7 Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Tradisional

Ciri-ciri sistem ekonomi tradisional yang ada di dunia
Ciri-ciri sistem ekonomi tradisional adalah perekonomian berpusat di sekitar keluarga atau suku, mengandalkan kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhan dasar, penggunaan teknologi yang sederhana, aktivitas perdagangan yang sangat terbatas, dan lain-lain

Pada masa lalu, kehidupan manusia sepenuhnya menggantungkan diri pada alam. Manusia berburu, mengumpulkan hasil hutan, menangkap ikan di sungai, dan kegiatan-kegiatan lain dalam rangka menopang kebutuhan dasarnya. Aktivitas perdagangan belum diperlukan, karena manusia hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, yang kesemuanya bisa diperoleh dari alam. Kehidupan perekonomian seperti di atas, disebut sistem ekonomi tradisional. Pada artikel ini, kita akan membahas lebih jauh soal apa itu ekonomi tradisional, apa saja ciri-ciri sistem ekonomi tradisional yang membedakannya dengan sistem ekonomi modern.

Pengertian Sistem Ekonomi Tradisional

Pengertian sistem ekonomi tradisional adalah sistem yang sangat terkait dengan adat istiadat, sejarah, dan kepercayaan yang dihormati masyarakat setempat. Tradisi menjadi panduan dalam pengambilan keputusan ekonomi seperti produksi dan distribusi. Aktivitas ekonomi tradisional selalu berhubungan dengan pertanian, memancing, berburu, mengumpulkan, atau beberapa kombinasi aktivitas di atas. Aktivitas perdagangan secara umum belum diperlukan, namun kalau pun ada, dalam bertransaksi, mereka tidak menggunakan alat tukar berupa uang, namun menggunakan sistem barter.

Saat ini, bisa dikatakan tidak ada lagi negara yang menganut sistem ekonomi tradisional. Kalaupun ada, biasanya diterapkan di komunitas masyarakat adat terpencil atau di wilayah-wilayah yang termasuk dunia ke 3, seperti di banyak negara Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Setiap sistem ekonomi memiliki karakteristik tertentu, begitu pula sistem ekonomi tradisional. Adapun ciri-ciri sistem ekonomi tradisional bisa dipilah menjadi lima, yaitu :

  • Ekonomi tradisional berpusat di sekitar keluarga atau suku. Mereka menggunakan tradisi yang diwarisi dari pengalaman para tetua sebagai panduan kehidupan sehari-hari dan dalam mengambil keputusan ekonomi.
  • Ekonomi tradisional ada di masyarakat pemburu-pengumpul dan nomaden. Masyarakat ini membutuhkan wilayah yang luas untuk menemukan makanan yang cukup untuk mendukung kehidupan mereka. Mereka mengikuti kawanan hewan yang bermigrasi dengan musim. Para pemburu-pengumpul nomaden ini bersaing dengan kelompok lain untuk menguasai sumber daya yang tersedia. Aktivitas perdagangan nyaris tidak ada karena mereka semua mengkonsumsi dan menghasilkan komoditas yang sama.
  • Sebagian besar ekonomi tradisional hanya menghasilkan apa yang mereka butuhkan. Mereka tidak mengambil yang tidak dibutuhkan sehingga jarang terjadi kelebihan atau sisa makanan. Hal ini membuatnya tidak perlu berdagang atau menghasilkan uang.
  • Ketika mereka membutuhkan barang yang tidak dimilikinya, mereka melakukan tukar menukar barang atau barter. Namun, barter hanya bisa terjadi antar kelompok yang tidak memiliki persaingan. Misalnya, suku yang bergantung pada perburuan menukar makanan dengan suku yang bergantung pada memancing. Mereka menukar daging untuk mendapatkan ikan, tidak ada kebutuhan terhadap alat tukar seperti mata uang.
  • Ekonomi tradisional mulai berkembang setelah mereka mulai bertani dan menetap. Saat ini terjadi, mereka bisa saja memiliki surplus barang tertentu, seperti hasil pertanian.
Baca Juga :  22 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Pasar/Liberal

Ciri Ciri Sistem Ekonomi Tradisional

Ciri-ciri sistem ekonomi tradisional yang dijelaskan di atas bisa disebut karakteristik utama sistem ekonomi ini di semua komunitas masyarakat tradisional di seluruh dunia. Di Indonesia, kita bisa menemukannya di masyarakat pedalaman Papua, Kalimantan, Sumatera, dan beberapa wilayah lain. Di pulau Jawa sendiri, yang merupakan sentral pembangunan Indonesia, masih ada komunitas suku baduy yang kehidupan ekonominya masih mempertahankan tradisi mereka. Namun, lambat laun seiring penetrasi pembangunan yang semakin merata, komunitas ini mulai mengenal aspek-aspek sistem ekonomi modern. Mereka sudah mulai mengenal uang sebagai alat tukar, bahkan mereka juga sudah mengenal teknologi, meskipun terbatas.

Jika kita bedah secara lebih mendalam, maka kita bisa menjelaskan ciri-ciri sistem ekonomi tradisional dari berbagai aspek. Misalnya, ruang lingkup kegiatan ekonominya, penggunaan teknologinya, pranata ekonominya, dan aktivitas lain yang terkait dengan perekonomian.

Berikut adalah penjelasan rinci tentang ciri-ciri sistem ekonomi tradisional dari berbagai aspek tinjauan :

1. Aktivitas Ekonomi Sangat Terkait Dengan Sumber Daya Alam

Aktivitas ekonomi dalam masyarakat sangat erat kaitannya dengan sumber daya alam yang ada di wilayah hidupnya. Masyarakat yang tinggal di kawasan hutan, kegiatan ekonominya akan terpusat di area hutan. Sedangkan masyarakat pesisir tentu saja lebih banyak mengandalkan kekayaan laut.

Ketergantungan pada sumber daya alam adalah ciri-ciri sistem ekonomi tradisional yang paling kental. Alam tidak hanya berfungsi sebagai sumber pemenuhan kebutuhan dasar, namun juga membentuk karakter masyarakat, membentuk pranata sosial, dan sebagai ruang hidup kebudayaan dan tradisi.

Pada masyarakat tradisional awal, aktivitas ekonomi hanya mengambil dan mengumpulkan. Mereka berburu hewan untuk makan dan pakaian, memetik buah-buahan untuk makan, dan lain sebagainya. Masyarakat tradisional yang sudah mengenal pranata sosial, kemudian mulai menetap. Namun aktivitas ekonominya belum banyak berkembang. Kalaupun bertani, mereka menerapakan ladang berpindah dari satu area ke area lain.

2. Spesialisasi Pekerjaan Tidak Ada

Karena kehidupan ekonominya sebatas pemenuhan dasar semata, dan hanya mengandalkan sumber daya alam setempat, keterampilan mereka cenderung terbatas. Masyarakat yang hidup berburu akan sangat ahli berburu, begitu pula masyarakat petani akan sangat ahli bertani. Namun, seluruh masyarakat dalam komunitas yang sama cenderung memiliki keahlian yang sama. Tidak ada spesialisasi dalam bidang tertentu, misalnya, ada yang ahli berburu, ada yang ahli bertani, ada yang ahli mengolah, dan lain-lain.

Baca Juga :  Sejarah Sistem Ekonomi Indonesia (Perkembangan Dari Masa ke Masa)

Ciri-ciri sistem ekonomi tradisional yang seperti ini, membuat perekonomian mereka tidak berkembang. Hasil produksi sebuah komunitas cenderung sama. Maka aktivitas perdagangan pun tidak berkembang. Untuk apa berdagang jika semua orang memiliki komoditas yang sama.

3. Penggunaan Modal Untuk Menggerakan Ekonomi Nyaris Tidak Ada

Masyarakat tradisional hanya mengambil apa yang mereka butuhkan. Karena kepentingan untuk menjual tidak ada, maka menghasilkan produk yang lebih banyak lagi bukanlah sebuah kebutuhan. Maka, penggunaan modal dalam aktivitas ekonomi hampir tidak diperlukan.

Kalau pun mereka memerlukan peralatan, semisal mata tombak untuk berburu, mereka membuatnya sendiri dari bahan alam yang tersedia. Bagi masyarakat pengumpul, mereka bahkan tidak perlu menanam terlebih dahulu. Masyarakat pertanian tradisional, biasanya menghasilkan bibit mereka sendiri. Jadi, dari awal proses produksi sampai akhirnya mereka gunakan sendiri juga, semuanya disediakan oleh alam.

4. Aktivitas  Produksi Masih Terbatas

Aktivitas produksi masyarakat sangat ditentukan oleh alam tempat mereka hidup. Masyarakat yang hidup di pegunungan dengan masyarakat yang hidup di pesisir pantai melakukan aktivitas ekonomi yang berbeda.

Salah satu karakteristik yang menonjol dari masyarakat tradisional adalah mereka mendapatkan keterampilan yang diwariskan turun temurun dari leluhurnya. Tidak ada pendidikan, tidak ada penetrasi informasi, dan lainnya yang bisa meningkatkan pengetahuan mereka di bidang perekonomian. Akibatnya, aktivitas ekonomi masyarakatnya sangat monoton. Itu saja dari tahun ke tahun, tidak berkembang.

Tidak ada keinginan untuk mengolah bahan alam lebih lanjut, selain karena tidak mempunyai keterampilan itu, mereka juga tidak memiliki kebutuhan untuk melakukan itu. Kalau pun aktvitas perdagangan sudah mulai dikenal, barang yang dijual masih bahan mentah.

5. Transaksi Perdagangan Menggunakan Sistem Barter

Aktivitas perdagangan dalam masyarakat tradisional adalah tonggak menuju sistem yang lebih modern. Masyarakat tradisional yang mulai mengenal aktivitas perdagangan, perekonomiannya lambat laun akan berkembang. Mulai ada keinginan menghasilkan lebih banyak, mulai ada keinginan untuk mengolah dan lainnya.

Sistem perdagangan tertua yang dikenal manusia adalah sistem barter. Orang yang memiliki daging bisa menukarnya dengan ubi dari orang lain, dan sebaliknya. Sistem barter adalah ciri-ciri sistem ekonomi tradisional dari masyarakat tradisional yang “lebih maju”. Sistem ini biasanya muncul di komunitas tradisional yang cukup besar, di mana aktivitas masyarakatnya sudah beragam. Ada yang bertani, berburu, menganyam, dan lain sebagainya.

6. Volume Produksi dan Distribusi sangat terbatas

Hal ini biasanya terkait dengan karakteristik masyarakat tradisional yang fokus hanya pada kebutuhan dasar semata. Hasil produksi kurang beragam, distribusinya pun sempit di area masyarakat mereka saja.

Pada masyarakat tradisional yang lebih maju, yang mulai mengenal perdagangan pun volume produksinya masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan keterampilan yang mereka miliki. Penggunaan teknologi juga masih sangat sederhana.

Kondisi ini biasanya juga dipengaruhi oleh pola pikir mereka yang masih terikat adat dan tradisi. Ada masyarakat adat yang sengaja menolak penetrasi luar untuk melindungi komunitasnya.

Baca Juga :  15 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Campuran

7. Aktivitas Pengolahan dan Penggunaan teknologi Sangat Sederhana

Masyarakat tradisional yang sudah menetap, biasanya mulai mengenal pengolahan lebih lanjut dari hasil produksinya. Masyarakat nelayan mulai mengenal pemindangan dengan garam, masyarakat petani mulai mengenal penyimpanan beras sebagai stok makanan dan lain-lain. Namun, peralatan maupun metode yang digunakan masih sangat sederhana. Misalnya masyarakat petani masih menggunakan cangkul dan sapi untuk membajak ladangnya.

Teknologi pada masyarakat tradisional sulit berkembang umumnya disebabkan oleh kurangnya inovasi. Mereka tidak merasa perlu menghasilkan lebih banyak, sehingga dengan menggunakan alat yang sederhana sudah cukup mampu menghasilkan yang mereka butuhkan.

Pergeseran Sistem Ekonomi Tradisional menjadi Tradisional Campuran

Pada umumnya, sistem perekonomian tradisional ini berlaku di negara-negara yang dikategorikan negara ketiga. Seiring waktu, pelan tapi pasti sistem ekonomi tradisional mulai ditinggalkan dan sudah tidak ada lagi negara yang menganut sistem ekonomi tradisional ini. Namun, seperti dijelaskan di atas, komunitas-komunitas tertentu masih mempertahankannya. Umumnya terkait adat dan tradisi di samping karena faktor kurangnya sentuhan pembangunan dari pemerintahnya.

Ekonomi tradisional mulai berkembang setelah mereka mulai bertani dan menetap. Saat ini terjadi, mereka bisa saja memiliki surplus barang tertentu, seperti hasil pertanian. Adanya kelebihan produksi akan memicu adanya perdagangan, mulai perdagangan sederhana dengan sistem barter kemudian berkembang dengan menggunakan alat tukar uang.

Masyarakat tradisional yang masih ada saat ini, dari berbagai segi sudah terdesak. Hutan mulai menipis, kawasan pesisir mulai dirambah pembangunan, penetrasi kapital sudah merambah ke seluruh pelosok dunia. Sungguh sulit bagi komunitas ini untuk bertahan, kecuali ada proteksi dari pemerintah negaranya untuk melindungi mereka demi kelangsungan adat dan tradisi komunitas ini.

Maka, persinggungan dengan dunia yang terbuka akan mempengaruhi ekonomi tradisional. Saat ekonomi tradisional berinteraksi dengan ekonomi pasar atau ekonomi komando, mereka akan menyerap beberapa pengaruh. Kebutuhan akan uang sebagai alat tukar mungkin mulai ada. Hal ini memungkinkan mereka untuk membeli peralatan ekonomi yang lebih baik, sehingga membuat pertanian, berburu, atau memancing menjadi lebih menguntungkan. Ketika hal ini terjadi, masyarakat disebut telah berkembang dari sistem ekonomi tradisional menjadi ekonomi tradisional campuran.

Ciri-ciri sistem ekonomi tradisional tiap komunitas adat berbeda-beda. Hal ini tergantung pada sistem kemasyarakatannya. Masyarakat ekonomi tradisional dapat memiliki elemen kapitalisme, sosialisme, dan komunisme. Misalnya, masyarakat pertanian yang memungkinkan kepemilikan pribadi atas lahan pertanian bisa disebut menerapkan kapitalisme. Masyarakat nomaden bisa disebut mempraktekkan sosialisme jika hasil dibagi untuk semua sesuai dengan kontribusinya masing-masing. Jika mereka memberi makan anak-anak, orang tua, atau orang sakit lebih dulu, mereka bisa disebut menerapkan komunisme.