir masih berlanjut sampai sekarang ini.

Pembangunan menhir terkait erat dengan penghormatan arwah nenek moyang, dan sering dikaitkan dengan kesakralan dan kesaktian lelu­hur.

Menhir di Indonesia

Dari berbagai macam peninggalan zaman megalitik, yang paling umum dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia adalah menhir.

Daerah penemuan menhir di Indonesia adalah Pasemah Sumatra Selatan, Ngada Flores, Rembang Jawa Tengah, Lahat Sumatra Selatan, Sumatera barat, dan banyak lokasi lainnya.

gambar menhir di Lima Puluh Kota sumatera barat (sumber : kemdikbud)

Masyarakat Minangkabau menyebut menhir dengan istilah batu tagakIstilah batu tagak tidak jauh berbeda artinya dengan pengertian menhir yang umum dipergunakan dalam dunia ilmiah, terutama bagi arkeolog di Indonesia. Berdasarkan pe­nelitian terdahulu kata menhir yang berasal dari bahasa Breton -Inggris Utara, berarti batu berdiri. Sedangkan kata batu tagak jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia juga berarti batu berdiri, (Herwandi: 1993: 1).

Fungsi Menhir

Fungsi menhir adalah sebagai tempat atau situs upacara keagamaan kuno, kadang-kadang berisi kamar pemakaman.

Apa sebenarnya fungsi menhir telah memicu banyak perdebatan para arkeolog.

Diperkirakan, monumen ini didirikan oleh manusia prasejarah untuk melambangkan phallus, yakni simbol kesuburan untuk bumi.

Ada yang menganggap bahwa fungsi menhir adalah untuk tempat pengorbanan manusia, sebagai penanda teritorial, atau unsur-unsur sistem ideologis yang kompleks, atau berfungsi sebagai kalender awal.

Kebudayaan megalitik yang berupa dolmen dan menhir merupakan petunjuk bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki tradisi religius, misalnya, pemujaan arwah leluhur.

Pengertian Sarkofagus

Apa yang dimaksud dengan sarkofagus? Sarkofagus adalah peti jenazah yang terbuat dari batu bulat (batu tunggal).

Sarkofagus batu yang paling tua digunakan oleh firaun Mesir dari dinasti ke-3, yang memerintah dari sekitar 2686 hingga 2613 SM.

Orang Mesir kuno percaya adanya kehidupan paska kematian, dan sarkofagus itu akan menjadi tempat tinggal abadi orang-orang di dalamnya.

Sarkofagus para fir’aun dan orang-orang kaya dihiasi dengan ukiran dan lukisan.

Sarkofagus adalah bagian penting dari proses penguburan Mesir kuno yang rumit.

Orang Mesir kuno menyiapkan orang mati untuk kehidupan setelah kematian dengan membalsem tubuh dan membungkusnya dalam linen. Proses ini dikenal sebagai mumifikasi.

Tubuh yang telah dimumifikasi selanjutnya diletakkan ke dalam wadah mumi. Peti mati itu selanjutnya akan ditempatkan di dalam sarkofagus. Terkadang, sarkofagus sendiri digunakan sebagai pengganti peti mati.

Selain Mesir kuno, Romawi kuno dan Yunani kuno juga dikenal menggunakan sarkofagus.

Sarkofagus di Indonesia

Daerah penemuan sarkofagus di Indonesia yang terkenal adalah Basuki (Jawa Timur) dan beberapa situs di Bali.

Temuan sarkopagus di Bali, tepatnya di situs Gilimanuk membantah dugaan para ahli sebelumnya bahwa masyarakat pesisir tidak mengenal sistem penguburan dengan sarkofagus, alasannya batu padas sebagai bahan baku sarkofagus tidak bisa didapatkan di daerah pesisir. (Soejono, 1977)

gambar sarkofagus di bali (sumber :kemendikbud)

Selain di Gilimanuk, sarkofagus di Bali juga ditemukan di Munduk Tumpeng di Kecamatan Negara, Jembrana, Bali.

Sarkofagus di kedua situs tersebut memiliki bentuk atau tipe yang sama.

Ditemukannya sarkofagus di daerah pesisir (situs Gilimanuk) dan daerah pedalaman (Munduk Tumpeng) menunjukkan adanya hubungan atau kontak antara daerah pesisir dengan daerah pedalaman pada masa awal logam di Bali.

Tidak hanya itu, ditemukannya bekal kubur di dalam sarkofagus di Pangkung liplip (Kabupaten Jembrana) dan Marga tengah (Kabupaten Gianyar) yang berbentuk lempengan emas penutup mata menunjukkan kesamaan dengan temuan bekal kubur di situs Gilimanuk. (Soejono, 1977)

Temuan lempengan daun emas sebagai penutup mata di dalam sarkofagus di Bali memiliki kesamaan dengan temuan pada situs megalitik Adhichanallur (Tamilnadu, India), Santugong (Serawak) dan Oton di pulau Panay (Filipina). (O’Connor and Harrisson, 1971)

Baca juga : Kerajaan Bali : Sejarah, Raja-raja, dan Peninggalan

Selain di Bali, penemuan sarkofagus juga ada di wilayah Tomok Samosir Sumatera Utara.

Morfologi sarkofagus yang ditemukan di wilayah Tomok berbentuk persegi panjang dan pada bagian atasnya melebar, berbentuk menyerupai kapal (solu Bolon) sebagai perlambang wahana si mati yang digunakan menuju alam arwah.

Fungsi Sarkofagus

Fungsi sarkofagus adalah sebagai tempat diletakkannya peti mati atau sebagai pengganti peti mati itu sendiri.

Biasanya, sarkofagus di Bali berisi bekal kubur yang disertakan pada mayat. Sebagian besar terdiri dari benda-benda perunggu (Gelang, kapak/tajak upacara, rantai spiral, sulur, mata kalung, pelindung jari, dll), kadang-kadang ada manik-manik kornalin, dan fragmen-fragmen barang tanah bakar.

Penyertaan bekal kubur, baik berupa perhiasan, senjata, maupun periuk-periuk (untuk makan dan minum si mati) dengan mayat adalah ciri-ciri yang umum dan ciri-ciri ini telah ditemukan sejak zaman berburu tingkat sederhana.

Kepercayaan akan adanya hidup setelah mati, membuat keluarga orang meninggal menyertakan bekal kubur di dalam sarkofagus untuk bekal hidupnya di alam baka (james 1957).

Pengertian Waruga

Apa yang dimaksud dengan waruga? Waruga adalah sejenis sarkofagus atau makam di atas tanah yang terbuat dari batu dan bagian atas biasanya bergerigi dan bagian bawah berbentuk kotak.

Di Indonesia, waruga banyak ditemukan di Minahasa di Sulawesi Utara.

Waruga di Tonsea dibuat dengan ukiran dan relief. Ukiran dan relief ini menunjukkan bagaimana jenazah disimpan di waruga masing-masing dan menggambarkan mata pencaharian.

Terdapat sekitar 370 Waruga. Ada waruga di Rap-Rap sebanyak 15 buah, Airmadidi Down sebanyak 211 dan waruga Sawangan sebanyak 144.

gambar waruga sawangan (sumber : wikipedia)

Waruga-waruga ini telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1995 di taman arkeologi waruga Sawangan.

Bagi masyarakat Minahasa, waruga memiliki arti sangat penting. Waruga adalah warisan leluhur Minahasa, memiliki makna religius, dan sakral.

C.T. Bertling dalam artikelnya berjudul “De Minahasische ‘Waroega’ en ‘Hockerbestatuung’” di majalah Nederlansch-Indie, Oud and Nieuw tahun 1931 menjelaskan, nama “waruga” terbentuk dari kata wa sebagai singkatan dari wawa, yang berarti ‘sepenuhnya, secara menyeluruh’ dan kata ruga, yang berarti ‘pakaian usang’ atau ‘dirusak dari tubuh’. Dari pengertian literal dua kata tersebut, “waruga” berarti  ‘tempat di mana tubuh larut untuk seluruhnya’.

Peter Belwood, dalam artikelnya yang berjudul Archaeological Research in Minahasa and the Talaud Islands tahun 1975, memperkirakan waruga sudah ada sejak 1500 M.

Bertentangan dengan pendapat Belwood, Bertling sangat yakin bahwa cara pemakaman menggunakan waruga di Minahasa sudah sangat tua, meskipun dia tidak dapat berspekulasi menyebut periode waktunya.

Pendapatnya berdasarkan posisi jenazah di dalam waruga yang mirip dengan banyak peradaban tua. Jenazah di dalam waruga diletakkan dalam posisi duduk berjongkok seperti janin dalam rahim, yang disebut dengan istilah hockerbestatuung. (sumber).

Menurut Bertling, cara pemakaman ini ditemukan di beberapa peradaban tua, seperti peradaban Mesir kuno.

Fungsi Waruga

Fungsi waruga adalah sebagai tempat meletakkan jenazah dalam sistem pemakaman tradisional masyarakat Minahasa Sulawesi Utara.

Pengertian Punden Berundak

Apa yang dimaksud dengan punden berundak? Punden berundak adalah struktur bangunan berteras-teras tempat pemujaan roh nenek moyang.

Sesuai namanya, punden berundak undak adalah tempat suci untuk pemujaan pada roh nenek moyang yang bentuknya bertingkat-tingkat atau berundak-undak.

Para peneliti berpendapat bahwa punden berundak adalah bentuk awal candi di Indonesia.

Struktur bangunan punden berundak banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama Sumatera, jawa, dan Bali.

Punden berundak banyak ditemukan di daerah Lebak Si Bedug, Banten Selatan, Leles Garut dan Kuningan Jawa Barat.

Salah satu struktur punden berundak yang terkenal dan monumental di Indonesia adalah situs Gunung Padang di Cianjur.

Punden berundak merupakan salah satu arsitektur zaman pra sejarah, mulai berkembang pada masa bercocok tanam, dan mencapai puncaknya pada masa megalitik.

Punden berundak undak menggambarkan sebuah gunung suci tempat bersemayam roh leluhur.

gambar punden berundak di bali (sumber ; kemdikbud/bpcbbali)

Salah satu struktur punden berundak yang masih terawat terdapat di Pura Mehu Desa Selulung, Bangli, Provinsi Bali.

Punden Berundak ini terletak di dalam areal Pura Mehu.

Monumen purbakal ini memiliki no.inventaris 4/14-06/STR/5 dan telah didokumentasikan oleh tim BPCB Bali yang dilaksanakan oleh ketua tim Dra Ni Komang Aniek Purniti, M.Si.

Fungsi Punden Berundak

Fungsi punden berundak adalah sebagai tempat suci untuk pemujaan pada roh nenek moyang.

Fungsi punden berundak adalah sebagai simbol sebuh gunung suci yang dipercaya sebagai lokasi tempat arwah leluhur berada paska kematian.

Demikian artikel singkat kami tentang 5 monumen peninggalan purbakala, yaitu dolmen, menhir, sarkofagus, waruga, dan punden berundak. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring