Katamasa

5 Gambar Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri adalah salah satu sumber sejarah penting yang bisa digunakan untuk mengungkap keberadaan kerajaan Kediri.

Candi-candi peninggalan Kerajaan Kediri tidak hanya ditemukan di wilayah yang saat ini masuk wilayah administrasi kabupaten Kediri dan Kota kediri.

Candi-candi Kediri juga ada yang ditemukan di wilayah lainnya, seperti Blitar dan Tulungagung.

Kerajaan Kediri terbentuk sebagai hasil pemecahan Kerajaan Panjalu oleh Raja Airlangga menjadi dua bagian, yaitu Kerajaan kediri dan Kerajaan jenggala.

Namun, sejumlah bukti sejarah membuktikan bahwa sebenarnya, kerajaan Kediri adalah kelanjutan dari Kerajaan Panjalu sendiri. Sementara Kerajaan Jenggala adalah berstatus sebagai kerajaan pecahan.

Bukti tentang hal ini diantaranya diungkap oleh Kitab Negarakrtagama yang ditulis pada masa Majapahit.

Bukti lainnya bersumber dari prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Kediri sendiri yang lebih banyak menggunakan nama Kerajaan Panjalu dibandingkan nama Kediri, misalnya prasasti Ngantang yang terbit pada masa raja Sri Jayabaya.

Dalam artikel ini kita akan membahas satu persatu candi-candi peninggalan Kerajaan Kediri setelah dipecahnya kerajaan Panjalu menjadi dua. Selamat membaca.

Candi Peninggalan Kerajaan Kediri

Era Kerajaan Kadiri diketahui kaya akan karya-karya sastra yang adiluhung, salahsatunya adalah Kitab Bharatayudha.

Baca juga : Kitab-kitab sastra peninggalan kerajaan Kediri

Belum banyak ditemukan peninggalan kerajaan Kediri yang berupa bangunan candi atau pahatan arca.

Sayangnya, dari sedikit bangunan candi peninggalan kerajaan Kediri yang sudah ditemukan, kondisinya sebagian besar sangat memprihatinkan.

Candi-candi peninggalan kerajaan kediri ini dirusak, selanjutnya batu-batunya dipergunakan sebagai pondasi rumah penduduk.

Bahkan ada yang sangat menyedihkan, bekas lokasi candi kerajaan Kediri yang diatasnya sudah menjadi kandang kambing.

Peninggalan kerajaan Kediri berupa candi tersebar di beberapa wilayah seperti Kabupaten Keidir, Kota kediri, Blitar, dan Tulungagung.

Candi-candi peninggalan kerajaan Kediri ini diketahui masih digunakan pada era kerajaan Majapahit akhir.

Di bawah ini adalah beberapa candi peninggalan kerajaan Kediri yang sudah ditemukan.

Candi Penataran

Candi Penataran adalah candi peninggalan kerajaan Kediri yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Srengga/Sri Kertajaya sekitar tahun 1200 Masehi.

Meskipun kemudian Kerajaan Kediri runtuh, pembangunan candi ini masih tetap dilanjutkan pada era Singhasari dan Majapahit.

Candi ini tercatat masih terus dipergunakan sampai era kerajaan Majapahit masa pemerintahan Wikramawardhana, sekitar tahun 1415.

Nama asli candi ini adalah Bangunan Suci Palah. Nama ini disebut dalam kitab Desawarnana atau Nagarakretagama yang ditulis pada tahun 1365 Masehi, yang menceritakan kunjungan Raja Hayam Wuruk ke candi ini dalam perjalanannya berkeliling Jawa Timur.

Nama Candi Palah juga diidentifikasi dalam pahatan pada Prasasti Palah yang ditemukan di areal utama Candi Penataran ini.

Dari informasi Prasasti Palah diketahui bahwa Candi Palah/Candi Penataran dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa.

Raja Srengga atau lebih dikenal sebagai Kertajaya berkuasa di kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200.

Candi Penataran adalah sebuah situs percandian yang luas dan cukup megah. Termegah di Jawa Timur.

Situs Candi penataran terdiri dari beberapa buah bangunan candi. Bangunan utama di situs ini berupa Punden Berundak.

Baca selengkapnya : Apa itu Punden Berundak?

Di depan bangunan utama Candi penataran terdapat beberapa Candi perwara dan pendopo.

Halaman depan candi penataran

Pintu masuk halaman depan situs candi penataran dijaga oleh arca Dwarapala yang disebut Reco Petung.

Pada arca Reco Petung, terdapat angka tahun yang merujuk era pemerintaha Raja Jayanegara dari kerajaan Majapahit. Hal ini kemungkinan menunjukkan bahwa Candi Penataran baru diresmikan sebagai candi negara pada masa pemerintahan Jayanegara.

Di halaman depan candi penataran terdapat sisa-sisa bangunan Bale Agung menyerupai bangunan Bale Agung di bangunan Pura di Bali.

Di areal ini juga terdapat bangunan candi Candra sengkala yang disebut juga dengan nama Candi Brawijaya atau Candi Ganesha. Candi Candra Sengkala dibangun sekitar tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi.

Candi Candra Sengkala, salah satu candi peninggalan kerajaan Kediri di kompleks Candi Penataran (foto : wikimedia commons/ESCapade)

Halaman Kedua Candi Penataran

Pada halaman kedua Candi Penataran, berdiri dua buah arca Dwarapala berukuransedikit lebih kecil dibandingkan Arca Dwarapala pada pintu masuk candi.

Pada arca Dwarapala ini terpahat angka tahun 1214 Saka atau 1319 Masehi, juga pada pemerintahan Raja Jayanegara – setahun lebih tua dibandingkan Dwarapala di pintu masuk.

Halaman kedua ini terbagi menjadi dua bagian oleh tembok bata yang kini hanya tersisa pondasinya saja.

Di halaman ini juga terdapat banyak reruntuhan bangunan yang terbuat dari batu bata.

Diperkirakan, dahulu di areal halaman tengah Candi penataran ini terdiri dari beberapa buah bangunan candi.

Salah satu bangunan yang masih bisa disaksikan di halaman tengah situs candi Penataran adalah Candi Naga, meskipun juga tidak utuh.

Bagian yang tersisa dari candi naga di situs Penataran adalah bagian kaki dan badan berukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter dan tinggi 4,70 meter.

Pada candi Naga terpahat angka tahun 1208 Saka atau 1286 M yang merujuk era kekuasaan raja Kertanegara, raja terbesar Kerajaan Singhasari.

Halaman Utama candi penataran

Candi Penataran terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Bangunan utama candi peninggalan kerajaan Kediri ini berbentuk Piramida Berundak (foto : Wikimedia commons/EScapade)

Selanjutnya adalah halaman utama Candi Penataran. Halaman utama ini terletak lebih tinggi dari areal lainnya.

Pintu masuk halaman utama candi Penataran berupa pintu gerbang paduraksa yang hanya tinggal fondasi dan dijaga dua Dwarapala.

Di halaman utama Candi Penataran ditemukan setidaknya 9 buah reruntuhan bangunan.

Sampai kini, baru dua buah bangunan yang sudah bisa dikenali yaitu bangunan candi induk dan prasasti Palah berupa linggapala.

Bangunan utama candi Penataran berbentuk punden berundak, terdiri dari tiga teras dengan tinggi 7,19 meter.

Di setiap sisi tangga terdapat dua buah arca mahakala. Di arca-arca ini terpahat angka tahun 1269 Saka atau 1347 Masehi.

Di sekeliling dinding pada teras pertama candi penataran terukir relief kisah cerita Ramayana.

Sementara di dinding pada teras kedua terukir relief kisah Kresnayana.

Pada dinding di teras ketiga terpahat arca singa bersayap dan naga bersayap.

Prasasti Palah yang ditemukan di areal utama candi penataran berbentuk linggapala.

Prasasti Palah diterbitkan oleh Raja Srengga pada tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi.

Prasasti Palah berisi tentang kebahagiaan raja Kertajaya sebab kerajaannya terhindar dari bencana.

Kebahagiaan itu kemudian diwujudkannya dengan membangun sebuah bangunan suci untuk Bathara Palah yang diresmikannya dengan sebuah prasasti.

Baca Selengkapnya : Daftar Prasasti Peninggalan Kerajaan Kediri

Candi Tondowongso

Candi Tondowongso terletak di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Situs percandian ini diyakini sebagai salah satu candi peninggalan kerajaan Kediri.

Situs Candi Tondowongso ditemukan pada awal tahun 2007.

Penemuan situs Candi Tondowongso diawali penemuan sejumlah arca secara tidak sengaja oleh perajin batu bata setempat.

Pada tahun 1957 di lokasi yang sama, Prof.Soekmono pernah menemukan satu arca yang sama.

Berdasarkan bentuk dan gaya tatahan arca pada situs Candi Tondowongso, para peneliti meyakini bahwa situs ini adalah candi peninggalan Kerajaan Kediri, masa-masa awal perpindahan pusat politik dari kawasan Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke 11.

Situs Candi Tondowongso seluas lebih dari satu hektare. Hal ini menjadikan penemuan ini adalah penemuan terbesar peninggalan periode klasik sejarah Indonesia dalam 30 tahun terakhir (sejak penemuan Kompleks Percandian Batujaya, peninggalan Kerajaan Tarumanegara) di Jawa Barat.

Candi Gurah

Gambar reruntuhan Candi Gurah yang terletak di dusun Sentul, Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah, Kediri, Jawa Timur. Di sekitar candi peninggalan kerajaan Kediri ini banyak ditemukan arca, seperti arca Brahma, Nandi, Surya dan lain-lain (foto : bumikediri.blogspot .com)

Candi Gurah ditemukan pada tahun 1957, namun keberadaanya seakan terlupakan karena tidak pernah diadakan penelitian terhadap salah satu candi peninggalan Kerajaan Kediri ini.

Namun, penemuan Situs Candi Tondowongso yang hanya berjarak 200 meter dari Candi Gurah membuat Candi ini diingat kembali.

Keberadaan candi dalam jarak berdekatan dengan gaya yang sama menurut Tim Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta adalah sebuah indikasi yang kuat bahwa Candi Tondowongso dan Candi Gurah adalah satu kesatuan Kompleks percandian yang luas.

Candi Gurah terdiri dari sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara yang terletak di depannya. Juga terdapat berbagai macam arca di dalam bilik candi perwara. Arca-arca tersebut berupa dewa Brahma, Candra, Surya, Nandi dan Yoni.

Soekmono juga menemukan bahwa Candi induk di situs Candi Gurah memiliki ukuran 9,50 x 9,50 m2.

Ukuran candi induk di situs Candi Gurah lebih besar dibandingkan Candi induk Candi Tondowongso yang hanya berukuran 8 x 8 m2.

Berdasarkan gaya arsitektur di situs Candi Gurah, Soekmono menduga bahwa Candi Gurah adalah gaya peralihan antara candi bergaya Jawa Tengah dan gaya Jawa Timur (Soekmono. 1969. Gurah the link between the central and the East Javanese arts. Bulletin of the Archaeological Institute of the Republic of Indonesia).

Candi Mirigambar

Candi Mirigambar terletak di Dukuh Gambar, Desa Miri Gambar, Kecamatan Sumber Gempol, Kabupaten Tulungagung. Beberapa ahli purbakala pernah melakukan penelitian terhadap candi ini misalnya J. Knebel pada tahun 1908, N.W. Hoepermans pada tahun 1913, N.J. Krom pada tahun 1915 dan 1923, dan J.L.A. Brandes pada tahun 1913 (sumber : kemdikbud)

Di beberapa batu reruntuhan Candi Mirigambar terpahat beberapa tulisan angka tahun, tiga diantaranya dapat dikenali yaitu 1214 Saka, 1310 Saka, dan 1321 Saka.

Berdasarkan data itu, para peneliti menduga Candi Mirigambar dibangun dan digunakan pada masa 3 kerajaan, yaitu kerajaan kediri, Singhasari dan Majapahit.

Candi Mirigambar memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti relief candi pada umumnya, yang terukir kisah-kisah Mahabharata atau Ramayana, di dinding Candi Mirigambar terpahat kisah-kisah lokal.

Kisah-kisah pada relief Candi Mirigambar disebut Kisah Panji, yang sangat terkenal di masyarakat Jawa.

Kisah Panji berlatar suasana masa kerajaan Kediri dan Jenggala.

Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, mengatakan kisah Panji terpahat pada relief di dinding teras I sisi utara bagian depan candi Mirigambar (sumber).

Kisah-kisah Panji selanjutnya terus dipahatkan pada beberapa Candi sampai era Majapahit, misalnya pada relief Candi Gajah Mungkur dan Candi Kendalisada di Mojokerto, Jawa Timur.

Selain, memuat kisah-kisah Panji, relief di dinding Candi Mirigambar juga memuat kisah-kisah dari cerita Tantri Kamandaka.

Hal ini disimpulkan oleh penelitian Maria J. Klokke, arkeolog Belanda, pada 1990, terhadap tiga panel relief dinding II.

Tantri Kamandaka adalah kitab prosa berbahasa jawa kuno tentang ajaran moral yang diceritakan dalam bentuk cerita binatang.

Candi Tuban

Foto dokumenter Oudhkundige Diest (OD) no.2481 tahun 1926, dimana terpampang Candi Tuban sebelum dieskavasi dan direstorasi. Namun, sayang kini salah satu candi peninggalan kerajaan Kediri ini sudah tidak ada lagi akibat aksi perusakan warisan budaya yang marak paska tahun 1965.

Candi Tuban terletak di Dukuh Tuban, Desa Domasan, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, sekitar 500 meter dari Candi Mirigambar.

Candi Tuban sudah rusak parah. Bagian yang tersisa hanya bagian kaki candinya.

Candi ini sengaja dirusak dalam suatu aksi ikonoklasik (perusakan benda-benda budaya) pada tahun 1965-an.

Setelah dirusak, candi Tuban dipendam dalam tanah dan kini di atas bekas candi Tuban berdiri kandang kambing, ayam dan bebek.

Pada saat itu, di berbagai wilayah di Jawa memang marak aksi perusakan candi oleh warga.

Bata-batanya dijadikan bahan urugan jalan, sebagian dijadikan fondasi rumah.

Pembangunan Candi Tuban diduga sudah dimulai sejak era kerajaan Kediri. Karena di sisi utara Desa Domasan ditemukan Prasasti Candi Tuban berangka tahun 17 Mei 1129 Masehi, masa kekuasaan Raja Bameswara.

Deskripsi tentang arsitektur Candi Tuban bisa diperoleh pada buku “Inleeding Hindoe Javaansche Kunst (IHKK)” karya N.J. Krom tahun 1923.

Candi Tuban digambar memiliki ukuran sama dengan Candi Mirigambar. Kedua candi ini seperti “candi kembar” yang berdekatan.

Rekomendasi bacaan terkait kerajaan kediri :

Rekomendasi bacaan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia :

Demikian artikel kami tentang candi-candi peninggalan kerajaan Kediri dari sejak dipecahnya kerajaan Panjalu sampai akhir riwayatnya di tangan Ken Arok. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring