Katamasa

5 Alasan Jepang Menyerah kepada Sekutu Pada Perang Dunia 2

Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus dan secara resmi ditandatangani pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri, di teluk Tokyo.

Jepang menyerah kepada sekutu adalah akhir dari Perang Dunia 2.

Banyak orang meyakini bahwa Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 adalah akibat dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Namun, banyak ahli sejarah dunia memiliki argumen berbeda tentang apa sebenarnya alasan jepang menyerah kepada sekutu.

Di artikel ini kita akan merangkum secara penuh apa saja yang menjadi alasan pihak Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, yang kemudian menjadi akhir dari perang yang sangat mengerikan dalam sejarah umat manusia sejauh ini.

Latar Belakang

Setidaknya dalam kurun waktu dua tahun sampai 1945, pasukan kekaisaran Jepang sudah mengalami banyak kekalahan di berbagai front pertempuran, baik itu di Pasifik Barat Daya, Marianas, dan Filipina.

Pada bulan Juli 1944, paska kehilangan kendali atas Saipan, Perdana Menteri Jenderal Hideki Tōjō digantikan oleh Jenderal Kuniaki Koiso.

Sebagai Perdana Menteri Jepang yang baru, Koiso menyatakan bahwa pertempuran di Filipina akan menjadi pertempuran yang menentukan.

Namun akhirnya Jepang kehilangan Filipina, yang berujung digantikannya Koiso oleh Laksamana Kantarō Suzuki.

Pasukan sekutu semakin tidak terbendung. Sekutu mampu merebut pulau-pulau Iwo Jima dan Okinawa pada paruh pertama tahun 1945.

Okinawa selanjutnya akan menjadi base untuk Operasi Downfall, invasi Sekutu ke Kepulauan Jepang.

Selain menghancurkan angkatan perang Jepang, sekutu juga berhasil menghancurkan armada dagang Jepang.

Jepang adalah negara dengan sedikit sumber daya alam, sehingga kehancuran armada dagangnya turut memperlemah armada perang.

Nampaknya sekutu benar-benar memahami kondisi itu. Maka, selain memblokade lautan untuk menghalangi armada dagang Jepang, sekutu juga memborbardir pusat-pusat industri stratgeis Jepang.

Sebagai akibat dari kekalahan bertubi-tubi dan pasokan sumber daya perang yang menipis, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) tidak lagi menjadi pasukan tempur yang efektif.

Pada akhir Juli 1945, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (IJN) sudah tidak memiliki kemampuan untuk melakukan operasi besar.

Ini berarti invasi sekutu ke daratan Jepang hanya tinggal meunggu waktu.

Maka, melalui Deklarasi Potsdam pada tanggal 26 Juli 1945, Inggris, Amerika Serikat, dan Cina mengultimatum Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Jika tidak maka itu berarti “kehancuran cepat dan total” bagi Jepang.

Namun, hal itu tidak menciutkan nyali para pemimpin Jepang. Mereka secara terbuka menyatakan niat mereka untuk berjuang sampai akhir yang pahit.

Meskipun begitu, secara diam-diam mereka memohon kepada Uni Soviet untuk bersedia menjadi mediator perdamaian dengan persyaratan lebih menguntungkan Jepang.

Jepang percaya kepada Uni Soviet karena sebenarnya Uni Soviet dan Jepang telah menandatangani pakta netralitas pada tahun 1941, untuk tidak saling menyerang satu sama lain.

Pakta netralitas 1941 itu membuat Soviet dapat fokus untuk menghadapi Nazi tanpa khawatir akan diserang oleh pihak Jepang, sementara Jepang bisa berkonsentrasi pada pertempuran mereka dengan Amerika Serikat.

Uni Soviet menyanggupi permohonan Jepang, namun hal ini ternyata muslihat belaka karena ternyata Uni Soviet telah bersepakat dengan Amerika Serikat dan Inggris di Konferensi Teheran dan Yalta untuk bersama-sama menghancurkan Jepang.

Soviet bersiasat. Sambil menjaga hubungan diplomatik dengan Jepang untuk memberi mereka kesan bahwa mereka bersedia untuk menjadi mediator, secara diam-diam Soviet bersiap untuk menyerang pasukan Jepang di Manchuria dan Korea (selain Sakhalin Selatan dan Kepulauan Kuril).

Semua rencana Jepang berantakan ketika Soviet secara tiba-tiba melakukan invasi besar-besaran ke wilayah Jepang yang menghancurkan pasukan Jepang. Hal ini terjadi terjadi pada tanggal 9 Agustus 1945, hari ketika serangan bom atom kedua di Nagasaki.

Sebelum pengobaman Nagasaki tanggal 9 Agustus 1945, bom atom terlebih dahulu mengguncang Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945.

Namun, kejadian tanggal 9 Agustus 1945 benar-benar membuat para pemimpin Jepang sangat panik. Bukan hanya karena bom atomnya, namun lebih kepada keterkejutan Jepang atas invasi Uni Soviet.

Sejarawan Tsuyoshi Hasegawa berkata,

Masuknya Soviet ke dalam perang memainkan peran yang jauh lebih besar daripada bom atom dalam mendorong Jepang untuk menyerah karena hal itu menghancurkan harapan bahwa Jepang dapat mengakhiri perang melalui mediasi Moskow.

Jadi, alasan utama yang membuat Jepang menyerah kepada sekutu adalah invasi Uni Soviet.

Pada tahun 1945, Jepang menyadari mereka sudah kalah. Jadi perjuangan mereka bukan lagi untuk menang.

Mereka tahu bahwa pada akhirnya mereka harus menyerah, tetapi mereka ingin menyerah dengan syarat-syarat yang paling menguntungkan.

Mereka ingin menyerah dengan cara yang akan melestarikan struktur kekuatan internal mereka, menyelamatkan para pemimpin militer mereka dari pengadilan kejahatan perang, dan menghindari menjadi negara boneka dari Sekutu.

Sebelum invasi Uni Soviet pada tanggal 9 Agustus 1945 itu, Jepang masih berharap bahwa Soviet, sebagai pihak netral, dapat membantu mereka menegosiasikan kesepakatan terbaik dengan Amerika Serikat.

Dalam satu pertemuan pada bulan Juni tahun 1945 itu, komandan militer Jepang Torashirō Kawabe dengan jelas menyatakan harapan itu.

Kawabe berkata, “Pemeliharaan mutlak perdamaian dalam hubungan kita dengan Uni Soviet sangat penting untuk kelanjutan perang.”

Selain Tsuyoshi Hasegawa, banyak sejarawan lain juga mengungkapkan fakta yang sama.

Seperti yang dikatakan sejarawan Terry Charman,

Serangan Soviet mengubah semua itu. Kepemimpinan di Tokyo menyadari bahwa mereka tidak memiliki harapan sekarang.

Bahkan, situasi Jepang sekarang benar-benar pelik.

Jepang takut jatuh kepada komunis yang akan menghancurkan hierarki kekaisaran mereka, bahkan bisa mengubah bangsa mereka selamanya.

Dengan kondisi seperti itu, maka bagi Jepang penyerahan langsung adalah satu-satunya pilihan.

Dari uraian di atas, kita bisa memahami gambaran besar apa yang dialami Jepang pada tahun 1945.

Memang gempuran bom atom di dua kota memukul Jepang dengan sangat telak, namun itu tidak benar-benar membuat Jepang akan menyerah. (sumber)

Banyak orang tidak mengetahui bahwa selain Nagasaki dan Hiroshima, banyak kota-kota lain yang mengalami kehancuran parah.

Meskipun kota-kota ini tidak diserang dengan bom atom, tetapi jumlah kematian tidak kalah banyak.

Tokyo, misalnya, tidak dibom atom -tapi bom konvensional- kehilangan nyawa warga sipil sekitar 100.000 orang.

Dengan demikian, dalam konteks 1945, bagi Jepang serangan bom atom atau bom lainnya tidak ada perbedaan.

Bom atom tidak akan membuat Jepang menyerah tanpa syarat.

Dalam sisi sebaliknya, pemboman-pemboman ini justru membangkitkan hasrat bangsa Jepang untung berjuang sampai akhir yang pahit.

Alasan Jepang Menyerah Kepada Sekutu

Dari uraian panjang di atas, kita bisa rangkai sebab-sebab penyerahan Jepang kepada sekutu seperti di bawah.

Memang ada faktor yang berpengaruh besar ada yang kecil. Namun, bagaimana pun kesemuanya berpengaruh dalam proses Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, dan menjadi akhir perang dunia 2.

Berikut adalah 5 alasan Jepang menyerah kepada sekutu :

1. Kekalahan Jepang di Semua Lini

Tahun 1945 adalah babak akhir dari perang dunia 2. Pelan tapi pasti pasukan sekutu terus merangsek memenangkan pertempuran di berbagai front.

Sekutu berhasil menghancurkan Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan bersiap melakukan invasi besar ke daratan Jepang.

Selain menghancurkan armada militer Jepang, sekutu juga memblokade laut sehingga secara otomatis menghancurkan armada dagang Jepang.

Dengan demikian, militer Jepang sudah tidak berdaya karena tidak ada logistik yang memadai untuk berperang.

Satu demi satu front pertempuran dimenangkan sekutu. Yang terburuk adalah jatuhnya Pulau Iwo Jima dan juga Okinawa ke tangan Sekutu.

Pulau-pulau ini bisa dijadikan base oleh sekutu untuk melancarkan pemboman ke seantero wilayah Jepang.

2. Hancurnya Kilang Minyak Nippon Oil Company

Seperti dijelaskan di atas, hancurnya logistik adalah satu alasan penting tidak berdayanya armada militer Jepang.

Salah satu logistik penting adalah pengilangan minyak yang bisa memberi suplay bagi kapal perang baik armada udara maupun laut.

Oleh karena itu, hancurnya pengilangan Nippon Oil Company adalah salah satu alasan Jepang menyerah kepada sekutu.

Penghancuran pengilangan minyak milik Nippon Oil Company di Tsuchizaki yang terletak di ujung utara Honshu dilakukan oleh Skuadron Bombardemen 315.

Misi penghancuran kilang minyak ini adalah misi pengeboman paling panjang yang tercatat dalam sejarah perang.

Untuk melakukan itu, pesawat-pesawat pembom Amerika harus terbang sejauh 3.800 mil sebelum mencapai sasaran.

Misi pemboman pengilangan minyak Nippon Oil Company menjadi alasan penting yang membuat Jepang menyerah kepada sekutu karena kilang minyak ini menghasilkan 67 persen kebutuhan minyak di Jepang.

4. Jatuhnya Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki

Salah satu alasan Jepang menyerah kepada sekutu yang paling diyakini masyarakat adalah peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Bom atom pertama dijatuhkan di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Namun, seperti kata sejarawan Hasagewa, pemimpin Jepang tidak terlalu panik dengan peristiwa ini.

Jauh sebelumnya, sudah banyak kota-kota di Jepang yang dibombardir bom konvensional yang menelan korban lebih banyak.

Jadi, bagi Jepang bom atom tidak berdampak banyak bagi kekalahan mereka.

Namun, apa pun itu, bom atom pertama di Hiroshima dan kedua di Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 turut meluluhlantakkan Jepang.

Dengan demikian, bisa disebut jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki adalah salah satu alasan Jepang menyerah kepada sekutu.

3. Serangan total melalui laut dan udara

Bom atom ternyata belum mampu menekan Jepang menyerah kepada sekutu tanpa syarat.

Oleh karena itu, Presiden Truman memerintahkan untuk armada perangnya melakukan serangan dengan intensitas jauh lebih besar.

Untuk itu, Armada laut Amerika menembakkan meriam ke pantai Jepang.

Serangan udara juga dilakukan pada tanggal 14 Agustus 1945 dengan melibatkan lebih dari 400 pesawat pengebom B-29. Masih dilanjutkan dengan tambahan 300 pesawat pengebom lagi di hari yang sama.

Serangan udara Amerika ke Jepang adalah serangan udara terbesar sepanjang sejarah Perang Pasifik yang melibatkan total 1.014 pesawat.

Serangan total melalui laut dan udara bisa dipastikan adalah salah satu alasan Jepang menyerah kepada sekutu. Apalagi peristiwa ini hanya selang satu hari dari pengumuman menyerahnya Jepang tanggal 15 Agustus 1945.

5. Serangan Mendadak Uni Soviet

Kekalahan bertubi-tubi di segala front tempur ditambah hancurnya dukungan logistik membuat sekutu dengan mudah melakukan serangan ke dalam teritori Jepang.

Namun, hal ini tidak serta merta membuat Jepang menyerah kepada sekutu tanpa syarat.

Dengan mendasarkan pada pakta netralitas 1941, Jepang memohon kepada Uni Soviet untuk bersedia menjadi mediator perundingan antara Jepang dan sekutu.

Awalnya Soviet menunjukan kesediannya. Namun, hal ini hanya muslihat, sembari fokus berperang dengan NAZI Jerman.

Namun, Jepang sangat terkejut ketika pada tanggal 9 Agustus 1945, hari ketika serangan bom atom kedua di Nagasaki, Uni Soviet tiba-tiba melanggar pakta netralitas.

Uni Soviet secara tiba-tiba melakukan invasi besar-besaran ke wilayah Jepang dan menghancurkan pasukan Jepang.

Inilah alasan Jepang menyerah kepada sekutu yang paling dominan.

Serangan mendadak Uni Soviet tidak hanya menghancurkan militer Jepang tapi juga menghancurkan harapan Jepang untuk “menyerah namun tidak dipermalukan”.

Jepang sadar cepat atau lambat mereka akan menyerah, namun menyerah tanpa syarat bukan pilihan.

Dengan mediasi Uni Soviet mereka berharap mendapatkan beberapa keuntungan dari perundingan pengakhiran perang. Namun harapan itu gagal karena Uni Soviet justru menyerangnya secara tiba-tiba.

Serangan Uni Soviet justru membuat posisi Jepang menjadi lebih buruk.

Jatuh ke tangan Soviet akan membuat Jepang berada di bawah ideologi komunis yang berarti berakhirnya sistem kekaisaran bahkan merubah nilai-nilai bangsa mereka.

Maka, para pemimpin Jepang memutuskan menyerah secara langsung kepada sekutu adalah opsi yang lebih baik.

Proses Menyerahnya Jepang kepada Sekutu

Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu menandatangani Instrumen Penyerahan Jepang di atas kapal USS Missouri diawasi oleh Jendral Richard K. Sutherland, 2 September 1945 (wikimediacommons)

Paska Jepang menyerah kepada sekutu, maka sejak tanggal 28 Agustus 1945 sekutu mulai menduduki Jepang.

Selain itu, tokoh-tokoh perang Jepang juga diadili oleh Tribunal Militer Internasional untuk Timur Jauh.

Meskipun Jepang menyerah kepada sekutu tanggal 15 Agustus 1945, upacara seremonial secara resmi baru dilakukan pada tanggal 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri di Teluk Tokyo.

Menyerahnya Jepang kepada sekutu secara resmi ditandatangani oleh :

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu secara resmi ditandatangani, sisa-sisa kekuatan Jepang di Pasifik juga diharuskan melakukan hal yang sama.

Pasukan Jepang yang ditempatkan di Asia Tenggara menyerah pada 2 September 1945, di Penang, 10 September 1945 di Labuan, 11 September 1945 di Kerajaan Sarawak dan 12 September 1945 di Singapura.

Pasukan Kuomintang mengambil alih kekuasaan Jepang di Taiwan pada 25 Oktober 1945.

Peristiwa Jepang menyerah kepada sekutu juga berpengaruh besar pada kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda yang mengetahui Jepang menyerah kepada sekutu menculik Sukarno Hatta ke Rengasdengklok untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia.

Sementara itu, beberapa pasukan kecil Jepang menolak untuk menyerah. Terutama di wilayah-wilayah Kepulauan Pasifik terpencil.

Demikian artikel kami tentang apa saja alasan Jepang menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, yang mengakhiri perang dunia 2. Semoga bermanfaat.

Sharing is caring