Katamasa

Biografi RA Kartini (Pahlawan Emansipasi Wanita) – Lengkap

Repro Negatif. Potret Raden Adjeng Kartini. (sumber : Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

RA Kartini adalah pahlawan nasional yang sangat penting dalam sejarah emansipasi wanita di Indonesia.

RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879.

Pada eranya, RA Kartini adalah sosok wanita yang memiliki pemikiran revolusioner tentang peran wanita di masyarakat terutama kesetaraan hak dalam pendidikan.

Atas jasanya itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

W.R. Soepratman, komposer legendaris Indonesia, sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, menciptakan lagu Ibu Kita Kartini.

Baca juga : Biografi Wage Rudolf Soepratman, sang pencipta lagu Indonesia Raya

Lagu Ibu Kita kartini aslinya berjudul “Raden Adjeng Kartin” yang diciptakan tahun 1929.

Lagu Ibu Kita Kartini menggambarkan dengan sangat indah sosok RA Kartini dan cita-citanya untuk wanita Indonesia.

Dalam artikel ini kita akan membahas profil dan biografi RA Kartini, tokoh perjuangan emansipasi wanita Indonesia. Selamat membaca.

Biografi RA Kartini Singkat

Biografi RA Kartini sangat menarik untuk dibahas, selain untuk mengenang kehidupan beliau juga untuk lebih mengetahui nuansa kehidupan kaum wanita di masa itu.

Silsilah RA Kartini

Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat atau lebih dikenal sebagai RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879.

RA Kartini berasal dari keluarga bangsawan Jawa atau priyayi.

Beliau adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ayahnya ini adalah seorang patih yang diangkat sebagai bupati Jepara setelah Kartini lahir.

RA Kartini adalah putri dari istri pertama, namun ibunya bukanlah istri utama.

Ibunya, yaitu M.A. Ngasirah adalah seorang putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Dari sisi ayahnya, silsilah RA Kartini dapat dilacak sampai Hamengkubuwana VI.

Kakek RA Kartini adalah Pangeran Ario Tjondronegoro IV.

Ayah Kartini awalnya adalah seorang wedana di Mayong. Ketika beliau menjabat sebagai bupati Jepara beliau menikah lagi karena peraturan kolonial waktu itu mewajibkan istri seorang bupati haruslah seorang bangsawan. Sementara ibunda RA Kartini, M.A. Ngasirah bukanlah seorang bangsawan tinggi.

Istri kedua ayahnya adalah Raden Adjeng Woerjan (Moerjam). Beliau adalah keturunan langsung Raja Madura.

Paska perkawinan tersebut, ayah RA Kartini bisa menjabat sebagai bupati Jepara menggantikan posisi ayah kandung R.A. Woerjan, yaitu R.A.A. Tjitrowikromo.

RA Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari keseluruhan saudara sekandungnya, RA Kartini adalah anak perempuan tertua.

Beberapa nama saudara RA Kartini, yaitu R.M Slamet Sosroningrat, P.A Sosrobusono, R.A Soelastri, Drs. R.M.P Sosrokartono, R.A Roekmini, R.A Kardinah, R.A Kartinah, R.M Muljono, R.A Soematri, R.M Rawito.

Repro Negatif. Potret studio Raden Ajeng Kartini dengan orangtuanya, saudara perempuan, dan saudara laki-lakinya. (sumber : Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Pendidikan RA Kartini

Sampai menginjak usia 12 tahun, RA Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School).

Di sekolah ini antara lain RA Kartini mempelajari bahasa Belanda.

Namun, setelah usia 12 tahun, RA Kartini selesai bersekolah karena sesuai kebiasaan waktu itu, anak perempuan harus tinggal dirumah untuk ‘dipingit’.

Pernikahan RA Kartini

Menginjak usia sekitar 24 tahun, yaitu pada tahun 1903 RA Kartini berusia dijodohkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Suaminya adalah seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati Rembang. Saat itu suaminya sudah memiliki tiga orang istri.

Setelah menikah, RA Kartini berkeinginan untuk mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan.

Ternyata suaminya memahami keinginan RA Kartini tersebut.

RA Kartini kemudan mendirkan sekolah wanita yang berdiri di sebelah kantor pemerintahan Kabupaten Rembang. Gedung itu saat ini menjadi Gedung Pramuka.

Sekitar setahun menikah, tepatnya pada tanggal 13 September 1904, RA Kartini melahirkan anak pertamanya, yaitu Soesalit Djojoadhiningrat.

Namun sungguh menyedihkan, beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya beliau meninggal dunia.

RA Kartini meninggal dunia pada tanggal 17 September 1904 di usia yang masih sangat muda yaitu 24 tahun.

RA Kartini kemudian dimakamkan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.

Keturunan RA Kartini

Seperti diceritakan di atas, RA Kartini hanya memiliki seorang anak yang bernama R.M Soesalit Djojoadhiningrat.

Pada masa pendudukan Jepang, anak RA Kartini ini, Soesalit Djojoadhiningrat sempat menjabat sebagai Mayor Jenderal.

R.M Soesalit Djojoadhiningrat selanjutnya menurunkan cucu RA Kartini yang diberi nama RM. Boedi Setiyo Soesalit.

RM. Boedi Setiyo Soesalit lalu menikahi seorang wanita bernama Ray. Sri Biatini Boedi Setio Soesalit.

Dari hasil pernikahan tersebut, beliau menurunkan cicit-cicit RA Kartini sebanyak lima orang.

Cicit-cicit RA Kartini masing-masing diberi nama RA. Kartini Setiawati Soesalit, RM. Kartono Boediman Soesalit, RA Roekmini Soesalit, RM. Samingoen Bawadiman Soesalit, dan RM. Rahmat Harjanto Soesalit.

Pemikiran RA Kartini

Untuk ukuran era kolonial dan kental prilaku feodal di zamannya, pemikiran RA Kartini sangat maju.

Pemikiran-pemikiran RA Kartini adalah hasil dari ketekunannya belajar mandiri dengan cara banyak membaca.

RA Kartini membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang dipimpin Pieter Brooshooft.

Selain itu, beliau juga banyak membaca leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).

Majalah-majalah yang sering dibaca RA Kartini, diantaranya majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang isinya cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie.

Selain membaca, RA Kartni juga sering menuliskan pemikiran-pemikirannya.

RA Kartini beberapa kali mengirimkan tulisannya dan berhasil dimuat oleh De Hollandsche Lelie.

Dari surat-surat yag dibuatnya, diketahui RA Kartini membaca sangat memahami apa yang dibacanya.

Dalam suratnya, RA Kartini sering mengutip beberapa kalimat dari buku-buku yang dibacanya.

Meskipun kini lebih dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita, dari surat-suratnya diketahui bahwa perhatian RA Kartini tidak hanya mengenai emansipasi wanita, tetapi juga terkait masalah sosial umum.

Terkhusus masalah wanita, RA Kartini ingin melihat wanita mendapatkan kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Di antara banyak buku yang dibaca RA Kartini, misalnya, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli.

RA Kartini juga membaca De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus, karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).

Surat-Surat RA Kartini

Pemikiran-pemikiran RA Kartini banyak terkuak melalui surat-surat yang beliau kirim kepada dua sahabat penanya.

Sahabat pena RA Kartini adalah Estelle Zeehandelaar serta pasangan suami istri Jacques Henrij Abendanon dan Rosa Manuela Abendanon.

Dalam surat-suratnya, RA Kartini menyampaikan pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial dan budaya di Jawa saat itu, terutama tentang kondisi perempuan Jawa.

Dalam suratnya, RA Kartini mengeluh bahwa budaya Jawa saat itu adalah penghambat kemajuan perempuan.

Kepada Estelle “Stella” Zeehandelaar, beliau menyampaikan keinginannya untuk menjadi seperti kaum muda Eropa.

RA Kartini memberikan gambaran kehidupan perempuan Jawa saat itu yang menderita karena terkungkung adat, misalnya tidak bisa bebas bersekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Beliau menginginkan perempuan Jawa mendapatkan kebebasan memperoleh pendidikan.

RA Kartini menyampaikan ide dan cita-citanya melaui surat-suratnya, seperti tertulis : Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderrichtZelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit.

Semua konsep-konsep itu memiliki dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Melalui surat-suratnya, RA Kartini menyampaikan harapan adanya pertolongan dari luar.

Surat-surat Kartini banyak memberikan cerita tentang hambatan-hambatan yang harus dihadapi perempuan Jawa yang mempunyai cita-cita untuk maju.

RA Kartini menuliskan ini karena sesuai dengan pengalaman hidupnya yang tidak bebas menempuh pendidikan.

Meskipun ayahnya tergolong berpikiran maju, namun dia hanya diijinkan sekolah sampai usia 12 tahun.

Kartini begitu mencintai sang ayah, sayangnya rasa cintanya yang besar kepada sanga ayah juga lah yang akhirnya menjadi penghambat dalam mewujudkan cita-citanya.

Dalam suratnya, RA Kartini juga menuliskan bahwa ayahnya juga sangat mengasihinya.

Beliau yang sebelumnya tidak mengijinkan RA Kartini untuk menempuh pendidikan ke Belanda ataupun menempuh pendidikan di sekolah kedokteran di Betawi, pada akhirnya sempat memberi ijin untuk belajar menjadi seorang guru di Batavia.

Dalam suratnya, RA Kartini memang mengungkapkan niatnya untuk menempuh pendidikan ke Eropa terutama negeri Belanda.

Banyak sahabat-sahabatnya mendukung cita-cita RA Kartini itu.

Namun, keinginan itu tidak pernah terwujud. Hal ini tidak hanya membuat RA Kartini bersedih namun juga sahabat-sahabat penanya ikut bersedih.

Nyonya Abendanon akhirnya menasehati RA Kartini untuk bersekolah di Batavia saja. Menurutnya, hal itu lah yang terbaik bagi RA Kartini dan adiknya Rukmini untuk saat itu.

Namun, niat itu pun tidak tercapai juga karena dirinya akhirnya menikah.

Padahal ketika itu departemen pengajaran Belanda sudah memberi kesempatan untuk RA Kartini dan Rukmini untuk belajar di Batavia.

Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, beliau mengungkap tidak berniat lagi untuk sekolah karena ia sudah akan menikah.

…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…

surat Kartini ke Nyonya Abendanon

Menjelang pernikahannya, RA Kartini memiliki pandangan yang sedikit berubah tentang adat Jawa. Beliau menjadi lebih bisa menerima.

Beliau justru menemukan sebuah kesempatan untuk mewujudkan keinginannya mendirikan sekolah untuk perempuan bumiputra saat itu.

Dalam suratnya, beliau menyampaikan bahwa suaminya begitu mendukung keinginannya untuk mendirikan sekolah perempuan.

Suaminya juga diceritakannya sangat mendukung dirinya untuk mengembangkan ukiran Jepara, bahkan juga mendukung agar dirinya bisa menulis sebuah buku.

Setelah Kartini meninggal dunia, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat R.A Kartini untuk teman-temannya di Eropa.

Buku kumpulan surat-surat RA Kartini sangat menarik perhatian masyarakat Belanda.

Pemikiran-pemikiran RA Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya mampu memberikan cara pandang baru masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa.

Fragment surat RA Kartini dalam Bahasa Belanda kepada Rosa Abendanon (sumber : Magazine De Boekenwereld, 32: 4 (2016), p.)

Buku-Buku RA Kartini

Pemikiran-pemikiran RA Kartini yang revolusioner pada masanya banyak dibukukan, baik dalam bahasa Indonesia, bahasa belanda, maupun bahasa Inggris.

Di bawah-bawah ini adalah buku-buku yang diterbitkan untuk memberikan gambaran pemikiran-pemikiran RA Kartini :

Door Duisternis tot Licht

Buku pertama yang merangkum pemikiran Tokoh Emansipasi wanita Indonesia ini diterbitkan dalam bahasa Belanda.

Buku ini adalah kumpulan surat-surat yang dikirimkan beliau kepada sahabat-sahabat penanya di eropa.

Orang yang mengumpulkan dan membukukan surat-surat RA Kartini adalah Mr. J.H. Abendanon.

Saat itu, Abendanon adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Buku terbitan Abendanon itu berjudul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Buku Door Duisternis tot Licht terbit pada 1911. Buku ini telah dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat RA Kartini yang belum ada di edisi sebelumnya.

Habis Gelap Terbitlah Terang

Pada 1922, Door Duisternis Tot Licht diterbitkan oleh empat saudara dalam versi bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dengan struktur yang berbeda dibandingkan buku-buku terjemahan lain Door Duisternis Tot Licht.

Buku terjemahan karya Armijn Pane ini telah dicetak sebanyak sebelas kali.

Armijn Pane menyusun buku kumpulan surat-surat Kartini ke dalam lima bab pembahasan.

Menurutnya, pembagian itu diperlukan untuk memperlihatkan adanya dinamika atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini saat bersurat menyurat.

Selain itu, Armijn Pane juga mengurangi jumlah surat Kartini yang dimasukan ke dalam buku. Dia cuma memasukan 87 surat Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”, karyanya ini.

Surat-surat yang memiliki kemiripan topik tidak dimasukan.

Selain itu, Armijn Pane ingin menyusun buku ini memiliki jalan cerita seperti roman, tidak hanya sebagai sebuah kumpulan surat.

Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya

Sulastin Sutrisno juga menterjemahkan surat-surat Kartini.

Sulastin menterjemahkan buku Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda.

Ketika itu ia sedang menempuh studi di bidang sastra tahun 1972.

Buku terjemahan Sulastin Sutrisno terbit tahun 1979, dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya.

Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya

Sulastin Sutrisno juga menerbitkan buku kumpulan surat-surat Kartini lainnya yang berjudul Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya.

Buku itu terbit akhir tahun 1987.

Dalam bukunya ini, Sulastin Sutrisno memberikan gambaran baru tentang pemikiran-pemikiran Kartini.

Gambaran tentang pemikiran Kartini sebelumnya lebih banyak diketahui dari kumpulan surat yang ditulis untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door Duisternis Tot Licht.

Dalam bukunya ini, Sulastin Sutrisno menghadirkan sosok Kartini sebagai pejuang emansipasi yang sangat maju.

Beliau dikatakan memiliki cara pandang yang lebih maju dibanding perempuan-perempuan Jawa pada masanya.

Yang unik, Kartini menyebutkan dirinya memulai untuk hidup pantang makan daging (vegetarian). Hal ini diketahui dari suratnya kepada Nyonya Abendanon tanggal 27 Oktober 1902.

Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904

Terjemahan surat-surat Kartini juga dimuat dalam buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Buku ini karya Joost Coté.

Selain menerjemahkan surat-surat Kartini dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon, Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini yang dikirim untuk Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir.

Pada buku terjemahan Joost Coté ini, juga ditampilkan surat-surat Kartini yang termasuk sensitif yang sebelumnya tidak ditampilkan dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon.

Isi dalam buku ini menunjukkan sisi lain Kartini.

Buku ini kemudian diterjemahkan dengan judul Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.

Panggil Aku Kartini Saja

Selain berupa buku-buku yang menampilkan surat-surat Kartini, terdapat juga buku yang lebih fokus kepada pemikiran-pemikiran Kartini.

Salah satu buku penting terkait ini adalah buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer.

Pramoedya menulis buku ini sebagai hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber.

Kontroversi

Setiap menjelang tanggal 21 April, selalu saja muncul kontroversi tentang kepahlawanan Kartini.

Di satu sisi beliau diragukan atas perjuangannya sebagai tokoh emansipasi wanita.

Namun di sisi lain, beliau juga diklaim oleh kelompok tertentu dengan mengubah tampilan fisiknya pada foto-foto terdahulu.

Di bawah ini adalah kontroversi-kontroversi yang melingkupi Kartini :

Keraguan Atas Kebenaran Surat-Surat Kartini

Banyak kalangan yang tidak percaya adanya surat-surat Kartini.

Mereka menduga surat-surat itu adalah rekayasa J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu.

Mereka berteori bahwa surat-surat itu sengaja dimunculkan untuk mendukung pelaksanaan politik etis.

Seperti diketahui, buku kumpulan surat-surat Kartini terbit saat pemerintah kolonial Belanda menjalankan politik etis.

Dan Abendanon adalah pihak yang sangat mendukung politik etis.

Kecurigaan semakin besar karena sampai saat ini, sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya.

Keberatan Atas Kepahlawanan RA Kartini

Penetapan tanggal kelahiran Kartini, 21 April sebagai hari besar nasional juga menuai pro dan kontra.

Pihak yang kontra menilai seharusnya tidak perlu merayakan hari Kartini, tetapi cukup disatukan dengan Hari Ibu, yaitu setiap tanggal 22 Desember.

Mereka beralasan masih banyak tokoh pahlwan wanita Indonesia, seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika dan lain-lain, yang perjuangannya lebih besar dibandingkan Kartini.

Kesediannya menjadi istri keempat (dipoligami) juga dikritik karena bertentangan dengan arti emansipasi wanita.

Sementara itu, pihak yang pro menilai Kartini tidak semata-mata tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja.

Bagi mereka, Kartini adalah tokoh nasional. Melalui ide, gagasan, dan pemikirannya dia dianggap telah berjuang untuk kepentingan bangsanya.

Kontroversi Kematian

Kartini meninggal secara mendadak empat hari paska melahirkan putra pertama sekaligus terakhirnya.

Hal ini juga menimbulkan spekulasi banyak kalangan.

Melalui bukunya yang berjudu “Kartini Mati Dibunuh” Efatino Febriana, mencoba menggali fakta-fakta seputar kematian Kartini.

Efatino Febriana akhirnya menarik kesimpulan bahwa kartini mati karena sudah direncanakan.

Sitisoemandari dalam buku berjudul “Kartini, Sebuah Biografi”, menduga bahwa Kartini meninggal karena permainan jahat Belanda.

Kematian Kartini adalah akibat pemikiran-pemikiran majunya yang ternyata berwawasan kebangsaan. Dan oleh karena itu harus dibungkam.

Peringatan dan Penghargaan

Kartini mendapat penghargaan atas jasa-jasanya dalam upaya membangun kesetaraan bagi perempuan.

Di bawah ini adalah beberapa penghargaan atas jasa-jasa tokoh emansipasi wanita ini.

Pendirian Sekolah Kartini

Atas perjuangan Kartini untuk memperjuangkan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memperoleh pendidikan, pada tahun 1912, Sekolah Wanita didirikan oleh Yayasan Kartini di Semarang.

Sekolah wanita ini selanjutnya semakin berkembang ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya.

Sekolah wanita tersebut selanjutnya diberi nama “Sekolah Kartini” untuk menghormati jasa pejuang perempuan tersebut.

Yayasan tersebut dimiliki oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di era kolonial Belanda.

Pahlawan Nasional

Pemerintah Indonesia menetapkan Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan nasional.

Baca juga : Pengertian NKRI

Ketetapan itu dikeluarkan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964.

Hari Kartini

Selain menetapkan sebagai pahlawan nasional, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, pemerintah juga menjadikan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, sebagai hari besar nasional yang diperingati sebagai Hari Kartini.

Gambar di Uang Rupiah

Mata uang Republik Indonesia IDR 5 dengan foto Kartini, diterbitkan tahun 1950 setelah kemerdekaan, dicetak oleh Thomas De La Rue & Co.

Foto Kartini ditampilkan dalam mata uang pecahan lima rupiah yang terbit tahun 1950.

Lagu Ibu Kita Kartini

W.R. Soepratman, komposer legendaris Indonesia, sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, menciptakan lagu Ibu Kita Kartini.

Lagu Ibu Kita kartini aslinya berjudul “Raden Adjeng Kartini” yang diciptakan tahun 1929.

Lagu Ibu Kita Kartini menggambarkan dengan sangat indah sosok RA Kartini dan cita-citanya untuk wanita Indonesia.

Film Kartini

Terdapat tiga buah film yang menjadikan biografi RA Kartini sebagai tema.

Yang pertama adalah film berjudul RA Kartini yang diproduksi pada tahun 1984.

Yang kedua adalah film dengan judul Surat Cinta Kartini yang diproduksi pada tahun 2016.

Yang terbaru film berjudul Kartini yang diproduksi pada bulan april 2017 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran Kartini.

Stadion Gelora Bumi Kartini

Di Jepara, kota kelahirannya, dibangun stadion olahraga dengan menggunakan nama tokoh emansipasi wanita ini, yaitu Stadion Gelora Bumi Kartini.

Nama Jalan di Belanda

Di negara Belanda terdapat beberapa jalan yang menggunakan nama pahlawan kemerdekaan nasional Indonesia ini.

Jalan yang menggunakan nama Kartini setidaknya bisa ditemukan di kota Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Haarlem.

Demikian artikel kami tentang profil dan biografi RA Kartini secara singkat. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring