Demand-Pull Inflation : Pengertian, Penyebab, Contoh

Gambar Demand-Pull Inflation
Demand-pull inflation adalah kenaikan harga barang dan jasa yang didorong oleh peningkatan permintaan agregat terhadap barang dan jasa secara umum

Inflasi adalah peningkatan harga barang dan jasa dari waktu ke waktu. Inflasi mengurangi daya beli mata uang terhadap barang dan jasa secara umum. Ketika harga naik, jumlah uang yang sama hanya mampu membeli barang atau jasa lebih sedikit dari sebelumnya. Salah satu jenis inflasi adalah demand-pull inflation, yang artinya kenaikan harga barang dan jasa yang didorong oleh peningkatan permintaan agregat terhadap barang dan jasa.

Pengertian

Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan tingkat harga umum. Dengan kata lain, pengertian inflasi adalah saat di mana terjadi kenaikan harga barang dan jasa seperti perumahan, pakaian, makanan, transportasi, bahan bakar, dan barang kebutuhan pokok lain dalam sistem ekonomi secara keseluruhan. Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang. Dengan demikian, inflasi dapat juga diartikan sebagai penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum.

Inflasi diklasifikan ke dalam 2 golongan umum yaitu, jenis inflasi berdasarkan penyebabnya dan jenis inflasi berdasarkan tingkat keparahannya. Namun ada jenis inflasi berdasarkan sifatnya atau inflasi spesifik, yaitu, inflasi aset, inflasi upah, dan stagflasi.

Dalam artikel ini kita akan membahasa secara khusus tentang satu jenis inflasi, yaitu, Demand-pull inflation.

Apa itu Demand-pull inflation?

Demand-pull inflation adalah inflasi yang terjadi ketika permintaan agregat pada barang atau jasa melebihi penawaran agregat. Hal ini dimulai dengan terjadinya peningkatan permintaan konsumen. Biasanya jika terjadi peningkatan permintaan, penjual akan memenuhi peningkatan tersebut dengan meningkatkan jumlah pasokan. Tetapi ketika persediaan tambahan tidak tersedia, penjual akan menaikkan harganya. Hal ini menyebabkan demand-pull inflation/kenaikan harga yang didorong kenaikan permintaan.

Lima Penyebab Demand-Pull Inflation

Kenaikan permintaan agregat adalah penyebab paling umum dari inflasi. Inflasi seperti ini disebut Demand-pull inflation (DPI). Apa penyebab permintaan agregat meningkat? Ekonom klasik mengaitkan kenaikan permintaan agregat ini dengan jumlah uang beredar. Jika pasokan uang melebihi barang dan jasa yang tersedia, maka akan terjadi Demand-pull inflation.

Baca Juga :  Inflasi : Pengertian, Jenis, Faktor Penyebab, Contoh, dan Dampak

Penganut ekonomi Keynesian memiliki argumen yang berbeda soal Demand-pull inflation. Mereka berpendapat bahwa peningkatan permintaan atau pengeluaran agregat bisa terjadi secara otonom, seperti peningkatan permintaan konsumsi atau investasi atau pengeluaran pemerintah atau pemotongan pajak atau peningkatan ekspor bersih yang tanpa disertai oleh peningkatan jumlah uang beredar. Hal ini akan mendorong penyesuaian harga ke atas. Dengan demikian, Demand-pull inflation disebabkan oleh faktor moneter (penyesuaian klasik) dan faktor non-moneter (argumen Keynesian).

Di bawah ini dijelaskan secara rinci beberapa penyebab demand-pull inflation. Yaitu :

1. Pertumbuhan Ekonomi

Ketika pertumbuhan ekonomi tinggi, tingkat kepercayaan konsumen meningkat, maka mereka menghabiskan lebih banyak uang daripada menabung. Mereka berharap mendapat kenaikan gaji dan pekerjaan yang lebih baik. Mereka tahu aset-aset mereka dan dan investasi mereka akan meningkat nilainya. Mereka merasa bahwa pemerintah melakukan hal yang benar dalam mengelola perekonomian. Mereka juga akan mencoba mengambil kredit lebih banyak, baik itu kredit mobil atau rumah, atau kartu kredit. Hal ini akan menyebabkan permintaan agregat naik secara signifikan, dan pada akhirnya menyebabkan kenaikan harga.

2. Ekspektasi Inflasi

Ketika ekspektasi inflasi terjadi maka masyarakat akan memilih membeli barang saat ini untuk menghindari harga naik di masa depan. Hal ini akan meningkatkan permintaan, yang kemudian menyebabkan demand-pull inflation.

3. Kelebihan Jumlah Uang Beredar

Pasokan uang beredar yang besar akan menyebabkan situasi terlalu banyak uang mengejar terlalu sedikit barang. Hal ini terjadi ketika pemerintah mencetak terlalu banyak uang. Pemerintah melakukan hal ini untuk melunasi utangnya. Kelebihan pasokan uang adalah penyebab utama hiperinflasi. Hal ini juga dapat terjadi jika Bank Sentral terlalu banyak memberikan kredit ke dalam sistem perbankan.

4. Diskresi Kebijakan Fiskal

Menurut teori ekonomi Keynesian, pengeluaran pemerintah meningkatkan permintaan agreagat. Misalnya, belanja infrastruktur akan menaikkan harga semen. Ketika pemerintah menurunkan pajak, hal ini juga mendorong kenaikan permintaan. Konsumen memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan barang dan jasa. Ketika permintaan meningkat lebih cepat daripada pasokan, maka akan menciptakan inflasi. Ketika pemerintah menurunkan pajak kredit perumahan, maka permintaan untuk kredit perumahan meningkat.

Baca Juga :  13 Jenis Inflasi : Berdasarkan Sifat, Penyebab, dan Tingkat keparahannya

5. Inovasi Teknologi

Perusahaan yang menciptakan inovasi teknologi baru memiliki kesempatan untuk menaikan harga produknya. JIka konsumen merasa teknologi baru itu berguna bagi kehidupan sehari-hari, mereka bersedia membayar dengan harga tinggi.

Misalnya, teknologi baru dalam industri gadget. Konsumen merasa dengan menggunakan gadget berteknologi terbaru menaikan prestise mereka. Mereka juga merasa up to date. Hal ini akan menaikan harga produk tersebut.

6. Peningkatan Penghasilan Sekali Pakai

Ketika pendapatan yang dapat dibelanjakan dari orang-orang meningkat maka permintaan mereka untuk barang dan jasa juga akan meningkat. “Penghasilan langsung habis” dapat meningkat dikarenakan oleh kenaikan pendapatan nasional atau pengurangan pajak atau pengurangan dalam tabungan penduduk.

7. Peningkatan Pengeluaran Publik

Program-program pembangunan pemerintah akan menyebabkan meningkatnya pengeluaran pemerintah. Hal ini akan meningkatkan permintaan agregat untuk barang dan jasa. Pemerintah negara maju dan berkembang menyediakan lebih banyak fasilitas untuk kepentingan umum dan layanan sosial, dan juga menasionalisasi industri dan mendorong perusahaan publik dalam upayanya untuk meningkatkan permintaan agregat, demi pertumbuhan ekonomi.

8. Peningkatan Pengeluaran Konsumen

Permintaan barang dan jasa meningkat ketika belanja konsumen meningkat. Konsumen dapat membelanjakan uang lebih banyak untuk konsumsi barang-barang mewah untuk kepentingan prestise. Mereka juga dapat membelanjakan uang lebih banyak ketika mereka diberi fasilitas kredit untuk membeli barang dengan sistem sewa-beli dan cicilan.

9. Kebijakan Moneter Murah

Kebijakan moneter murah atau kebijakan ekspansi kredit juga mengarah pada peningkatan jumlah uang beredar. Hal ini akan meningkatkan permintaan barang dan jasa dalam perekonomian. Ketika terjadi pertumbuhan penyaluran kredit, maka akan menyebabkan peningkatan jumlah uang beredar, pada gilirannya, meningkatkan permintaan agregat relatif terhadap pasokan, sehingga mengarah ke inflasi. Ini juga dikenal sebagai inflasi yang disebabkan oleh kredit.

10. Pembiayaan Defisit

Untuk memenuhi biaya pembangunan yang meningkat, pemerintah menyusun anggaran pembiayaan defisit yang ditutup dengan meminjam uang dari publik dan bahkan dengan mencetak lebih banyak surat utang negara (SUN). Hal ini meningkatkan permintaan agregat dalam kaitannya dengan penawaran agregat, sehingga menyebabkan kenaikan inflasi. Ini juga dikenal sebagai inflasi yang disebabkan oleh defisit.

Baca Juga :  Pengertian Deflasi, Faktor Penyebab, Dan Cara Mengatasi

11. Perluasan Sektor Swasta

Ekspansi sektor swasta juga cenderung meningkatkan permintaan agregat. Untuk investasi besar, akan menghasilkan banyak lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan, sehingga menciptakan lebih banyak permintaan barang dan jasa. Di sisi lain investasi ini membuthkan waktu bagi produk-produknya untuk memasuki pasar. Ini menyebabkan kenaikan harga.

12. Uang Haram (korupsi, suap dan lain-lain)

Keberadaan uang haram di semua negara karena korupsi, penghindaran pajak, suap dan lain-lain akan meningkatkan permintaan agregat. Orang membelanjakan uang haram itu secara berlebihan, sehingga menciptakan permintaan yang tinggi terutama untuk barang seperti rumah, tanah, dan kendaraan. Ini cenderung menaikkan tingkat harga pasaran barang-barang tertentu.

13. Pembayaran Utang Publik

Kapanpun pemerintah membayar hutang kepada publik, maka akan menyebabkan peningkatan pasokan uang. Hal ini cenderung meningkatkan permintaan agregat untuk barang dan jasa dan menyebabkan kenaikan harga.

14. Peningkatan Ekspor

Ketika permintaan untuk barang-barang yang diproduksi di dalam negeri meningkat di negara-negara asing, maka akan meningkatkan pendapatan industri-industri yang menghasilkan komoditas ekspor. Hal ini, pada gilirannya, menciptakan lebih banyak permintaan barang dan jasa dalam ekonomi, sehingga mengarah ke kenaikan tingkat harga.

Contoh Demand-Pull Inflation

Berikut adalah beberapa contoh demand-pull inflation :

  • Konsumen membelanjakan uang lebih banyak untuk konsumsi barang-barang mewah untuk kepentingan prestise. Hal ini akan meningkatkan permintaan dan pada akhirnya menyebabkan kenaikan harga.
  • Mereka juga dapat membelanjakan uang lebih banyak ketika mereka diberi fasilitas kredit untuk membeli barang dengan sistem sewa-beli dan cicilan. Ketika uang muka cicilan motor sangat ringan, hal ini mendorong peningkatan permintaan kredit motor. Akhirnya, mendorong kenaikan harga.
  • Ketika praktik suap, korupsi dan uang haram lainnya meningkat, maka pasokan uang beredar akan meningkat. Permintaan atas barang dan jasa juga akan meningkat. Akhirnya, menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa.
  • Branding produk yang kuat dapat menciptakan permintaan tinggi untuk produk tersebut, hal ini disebut inflasi aset. Misalnya, produk X, mengeluarkan biaya promosi yang tinggi untuk branding produknya secara tepat. Hasilnya, harga produk X lebih tinggi dari produk yang sebanding. Hal ini terjadi karena konsumen merasa memiliki produk X meningkatkan prestise mereka.