Acetylcysteine Obat Apa? Dosis, Efek Samping dll

Acetylcysteine adalah obat yang digunakan sebagai agen mukolitik (memecah dahak), sebagai obat toksisitas paracetamol, dan juga digunakan dalam sediaan tetes mata. Acetylcysteine memiliki efek mukolitik melalui gugus sulfhidril bebasnya yang membuka ikatan disulfida dalam mukoprotein sehingga menurunkan viskositas mukosanya. Pada toksisitas parasetamol, Acetylcysteine bertindak sebagai agen hepatoprotektif dengan mengembalikan glutathione hati, berfungsi sebagai pengganti glutathione, dan meningkatkan konjugasi sulfat nontoksik parasetamol.

Dalam artikel ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai obat ini. Acetylcysteine obat apa, apa kegunaannya, efek sampingnya, dan formulasi yang tersedia.

Ringkasan

Berikut tabel yang memuat informasi Acetylcysteine secara singkat :

Informasi ObatAcetylcysteine
GolonganDengan resep
IndikasiMukolitik
Keracunan paracetamol
DosisLihat bagian DOSIS
Aturan PakaiSesuai anjuran dokter
KontraindikasiHipersensitif
SediaanTablet 200 mg, 600 mg
Syrup 100 mg/mL
injeksi 300 mg/3 ml
Merk dagang yang tersediaAcetylcysteine 200 mg, 600 mg, Acetin 600
Fluimucil
Hidonac
Mucylin
N-Ace
Resfar, Respicyl
Simucil 200
Siran/Siran forte

Acetylcysteine obat apa?

Acetylcysteine adalah senyawa turunan N-asetil dari asam amino yang terbentuk secara alami, yaitu L-sistein. Acetylcysteine digunakan dalam sediaan inhalasi (agen mukolitik) atau pemberian oral (toksisitas paracetamol/acetaminophen), tersedia sebagai sediaan obat mata, bahkan dalam sediaan multivitamin dan mineral.

Indikasi dan Penggunaan

Kegunaan Acetylcysteine ada beberapa macam di antaranya :

A. Sebagai mukolitik

Acetylcysteine diindikasikan sebagai terapi adjuvan untuk pasien dengan sekresi lendir abnormal, kental, atau inspissasi dalam kondisi seperti :

  • Penyakit bronkopulmonal kronis (emfisema kronis, emfisema dengan bronkitis, bronkitis asma kronis, tuberkulosis, bronkiektasis, dan amiloidosis primer paru)
  • Penyakit bronkopulmonal akut (pneumonia, bronkitis, tracheobronchitis)
  • Komplikasi paru terkait cystic fibrosis
  • Perawatan trakeostomi
  • Komplikasi paru terkait dengan operasi
  • Digunakan selama anestesi
  • Kondisi dada pasca-trauma
  • Atelektasis karena obstruksi lendir
  • Pemeriksaan bronkus diagnostik (bronkogram, bronchospirometry, dan kateterisasi bronchial wedge)
Baca Juga :  Mefenamic acid (Asam Mefenamat) 500 mg

B. Mengatasi Keracunan Paracetamol

Acetylcysteine harus diberikan sebagai loading dosis, segera setelah asupan paracetamol. Perawatan harus dilanjutkan setidaknya selama 72 jam.

Untuk menghindari reaksi hipersensitif, disarankan untuk menggunakan infusion rate yang lambat. Untuk tujuan ini obat sebelumnya diencerkan dengan 5% Glukosa atau dengan larutan fisiologis.

C. Sediaan Obat Mata

Acetylcysteine bisa digunakan untuk mengatasi mata kering terkait dengan produksi lendir yang abnormal.

Kontraindikasi

  • kontraindikasi pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif.

Efek Samping acetylcysteine

Selain memberikan efek yang dibutuhkan, sebagian besar obat dapat menyebabkan beberapa efek samping yang tidak diinginkan. Meskipun tidak semua efek samping ini dapat terjadi, penggunaan obat tetap harus dilakukan secara hati-hati. Segera dapatkan perawatan medis yang sesuai jika efek samping yang parah terjadi.

Berikut adalah beberapa efek samping acetylcysteine yang mungkin bisa terjadi pada masing-masing formulasi :

A. Inhalasi untukmukolitik

Efek samping yang bisa terjadi misalnya : bronkospasme, angioedema, ruam, pruritus, hipotensi, hipertensi, kemerahan, mual, muntah, demam, sinkop, berkeringat, artralgia, penglihatan kabur, gangguan fungsi hati, asidosis, kejang, serangan jantung atau pernapasan; hemoptisis, rinorea, stomatitis.

B. Sediaan Obat Mata

Efek samping yang bisa terjadi pada sediaan obat mata misalnya : gatal, iritasi, kemerahan.

Perhatian

Obat ini tersedia dalam berbagai formulasi, berikut hal-hal yang harus diwaspadai terkait masing-masing formulasi :

A. Sediaan Inhalasi Sebagai Mukolitik

Setelah pemberian acetylcysteine, peningkatan volume sekresi bronkus cair dapat terjadi. Jika batuk tidak cukup kuat untuk mengeluarkannya, jalan napas harus dijaga tetap terbuka jika perlu dengan penyedotan mekanis . Ketika ada blok mekanis karena benda asing atau akumulasi lokal, jalan napas harus dibersihkan dengan aspirasi endotrakeal, dengan atau tanpa bronkoskopi.

Saat menggunakan acetylcysteine, pasien mungkin awalnya mencium sedikit bau belerang yang akan segera hilang.

Dalam kondisi tertentu, perubahan warna dapat terjadi pada botol yang sudah dibuka. Warna ungu muda adalah hasil dari reaksi kimia yang tidak secara signifikan mempengaruhi keamanan atau efektivitas mukolitik dari Acetylcysteine.

Proses nebulisasi larutan Acetylcysteine dengan gas kering akan menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi obat dalam nebulizer karena penguapan pelarut. Konsentrasi yang ekstrim dapat menghambat nebulasi dan mengurangi efisiensi pengiriman obat. Pengenceran larutan nebulasi dengan jumlah air steril untuk Injeksi yang tepat, akan meniadakan masalah ini.

Baca Juga :  Azathioprine : Manfaat, Dosis, dan Efek Samping

Tidak diketahui apakah obat ini diekskresikan dalam ASI. Karena banyak obat diekskresikan dalam ASI, hati-hati menggunakan Acetylcysteine untuk ibu menyusui.

Studi reproduksi acetylcysteine dengan isoproterenol telah dilakukan pada tikus dan acetylcysteine sendiri pada kelinci dengan dosis hingga 2,6 x dosis manusia. Penelitian ini menunjukkan tidak ada bukti gangguan kesuburan atau membahayakan janin karena penggunaan obat ini. Namun, tidak ada studi yang memadai dan terkontrol dengan baik pada wanita hamil. Karena studi reproduksi hewan mungkin tidak selalu bisa memprediksi hasil yang sama pada manusia, penggunaan Acetylcysteine untuk ibu hamil hanya jika jelas diperlukan.

Hati-hati menggunakan obat ini pada pasien dengan asma atau riwayat bronkospasme, atau riwayat penyakit ulkus peptikum.

B. Solution for infusion Untuk Keracunan Paracetamol

Munculnya bau seperti belerang tidak menunjukkan perubahan pada produk tetapi merupakan karakteristik dari bahan aktif yang terkandung dalam sediaan ini.

Pemberian pada dosis tinggi dapat mengurangi waktu prothrombin. Namun, tidak diketahui apakah hal ini karena reaksi biologis Acetylcysteine atau hasil dari gangguan analitis. Bagaimanaupun, pemantauan faktor koagulasi dianjurkan terutama dalam kasus transplantasi hati.

Penelitian pada hewan tidak menunjukkan efek teratogenik. Penggunaan Acetylcysteine untuk ibu hamil dan ibu menyusui harus didasarkan pada penilaian rasio risiko dan manfaat dengan mempertimbangkan karakteristik tertentu dari setiap kasus dan khususnya risiko untuk ibu dan janin. Dalam hal apapun menyusui harus dihentikan jika terjadi keracunan.

C. Sediaan Obat Mata

Obat ini dapat menyebabkan penglihatan kabur, jika terpengaruh, jangan mengemudi atau mengoperasikan mesin. Sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang memakai lensa kontak lunak.

Interaksi obat

Stabilitas obat dan keamanan acetylcysteine ketika dicampur dengan obat lain dalam nebulizer belum ditetapkan.

Interaksi antara acetylcysteine dan antibiotik telah dilaporkan.

Dosis acetylcysteine

Berikut dosis untuk masing-masing formulasi dan indikasinya :

A. Sediaan Endotracheal untuk mukolitik

  • Dewasa : Larutan 10% atau 20% : 1-2 mL setiap jam
  • Anak-anak : Sama dengan dosis dewasa.

B. Sediaan Inhalasi untuk mukolitik

  • Dewasa : Larutan 10% : 6-10 mL 3-4 x sehari, bisa ditingkatkan menjadi 2-20 mL setiap 2-6 jam jika diperlukan. Larutan 20% : 3-5 mL 3-4 x sehari, bisa ditingkatkan menjadi 1-10 mL setiap 2-6 jam jika diperlukan.
  • Anak-anak : Sama dengan dosis dewasa.
Baca Juga :  Piroxicam Obat Apa : Kegunaan, Dosis, Efek Samping

C. Infus Intravena untuk Keracunan Paracetamol

  • Dewasa : Awalnya, 150 mg / kg (maks: 16,5 g) dalam 200 mL pengencer selama 60 menit, diikuti oleh 50 mg / kg (maksimal : 5,5 g) dalam 500 mL pengencer selama 4 jam berikutnya, kemudian 100 mg / kg ( maksimal : 11 g) dalam 1 L pengencer selama 16 jam berikutnya.
  • Anak dengan berat badan > 40 kg : Sama dengan dosis orang dewasa.
  • Anak dengan berat badan 20-40 kg : Awalnya, 150 mg / kg dalam 100 mL pengencer selama 60 menit, diikuti oleh 50 mg / kg dalam 250 mL pengencer selama 4 jam, kemudian 100 mg / kg dalam 500 mL pengencer selama 16 jam
  • Anak dengan berat badan <20 kg : Awalnya, 150 mg / kg dalam 3 mL / kg pengencer selama 60 menit, diikuti oleh 50 mg / kg dalam 7 mL / kg pengencer selama 4 jam, kemudian 100 mg / kg dalam 14 mL / kg pengencer 16 jam

D. Sediaan Ophthalmic (Mata) untuk Mata kering terkait dengan produksi lendir yang abnormal

  • Dewasa : larutan 5% : 1 atau 2 tetes 3 atau 4 x sehari.

E. Sediaan Oral untuk mukolitik

  • Dewasa : Sebagai tablet loz, granul atau effervescent : 600 mg setiap hari sebagai dosis tunggal atau 3 dosis terbagi.
  • Anak usia > 7 tahun : Sama dengan dosis dewasa.
  • Anak usia 2-7 tahun : 200 mg 2 x sehari
  • Anak usia 1 bulan hingga <2 tahun : 2 x sehari 100 mg

F. Sediaan Oral untuk keracunan Paracetamol

  • Dewasa : Larutan 5% : Awalnya, 140 mg / kg diikuti oleh 70 mg / kg setiap 4 jam untuk tambahan 17 dosis.
  • Anak : Sama seperti dosis orang dewasa.

Aturan Pakai

  • Sediaan serbuk untuk suspensi oral : Harus diminum setelah makan. Larutkan dalam air sebelum diminum

Artikel Pengetahuan Obat lainnya :

Acetylcysteine harus digunakan dengan tepat sesuai yang dianjurkan oleh dokter. Jangan menggunakan obat ini sendiri tanpa sepengetahuan dokter. Penggunaan obat yang berlebihan atau tidak sesuai aturan tidak akan meningkatkan khasiatnya namun justru meningkatkan efek sampingnya.