Chloramphenicol Obat Apa? Dosis, Kegunaan, Efek Samping

Chloramphenicol adalah antibiotik yang termasuk kelas amphenicols. Antibiotik ini digunakan dalam pengobatan infeksi topikal atau infeksi sistemik. Seperti Thiamphenicol, Chloramphenicol tidak larut dalam air, tetapi sangat larut dalam lipid.

Di Apotik, obat ini tersedia baik berupa Chloramphenicol generik atau Chloramphenicol paten/branded (misalnya, Colsancetin, Kalmicetine, Ikamicetin, Colme, Erlamycetin, dll). Harga Chloramphenicol generik relatif terjangkau, sediaan obat-obat paten yang mengandung Chloramphenicol juga beragam.

Antibiotik ini, tersedia dalam berbagai bentuk sediaan obat. Bisa berupa Chloramphenicol tablet/kapsul, Chloramphenicol sirup, Chloramphenicol salep/cream, Chloramphenicol tetes/salep mata, Chloramphenicol tetes telinga, sampai sediaan injeksi.

Dalam artikel ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai obat ini. Chloramphenicol obat apa, apa kegunaan, efek samping, dan formulasi yang tersedia.

Ringkasan

Berikut tabel yang memuat informasi Chloramphenicol secara singkat :

Informasi ObatChloramphenicol
GolonganG (Dengan resep)
IndikasiAntibiotik
DosisLihat bagian DOSIS
Aturan PakaiSesuai anjuran dokter
KontraindikasiHipersensitif
Depresi sumsum tulang Diskrasia darah
Sediaankapsul 250 mg, Syrup 125 mg/5 mL, tetes mata, salep mata, tetes telinga, injeksi
Merk dagang yang tersediaChloramex, Cloramidina, Cloramidina Ophthalmic Oitnment, Cloramidina Topical Ointment, Colme, Colme Eye drop, Colsancetine, Combicetin, Enkacetyn, Fenicol, Grafacetin, Ikamicetin ointment, Ikamicetin ophth, Isotic Salmicol, Kalmicetine, Kalmicetine oint, Kemicetine, Lanacetine, Licoklor, Palmicol, R E C O, Suprachlor, Xepanicol

Chloramphenicol Obat Apa?

Chloramphenicol memiliki spektrum aktivitas yang luas mirip dengan Thiamphenicol. Obat ini lebih aktif dibandingkan Thiamphenicol tetapi sedikit kurang aktif terhadap bakteri Haemophilus dan Neisseria spp, dibandingkan Thiamphenicol.

Mekanisme aksi

Chloramphenicol menghambat sintesis protein bakteri dengan mengikat subunit 50s dari ribosom bakteri, sehingga mencegah pembentukan ikatan peptida oleh peptidil transferase. Antibiotik ini memilikisifat sebagai bakteriostatik sekaligus bakterisida terhadap H. influenzae, N. meningitidis dan S. pneumoniae.

Absorbsi

Antibiotik ini mudah diserap dengan konsentrasi plasma puncak tercapai setelah 1 atau 2 jam (sediaan oral, seperti tablet, kapsul, dan sirup).

Distribusi

Antibiotik ini didistribusikan secara luas ke jaringan dan cairan, yaitu ke cerebrospinal fluid (CSF) hingga 50% bahkan tanpa adanya meningitis, mata (aqueous and vitreous humours). Antibiotik ini mampu melintasi plasenta dan memasuki ASI. Pengikatan protein sekitar 60%.

Baca Juga :  Emturnas 500 mg, Forte 650 mg, & Syrup (Paracetamol) : Info Lengkap

Sediaan obat yang tersedia

Obat ini tersedia dalam sediaan Chloramphenicol kapsul 250 mg, sirup 125 mg/5 mL, sediaan tetes mata 0.5% solution, sediaan tetes telinga 5% solution.

chloramphenicol kapsul, chloramphenicol tetes mata, chloramphenicol salep mata, chloramphenicol tetes telinga

Indikasi dan Kegunaan Chloramphenicol

Sebelum menggunakan obat ini, harus benar-benar sudah mempertimbangkan potensi manfaat dan risiko yang mungkin terjadi. Gunakan dosis efektif terendah untuk durasi terpendek yang konsisten dengan tujuan perawatan pasien).

Berikut adalah beberapa kegunaan Chloramphenicol :

  • Sediaan oral (tablet/kapsul/sirup) : Bakterial meningitis, infeksi bakteri anaerob, Anthrax, Abses otak, Ehrlichiosis, Gas gangrene, Granuloma inguinale, Infeksi yang disebabkan oleh H. influenzae, Listeriosis, Wabah, Psittacosis, Q fever, Gastroenteritis berat, Melioidosis berat, Infeksi sistemik berat dengan Camphylobacter fetobacterium, Tulra , Penyakit Whipple, Demam tifoid, batuk rejan, brucellosis, rickettsia, pneumonia, bronchopneumonia, ISK.
  • Sediaan injeksi : Demam tifoid dan paratifoid, Infeksi oleh Salmonella sp, H. influenzae, rickettsiae, kelompok lymphogranuloma-psittacosis dan bakteri gram negatif yang menyebabkan bacteraemia dan meningitis.
  • Sediaan tetes/salep mata : infeksi mata.
  • Sediaan tetes telinga : otitis eksterna

Kontraindikasi

Antibiotik ini tidak boleh diberikan untuk :

  • Riwayat hipersensitivitas atau reaksi toksik terhadap obat ini.
  • Kehamilan, laktasi.
  • Porfiria.
  • Sediaan injeksi : tidak untuk infeksi ringan atau sebagai profilaksis.
  • Depresi sumsum tulang yang sudah ada sebelumnya atau diskrasia darah.
  • Anemia.

Efek Samping Chloramphenicol

Selain memberikan efek yang dibutuhkan, sebagian besar obat dapat menyebabkan beberapa efek samping yang tidak diinginkan. Meskipun tidak semua efek samping ini dapat terjadi, penggunaan obat tetap harus dilakukan secara hati-hati. Segera dapatkan perawatan medis yang sesuai jika efek samping yang parah terjadi.

Berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin bisa terjadi :

  • Gangguan saluran pencernaan.
  • Perdarahan.
  • Neuritis perifer dan optik, gangguan penglihatan, kebutaan.
  • Ensefalopati, kebingungan, delirium, depresi mental, sakit kepala.
  • Hemolisis pada pasien dengan defisiensi G6PD.
  • Sediaan tetes /salep mata : reaksi hipersensitivitas termasuk ruam, demam dan angioedema.
  • Sediaan tetes telinga : Ototoksisitas.
  • Efek samping yang berpotensi fatal : Penekan sumsum tulang dan anemia aplastik yang ireversibel. Neutropenia, trombositopenia. Sindrom bayi abu-abu. Jarang, anafilaksis.

Penggunaan Chloramphenicol Untuk Ibu Hamil dan Menyusui

FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat) menempatkan Chloramphenicol dalam kategori C, penjelasannya adalah sebagai berikut :

Penelitian pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia, namun jika potensi keuntungan dapat dijamin, penggunaan obat pada ibu hamil dapat dilakukan meskipun potensi resiko sangat besar.

Belum ada data yang cukup memadai apakah antibiotik ini aman digunakan selama kehamilan. Namun, mengingat obat ini mampu melintasi plasenta, sebaiknya tidak digunakan, kecuali benar-benar tidak ada pilihan lain lagi.

Ada banyak data klinis yang menunjukkan bahwa Chloramphenicol aman digunakan pada kehamilan selama tidak digunakan pada saat persalinan, karena obat akan menyebabkan sindrom kelabu pada neonatus. Namun, tampaknya tidak membahayakan janin, yang membuatnya aman untuk digunakan selama sebagian besar kehamilan.

sumber : Penggunaan Chloramphenicol selama kehamilan

Pada penggunaan topikal, misalnya dalam sediaan tetes/salep mata, antibiotik ini tidak menyebabkan gangguan yang berarti jika digunakan saat hamil.

Tidak ada hubungan antara penggunaan Chloramphenicol tetes mata atau salep mata pada trimester pertama kehamilan dan malformasi bawaan utama.

sumber : Penggunaan Topikal Chloramphenicol Saat Hamil

Perhatian

Obat antibiotik ini ini harus diberikan hanya dengan resep dokter. Berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan :

  • Penggunaan pada penderita kerusakan ginjal mungkin memerlukan penyesuaian dosis.
  • Antibiotik ini sebaiknya tidak digunakan untuk jangka panjang. Gunakan obat sesuai durasi yang diresepkan dokter.
  • Lakukan pemeriksaan darah rutin secara berkala.
  • Hati-hati memberikan antibiotik ini pada bayi prematur dan bayi baru lahir.
  • Sebaiknya tidak diberikan pada ibu hamil atau ibu menyusui.
  • Waspadai terjadinya superinfeksi.
Baca Juga :  Tuzalos (Obat Flu dan Batuk) : Informasi Lengkap

Interaksi Obat

Meskipun obat-obatan tertentu sama sekali tidak boleh digunakan bersama, dalam kasus lain dua obat yang berbeda dapat digunakan bersama-sama bahkan jika interaksi mungkin terjadi. Dalam kasus ini, dokter mungkin akan mengubah dosis, atau tindakan pencegahan lain yang mungkin diperlukan. Katakan kepada dokter jika Anda menggunakan obat-obatan yang diresepkan atau yang tidak diresepkan (over-the-counter [OTC]).

Berikut adalah beberapa interaksi obat yang mungkin terjadi :

  • terjadi penurunan efek zat besi dan vitamin B12 pada pasien anemia.
  • Phenobarbitone dan rifampin mengurangi kemanjuran Chloramphenicol.
  • Bisa mengganggu tindakan kontrasepsi oral.
  • Interaksi yang berpotensi fatal : Meningkatkan efek antikoagulan oral, agen hipoglikemik oral, fenitoin. Hindari pemberian bersamaan dengan obat-obatan yang menekan fungsi sumsum tulang.

Dosis Chloramphenicol

Secara umum obat ini diberikan dengan dosis seperti berikut :

A. Dosis Sediaan tetes/salep Mata

  • Dewasa : 1 tetes larutan 0,5% setiap 2 jam. Tambah interval dosis setelah terjadi perbaikan. Lanjutkan perawatan selama setidaknya 48 jam setelah sembuh. Kurangi dosis setelah gejala terkontrol atau oleskan salep 1% 3-4 x sehari.

B. Dosis Sediaan Oral (kapsul/sirup)

  • Dewasa : 50 mg / kg / hari terbagi dalam 4 dosis bisa ditingkatkan menjadi 100 mg / kg / hari untuk meningitis atau infeksi berat oleh organisme yang resisten sedang. Lanjutkan pengobatan setelah suhu pasien kembali normal selama 4 hari pada penyakit riketsia dan 8-10 hari pada demam tifoid.
  • Bayi prematur dan bayi baru lahir cukup bulan : 25 mg / kg / hari terbagi dalam 4 dosis.
  • Bayi baru lahir cukup bulan usia > 2 minggu : 50 mg / kg / hari terbagi dalam 4 dosis.
  • Anak-anak : 50 mg / kg / hari terbagi dalam 4 dosis bisa ditingkatkan menjadi 100 mg / kg / hari untuk meningitis atau infeksi berat.
Baca Juga :  Mediklin TR (Clindamycin Phosphate + Tretinoin) Obat Jerawat

C. Dosis Sediaan Tetes Telinga

  • Dewasa : 2-3 tetes larutan 5% ke dalam telinga. Digunakan 2-3 x sehari.

Aturan Pakai

  • Baca Panduan Pengobatan yang disediakan oleh apoteker Anda sebelum Anda mulai menggunakan obat ini. Jika Anda memiliki pertanyaan, tanyakan kepada dokter atau apoteker Anda.
  • Dosis didasarkan pada kondisi medis Anda dan respons terhadap pengobatan. Jangan menambah dosis atau minum obat antibiotik ini lebih sering daripada yang diarahkan.
  • Pasien gangguan hati atau gangguan ginjal akan memerlukan penyesuaian dosis sesuai dengan kondisinya masing-masing.
  • Sediaan oral (kapsul/sirup) harus diminum saat perut kosong : minum 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan.
  • Gunakan obat ini secara teratur untuk mendapatkan manfaat maksimal. Ingat untuk menggunakannya pada waktu yang sama setiap hari.
  • Jangan menghentikan pengunaan antibiotik ini sebelum durasi waktu yang disarankan. Penggunaan antibiotik tidak sesuai dengan durasi yang dianjurkan bisa memicu resistensi.
  • Katakan kepada dokter jika kondisi Anda memburuk.

Artikel Pengetahuan Obat lainnya :

Chloramphenicol harus diberikan melalui resep seorang dokter. Jangan menggunakan obat ini sendiri tanpa sepengetahuan dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol akan memicu resistensi antibiotik.