Biografi Ki Hajar Dewantara (Soewardi Soerjaningrat) – Singkat & Lengkap

Biografi Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Indonesia

Ki Hajar Dewantara adalah bapak pendidikan Indonesia, yang juga salah satu pahlawan nasional Indonesia.

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh perjuangan yang aktif dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Beliau adalah seorang politisi, kolumnis, dan yang terpenting beliau adalah perintis pendidikan bagi bumi putra Indonesia.

Seperti diketahui, pada masa penjajahan Belanda, hanya orang-orang Belanda yang bisa menikmati pendidikan.

Orang Indonesia yang bisa mengenyam pendidikan hanyalah anak-anak para bangsawan.

Maka munculah sosok Ki Hajar Dewantara yang memberikan kesempatan bagi anak-anak pribumi untuk mengenyam pendidikan.

Untuk mewujudkan pendidikan bagi kaum pribumi, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa.

Dalam menyelenggarakan sistem pendidikan di Perguruan Taman Siswa, beliau berpedoman pada semboyan yang sangat terkenal.

Semboyan pendidikan ala Perguruan Taman Siswa itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Ing ngarsa sung tuladha berarti di depan memberi contoh/teladan.

Ing madya mangun karsa berarti di tengah memberi semangat.

Tut wuri handayani berarti di belakang memberi dorongan.

Karena peran beliau yang sangat besar dalam dunia pendidikan, pemerintah Indonesia menjadikan hari lahir beliau, yaitu tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Salah satu bagian dari 3 semboyan pendidikan ala Perguruan Taman Siswa, yaitu Tut wuri handayani, kini dijadikan semboyan Kementerian Pendidikan Indonesia hingga saat ini.

Selain hari lahirnya dijadikan Hari Pendidikan Nasional, pemerintah juga mengabadikan nama beliau sebagai nama salah satu kapal perang TNI Angkatan Laut, yaitu KRI Ki Hajar Dewantara.

Foto Ki Hajar Dewantara juga diabadikan di uang kertas pecahan dua puluh ribu rupiah pada tahun 1998.

Biografi Ki Hajar Dewantara, Foto dalam uang dua puluh ribu rupiah

Dalam artikel ini kita akan membahas Biografi Ki Hajar Dewantara secara singkat dan secara lengkap. Selamat membaca.

Biografi Ki Hajar Dewantara Secara Singkat

Ki Hajar Dewantara lahir di Pakualaman, Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.

Beliau lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Namun, sejak tahun 1922, karena aktivitasnya di bidang pendidikan rakyat, beliau lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Atau dalam bahasa Jawa, Ki Hajar Dewantoro.

Beliau meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959 ketika umur 69 tahun.

Tujuh bulan setelah meninggal, beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI pertama, Sukarno, pada tanggal 28 November 1959, melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959.

Biografi Ki Hajar Dewantara Secara Lengkap

Seperti sudah dijelaskan di atas, Ki Hajar Dewantara lahir di Pakualaman, Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.

Nama lahir beliau adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Nama panggilan beliau adalah Soewardi.

Baru semenjak sejak tahun 1922, beliau dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Atau dalam bahasa Jawa, Ki Hajar Dewantoro.

Panggilan ini merujuk kepada aktivitas beliau sebagai tokoh yang sangat berjasa dalam bidang pendidikan.

Masa Muda dan Riwayat Pendidikan

Biografi Ki Hajar Dewantara, saat masih muda
Foto Ki Hajar Dewantara saat masih muda (sumber : wikimedia commons)

Ki Hajar Dewantara adalah pahlawan nasional dari jawa yang dilahirkan di lingkungan Kadipaten Pakualaman.

Tokoh Pendidikan Indonesia ini adalah putra dari GPH Soerjaningrat atau cucu dari Sri Pakualam III.

Sebagai kalangan bangsawan, beliau berkesempatan mengenyam pendidikan yang cukup tinggi.

Beliau berhasil menyelesaikan pendidikan dasar di ELS atau sekolah dasar di zaman Belanda.

Beliau kemudian sempat menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA, namun tidak sampai tamat karena menderita sakit.

Karir Sebagai Wartawan

Selepas dari STOVIA, Ki Hajar Dewantara terjun ke dunia jurnalistik. Beliau bekerja menjadi wartawan dan penulis di beberapa surat kabar.

Misalnya, Midden Java, Soeditomo, De Expres, Kaoem Moeda, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer dan Poesara.

Beliau termasuk sosok penulis yang handal. Tulisan-tulisan beliau sangat mudah dipahami, komunikatif dan mengandung semangat anti penjajahan.

Tulisan-tulisan Ki Hajar Dewantara

Tulisan-tulisan Soewardi (nama panggilan beliau) sering membuat merah kuping pemerintah Hindia Belanda.

Pada tahun 1913, pemerintah Hindia Belanda akan mengadakan perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis.

Untuk keperluan perayaan itu, pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengumpulkan sumbangan dari masyarakat, termasuk warga pribumi.

Aksi mengumpulkan sumbangan yang dilakukan oleh Belanda ini menimbulkan kecaman dari banyak tokoh-tokoh nasionalis Indonesia.

Mereka berpendapat perbuatan Belanda sungguh tidak tahu diri, merayakan kemerdekaan di tanah yang justru mereka jajah. Dengan uang sumbangan rakyat negeri jajahan pula.

Ditambah lagi mereka juga mengumpulkan sumbangan dari warga.

Untuk mengkritik perbuatan Belanda, Ki Hajar Dewantara muda menulis sebuah kolom artikel yang berjudul “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu”.

Namun, tulisan beliau yang lebih tajam dan sangat terkenal mengkritik Belanda adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” atau dalam Bahasa Belanda berjudul “Als ik een Nederlander was”.

Tulisan Ki Hajar Dewantara ini dimuat oleh koran De Expres yang dipimpin oleh Douwes Dekker pada tanggal 13 Juli 1913.

Di bawah ini adalah kutipan artikel tersebut :

Seandainya aku seorang Belanda, aku tidak akan melaksanakan pesta-pesta kemerdekaan di negara yang telah kita rebut sendiri kemerdekaannya.

Setara dengan cara berpikir seperti itu, hal ini selain tidak adil, tapi juga tidak pas untuk menyuruh si penduduk pribumi memberikan sumbangan untuk mendanai perayaan itu.

Munculnya ide untuk menyelenggarakan perayaan kemerdekaan itu saja sudah merupakan suatu penghinaan, dan sekarang kita keruk pula dompet para pribumi.

Ayo, tidak apa-apa, teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu!

Seandainya aku seorang Belanda, aspek yang bisa menyinggung perasaanku dan saudara-saudara sebangsaku adalah kenyataan bahwa pribumi wajib ikut membiayai suatu perayaan yang tidak ada kepentingan dan hubungan sedikit pun baginya.

ls ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda)

Karena gaya bahasa dan isi artikel yang cenderung berbeda dibandingkan tulisan-tulisan sebelumnya, para petinggi Hindia Belanda awalnya meragukan tulisan ini benar-benar karya Ki Hajar Dewantara.

Meskipun akhirnya menyadari bahwa tulisan itu benar-benar karya Ki Hajar Dewantara, mereka berpendapat bahwa tulisan itu adalah hasil pengaruh Douwes Dekker.

Akibat dari tulisan yang sangat pedas tersebut, Ki Hajar Dewantara ditangkap atas perintah Gubernur Jenderal Idenburg.

Atas permintaan Ki Hajar Dewantara sendiri, beliau akhirnya diasingkan Pulau Bangka.

Penangkapan dan pengasingan itu diprotes keras oleh Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.

Bukannya mendapatkan tanggapan positif, mereka bertiga justru diasingkan ke Belanda pada tahun 1913.

Ketiga tokoh lah yang kemudian kita kenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Saat itu, Ki Hajar Dewantara berusia 24 tahun.

Biografi Ki Hajar Dewantara, salah seorang anggota Tiga Serangkai
Ki Hajar Dewantara, salah seorang anggota Tiga Serangkai (sumber wikimedia commons)

Perjuangan & Pergerakan Sosial Politik

Selain aktivitasnya di bidang jurnalistik yang kerap mengkritik tajam kebijakan-kebijakan Belanda, beliau juga aktif dalam berbagai organisasi pergerakan sosial politik saat itu.

Saat pendirian Boedi Oetomo (BO) pada tahun 1908, Ki Hajar Dewantara masuk menjadi anggota.

Beliau aktif dalam bagian sosialisasi dan propaganda kepada rakyat Indonesia, khususnya orang Jawa.

Tujuan propaganda itu adalah membangkitkan kesadaran rakyat Indonesia tentang pentingnya persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Ki Hajar Dewantara juga ikut mengatur pelaksanaan Kongres Boedi Oetomo yang pertama di kota Yogyakarta.

Ki Hajar Dewantara muda juga sangat aktif di organisasi Insulinde, organisasi multietnis untuk kaum Indo di Hindia Belanda.

Insulinde memiliki tujuan untuk membentuk pemerintahan sendiri terpisah dari negeri Belanda.

Sebenarnya, pengaruh Ernest Douwes Dekker memang sangat besar bagi idelaisme Soewardi muda.

Ernest Douwes Dekker yang memiliki nama Indonesia Danudirja Setiabudi adalah orang keturunan asing yang mengobarkan semangat anti kolonialisme.

Ketika Ernest Douwes Dekker mendirikan Indische Partij, Ki Hajar Dewantara juga diajak untuk turut serta.

Pengasingan Ke Belanda

Saat hidup dalam pengasingan di negeri Belanda, Ki Hajar Dewantara masuk dalam organisasi Indische Vereeniging atau dalam Bahasa Indonesia disebut Perhimpunan Hindia.

Indische Vereeniging adalah organisasi yang menjadi wadah perkumpulan para pelajar asal Indonesia di Belanda.

Tahun 1913, Ki Hajar Dewantara membentuk biro pers yang diberi nama Indonesisch Pers-bureau atau dalam Bahasa Indonesia kantor berita Indonesia.

Ini lah kali pertama nama Indonesa digunakan secara formal.

Seperti diketahui, nama Indonesia baru ada sejak 1850.

Istilah Indonesia diciptakan oleh seorang ahli bahasa dari Inggris, George Windsor Earl dan seorang pakar hukum dari Skotlandia, James Richardson Logan.

Saat di negeri Belanda lah beliau mulai mewujudkan impian untuk meningkatkan kualitas pendidikan kaum pribumi.

Untuk itu, beliau belajar ilmu pendidikan dan akhirnya berhasil memperoleh Europeesche Akta.

Europeesche Akta adalah ijazah bidang pendidikan yang memiliki nilai tinggi.

Dengan ilmu pendidikan yang dimilikinya ini lah beliau membangun fondasi dalam membangun lembaga pendidikan kelak di Indonesia.

Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan banyak dipengaruhi oleh pemikiran sejumlah tokoh pendidikan dari dunia Barat, misalnya, Montesseri dan Frobel.

Beliau juga mengagumi pergerakan pendidikan di negara Asia Selatan khususnya India yang dipelopori oleh keluarga Tagore.

Ki Hajar Dewantara Mendirikan Taman Siswa

Paska menjalani pengasingan, Ki Hajar Dewantara kembali ke Hindia Belanda pada bulan September 1919.

Di Tanah air, beliau bergabung dalam sekolah yang dipimpin oleh saudaranya.

Setelah cukup mendapat pengalaman mengajar, maka pada tanggal 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan institusi pendidikan yang diberi nama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau dalam Bahasa Indonesia Perguruan Nasional Tamansiswa.

Dalam menyelenggarakan sistem pendidikan di Perguruan Taman Siswa, beliau berpedoman pada semboyan yang sangat terkenal.

Semboyan pendidikan ala Perguruan Taman Siswa itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Ing ngarsa sung tuladha berarti di depan memberi contoh/teladan.

Ing madya mangun karsa berarti di tengah memberi semangat.

Tut wuri handayani berarti di belakang memberi dorongan.

Hari ini semua siswa di seluruh Indonesia pasti mengenal salah satu semboyan Beliau yang dijadikan Motto dunia pendidikan Indonesia, yaitu tut wuri handayani.

Tut Wuri Handayani yang berarti dari belakang memberi dorongan saat ini menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional.

Biografi Ki Hajar Dewantara, berfoto dengan murid-murid Taman Siswa
Ki Hajar Dewantara, berfoto dengan murid-murid Taman Siswa (cumber : wikimedia commons)

Peran Ki Hajar Dewantara Setelah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan, Soewardi Soeyaningrat terus berperan dalam dunia pendidikan.

Ki Hajar Dewantara dipercaya menjabat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama.

Pada tahun 1957, Universitas Gadjah Mada memberikan gelar doktor honoris causa atas jasa-jasa beliau yang sangat besar dalam merintis pendidikan umum.

Pemerintah juga menetapkan hari kelahiran beliau, tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, yang dipreingati rutin setiap tahun.

Akhirnya, pada 26 April 1959, beliau meninggal dunia di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.

Tujuh bulan setelah meninggal, Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI pertama, Sukarno, pada tanggal 28 November 1959, melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959.